Minggu, 27 Desember 2020

Terbaru 2020 - IPK, NILAI UN DAN ANGKA LAIN TIDAK PENTING (?)

Konten Ini Di Buat Tahun - 2020


ANGKA SUDAH TAK PENTING LAGI
Bagi Pak Nadiem, Menteri Pendidikan yang baru, IPK, Nilai UN atau apapun yang berakaitan dengan bentuk ekspresi angka administratif menjadi tak terlalu penting. Kadang tak ada korelasi positif dengan kompetensi yang dimiliki.

RANGKING/PERINGKAT TAK ADA DALAM RAPOR
Tak apa-apa. Namun apapun bagi manusia, jadikanlah semuanya sebagai sumber motivasi. Termasuk angka. Ini masih bisa dijadikan bahan motivasi bagi para siswa. Dalam e-rapor untuk kurikulum 2013 sama sekali tak mencantumkan peringkat / ranking. Namun dalam kenyataan, tetap saja siswa atau orang tua suka menanyakan hal ini kepada wali kelas ketika pembagian hasil belajar.

MEMOTIVASI SISWA DENGAN CARA APAPUN

Bagi saya, apapun yang saya catat sebagai dokumen pribadi, mungkin bagi orang lain (baca: siswa/murid) akan menambah motivasi dalam belajar dan mengembangkan potensi diri.
Seperti kebiasaan saya memotivasi untuk hasil optimal pada muara hasil Penilaian Akhir Semester (PAS)*, saya selalu memberikan reward (yang harganya murah hanya setara quota Tri 4 GB) yakni buku. Mengapa buku? Biar awet sampai tua dan bisa dibaca berulang-ulang ketika motivasi meredup. Saya hanya mengambil sekitar 10 (sepuluh) personal yang menduduki peringkat atas.
Mengapa hanya PAS? Ya dong, jika posisi 10 besar hasil UNBK di tingkat sekolah, rewardnya dari sekolah (piagam & piala).
Nah untuk semester 5 ini telah terdapat 11 siswa dengan nilai di atas 85 (delapan puluh lima) hingga maksimal 95 (sembilan puluh lima) nilai PAS. Inipun hanya untuk 5 kelas yang bareng saya belajar matematika , yakni XII MIPA 1 sampai dengan XII MIPA 5.

)* PAS berbasis Android dengan aplikasi Examview CBT All in one (CBT AIO).
    thanks to: Bp. Dedy Sumarhadi (guru TIK), Bp. Eka Djuniar (ketua penyelenggara), Kang Ade   dan Kang Aris yang telah menggawangi kelancaran ujian berbasis android ini.




11 PERINGKAT ATAS PAS MATEMATIKA PEMINATAN
KELAS XII MIPA 1 s.d XII MIPA 5




Slip Penyemangat - sekaligus Pembatas Buku


WAJAH-WAJAH MEREKA




          Dari kiri ke kanan :
                  * Syva Lestiyani Dewi (berkaca mata) - XII MIPA 3
                  * Eva Helia Putri - XII MIPA 5 (Peringkat 1 dengan skor PAS 95)
                  * Dea Fauziyyanti - XII MIPA 5


               Dari kiri ke kanan :
               * M. Ridho Ramadhan (kaos biru) - XII MIPA 5
               * Eva Wildiya Astuti - XII MIPA 2
               * Muhammad Miftah - XII MIPA 5


                Dari kiri ke kanan :
                * Risa Awaliyah - XII MIPA 4
                * Mahesa Ahmad Rahmawan - XII MIPA 4 (Peringkat 2 dengan nilai 92,5)


                  Dari kiri ke kanan :
                 * Yasin Yudha Pradhita - XII MIPA 1
                 * Melis Mukhlishoh - XII MIPA 1
                 * Yoga Dwiyanto (kaos merah) - XII MIPA 1


Selamat buat kalian!
Mungkin kalian kaget ketika melihat wajah kalian nampang di blog Bapak, tapi semoga kekagetan ini akan menyadarkan pula bahwa perjuangan kalian masih panjang dan berat!


