Jumat, 29 April 2016

Terbaru 2020 - Humor : BANGSA BERMENTAL TEMPE

Blog Pendidikan


Ini terjadi di negara yang baru merdeka , negara  agraris, banyak tanaman kedelai. Maka di negara tersebut ada Kementrian Tahu Tempe. Mentri Tahu Tempe (Mentape) pernah berpidato di hadapan para petani untuk meningkatkan produksi kedelai, demi memenuhi permintaan ekspor.

Mentape
:
Kita bangsa yang besar! Tahu dan tempe menjadi ikon! Lihat manfaat tempe, satu bisa menurunkan kolesterol jahat, kedua menurunkan tekanan darah, ketiga menjaga kestabilan sistem pencernaan, keempat mencegah kanker, kelima menambah energy !
Ajudan
:
Sebutkan sumbernya Pak Menteri (bisik ajudan yang berdiri di belakangnya).
Mentape
:
Sumbernya dari Google!
Ajudan
:
Www-nya Pak!
Mentape
:
Halah brisik, kepanjangan tahu!
Ajudan
:
Kandungan proteinnya Pak! (berbisik)
Mentape
:
Kandungan protein dalam tiap 100 gram tempe adalah 20,8 gram, sedangkan dalam 100 gram daging sapi hanya sekitar 17,03 gram!
Ajudan
:
Kesimpulannya Pak! (berbisik)
Mentape
:
Kesimpulannya DAGING SAPI LEBIH ENAK DIBANDING TEMPE !
Ajudan
:
Waaah bukan itu Pak! Itu yang tadi malam saya sampaikan ke Bapak!
Mentape

Ajudan
Mentape
:

:
:
Ooiya, maaf saudara-saudara! ITU BUKAN KESIMPULAN, TETAPI FAKTA !
Aduuuh Pak, kenapa ngomong begitu!
Oiya, kesimpulannya adalah pengaruh asupan protein yang baik terhadap petumbuhan kecerdasan otak manusia, maka banyak-
banyaklah makan tempe.
Ajudan
:
Sebutkan kenapa harus banyak makan tempe Pak! (berbisik)
Mentape
:
Mengapa saudara-saudara harus banyak makan tempe? KARENA DAGING MAHAL !
Ajudan
:
Aduh Pak, gawat! Jangan sampaikan yang itu…… itu tadi manfaat protein .(berbisik)
Mentape
:
Diam, diam …. Masak sich  menteri didikte ajudan. Diam kamu!
Ajudan
:
Ya Pak, saya diam. Tapi ingat bahwa bukan masalah daging mahal ….
Mentape
:
Protein kan? Makanya saudara-saudara, asupan protein banyak, harganya murah, maka dengan harga murah kita bisa menjadi bangsa yang cerdaaaaaaas! Cerdas karena apaaaaaa?
Hadirin
:
Tempeeeeeeeeeeee!

Wilayah yang dikunjungi ini memang sedang dijadikan percontohan, maka selang seminggu giliran Menteri Pendongkrak Mental Bangsa (Mendongtalsa) hadir di situ untuk memompa semangat para petani.


Mendongtalsa
:
Dalam upaya pemenuhan kebutuhan sendiri atas kerja sendiri, kita harus kuat! Ngibarate ora tedhas tapak paluning pandhe, menter sisaning gurinda. Tatag tanggon tahan banting sampai berkalang tanah!
Ajudan
:
Itu yang bahasa Jawa diartikan Pak! (berbisik)
Mendongtalsa
:
Gak ngerti aku! Wis menenga ae!
Ajudan
:
Di google ada nggak Pak? (berbisik)
Mendongtalsa
:
Crewet kamu! Diam, aku mau berpidato, sampai lupa. Tadi sampai mana?
Ajudan
:
Tahan banting, bangsa yang tahan banting …..
Mendongtalsa
:
O iya, jadilah kita bangsa yang tahan banting! Memiliki semangat berkompetisi yang tinggi, jangan mudah menyerah! Jangan bermental tempeee! Apa saudara-saudara?
Hadirin
:
Jangan bermental tempeeeeee !
Mentape
:
Perhatikan tempe, barangnya sepele! Harganya murah! Ora mbejaji! Jangan seperti itu!
Ketua Petani
:
(Nyelutuk) Pak, kemarin kata Pak Mentape tempe itu bagus untuk perkembangan mental bangsa! Sebab dari sisi kandungan protein yang ada dalam kedelai, lebih banyak dibanding yang ada dalam daging sapi. Itu katanya membangun jaringan otak bagian kecerdasan Pak!
Mendongtalsa
:
Oooo …. Pak Mentape ngomong gitu?
Ketua Petani
:
Iya….. jadi mana yang benar?
Mendongtalsa
:
????????

Sementara di istana negara  Sang Presiden sedang mengamati siaran langsung di televisi bersama para pejabat lain, hanya bisa geleng-geleng kepala.




Presiden
:
Oalaaaahhh … Menteri nggak mau koordinasi dulu , ya begini jadinya! Statemen justru malah  saling berbenturan.
Jubir
:
Jadi mana yang benar sih?
Presiden
:
Dua-duanya benar. Tempe mencerdaskan, sekaligus mentalnya kaya tempe! Artinya banyak orang-orang yang cerdas tetapi mentalnya ambruk, moralnya nggak jelas, korupsi, awas lhooo….. yang korupsi lho yaaa…… yang baik juga ada!
Jubir
:
Kalau memang kandungan protein lebih baik, dan kalau perlu jadi ikon di negara kita, kenapa tidak ada hidangan dari tempe di hotel-hotel ya?
Presiden
:
Ya malu to ….. mosok hotel hidangannya tempe. Nanti ada istilah hotel warteg!
Jubir
:
Dan lagi Pak, di negara-negara yang tidak pernah mengenal tempe, orang-orangnya cerdas-cerdas ya Pak? Di Eropa, Amerika, Asia Timur …..
Presiden
:
Ya itulah, kadang-kadang kita suka memuji diri sendiri setinggi langit!
Jubir
:
Kesimpualn apa yang Bapak Presiden ambil dari pernyataan dua menteri Bapak!
Presiden
:
Jangan menggunakan istilah mental tempe! Menyinggung petani kedelai, dan pemakan mendhoan di mBanyumas sono! Tidak usah ngomong muluk tentang manfaat tempe yang mencerdaskan bangsa. Nggak usah dibandingkan tempe lebih baik dibanding daging sapi!
Jubir
:
Kenapa Pak?
Presiden
:
Akui saja memang daya beli rakyatnya baru menjangkau tempe!

