Senin, 18 Mei 2015

Terbaru 2020 - Edukasi - Tokoh : GURU TERSABAR DI DUNIA

Blog Pendidikan

Kelas IV B - SD Bobotsari 3 - Tahun 1975
yang dilingkari: Aku

Tahun 1976.
Saya bersekolah di SD Bobotsari III, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Di tahun 1976 saya duduk di kelas V, guru kelas saya adalah Ibu Suparti (tetapi bukan yang ada dalam foto di atas). Ibu Suparti inilah tokoh legendaris bagi saya yang akan saya ungkap kisahnya.
Di tahun itu SD saya cukup memprihatinkan. Sekolah yang dikelilingi sawah di bagian belakangnya, dindingnya dari bilik (lihat gambar di belakang kanan kami). Bolong di sana-sini. Jika sedang pembelajaran, kami (eh saya) suka iseng mengintip ke luar, karena tempat duduk saya memang dekat dengan dinding yang bolong-bolong. Apa yang diintip? Biasanya siapa saja yang lewat di belakang kelas saya, karena di situlah jalan orang-orang yang mau ke
sawah, mau mencuci di kali dan sebagainya. Saya penasaran karena mereka yang lewat kadang ngobrolnya sangat keras hingga masuk ke kelas kami.Kadang-kadang Ibu Suparti mengingatkan, tetapi kadang tidak karena beliau lebih fokus ke pelajaran yang diberikan.
Tahun 1976 merupakan awal-awal mulai maraknya hama wereng. Hama yang cukup merepotkan para petani itu mendapat perhatian khusus untuk ditanggulangi. Di samping disemprot dengan semprotan gendong, yang paling ditunggu-tunggu rakyat adalah program yang akan menyemprotkan obat serangga wereng dengan menggunakan pesawat kecil.
Suatu hari Ibu Suparti sedang memberikan pelajaran. Tiba-tiba seluruh murid mendengarkan dengan seksama sebuah suara asing yang datang dari luar. Suara menderu-deru. Saya yang duduk di pinggir, dan beberapa teman yang juga di pinggir langsung mengintip ke luar melalui dinding yang bolong. Deru suara itu semakin nyata.
“Montor mabur!”
Tiba-tiba teman saya yang mengintip berteriak keras. Montor mabur dalam bahasa Jawa artinya pesawat terbang. Bayangkan saja, di tahun 1976 bagaimana kondisi angkutan. Satu kecamatan yang punya motor mungkin hanya satu atau dua orang. Yang punya televisi (hitam putih) juga baru satu dua. Biasanya ada TV umum di halaman kantor kecamatan yang tiap malam selalu penuh untuk menonton siaran TVRI.Pesawat terbang adalah sesuatu yang sangat aneh dan langka. Apalagi ini terbang rendah di atas area persawahan di sebelah selatan dan barat sekolah kami. Ya itu tadi, menyemprot area persawahan penduduk dengan obat hama wereng.
Sontak teriakan montor mabur membuat teman-teman lain tersentak. Kelas menjadi riuh. Siswa sebanyak yang ada dalam foto (17 anak) di atas langsung berhamburan ke luar. Teman-teman tidak peduli pada posisi Ibu Suparti yang meja dan kursinya dekat dengan pintu keluar. Akhirnya kursi Ibu Suparti terlanggar oleh kami yang berebutan keluar karena hendak menonton montor mabur. Sang Ibu guru terjatuh bersamaan dengan kursinya.
Akhirnya kami tanpa ijin berlarian ke arah belakang sekolah ,dan disusul oleh anak-anak kelas lain yang juga berlarian ke arah yang sama untuk melihat montor mabur .
Sekitar dua puluh menit, peswat terbang menjauh, hingga akhirnya hilang dari pandangan. Kami dengan puas kembali ke kelas. Kami masuk satu persatu, tanpa sedikitpun berfikir tentang apa yang baru saja kami lakukan. Kami kembali duduk di bangku masing-masing.
Bebera jenak kami duduk, beliau melihat kami berkeliling. Kami sama sekali tidak merasa bersalah.
“Anak-anak …. Kalian sudah puas melihat pesawat terbang?” Tanya beliau sambil duduk.
“Ya Buuu…..”
“Kalau begitu, mari kita lanjutkan pelajaran kita yang tadi ……. “
“Baik Buuu…..”
Akhirnya pelajaran kembali berjalan, tanpa Ibu Suparti mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi.
Kesabaran Sejati Seorang Guru
Hampir tak pernah saya bayangkan, di dunia pendidikan ada guru sesabar Ibu Suparti. Kita bisa membayangkan, seorang guru yang dilanggar murid-muridnya, kemudian jatuh bersama kursinya. Ketika murid-murid berada di luar kelas menonton pesawat terbang, mungkin yang dilakukan oleh Ibu Suparti adalah menyeringai menahan sakit, tertatih bangkit dari jatuhnya, mengembalikan kursi, menata nafas, beristighfar, menarik nafas dalam, membayangkan kami adalah makhluk-makhluk yang belum punya pikiran, kemudian memaafkan.
Kata maaf sama sekali tak terucap, karena memang dari kami tak ada permintaan maaf. Karena waktu itu kami juga merasa tidak berbuat salah (bodohnya kami!). Bagi Ibu Suparti itu bukan masalah. Pikiran beliau sangat jernih, hatinya bening. Justru kami (atau mungkin saya) yang mempunyai keterlambatan untuk sadar meminta maaf. Setelah kejadian itupun kami tak pernah membahasnya (dasar anak-anak).
Sebuah Cermin Hakiki
Dalam ketuaan usia saya sekarang ini (dan kebetulan saya juga guru seperti beliau) saya selalu menceritakan kisah Ibu Suparti di semua kelas yang saya ampu. Selepas SD, kemudian SMP, SMA atau di perguruan tinggi, tak pernah saya temui lagi guru sesabar beliau. Ibu Suparti bagi saya adalah guru nomor satu, guru paling sabar di seluruh dunia. Sebuah cermin hakiki, beginilah seharusnya kesabaran seorang guru.
Jazakumullah Ibu Suparti, telah 35 tahun saya meninggalkan desa Bobotsari. Hanya beberapa kali sempat lewat di desa itu, dan sesekali itu pula saya menegok ke arah bekas SD saya (sekolah SD-ku sudah dipindah sejauh sekitar 3 km ke utara dekat SMP-ku ; curhat). Tak ada lagi jejak. Hanya ada catatan di dalam ingatan, bahwa dulu di  SD tempatku belajar, telah menemukan orang sesabar Ibu. ***
Jawa Barat 2015
Catatan kecil:
Jika ada sahabat-sahabat saya yang ada dalam foto membaca tulisan ini, atau ada yang membaca tulisan ini, kemudian kenal.
Depan dari kiri-kanan: Ibu Fatimah , Didik Sedyadi, Aris Winarto, Liswoyo, Untung Subarto, Didin Fajar, Suyitno.
Tengah kiri-kanan: Suwatno, Kusyono, Kuswato.
Belakang kiri-kanan : Suyatmi, Go Lan Hiok, Rutiyati, Kwok Mio Yen, Wihamdiah, Sri Pamuji Wahyuningsih ,
Sri Endang Suhartati,Yang Yang.

