Rabu, 21 Oktober 2015

Terbaru 2020 -

Blog Pendidikan

Cerpen :  CINTA DI RUMAH LELUHUR
Haryanto pulang kampung. Tak banyak yang ia inginkan ketika kakinya menginjakkan kembali desa Mrenek. Hanya satu : menjual rumah ayahnya. Laki-laki tak berfikir panjang apa akibatnya jika ia menjual rumah itu. Menurut perhitungannya, ia telah merawat ayahnya lima tahun terakhir. Manusia yang mengukir jiwa raganya itu telah ikut bersamanya di kota. Dengan imbal jasa semacam itu, tentu ayahnya akan mengijinkan ia menjual rumahnya. Namun laki-laki ini tertahan langkahnya sejenak. Bibirnya dikatubkan. Nafasnya dihela dalam. Benar, rumah leluhur itu sepertinya sudah ada yang menempati. Kemarin ia ingat kata-kata ayahnya.

“Kamu tak perlu pulang kampung To. Sudah tak ada siapa-siapa di sana.” kata ayah Haryanto ketika anaknya mengutarakan keinginannya.
“Satu tinggalan ayah. Rumah leluhur itu.”
“Rumah itu sudah jadi milik orang lain.”
“Ayah bercanda.” kata Haryanto mendengus sambil membuang puntung rokok.
“Ayah serius.”
“Saya tetap akan pulang ke Mrenek.”
“Kamu akan kecewa.”
“Ayah pasti bercanda!”
“Ayah serius!”
“Bercanda!”
“Yanto! Kau pikir ayahmu ini uang dari mana untuk mengeluarkanmu dari penjara? Dari nenek moyangmu? Itu hasil penjualan rumah To. Rumah kita, yang kamu tempati sejak kecil. Ayah memang berat hati, namun demi mengeluarkan kamu, rumah itu ayah relakan. Ayah sudah tak punya apa-apa lagi selain rumah itu.”
“Ayah bercanda!”
“Itulah mengapa ayah mau ketika kamu mengajak ayah ke kota bersamamu! Kalau ayah masih punya rumah, orang tua mana yang ingin ikut bersama anaknya. Orang tua selalu ingin tinggal nyaman sendirian tanpa membebani anak cucu.”
“Tapi tak ada cucu denganku Yah, bahkan istripun tidak.”
“Tak punya istri itu kan pilihanmu sendiri. Sudah punya istri, kau sia-siakan. Padahal menurut ayah, kamulah yang salah. Untung kalian belum punya anak, kalau sudah, tentu anak ini akan ikut merasakan beban ibunya…”
“Sudahlah Yah, jangan ungkit itu lagi….. “
“Kalau begitu jangan ungkit juga soal rumah!”
“Beda Yah, sangat beda istri dengan rumah!”
“Terserah kaulah!”
***
Haryanto bersembunyi di balik pagar. Ia ingin tahu siapa yang menempati rumah itu. Ya, rumah yang pernah ia tinggali sejak kecil bersama adik-adiknya, bersama orang tuanya. Rumahcakrik priyayi dengan tembok setengah berbalut batu hitam tampak antik. Atap berbentuk semi joglo tampak beda dengan model rumah-rumah jaman sekarang. Terasnya, aduuuh …! Laki-laki itu bergumam. Ia rasakan teras itu sangat nyaman untuk bermain di masa kecil. Ayah dan ibunya duduk di kursi rotan mengawasi anak-anaknya bermain. Tentu di atas meja kayu jati ada segelas kopi, dan makanan kecil.
Jika dalam permainan ada yang nakal, maka ia atau adiknya akan memberantakkan mainan-mainan itu. Adiknya atau kadang dirinya lari ke halaman depan, naik ke atas pohon jambu batu. Sementara Titis, adik perempuan bungsunya,cuek terhadap kakak-kakaknya yang berkejar-kejaran. Gadis kecil itu lebih memilih memetik kembang-kembang kenanga yang sudah menguning dengan bau yang semerbak.
“Kembang kenanga itu masih ada …. Ada yang merawatnya, hingga mengembang biakkannya..” pikir Haryanto seraya melihat sekeliling halaman. Benar, kondisi rumah dan lingkungan tak banyak berubah.
Klotak!
Jantung Haryanto berdesir. Di belakangnya terdengar suara kelotak batu kecil. Ia menoleh. Seorang anak dengan seragam SMA putih abu-abu sedang mengamati dirinya.
“Bapak cari siapa?” tanya anak itu perlahan, sambil selintas melempar pandangan ke arah rumah yang tertutup pintunya.
“Emmm….. ti… tidak.”
“Kok bapak seperti ada maksud.”
“Mmmm ….. adik tahu siapa yang menempati rumah ini?”
“Saya , dan ibu saya. Kami pemilik rumah ini.”
“Adik tahu ini rumah siapa?”
“Aduuuh …. Bapak, kan saya sudah bilang kami pemilik rumah ini.”
“Bukannya ini rumah Pak Mirwanto?”
“Ooo….. Pak Mirwanto? Dulu, kata ibu saya memang rumah ini milik Pak Mirwanto. Tapi ibu telah membelinya.”
“Membeli? Membeli rumah ini maksudnya?”
“Astaghfirullah …… Bapak tadi menanyakan rumah yang mana sih?”
“Ya rumah ini.”
“Kan sudah saya jawab, ibu membeli rumah ini dari Pak Mirwanto.”
“Oooo….. “
“Maaf, Bapak ini siapa ya? Apa hubungannya dengan rumah ini?”
“Mmmh…. tidak, tidak ada. Siapa nama ibumu?”
“Oooo……. Itu dia ibu ………….”
Bersamaan dengan pertanyaan Haryanto, pintu rumah terbuka. Seorang perempuan keluar memandang ke arah dua orang yang sedang berbincang. Jarak sekitarsepuluh meter sangat jelas bagi Haryanto untuk melihat perempuan itu. Dada Haryanto berdetak. Perempuan itupun tampak gugup wajahnya demi melihat Haryanto.
“Itu …. Itukah ibumu?”
“Ya itu ibu. Bapak kenal?”
“Diakah pemilik rumah ini?”
“Iya. Dia ibuku.”
“Kau anaknya?” tanya Haryanto dengan mata nanar. Tenggorokannya terasa kering.
“Iya, kalau dia ibuku, pasti aku anaknya.”
Sejenak Haryanto meneliti anak SMA itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pandangan Haryanto berhenti sejenak. Ia melihat alis anak tersebut hampir menyambung.
“Kau mirip ibumu ….. “
“Apanya yang mirip?”
“Alisnya.”
“Kenapa alisku?”
“Tak apa-apa. Siapa ayahmu?”
Anak laki-laki yang berada di dekatnya menggeleng ketika terdengar panggilan dari perempuan yang berada di teras. Anak itu berlari. Haryanto mengamati sambil ternganga.
Haryanto mendesah. Ia menoleh ke arah perempuan yang masih mematung menatap dirinya. Banyak hal ingin ia tanyakan kepada anak itu, namun ia tak tahan dengan pandangan perempuan itu. Laki-laki itu buru-buru meninggalkan tempat itu, berjalan cepat. Anak SMA di depannya tak ia pedulikan lagi, ia hanya berfikir bahwa perempuan itu masih masygul melihat kedatangannya.
***
Menjelang tengah malam Haryanto sampai di kota. Tak seperti biasanya, kali ini ia tak membawa makanan untuk ayahnya. Ada perasaan jengkel yang neysakkan dada kepada orang tuanya.
“Baru pulang To?” sambut ayahnya sambil membukakan pintu.
“Yah, apa yang tampak di mata ayah…. saya baru pulang.”
“Ketus sekali jawabanmu. Ada masalahkah?”
“Benarkah Ayah menjual rumah kepada Wulan?”
“Ooooo……. duduklah dulu To ……. “ kata ayahnya tak menunjukkan kaget atau heran. Haryanto duduk dengan membantingkan pantat ke kursi. Punggung bersandar di punggung kursi, dengan posisi kepala mendongak. Jaketnya dikencangkan. Matanya melihat atas.
“Benarkah Ayah menjual rumah itu kepada Wulan?” tanya Haryanto mengulangi.
“Kan dari kemarin sudah ayah katakan, kau jangan pulang ke Mrenek. Desa itu hanya tinggal sejarah. Sudah tak ada siapa-siapa di desa itu.”
“Mengapa Ayah tak bilang ke saya kalau rumah itu dijual ke Wulan? Memangnya Wulan itu siapa? Orang kaya? Paling-paling juga suaminya yang kaya!”
“Wulan itu ya si Wulan Ndadari! Rembulan dengan sinar yang dipancarkan dengan sinar sempurna di tanggal lima belas bulan Jawa. Kamu tak tahu Wulan itu siapa?”
“Hmh!”
“Wulan itu wanita terhormat. Wanita yang tegar. Wanita yang sanggup menghidupi dua orang anaknya sendirian, bahkan yang pertama telah menjadi sarjana.”
“Anak Wulan ada dua?”
“Itulah ….. kehidupan kotamu ternyata tak memberikan arti dan pelajaran hidup bagi dirimu. Kamu telah melupakan desamu sendiri. Yaah, desa seisinya telah kamu lupakan. Hidupmu tak keruan. Ayah dulu mau menemanimu karena ingin mengawasi hidupmu. Ayah ingin punya anak laki-laki seperti kamu yang dapat menjadi contoh bagi adik-adikmu. Kamu tak pernah berfikir, apa yang menyebabkan ibumu sakit,seperti orang linglung? Tahukah sebabnya?”
“Tak tahu Ayah.”
“Itulah kebodohan kamu yang kamu pelihara sejak SMA dulu. Ibumu sakit gara-gara menanggung malu.”
“Hanya karena malu sampai meninggal?”
“Kamu anggap sepele rasa malu itu ya?”
“Tak habis pikir …..”
“Karena apa? Tahukah kamu? Karena anak laki-lakinya telah menghamili anak orang, setelah itu kemudian minggat.”
“Hmhhh….”
“ Ibumu malu. Hati ibumu teriris, remuk, ajur mumur gara-gara kelakuanmu.”
“Yah, saya tak sengaja mengajak Wulan berbuat dosa.”
“Itulah anak Ayah! Anak yang pengecut!”
“Saya juga malu Yah, masa anak SMA harus menikah dengan anak SMP? Itulah yang mendorong saya pilih minggat dari desa.”
“Ibumu lebih malu lagi ketika mengajak Wulan tinggal di sini, tetapi Wulan menolak.”
“Pernah ibu mengajak Wulan begitu?”
“Pernah. Apa yang dikatakan Wulan? Tahu kamu?”
“Tidak.”
“Ia mengatakan, mungkin ibu dulu tidak ikhlas memberikan ASI kepada kamu! Ibumu malu sekali dengan kalimat yang sederhana tetapi maknanya dalam. Ada nada menyalahkan ibumu ketika kamu berbuat begitu terhadap Wulan.”
“Sebegitu jahatnya Wulan kepada ibu!”
“Bisa juga manusia sejahat kamu terhadap Wulan mengatakan sebegitu jahatnya Wulan. Kamu yang jahat. Kamu telah mencoreng harga diri keluarga Wulan. Memang, keluarga Wulan bukan orang berada, tetapi mereka punya harga diri.”
“Hhh……”
“Bukankah kamu ingat ketika ayah wulan dulu datang, kemudian melarang kamu berpacaran dengan anaknya, karena Wulan masih kecil! Ingat apa tidaaaak?!”
“Ingat Yah, ingaaatt…..”
“Kenapa kamu melanggarnya?”
“Setan telah merasuki jiwaku….”
“Itulah To, kalau saja ayahmu ini tidak takut sama Tuhan, sudah aku bunuh kamu! Atau aku usir, atau ayah hapus kamu dari keturunan kakek Wardayaningrat!”