Sungguh bijak Presiden negara baru ini. Kita doakan semoga beliau dapat meningkatkan daya beli masyarakat untuk menjangkau ke taraf daging sapi. ***

*Humor Original Ciptaan Sendiri

Kamis, 28 April 2016

Terbaru 2020 - Humor Tingkat Tinggi

Blog Pendidikan

Ini memang lucu, dari sebuah fakta, bukan rekayasa bukan editan. Hanya mereka yang pernah menyentuh ranah bahasa, atau mungkin pokok materilah yang diijinkan tertawa.

1. Mobil di daerah Ketanggungan Brebes


Keterangan : 


2. Kiriman SMS


Kenapa yang ngirim Mang Cece, Ustadz sholeh mengatakan "Ini Nomorku" . Kasusnya Ustad Soleh (ustadz sedesa) memang mengirim SMS tetapi yang muncul kok melalui nomor Mang Cece (tetanggaku). Ini kesalahan asli provider.



3. Warung Makan , Slawi - Kab. Tegal (Lebaran 2015)


Keterangan : "Bugang" dalam Bahasa Sunda  adalah "Bangkai"
 
 4. Kenapa Nggak Minta Maaf ke Gurunya ya?


5. Memang Ulangan Boleh Balik Nanya ke Guru ya?


6. Menyerah Dalam Ulangan itu Halal


 
 Itu dulu ah, nanti kalau ada bahan baru bisa ditambahkan. ***

Rabu, 27 April 2016

Terbaru 2020 - Novel: Zaniar dan Ahmad Hong (11)