Catatan lain: Tidak memiliki foto bersama dengan Ibu Suparti. itu hanya menunjukkan bahwa aku pernah SD.




Ibu Suparti yang paling tengah (memakai kebaya)
Foto: Koleksi Wasis Pratjojo (keponakan beliau)

Ini nitip sisan foto-foto guru SD Negeri 3 Bobostasi (1977)


*************************
*************















Minggu, 17 Mei 2015

Terbaru 2020 - Cerpen: ADA TAKTIK DI JANTUNG KUBAH

Blog Pendidikan


Kyai Salam meletakkan rumput dan singkong yang dibawanya. Matanya heran melihat ada sedan di dekat masjidnya. Keheranan Kyai Salam bertambah ketika dari dalam sedan keluar seorang lelaki gendut berpakaian necis tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Kyai lupa sama saya ?” Tanya lelaki itu seraya menggengggam tangan Kyai Salam.
“Aaah… anak ini siapa ya ?” Tanya kyai Salam mengernyitkan dahinya.
“Jawahir ! Anak Pak Damri …. “
“Oooo Jawahir ? Ya Alloooh… tak kusangka. Aku begitu pangling …. Bagaimana kabar bapakmu ? Pak Damri ?”
“Bapak sudah lama meninggal , paling tinggal bapak mertua .”
“Ooo… innalillahi wa inna ilaihi roojiuun…“
Siang itu Kyai Salam mendapatkan tamu dari kota . Tak ada dalam benak Kyai Salam, Jawahir seperti sekarang ini. Dulu, Jawahir paling bandel di antara anak-anak lain. Jika mengaji ke masjid , sukanya bergurau. Kadang mengganggu anak-anak perempuan yang sedang shalat. Otaknya bebal, menghafalkan suratan pendek saja sangat sulit, apalagi yang panjang-panjang. Sering penggaris kayu Kyai salam mendarat di pantat anak bengal itu. Tetapi kini jauh berbeda .
Sekarang ada perasaan jeri di hati Kyai Salam. Melihat sedan mulus warna coklat susu metalik hatinya merasa kecil. Apalagi ketika menengok rumah sendiri yang berlantai plur biasa, di bagian bawah temboknya penuh lumut. Demikian pula masjid miliknya, masjid satu-satunya di kampung Sidotentrem, tak jauh beda dengan rumah Kyai Salam. Temboknya penuh lumut. Dulu ia biasa mendamprat Jawahir, tetapi sekarang untuk menatap mata bekas muridnya itu rasanya tak sanggup.
“Kau sekarang sudah menjadi orang Hir ! Mobilmu bagus, tentu mahal ya ? Istrimu tentu cantik , rumahmu besar ……” Kata Kya Salam membuka kata terhadap tamunya.
“Ah Kyai bisa saja, semua itu titipan Tuhan. Saya sebenarnya malu Kyai, saya ingat betulbetapa dulu menjadi anak nakal, di masjid ini saya suka mengganggu anak lain yang
beribadah . Saya juga tidak tahu kenapa Tuhan begitu murah memberi saya harta seperti sekarang ini .” Kata Jawahir datar.