“Kenapa tidak Ayah lakukan?”
“Kamu dengar apa tidak tadi? Karena ayah takut kepada Tuhan.”
“Takut karena dosa membunuh?”
“Lebih dari itu, Ayah takut ditanya di hari perhitungan nanti, kenapa anakmu menjadi anak yang blangsak? Apakah tidak pernah kau didik? Apa kamu tidak berfikir jika anak-anakmu menjadi orang yang blangsak , maka anak-anakmu itu akan menebar kejelekan ke banyak orang? Itu Tooooo…. Ituuuuu… yang ayah takutkan. Ayah takut dituntut pertanggungjawaban itu.”
“Biar dosa itu aku tanggung sendiri Yah.”
“Tidak bisa begitu To. Ibumu sudah tidak mungkin bisa memperbaiki dirimu, tinggal ayahmu ini, barangkali kamu masih mau mendengar nasehat ayahmu menjadi orang baik.”
Semalaman Haryanto tak bisa tidur. Kata-kata ayahnya yang seperti marah, tetapi sebenarnya tidak. Tidak biasanya ia merenung, namun malam ini benar-benar tak seperti malam-malam biasanya yang langsung tidur mendengkur.
Perlahan laki-laki itu bangkit. Matanya melihat ke arah jam dinding. Pukul 02.17 …. gumamnya. Perlahan ia melangkah ke kamar ayahnya. Ia mengintip perlahan. Mata laki-laki itu menatap tubuh tua yang tergolek di kasur di bawah temaram lampu 10 watt. Gurat-gurat wajahnya tampak kentara. Haryanto mendesah dalam. Entah mengapa tiba-tiba ada air mengembang di matanya. Ia tatapi kembali wajah ayahnya. Ia tertegun. Ia baru merasakan melalui pandangan matanya, ada guratan kekecewaan yang nyata di wajah ayahnya. Ada guratan perjuangan untuk memperbaiki karakter dirinya yang dicap sebagai blangsak . Haryanto heran, biasanya ia marah habis-habisan jika ada orang yang menghinanya. Tetapi kali ini tidak.
Laki-laki itu berjalan perlahan. Ia keluar. Udara malam menerpa wajah. Sejuk. Beberapa jenak kemudian Haryanto telah duduk terpekur bersandar tembok di teras. Lampu lima watt menemani pikirannya kembali kepada Wulan.
“Aku harus temui Wulan …… “ gumamnya dalam.
***
Gelas berisi air bening itu tinggal separo. Haryanto meneguknya lagi. Sementara itu Wulan juga masih tak banyak bicara.
“Mas Har bisa membeli kembali rumah ini. Dengan harga yang sama setelah lima belas tahun lewat. Tak perlu kurs.”
“Aku tidak butuh rumah. Aku hanya butuh kesanggupanmu Wulan.”
“Tamtomo, anak Mas itu,  terlanjur tak mengenalmu. Ia telah aku buat menghilangkan Mas Har dari hidupnya, dari pikirannya.”
“Tak apa. Biar dia tak mengenal bahwa aku adalah ayahnya.”
“Oke Mas, tapi aku tak bisa memenuhi permintaan Mas Har.”
“Aku kaya Wulan.”
“Mas punya istri.”
“Sudah aku cerai.”
“Kamu jahat sekali Mas, suka menyakiti hati perempuan. Mau berapa perempuan yang ingin kau sakiti sebenarnya Mas? Dua, tiga, atau lebih?”
“Sss…ttt jangan salahkan aku Wulan. Istriku yang dulu aku cerai karena dia selingkuh. Dia selalu merongrong hartaku. Aku pura-pura menjadi pemabuk. Aku ini bisnis online, menjadi pemasok apa saja, semacam. Uangku banyak. Istriku tak tahu. Aku pernah bisnis LML, pernah dapat bonus puluhan juta. Istriku tak pernah tahu uangku ratusan juta, karena aku tahu dia pasti akan menghabiskannya ….. kini harta itu aku simpan di tempat tertentu. Syukur aku sudah bercerai. Aku ingin menebus kesalahanku padamu Wulan.”
“Tidak bisa Mas……”
“Wulan, dulu aku anak SMA. Pikiranku pendek. Aku tak mengerti bagaimana mencari uang. Makanya aku pilih minggat mengembara. Sekarang aku sudah sukses Wulan … aku ingin melamarmu jadi istriku.” kata Haryanto penuh harap.
Baginya, sudah kepalang banyak bercerita, tak ada lagi yang akan ditutup-tutupi terhadap Wulan. Keinginannya sudah bulat ingin menikah perempuan yang ternyata telah menjadi ditinggal mati suaminya lima tahun yang lalu.
“Jangan lakukan itu Mas.”
“Aku mencintaimu Wulan.”
“Jangan-jangan kau hanya iba, empati, karena aku janda. Iya begitu?”
“Kalimat apa yang harus aku ucapkan agar kau yakin Wulan?”
“Tak ada.”
“Ada.”
“Tidak.”
“Pasti ada Wulan.”
“Tak ada, semua karena Mas Har telah terlambat …………..” kata Wulan seraya mengambil sesuatu dari rak bawah meja. Kartu. Wulan menyodorkan kartu itu ke Haryanto. Laki-laki itu melongo.
“Kartu apa? Undangan?”
“Dua minggu lagi aku akan menikah Mas. Calon suamiku sekarang sedang bekerja menjadi teknisi di kilang minyak di Kuwait. Dua hari lagi ia akan pulang ke sini.”
“Ooooo……hhh”
Dahi Haryanto dingin. Keringat merembes membasahi dahi itu. Punggungnya tiba-tiba juga terasa basah oleh keringat. Lehernya terasa tersumbat. Sesak. Haryanto mencoba menenangkan diri dengan meneguk air bening yang tinggal sedikit. Ia mengatubkan bibir. Pandangannya ke lantai.
Lima menit keduanya diam.
“Syukur kau akan memulai hidup baru lagi Wulan …. “ akhirnya Haryanto bersuara.
“Maafkan Wulan Mas ….”
“Titip salam untuk Tamtomo anakku.”
“Maafkan Wulan Mas ….. maaf.”
“Ia harus tahu bahwa aku adalah ayahnya.”
“Entahlah.”
“Aku pamit.”
“Ya.”
Haryanto beranjak dari kursi. Ia bergegas meninggalkan teras rumah leluhurnya. Namun sampai di pintu pagar luar laki-laki itu berdiri termangu. Ia menoleh. Wulan masih berdiri terpaku di teras. Haryanto mendesah. Ia berbalik. Perlahan ia berjalan kembali ke teras. Sampai di dekat Wulan, jantung Haryanto berdetak keras. Ia melihat air mata yang meleleh deras di mata perempuan itu.
“Aaa… ada apa lagi?” tanya Wulan di antara suaranya yang tersekat.
“Kapan tanggal pernikahanmu?” tanya Haryanto yang lupa membaca waktu pernikahan.
“Dua puluh sembilan Maret.”
“Wulan …. Ijinkan aku mencium tanganmu untuk terakhir kali …..” pinta Haryanto seraya mengulurkan tangan. Wulan diam. Haryanto memberi isyarat dengan matanya.
“Tidak…”
“Kenapa?”
“Kau tak boleh mendahului takdir.”
“Apa maksudmu?”
“Kata-kata – terakhir - itu melawan hak Tuhan.”
“Aaaahhh ….. itu kata-kataku ketika dulu aku merayumu. Kau adalah cintaku yang terakhir. Kau mengatakan itu.”
“Kau masih ingat?”
“Untuk Wulan. Wanita yang aku cintai penghuni rumah leluhurku. Mudah-mudahan rumah ini adalah wakil jasadku ini Wulan. Semua bagian rumah ini akan selalu mendampingimu ….. rumah ini adalah Haryanto, Haryanto adalah rumah ini yang akan selalu menjadi tempat berteduh Wulan dan anakku….”
“Anakku datang Mas ……. “ kata Wulan tiba-tiba mengingatkan. Haryanto terhenyak. Ia menoleh ke pagar depan. Benar, Tamtomo datang.
“Bapak yang ini lagi?” gumamnya ketika sudah dekat seraya memandang aneh ke arah Haryanto.
“Aku pamit dulu Wulan … ingat pesanku…… ingatkan bahwa aku adalah ayahnya….” bisik Haryanto hanya terdenga oleh Wulan. Perempuan itu hanya mendesah.
Akhirnya kali ini Haryanto benar-benar pergi dari halaman rumah leluhurnya. Ia bergegas tanpa kembali menoleh. Ia mencoba menahan rasa yang menggelegak dalam hatinya. Namun ia merasakan bahwa rasa yang hadir adalah rasa ingin menangis. Tapi ia malu.
***
Dua minggu kemudian. Minggu tanggal 29 Maret 2015.
Haryanto telah mangkal di warung di ujung gang yang mengarah ke rumah leluhurnya. Jarak sekitar tiga ratus meteran. Sambil menikmati kopi dan rokok, ia menganyam angan tentang nasib dirinya yang tak pernah berbahagia dengan perempuan. Paling tidak sampai detik ini.
“Dari tadi saya tidak mendengar suara hingar bingar Pak….” tanya Haryanto kepada pemilik warung.
“Hingar bingar apa maksudnya?”
“Biasanya kalau ada yang pynya hajat suka ramai, ada musik, entah dangdut, organ tunggal atau apa saja.”
“Punya hajat apa?”
“Bukannya di selatan sana ada yang menikah?”
“Ah tidak.”
“Tidak?”
“Menikah apa? Kawinan begitu?”
“Iya begitu, kawinan. Yang di rumah kuno itu, rumahnya Pak Mirwanto.”
“Ooooo ….. rumah Bu Wulan?”
“Iya itu.”
“Kan tidak jadi menikah.”
“Lho? Kenapa ya?”
“Sepuluh hari yang lalu ada kabar calon suaminya kecelakaan.”
“Hah? Kecelakaan?”
“Di mana?”
“Di Arab atau di mana itu?”
“Di Kuwait?”
“Iya, iya betul, itu di Kuwait. Kecelakaan kerja di perusahaan kilang minyak …. Kasihan benar dia, sudah janda, mau menikah eh gagal .”
Haryanto bergegas bangkit dari duduknya. Setelah membayar minum dan rokok, ia melajukan moge-nya ke arah rumah leluhur. Di depan pagar Haryanto turun. Ia termangu. Rumah leluhurnya sepi. Tapi jendela kamar depan terbuka. Wulan pasti di dalam.
Wajah wulan berkelebat cepat di depan matanya. Ia membayangkan Wulan datang menjemputnya, menyongsongkan kedua tangannya. Senyumnya saling mengembang. Jemari saling bertaut. Rumah leluhur menjadi milik berdua.
“Mas masuk saja ….. “ ada suara di belakangnya. Haryanto tersentak dari lamunan.Ia menoleh.
“Wulan …. Wuuu…. Wulan…….” Suara Haryanto tersekat berhenti di leher. Ia pandangi wajah Wulan yang baru datang dari arah jalan . Wulan diam. Perempuan itu mendesah.
“Masuk Mas …. duduklah di dalam …. “
Haryanto tergagap, namun tak jadi bersuara. Ia ingat kata-kata Wulan beberapa hari yang lalu “Kata-kata terakhir itu melawan hak Tuhan” . Mungkin kalimat ini sebagai firasat bahwa tak harus ada kata terakhir tentang hubungan mereka di rumah leluhur? Mungkin saja.
Haryanto hampir tak percaya . Ia merasa nyaman, tenteram siang itu duduk di teras rumah leluhurnya. Ia yakin, di rumah ini akan ada lembaran cinta lama yang akan bertaut kembali. Dan yang pasti ia berharap kehadirannya akan bermakna bagi Tamtomo, darah dagingnya. ***
Majalengka, Maret 2015