Blog Pendidikan


11. Ancaman Kepala Sekolah

Beberapa jenak kepala sekolah diam, namun kemudian tampak menemukan jawaban yang pas.
“Yaaaa…. Biar saya bisa mengawasi kamu lewat ibumu. Kalau kamu bikin masalah di sekolah, saya bisa langsung telephone ibumu!”
“Tidak usah telephon ibu, langsung tindak saja saya Pak!”
“Kamu susah diajak bicara Niar.”
“Bukan susah diajak bicara Pak, tapi ceritakan dulu yang jelas, mengapa Bapak akan memberi ibu saya HP. Jangan-jangan ibu saya mengenal Bapak.”
“Tidak. Semua atas dasar keterangan Pak Nanto. Pak Nanto yang cerita tentang seluruhnya.”
“Tidak masuk akal….”
“Zaniar!” Pak Layang membentak.
“Ini lebih tidak masuk akal lagi ….”
“Apa katamu?”
“Lebih tidak masuk akal.”
“He ingat! Saya ini kepala sekolah! Saya bisa membuat merah biru kehidupanmu! Ini sekolah saya. Saya yang berkuasa di sini! Kamu telah menyangkal ucapan kepala sekolahmu sendiri! Itu namanya sangat tidak sopan! Tidak tahu etika.”
“Etika itu hanya ada kalau pembicaraan fokus pada pokok permasalahan. Nah ini, saya tidak tahu pokok permasalahan …..”
“Niar, untung kamu ngomong seperti ini di ruangan. Kalau kamu ngomong seperti ini di hadapan guru, kamu langsung saya usir dari sekolah ini! Tahu!”
“Tidak tahu Pak …..”
“Bodooooh!”
“Saya permisi saja Pak. Memang saya sekolah setahun lebih di sini tidak bertambah pintar, tetap saja bodoh! Mungkin sekolah ini tidak bisa memintarkan saya …… permisi Pak.” Kata Zaniar seraya
bangkit dari duduknya.
“Awas kamu! Saya tidak main-main! Berani ngomong ke guru lain, kamu saya usir!”
“Silakan saja Pak.”
“Tanpa surat keterangan pindah!”
“Silakan Pak. Jaman Rasulullah juga tidak ada sekolah. Tapi mutu orang-orangnya tak ada tandingannya dengan lingkungan ini yang katanya sekolahan!”
“Keluar! Keluaaaar!”
Sesak dada Zaniar. Pagi itu dirinya merasa memasuki sebuah belantara baru. Sebuah belantara yang sama sekali tidak pernah terpikir di hari-hari sebelumnya.
Zaniar mengakhiri ceritanya kepada Pak Nanto. Pak Nanto diam. Sebagai wali kelas kini ia menghadapi sebuah masalah yang cukup besar juga. Ancaman Pak Layang untuk mengeluarkan Zaniar dari sekolah bisa jadi bukan gertakan semata.
“Pak Nanto ….. “
“Ya Niar?”
“Kenapa Bapak diam?”
“Kamu telah masuk ke masalah besar. Kamu telah menceritakan perihal kisahmu dengan Pak Layang. Kalau Pak Layang sampai tahu kamu cerita kepada Bapak, bisa-bisa Pak Layang mengeluarkanmu.”
“Bagi saya ini masalah kecil.”
“Aaah bisa saja kamu!””
“Karena masalah ini Bapak juga ikut memikulnya.”
“O pasti.”
“Karena di awal Bapak yang meminta saya untuk bercerita …… “
“Hah? Apa?”
“Bukannya Bapak yang menyuruh Niar bercerita tentang kasus Niar dengan kepala sekolah. Saya sudah siap keluar Pak Nanto.”
“Nnnn…. nanti dulu Niar.”
“Tidak apa-apa Pak. Apakah selama ini Bapak pernah melihat saya bersedih? Mudah-mudahan tidak Pak. Saya selalu riang, galak, dan keras kepada teman-teman yang malas belajar. Saya tidak bersedih.”
“Kalaupun harus keluar, pahitnya dikeluarkan, pihak sekolah harus mengeluarkan surat pindah, agar kamu bisa bersekolah lagi di tempat lain.”
“Saya mau lebih fokus di pesantren Pak. Saya bisa full di sana.”
“Tapi bukan pelarian Niar.”
“Mohon Bapak jangan ulangi kata pelarian Pak……”
“Ooohh…. Ooohh… maaf Niar. Bapak gugup, bapak khawatir keadaan kamu.”
“Saya ikhlash Pak. Ribuan, bahkan mungkin jutaan anak-anak yang tidak sekolah di sekolah formal Pak. Tetapi mereka lebih merasakan kebahagiaan. Dan saya ingin menjadi salah satu di antara mereka Pak. Barangkali pesantren memang lebih cocok untuk keadaan saya yang seperti ini …..”
“Niar…..”
“Bapak jangan merasa salah jika suatu saat Pak Haji Layang mengeluarkan saya.”
“Niar …..”
“Saya permisi dulu Pak…. Assalaamu’alaikum!” Kata Zaniar perlahan sambil beranjak meninggalkan wali kelasnya yang masih duduk bengong. Laki-laki yang menjadi wali kelasnya justru nampak begitu bodoh berbicara dengan muridnya.
Mulut Pak Nanto hanya komat-kamit tak bersuara menjawab salam muridnya. Hingga beberapa jenak laki-laki itu tidak menyadari bahwa dirinya tinggal sendirian. Zaniar telah jauh dari ruang lobby. Pak Nanto mengejar. Laki-laki itu hanya bisa berdiri sambil menghela nafas panjang melihat muridnya telah masuk angkot dan membawanya pergi.
Beberapa hari yang lalu Zaniar hampir saja mampu melupakan kejadian dengan kepala sekolahnya. Namun permintaan Pak Nanto mampu membuat dadanya kembali sesak. Ia tidak mengerti, seharusnya ia mengucapkan “ ….. selama setahun sekolah ini tak mampu memintarkan saya ….. “ kepada kepala sekolah akan memuaskan atas hasrat kritiknya. Tetapi ia tidak tahu mengapa ia tidak lega perasaannya. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri mengapa ia mau menceritakan semuanya kepada Pak Nanto, padahal ada ancaman kepala sekolah terhadap dirinya.