Ada semacam dugaan dalam diri Kyai Salam terhadap ucapan Jawahir, entah kesombongan atau apa, yang menyatakan bahwa begitu murah Tuhan memberinya harta. Tentu di dalamnya ada makna : begitu gampangnya mencari harta. Tetapi tentu itu su’udzon , sehingga Kyai ingin menepis rasa itu.
“Hir, kata-katamu sangat bagus, kau sangat menyadari keadaan dirimu. Tentunya selama ini kau sangat menyadari bahwa harta itu harus dicuci bukan? “
“Hahaaa ! Kyai , Kyai…. saya tahu, yang Kyai maksudkan adalah zakat bukan?”
“Nah ! Itu yang sangat penting !”
“Insya Allah Kyai, Insya Allah , harta saya selalu saya cuci dengan cara selalu berzakat, tetapi sebagai manusia biasa saya juga tidak tahu apakah zakat saya sanggup mencuci harta saya sampai bersih benar ? “
“Hir, memang manusia tidak tahu , bersihnya harta dari mudzarat itu sampai di mana. Kita tidak sedang mencuci pakaian yang tampak kotorannya, hanya diri kita sendiri yang tahu benar seberapa kotor harta yang kita miliki.”
Mendengar kata-kata Kyai Salam , Jawahir menggangguk-angguk . Lelaki gendut itu kini melempar pandangan ke luar ke arah masjid yang kini nampak semakin kumuh. Temboknya penuh lumut seperti bangunan yang tak terpakai. Air wudlu dari sumur dengan timba katrol, WC yang tak terurus menyebarkan bau tidak sedap. Genteng juga penuh lumut . Plafon dari bilik yang telah lapuk Kitab-kitab yang ada di dalamnya juga sudah tidak putih lagi. Kitab-kitab yan dulu putih kini telah berwarna kuning tua bahkan coklat dimakan usia.
Jawahir menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu menoleh ke arah Kyai Salam.
“Masjid kita memprihatinkan Kyai…..” Katanya terus terang.
“Kau jangan malu melihat masjid itu sangat jelek Hir , jelek-jelek begitu juga di dalamnya penuh dengan ajaran mulia. Demikian pula, kau tak perlu malu bahwa kau juga pernah belajar di situ hahaha…! “
“Oh tidak…saya tidak malu. Mmmm…. apakah warga kampung tak pernah berniat merenovasi masjid ini Kyai?” Tanya Jawahir tak menghiraukan tawa Kyai Salam.
“Orang kampung ini orang susah Hir, maksudnya susah dalam ekonomi. Kau lihat keadaan kampung ini Hir, semenjak kau pindah bersama orang tuamu itu kampung ini hampir tidak berubah. Mereka tak ambil pusing terhadap apa yang bukan kewajiban pokoknya. Mungkin sebenarnya yang harus memikirkan keadaan masjid ini adalah aku, tapi kau tahu sendirilah…… untuk makan saja bagi saya … hahaa….. cukup singkong . Naahhh ini dia singkong godog itu makanan pokok kami . Kau jangan malu , dan kami tak pernah iri dengan orang-orang kota yang jauh dari singkong…… “
Jawahir ikut tertawa hingga perutnya yang gendut ikut berguncang-guncang. Setelah reda tertawa, laki-laki gendut itu mencoba makan singkong. Berulang kali lelaki itu mengatakan bahwa singkongnya enak. Kyai Salam merasa bangga mendapat pujian itu. Ketika beberapa jenak keduanya ngobrol tak ada ujung pangkal, Jawahir menyatakan maksud kedatangannya.
“Saya ingin menyumbang sesuatu untuk warga kampung kita ini Kyai.”
“Ooo bagus, apa itu ?”
“Saya ingin merenovasi masjid ini. “
“Ooo…..” Kyai Salam terhenyak. Kemudian kepala lelaki tua itu mengangguk-angguk.
“Masjid ini akan saya renovasi , bolehlah disebut renovasi, tapi sebenarnya lebih tepat dipugar total.”
“Pugar total?”
“Jika masjid ingin bagus dan kokoh, tentu harus dengan pondasi yang kuat, juga harus ada tiang dari rangka beton, jika tidak maka akan membahayakan…. tapi, tapi itupun kalau Kyai Salam mengijinkan.”
“Emmm… bagaimana ya?” Kyai tua itu berfikir keras.
Lima puluh tahun masjid itu berdiri hampir tak pernah berubah. Paling-paling jika bulan Ramadhan ditambah dengan atap tambahan dari terpal untuk menampung jamaah yang umunya bertambah banyak untuk shalat tarowih. Lima puluh taun bagi lelaki tua tentu memberikan banyak kenangan yang bisa dinikmati di masa-masa tuanya. Biarpun masjid itu tua, bahkan terkesan kumuh , namun memberikan ketenteraman baginya. Jika dipugar ? Kyai itu tentu saja merasa sangat terkejut. Artinya harus ada sebuah keputusan untuk menolak atau mengiyakan permintaan Jawahir.
“Kyai keberatan?”
“Oh, tidak, tidak.” Kya Salam tergagap. Lelaki tua itu sendiri tak mengerti mengapa mulutnya harus mengucapka kata-kata itu.
“Terimakasih kalau memang Kyai tidak keberatan. Kyai, masyarakat kampung tentu ingin di lingkungannya ada nuansa yang beda, nuansa modern. Insya Allah masjid ini nanti akan menjadi kebanggan masyarakat kampung kita. Masjid yang megah dengan arsitektur yang mutakir dan pengelolaan yang baik . Dengan begitu pasti akan menarik banyak jamaah karena merasa ana suasana baru….. Islam tidak terkesan kumuh dan terbelakang. Semua akan dimordenisir. Sumur timba, akan diganti dengan jet-pump atau kita pesan pipa khusus ke PDAM , tempat wudlu akan dibuat nyaman. Kita membayar tenaga untuk menjaga kebersihan masjid ini.”
“Membayar ? Siapa yang mau membayar?”
“Saya Kyai, segalanya dari saya . “
“Tentu banyak sekali.”
“Saya sudah siap semuanya Kyai, dari membangun masjid hinga biaya perawatan setiap bulannya. Nanti, pada saat peresmian, saya akan mengundang Bupati untuk meresmikannya !”
“Bupati ? Bupati betulan?”
“Hahaa… Kyai, Kyai…. mana ada bupati bohongan. Biarpun saya orang kota lain kabupaten, saya sanggup mendatangkan bupati ke sini. Kebetulan mertua saya pensiunan pejabat propinsi. Apa sulitnya mendatangkan bupati.”
“Ooo…..”
“Ada satu lagi yang saya minta Kyai….”
“Apa itu ?”
“Nama masjid Hidayatul Mufied harus diganti dengan nama masjid Al Jawahir. Bagaimana ? Tentu ini tepat, sebab sayalah orang yang memugarnya.”
Kyai Salam tak banyak berkata-kata. Akhirnya apa yang dikatakan Jawahirsemuanya disetujui. Benar, Islam tidak boleh terkesan kumuh. Apalagi menurut Jawahir masjid itu akan diresmikan bupati , tentu hal itu akan menjadi bahan perbincangan masyarakat. Gengsi masyarakat pemakai masjid tentu akan terangkat. Perihal penggantian nama, sebenarnya Kyai Salam sedikit keberatan, akan tetapi dari mulutnya tak terlontar sepatah kata untuk amenolak keinginan Jawahir.
Ketika akhirnya Kyai Salam menyatakan ijin kepada Jawahir, laki-laki gendut itu sangat gembira. Ia menjanjikan seminggu lagi akan datang sambil mendrop material dari kota. Ketika hendak berpamitan, Jawahir memberikan amplop kepada Kyai Salam.
“Apa ini ?” Kyai Salam kaget.
“Shodaqoh dari saya selaku bekas murid Kyai, ala kadarnya.”
Kyai Salam tak kuasa menolak pemberian Jawahir. Ia genggam amplop itu hingga Jawahir benar-benar meninggalkan rumahnya. Ketika Jawahir telah hilang dari pandangannya, lelaki tua itu membuka amplop. Matanya terbelalak melihat isi amplop berupa uang ratusan ribu sebanyak sepuluh lembar. Jantung Kyai Salam berdegup keras. Tak pernah dirinya selama ini memegang uang sebesar itu, kini itu bukan khayalan, tapi nyata telapak tangannya menggenggam.
Ketika degupan jantungnya terasa kembali normal, Kyai Salam mengucap syukur , ia yakin bahwa Allah memberi rizki melalui Jawahir. Kyai tua itu merasa sangat bersyukur ketika ingat ia sangat memimpikan sebuah kain sarung corak bugis di toko Hikmah , baju takwa Al Najim dan sebuah peci Haji Iming . Lebaran yang baru lewat , anak-anaknya tidak membelikan apa-apa, karena ekonominya sedang morat-marit.
Selang seminggu material yang dijanjikan Jawahir benar-benar datang. Banyak orang kampung yang diajak bekerja untuk memugar masjid , tentu bukan dengan cuma-cuma. Mereka membutuhkan upah . Dan Jawahirpun memang mengupahnya. Ia tahu jaman sekarang untuk membangun tempat ibadahpun tak ada kata-kata gotong royong sukarela. Semua harus dengan uang.
Lima bulan kurang sedikit kini telah berdiri masjid baru yang sangat anggun. Seluruh lantainya dari keramik kelas satu. Kaca-kaca jendela dihias dengan lukisan ornamen gaya persia. Kusen-kusen jendela dan pintu semuanya terbuat dari kayu jati tua. Seperangkat sound system baru menambah bagus penampilan pada interior dalamnya. Daya listrik 1300 Watt telah terpasang. Tower penampungan air dari pompa pada sumur telah berdiri. Di sebelah kiri masjid telah dibangun pula ruang sekretariat yang menyambung dengan rumah Kyai Salam yang telah telah direnovasi bagian depannya. Tentu yang merenovasi juga Jawahir. Sementara itu di puncak atap yang menjulang, ada sebuah kubah yang kokoh dengan warna perak . Di puncak kubah terdapat lampu hias dengan model tulisan ï·² .

