Jumat, 28 Oktober 2016

Terbaru 2020 - Cerpen Remaja: Souvenir Dari Pulau Dewata

Blog Pendidikan



Jam 14.00 telah lewat.
Salma telah menunggu panggilan dari Pak Bintang Fajar, dosennya, setengah jam yang lalu. Gadis itu gelisah. Menunggu, gelisah. Mau dipanggil masalah apa, juga gelisah. Apalagi cuaca semakin mendung. Membuka WA menambah pikiran tak keruan. WA isinya banyak yang tak penting. Mau membaca, tak membawa buku bacaan. Mau membaca bahan kuliah tadi pagi, masih ingat.
Ting! Ting!
Salma terhenyak. Telephon masuk. Afnan! Gumamnya.
“Hai Salmaaa...... lagi bengong ya?!”
“Kok tahu?” Salma kaget. Pertanyaan sahabatnya itu begitu tepat mengena.
“Hehee..... dari dulu juga begitu! Kalau sendirian pasti bengong.”
“Aaaaah.... kamu Nan! Kirain kamu sudah jadi dukun ramal. Ramalanmu tepat!”
“Whahaha! Kamu Sal! Aku mau liburan niiih ..... kutinggalkan Yogya untuk sementara, kita ketemuan hari Minggu besok! Kita main ke Panyaweuyan! Lihat terasering, juga akan kukenalkan kamu ke seseorang!”
“Aduuuh.... ngabibita bae Afnan , eh siapa dia? Calonmu kah? Tapi...... aku aduuuh maaf Nan .... maaaaf....”
“Maksudnya?”
“Ngg..... ntar ya Nan, ntar kita sambung lagi!”
Salma buru-buru memutus telephone dengan sahabatnya. Pak Bintang melampaikan tangan memberi isyarat memanggil dirinya. Ia tak peduli apa kata Afnan nanti. Gadis itu lebih takut jika dosennya marah. Urusannya dengan nilai. Jika yang marah Afnan, urusannya
gampang. Dipuji cantik saja pasti luluh marahnya.
Dengan menata nafas, meredakan detak jantung, Salma berjalan meninggalkan kursi taman yang berada di kompleks depan ruangan dosen. Satu langkahnya mendekat ke arah Pak Bintang, dosen muda yang ganteng.
“Salma ... ayo masuk. Bapak ada perlu sedikit.” kata laki-laki itu sambil mendahului masuk ruangan.
“Iya Pak...”
Salma masuk ruangan yang lumayan luas. Ada tiga sekat untuk empat dosen, dengan satu sofa untuk menerima tamu empat dosen tersebut. Ruangan lain demikian pula.
Satu dosen yang ada di ruang sekatan sebelah keluar melewati Pak Bintang dan Salma. Laki-laki itu mengagguk ke arah rekannya.
“Mau ke mana Pak?” tanya Pak Bintang.
“Konsul ke Purek Tiga, untuk acara bakti mahasiswa.”
“Ooo.. silakan.”
“Calon asisten nih?”
“Iya nih, bibit unggul.” Kata Pak Bintang sambil terkekeh.
Mendengar dialog seperti itu hati Salma berdebar. Asisten? Sama sekali tak pernah terlintas kata-kata itu dalam dirinya. Tapi ia hanya membatin dalam. Itu hanyalah kata basa-basi kedua dosen itu.
“Salma .... Bapak minta maaf, menghambat kamu pulang.”
“Enggak Pak.”
“Kamu tahu kenapa Bapak memanggilmu ke sini?”
“Enggak.”
“Kamu tahu Pak Wardana bilang apa ke Bapak?”
“Enggak.”
“Ituuuu.... pertanyaan singkat beliau.”
“Oooo ... asisten?”
“Ya itu!”
“Maksudnya apa Pak?”
“Nilai UTS kamu paling bagus. Bapak berkesan banget. Pekerjaanmu sempurna, sudah itu tulisanmu bagus lagi. Bapak suka.”
“Och...”
“Kamu suka mendengarnya?”
“Iya, iya, suka Pak. Alhamdulillah .. terima kasih atas nilainya.”
“Mau bantu Bapak nggak?”
“Bantu apa?”
“Mengoreksi hasil UTS kelas lain.”
“Apa Pak?!” Salma kaget.
“Kebetulan Bapak juga mengajar di universitas lain.” kata Pak Bintang sambil menyebut sebuah perguruan tinggai swasta yang ternama di kota kembang ini.
“Maksudnya mengoreksi apa Pak?”
“Salma, Salmaa...  mengoreksi itu ya mengoreksi hasil UTS mahasiswa lain. Diperiksa, yang benar diberi tanda, yang salah dicoret, diberi skore ... nanti baru diolah jadi nilai sementara. Bisa?”
“Tapi Pak?”
“Kamu pasti bisa kok!”
Sore itu adalah pengalaman baru bagi Salma. Mahasiswa semester tujuh itu tak membayangkan sama sekali bahwa di dalam tas-nya terdapat berkas-berkas UTS para mahasiswa. Mengoreksi? Apakah sama seperti yang dilakukan oleh para asisten dosen? Juga oleh para dosen.
Ini bagaikan mimpi. Memang ia sadar kata-kata Pak Bintang. Hasil UTS-nya terbaik. Dan memang gadis itu juga merasakan ketika mengerjakan UTS tak ada hambatan sama sekali. Jika nilainya bagus, itu wajar. Yang tidak wajar adalah ketika tiba-tiba saja Pak Bintang menyuruh dirinya membantu mengoreksi. Mungkinkah begini jalan menjadi asisten dosen?
Asisten Dosen? Dosen? Menjadi dosen? Rasanya lucu. Bahkan belum pernah terpikir. Ia kuliah mengejar cita-cita menjadi praktisi ilmu. Bukan semacam dosen yang lebih banyak bergulat di dunia teoterik. Ini menurut pandangannya. Mungkin gadis itu juga belum tahu, bahwa di samping pekerjaan menjadi dosen, banyak dosen yang menjadi praktisi. Menjadi konsultan perusahaan, lembaga pemerintah atau swasta dan sebagainya.
  