Selasa, 20 Oktober 2015

Terbaru 2020 -

Blog Pendidikan

6. PADUKUHAN YANG AMAN

B
iarpun Fauzi masih duduk di SMA, ternyata badannya tak kalah tegap dengan pengacau yang mendekatinya. Mata Fauzi memandang tajam.
“Kau orang baru ya?”
“Orang baru atau lama, yang penting aku adalah orang Semanding.”
“Kamu jangan turut campur! Kau belum tahu siapa Koyot!”
“Aku katakan, aku adalah orang Semanding! Aku tidak kenal siapa kamu, tetapi aku kenal cara-cara jelekmu untuk memeras orang-orang sini!”
“Kau orang bayaran ya? Kau orang sewaan warga Semanding? Hahaaa! Percuma menyewa satu orang! Sewa sepuluh tukang pukul sekalian! Sepuluh anak kecil semacam kamu tak akan membuat kami bertiga mundur! Apalagi hanya seorang! Haaaattttt!” kata orang yang mengaku bernama Koyot sambil menerjang.
Bet! Fauzi oleng sedikit. Ia sempat berkelit namun sambaran pukulan Koyot sempat menghantam lengannya.
“Hahaaa! Apa yang kayu banggakan?”
Bismillah! Hiiiyaaa!
Kini tanpa diduga, Fauzi memutar tubuhnya dan menyapu kaki Koyot. Laki-laki itu tidak mengira bahwa Fauzi akan menyerang seperti itu. Brug! Koyot terjerembab ke samping . Pipi kanan dan telinganya membentur tanah dingin.
“Anjing!” Umpat Koyot seraya bangkit. Tanpa menunggu lama laki-laki itu kembali menyerang Fauzi. Serangannya masih sama, menggunakan kepalan tangan. Fauzi dengan mudah menghindar. Karena pukulannya tidak mengenai sasaran, badan Koyot tersorong ke depan. Dengan cepat Fauzi menyambutnya dengan tamparan keras di wajah Koyot.