UN TERAKHIR 2020 
ADALAH TANTANGAN KHUSUS,
AKHIRI UNBK DENGAN NILAI OPTIMAL!
BISA!
Tahun 2020 kemarin  nilai matematika tertinggi MIPA 
adalah 95, ikuti jejaknya! Jika perlu, 100!



Selalu Enjoy UNBK!




Majalengka, 28-12-2020
23566

Selasa, 27 Oktober 2020

Terbaru 2020 - Cerpen Multazam dan Hati Haji Tua

Konten Ini Di Buat Tahun - 2020

Bulan desember 2018 pertemuan alumnus haji 2006 berlangsung.
Kali ini bertempat di rumah Haji Sujapar. Pertemuan menjaga silaturahim sesama jamaah haji tak seperti bulan lalu. Dulu di awal tahun pertama ada tiga puluh tujuh peserta. Seiring berjalannya waktu, telah banyak anggota yang meninggal.
Bulan lalu masih ada tujuh peserta yang tersisa, kini di rumah Haji Sujapar tinggal lima orang. Haji Sujapar, Haji Hambali, Haji Abdul Kohar, Hajjah Syarifah dan Hajjah Maryati.
“Kita tinggal berlima, seperti ikrar kita dulu di bulan pertama usai hajian 2010, kita akan selalu menghidupkan silaturahim ini. Sampai kapan Pak Haji Hambali?” tanya Haji Sujapar seraya tersenyum. Yang ditanya manggut-manggut.
“Sungguh sakral …..” kata Haji Hambali seperti bergumam.
“Terangkan Hajjah Maryati!” kata Haji Sujapar berganti kepada perempuan yang dikenal pendiam.
“Ikrar kita, persaudaraan haji ini sampai maut menjemput kita masing-masing.”
“Alhamdulillah …. begitulah ikrar kita dua belas tahun yang lalu.” Kata Haji Sujapar tertawa sumringah.
“Kita kan tetap mengadakan pertemuan ini sampai kapanpun, terserah mau berapa orang di antara kita yang masih diberi kesempatan hidup oleh Allah.” Sela Haji Abdul Kohar.
“Insya Allaaaaahhhh!
Dari kelima haji tersebut, Haji Sujapar adalah duda. Istrinya Hajjah Saodah telah meninggal dua tahun lalu. Haji Hambali duda sejak naik haji. Haji Abdul Kohar dan Hajjah Syarifah adalah suami istri. Yang terakhir adalah Hajjah Maryati, suaminya meninggal lima tahun yang lalu.
***
Paaak!
Haji Sujapar tergagap. Laki-laki itu tersadar dari lamunanya. Ia baru sadar rupanya baru menyadari kalau anak laki-lakinya dari tadi telah menunggunya untuk menengok anak dan memantu Hajjah Maryati yang baru pulang haji kemarin hari Jumat.
Hari itu Haji Sujapar bersama anaknya menyambut anak menantu Hajjah Maryati. Hingga agak siang keduanya berpamitan. Namun ketika sudah berada di teras, Haji Sujapar menepok jidat sendiri. Ia menepuk pundak anaknya.
“Ahmad, kamu tunggu di mobil, ayah ada perlu lagi dengan Bu Hajjah.”
“Oooo…”
“Ada yang lupa.”
“O iya Yah.”
Setelah anaknya menuju mobil, Haji Sujapar memandang Hajjah Maryati. Yang dipandang mengernyitkan dahi.
“Boleh kita bicara sedikit lagi?” tanya laki-laki itu pelan.
“Ada yang terlupakah?”
“Benar Bu Hajjah, ada satu yang terlupa.”
“O iya silakan, mari masuk ….. silakan duduk!”
Setelah duduk kembali di ruang tamu, Haji Sujapar menghela nafas dalam.
“Begini Bu Hajjah …. Kita ingat ikrar persaudaraan haji, terakhir kali di rumah saya setengah tahun silam. Ketika kita berlima.”
“Iya , iya.”