Pukul lima sore Salma mengurung diri di kamar kost.
Tak biasanya. Jam-jam seperti itu biasanya ia memilih keluar mencari persiapan makan malam dengan teman satu kosan, tetapi kali ini tidak. Ia telah membelinya di pinggir jalan dekat kampusnya tadi. Maka ketika teman lain mengajak keluar, ia menolak dengan halus dengan dalih ada tugas mendadak. Dan memang pekerjaan dari Pak Bintang adalah tugas mendadak.
Afnan!
Ia ingat bahwa tadi siang telepon dengan sahabatnya itu terputus. Sambil rebahan di kasur ia menelpon Afnan.
“Ngapain nelpon segala! Malas ah!” kata Afnan di seberang.
Eeeh .... ada alasannya Nan! Ini ada misteri! Makanya aku putus telepon tadi!”
“Misteri apaan?”
“Aku mau jadi asisten dosen haha!”
“Hah? Asisten dosen?”
“Tadi itu aku sedang nelpon kamu, aku dipanggil Pak Dosen itu. Makanya aku tutup teleponmu.”
“Wuaahhh..... Sal .... terus gimana dongengnya sih?”
Dengan penuh semangat Salma bercerita tentang kronologi dirinya diminta membantu dosennya. Dengan sabar juga Afnan mendengarkan cerita Salma. Usai bercerita, Afnan mengusulkan:
Minggu besok wajib kita ketemuan. Aku ingin tahu kaya apa wajah asisten dosen yang baru haha!”
“Aaah bisa saja kamu Nan!”
“Sambil kamu bawa pulang tuh koreksian ke Majalengka! Aku nggak percaya kamu cerita gitu.”
“Astaghfirullaaaah Afnan! Segitunya kamu ya! Masa sama sahabat sendiri kamu nggak percaya?”
“Kalau urusan cowok sih aku percaya! Kamu nggak pernah bohong ke aku kalau kamu selalu jomblo!”
“Aaaahhh... Afnaaaan!”
“Tapi kalau ini urusan pekerjaan, aku nggak percaya!”
“Iya, iya, ntar besok pagi aku pulang. Koreksian aku bawa pulang. Minggu ketemuan. Tapi jangan di Panyaweuyan! Terlalu jauh! Di alun-alun saja!”
“Uuuh enak di kamu, dekat rumah. Di Gunung Panten, kita naik gantole bareng!”
“Terserah kamu laaah!”
Malam itu malam yang penuh sensasi. Ballpoint merah yang selama ini hanya ia lihat dipegang oleh para gurunya semasa di SMA, kini ada di tangannya. Coretan merah. Guratanku? Batinnya. Asisten dosen? Oooh .... bukan! Jauh, aku hanya membantu Pak Bintang.

***
Minggu siang.
Kedua sahabat itu akhirnya mengambil keputusan yang berbeda dengan sebelumnya. Tidak ke Panyaweuyan, tidak pula ke Gunung Panten.
Kita bertemu di kantin sekolah saja! Masing-masing bawa camilan!”
Telah tiga tahun mereka meninggalkan SMAN 1 Majalengka. Sementara almamaternya itu masih belum banyak berubah. Jika hari Minggu, hanya ada dua orang penjaga yang piket. Sementara gerbang kecil di sebelah timur gerbang utama tetap familiar, terbuka untuk siapa saja yang mau beraktivitas di hari Minggu. Ada yang bermain basket, baik di lapangan luar maupun lapangan dalam. Ada yang bergerombol memanfaatkan wifi  gratis juga bisa.
“Hey cantik, mana? Katanya ada yang mau kamu kenalkan sama aku?” tanya Salma ketika keduanya sudah duduk bareng di kantin.
“Aduuh .... sayang sekali Sal, kemarin Arjuno nggak jadi ikut ke sini. Mendadak ada acara di Surabaya dengan keluarganya.” jawab Afnan sambil membuka wadah camilan.
“Jadi nama orang itu Arjuno? Orang Yogya?”
“Hehee... iya ... iya ..... orang sono asli.”
“Nan, hati-hati lho.... menurut cerita pewayangan, Arjuno itu ksatria yang punya banyak kekasih lho!” kata Salma menggoda.
“Biar saja! Itu kan di pewayangan! Yang ini kan di dunia nyata. Nama Arjuno itu, afiliasinya bukan ke masalah dia punya banyak wanita, tetapi dari segi gantengnya. Pendiamnya. Sifat menaknya yang sopan santun. Bicara pelan ... uh.... gitu Saaal .... jangan merusak acara!”
“Hihihi!”
“Kamu tuuuh, dari SMA sampai sekarang jomblo melulu. Ada yang suka malah didiemin!”
“Hah? Siapa yang suka?”
“Itu kakak kelasmu! Aktivis!”
“Kak Andra?”
“Ya iyalaah .. siapa lagi.”
“Nggak tahulah Nan. Dari dulu dia orangnya misterius. Sayang, dia pernah memberi aku harapan, walaupun hanya sekali, dan tidak terlalu serius. Tapi ... Afnaaan... Afnan, entah karena aku pernah diberi harapan sedikit, ibarat sebutir debu, tapi bagi aku, aku anggap dia serius.:
“Caranya kamu menganggap Kak Andra serius bagaimana?”
“Ya kuadukan laah!”
“Kolokan! Gitu saja kamu adukan ke orang tua!”
“Waaahhhh... waaahhh..... kamu salah menangkap kata-katamu. Aku belum ngomong! Memang tempat mengadu itu cuma orang tua? Ayah ibu? Kakek? Uwak? Paman? Ya nggak laah!”
“Terus ngadu ke siapa?”
“Ke Tuhan!”
“Wuaaahhh.... sudah nggak main-main nih kalau sudah sampai ngadu ke Tuhan.”
“Tapi memang begitulah. Aku jarang menganggap siapapun main-main. Aku selalu khusnudzon, selalu berprasangka baik kepada siapa saja.”
“Wuiiihhhh...... hebat Salma!”
“Heheeee...... bercanda, bercandaaa....!”
“Ah kamu Sal .... kirain serius! Ya sudah, gini nih aku penasaran banget kebarmu tempo hari. Jadi bener kamu diminta membantu dosenmu mengoreksi hasil UAS?”
“Bener niiih... nih aku bawa. Malam ntar aku koreksi, Senin aku mbalik lagi ke Bandung.” Kata Salma sambil mengeluarkan amplop berisi hasil UTS. Afnan memegang kemudian melihat isinya. Gadis sahabatnya itu hanya menggeleng perlahan.
“Hebat ... hebat .... calon dosen niiih .....”
“Apa aku bisa Nan? Aku nggak kepikir jadi dosen lho, tapi ketika kemarin Pak Bintang meminta aku membantunya, sepertinya ada pikiran pengen jadi dosen juga sih. Yaaaah.... walaupun keinginan itu baru seujung rambut.”
“Mau jadi dosen, jadi ibu dosen atau nyonya dosen?”
“Apaan sih?”
“Jadi dosen jalannya panjang, nah kalau mau jadi nyonya dosen, lebih cepat.”
“Nggak ngerti!”
“Itu dosen yang nyuruh kamu, orangnya muda apa tua?”
“Muda.”
“Sudah punya istri?”
“Ya nggak tahu laaaaah!”
“Umurnya jauh dengan kita nggak?”
“Mmm .... paling beda dua atau tiga tahun dengan kita. Perasaan ketika aku mulai masuk kuliah, dia belum jadi dosen. Tapi sering bolak-balik ke wilayah kantor dosen.”
“Kamu hafal?”
“Dia ganteng Naaan....!”
“Aduuuuh ..... sudaaah ..... ketahuan Saaal! Itu ... aduuuh Sal, kamu harus hati-hati.”
“Hati-hati kenapa?”
“Ya aneh laaah ... mana ada dosen muda mengangkat asisten. Ada juga modus! Awas kamu Sal!”
“Awas apa! Aku laporin Kak Andra!”
“Apa urusannya dengan Kak Andra?”
“Yaaaahhh ... kan dulu di SMA ini kamu pernah dekat.”
“Dekat apaan? Dia yang mendekati, aku yang berfikir. Eh, dia malah misterius. Nggak tahu apa maksudnya dia.”
“Ya kamu sendiri sampai sekarang nggak ada gacoan!”
“Itu artinya aku dilindungi Tuhan. Biar kuliahku lancar nggak ada gangguan!”
“Tapi gangguan malah dari dosen!”
“Uuuh .. nggak tahu lah Nan!”
Malam hari.
Mengoreksi hasil UTS sudah beres. Punggung dirasa pegal. Salma merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya menatap dinding. Banyak foto kenangan dirinya ketika di SMA masih terpajang di sana. Ketika bersama dengan Andra, kakak kelas gadis itu yang pernah membawa harapan datang kepadanya, tetapi kemudian padam kembali. Salma menyebutnya kakak misterius. Kakak yang yang sulit diduga hatinya.
Perlahan ia terlelap.
Salma ingat, dulu ketika ia mengantar Andra meninggalkan almamater SMA, pemuda itu datang menemui dirinya.
“Ingat pesan Kakak .... “
“Pesan yang mana? Pesan Kak Andra banyak banget.”
“Nggak boleh pacaran dulu.”
“Oooh... “
“Kalau menanam perasaan sih nggak apa-apa, tapi ntar semuanya akan ditentukan oleh takdir. Salma masih kecil, baru juga naik ke kelas XII.”
“Ya Kakak misterius. Kakak juga, baru juga lulus, nasehatnya kayak orang tua ....”
“Iiihhhh.... bisa saja Salma. Eh, gini Salma, mau dong Kakak dikasih kenang-kenangan.”
“Boleh, minta kenang-kenangan apa? Pulpen? Gantungan kunci? HP?”
“Nggak ... nggak mau itu, itu barang-barang pabrik! Nggak ada seninya sama sekali. Salma kan pinter melukis.... kalau punya lukisan yang bagus, bolehlah aku simpan.”
“Benar? Mau lukisan kecil?”
“Mau doong...”
“Tunggu sebentar...”
Salma masuk. Beberapa saaat kemudian gadir itu keluar sambil membawa lukisan kecil. Andra terperangah.
“Iniiii.... waaah.... bagus banget Salma!”
“Ah gini saja dibilang bagus!”
“Bagus. Asli .... warnanya .... aduuuh......”
“Tapi belum ada piguranya.”
“Ntar aku pasang pigura.... “ kata Andra sambil menerima lukisan itu. Beberapa saat mata Andra menatap lukisan. Mungkin ia mencari makna yang ada dalam setiap guratan jemari gadis yang di dekatnya.