Bret! Agh!
Kembali Koyot terjerembab. Kini tubuhnya juga berguling-guling. Tanpa sadar warga berteriak-teriak kegirangan. Kalau saja Fauzi menghantamnya dengan kepalan tangan, mungkin Koyot langsung pingsan. Ia tidak ingin laki-laki itu pingsan. Yang ia inginkan adalah laki-laki itu melihat kebersamaan warga melawan kelompoknya.
Koyot menata nafasnya. Mukanya penuh debu. Ia menoleh dua orang temannya.
“Monyet! Kenapa diam saja! Hajar dia!”
Tanpa menunggu perintah kedua teman Koyot menghambur ke arah Fauzi. Kini Fauzi lebih berhati-hati karena salah seorang dari mereka memegang belati. Melihat perkelahian dengan senjata, para warga diam. Jantung mereka serasa copot. Beberapa kali sambaran
tangan Fauzi mengenai mereka. Namun Fauzi juga sekali merasakan sambaran pukulan pada lambungnya.
Blegh!
Tanpa diduga, Koyot yang telah bangkit menyerang dari belakang. Tumitnya mengganyang punggung Fauzi dengan deras.Bersamaan dengan itu para warga menjerit. Tubuh Fauzi terhuyung kemudian terjatuh, namun ia gelindingkan tubuhnya.
Bret!
Belum lagi Fauzi bersiap, datang sambaran belati mengenai lengan kirinya. Jaketnya sobek. Darah nampak mengucur. Fauzi meringis.
“Pikirkanlah …. apa gunanya kau membela penduduk hah?”
Fauzi tidak menyahut. Tangan kanannya meraba ruyung yang disimpan di balik jaketnya. Dengan sekali sentak kini ruyung itu telah dimainkan cepat. Benda itu seolah-olah berputar melingkupi dan melindungi tubuh Fauzi. Melihat senjata yang tidak biasa, ketiga orang itu kaget. Namun kekagetan mereka hanya berapa detik.
Pletak!
Belati yang ada di genggaman pengacau terpental jatuh. Disusul Fauzi menyambarkan ruyungnya ke arah orang yang kehilangan belati.
Pletak! Akkkkhhhhh!
Orang itu kini terjerembab ke depan sambil meringis memegangi tulang keringnya. Kedua teman lainnya terperangah melihat akibat serangan senjata Fauzi. Wajah mereka nampak ragu . Fauzi menghentikan gerakan ruyungnya.
“Hai Koyot, ingat! Kalau saja senjata ini aku arahkan ke kepala temanmu, kepala temanmu bisa retak! Atau mungkin kau yang ingin merasakannya?” Kata Fauzi memulai menggerakkan ruyungnya semakin cepat. Namun kemudian ia menghentikannya.
“Warga Semanding sekarang berbeda …. mulai besok mereka akan mampu menghadapi kalian. Ingat itu! Bukankah begitu bapak-bapak?”
“Yaaaa! Yaaaaa! Kami sudah muak dengan tingkah kalian.”
“Sekarang pergilah kalian….  beruntung warga Semanding orangnya penyabar. Kalau tidak malam ini kalian sudah mati dihajar beramai-ramai. “
Minggat! Minggaaaat!
Para warga yang sudah kesal mengusir mereka dengan kata-kata. Tanpa banyak kata Koyot berbalik berjalan tergopoh-gopoh menuju areal ladang di sebelah utara padukuhan. Sementara teman yang satunya mengikuti sambil memapah yang masih kesakitan tulang keringnya. Ketiganya menghilang ditelan kegelapan.
“Terima kasih Nak Fauzi …… “
“Sudahlah …. aku… akuuuu……….. “
Fauzi tak dapat meneruskan kalimatnya. Orang-orang hanya menduga Fauzi menahan rasa nyeri akibat luka di lengannya. Darah meleleh melumuri jaket hitamnya di keremangan malam.
Malam itu padukuhan Semanding hingar bingar. Mereka merasa sangat gembira karena pengacau yang biasa memeras mereka sudah diusir oleh Fauzi. Terlepas apakah ketiga pengacau itu akan menyimpan dendam dan akan datang lagi suatu saat, mereka belum memikirkannya.
Kini konsentrasi warga Semanding adalah menolong Fauzi. Hampir setengah jam Fauzi pingsan. Ketika ia perlahan membuka matanya, warga Semanding bersamaan mengucap syukur.
Alhamdulillah…… terimakasih ya Allah.
Para laki-laki bergantian memegang tangan Fauzi. Mereka menyatakan terimakasih, tetapi tak terucap. Sementara itu di bagian belakang ibu-ibu ada beberapa yang menitikkan air mata melihat Fauzi yang nampak tersenyum dalam wajah pucatnya. Belum habis yang menyatakan terimakasih, Fauzi memejamkan mata lagi.
“Biarkan Nak Fauzi istirahat. Ibu-ibu silakan pulang, sama anak-anak. Ayo pada pulang. Bapak-bapak yang mau menemani saya lek-lekan di sini hayo,  terima kasih.” Kata Pak Mahmud . Ibu-ibu segera bubar, sementara para laki-laki dan pemuda menggelar tikar di beranda .
“Benar-benar anak setan Mas Fauzi itu!” celutuk Jarwo seraya menyedot rokoknya dalam-dalam.
“Hus! Anak setan gundulmu! Orang sudah berkorban mempertaruhkan nyawa kok malah dibilang anak setan! Kalau bapak ibunya dengar, kamu bakal digrujug wedang temenan! Kalau anaknya anak setan, bapak ibunya apa?” kata Suroyo, ketua pemuda di situ.
“Bukan itu maksudku! Maksudku keberaniannya itu lho! Sangat tidak masuk akal!”
“Justru itu yang harus kita tiru. Kita harus punya kemampuan seperti Mas Fauzi, biar orang kaya Si Tengil Koyot mampus, tidak briga-brigi gumedhe sok jagoan!”
“Aku tertarik sama pentungan rante itu lho!” kata yang lain celutuk.
“Itu bukan pentungan rante, namanya gebug maling!”
“Huuuuuu… ngaco! Besok kita tanyakan ke Mas Fauzi saja. Semoga dia cepat pulih.”
Fauzi melewati malam dengan tidur. Mungkin dengan menahan sakit . Sementara itu orang-orang berjaga siap untuk memenuhi keperluannya, entah minum, buang air atau apa saja yang mungkin diingini Fauzi.
* * *
Pagi datang.
Burung-burung ciblek bernyanyi di ranting pohon turi. Kemudian berhamburan mencari ulat di sela-sela batang kaliandra. Sementara itu di dapur Bu Sipon tengah menyiapkan minuman dan sarapan pagi. Mencium bau kopi, mata Fauzi berbinar. Fauzi melihat beberapa orang masih tertidur di tikar setelah semalaman berjaga.
“Sarapan dulu Nak, nih, ada peda bakar , ada pete. Nasi jagung …. Makanan baru.”
“Oh ya Bu terimakasih, tapi aku mau sikat gigi dan ke air.”
“Tangannya masih sakit?”
“Tentu masih. Tapi sepertinya tak terlalu mengkhawatirkan. Oh ya Bu, apa orang-orang yang pada tidur sudah shalat shubuh?” tanya fauzi sambil bangkit dari pembaringan.
“Sudah. Tampaknya mereka ngantuk sekali setelah semalaman berjaga-jaga melek. Tapi, tuh yang itu, Sarmun dan Samirin, mereka tidak pernah sholat.”
“Oh ya sudah kalau begitu…. “
“Nak, nanti tengah hari katanya para pemuda mau datang. Mereka mau membicarakan sesuatu.”
“Waaah, kaya barang penting saja. Memangnya mereka mau ngomong masalah apa?”
“Gak tahulah …. Nanti saja tanya sama Suroyo…. “
Sehabis cuci muka dan sikat gigi , Fauzi sarapan. Nasi jagung yang ia sendok masuk mulutnya. Rasanya hambar, tidak pulen seperti nasi. Tapi bagi lidahnya rasanya lumayan juga, apalagi dengan lauk peda bakar yang dibungkus daun labu siam. Menjelang siang beberapa ibu-ibu datang membawa makanan. Semua untuk Fauzi. Anak itu sampai geleng-geleng kepala melihat banyaknya makanan.
“Urusan makanan melimpah, gampang….. tuuuh golongan yang masih pada tidur, mereka tukang makan. Tenang saja, yang penting makanan ini Nak fauzi terima, untuk melegakan hati mereka yang memberi.” Kata Bu Sipon seraya membereskan piring-piring kotor.