Kadang-kadang Zaniar sendiri juga heran, mengapa menjadi manusia semuda dirinya begitu banyak masalah yang harus dihadapi. Tetapi ia juga aneh kenapa ia lebih banyak menyimpan masalah dalam dadanya. Seperti halnya kasus dengan kepala sekolah, sudah sekitar dua minggu ia simpan terhadap ibunya. Namun entah dorongan macam apa hingga malah bercerita kepada wali kelasnya.
“Ibu harus tahu masalah ini!” Niatnya dalam hati.
Pukul 16.30-an.
Turun dari angkot Zaniar berjalan cepat melintasi tanah lapang di mana di ujung baratnya terdapat gang yang menuju rumahnya. Keramaian anak-anak yang sedang bermain sepak bola sama sekali tidak menarik perhatiannya. Beberapa anak laki-laki tanggung yang dilewati kadang menggodanya, tak digubrisnya.
Selang lima menit gadis itu memasuki gang yang mengarah rumahnya. Namun kakinya tertahan ketika melihat di halaman sempit rumahnya terdapat motor jantan warna hitam. Dia tidak tahu motor siapa itu. Zaniar menenangkan degup jantungnya. Nafasnya ditahan sejenak kemudian dihembuskannya perlahan. Ia ulangi sekali lagi. Setelah nafasnya tenang ia melangkah perlahan menuju pintu rumahnya.
“Assalaamu’alaikum!” Salamnya.
“Wa’alaikumussalam …. “ Jawab salam orang-orang yang di dalam.
Zaniar melangkah masuk. Gadis itu kaget melihat orang yang duduk sedang ditemui ibunya.
“Ustadz Hong!” Pekiknya.
“Ya ini aku …… baru pulang rupanya?” Tanya Ustadz Hong sambil tersenyum.
“Eeemm…. Iya Ustadz. Saya tidak mengira Ustadz sampai ke sini …..”
“Kamu tidak mengenali motorku di depan itu ?”
“Tidak Ustadz.”
“Pantas wajahmu kaget begitu. Wah, rugi aku ……. “
“Rugi kenapa Ustadz?”
“Ya rugi dong, kamu tidak mengenal motorku ….. tapi aku malah sampai di rumahmu hihihi…….”
“Pasti Fathonah atau Nurjanah yang memberi tahu .”
“Benar. Dari si Nur itu ….”
Zaniar benar-benar merasa kikuk didatangi guru mengajinya di Babussalam. Rasanya sangat tidak pantas. Ia merasa malu. Dalam perasaannya tak banyak masalah yang dikedepankan kepada orang lain, tetapi ia heran mengapa banyak orang yang berinteraksi dengannya.
Setelah beberapa jenak terdiam dalam duduknya, Ustadz Hong mendeham sambil memulai bicara.
“Niar, saya ke sini bukan tanpa sebab. Ini darurat.”
“Ada masalah apa lagi Ustadz?”
“Bukan masalah besar, hanya saja panitia provinsi mengajukan persyaratan pengiriman peserta lomba itu besok pagi.”
“Besok pagi?”
“Iya besok pagi, ya setengah siang laaaah. Maksudnya kalau harus dikirim secepat itu, maka hari harus ada kepastian. Sementara kamu belum memberi jawaban pasti, mau ikut apa tidak, diijinkan ibumu apa tidak?”
“Oooohh……” Zaniar mendesah sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. Gadis itu diam beberapa saat. Diliriknya ibunya.
“Pak Ustadz, saya memang telah menyampaikan semuanya kepada ibu perihal turnamen silat itu. Tapi terserah ibu ….. kalau ibu mengijinkan saya siap, kalau ibu tidak mengijinkan, saya tidak mau Pak Ustadz…… silakan ibu…..”
“Bagaimana ibu?” Tanya Ustadz Hong. Wartini diam sejenak ditanya demikian.
“Kamu sendiri bagaimana Zan?”
“Terserah ibu……”
“Kok jadi ibu yang bingung. Terserah Pak Ustadz saja ……”
“Kok jadi saya?”
“Terserah maunya Pak Ustadz apa ……. “
“Ibu, sebelumnya saya minta maaf. Tapi kalau memang ibu berpendapat demikian, ya saya akan menjawab. Ibu, dan kamu Niar, tentu sudah dapat menimbang seberapa besar harapan pesantren kepadamu, dengan saya datang ke sini …… kalau bukan karena harapan besar, tidak mungkin pimpinan pesantren meminta saya datang ke sini.”
“Kalau begitu saya ijinkan Zaniar menjadi wakil Babussalam.”
“Alhamdulillaaahh……” Gumam Ustadz Hong dengan wajah memancarkan rona sukacita, “ …… terimakasih atas ijin Ibu, mudah-mudahan semuanya akan bermanfaat.”
“Amin.”
Setelah beberapa waktu mereka membicarakan hal lain-lain, Ustadz Hong berpamitan. Namun sebelum melengkah pintu keluar, laki-laki itu berhenti dan menoleh kepada Wartini,
“Ibu ….. mmmmm… bagaimana kalau untuk memudahkan komunikasi, Zaniar memiliki HP bu?”
“HP? Aaaah …. saya rasa belum perlu. Benar, belum perlu.”
“Maaf Bu, anggap ini fasilitas dari kami selaku lembaga, untuk atlit yang membawa nama pesantren.”
“Maksudnya pesantren akan memberi Zaniar HP, begitu?”
“Benar.”
“Bagaimana Zan?” Tanya Wartini kepada anaknya. Zaniar menggeleng.
“Terimakasih.”
“Kalau mau, barangnya ada di bagasi motor Niar …. “
“Tidak usah Ustadz. Terimakasih ……” Zaniar tetap menolak.