“Kenapa warnanya ungu Salma?”
“Nggak tahu.”
“Kesendiriankah?”
“Nggak tahu.”
“Terus, bulannya? Kenapa ada tiga? Emmm..... aku ramal nih Salma.”
“Ramal apaan?”
“Tiga tahun lagi Salma bakal punya sejarah dalam hidup. Ya, sejarah ..... tunggu suatu saat. Kita akan buktikan bersama.”
“Kita?” tanya Salma heran.
“Ya kita. Andra dan Salma.”
“Kakak misterius...”
“Kita juga harus berpisah selama tiga tahun, seperti bulan ini, tiga buah bulan yang terpisah....”
Salma tidak paham apa maksud kata-kata Andra. Sejak ia mengenal Andra, pemuda itu memang sulit ditebak. Ia tampil dengan gayanya sendiri. Tak ada keterus terangan. Selalu saja bahasa-bahasa yang tak pernah ia mengerti. Bahkan tentang ramalan tiga tahun akan ada sejarah dalam hidupnya.
***

Suatu kali di kampus, Salma kaget.
Andra datang. Tak ada kabar berita pendahuluan. Entah ada urusan apa pemuda itu datang. Seperti apa yang pernah ia katakan dulu, tiga tahun berpisah. Berpisah juga sebenarnya bukan sesungguhnya. Acapkali pemuda itu bertemu dirinya, tak ada cerita apa-apa.
“Ada apa Kak Andra datang? Tumben.”
“Jangan begitu. Ini sudah tiga tahun Salma. Ternyata ramalanku benar adanya. Ada sejarah dalam diri Salma. Sayang sekali bukan sejarah tentang kita.”
“Ada apa Kak?”
“Aku baru tahu dari Afnan, sahabat kita. Salma sekarang sudah dekat dengan seorang dosen di sini?”
“Kalau iya, memangnya kenapa?”
“Bukan sejarah semacam ini yang aku harapkan Salma. Tetapi sejarah tentang kita! Waktunya memang benar, tiga tahun! Tapi .... tapiii... apa Salma tidak paham apa yang aku katakan?”
“Kak Andra tak pernah mengatakan apa-apa yang harus aku pertanggungjawabkan.”
“Aku pernah meminta kenang-kenangan. Lukisan itu. Aku pernah berjanji juga ....”
“Janji yang mana?”
“Aku akan ajak Salma keliling dunia ... kalau aku sudah sukses nanti! Bukankah aku pernah katakan itu?”
“Iya. Ingat, tetapi Kak Andra katakan itu sambil tertawa! Itu artinya bercanda.”
“Bukan Salma, tertawa itu artinya aku gembira.”
“Bagaimana mungkin aku percaya?”
“Oke! Akhir semester ini, Salma aku ajak ke Bali. Ke Bali dulu yang dekat, ntar suatu saat aku ajak keliling dunia. Mau ke mana? Ke Seoul? Tokyo? Istanbul? Paris?”
“Kakak serius?”
“Dari dulu aku serius Salma. Hanya mungkin aku beda dengan orang lain. Aku memang suka hidup di dunia yang mirip fiksi. Ada riak-riak, ada kekhawatiran, ada pesan, ada misteri.”
“Hmh....”
“Akhir semester kita berlibur ke Bali, berdua. Emh.. maaf, bertiga, dengan Andari, adikku. Biar dia yang menemani Kak Salma-nya di perjalanan.”
Salma mendesah. Kalimat Andra benar-benar lugas. Tak ada basa-basi.
Tak urung gadis itu berfikir, apakah sejarah setelah tiga tahun itu tentang dosennya, Pak Bintang, ataukah dengan Andra, kakak kelas yang misterius?
Hhhh..... gadis itu mengulang desahnya mengulang desahnya.
***
Atas seijin orang tuanya, Salma berangkat ke Bali.
Mereka bertiga. Andra, Andari dan Salma sendiri. Semua telah dirancang oleh Andra. Andra pesan dua kamar, satu untuk dirinya, satu untuk Salma dan Andari.