“Mas! Mas Fauzi … waaaaahhhh syukurlah kalau sudah bangun. Kami tak mengira kalau Mas Fauzi sampai pingsan karena kehilangan banyak darah.” Kata Suroyo yang tiba-tiba masuk dari pintu belakang. Beberapa pemuda mengikuti di belakangnya. Mereka duduk berkerumun.
“Sini aku mau cerita ….. “
“Tentang senjata Mas Fauzi.”
“Iya, tapi itu nanti. Begini, tadi malam itu yang membuat aku pingsan itu bukan karena luka kena belati ini. Bukan, ini sih hanya luka kecil, tapi memang dikatakan sakit , ya sakit.”
“Terus karena apa?”
“Tendangan Koyot dari belakang itu, entah mengapa kok tiba-tiba perutku jadi mulas. Keringat dingin mengucur. “
“Ooooo , jadi bukan karena kehilangan banyak darah?”
“Bukan.”
“Aku sudah tidak kuat, tapi aku nekad menggunakan sedikit kesadaranku untuk memainkan senjataku itu. Andai saja mereka tahu aku kesakitan payah, dan mereka menyerang bersama-sama, ya hanya sampai tadi malam itu umurku. Aku bisa mati! Untung mereka tidak tahu kalau aku bermasalah.”
“Ooooo…”
“Untung pukulanku mengenai tulang kering. Sengaja, memang yang aku ambil kakinya. Aku tidak ingin menyerang kepala. Aku takut nanti mereka gegar otak, tak bisa berfikir. Kasihan mereka.”
“Wuuu padahal kalau aku jadi Mas Fauzi, orang itu tak kepruk sisan!”
“Jangan … . biarkan mereka insyaf dan menyadari bahwa tidak semua orang atau kelompok orang dapat ditekan. Untung tadi malam gertakanku mempan juga, sehingga mereka akhirnya pergi.”
“Kalau mereka menyimpan rasa dendam? Bagaimana?” tanya salah seorang pemuda.
“Makanya kalian harus bekali dirimu dengan ilmu fisik, ilmu beladiri. Olah kanuragan. Dan yang penting kalian semua harus bersatu. Semuanya harus yakin bahwa orang satu padukuhan akan menang menghadapi tiga orang pengacau.”
“Naaaaahhhh itulah Mas, makanya kami ke sini , salah satu tujuannya adalah ingin meminta tolong Mas Fauzi untuk melatih kami.” Kata Suroyo si ketua pemuda dengan antusias.
“Melatih apa?”
“Ya melatih berkelahi…. itu apa? Karate?”
“Oooo melatih beladiri? Tapi aku tidak bisa karate.”
“Lha tadi malam itu apa?”
“Kebetulan aku hanya bisa sedikit ilmu silat. Aku di belajar di sekolah Muhammadiyah, di sana kebetulan ada organisasi otonomi yang disebut Tapak Suci. Ya, Tapak Suci Muhammadiyah. Itu perguruan silatnya Muhammadiyah.”
“Oooo silat?”
“Iya, guruku seorang ustadz pemilik sebuah pondok pesantren. Namanya Ustadz Jamal, Usadz Jamaluddin.”
“Terus senjata rante itu?”
“Itu namanya ruyung. Sebetulnya ruyung itu nama pohon pinang. Tapi terus salah kaprah, semua senjata rante semacam itu disebutnya ruyung, biarpun kayunya bukan ruyung. Kayu mahoni misalnya, atau kayu nangka. Namanya tetap saja ruyung. Kalian dapat membuatnya sendiri. Dari kayu apa saja, asal yang keras, bagian tengahnya yang sudah tua itu.”
Galihnya?”
“Ya, benar , galihnya .”
“Apa di perkumpulan silat diajari main senjata ruyung ? “
“Tidak. Ruyung itu sepertinya senjata yang berasal dari negri China. Aku suka menonton film Bruce Lee, yang mahir memainkan ruyung. Sebetulnya aku tidak suka membawa senjata, seperti ruyung itu. Hanya saja, teman-teman harus tahu, aku adalah seorang anggota perkumpulan pecinta alam. Kami para anggota sering melakukan kegiatan yang bersifat peduli kelestarian alam dan petualangan. Bisanya kami berbekal dengan senjata untuk berjaga-jaga atau membela diri.  Kami kadang melakukan hiking relly, adu cepat menyusuri alam sambil menikmati keindahan alam. Kadang kami melakukan kemah himbau, biasanya kami lakukan di bekas galian C yang sudah rusak parah oleh eksploitasi atau penyedotan potensi alam, bahkan kadang juga kami berkemah di dekat galian C yang masih aktif, kami menghimbau para pengusaha untuk merenovasi lahan yang rusak. Kadang kami melakukan kemah bakti semacam melakukan reboisasi atau penanaman pada lahan atau hutan gundul. Kami pernah melakukannya di gunung Tumiyang, Banyumas. Teman-teman tahu, yang paling sering kami lakukan adalah melakukan pendakian gunung. Dulu kami berlatih mendaki pegunungan atau bukit, banyak sudah bukit yang kami daki. Igir Kucing. Pegunungan Plana di Purbalingga bagian utara, Pegunungan Serayu. Nah setelah kami terlatih, barulah kami mendaki gunung yang sebenarnya.”
“Gunung apa saja yang pernah didaki?”
“Belum banyak sih, Gunung ini, gunung Sumbing. Merapi, Ungaran, Gunung Slamet melalui plawangan Bambangan. Bahkan ada satu gunung di Jawa Barat yang pernah kami daki. Gunung Ciremay, di perbatasan kabupaten Kuningan dan Majalengka. Nah ketika mendaki gunung atau petualangan lainnya itulah, aku selalu membawa ruyung. Untuk jaga-jaga kalau-kalau ada serangan binatang buas. Sebab binatang itu kan tidak punya otak, ia bisa menyerang membabi buta. Anjing hutan, srigala, macan kumbang … ngg mungkin juga ular.”
“Kalau orang buas?”
“Kok orang buas?”
“Lha itu si Koyot dan temannya?”
“Oooo… itu sih bukan buas. Mereka hanyalah manusia yang tidak punya pekerjaan dan butuh makan. Mudah-mudahan kalaupun mereka memeras atau merampok , adalah untuk menghidupi keluarganya sementara. Kan uang atau hasil penjualan barang haram haram juga, jadi kita doakan mudah-mudahan itu hanya sementara. Mereka tidak menggunakan hasil kejahatannya untuk mabok, minum atau sejenisnya.”
“Doakan saja biar Koyot modar sekalian!”
“Hus, jangan. Kita mengucapkan sesuatu doa kan energinya sama. Jadi ucapkanlah doa yang baik, nggak usah doa yang jelek. Lebih manfaat untuk kita juga mengirim doa baik kepada orang lain. Oke? Setuju?” kata Fauzi sambil tersenyum.
Para pemuda yang mengerumuninya diam. Mereka tersenyum kecut. Hatinya masih tidak rela untuk mendoakan Koyot dan teman-temannya dengan doa yang baik. Hati mereka masih dongkol.
“Sudalah Mas…. barangkali saat ini kami belum bisa untuk mendoakan Koyot dengan doa yang baik. Mas Fauzi sih bisa, sebab, Mas Fauzi baru kenal Koyot tadi malam. Kami Mas, sudah lama, kami ditindas. Puluhan kali harta kami, harta orang tua-tua kami, uang, ayam, itik, mentog , kambing, pernah juga sapi, atau baju-baju kami mereka rampas. Jadi dalam hati kami sudah tertanam dalam perasaan benci dan dendam. Jadi untuk kali ini, biarkan kami menyukurkan si Koyot tengil itu. Entah untuk nanti-nanti Mas.” kata Suroyo sambil membuang puntung rokok . Fauzi manggut-manggut.
* * *
Mulai hari berikutnya para pemuda Semanding, diikuti para pemuda dari pedukuhan lainnya giat berlatih silat. Lapangan desa Lamuk hampir penuh. Mereka berlatih pada siang hari, sebab pagi hari mereka kebanyakan bekerja di ladang. Sementara itu di pinggir, anak-anak kecil menonton kakak-kakak mereka yang berlatih. Ada beberapa anak kecil yang mencoba meniru-niru jurus silat yang diajarkan Fauzi.
“Mas Royo …. Sini!” kata Fauzi seraya duduk dirumput.
“Apa Mas?” kata Suroyo meninggalkan barisan.