Ada perasaan bangga dalam diri Kyai Salam ketika mata tuanya menatap kubah yang kokoh itu. Tetapi ia sendiri merasa sangat asing. Ia merasakan kini berdiri bukan di hadapan masjidnya sendiri. Dulu ada nama Hidayatul Mufied, tetapi kini nama itu telah lenyap. Ada suatu ketentraman yang pernah ia miliki dengan nama itu, tetapi kini tak ada lagi. Yang ada kini adalah Al Jawahir, sebuah nama asing yang kini menjadi kenyataan di hadapannya. Tetapi ia tak berlama-lama memikirkan hal itu . Lelaki tua itu kini membayangkan betapa nanti ia menjadi imam masjid yang megah. Tentu membaca suratan atau ayat-ayat lain akan lebih terasa khusyu, sebab lelaki tua itupun merasakan bahwa tempat yang bagus harus pula dihiasi dengan suara yang bagus. Kyai itu telah membulatkan tekad untuk memaksimalkan kualitas bacaanya.
Sesekali pikiran lelaki itu menerawang jauh, seandainya saja masjid yang seperti itu ia miliki sejak dulu, alangkah bahagianya. Tetapi ketika ia ingat bahwa usianya telah mendekati udzur , iapun masih tetap mensyukuri bahwa masjid itu kini telah menjadi bagus. Berarti tak ada peninggalan kumuh yang akan jadi bahan omongan warga kampung ketika kelak dirinya mati.
Seminggu setelah semua kegiatan pemberesan selesai, masjid itu akan diresmikan oleh Bupati . Kyai itu merasa benar-benar itu seperti mimpi : seorang bupati akan singgah di kampungnya, di masjidnya. Sementara itu Jawahir sendiri mengatakan bahwa peresmian itu akan dihadiri pula oleh mertuanya, seorang pensiunan pejabat di kota .
Ketika acara peresmian itu benar-benar dilaksanakan , ada perasaan kebanggaan yang luar biasa dalam diri Kyai Salam. Panggung dibuat seindah mungkin. Grup qasidah Sadarul Kalam didatangkan dari kota. Penerima tamunya juga didatangkan dari sahabat-sahabat Jawahir. Orang-orang kampung, ibu-ibu dan para gadisnya hanya kebagian tugas di belakang. Menjadi pencuci piring atau apa saja yang pantas untuk orang kampung.
Pejabat-pejabat kabupaten seperti Sekda, Asda , Kabag atau kepala-kepala instansi datang menyertai rombongan bupati. Lelaki tua itu kini mengenakan sarung , baju takwa dan kopiah baru . Tetapi sebagai warga kampung yang kecil, ia tetap saja merasa sangat kecil di hadapan para pejabat tersebut. Tak seorangpun yang dikenalnya, dan tak seorangpun mengenalnya.
Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh ibu bupati, dilanjutkan dengan pembukaan pintu oleh bapak bupati. Ketika sirine meraung-raung tanda diresmikannya masjid tersebut, masyarakat yang datang menyambutnya dengan tepuk tangan riuh rendah.
Selesai acara peninjauan ke seluruh sudut masjid, sambutan-sambutan pun dimulai. Mulai dari ketua panitia, kepala desa hingga bupati. Yang terakhir menyampaikan sambutannya adalah Jawahir selaku orang yang paling penting dalam acara tersebut.
“Saya bersyukur atas segala bantuan dari masyarakat, khususnya Kyai Salam yang telah menghibahkan tempatnya untuk mendirikan masjid yang megah ini. Kepada Bapak bupati pula, saya selaku pribadi dan wakil dari warga masyarakat di sini mengucapkan syukur, karena kehadiran Bapak meresmikan masjid merupakan penyempurnaan keindahan yang kini menjadi menjadi milik warga kampung !”
Gemuruh tepuk tangan warga yang hadir.
“Dalam kesempatan ini pula, disaksikan langsung oleh bapak bupati beserta ibu dan seluruh pejabat yang berkenan hadir, saya memperkenalkan Bapak mertua saya, Bapak Doktorandus Haji Zakaria Ahmad, mantan pejabat departemen agama di propinsi, yang kini tengah membangun rumah di kampung ini juga.Selepas pensiun, niat beliau adalah beristirahat di kampung ini, sambil tetap ingin menyumbangkan kemampuan yang masih beliau miliki, semampunya, utamanya di dalam masalah kehidupan beragama.”
Kini warga kampung menjadi paham bahwa proyek bangunan yang tidak jauh dari masjid Al Jawahir adalah rumah mertua Jawahir.
“Disaksikan oleh bapak bupati dan para pejabat pula, saya merasa sangat berterima kasih kepada sesepuh kita, Kyai Salam, yang telah legowo, mempersilakan pembangunan masjid baru di bekas masjid yang lama. Yang lebih penting, yang terhormat Kyai Salampun telah dengan legowo memberikan kesempatan kepada bapak mertua saya, bapak Haji Zakaria Ahmad menjadi imam masjid Al Jawahir !”
Tepuk tangan kembali riuh rendah setelah hadirin mendengar pernyataan Jawahir. Lain halnya dengan Kyai Salam. Jantungnya serasa hampir lepas. Detaknya menjadi tak teratur. Duduknya kini menjadi gelisah. Tetapi Jawahir tak mempedulikan, ketika kemudian ia melanjutkan bahwa seolah-olah di masjid yang baru itu telah terjadi serah terima pengelola masjid antara Kyai Salam kepada haji Zakaria Ahmad.
Pantat Kyai Salam serasa terpanggang di atas bara api, tetapi karena duduk di tengah-tengah para pejabat, ia merasa tak mungkin meninggalkan tempat itu.
“Kau terkutuk Jawahir ! Kau telah telah menipuku ! “ Ketika acara telah bubaran, Kyai Salam melabrak Jawahir.
“Apa ? Bukankah Kyai telah merelakan semuanya kepadaku ? Masjid lama, dipugar, seluruh biaya bulanan saya yang bakal menanggung. Kyai tahu , berapa harga masjid ini ? Enam ratus juta rupiah ! Kyai tahu berapa banyak uang yang saya keluarkan untuk mendatangkan bupati dan para pejabat ? Dua puluh lima juta ! “
“Persetan dengan itu semua ! Aku tidak rela ! Tidak rela ! Imam masjid tetap menjadi hak-ku !”
“Kyai , apa Kyai pantas menjadi imam masjid Al Jawahir yang megah ini ? Dulu Kyai, hingga sekarang, yang namanya mengaji di masjid lama hanya itu-itu saja ! Hafalan surat-surat pendek, kitab sapinah, kitab sulam, malam jum’at perjanjen sambil membagi nasi kuning. Kyai tak pernah ajarkan kepada yang mengaji tentang nahfu sorof, karena memang Kyai tidak paham ! Kyai adalah orang tradisional ! Beda dengan mertua saya, mantan pejabat depag propinsi, sarjana agama yang mumpuni, semasa mudanya menjadi juara MTQ tingkat propinsi, menjadi penasehat dalam urusan manasik haji , pengurus badan amil zakat di propinsi . Lengkap kamahiran beliau dalam mengurus manajemen masjid. Apa Kyai sanggup menandingi beliau ? Apa pantas masjid sekaliber Al Jawahir pengelolanya adalah kyai tradisional seperti Anda ?”
“Keterlaluan kamu Jawahir ! Aku akui, aku orang kecil yang tak ada artinya sama sekali , tetapi ingat, ucapanmu seperti ucapan setan ! Jika kamu orang benar, maka ucapanmu akan berhikmah dan membawa barokah ! Tetapi ucapan yang keluar dari mulutmu menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang sedang dalam masalah besar ! Masalah kesombongan ! Ingat Hir, kesombongan hanya mampu bertahan sesaat ! Aku pikir kau Jawahir hanya bandel di waktu kecil, tetapi ternyata hingga tua tidak berubah, tidak tahu adat ! “
Kyai salam benar-benar tak dapat meredam emosinya, hingga lupa untuk menyebut sekedar istighfar . Akhirnya kyai tua itu tak sudi tinggal di kampungnya lagi, dekat masjid Al Jawahir. Rumahnya ia tinggalkan begitu saja . Ia memilih menumpang di rumah salah satu anaknya di kampung lain.
Beberapa bulan berlalu masjid Al Jawahir nampak semarak, apalagi dibawah pimpinan mantan pejabat tinggi , kampung terasa ada gregetnya. Sering pengelola masjid mengadakan acara-acara yang betajuk syi’ar seperti lomba untuk anak-anak, remaja, antar masjid atau antar pesantren .
Namun pada suatu hari di rumah yang megah itu Jawahir datang dengan wajah kuyu .
“Bapak, bagaimana mungkin semua menjadi kacau ? Usaha bapak melindungi bandar-bandar judi dan miras tercium wartawan gila.”
“Apa ?! “
“Inisial Bapak ada di koran hari ini, wartawan memberitakan pula bahwa masjid kita ini diduga juga didanai dari sana ! “
“Gila !”
Sebulan kemudian masjid Al Jawahir ditinggalkan jamaahnya setelah tahu bahwa dana yang digunakan untuk membangun bermasalah. Nama mertua Jawahir dan Jawahir sendiripun menjadi semakin lekat di benak warga kampung itu ketika masjid megah itu disegel polisi .
Masyarakat kini kembali memikirkan Kyai Salam. Mereka berfikir sebaiknya kyaitradisional itu harus dijemput kembali untuk mengajar mengaji dan mengajar akhlak anak-anak di kampung. Urusan nanti mengaji di mana tempatnya gampang . Yang jelas masyarakat kampung tak mau menempati masjid Al Jawahir .
Najis, kata mereka . ***