Pagi setelah sarapan di hotel Puri Dibia, ketiganya telah siap untuk berkeliling. Andra keluar sejenak melihat mobil travel yang dicarternya untuk berkeliling pula Dewata.
“Pagi ini acara kita ke Kuta, tempat paling dekat dengan hotel kita. Setelah itu kita ke Tanah Lot di utara Kuta, Bedugul, terasering Tegalalang, terus ke Kintamani.” kata Andra setelah menemui pemandu wisata di luar.
“Kak .... kita keluar sebentar....” kata Salma memberi isyarat kepada Andra. Andra mahfum apa yang akan dikatakan Salma tidak perlu kedengaran oleh adiknya.
“Ada apa?”
“Kak Andra... kita nggak perlu ke Kuta.”
“Aduuh Salmaaa.... Kuta itu salah satu ikon Bali. Kenapa?”
“Pokoknya nggak boleh.”
“Iya tapi apa alasannya?”
“Kalau Kak Andra maksa, aku mau pulang hari ini juga.”
“Iya tapi apa alasannya?”
“Untuk kebaikan De Andari .... juga untuk Kak Andra. Aku nggak rela kakak ke Kuta. Terjemahkan sendiri!” kata Salma ketus.
Tak urung Andra merenung beberapa jenak. Setelah itu pemuda itu mendekati Salma, berdiri di hadapannya. Kedua lengannya dibuka dengan diringi senyumnya.
“Okeee..... kita nggak ke Kuta.”
“Trims.”
“Kok trims? Terima kasih gitu.”
“Terima kasih.”
“Kok nggak pakai kak?”
“Terima kasih Kak Andraaa....” kata Salma hampir tak kedengaran. Gadis itu menahan malu didikte oleh Andra. Muka gadis itu memerah.
“Hmmhhsss .... Salma, kalau sedang malu gini ... uuuh... tambah cantiiiikk..... uh!” kata Andra sambil menepok jidat sendiri.
“Ngaco ah!”
“Salma ... ternyata kamu misterius juga. Pagi-pagi membuat teka-teki dalam hatiku, aku menjawab. Tapi juga tidak tahu apakah jawabanku benar.... terima kasih Salma! “
Akhirnya diputuskan hari itu obyek wisata ke wilayah utara, minus pantai Kuta. Sementara di hari kedua direncakan ke wilayah selatan semacam obyek wisata patung Garuda Whisnu Kencana.
Di hari kedua sore hari mereka bertiga berkunjung ke Joger, pusat souvenir unik Pabrik Kata-kata. Tempat yang tak jauh dari hotel tempat menginap membuat mereka nyaman untuk berbelanja. Banyak ragam T-shirt dengan tulisan unik kreatif. Batik pantai khas Bali. Clana dengan disain yang bermacam-macam. Aneka sandal, dan masih banyak lagi.
Salma membeli bebarapa potong T-shirt untuk oleh-oleh keluarga di Majalengka. Di sebuah sudut etalase Salma mengambil sehelai T-Shirt warna putih. Ia terpesona dengan kata-kata yang tertulis di sana. Ia memisahkan barang yang satu itu untuk Andra.
Di lobby hotel ketiganya duduk-duduk sambil menanti malam sambil menunggu jemputan yang akan membawanya ke bandara Ngurah Rai malam nanti.
“Ini untuk De Andari kakak kasih hadiah sendal lucu, sama kaos lucu juga .... “ kata Salma sambil memberikan bingkisan kepada adik Andra.
“Waaahhh ..... terima kasih hadiahnya. Tapi memangnya hadiah apa?” kata gadis kecil SMP berlagak pilon.
“Ya hadiah nemenin kakak selama di sini.”
“Hihihi.... iya.... jadi tahu Bali nih Kak. Habisnya Kak Andra si yang ngajak, tabungannya banyak si kakak itu ... ntar kan ada hadiah dari kak Andra juga.”
“Uuuh kamu serakah Anda!” sergah Andra menimpali kata-kata adiknya.
“Biar... Kak Salma, Kak Andra ... Anda masuk dulu ya ... mau cobain nih kaos. Mau langsung dipakai ntar malam naik pesawat!”
Andari masuk ke kamar. Salma dan Andra berpandangan sejenak.
“Kalau Ini hadiah untuk Kak Andra ... semoga suka...” kata Salma seraya memberikan tas berlabel Joger.
“Apa ini?”
“Terima kasih sudah diajak main ke Bali. Aku baru bisa membalas dengan kaos saja ....”
“Jangan begitu Salma ... ini bukan perjalanan bisnis. Ini perjalanan untuk menguji kepercayaan.”
“Hmh... misterius lagi...”
“Nggak .... nggak .... maaf... jangan diambil hati.”
Menjelang matahari terbenam, keduanya duduk di pelataran hotel. Perlahan Andra membuka bungkusan hadiah dari Salma. Salma menunduk. Sejenak setelah kaos dibuka, Andra membaca tulisan yang ada di sana.



"Kesuksesan yang paling sukses itu adalah berhasil memiliki, merawat dan menumbuhkembangkan kehidupan yang bahagia (penuh rasa syukur) di dunia yang fana dan penuh misteri ini untuk kemudian berharap jiwa kita layak diterima oleh Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Kuasa di surga kelak."

“Salma....”
“Ya Kak?”
“Kaos ini untukku?”
“Iya untuk Kakak.”
“Beserta tulisannya?”
“Semuanya.”
“Beserta maknanya?”
“Jika Kak Andra suka, ambillah beserta maknanya. Jika tidak, pakailah kaosnya saja. Mungkin saya bisa tersenyum lihat kakak memakai kaos yang lucu.”
“Aku suka.”
“Hanya ini souvenirku untuk Kak Andra. Tak banyak....., souvenir dari Bali ... dari Pulau Dewata. ” kata Salma sambil menggurat-gurat lantai halaman hotel dengan ranting yang diambil dekat kakinya.
“Salma .... lihat aku....” kata Andra meminta.
“Ya Kak..” kata Salma sekilas.
“Kenapa kita selalu bermain lewat media? Kenapa dari dulu kita tak pernah berterus terang. Kenapa kita selalu begini menebak-nebak.”
“Memang begini adanya ... tiga tahun tak pernah ada sesuatu yang pasti.”
“Salma ... aku ingin menguji takdir. Aku bukan peramal, namun aku merasakan tiga tahun setelah kita perpisah ... akan ada sejarah. Dan yang aku harap memang sejarah tentang kita, bukan yang lain.”
“Hmh....”
“Salma, terima kasih souvenirnya. Aku suka sekali. Kalimatnya indah. Maknanya dalam. Tetapi aku  yang aku inginkan bukan souvenir yang seperti ini ....”
“Kak?”
“Aku ingin souvenir dari Majalengka.”
“Bukannya dulu Kakak sudah simpan lukisanku.”
“Bukan itu.”
“Lalu apa?”
“Souvenir dari Majalengka. Souvenir yang indah tiada tara. Souvenir yang akan menjadi sejarah setelah tiga tahun aku uji takdirnya.”
“Apa Kak?”
“Ingin tahu souvenirnya?”
“Yah.”
“Souvenirnya adalah gadis Majalengka, yang aku kenal sejak dulu. Sekarang gadis itu ada di dekatku....”
Salma tertunduk dalam mendengar kata-kata Andra yang begitu jelas. Mata gadis itu serasa panas. Ada air mata yang mengambang perlahan.
“Gadis yang melarangku mengunjungi pantai Kuta, karena ketidakrelaanya. Larangannya adalah souvenir yang tak ternilai bagi Andra, gadis yang peduli kepada Andra. Andra yang misterius bagi Salma. Gadis ini... yang aku harapkan menjadi sejarah, menjadi kakak Andari yang sesungguhnya....”
Salma menahan gejolak di dadanya. Tak urung ia meneteskan air mata. Kata-kata itu baru ia dengar kali ini. Kata-kata yang ia nantikan sejak dahulu. Kata-kata yang tak bermakna ganda. Adapun halnya dengan Pak Bintang, dosennya, sama sekali tak ada tempat di hatinya walaupun Salma tahu laki-laki itu menyukainya. Memang sejak SMA dulu ia selalu berharap hanya kepada hanya satu laki-laki. Andra.
Maghrib datang di jalan raya Kuta. Langit di atas hotel Puri Dibia semburat jingga. Kenangannya tak akan ia lupakan. Malam itu hatinya sangat bersyukur. Pesawat telah membawanya meninggalkan bandara Ngurah Rai. Di atas ketinggian, ia rasakan bahagia yang sesungguhnya. Sesekali ia menoleh ke arah Andra. Andra membalasnya dengan senyum sedikit. Penuh misteri. Tapi kini Salma telah tahu, apa yang ada di balik misteri itu. Ada cinta Andra. ***
Majalengka, 28 Oktober 2016