“Belajar silat tidak bisa sehari dua hari. Kalau sebentar lagi aku pergi? Pulang ke rumah? Bagaimana?” Fauzi bertanya pelan. Soroyo tegang. Wajahnya nampak kecewa.***
(Bersambung)

Jumat, 09 Oktober 2015

Terbaru 2020 -

Blog Pendidikan


5. SIAP MENGUBAH SEMANDING

P
adukuhan Semanding termasuk ke dalam wilayah desa Lamuk. Padukuhan itu merupakan satu dari lima padukuhan yang ada. Ada padukuhan Pengempon, Pencil, Genting , Wonolobo, Ketasobo , Semanding , dan Lamuk yang sekaligus menjadi nama desanya . Desa Lamuk termasuk dalam kelompok desa tertinggi di wilayah barang lereng gunung Sumbing. Desa ini termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Kalikajar , Kabupaten Wonosobo.

Wilayah ini berada di lereng gunung Sumbing bagian Barat . Hampir memutar seratus delapan puluh derajat dari tempat pendakian di Parakan, sebelah timur gunung Sumbing. Daerah yang berketinggian sekitar 1,5 kilomteter DPL (Di atas Permukaan Laut) , setiap harinya udara terasa dingin menusuk tulang. Air yang berasal dari mata air lereng gunung terasa seperti es. Dari pagi hari, desa Lamuk selalu tertutup kabut tebal. Pandangan paling-paling sekitar dua puluh meter ke depan. Selebihnya gelap terhalang kabut putih. Menjelang tengah hari, matahari mulai nampak bersinar . Umumnya hanya beberapa jam saja matahari menyinari bumi, memasuki sekitar jam dua siang, kabut mulai turun kembali. Terus sampai sore hingga malam.

