Minggu, 11 Juni 2017

Terbaru 2020 - Gerakan Nasional Tanpa Gadget (Bagi Anak)

Blog Pendidikan

 
Sumber gambar : feed.id
Pengantar
Kita hidup di jaman seperti sekarang, tak bisa dihindari. Sebagaimana kita tak bisa menolak ketika Tuhan memilihkan kita kedua orang kita yang melahirkan. Berbahagia hidup di era digital, atau gelisah di era digital, keduanya relatif. Yang pasti, semua yang ada sekarang adalah sebuah keniscayaan yang sedang kita jalani. Sebuah dunia yang terbuka tanpa batas, hingga mampu menembus apa yang dulu kita sebut sebagai benteng.

Perkembangan “Peradaban” dengan Indikator Gadget

Perkembangan teknologi hasil dari kreativitas pikir manusia acapkali diidentikkan dengan perkembangan peradaban. Tolok ukurnya adalah produk barang. Bisa bangunan, bisa rekayasa (baik biologi maupun non biologi). Semakin barang yang diproduksi memudahkan manusia untuk melakukan sesuatu dibanding cara manual, maka barang tersebut disebut sebagai barang yang hebat.
Sinergisitas antara produksi barang dengan faktor ekonomi masyarakat, tentu hal pasti. Barang yang hebat mendatangkan permintaan (demand) yang tinggi dari masyarakat. Produksi untuk memenuhi permintaan pasar akan melibatkan banyak tenaga kerja. Pembukaan pabrik akan memberikan kesempatan kerja bagi banyak orang. Artinya, meroketnya sebuah produk barang hebat, akan berbanding lurus dengan peningkatan ekonomi sebagian masyarakat. Sebuah fakta alamiah yang tak bisa ditolak.
Pun demikian dengan produksi gadget. Spesies yang tergolong dalam gadget misalnya smartphone, tablet, laptop, netbook, dan PS mengalami produksi yang demikian besar. Permintaan masayarakat, dan persaingan antar produsen dengan memberikan iming-iming fitur yang lebih canggih tak pelak lagi menjadi pemicu. Berapa nominal yang dikeruk dari bisnis gadget saat ini. Salah satu sumber CIA World Factbook (http://www.indonesia-investments.com/id/budaya/demografi/item67) menunjukkan bahwa persentase pengelompokkan kuantitas manusia Indonesia 0 – 14 tahun (27,3%), 15 – 65 tahun (66,5%) , sisanya 6,1% . Melihat gejala umum di lapangan, semakin banyak orang Indonesia yang menggunakan lebih dari satu gadget. Itu artinya bisa saja jumlah gadget yang melebihi usia layak pengguna gadget. Jika usia layak menggunakan gadget untuk kelompok pertama dimulai sejak SLTP, taruhlah tinggal 5% , maka perkiraan pengguna akan menjadi 5% + 67% + 6% = 78% . Jika penduduk Indonesia dimisalkan sebanyak 250.000.000 jiwa, maka 78%-nya sekitar 195.000.000 jiwa pengguna gadget. Angka ini tentu cenderung naik. Artinya hampir tak ada kebijakan atau kekuatan yang mampu menghentikannya.
Sampai-sampai dalam sebuah seloroh, bahkan ada yang mengatakan bahwa kebutuhan primer manusia itu adalah : Sandang, Pangan, Papan dan Gadget.
Kondisi soasial budaya masyarakat kita saat ini sadar atau tidak telah menjadikan gadget sebagai salah satu tolok ukur “maju perabadan”-nya atau tidak. Seseorang akan merasa ketinggalan jaman jika tak mampu mengoperasikan gadget. Dengan harga yang tak terlalu mahal, bahkan counter-counter atau agen menawarkan kepemilikan dengan cara kredit, semakin banyaklah masyarakat yang menggunakannya.

Menimbang Baik Buruknya Pengaruh Gadget pada Manusia

Jaman sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Dahulu, jika kita ingin tahu keadaan keluarga yang jauh, maka kita akan menulis surat, mengirimkannya lewat jasa Pos, menunggu balasan lewat Pos juga setelah beberapa hari atau beberapa minggu. Jika manusia jaman sekarang melihat hal demikian, sepertinya akan berkomentar “kok bisa ya hidup seperti itu?” Beda dengan adanya gadget yang dimiliki, suatu saat ingin kontak, dalam hitungan detik terlayani apa yang kita inginkan.