* Request Salma Aulia Salsabila – XII MIPA 7

    SMAN 1 Majalengka 2016/2017 

Minggu, 23 Oktober 2016

Bersiap-siap Terbitkan Buku Kumpulan Cerpen Lagi

Blog Pendidikan

Menulis bagi saya merupakan hobby.
Buku bagi saya adalah arsip. Dan lebih banyak sebagai hadiah untuk memotivasi murid-murid saya untuk gemar membaca. Mudah-mudahan bisa menjadi shodaqoh motivasi.
Tapi jika ada yang beli ya dilayani.




ini adalah rancangan cover.

Isi sudah siap , cerpen request remaja (siswa SMA dan mahasiswa) ada 15, cerpen dewasa ada 5.
Masih menunggu finishing 2 request dan 1 cerpen dewasa.
Insya Allah akhir November 2016 - naik cetak untuk catatan akhir tahun.
Update:
Tanggal 12 Januari 2017 tengah dicetak dan diterbitkan di Penerbit Herya Media Bogor.
Dari penerbit :


Semoga Tepat. Aamiin.

Terbaru 2020 - Cerpen Remaja: Skenario di Gerbong Argo Lawu

Blog Pendidikan


Cerpen ini copian yang saya unggah di akun www.kompasiana.com/didik_sedyadi pada Jumat 21 Oktober 2016. Cerpen ini fiksi murni request Putri Bunga Pertiwi - Siswa kelas XII MIPA 6 SMAN 1 Majalengka 2016/2017.