Tags:


Terbaru 2020 - Kritik Edukasi : Pasca UN Guru Kelas XII Libur

Blog Pendidikan

Ujian Nasional (UN) 2014 segera SMA/MA/SMK telah lewat. Jika SMA/MA/SMK pada tanggal 13 - 15 April 2015, maka SMP/MTs (SLTP) pada tanggal 4-7 Mei 2015.
       Kurun waktu setelah UN SMA/MA tentu 2 minggu di bulan April, 4 minggu di bulan Mei, 2 minggu di Juni 2015, berarti 8 minggu para kelas XII mata pelajaran yang di UN-kan tidak lagi mengajar / KBM di kelas, sebab praktis siswanya sudah pasti meninggalkan sekolah karena ikut bimbel ke kota-kota untuk menghadapi SBMPTN, Begitupun untuk guru-guru SMP/MTs, hanya waktu sisa ke bulan Juni lebih sedikit.
Keadaan ini dimulai ketika para pengajar mata pelajaran Non-UN telah selesai di-US-kan. Praktis para guru mapel US merasa sudah plong, bebas dari tanggungjawab. Sekarang disusul guru pengajar mata pelajaran yang di-UN-kan telah dilaksanakan. Lengkaplah sudah para guru yang bebas tidak mengajar. TETAPI TENTU SAJA TIDAK SEMUA GURU KELAS XII DEMIKIAN, artinya ADA. Nah yang di bahas di sini adalah untuk golongan “ADA” tadi.
       Ketika tidak lagi mengajar, biasanya guru-guru kelas XII atau IX tidak hadir di sekolah. Sulit untuk menemui mereka. Terlepas dari mengajar atau tidak, sebenarnya kewajiban PNS (yang PNS tentunya) adalah tetap hadir di sekolah selama 6 (enam) hari kerja. Kewajiban untuk mengingatkan ada di tangan kepala sekolah. Sayangnya banyak guru jaman sekarang tidak takut akan himbauan atau bahkan teguran kepala sekolah. Bagi yang tidak takut, mungkin memiliki sebuah kartu truf (?) yang akan digunakan untuk meladeni himbauan kepala sekolah. Kita bisa membayangkan, sekolah menjadi sepi karena kehilangan sekian banyak siswa, juga kehilangan sekian banyak guru. Kesemarakan sekolah berkurang. 
          Kita lihat cuplikan Keputusan Presiden Nomor 68 Tahun 1995  tentang HARI KERJA DI LINGKUNGAN LEMBAGA PEMERINTAH



Untuk lingkungan pendidikan (Pasal 3.1.b) sekolah umumnya menyesuaikan ditambah hari Sabtu masih masuk. Kisarannya  Senin 7 jam, Selasa 7 jam, Rabu 7 jam, Jumat 5 jam, Sabtu 5 jam, total 38 jam.
Menjaga Gunjingan Negatif
       Yang harus dijaga sebenarnya adalah rasa iri yang muncul dari sesama PNS yang non guru. Mereka akan mengatakan "Enak jadi guru, banyak libur. Nanti bulan Ramadhan libur, sekitar lebaran libur dua minggu. Kita bagaimana? Tidak sebanyak itu. Belum lagi kehadiran di kantor setiap hari
hingga pukul 16.00".
       Belum lagi gunjingan tetangga yang bukan PNS, "Enak ya jadi guru, tidak pernah ke sekolah tapi gaji penuh. Belum lagi, dengar-dengar dapat sertifikasi. Apa uang yang ia dapatkan itu halal karena tidak pernah hadir dinas tapi dapat gaji sebesar itu?"
Apa yang dilakukan guru kelas XII?
Guru kelas XII sebenarnya tidak perlu bingung dengan bertanya “Ke sekolah juga tidak mengajar mau ngapain? Kan mending di rumah, bisa ngirit bensin, bisa refresing, bisa ini, bisa itu .” Mungkin ini sebagian solusi agar para rekan yang selama pasca US dan pasca UN bisa tetap aktif hadir di sekolah untuk memenuhi kewajiban sebagai PNS :
1.   Buatlah laporan lengkap / rekapitulasi nilai dengan rapi, dibukukan, kemudian ditandatangankan ke kepala sekolah sebagai arsip sekolah / kurikulum maupun sebagai arsip pribadi.
2.   Buatlah evaluasi terhadap materi-materi yang telah di US-kan dan / atau di UN-kan. Evaluasi bisa dengan laporan ilmiah atau sekedar opini yang dapat ditulis di bulletin sekolah, majalah sekolah, media cetak, atau sekedar catatan sendiri yang dibuka lagi tahun depan di hadapan anak-anak kelas XII baru tahun depan, sebagai bahan motivasi awal.
3.   Buatlah revisi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang merupakan hasil analisis / evalusi pada nomor (2).
4.   Siapkan metoda mengajar yang mungkin lebih menarik siswa yang akan datang.
5.   Ketik ulang soal-soal UN tahun 2015 (terlepas dari UN yang tidak dipakai lagi sebagai pertimbangan kelulusan peserta didik). Toh soal-soal tersebut akan selalu berguna untuk berbagai macam keperluan.
6.   Buat bahan-bahan tayangan pendukung pembelajaran dengan basis Excel, Power Point, Flash dsb.
Jika melihat 6 hal (ya 6 dulu lah) kita bisa melihat betapa beratnya dilakukan. Hal ini akan sangat mudah dilakukan di sekolah. Jika mengalami kesulitan, di sekolah banyak  tempat bertanya. Jika Bapak/Ibu termasuk guru kelas XII yang hebatmalahan kehadirannya bisa bermanfaat bagi guru kelas XII yang lainnya. Artinya, sebenarnya tidak ada istilah hari bebas, tidak ke sekolah. Jadi secara kepegawaian taat, secara agamis (kata Pak Ustadz) untuk menghalalkan rizki yang kita berikat ke anak dan istri kita.
Jika di rumah pasti banyak gangguannya. Misalnya saja, ada anak, ada istri, ingin tidur-tiduran, ingin main ke mana, ingin nonton TV saja, ingin main game saja dan sebagainya.