“Bulan Januari lalu, Haji Abdul dan Hajjah Syarifah telah dibawa putranya ke Aceh. Lalu… mmm….. Haji Hambali telah wafat bulan kemarin.”
“Iya… rasanya begitu cepat mereka meninggalkan kita.”
“Akhir Oktober ini, kita pertemuan di siapa?”
“Seharusnya di rumah Haji Abdul Kohar, tapi ….”
“Itulah masalahnya.”
“Kalau begitu di rumah Pak Haji saja.”
“Masa di rumahku lagi?”
“Ya sudah, akhir Oktober kita pertemuan di sini.”
“Kita tinggal berdua ……” kata Haji Sujapar pelan.
“Hmh….. “ Hajjah Maryati mendesah. Matanya menerawang kosong. Sahabat-sahabat alumnus persaudaraan haji telah hampir habis.
“Masihkah kita tetap memegang teguh ikrar sampai mati?”
“Nggak tahu.”
“Persaudaraan dibubarkan tidak mungkin.”
“Apakah kita berdua juga harus tetap bertemu?”
“Ikrar. Isi ikrar itu demikian ….”
“Kalau begitu akhir bulan ini kita bertemu, di sini.”
“Itu keputusan yang jelas. Saya setuju bu Hajjah….”
“Iya, iya …..”
***
Sejak pertemuan terakhir mengingatkan ikrar, Haji Sujapar merasa aneh sendiri. Rumah keduanya tidak terlalu jauh, hanye bersebelahan desa. HP keduanya punya. Grup WA persaudaran juga masih ada, hanya saat ini anggotanya tinggal empat. Sayangnya, yang dua di Aceh, yang lain di Majalengka.
Selain itu kadang-kadang pula Haji Sujapar bertemu dengan Hajjah Maryati. Jadi jika akhir bulan ada pertemuan persaudaraan haji, bagaimana? Namun laki-laki itu memutuskan untuk tak ambil pusing. Ketemuan biasa ya biasa, pertemuan persaudaraan haji adalah pertemuan organisasi.
Hari itu hari terakhir bulan Oktober. Sesuai janji dan jadwal, pertemuan persaudaraan haji bertempat di Hajjah Maryati. Laki-laki itu telah beberapa saat duduk terpekur di karpet yang di tengahnya telah terhidang beberapa penganan. Laki-laki itu mendesah.
“Apa acara kita hari ini Bu Hajjah?”
“Tidak tahu.”
“Apa yang harus kita bahas lagi kali ini?”
“Tidak tahu.”
“Terus apa gunanya kita bertemu?”
“Silaturahim.”
“Dalam kebingungan begini?”
“Tidak tahu.”
“Ikrar persaudaraan? Silaturahim sampai mati?”
“Ya kenapa tidak?”
“Ibu Hajjah, maaf, maaaaaf banget , bagaimana jika … jika ….. emmm tapi maaf ya…” tiba-tiba tenggorokan laki-laki itu terasa tersekat.
“Kenapa Pak Haji?”saja.
“Emmm…. tapi saya berharap Bu Hajjah tak akan marah.”
“Oh… bapak serius?”
“Serius. Serius minta maaf sebelumnya.”
“Katakanlah.”
“Bu Hajjah Maryati … emmm….. emm…… kenapa kita tidak berfikir jika silaturahmi haji antara kita, kita lakukan di rumah kita saja?”
“Maksudnya?”
“Rumah kita. Ya, rumah kita. Bukan rumah Bu Hajjah ataupun rumah Sujapar.”
“Pak?”
“Kita tinggal satu rumah.”
“Pak?”
“Silaturahim sampai mati.”
“Pak?”
“Di penghujung usia kita yang sudah hampir tujuh puluh tahun, kita masih butuh teman untuk bertukar fikiran. Untuk saling menumpahkan kegelisahan hati. Juga menjalankan amanat persaudaraan haji kita. Haji Abdul dan Hajjah Syarifah sudah pasti, mereka suami istri. Praktis tinggal kita berdua. Bukankah itu akan lebih baik, dan lebih bermanfaat silaturahim kita jika kita satu… kita satu rumah … resmi…. res …. resmi sebagai suami istri…..”