SKENARIO DI GERBONG ARGO LAWU


Putri! Bunga! Pertiwiii!
Gadis itu menulis nama sendiri di belakang halaman bukunya. Ia menyebutnya sebagai halaman bete. Setelah menulis kemudian menyobeknya, meremas-remasnya, kemudian membuangnya ke kolong meja. Sejenak Putri menelungkupkan wajahnya di bangku. Kemudian bangkit, berlari ke luar kelas. Gadis itu tak menyadari bahwa di bagian belakang kelas ada sepasang mata yang sedari tadi mengamati tingkah lakunya.
Sepeninggal Putri, di kelas hanya ada seorang teman yang masih tinggal. Sapto Nugroho. Pemuda itu perlahan mendekati tempat duduk Putri, kertas remasan yang ada di kolong ia ambil. Perlahan ia mendesah, menggeleng. Kemudian kertas remasan itu ia masukkan ke dalam tas Putri.
Dua bulan menjelang kenaikan kelas hati Putri gelisah. Tak ada konsentrasi belajar. Bawaannya malas. Beda dengan anak-anak lain, ketika mengantar perpisahan di bulan Mei dengan kakak-kakak kelas mereka begitu ceria. Mereka begitu  termotivasi dengan banyaknya kakak-kakak kelas yang diterima di perguruan tinggi jalur SNMPTN. Harap-harap cemas dengan nilai yang akan diterima di saat kenaikan kelas yang akan memasok perhitungan dalam persaingan masuk SNMPTN tahun berikutnya.
“Put, kamu kok ngga seperti biasanya.... teman lain pada ceria...“ kata Sapto ketika keluar kelas.
“Apa maksudnya?”
“Enggaaak. Jangan marah, sensi banget!”
“Uh!”
“Dulu juga kamu pernah marah ke diri sendiri kan?”
“Kapan?” Putri heran. Diliriknya Sapto dengan pandangan penasaran.
“Pas kamu menulis nama ..... kemudian meremas-remas kertas ... terus membuangnya ke kolong.”
“Oooooo..... ooooo...... jadi itu .... aduuuuh.... aku ingat, aku ingat .... kertas itu malamnya aku
temukan di dalam tasku.” kata Putri sambil menghela nafas panjang.
“Itu aku yang menaruh.”
“Saptoooo..... kenapa?”
“Aku ingin kamu jangan emosi begitu. Aku tahu bebanmu begitu berat.”
“Beban apaan?” tanya Putri melotot.
“Hahaaa!” Sapta tertawa terbahak sambil berlari mendahului Putri .
“Awas! Kalau lari nggak aku kasih pinjam PR!” ancam Putri. Seperti rem yang pakem menekan cakram, Sapto menghentikan kakinya.
“Hhh .... nyerah kalau begini.....” kata Sapto seraya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
“Sapto! Beban apa yang kamu maksud?”
“Enggg.....”
“Kamu terlalu masuk ke wilayah privacy-ku!”
“Ya maaf ... kan aku ngomongnya sambil bercanda.”
“Iya, sekarang jelaskan apa candamu?”
“Put, maafin Sapto. Emmm.... apa ... Pupuuut...”
“Cepet ngomong lah!”
“Puput terbebani ketika Ranu lulus meningalkan SMA ini?”
Mendengar kata Ranu disebut, Puput menghela nafas dalam. Sapto melihat perubahan muka sahabatnya itu.
“Tentang Ranu?”
“Iya Put.”
“Tahu apa kamu tentang Ranu?”
“Satahuku Ranu adalah sahabat karibmu Put. Bahkan aku berfikir lebih dari sekedar karib. Dari dulu aku amati, setiap Ranu nulis status di ef-be, kamu selalu ngasih like. Upload foto, kamu komen. Puput updatestatus, Ranu juga begitu ....”
“Sapto , kenapa kamu kepo banget?”
“Hey! Bukankah kalau update status inginnya dilihat orang? Kalau aku suka kepo ya jangan salahkan aku ya ... klop nggak?”
“Belum!”
“Kok?”
“Kamu suka kepoin orang lain nggak?” Putri balik bertanya.
“Nggak!” kata Sapto sambil tertawa.
“Wah kamu orangnya nggak adil.”
“Biar! Ngapain juga adil-adil ngepoin orang. Ngga ada manfaatnya Put.”
“Memang ngepoin aku ada manfaatnya?”
“Hehe.... banyak lah.”
“Misalnya apa?”
“Ya tahu tentang Ranu itu laaah!”
“Ranu lagi, Ranu lagi ... memang tahu seberapa jauh tentang Ranu?”
“Hanya tahu dari jauh saja ....”
“Terus buat apa?”
“Mengkhayal.”
“Hah? Buat mengkhayal?”
“Iya.”
“Mengkhayal apa?”
“Mengkhayal jadi Ranu heheee.....”
Putri tidak menimpali kata-kata Sapto. Dalam hati kecil gadis itu sebenarnya tahu, Sapto sering memperhatikan dirinya. Dalam banyak hal, walaupun hal-hal kecil sering diberikan Sapto kepadanya. Sederhana. Misalnya saja pemuda itu menanyakan “Put, tadi pagi bangun jam berapa?”. Pertanyaan sederhana yang tak terlalu diperhatikan. Tapi di suatu saat hati Putri sempat gelisah ketika pulang kegiatan sore Sapto menawarkan jasa “Put, mau nggak nanti malam aku SMS jam dua malam untuk shalat tahajud....”. Puput sampai heran, sebab bahkan Ranu yang paling akrab dengan dirinya tak pernah menyatakan satu kalimatpun yang menyentuh perasaannya.
Kenyataan sekarang Ranu telah lulus.
Kepergian Ranu yang telah diterima SNMPTN memang membuatnya merasa kehilangan. Tetapi jika dipikir dalam, apa yang membuat kehilangan? Toh tak pernah ada perjanjian apa-apa. Tak pernah ada kata-kata yang  membuatnya terikat. Tak pernah ada sesuatu yang besar yang menuntut dirinya untuk membuat keputusan besar pula dalam hidupnya.
Putri mendesah.
Ranu, arti nama itu adalah sungai. Mungkinkah sungai dengan konten air dan seluruh sifatnya akan selalu mencari celah untuk mencapai tujuannya sendiri? Ketika dibendungpun, sungai sebenarnya tak pernah kompromi selalu menekan bendungan dengan energinya. Samakah seperti Ranu yang tak pernah mau berhenti dalam bendungan, tetapi alirannya selalu mencari tempat yang ia inginkan?
Gadis itu teringat pula bagaimana Nur, sahabatnya, yang ditinggalkan Bayu, kekasihnya. Bayu, artinya angin. Apakah sifat angin yang ingin selalu bebas tanpa kekangan memberikan gambaran watak yang sesungguhnya? Entahlah. Yang menjadi cermin diri bagi Putri, adalah ketegaran Nur yang ditinggalkan Bayu. Tak pernah mengeluh. Tak pernah menyesali apa yang telah digariskan Tuhan. Apalagi Nur pernah curhat kepada dirinya: Kita masih kecil, masih SMA. Masa-masa persahabatan dengan lawan jenis bukanlah sesuatu yang sangat serius. Guru kita pernah memberikan nasehat, bahwa persentase mereka yang berpacaran sejak di SMA ini, hanya nol koma sekian persen. Lainnya hilang tak berbekas!
Puuut!
Putri kaget ketika Sapto memanggilnya. Gadis itu tergagap. Ia kebingungan melihat Sapto tersenyum lucu.
“Kenapa tersenyum?”
“Kamu itu lucu! Tadi aku bilang aku ingin berkhayal seperti Ranu, eh kok malah kamu yang melamun sampai lama!”
“Aku melamun?”
“Iya laaah.... tapi sudahlah. Lupakan itu! Put, aku pinjam buku catatanmu .... boleh ya?”
“Buku apa?”
“Matem!”
“Yiaaah ..... ntar dipulanginnya sambil diselipin surat ya? Hehee.....”
“Kata siapa?”
“Kata guru matem kita laaah!”
“Hahaaa.... kayaknya guru kita pengalaman gitu ya?”
“Hus! Kawalat ngomongin beliau lho!”
“Yaudah Put, sini ... nggak aku bawa pulang kok! Sebentar saja, sambil menunggu shalat ‘Asyar di masjid. Ntar aku balikin lagi.”
“Diselipin surat nggak?”
“Nggaaak! Ntar aku selipin seratus ribuan hahaa!”
Keduanya tertawa terkekeh.
Putri mengeluarkan buku catatan matematika, kemudan menyerahkannya pada Sapto. Pemuda itu manggut-manggut sabil tersenyum.
“Apaan tersenyum?”
“Tulisanmu bagus.”
“Uuuh ... baru tahu ya?”
“Hhhh.... kalau saja ..... kalau saja ........ nggg...... “
“Kalau saja apa?”
“Boleh kan suka sama tulisannya?”
“Nggak boleh. Aku nggak boleh pacaran dulu!”
“What???! Kamu komen apa sih Put?” Sapto kaget.
“Lah aku ngomong apa sih?” gadis itu juga kaget. Wajahnya memerah.
Hari-hari berikutnya tak banyak cerita.
Bagi Sapto, Putri adalah misteri. Entah gadis itu tak tanggap, atau memang tak memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan pacaran. Bagi Putri, Sapto adalah teman biasa. Bahkan sampai dengan saat-saat menjelang kelulusan, tak banyak catatan penting dan berkesan. Bagi Putri, ia tak memusingkan segala hal. Detik-detik hingga dirinya benar-benar diwisuda menjadi alumnus SMAN 1 Majalengka, almamaternya tak memberinya cerita indah tentang persahabatan dengan anak laki-laki. Yang berkesan adalah persahabatan yang tulus dengan Nur, juga kesan terhadap nasehat guru-guru yang menginspirasi, guru-guru yang memberinya teladan dalam banyak.