       Ini benar-benar renungan mendesak bagi para guru kelas XII dan kelas IX. Semoga pengalaman-pengalaman yang telah terjadi di jaman Majapahit tidak terulang kembali. ***

Terbaru 2020 - Cerpen : Pelarian Gang Dolly

Blog Pendidikan

Pengarang: Didik Sedyadi
Penerbit: Herya Media
ISBN: 978-602-1032-13-8
Tebal: vi+260 halaman
Harga: Rp 50.000,00



PELARIAN GANG DOLLY

Sejak lokalisasi Dolly ditutup, migraine Raeni sering kambuh. Kemarin seharian wanita itu tergolek di kamar sewaan, jauh dari kota Surabaya. Ia mendengar kabar tentang status teman-temannya sekarang. Banyak pilihan dan ragam yang dilakukan anak-anak Dolly. Ada yang mengambil pesangon sebagai modal usaha, ada yang mengambil pesangon untuk foya-foya dan mabuk-mabukan, ada yang menggunakan pesangon sebagai uang pangkal kordinator membuka usaha grup prostitusi terselubung di tempat baru. Ada yang menerima pesangon, kemudian menyewa kamar di tempat tertentu, tetapi masih membuka jasa prostitusi secara sendiri-sendiri. Ada yang menjadi perempuan panggilan. Ada yang memilih menjadi gundiknya cukong.
Sebagian lagi memandang keputusan Bu Risma sebagai sebuah momen tepat jalan keluar dari tempat itu. Jika dulu-dulu Raeni ingin keluar tidak berani, sekarang mumpung ada kebijakan resmi, ia gunakan untuk segera memanfaatkan peluang itu. Salah satunya adalah Raeni. Sejak lama hati kecilnya ingin melepaskan diri dari kehidupan lingkungan gang Dolly, namun banyak pertimbangan. Sungkan dengan mama-nya, tidak enak dengan teman-temannya, malu disebut sok sucilah,
takut dengan bodyguard mama-nya, dan lain-lain.
Ketika teman-temannya menjadi bercerai berai, perempuan itu merasa punya kesempatan. Bahkan ia sendiri waktu itu menyelinap meninggalkan gang itu. Uang kompensasi yang dijanjikan sama sekali tak terpikir olehnya. Yang penting adalah lari, jauh yang sejauh-jauhnya. Keinginan hatinyapun sebenarnya ingin pula membuang jauh-jauh pengalaman hidupnya, namun selama pikirannya masih normal, gang Dolly dengan sejuta ceritanya tak akan bisa dihapus dalam pikirannya hingga akhir hayat.
Hmh…….
Raeni mendesah. Matanya dibuka perlahan dengan berat. Perempuan itu kaget melihat Artiti, anaknya, duduk di kursi dekat tempat tidurnya. Gadis kecil yang masih duduk di kelas 2 SD hanya bisa menatap ibunya dengan air mata berlinang. Perlahan Raeni melihat anaknya. Ia memberi isyarat kepada gadis kecil itu agar mendekat. Artiti mendekat. Perempuan itu memeluk anaknya.
“Kenapa menangis sayang?” tanya Raeni perlahan.
“Lapar Bu… “
“Ochhh… astaghfirullloh!” Raeni kaget. Pelukan pada anaknya dikendorkan. Ia pandangi mata anaknya sambil memegang bahunya. Air mata Raeni mengembang.
“Maafkan Ibu ya ….. ibu lupa, ibu ketiduran. Kenapa tidak bangunkan ibu sayang?”
“Kasihan ibu. Ibu sakit.”
“Titi …… “ air mata Raeni kini menderas. Gadis kecil itu dipeluknya kembali.
Beberapa saat kemudian setelah isaknya mereda, Raeni melonggarkan pelukannya. Perempuan itu mengambil dompet. Ia ambil lembaran lima ribuan diberikannya kepada Artiti.
 “Titi beli sendiri ya? Nasi uduk , atau apa saja yang mengenyangkan. Ibu masih sedikit pusing….”
“Ya bu …..”
Sepeninggal anaknya, Raeni termenung. Uang di dompetnya tinggal empat puluh ribu. Ia bingung dari mana unuk menyambung hidup berikutnya. Kehidupan di gang Dolly telah memberikan kebiasaan mendapatkan uang dengan mudah. Ketika Bu Risma telah memutuskan menghentikan kegiatan gang tersebut, banyak hal yang muncul sebagai sebuah efek. Termasuk yang dialami Raeni, salah satunya.
Perlahan Raeni bangkit dari pembaringan. Kepalanya terasa sakit dan berat. Matanya   sembab dan perih. Namun beban yang ditanggungnya lebih besar dibanding apa yang dirasakan fisiknya. Hanya ada satu motivasi yang selama ini untuk bertahan dengan keadaanya, anaknya, ia tak ingin anaknya terlantar. Jika toh apa yang dilakukannya dosa, ia siap menanggung akibat dosa itu demi anaknya. Sampai saat ini memang belum ada pilihan lain. Ajakan dari orang tuanya untuk kembali ke Tambak Lorok belum disanggupinya. Ia malu pulang kampung. Semua telah terlanjur mengenal dirinya sebagai wanita gang Dolly.
Sekitar enam bulan yang lalu, sebelum penutupan lokalisasi.
Seorang laki-laki bernama Rotama, datang ke gang Dolly menemui dirinya. Tadinya ia mau mengelak, namun ia tak kuasa karena mami-nya mengisyaratkan agar dirinya tidak protes. Rotama adalah laki-laki yang dulu pernah membuat dunia ini menjadi indah. Laki-laki yang pertama menyatakan cinta dalam hidupnya. Bagi Raeni, Rotama adalah segalanya. Tempat bergantung. Tempat berharap. Tempat menikmati keindahan. Hingga tak disadarinya keindahan yang dinikmati itu akan membawa cerita panjang, ia hamil. Rotama yang dulu dipujanya ternyata tak lebih dari buaya, nilai Raeni. Laki-laki itu tak mau bertanggung jawab dengan menikahinya. Raeni memilih minggat, membawa kandungan mudanya. Hingga dengan perantaraan teman, ia menjadi penghuni gang Dolly. Artiti, anaknyapun lahir di sana.