Hajjah Maryati tertunduk.
Wanita tua itu sama sekali tak menyangka Haji Sujapar menyatakan itu begitu lugas. Selama ini tak ada firasat apa-apa. Namun sebagai wanita ia tidak serta merta menyambut ajakan Haji Sujapar. Namun tetap saja ajakan laki-laki itu menjadi bahan pikiran dan ia coba turunkan ke hati, secara perlahan.
***
Malam telah larut.
Dahlan, anak Hajjah Maryati yang baru pulang menunaikan ibadah haji tahun ini, melihat ibunya terpekur di mushollah rumah. Perempuan tua itu lama tertunduk. Bahkan kemudian terdengar suara isaknya.
Perlahan anak laki-lakinya itu mendeham. Perempuan tua itu menoleh. Anak laki-lakinya itu dipeluknya.
“Dahlaaan…..”
“Ibu menangis?”
“Kenapa Ibu? Tak biasanya ibu seperti ini, biasanya ibu tegar menghadapi semua masalah.”
“Dahlan ….”
“Iya Bu.”
“Kamu ingin tahu apa yang menyebabkan Ibu menangis?”
“Kalau ibu berkenan, silakan Ibu cerita……”
“Dahlan ….”
“Iya Bu.”
“Dahlan, setua ini, kemarin ada yang mengajak Ibu menikah lagi.”
“Wah???? Bener Bu?” tanya Dahlan kaget sambil mengguncang-guncang pundak ibunya.
“Kok kamu tampak gembira?”
“Syukurlah Ibu …. Ibu bakal punya teman.”
“Kamu betul gembira?”
“Doa Dahlan terkabul Bu!”
“Doa apa Lan?”
“Siapa yang mengajak Ibu menikah Bu?”
“Pak Haji Sujapar.”
“Alhamdulillaaaahhhhh ya Allah ya Rabb! Terkabul doa hamba…..” kata Dahlan lalu bersujud syukur, kemudian memeluk ibunya.
“Kenapa rupanya?”
“Setiap usai thowaf, baik wajib, maupun yang sunah, Dahlan akhiri dengan sholat dan doa di depan Multazam, sebuah tempat mustajabah di antara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Doa agar ibu hamba disatukan dengan Pak Haji Sujapar. Ya Bu, Dahlan berdoa sejak menginjakkkan kaki di masjidil Harom, hingga saat thowaf Wada’. Termasuk pula di tempat musjabah lain seperti Roudhoh di masjid Nabawi dan sebagainya.”
“Dahlan……..”
“Maafkan Dahlan ibu …… putra Ibu ini tahu, di persaudaraan haji tinggal Pak Haji Japar dengan Ibu. Akan lebih berkah jika Ibu dan beliau bersatu.”
Perempuan tua itu memeluk anaknya kembali. Kali ini tangisnya lebih deras. Ia tahu, kemustajaban Multazam disaput keikhlasan akan mendatangkan bukti nyata.
Hari berikutnya perempuan tua itu menata hati. Menahan detakan tak keruan di dadanya ketika sesekali Haji Sujapar menelpon, atau mengatakn hal lain. Dan tentu ketika minggu depan ia akan mendengarkan jawaban perempuan itu.
Hajjah Maryati telah siap mental. Terbayang di matanya, 2005, ketika di depan multazam juga mendoakan kebehagiaan untuk anak-anaknya. Kini semua anak-anaknya berbahagia bersama keluarganya.
“Assalaamu’alaikum bu Hajjah!” terdengar kalimat Haji Sujapar di HP.
“Multazam!” jawab Hajjah Maryati.
“Apa Bu?”
“Mmmm…. mm… maaf… maaf…. Pak Haji, wa’alaikumusalam!”
Perempuan tua itu menghela nafas dalam. Ia menata hatinya yang kali ini berdetak tidak keruan mendengar suara dari laki-laki yang datang dari doa anaknya. ***
*Majalengka, Oktober xxxx