***
Tahun 2020.
Dua tahun kuliah di Yogyakarta, ternyata sangat membuka wawasannya. Banyak sahabat dari seluruh pelosok tanah air berkumpul di kota pelajar. Sosio kultural khas Yogyakarta mewarnai ranah berfikirnya. Kebinekatunggalikaan benar-benar ditunjukkan di sana. Atau itu karena benar-benar ia sedang merasakannya.
Di kota gudeg itu, ia telah menemukan sebagian kedewasaan berfikir dan merespon. Hanya ada satu hal yang belum bisa berubah dalam diri Putri.
“Putri .... kamu nggak ingin main ke Makasar?”
“Terlalu jauh.”
“Ahh ya tidaklah, hanya dua jam naik pesawat. Mau ya? Kamu akan kerasan di sana. Pengalamanmu akan bertambah.”
“Orang tuaku sekarang tidak mengijinkan aku menyeberang ke pulau lain.”
“Lah nanti kalau kamu naik haji?”
“Kan nanti, kalau aku sudah punya penghasilan sendiri.”
“Nanti aku temanin ya?”
“Terima kasih, Nggah usah repot-repot!”
“Mmmm... atau kapan-kapan aku main ke Majalengka, boleh?”
“Ya boleh. Majalengka itu kota wisata kok! Ada bandara internasional.”
“Ke rumah Putri.”
“Oooo.... kalau itu jangan ah ..... nggak enak dengan orang tua.”
“Putri sudah punya pacar barangkali? Atau calon malah?”
“Enggak... itu privacy ....”
Hhhh..................!
Gadis itu mendesah dalam. Beberapa rekan di kampus berlaku semacam itu. Ia paham maksudnya, akan tetapi ia juga masygul, tak seorangpun yang mampu menggoyahkan kesendiriannya. Setelah kelulusan, memang beberapa kali Ranu mengontak dirinya, akan tetapi semuanya terasa flat, datar-datar saja.
Pagi di Stasiun Tugu.
Putri mengantri di peron. Lima menit lagi kereta Argo Lawu akan masuk dari arah Solo. Petugas mulai membuka pintu peron. Gadis itu bergegas masuk sambil membetulkan tas bawaanya. Ketika dari timur mulai tampak gemuruh suara kereta, gadis itu melihat tiket yang dipegangnya. Gerbong 5 tempat duduk 8 D.
Gerbong 5. 
Hup! Gadis itu meloncat ke dalam gerbong. Hawa dingin AC cukup lumayan ia rasakan untuk menggantikan rasa gerah di badan yang ia rasakan selama menanti di stasiun ini.
“Permisi ... numpang lewat ke kursi D!” kata Putri ketika penumpang di kursi 8C menyelonjorkan kaki menghalangi jalan ke kursinya.
“Oh silakan... silakan.....”
“Terima kasih.... permisi.” kata gadis itu sambil sedikit ragu melewati penumpang itu. Kemudian ia duduk, menata tas yang dibawanya, kemudian ia edarkan pandangannya keluar jendela.
“Emm ... maaf Mbak.... mau ke Jakarta?” tanya penumpang di sebelahnya.
“Enggak ..  ke Cire... Ciiii....ciiii......” bibir Putri tergagap demi melihat wajah di depannya.
“Puu...putri? Maaf, saya salah ....”
“Sapto? Saptokah?”
“Putri .... ya Allooooh ..... iya ini Sapto!”
Keduanya bersalaman.
Setelah itu dengan tak sadar gadis itu menabok-nabok lengan Sapto, kemudian mencubitnya.
“Saptooo.... iiiihh..... “ kata gadis gemas.
“Ssstt.... ssst .... malu penumpang lain.”
“Habisnya sih kamu lucu!”
“Apanya yang lucu?”
“Sudah tiga tahun jadi mahasiswa wajahmu nggak berubah!”
“Aaah ngaco kamu Put. Tapi nggak apa-apa, aku orangnya stabil kok. Beda dengan Putri, dulu dengan seragam putih abu-abu kayak anak kecil. Sekarang... Masya Allooh Puuut .... aku hampir tak mengenali. Tambah dewasa.” kata Sapto sambil tak berkedip.
“Uuuh....”
“Tambah dewasa .... tambah cantik.”
“Saptooo.... aahh....” kata Putri sambil menahan senyum, membuang muka ke arah luar. Bibir Putri terkatub. Matanya berkaca-kaca.
Pertemuan dengan Sapto di gerbong kereta Argo Lawu sama sekali tak terduga. Sapto telah lama hilang terkabur banyak hal dalam ingatannya. Selama sejak lulus dari SMA. Memang gadis itu tahu, Sapto kuliah di Solo. Tapi hanya sekedar tahu. Sejak saat kelulusan hingga akhirnya ia kuliah di Yogyakarta hampir tiga tahun, Sapto tak pernah kontak. Ketika tahun lalu ada ulang tahun almamater dengan bazaar-nya, reuni angkatannya juga tak dijumpai Sapto.
“Putri ..... masih jadi kembang tanah air?” tanya Sapto yang memaksanya menoleh. Ia tahu, kembang tanah air adalah panggilan Sapto dulu di SMA ketika menerjemahkan namanya Putri Bunga Pertiwi.
“Masih laaah .... Sapto masih ultah tanggal tujuh?”
“Ya masih laaah .... kalau tanggal sepuluh namaku harus Dasa, Dasamuka? Bermuka sepuluh hahaa!”
“Kamu masih suka bercanda kayak gini?”
“Masih Put. Buat apa bersedih, bercanda banyak membuat kita fresh. Selalu bisa mematri motivasi, selalu bisa meyakini apa yang diyakini.”
“Wiih ... dalam sekali?”
“Ya, mungkin .. tapi kayaknya standar banget. Oh ya Put, tumben kok sendirian?”
“Iiih apaa sih! Ngatain tumben sendirian segala! Memangnya biasanya rombongan apa?”
“Enggak begitu. Sobatmu Nur sudah menikah ya?”
“Sapto tahu?”
“Lihat saja di sosmed. Hanya nggak sempat datang saja, tapi kirim ucapan saja lewat WA. Putri kapan?”
“Kapan apanya?”
“Apanya apanya? Menikah laaah....”
“Masih kecil! Hihihi..... “
“Haha kaya omongan waktu SMA dulu!”
Pukul 09.20 kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Tugu. Bagi Putri, perjalanan kali ini benar-benar tak terbayang sebelumnya. Semula ia membayangkan bahwa perjalanan Yogya Cirebon akan banyak diam, terpekur, melihat persawahan yang dilewati, atau kawasan-kawasan di belakang perkotaan yang dilewati rel kereta api. Namun tidak. Kali ini ada sesuatu yang ia rasakan beda. Ia merasa bersemangat. Bahkan ada setitik perasaan bahagia menghinggapi lubuk hatinya. Satrio. Entah kenapa tiba-tiba saja ia suka berada di samping pemuda itu.
“Put ... aku mau tanya nih... serius.”
“Ih, matak deg-degan saja kamu ah! Tanya apa sih?”
“Sudah sejauh apa skenario Allah yang kamu rasakan?” tanya Sapto berbalik.
“Nggak ngerti apa maksudnya.”
“Nggak ngerti?”
“Iya, nggak tahu.”
“Put ...... sebentar ya.....”
Satrio mengambil tablet dari tas. Ia aktifkan sejenak. Setelah tablet aktif, ia menoleh ke arah Putri.
“Put, tulisanmu masih bagus nggak?”
“Nggak ngerti kenapa kamu tanya itu.”
“Masih bagus nggak?”
“Ya , tulisanku belum berubah. Kayaknya dulu waktu SMA kamu pernah ngomong gitu deh. Memujiku. Ah kamu mah biasanya memang memuji. Tulisanku bagus, terus pinjam buku matem, terus ng.... nggg....”
“Kalau tulisan ini kamu masih ingat nggak?” kata Sapto seraya menyodorkan tablet ke Putri.