Sebagian warga di situ merupakan buruh penggarap ladang tembakau, kentang, atau klembak, atau beberapa tanaman khas dataran tinggi. Sebagian kecil menjadi juragan. Pemilik ladang, biasanya telah menjual tanamannya secara ijon kepada tengkulak bangsa Tiong Hoa . Sementara itu tanaman jagung merupakan tanaman yang nampak dominan pula. Tak ada padi. Itulah mengapa hampir tujuh puluh lima persen penduduk desa makanan pokoknya nasi jagung. 
Suasana di desa tersebut benar-benar masih alami. Ketika menjelang tengah hari, burung-burung liar bernyanyi tak henti-henti. Di jalan yang belum beraspal sering ayam hutan melintas, meninggalkan kokoknya yang khas sambil berlari menyusup cepat di antara batang-batang jagung atau tanaman ladang lainnya.
Dua hari sudah Fauzi berada di padukuhan Semanding. Hampir seluruh warga telah menyempatkan diri menengok orang tersesat
tersebut. Mereka silih berganti menjenguk, menanyakan hal-hal yang biasa hingga yang menanyakan ramalan nasib. Fauzi hanya tersenyum ketika ada yang bertanya tentang nasib. Ia sendiri sedang berkutat dengan nasib musibah. Tetapi semua dijawab Fauzi dengan baik. Fauzi maklum, tingkat pendidikan yang sangat rendah di desa tersebut tentu memberikan cerminan atas tingkah laku dan tata ucap dan pikir warga desa tersebut.
Hari itu Fauzi mandi satu kali . Seperti hari kemarin, Fauzi hanya mandi tengah hari. Waktu pagi dan sore, air terasa seperti es.  Ia sama sekali tak berani mengguyur badannya dengan air serasa es. Siang itu Fauzi seusai mandi , duduk-duduk di depan rumah Pak Rumat, lelaki yang menolongnya. Di sekitarnya banyak sekali anak-anak kecil usia SD yang mengerumuninya. Baju mereka kumal-kumal. Rambut dan wajah mereka kotor. Sebagian dari mereka giginya kuning, bahkan ada yang coklat. Beberapa anak laki-laki nampak menikmati sedotan asap rokoknya . Kemarin hampir Fauzi tidak percaya, tetapi ketika Pak Rumat mengatakan merokok bagi anak kecil di Semanding , atau di Lamuk khususnya hal biasa. Tak ada yang aneh.
Di kerumunan anak-anak itu Fauzi mendapat panggilan nama baru yaitu Mas Medi. Medi artinya hantu. Ia tidak marah dengan nama barunya itu.  Anak-anak itu hanya meneruskan celutukan orang ketika ia baru ditemukan. Memang semula ia disangka hantu.
Mas medi umahe neng ngendi?
“Rumahku? Jauh! Nanti kalau aku sudah sehat, kalian akan aku ajak menengok rumahku. Mau apa tidak?”
“Mauuuuuuu…!”
“Naik apa?”
“Naik colt gunduuuuullll!”
“Campur lemi ya?” Tanya Fauzi. Lemi adalah pupuk kompos yang terbuat dari kotoran sapi atau kambing yang sudah diolah bercampur tanah. Pupuk ini digunakan para petani untuk tanaman tembakau, kentang dan klembak ( umbi untuk campuran ramuan rokok ).
Iya, campur lemi Sumar kon mambu! Kon tambah mambu! Hahaaa!”
“Sudah .. sudah… tidak boleh saling ejek, tidak baik. Sesama teman harus saling puji, saling bantu. Ya nggak? Sekarang Mas Medi mau meminta kalian berubah tempat duduk Mau apa tidak?”
“Mauuuuuu!” Jawab mereka serempak. Fauzi tertawa.
“Ya bagus, nah ini, ini, sini yang sekarang sedang merokok maju ke depan. Uuuuh ada berapa yang merokok nih! Sini maju sini….”
Anak-anak kecil itu saling dorong. Hingga ada yang terjerembab. Yang lain bersorak melihat temannya terjerembab. Fauzi sibuk mengatur. Kini anak-anak yang memegang rokok tradisional itu berjajar di depan. Mereka cengar-cengir dan masih saling dorong. Fauzi tersenyum melihat tingkah polah mereka.
“Waaaahh… hebat nih, ada berapa yang merokok ya? Satu , dua ,….. engg… wuah ada delapan! Banyak sekali. Yang tidak merokok hanya….berapa? Lima!”
“Saya mau tanya ke yang suka merokok ! Kalian merokok, dilarang oleh bapak ibu kalian apa tidak?”
“Tidaaaaaak!”
“Kenapa tidak dilarang?”
“Kenapa ya? “ mereka saling pandang, cekikikan , dan masih saja saling dorong. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan Fauzi. Fauzi memandang berkeliling.
“Nah coba yang pakai kupluk! Siapa ini?”
“Imbuh Mas!”
“Ya, Imbuh , kamu merokok itu supaya apa?”
“Nggg… supaya badan hangat! Kan udara di sini sangat dingin.”
“Oooo ya, ya… tapi coba dipikir, kalau merokok, asapnya ke mana?”
Cangkeeeeeem!”
“Iyah, cangkem atau mulut. Nah kalau begitu yang hangat apanya?”
“Mulutnya!” Mereka reflek menjawab. Fauzi tertawa terbahak-bahak.
“Naaaah benar! Yang hangat mulutnya. Hahaaaa! Ternyata pinter kalian ya, merokok itu bukan menghangatkan badan, tetapi menghangatkan mulut! Badan kita tetap kedinginan.”
“Tapi badanku hangat!” sergah Imbuh.
“Itu karena kamu pakai ja……?”
“Keeeeeet!” Mereka menjawab serempak.
“Nah badan kita hangat karena pakai jaket, switer, atau baju tebal, atau baju rangkap. Ngerti?”
“Ngertiiiiii!” mereka menjawab bersama-sama dengan gembira.
“Sekarang lihat ke sini ….. kalian lihat gigiku nih… hiiiiiiiii !” Fauzi meringis memperlihatkan seluruh giginya. Anak-anak itu tertawa terpingkal-pingkal , ketika Fauzi meringis sambil menjulingkan mata.
Kaya medi kebon!
“Hahahaha! Memang aku tadi mirip hantu ya? Tetapi hantu yang cakep, yang ganteng . Lihat gigiku , giginya ….lihat nih …hiiiii….. putiiiih… bersih … rapi. Nah lihat dalamnya, ….nggahh…. ingi hihat! Hihinya hak aha hang holong! ” Fauzi berbicara sambil menganga, menunjukkan giginya yang bersih, rapi dan sehat. Giginya masih utuh. Gerahamnya masih lengkap.
“Nggak ada yang bolong kan?”
“Iyaaaaa…..”
“Putih bersih kan?”
“Iyaaaaa……. !”
“Itu karena Mas Medi tidak merokok! Jadi giginya nggak kena asap, nggak kuning… apalagi coklat kaya jagung gosong!” kata Fauzi sambil tertawa.
Mendengar kata-kata Fauzi, anak-anak yang memegang rokok menyembunyikan rokoknya di belakang punggung. Itu memang yang ia inginkan. Bahkan beberapa anak yang giginya merasa kuning atau bahkan coklat langsung menutup mulutnya dengan tangan. Melihat itu Fauzi terbahak-bahak.
“Coba yang giginya bersih … menghadap teman-temannya! Kemudian meringis! Yang giginya kuning atau coklat, mingkem! Jangan buka mulut! Malu!” mendengar kata-kata Fauzi sontak mereka yang merasa giginya kuning dan kotor semakin mengatubkan bibir. Mereka terus sambil bercanda, tangan-tangan yang sedang menutup mulut ada yang menyenggol. Yang disenggol membalas. Akhirnya mereka terbahak-bahak.
“Tertawa keras boleh! Tapi jangan kelihatan giginya! Malu!” Fauzi benar-benar membuat mereka kalang kabut. Dari sekian banyak anak yang mengeruminuya hanya ada dua orang yang giginya nampak bersih. Keduanya anak perempuan.
“Ini yang giginya putih maju sini …. namanya siapa?”
“Saya Lasi ! Lasiyah!”
“Saya Midah!”
“Bagaimana cara kamu merawat gigimu?”
“Sikat gigi. Kadang sehari sekali, kadang dua kali. Kalau bapak punya odol ya sikatan, kalau tidak ya libur!”
“Hahaaaa libur ! Kaya sekolah saja!” teriak anak laki-laki yang giginya coklat.
“Mending libur sesekali tidak sikat gigi, daripada tidak pernah sikat gigi, kaya tidak sekolah! Ya kan, tidak sekolah berarti kan libur terus hahaaa! Makanya giginya coklat !” ternyata anak perempuan bernama Lasiyah berani menimpali ejekan anak laki-laki. Yang mendengar kembali tertawa terbahak-bahak.
“Awas kau!” Kata anak laki-laki tadi seraya mengacungkan kepalan tangannya.
“Sudah! Sudaaahhh… tidak boleh saling musuhan, apalagi dengan anak perempuan. Semua anak Semanding harus bersahabat. Ya! Nanti kamu juga punya gigi yang putih dan sehat, kalau kau tidak merokok lagi dan rajin sikat gigi. Mau?” tanya Fauzi kepad anak yang giginya coklat.