Rabu, 21 Oktober 2020

Terbaru 2020 - Memeriahkan Hari Santri - 22 Oktober 2020

Blog Pendidikan


Cerpen:

Pulang sekolah Adi Kartiko menuju rumah gurunya, Samekto.
Anak laki-laki SMP itu langsung ke beranda belakang. Bukan beranda sebenarnya, itu hanya semacam sanggar seni. Atap rumbia. Di bawahnya ada meja kayu mahoni yang dibuat sendiri oleh Samekto. Di meja masih berserakan bahan kerajinan tanah liat. Ada patung kecil manusia yang baru separo dikerjakan. Adi, demikian Adi Kartiko biasa disebut,  menatap patung yang belum selesai. Benda itu kemudian diambilnya.  Anak itu tersenyum.
“Makan dulu Di!” dari belakang anak itu ada yang memerintah. Anak itu menoleh.
“Siap Pak! Menunya apa Pak?” kata anak itu sambil meletakkan patung.
“Kucur daun lontop, bumbu brekasak asem manis!” kata Samekto sekenanya.
Makan bersama muridnya telah menjadi kebiasaan sejak anak itu kelas 1. Guru yang hanya hidup bersama istri tanpa anak itu telah menganggap Adi Kartiko, yang akrab dipanggil Adi, menjadi  teman. Sejak menetap di desa Kalikuning awal diangkat jadi guru, sepertinya laki-laki itu menemukan tempat bermain waktu kecil. Mirip sebuah desa kecil di kaki gunung Slamet. Dan entah mengapa, Adi seperti menjadi teman kecilnya, sama seperti ketika anak-anak dulu.
“Seperti saranku minggu lalu, setelah lulus SMP ini, kamu lanjutkan ke pesantren.” kata Samekto  sambil mencolek bumbu pedas.
“Nggak mau! Aku ingin jadi dokter!”
“Sudah terlalu banyak dokter Di.”
“Tentara!”
“Negara ini aman Di. Nanti kalau ada pergolakan, bisa saja kamu masuk wajib militer. Nanti kamu berjuang demi negaramu! Ngerti nggak?”
“Enggak!”
“Ah kamu ini! Jangan brengkunung to!”
“Ya sudah jadi guru saja!”
“Jangan jadi guru! Nanti kaya Bapak ini, nggak punya apa-apa.”
“Jadi guru enak, seperti Pak Guru. Pagi-pagi memberi makan ayam. Pukul delapan ke sekolah, jalan kaki, sepatu ditinggal di sekolah. Di sekolah bermain dengan anak-anak, membuat kerajinan, menanam tanaman, dongeng ..... cerita-cerita lucu, enak Pak jadi guru.”
Samekto tersenyum getir mendengar penuturan muridnya yang polos. Namun ada rasa kebanggan pula melihat kepolosan murid yang satu ini. Murid yang tak pernah mengerti bagaimana perjuangan dirinya untuk mempertahankan hidup bertugas di daerah yang jarang disentuh oleh kebijakan pemerintah, sekalipun pemerintah daerah.
SMP yang ada hanyalah sebuah SMP filial, dengan murid yang hanya sedikit.  Adi tak tahu jika dirinya adalah guru honorer. Dan memang tak pernah tahu. Di mata murid-murid, Samekto adalah guru. Bahkan mungkin guru terbaik di mata murid-muridnya. Mungkin mereka membandingkan beberapa guru yang tinggalnya di kota jarang datang ke sekolah terpencil itu.
Kadang ia ingat kota Semarang yang pernah disinggahi dalam hidupnya. Betapa banyak sahabatnya dulu di IKIP yang memberinya banyak motivasi, memberi inspirasi, namun sekarang telah putus kontak. Dulu ia kenal dengan banyak tokoh yang energik terutama dalam dunia seni dan kepenulisan, baik yang di IKIP maupun di Semarang umumnya.