Hari itu Rotama ada di hadapannya, di kamarnya.
“Silakan lakukan apa saja padaku. Ingin bernostalgia silakan. Kamu masuk ke sini membayar ke mama untuk menikmati aku. Silakan, jangan sungkan-sungkan…..” kata Raeni demi melihat Rotama hanya duduk di hadapannya.
“Tidak Rae, aku ke sini tidak mau membelimu. Aku membayar ke ibu yang di depan hanyalah untuk tiket masuk. Aku ke sini dengan niat suci….”
“Apa? Hihihi…. niat suci? Sejak kapan kamu menjadi baik Tama?”
“Sejak aku ingat anakku. Aku ingin ketemu anakku… di mana dia?”
“Tidak. Aku tidak ingin anakku berfikiran kotor tentangmu.”
“Aeh, Rae! Jika dewasa, mau menikah, nanti dia butuh wali.”
“Dari mana kau tahu anakku perempuan?”
“Orang yang niatnya kuat, apa saja pasti ditempuh untuk mencari keterangan.”
“Okelaaah …. tapi anakku tidak butuh wali dari orang sepertimu!”
“Tapi aku ayahnya.”
“Terserah. Dengan wali hakim beres.”
“Tapi kalau aku masih ada?”
“Katakan saja ayahnya sudah mati!”
“Kamu berdosa membohongi anakmu sendiri Rae!”
“Dosa? Kamu masih tidak malu bicara tentang dosa?”
“Sudahlah Rae, ayolah ………. , tinggalkan tempat ini, bersamaku…..”
“Laki-laki yang masuk ke sini adalah untuk memperoleh pelayananku. Bukan untuk ngobrol tak jelas.”
“Rae, aku mengajakmu menikah. Itu sangat jelas. Kamu segera tinggalkan tempat penuh dosa ini….” Pinta Rotama.
“Sok suci kamu! Kau katakan tempat ini apa? Penuh dosa?”
“Iya kan?”
“Okelah, terserah apa katamu Tama, menurutmu aku memang bergelimang dosa. Tapi ingat Tama, paling tidak harga diri aku masih punya!”
“Harga diri yang mana?”
“Paling tidak harga diriku lebih tinggi dari kamu!”
“Aaahh… mana mungkin!”
“Tama, kamu yang datang ke sini! Kamu yang butuh aku! Harga diriku lebih tinggi dari kamu. Aku tidak butuh kamu! Kalau kamu masih punya pikiran waras bicara tentang dosa, siapa sebenarnya yang dosanya lebih besar antara aku dan kamu. Kamulah penyebab pertama hingga aku seperti sekarang ….”
“Makanya aku mengajakmu menikah! Aku ingin menebus kesalahan.”
“Tak perlu kau tebus Tama. Kau nikmati saja kesalahan jika kamu masih waras hingga mengerti apa itu kesalahan! Biarkan aku tetap dengan jalanku, biar orang lain mengatakan aku ini salah!”
“Aku mohon Rae…”
“Mengemislah Tama!”
“Di mana anak kita dulu?”
“Anak yang mana? Jangan sebut kata kita. Kamu keluar sekarang.”
“Aku ingin mengangkat derajatmu Rae….. menikahlah denganku….. ayolah Rae!”
“Orang sepertimu masih mengira punya derajat hingga sok baik mau mengangkat derajat orang lain? Hahaaa! Tamaaaaa…. Tamaaa mimpi kamu! Keluarlah dari tempat penuh dosa ini ….., tempat yang tidak layak untukmu manusia baik sepertimu!”
Akhirnya Rotama keluar kamar. Laki-laki itu gontai melangkah meninggalkan Raeni. Beberapa sekon perempuan itu mencoba mengamati punggung Rotama. Air matanya mengembang di pelupuk matanya. Ia membayangkan jika laki-laki itu adalah laki-laki yang bertanggungjawab. Alangkah bahagianya Artiti, anaknya dari laki-laki itu.Tak urung juga air mata Raeni menetes.
Dulu, di saat-saat keindahan masih dirasakan, keduanya sering menyewa perahu dari pantai Tambak Lorok ke arah tanggul di tengah laut. Di tanggul yang dipenuhi dengan para pemancing, keduanya hanya meletakkan joran dan umpan. Raeni duduk menggelar tikar kecil, sementara Rotama mengembangkan payung. Di saat-saat seperti itulah, Raeni merasakan bahwa laut lepas di hadapannya adalah saksi bahwa cinta mereka akan abadi.
Selain teluk Tambak Lorok, keduanya sering melancong pula ke Kopeng, atau ke mana saja di sepanjang dataran tinggi dari Ungaran ke arah Salatiga. Bahkan sesekali perjalanan berlanjut hingga ke Kaliurang. Tak sekali dua kali keduanya sampai menginap di mana saja. Pandangan mata Rotama bagi Raeni adalah pandangan yang menyejukkan. Ia merasa terlindungi di pelukan cintanya. Hingga akhirnya pergaulan yang melenakan dirinya, membawa dirinya ke saat-saat ia tak memiliki sesuatu lagi yang bisa dibanggakan. Yang menyebabkan dirinya menjdi gamang menjalani hidup adalah ketika Rotama meninggalkan dirinya.
Raeni hamil. Perempuan itu menyampaikan kepada Rotama, namun Raeni marah bukan kepalang ketika Rotama menggeleng.
“Kamu tidak mengakui ini anakmu?”
“Bukan masalah itu! Ternyata kamu perempuan murahan!”
Plak! Tangan Raeni menyambar pipi Rotama.
“Apa katamu? Murahan?! Enak saja kamu mengakan itu!”
“Perempuan yang kuat imannya adalah perempuan yang mampu menahan godaan laki-laki! Tidak seperti kamu!”
“Tama!”
“Mungkin saja jika tidak denganku kamupun akan melakukan hal ini! Pasrah pada laki-laki!”
Raeni tak sanggup mengeluarkan kata-kata di depan Rotama. Raeni yang sudah bukan gadis lagi berlari meninggalkan Rotama. Laki-laki itu hanya tersenyum memandang Raeni yang semakin jauh.
Hancur hati Raeni. Ia tak berani mengatakan yang sesungguhnya kepada kedua orang tuanya. Ia kasihan jika orang tuanya menanggung malu akibat perbuatannya. Akhirnya Raeni memilih mengontak sahabatnya, yang membawanya terdampar di kota Surabaya.