“Mau.”
“Naaah begitu …. Nanti, kalau belum punya sikat gigi, besok-besok Mas Medi akan beri kalian hadiah sikat gigi! Mau?”
“Mauuuuuuuu!” jawab mereka serempak kemudian berjingkrak-jingkrak.
Hari itu Fauzi berhasil meyakinkan anak-anak Semanding. Mereka berjanji untuk menjaga kebersihan gigi, dan mencoba untuk tidak merokok lagi. Fauzi sangat bahagia melihat mereka begitu antusias bermain dengannya. Yang penting lagi ada sebuah kemauan awal yang cukup penting, yakini untuk rajin menggosok gigi.
* * *
Malam harinya Fauzi diajak Pak Sipon berkunjung ke rumah Pak Mahmud . Jaket tebal yang ia kenakan mampu mengurangi terpaan hawa dingin. Namun hidungnya tak bisa diajak kompromi. Kedua hidung Fauzi terasa tersumbat. Beruntung di rumah kepala padukuhan tersedia minuman panas.
“Saya dengar dari Pak Sipon , katanya Nak Fauzi tidak mau pulang. Benarkah?”
“Oh… bukan begitu. Maksudnya belum mau pulang sekarang-sekarang ini.”
“Orang tuamu sangat bingung lho Nak.”
“Insya Alloh tidak. Ibu saya sangat penyabar, saya mengerti watak ibu saya ketika menghadapi masalah-masalah besar. Jadi, yang jelas justru saya minta ijin kepada Bapak untuk ikut numpang di Semanding ini hingga beberapa hari. Bahkan mungkin satu bulan.”
“Waaah…. tentu saja boleh. Sukur kalau Nak Fauzi mau bergabung, sukur-sukur memberi motivasi mereka atau memberikan ketrampilan yang Nak Fauzi punyai…”
“Aduhhh jadi malu saya Pak, saya tidak punya ketrampilan apa-apa.”
“Biasa… orang berilmu, berpengetahuan selalu merendah……”
“Saya hanya anak SMA pak.”
“Di sini sulit mencari anak SMA. Kalaupun ada, itu hanya SMA-SMA-an. Pamit berangkat , di jalan main, sore pulang. Rapornya jelek. Makanya desa ini sulit maju, karena anak-anaknya malas-malas.”
“Bukannya malas Pak, tapi barangkali belum diberi kesadaran. Coba, jika kesadaran sudah tumbuh, Insya Allah mereka akan belajar dengana benar , juga penuh semangat….. “
“Haha! Maaf nih Nak Fauzi, ada satu lagi yang terlupakan! Anak di sini, kadang ada yang terlihat semangat belajarnya tinggi, tetapi ketika akan melanjutkan sekolah, wuaaah ya itu, tak ada biaya. Nak Fauzi tahu sendiri kan, lihat saja, masyarakat sini sebagian buruh ladang. Berapa penghasilan mereka? Paling-paling hanya cukup untuk makan. Jadi…… ya….. yaa….. hahahaaaa! Itulah!”
Fauzi tersenyum kecut. Jika pembicaraan sudah sampai kepada masalah uang, biasanya lebih banyak orang yang angkat tangan. Termasuk ia sendiri menyadari keadaan ibunya yang hanya seorang pedagang kain di pasar. Hasilnya tidak seberapa. Tetapi karena selalu bersyukur, barangkali itulah yang menyebabkan Fauzi selalu yakin bahwa ibunya akan selalu dapat memenuhi semua kebutuhannya. Memang tiap bulan selalu mendapat kiriman dari ayahnya. Tetapi uang kiriman itu lebih sering untuk ditabung. Memang kadang-kadang pada suatu kali benar-benar terpepet ibunya tidak punya uang, maka kiriman dari ayahnya ia pergunakan.
Fauzi memang berhitung kepada kemungkinan yang terburuk. Seandainya ayahnya menikah lagi, tentu ia tak akan mendapat kiriman lagi. Oleh karena itu untuk persiapan melanjutkan kuliah, ia rajin menabung. Tabungannya kini hampir lima jutaan. Kalaulah uang tidak mencukupi biaya kuliah di kota besar seperti Semarang, Solo atau Jogja , ia tetap akan berusaha masuk perguruan tinggi walaupun tidak jauh. Di Purwokerto ada Unsoed, ada Unwiku , IKIP Muhammadiyah , dan sebagainya.
Pak Dukuuuuuh! Pak Dukuh!
Tiba-tiba dari luar terdengar suara teriakan. Semua yang hadir kaget. Pak Mahmud berlari ke luar diikuti yang lain. Pemuda bernama Jaman masuk.
“Ada apa Man?”
“Para pemuda itu datang lagi, mereka sepertinya mau ke rumah Pak Rukyat. Kasihan, jangan-jangan kambing satu-satunya bakal dimintanya…”
“Aduuuhh… yang lain ke mana?”
“Tidak tahu Pak. Mungkin takut.”
“Mereka itu siapa Pak?” tanya Fauzi sambil berbisik kepada Pak Sipon.
“Tidak tahu pemuda dari mana, tapi kalau malam kadang-kadang mereka datang membuat kekacauan, membuat warga seperti tercekam . Warga memilih diam . Benar seperti apa kata si Jaman tadi… warga pilih aman. Misalnya daripada nyawa melayang, lebih baik menyerahkan ayam, entog atau bahkan kambing mereka. Mereka biasanya mengancam secara satu persatu di tempat lain, di pasar Kretek atau mana saja yang sering dikunjungi orang-orang Lamuk, khusunya orang Semanding.” terang Pak Sipon..
“Kalau begitu mereka itu rampok?”
“Yaaa…. Rampok atau apa namanya? Pemerasan, mungkin. Yang jelas mereka pengacau . Inilah susahnya, banyak warga tak ada yang berani melawan.”
“Mereka berapa orang Pak?”
“Jaman, mereka berapa orang?” Pak Rumat bertanya kepada Jaman.
“Ngg…. tiga.”
“Tiga ? Mereka harus dilawan Pak, mereka harus tahu kalau kita tidak tunduk kepada mereka.” kata Fauzi mantap.
“Kita tidak berani Nak.”
“Kalau hanya tiga, saya berani. Kalau lebih dari tiga , mungkin saya harus pikir-pikir dulu….”
“Kau mau melawan tiga orang?” Pak Sipon melotot tak percaya ucapan Fauzi.
“Mereka harus diberi pelajaran, kita harus melawan. Aku kan tidak sendirian kan ? Bapak-bapak dan pemuda harus bantu aku . Kalau tidak, selamanya akan ditekan dan diperas.”
“Tapi…”
“Sudahlah Pak, kita berdoa sambil mempersiapkan diri.”
“Barangkali mereka bersenjata.”
“Tidak apa-apa. Kita coba saja …. Saya minta bantuan warga semuanya. Semua keluar membawa senter. Nanti mereka kita kepung dan seluruh senter arahkan kepadanya, atau sekitarnya. Cepat Pak!” Kata Fauzi. Mereka yang orang tua justru masih ragu dan bingung harus berbuat apa. Tetapi demi melihat Fauzi menggamit tangan Jaman untuk ditunjukkan tempat perusuh datang, yang lainpun segera menuruti perintah Fauzi.
Fauzi meremas-remas jari tanggannya. Beberapa kali lengan dan dan kakinya digerakkan khusus untuk pemanasan. Tangan Fauzi meraba sesuatu dari balik jaketnya. Ia selalu membawa ruyung (double-stick), setiap kali pendakian. Benda itu dibuatnya sendiri  dari pucang tua – batang pinang - , dibuat gilig berjari-jari segenggaman dirinya. Panjangnya masing-masing 25 cm, dan dibuat sepasang. Kedua kayu keras itu divernis dengan dasar clearmengkilat sehingga gurat-gurat ototbatang pinang itu nampak. Keduanya  dihubungkan dengan rantai baja sepanjang 35 cm. Biasanya ia membawa benda itu untuk berjaga-jaga terhadap serangan binatang buas ketiga mendaki gunung atau berpetualang lainnya.
“Ustadz Jamal …. izinkanlah kalau saat ini Uzi terpaksa berkelahi untuk membantu warga desa ini …….Bismillah…….” Fauzi bergumam. Bibirnya bergerak-gerak.
Dari belakang nampak kerlap-kerlip lampu senter. Rupanya warga benar-benar datang untuk membantu dirinya. Fauzi bersyukur.
“Itu orangnya !” Kata Jaman sambil menunjuk ke sebuah arah. Arah itu merupakan kandang kambing milik Pak Rukyat. Laki-laki tua yang tinggal sendirian. Benar mereka terdiri dari tiga orang.
“Hai! Jangan teruskan!” Fauzi terteriak. Ia melompat mendahului orang-orang.
Ketiga orang itu terhenyak kaget. Baru kali ini aksi mereka mendapat larangan. Salah seorang dari mereka – mungkin ketuanya – maju mendekati Fauzi.
Warga padukuhan menahan nafas. Jantung mereka berdetak keras. Apalagi ketika melihat Fauzi berjalan menyongsong. ***
(Bersambung)