Ada Aslam Kusatyo, Murywanto Broto, Joko Sunarto, Untung Surendro, Mahmud “Entong” Hidayat, Ali Ridlo, Ponco Widodo, Timur SS, Barat Pajar, Triyanto,  dan masih banyak lainnya. Betapa ia ingat Aslam Kussatyo, ketua Teater SS IKIP Semarang, teman berbentak-bentakan. Sekarang entah dimana. Selentingan kabar, Aslam membuka sanggar di daerah Kendal dan ia menjadi Begawannya.
Broto sahabatnya juga, selentingan menjadi dosen di Semarang. Mahmud “Entong” Hidayat, boss perpustakaan kos-kosan, di mana? Mungkin kembali ke Kudus. Joko Sunarto, yang ia kenal dengan prinsip “Biar kuliah di IKIP tetapi nggak akan jadi guru”, dulu bahkan pernah KKN bareng di Wonosobo. Menurut kabar, ahli desain batik itu kini menjadi salah satu tim motor desain artistik di koran terbesar Jateng. Lainnya Samekto tak banyak tahu. Ia tak banyak mengakses kabar teman-temannya. Apa boleh buat. Ia tinggal di daerah blank tanpa signal. Lagi pula baginya, untuk apa membuang kuota dengan percuma tak ada keuntungan secara ekonomis. Tak mungkin pula ia berbisnis lewat internet. Sebuah keinginan yang pernah terlintas di benaknya, tetapi langsung hilang ditelan sebuah kesadaran. Sadar diri. Guru di daerah terpencil, yang ada hanya alam dan manusia-manusia polos.
“Pak Guru... kenapa melamun?” tanya Adi mengingatkan dirinya sambil menggoyang-goyangkan pahanya.
“Oh enggaak... enggak... ngggg.. Adi ... kalau ayahmu ingin kamu jadi apa?” tanya Samekto setelah bebarapa saat tadi terdiam.
“Kata ayah, terserah Pak Guru.”
“Nhaaaa..... ya sudah, kamu nanti ke pesantren.”
“Jadi apa?”
“Jadi orang! Hahaaa!”
“Aaah sekarang juga sudah jadi orang... tidak pantas aku jadi santri.”
“Kenapa?”
“Namaku tidak islami. Masa nama santri kok Adi Kartiko! Apalagi kalau aku misalnya aku sudah tua nanti, suruh jadi kyai, Kyai Adi Kartiko .. heheee...... lucuuuuu hahaa!”
“Adi, nama kamu itu maknanya dalam banget lho.”
“Dalam apaan, ayah saya itu memberi nama itu waton ngucap kok!”
“Hus! Ora ilok ngomongin orang tua begitu!”
“Iya Pak, ayah saya ngasih nama saya itu karena saya anak kedua, jadi Adi, Adik, nah Kartiko itu kata ayah karena lahirnya pas hari Kartini. Karena aku laki-laki, jadilah kartiko!”
“Oalahhh Di, Di, bukan itu maksudnya. Ayahmu pasti sedang bercanda. Nama kamu itu sesungguhnya bagus banget. Adi itu artinya bagus, Kartiko itu artinya bintang. Bintang yang bagus, bintang yang indah.”
“Tapi tidak islami.”
“Nggak apa-apa Di, Tuhan tidak menilai hambanya dari nama. Bapak sendiri namanya tidak Islami, tapi bapak suka. Shalat juga, Bapak yakin sholat Bapak diterima.”
“Begitukah Pak?”
“Pernah dengar nggak, di Jawa Barat ada Kyai terkenal, tukang da’wah, namanya aneh, Kyai Balap Muda! Jamaahnya banyak .... laris .... kondhang, apa jamaaah mempermasalahkan namanya?”
“Nggak tahu Pak!”