***
Siang itu Artiti belum pulang membeli makanan.
Raeni yang sendirian di rumah mencoba dengan tertatih-tatih mencari minuman. Sebutir obat sakit kepala ia telan. Ia berharap migraine yang dideritanya hilang. Setelah itu mencoba ke luar ruangan di samping rumah utama. Kamar yang terpisah inilah yang ia tempati sebagai peneduhan sementara.
“Rae!” Belum lagi ia membuka secara penuh, ada yang berteriak di hadapannya. Raeni kaget.
“Tama! Ada perlu apa ke sini?”
“Raeni, sabar ….. dengarkan dulu kata-kataku. Berita tentang penutupan gang Dolly yang membuatku melacakmu ke sini.”
“Apa urusanmu dengan Dolly?”
“Karena ada kamu Rae. Boleh aku duduk?” Tanya Rotama sambil menunjuk kursi di depan ruangan.
“Duduklah.”
“Terima kasih Rae.”
Rotama duduk. Raeni pun akhirnya terpaksa duduk. Keduanya terdiam beberapa saat.
“Ada apa kamu datang ke sini?"
“Kamu tidak sehat Rae?” Rotama balik bertanya.
“Bukan urusanmu. Ada apa datang?”
“Aku prihatin atas penutupan Dolly oleh Bu Risma.”
“Oooo kenapa?”
“Emm…. tidak, tidak tahu.”
“Kamu ini aneh Tama, setengah tahun lalu kamu mengajakku keluar dari Dolly, sekarang Dolly ditutup kamu malah prihatin. Jangan-jangan pikiranmu sedang kacau.”
“Eee…. eeee …. anu, maaf.”
“Jangan-jangan kamu prihatin karena sekitar seribu limaratus PSK kehilangan pencaharian, para germo kehilangan anak buah, para bodyguardkehilangan wilayah, para penjaja obat blingsatan, para laki-laki hidung belang kelihangan tempat rekreasi! Begitu?! Katakan saja begitu!” kata Raeni berteriak sambil berdiri.”
“Maaf Rae, bukan, bukan itu. Ini tak ada hubungannya antara Walikota, Dolly dengan aku. Aku hanya prihatin dengan keadaanmu.”
“Prihatin kenapa?”
“Aku kasihan padamu Rae, pada anak kita ….. “
“Kamu ulangi kata-katamu itu lagi? Ingat Tama, aku perempuan mandiri. Aku tidak cengeng.”
“Aku punya usaha yang maju. Kita bisa hidup tenang.”
“Apa urusanya denganku? Majulah usahamu. Hiduplah kamu yang tenang …..”
“Tapi aku ingin denganmu.”
“Agar ada kekeset? Agar kau merasa di atas diriku. Dulu saja kau begitu tak menghargaiku, apalagi sekarang.”
“Aku menghargaimu.”
“Aku tak akan pernah percaya.”
“Aku punya usaha di Sukabumi. Jauh dari kampung kita di Tambak Lorok. Tak ada orang yang tahu bahwa kau adalah …… adalah …… “
“Adalah apa?”
“Ngggg…… nggg….. emm maaf… tidak Rae. Jangan kau sudutkan aku seperti itu.”
“Sebut saja aku ini pelacur! Yang pernah kau sebut perempuan murahan!”
“Tidak Rae….”
“Sekarang kau pergi dari sini! Bawa niat baikmu ke Sukabumi, masih banyak perempuan baik-baik, buat kamu laki-laki yang baik! Jangan ganggu hidupku, pergiiiii!”
“Rae…… tak adakah kata maaf sedikitpun dalam hatimu.”
“Belum saat ini.”
“Kapan Rae?”
“Pergilah Tamaa… pergi…. pergiiiiii!” Raeni berteriak keras.
Tak urung laki-laki itu menggeleng. Perlahan laki-laki itu pergi dengan gontai. Teras gazebo kamar sewaan Raeni kembali lengang. Perempuan itu menjatuhkan pantatnya di kursi. Keringat dingin membasahi dahinya. Pening di kepalanya semakin menjadi. Ia memejamkan matanya.
Bayangan Rotama berkelebat. Laki-laki itu tersenyum. Tapi ia memandangnya sebagai sebuah senyuman culas. Ia tidak yakin laki-laki itu dengan tulus mengajaknya menikah. Namun kadang-kadang ia berfikir akan bagaimana hidupnya kelak, serta bagaimana Artiti kelak. Kadang-kadang ia mencoba menegarkan hati tatkala melihat keluarga-keluarga yang berbahagia. Namun ia cepat-cepat mengibaskan khayalannya, karena yang dihadapi saat ini adalah realita.
“Ibuuu…… “ tiba-tiba Raeni dibangunkan dari pejaman matanya oleh teriakan Artiti yang dating membawa nasi bungkus.
“Oooh .. apa sayang? Kok nasinya dibawa pulang?”
“Titi ingin makan di rumah saja, bareng ibu.”
“Ooo …. iya, iya boleh …. ayo masuk. Kita makan di dalam.” ajak Raeni sambil menuntun anaknya.
“Ibu.. tadi di sana ada bapak-bapak termenung melihat ke rumah ini terus, ibu kenal?” tiba-tiba anaknya bertanya. Raeni terhenyak.
“Bapak-bapak yang mana?”
“Jaket merah. Tuh tadi setelah lama melihat ke sini, jalan ke ujung gang….”
“Jaket merah? Bawa tas kecil?”
“Iya benar. Ibu kenal?”
“Oooo tidak, Mungkin orang minta-minta…. sudahlah…. ayo makan.”
Artiti tak menggubris lagi perkataan ibunya. Raeni sendiri memastikan bahwa itu adalah Rotama, ayah Artiti. Namun perempuan itu tak memperpanjang angan-angannya, ia menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Walaupun ia juga ragu, apakah Tuhan masih mendengar pintanya sebagai seorang perempuan semacam dirinya.
***
Jauh di ujung gang.
Rotama yang gontai menuju sebuah MPV yang menunggu. Di dalamnya ada seorang laki-laki dan seorang perempuan. Keduanya melihat Rotama dengan serius.
“Bagaimana? Rot?” tanya si perempuan ketika Rotama telah masuk ke dalam mobil.
“Gagal.”
“Hahaaa! Gagal! Kena batunya kau sekarang! Dua kali kamu mencoba meyakinkan bekas pacarmu itu, tapi gagal.”
“Hhh … sudahlah … ayo jalan!” kata Rotama memberi aba-aba.
“Oke Boss! Kita cari perempuan lain saja. Atau cari perempuan pelarian Dolly yang lain, yang masih mau melanjutkan kegiatannya …. “
Rotama diam. Laki-laki itu menghela nafas dalam. Laki-laki itu berfikir akan kembali mengejar Raeni di waktu lain, tetapi bukan untuk diserahkan kepada sindikat. Ia sangat mengagumi Raeni yang begitu tegar dan kokoh dalam prinsip dan pendiriannya.

“Aku terlambat mengagumimu Raeni ……” gumam Rotama sambil melihat ke luar jendela.***