Mendengar jawaban tegas Zaniar, Ustadz Hong manggut-manggut. Laki-laki itu kemudian berpamitan. Beberapa jenak kemudian deru motor itu meninggalkan halaman menyusuri Gang Panday ke arah jalan raya. Zaniar dan ibunya saling berpandangan. ***

(Bersambung)

Terbaru 2020 - Cerpen dalam Buku Fira, Haruskah Kutunggu Kau di Sorga?

Blog Pendidikan


Gambar : Dokumentasi Nadila Dirgantari

Hanya Sekejap di Malaysia
(Request Nadila Dirgantari)

Gunung Panten. Arena Paralayang Majalengka. Angin semilir.
Panorama kota kecil Majalengka begitu indah di mata Nadila Dirgantari. Gadis yang sejak menjadi pengurus OSIS di SMPN 1 Majalengka dipanggil “Dede” , menebarkan pandangan matanya ke tempat yang jauh . Guratan wilayah Majalengka semakin ke utara tampak semakin maya tersaput halimun. Tak jauh dari tempatnya duduk, tiang kantong angin berkelebet bergoyang tak henti.
“Dede ..... “ ada suara pelan di sebelahnya. Yang dipanggil tetap diam. Gadis itu melepas kacamatanya, kemudian mengelapnya dengan tissue.
“Apa Kak?” tanyanya ketika ia sudah memakai kacamatanya kembali.
“Dede tadi lama melihat apa ke utara lama sekali?”
“Halimun ..... “
“Mengapa halimun? Bukankah lebih baik melihat sesuatu yang lama eksis. Halimun hanya ada sekejap, kemudian hilang berganti bentuk.”
“Entah mengapa aku akhir-akhir ini suka begitu Kak , beda dengan kakak, sekarang sudah kuliah setahun, sudah bisa berkreasi sesuka atau merancang sebuah prestasi. Ya itu bisa, dan enak, karena kakak sudah melewati semuanya.”
“Dede berfikir tentang kuliah? Takut nggak diterima? Jangan begitu aaaah, jaman sekarang asal ada kemauan kuliah di manapun bisa. Pikiran nggak harus ke PTN, PTS yang berkualitas juga banyak. Memang perjuangan yang inti hanya satu: Cara masuknya. Setelah jadi mahasiswa apa? Nggak ada bedanya. Di lapangan pekerjaan, nggak ada bedanya.”
“Iya sih .... eh Kak, ngomong-ngomong nanti kakak pingin jadi apa sih?”
“Dede inginnya aku jadi apa?”
“Iiiiiih Kak Aryo! Masa malah tanya ke aku!”
“Ya barangkali ada saran, inginnya sih belajar setinggi langit. Paling tidak kaya sekarang di Gunung Panten, bisa melihat yang di bawah kita dengan leluasa.”
“Dosen?”
“Heheee.... pantas nggak De?”
“Heheee......”
“Kok malah ketawa! Kenapa?”
“Lucu....”
“Awas, ntar akan kutunjukkan bahwa aku tak pantas Dede tertawakan!”
“Maksudnya jadi dosen beneran?”
“Doakan De!”
“Beneran? Takutnya ntar aku salah berdoa!”
“Aaaah.... Dede! Kamu itu selalu begitu, maksudnya Dede doakan aku, aku minta, Dede mengiyakan. Ya Kak Aryo, aku doakan ... semoga .... semoga ... gituuuuuh! Aaaah Dede!”
Keduanya akhirnya tertawa bersama.
“Kenapa kita jadi ngomongin dosen ya Kak?” kata Dede sambil beranjak berdiri.
“Makhluk apa dosen itu ya De?”
“Makhluk planet kali?”
“Planet bumi!”
Sejak Dede kelas XI SMA ia mengenal Aryo Bimo. Seorang  pemuda yang bersekolah di sekolah lain. Mungkin orang lain menilai mereka berdua pacaran, tetapi nyatanya Nadila tak pernah mengakui itu. Ia anggap kebersamaannya sebuah hal biasa,. Tapi ia pernah mengatakan bahwa
persahabatan itu ada bumbunya sedikit. Kepada Aryo Bimo juga mengatakan hal yang sama.
“De, kita sudah tiga tahun bersahabat. Tapi kayaknya hambar ya ....”
“Iiih Kakak, hambar kayak masakan saja.”
“Ya iyalaaah .... tambahin bumbunya dong De!”
“Makanya kakak dulu kuliah jangan di jurusan teknik!”
“Lalu? Jurusan apa seharusnya?”
“Tata boga!”
“Busyeeettttt.... adikku yang satu ini selalu nggak pernah bisa diajak serius.”
“Ya ini aku bercandanya juga serius!”
“De... sudahlah, nggak lucu! De dengarkan..... dengarkan .... dengar nggak?”
“Dengar Kaaak.....”
“Besok aku berangkat ke Bandung.”
“Iya.”
“Aku minta fotomu ya ..... kali ini sajaaa......” kata Aryo sambil menyiapkan kamera HP-nya.
“Nggak. Nggak mau.”
“Dede, keterlaluan. Ntar kalau aku kangen, aku harus ngliatin apa?”
“Ngliatin dosen hahaaa!”
“Dede! Keterlaluan. Ini serius. Mau ya? Dua gambar saja. Latar belakangnya itu ... kota Majalengka.”
“Nggak. Sekali nggak tetap nggak. Kalau mau yang di FB!”
“Nggak! Dede mah sengaja posting foto yang jelek-jelek! Jebing, molotot dan sejenisnya!”
“Ya sudah, memang begitu aku.”
“De, kalau nggak boleh dua, satu saja .... satuuuuu saja ya? Jawab ya gitu?!”
“Nggak! Nggaaak!”
“Kalau aku nangis?”
“Dosen kok nangis!”
“Tega De?”
“Buat apa fotoku?”
“Tapi janji ntar kalau aku sudah kasih alasan, mau difoto ya?”
“Nggaak!”
“Terus kapan aku dapat fotonya?”
“Kapan-kapan...”
“Ya iya, kapan-kapannya kapan?”
“Nggak tahu ah! Sudah, nggak... jangan bahas lagi!”
Hari itu Aryo Bimo berangkat kembali ke Bandung dengan kecewa. Sebenarya Nadila merasa tidak tega, tetapi entah kenapa ia bersikukuh untuk tidak mau difoto. Ia masih merasa, tak seharusnya pemuda itu menyimpan fotonya.
***
Bandung, kota Pendidikan.