“Hahaaa.... ya sudahlah kalau kamu nggak tahu Di. Kalau ayahmu mengatakan kamu mau jadi apa terserah Pak Guru, itu amanat. Jadi, aku sarankan jadilah kamu santri .... masuk pesantren.”
“Kenapa Pak?”
“Siapa tahu, kamu adalah santri terakhir yang ada di dunia ini!”
“Wuiiih ..... mengerikan sekali Pak!”
“Siapa tahu kamulah orang terakhir yang masuk sorga!”
“Wuiiih ..... enak sekali Pak! Mau Pak, mau ..... “
Melihat Adi tertawa senang, bibir Samekto terkatub. Ada perasaan haru. Dalam pandangan dirinya, Adi adalah anaknya. Anak kandung tak pernah dipercayakan kepada dirinya oleh Tuhan, mungkin anak inilah jalan menuju dirinya menjadi ayah yang sesungguhnya.
Lebih terenyuh lagi, Adi Kartiko kini hanya hidup bersama neneknya yang telah sakit-sakitan. Ayahnya, yang disebut Adi titip pesan kepada Samekto, kini entah di mana rimbanya. Tak ada yang tahu. Amanat itupun hanya diberi tahu nenek  Adi kepada cucunya itu.
***
Sebuah mobil merayap jalanan di punggung pegunungan.
Mata laki-laki pengemudinya nanar melihat pemandangan tempat yang telah ia tinggalkan belasan tahun. Di suatu tempat yang dulu berdiri sekolahnya, ia tak menemukan apa-apa lagi. Hanya ilalang dan batang-batang singkong yang tak teratur. Desanya semakin sepi.  Ia mencoba melihat ke beberapa arah. Bukit yang berada di belakang sekolahnya tak ada. Longsor? Mungkin sekali. Namun ia tak pernah mendengar kabar apapun.
Ketika beberapa anak kecil melintas di depannya, laki-laki itu menanyakan.
“Ada yang tahu di mana rumah Pak Samekto? Pak Guru?”
“Ooo... Kakek Mekto? Terus sedikit lagi ke sana Pak!”
Telinganya brenginging mendengar kata “Kakek Mekto”. Setua apakah Pak Guru Mekto? Pak Mektooo.... gumam laki-laki itu sambil menggelengkan kepala. Waktu telah memisahkan dirinya dengan orang tua sekaligus gurunya. Itu terjadi sebab ketika dirinya hendak hijrah ke pesantren di Jawa Timur, neneknya meninggal. Tinggallah ia sebatang kara. Sepeninggal dirinya ke pesantren, nama Samekto tak terlintas lagi di benaknya.
Sebuah kontemplasi yang ia lakukan akhir-akhir ini, rupanya telah memutar ingatannya untuk kembali membayangkan desa kelahirannya. Tak ada siapa-siapa. Guru. Hanya Samekto, Guru Samekto, yang mungkin masih bisa ditemui untuk diziarahi.
Siang itu, Adi Kartiko, yang telah dikenal banyak orang menjadi Kyai Adi Kartiko menangis di pelukan tubuh kurus kering. Wajah kuyu. Pipi peot. Jemari gemetar semacam menderita tremor.
“Pak Guru ..... hhhh..... ibu kemana?”
“Ibumu sudah lama meninggal.”
“Ooo... inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun.... Ibu .... hanya ibu dan Pak Guru yang seharusnya aku temui di sini ..... aku terlambat Paaakk....”
“Suu...suudahlah Adi... semua sudah takdir. Semua orang akan berhenti pada titik yang digariskan Allah.”
“Siapa yang ngurus Bapak selama ini?” tanya Adi Kartiko sambil menggenggam tangan gurunya. Matanya melihat ada secangkir air bening dan setengah piring nasi. Hanya itu. Tanpa lauk-pauk.