Gadis itu nenerimanya. Mata Putri terbelalak demi melihat gambar yang ada di tablet milik Sapto.
“Saptoo? Ini ... ini tulisanku kan? Tulisan yang ada di buku itu, di halaman belakang?”
“Yah. Kamu benar Put.”
“Kenapa ada di tabletmu?”
“Aku memotonya dulu.”
“Iya kenapa? Apa alasannya?”
“Aku suka kalimat itu.”
“Bagian mananya?”
“Skenario Allah.”
“Skenario Allah? Apa maksudya?”
“Put .... maafkan Sapto. Dulu memang aku mengagumi tulisanmu. Aku foto. Pas dapat kalimat ini, nggak tahu kenapa waktu hati aku berdebar-debar. Waktu itu nggak terasa, aku mengeja nama Putri, Pu-tri Bu-nga Per-ti-wiiii.... Aku merasa, aku merasa .... waktu itu aku, Sapto, Sapto merasa bahwa aku ada dalam skenario itu Putriiii......”
“Saapp... Sapto ...”
“Putri, kalimat itu bersabar dalam segala skenario yang diberikan Alloh. Waktu itu, aku merasa bahwa kalimat itu untuk diriku Put. Aku yakin. Aku memang bersabar ... sejak bersahabat dengan Putri, terhalang oleh kedekatan Putri dengan Ranu. Aku hanya diam. Setelah Ranu pergi, aku pun tak pernah mendapat respon dari Putri ...  dulu ketika Ranu pergi, Sapto berharap bisa menggantikan Ranu. Itu pernah aku katakan. Tapi Putri tidak merespon, hingga aku berkelana lama, kuliah di Solo, yang sesungguhnya dekat dengan Yogya. Aku kangen Putri .... aku mau kontak takut, takut Putri sudah melupakan Sapto. Putri ..... seperti apakah skenario yang Putri bayangkan?”
Sapto bicara panjang dekat telinga Putri yang semakin menunduk. Gadis itu tak bisa menimpali kata-kata. Namun ia dengarkan dengan jelas apa yang Sapto katakan.
“Puuut .....”
“Ya...”
“Kapan rencana ke Yogya lagi?”
“Insya Allah Sabtu depan.”
“Nomor HP-mu?”
“Sudah ganti. Dulu HP-ku hilang.”
“Boleh aku minta nomornya?”
“Biar aku yang misscall saja. Nomormu masih aku simpan Sapto. Aku hafal nomormu.”
“Alhamudulilaaah Putri, kamu masih simpan nomorku? Masih hafal?”
“Masih, sebab nomor HP-mu ujungnya adalah 1607.”
“Benar Put, nomor HP-ku adalah nomor cantik. Secantik yang ulang tahun tanggal enam belas bulan tujuh. Terima kasih ya Put ..... “
***

Majalengka. Jumat sore.
Besok adalah hari sabtu Hari yang direncanakan bagi Putri untuk kembali ke Yogyakarta usai liburan pasca UTS. Sore itu tampak Sapto ada di teras rumah Putri. Dari dalam orang tua Putri keluar hendak bepergian.
“Putri mau berangkat besok pagi Nak Sapto. Nak Sapto kapan?”
“Besok juga Bu.”
“Lah kalau begitu ya bareng saja .... sekalian titip Putri tuh. Suka tidur di kereta hehee....”
“Aaah ibu! Buka rahasia saja!”
“Ya sudah dilanjutkan ngobrolnya, kami pergi dulu....”
Sepeninggal orang tua Putri, Sapto tersenyum.
“Dengar nggak Put?”
“Dengar apa?”
“Kata ibu tadi, sekalian titip Putri ....”
“Huuuu.....”
“Sayang tadi aku nggak sempat menjawab.”
“Mau jawab apa?”                     
“Mau jawab ... ngggg.... siap bu, Putri akan aku jaga selamanya.”
“Uuuuh Saptooo....”
“Oh iya Put, aku akan lama-lama. Ada acara di uwak. Besok kita bareng lagi. Jangan lupa itu.”
“Ya belum tentu laah.... aku mendadak beli tiketnya besok kok!”
Lalawora kamu Put! Kalau nggak ada kursi kosong? Gimana?”
“Ya naik bis umum laaaah.”
“Besok duduk dekat aku lagi ya?”
“Belum tentu, aku mendadak beli tiket besok.”
“Memang bisa beli tiket tanpa KTP?”
“Ya harus pakai KTP lah!”
“Ini apa?” tanya Sapto sambil menunjukkan KTP milik Putri.
“Dulu itu pas kamu turun sebentar di Kutoarjo beli jajan, KTP-mu jatuh. Aku ambil aku simpan.”
“Saptoooo..... jahat banget sih!”
“Ya nggak jahat laaah... kan dengan KTP ini aku bisa beli tiket buatmu Put. Dan aku bisa duduk jejer kamu lagi selama ke Yogya. Nomor kursi 8 CD lagi. Ini apa Put?” kali ini Sapto menyorongkan dua lembar tiket ke hadapan Putri. Gadis itu terbelalak.
“Saptooo....”
“Putri ... inilah arti dan buah dari bersabar dalam skenario Allah.”
“Saptoo....”
“Put .... boleh ya aku mengagumi tulisanmu yang ada di tabletku?”
“Iya... iya.....”
“Sama yang punya tulisan.”
“Saptooo.... iiiihhhh....”
“Putri ... jayab iya dong....”
“Nggak tahuuu.....”
“Put, Sapto menyimpan rasa kangen selama tiga tahun sejak kita lulus SMA. Terima kasih, sejak di Argo Lawu itu ... rasa kangenku terobati. Tapi rasanya rasa kangenku semakin besar setelah melihat senyum Putri ..... senyum yang semakin dewasa. Senyum yang Sapto kagumi sejak dulu ..... “
Speechless. Putri kehilangan kata-kata. Dulu ia telah melihat tanda-tanda itu dari Sapto. Tapi ia tak menyadarinya. Kini, tanda-tanda itu telah menjadi nyata. Selama tiga tahun pemuda itu menyimpan foto tulisannya, dan yang baru ia dengar ..... senyum yang Sapto kagumi sejak dulu .....
Putri diam. Sapto meninggalkan teras. Ia pandangi pemuda itu. Ia ingat, pemuda itu dulu di SMA pernah mengatakan kalimat “Put, mau nggak nanti malam aku SMS jam dua malam untuk shalat tahajud....” kalaimat itu kembali terngiang-ngiang di telinganya.
Gadis itu menghela nafas dalam. Ia ingin mengadukan perasaannya kepada sang pembuat skenario nasib dan jodoh manusia. Ia ingin mengadukan kesadaran dirinya akan kehadiran Sapto kembali. Dan ia berniat menambah dalam doanya: Pilihkanlah Sapto untukku jika skenario-Mu menentukan demikian. ***
 Majalengka, 21 Oktober 2016

Keterangan Bahasa Sunda:
1) Matak deg-dega = Bikin deg-degan
2) Lalawora = Ngawur / gegabah