Di ruang dosen, Aryo Bimo sendirian. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Nadila “Dede” Dirgantari di fakultas lain tak mendapat respon. Dosen muda itu mendesah. Berapa tahun ia mencoba  untuk mengerti watak gadis itu, tak pernah berhasil. Sejak gadis itu masih SMA, ia gagal untuk memahami sifatnya. Nadila adalah cadas yang sulit ditembus. Ketika saat ini keduanya telah sama-sama menjadi dosen, Aryo masih belum menemukan sifat Nadila yang sesungguhnya. Aneh. Ia kadang-kadang heran. Mengapa ia selalu percaya dalam hati, bahwa Nadila adalah orang baik. Tapi logikanya kadang membantah. Nadila kurang baik untuk dirinya. Bagaimana mungkin akan memulai, gadis itu tak pernah membuka jalan baginya untuk masuk dalam kehidupan pribadinya.
Selama ini hanya persahabatan? Ia benarkan itu. Tapi kini, Aryo mulai meragukan penerimaan gadis itu terhadap dirinya. Apalagi akhir-akhir  ini ia melihat kedekatan Nadila dengan seniornya. Ya, Nadila kini menjadi asisten dosen seniornya.
Ting! Ting! Ting! Nada panggil.
Aryo terhenyak. Dede mamanggilnya.
Iya hallo Dede ....”
“Kakak tadi menelpon ya?”
“Iya. Ada waktu De?”
“Emmm..... kayaknya nggak Kak. Hari ini juga aku harus mengolah data untuk penelitian. Itu yang blockgrand dari Jepang. Doktor Mirwan memintaku untuk fokus membantunya.”
“Sebentar saja De ...”
“Ini aku masih di dekatnya.”
“Ooooh .... ya sudah. Tapi, tolong dengarin aku sebentar saja ya ....”
“Apa Kak?”
“Menjauh sedikit dari Pak Mirwan ... cari tempat terlindung, aku mau tanya serius.”
“Berlindung? Wah kakak bisa saja, kayak mau berperang. Sudah niiih, aku sudah menjauh. Ada apa Kak?”
“De, maaf ya .... kayaknya Dede semakin dengan Doktor Mirwan ya?”
“Kak, kenapa tanya begitu?”
“Kemarin juga aku lihat Dede bareng dia, satu mobil.”
“Oooh kemarin? Itu ke rektorat Kak ...”
“Dede suka dengan Doktor Mirwan?”
“Emmm...... aaah.... apaan sih Kak Aryo! Sudahlah, maaf ya, lain kali kita sambung lagi.”
Ketika Nadila mematikan HP, Aryo hanya mendesah dalam. Rasanya sudah tak ada harapan lagi bagi dirinya mengharapkan Nadila lebih dari yang selama ini. Pemuda itu kecewa. Sangat kecewa.
Kesibukan melakukan penelitian atas biaya dari Jepang, membuat Nadila benar-benar melupakan Aryo. Aryo sendiri yang sudah merasa patah arang, tak banyak mengontak lagi. Untuk apa mengontak jika hanya kekecewaan berulang yang ia dapat?
Aryo Bimo yang semula tegar, kini runtuh ketegarannya. Ia mencoba menghapus semua kenangan, rancangan dan harapannya terhadap Nadila. Ia ganti semua nomor kontak dirinya. Ia ingin melupakan Bandung. Dalam waktu yang bersamaan, kedua orang tuanya yang perantau, pindah menjalani masa tua di kampung halamannya di Banten. Kini Bandung tak tersisa dalam hatinya. Majalengka pun tak tersisa dalam hidupnya. Ia tinggalkan kota Bandung tanpa memberi tahu Nadila, sama seperti Nadila yang tak pernah memberi tahu segala hal kepadanya seperti dulu.
Sepeninggal Aryo, sempat suatu ketika Nadila mencarinya.Namun gadis tak menemukan siapa-siapa. Menurut informasi, Aro telah resign dari perguruan tinggi itu, tanpa memberi tahu apa alasannya.
***
Forum Ilmiah ASEAN. Bandung suatu malam.
Gemerlap lampu ruangan sidang ilmiah “Satu Riset Untuk ASEAN Emas” begitu berwibawa. Nadila “Dede” Dirgantari tertunduk. Air matanya menitik. Dada gadis magister itu bergetar sebuah kebanggan berada di tengah ratusan pakar, ilmuwan dan mahasiswa terpilih.
Orasi berikutnya dari Malaysia. Mata Nadila melihat ke podium. Pembawa acara mengumumkan bahwa orasi yang seharusnya oleh Prof. Dr. Tuanku Daulat Amin, digantikan oleh pakar pengganti.
Aryo Bimo Wicaksono,P.Hd. dari Malaysia!
Dada Nadilabergetar. Aryo Bimo Wicaksono? Kak Aryo? Kak Aryoooo? Bibirnya bergetar mengeja nama itu. Mata Nadila terbelalak ketika melihat sosok yang berwibawa berjalan menuju ke podium diiringi sinar lampu tembak.
Masya Allaaahhhhh….. Aryo, Aryo Bimoooo! Kau Kak Aryo!
Kerongkongan gadis itu terasa tersumbat. Nafasnya tersengal-sengal. Yang dilihatnya adalah Aryo, ya Aryo Bimo yang dikenalnya. Perlahan ia mencoba menguasai dirinya. Beberapa jenak gadis itu bergulat dengan perasaannya yang membuncah. Orasi yang disampaikan doktor dari Malaysia itu sama sekali tak masuk dalam otaknya. Gadis itu tertunduk. Kedua telapak tangannya ditutupkan ke wajahnya. Ia menangis. Beberapa saat ia terisak.  Tak mampu menahan perasaan, gadis itu keluar ruangan. Langkahnya cepat meninggalkan Aryo yang masih memberikan orasi.
Menghirup udara luar ada perasaan berbeda. Kini dadanya dirasa cenderung ringan. Ia mencari tempat duduk. Disekanya air matanya. Dari luar terdengar sayup-sayup suara Aryo. Ya, suara yang dirindukan. Suara yang telah menghilang tanpa pesan.
Usai acara, gadis itu bersiap menjemput Aryo. Hingga hampir separo peserta pertemuan ilmiah keluar, gadis tak mendapati pemuda itu. Ketika ia menengok pelataran, ia melihat Aryo keluar lewat pintu samping membuka pintu mobil. Nadila mengejar sambil berteriak.
Kak Aryoooooooo!!!!!!
Teriakan yang cukup keras membuat Aryo menghentikan tangan yang membuka pintu mobil. Laki-laki diam sejenak, kemudian menoleh. Kini Nadila satu meter di hadapannya.
“Kak ... Kak ... Kak Aryo.... “ kata terbata-bata.
“Dede? Dede? Inikah Dede? Deee..... “