“Nggaak ... nggaak ada ...”
“Bapaaakkkk...... kenapa nggak cari Adi ke pesantren? Kenapa nggak ada yang ngabarin Adi?”
“Adi, bapak nggak penting bagi siapapun. Bapak bersyukur, kadang masih ada yang peduli mengirim air dan nasi.”
“Kalau masih ada! Kalau tidak ada?!”
“Shaum ....”
“Bapaaaakkkk...... maafkan Adi Paaakkk.....” laki-laki itu memeluk Samekto hingga berguncang-guncang.
“Adi.... ikhlaskan hatimu anakku.... kamu adalah monumen bapak yang terakhir. Hanya ada satu harapan Bapak .... jadilah kamu menjadi orang shaleh, panutan umat, jangan sombong. Kenapa? Yang berhak sombong hanya Allah .... , rendah hati terhadap guru-gurumu di pesantren. Bu.... bukankah sekarang kamu sudah jadi Kyai? Puluhan tahun merantau, mestinya sudah .....”
“Mestinya sudah .... mestinya sudaaaah..... dulu Bapak yang menyuruh aku masuk pesantren, ilmu telah banyak di otakku ..... tapi kebaikan terhadap Pak Guru tak ada di hatiku Pak Mektoooo........ aku menelantarkan Bapak, melupakan..... hhh... hhh.....”
“Doakan Bapak ... Adi ....”
“Adi doakan. Selalu Adi doakan Pak. Hari ini juga Bapak aku bawa ke rumahku. Biar Bapak tetap menjadi pelita hidupku ..... “
“Seandainya aku punya anak kandung .... anak sholeh .... akan kuminta jariyah doa...”
“Aku anakmu Pak Guruuuuuuuuuu!!!! Anak kandungmuuuuu!”
“Bapak tak dipercaya Allah untuk mengasuh anak kandung.”
“Jangan bicara begitu Bapaaak.... aku... aku... Adi, anak kandung Bapak .... jariyah untuk Bapak..... Bapak yang telah menjadi washilah bagi aku untuk mengenal ilmu agama yang dalam dan luas, semua karena Bapak. Aku adalah pikiran Bapak. Aku adalah jiwa Bapaaak.....”
“Adi ...... Di ....... “ kata-kata Samekto melemah. Adi Kartiko menggenggam telapak tangan gurunya. Wajah Adi terhenyak. Telapak tangan yang digenggamnya berubah jadi dingin. Anyep.
“Bapaaakk...... “ Adi berbisik dekat telinga.
“ .....lllah ...mu...hammad...darrosul...sul....lull....lll....hhhhh......” bersamaan dengan kalimat yang melemah, mata Samekto terpejam perlahan.
Adi Kartiko menjerit memanggil-manggil nama gurunya. Beberapa tetangga satu demi satu berdatangan. Mereka melihat ada orang yang baru dikenalnya memeluk jasad Samekto. Laki-laki itu menangis ngguguk.
Angin semilir menerpa punggung perbukitan.
Tetangga yang berdatangan masih menunggu redanya tangis Adi Kartiko yang masih mengguncang-guncang, membangunkan tubuh gurunya. ***
Majalengka,  2020


Sabtu, 22 Agustus 2020

Jumat, 07 Agustus 2020

Limit Fungsi Trigonometri (bagian kecil)

Blog Pendidikan

Beberapa hal yang mungkin akan muncul dalam variasi soal limit trigonometri :



Mungkin akan dipakai dalam soal model seperti ini :


Model lain :











JIKA MEMBUTUHKAN FILE APLIKASI GRAFEX 22
(basis Excel tanpa istall aplikasi - copy-paste langsung on)
UNTUK MEMPELAJARI MODEL-MODEL GRAFIK FUNGSI TRIGONOMETRI
BISA KLIK LINK DI BAWAH INI