“Iya Kak, ini Dede... Nadila ...”
“Deeeee!” tanpa sadar laki-laki beranjak kemudian memeluk gadis yang didepannya. Membenamkan kepalanya di dadanya. Gadis itu kaget.
“Jangan Kaak!” kata Nadila sambil mendorong tubuh Aryo.
“Och... maaf, maaf.... aku tidak sadar....”
Beberapa  saat keduanya melangkah mundur. Nadila melihat wajah Aryo. Gadis itu masih tak percaya.  Ia menutup mulutnya. Perlahan air matanya meleleh.
“Sehat Dede? Apa kabarnya?” kata Aryo sambil mengulurkan tangan. Perlahan Nadila menyambut uluran tangan Aryo. Hati Nadila berdesir, kemudian jantungnya berdetak cepat ketika tangannya berada di genggaman Aryo. Perlahan gadis itu mencium tangan laki-laki itu. Sesuatu yang belum pernah ia lakukan sama sekali terhadap laki-laki selain ayahnya, kakek, paman dan uwaknya.
“Seh....sehat Kakak ..... “ kata Nadila masih menggenggam tangan Aryo. Ia seolah tak ingin melepas tangan itu untuk selamanya.
Gadis itu menangis sambil mencium tangan Aryo. Tangan laki-laki itu basah oleh air mata Nadila. Aryopun maklum, ia membiarkan tangannya digenggam lama oleh gadis itu.
“Sudah Dede.....” kata Aryo mengingatkan.
“Maafkan Dede ... maafkan Dede Kaaak....” kata Nadila sambil melepas tangan Aryo perlahan.
“Kenapa minta maaf?”
“Aku telah membuat Kak Aryo kecewa....”
Aryo mendesah dalam. Laki-laki itu menggelang perlahan. Bibirnya terkatub rapat. Di depannya baginya bukan mimpi, ya, itu adalah Nadila “Dede” Dirgantari, si hati cadas yang dulu ia kenal.  Dulu tak seperti ini. Seumur hidup, baru kali ini melihat gadis itu menangis. Dulu ia berfikir, gadis seperti Nadila tak bisa menangis.
“Ayo .... kita duduk di ruang dalam De....., nggak baik di sini...” ajak Aryo.
Nadila terdiam. Gadis itu hanya menurut ketika Aryo mengenggam jemarinya, membimbingnya masuk ke dalam. Keduanya duduk berhadapan.
“Dede minta maaf Kak...” kata Nadila memulai perkataan setelah beberapa saat keduanya diam.
“Kenapa?”
“Karena Dedelah Kak Aryo pergi. Pergi tanpa meninggalkan pesan sedikitpun.... “
“Bagaimana mungkin aku meninggalkan pesan De, dulu setiap aku hubungi, HP-mu selalu tidak aktif.”
“Dede salah kak. Tahukah kakak? Betapa aku merasa bersalah ketika aku mencari Kakak ke fakultas, katanya kakak resign. Tak ada orang di kampus yang tahu Kakak ke mana.....”
“Memang kakak kecewa waktu itu ... kecewaaa.... kecewa yang dalam banget De....”
“Maafkan Dede Kaaak..... Dede.... “
“Sudahlah Dede.... Kakak nggak apa-apa kok. Biarlah, mungkin ini takdir Kakak harus begini.”
“Kak, setelah aku cari Kakak di kampus tak ada, aku langsung ke Majalengka. Aku cari Kakak, apa yang terjadi Kak? Rumah Kakak sudah menjadi milik orang lain.”
“Iya De .... memang aku yang membawa kedua orang tuaku kembali ke kampung halaman. Ketika orang tua bertanya kenapa, aku sendiri tak bisa menjawab. Aku hanya ingin menghilangkan nama Majalengka dari pikiranku, dari hatiku.... kota yang pernah memberikan harapan besar, harapan besar untuk memiliki.. untuk memetik salah satu bunga .... tapi tak pernah kesampaian. Bahkan ketika dulu aku hanya sekedar meminta satu jepretan foto, aku tak mendapat ijinnya.....”
Nadila tersedot hatinya. Gadis itu menangis. Ia menelungkupkan wajahnya di meja, isaknya terdengar sangat jelas. Sementara Aryo menahan rasa tak keruan dalam dadanya. Laki-laki itu bersandar pada punggung kursi.
“Dede... sudahlah.... ayo dong .... sudah jangan nangis. Dede nggak salah, aku juga nggak apa-apa kok.” kata Aryo perlahan. Perlahan Dede mengehentikan tangisnya, masih tertelungkup wajahnya.
“Kakak... maafkan Dede ...”
“Nggak apa-apa De... nggak ada yang salah.”
“Aku ingin dengar kata maaf dari Kakak.”
“Nggak penting lah De. Oh iya? Bagaimana kabar suamimu? Doktor Mirwan?”
“Tidak tahu Kak... mungkin baik.”
“Apa? Kenapa mungkin baik?”
“Kenapa Kakak bertanya tentang suamiku?”
“Ya nggak apa-apa laah...”
“Doktor Mirwan sekarang di LA Kak, dia nikah dengan Jessie Alexia, mahasiswa tamu yang dulu dibimbingnya membuat tesis.”
“Ochhh......”
“Jadi kenapa Kakak harus bertanya mengaitkan Doktor Mirwan dengan aku?”
“Aku nggak tahu. Mungkin  .... mungkiiin..... “
“Kakak mengira seniorku itu menjadi suamiku?”
“Iya laah, dulu Dede sangat dekat dengan dia.”
“Sebagai asisten ya harus dekat Kak. Kakak harus bisa membedakan mana yang prive  mana yang pekerjaan.”
“Kadang-kadang kedekatan bisa menumbuhkan cinta De. Dede dengan Doktor Mirwan cocok.”
“Kalau cocok, kenapa nggak ngomong dari dulu?”
“Bagaimana mau ngomong, HP Dede selalu tidak aktif. Itu memang pertanda Dede sudah tidak mau lagi sahabatan dengan aku, dengan Aryo .... anak kampung ....”
“Kak, jangan bilang begitu. Sekarang semua orang sudah tahu, anak kampung itu telah menjelma menjadi manusia hebat, menjadi seorang doktor, seorang doktor dari Malaysia.”
“Doktor yang sakit hati.”
“Kak.”
“Doktor yang melarikan diri ke luar negeri karena telah kehilangan harapan..... “
“Maafkan Dede Kak...”
“Beruntung, sebab dulu ketika aku ke Malaysiapun sesungguhnya hampir gagal. Aku berjuang dalam hempasan badai. Pertama kehilangan harapan dari Dede, kedua, ibuku telah wafat......”
“Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun..... turut berduka cita Kak..... semoga amal ibadahnya diterima Allah. SWT....”
“Aamiin. Terima kasih doanya De.”
“Ibu sakit Kak?”
“Iya sakit. Ibu wafat di Jedah, tepat ketika beliau mau pulang dari menunaikan ibadah haji tahun lalu ........”
Sampai kalimat itu Aryo terdiam. Matanya kelihatan mengambang. Namun ia mencoba bertahan untuk melawan rasa yang berusaha mendesak ai matanya keluar. Hingga beberapa lama keduanya diam.
“Besok aku harus kembali ke Kuala Lumpur De.....”
“Och... secepat itu Kak?”
“Iya. Lusa aku harus memberi kuliah para mahasiswaku.”
“Maafin Dede Kak.... sebenarnya .... ah, tidak, tidak. Salam buat keluarga ya Kak?”
“Dede... keluarga yang mana?”
“Yang di Kuala Lumpur.’
“Dede, sebenarnya Kakak baru merencanakan sebuah keluarga saja. Mungkin sebentar lagi jika. Itupun jika dia mau.... biarlah, karena Dede sahabat sejak SMA, walaupun sahabat yang pelit .... yang tak pernah mau memberi aku foto.... , sekarang akan aku perlihatkan orang yang mungkin mau berkeluarga denganku. Lihatlah ini Dede, seperti.... sepertinya dia yang bakal menjadi calon istriku .....”
Aryo mengeluarkan laptop. Beberapa saat keduanya menunggu layar aktif. Nadila mendesah. Hatinya kecewa saat ini dirinya bakal tahu dengan siapa Aryo akan menambatkan hatinya. Dalam kekecewaan? Dalam pelarian? Itu pertanyaan Nadila.
Ketika desktop terbuka, Nadila terhenyak. Bibirnya bergetar. Matanya kembali terasa panas. Ia melihat gambar wanita di desktop laptop Arya. Ya, gambar dirinya.
“Kakaaak..... ini .... ini..... “
“Ini Dede... Nadila Dirgantari..... ini... ini mungkin yang menjadi calon istriku.....”
“Kakak.... kakak dari mana dapat gambar Dede?”
“Kalau seorang laki-laki mencintai wanita, apapun akan diperjuangkan De .... kayak prinsip ayah Dede yang militer itu, semua harus dihadapi dan diperjuangkan.”
“Kakak dari mana dapat gambar Dede?!”
“De, ingat nggak, dulu kakak pernah pinjam flashdisk.”
“Aaaa... iya ....”
“Dari benda itulah. Maaf De .... Dede tahu nggak betapa sampai aku jadi dosen, Dede tak pernah memberikan ijin untuk menyimpan foto Dede satupun. Sakiiit De .... memendam keinginan itu sakit. Makanya niatku ini bukan mencuri, tapi pinjam. Ijinnya sekarang, boleh ya De ..... ijinkan foto Dede ada di laptopku. Setiap aku memberi kuliah, aku tayangkan, maka yang pertama kali aku lihat adalah Dede. De.... Deeee ijinkan ya? Ayooo dooong.... ” kata Aryo meminta.
Lama Nadila tak menjawab pertanyaan Aryo. Laki-laki itu mendesah dalam.
“Hmh... akankan aku gagal lagi?”
“Kaaak....”
“Apa De?”
“Yah...... Dede ijinkan .....” kata Nadila hampir tak kedengaran.
Raut wajah Aryo tampak bahagia. Laki-laki itu tersenyum sambil menatap mata Nadila. Nadila memgalihkan pandangan. Ada rasa bahagia dalam diri Nadila. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Aryo Bimo menyimpan gambarnya di dalam pelariannya ke Malaysia.
“Dede ..... lihat gambar Dede.” panggil Aryo.
“Iya Kak.... “ Nadila menoleh.
“Lihatlah gambar Dede, begitu cantiknya, cantiiiikk..... hhhh, ini, ini, senyum Dede inilah  yang mempesona aku sejak dulu. Sayang dulu Dede selalu ketus dan sulit ditebak apa maunya. Tapi hari ini, aku, Aryo Bimo nekad, apapun yang terjadi, apapun respon Dede ......”
“Apa Kak?”
“Ijinkan Kakak untuk mencintai gadis yang gambarnya jadi walllpaper ini ......”
“Kaa..k.”
“Boleh ya cantiiik..... ijinkan kali iniiii saja .....”
“Hmh..... “
“Nadila, Dede,.. tak cukupkah kekecewaan kakak yang Dede sudah tahu, mencairkan si hati cadas?”
“Aku bukan si hati cadas Kaaak... aku ...”
“Ijinkan ya ....ijinkan ya......”
“Yaaa.....”
Alhamdulillaaaaahhhhhh!
Nadila melihat betapa sinar mata Aryo bahagia. Laki-laki itu bersandar di kursi, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ketika tangan itu dibuka, senyum Aryo tampak mengambang.
“Terima kasih Dede.... Dede....... berapa tahun kamu permainkan hati kakak Deee.... Dedeee....”
“Nggak tahu Kaaak....”
“Dede .... lihat Kakak dong .....”
“Apa Kak?”
“Kakak akan kembali ke Kuala Lumpur besok.”
“Iya Kakak, semoga selamat, lancar segalanya.”
“Di Kuala Lumpur aku mau langsung packing!”
“Mau ke mana lagi Kak?”
“Ke Indonesia lagi, kembali ke  Bandung.... ke Bandung, untuk Dede-ku, Nadila Dirgantari-ku aku ingin tinggal di Bandung selamanya..... bersama Dede.... “
“Kakak....”
“Dede, Kakak mencintai Dede...... “
“Hmh.... iya, Dede juga...... mencintai... mencintai Kakaaak.....”
Nadila melihat wajah Aryo Bimo begitu bahagia. Gadis itu menitikkan air mata. Ia ingat benar betapa sudah ratusan kali sejak bertemu dengan Aryo, tak pernah memberinya harapan yang membahagiakan. Ingat semua itu rasa cintanya mendadak tumbuh menjadi sangat dalam. Dulu bagi Nadila, bibit-bibit itu telah ada. Hari ini bibit-bibit itu tumbuh subur setelah bertemu kembali dengan laki-laki tampan itu, Aryo Bimo. ***

Majalengka, 13 April 2016