Produk, apapun itu, secara alamiah membawa dua pengaruh: baik dan buruk. Pengaruh ini akan timbul tergantung bagaimana kehendak manusia yang menggunakan produk tersebut. Dalam ukuran orang tua yang memiliki obyek “kecil” anak-anak yang masih di bawah umur, ketermilikan gadget di rumahnya akan memberikan pengaruh terhadap kepenasaran si kecil. Sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan terhadap jangkuan (baik jangkuan phisik maupun jangkuan pikiran) tak pelak harus dihadapi orang tua. Keberadaan gadget bagi anggota keluarga tentu akan memilik makna dan manfaat yang berbeda-beda tergantung dari katagori usia. Sebuah tablet misalnya, akan sangat berbeda artinya jika dipegang oleh anak usia 5 tahun dengan jika dipegang oleh anak usia 15 tahun. Respon pemegang tablet tersebut akan sangat berbeda. Yang satu menganggap sebagai sebuah mainan atau sekedar “gamewatch” , sementara yang lain menganggap tablet adalah sesuatu dengan banyak fungsi.
Bahasan ini khusus menyoroti penggunaan gadget di usia katagori anak-anak. Secara kasar penggolongan diambil 3 (tiga) kelompok, yakni kelompok usia 0 – 5 tahun ( 0 – PAUD), usia 6 – 12 tahun (SD), usia 13 – 15 tahun (SLTP).

1. Dampak Positif Gadget

a. Disain gadget sangat menarik sehingga menimbulkan antusiame untuk berinteraksi dengannya. Keinginan berinteraksi merupakan bentuk dari sebagian perkembangan kognitif anak (untuk semua tingkatan)
b. Mengenal secara dini kata-kata dalam bahasa Inggris (untuk semua tingkatan)
c. Berkomunikasi dengan teman (untuk tingkatan SD – SLTP). Bekomunikasi melalui gadget memiliki keasyikan tersendiri. Banyak kreasi kata atau kalimat yang muncul, walaupun terkadang kata-kata yang tidak terlalu bermanfaat.
d. Mengakses sumber belajar (untuk tingkatan SLTP). Jika gadget telah dihubungkan dengan piranti lain semacam modem untuk mengakses internet, maka manfaat bagi pengguna dirasakan lebih luas lagi. Bahan-bahan pelajaran di sekolah dapat dengan mudah diakses, sebagai bahan bandingan dengan bahan ajar yang diperoleh di kelas.

2. Dampak Buruk Gadget

a. Radiasi dari perangkat keras.
Radiasi dari perangkat keras seperti HP/smartphone, memory, wifi, laptop, monitor, hardisk dan sejenisnya. Kontak langsung atau terlalu dekat dengan tubuh manusia akan berdampak buruk bagi kesehatan.

b. Radiasi dari monitor gadget .
Radiasi ini dapat menimbulkan kelelahan pada mata, yang berlanjut pada kemunduran fungsi mata karena intensitas sinar dari monitor.
c. Efek gelombang elektromagnetik.
Efek gelombang elektromagnetik yang berada di sekitar tubuh akan relatif lebih berengaruh besar secara negatif terhadap anak-anak, di mana jaringan syaraf di brain masih demikian muda. Dengan demikian pengaruh yang terlalu lama akan dapat menghambat kemampuan kognitif anak.
d. Waktu terbuang.
Banyak waktu yang terbuang untuk “mengakrabi” gadget. Menurut berita yang dirilis http://tekno.kompas.com/ disebutkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 5½ jam sehari untuk memelototin smartphone. Jika waktu selama itu digunakan untuk aktivitas bareng gadget yang produktif, tidak jadi soal. Sayangnya banyak pula yang menghabiskan waktu untuk menyenang-nyenangkan diri.
e. Kecanduan.
Jika seseorang terbiasa memainkan game untuk membunuh waktu, lama kelamaan ia akan kehilangan aktivitas lain yang lebih banyak bermanfaat dengan waktu yang sama. Misalnya, menunggu seseorang di stasiun dengan membaca buku, akan lebih bermanfaat dibanding dengan bermain game. Jika kebiasaan telah menjadi semacam candu dalam dirinya, maka ia akan menempatkan “menyenangkan diri” dengan bermain game menjadi prioritas dalam hidupnya.
f. Tekanan psikis (mengarah ke bibit psikopat)
Aplikasi game dalam gadget sudah tak terbatas. Tak banyak sekat-sekat yang memisahkan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya ada. Game perang, game perkelahian dan sebagainya, secara lambat laun akan memberi tekanan psikis yang cukup berat. Misalnya mula-mula aktivitas menembak musuh atau membunuh orang dilakukannya dengan agak takut-takut, namun kemudian game telah menggamitnya untuk tidak canggung lagi melakukan pembunuhan dalam game
Dalam game-game tertentu, kadang tenaga seorang tokoh yang lemah, akan menjadi bertambah ketika dia dapat poin dengan melakukan kejahatan, merampok, mencuri atau apa saja. Dengan melakukan kejahatan ia akan dapat point yang menghidupkan kembali energy si tokoh.
g. Apriori terhadap sekeliling.
Jika seseorang telah sangat lengket dengan gadgetnya, persentase respon terhadap sekelilingnya menjadi berkurang. Bahkan mungkin dalam taraf yang lebih parah bahkan respon itu hilang. Di keramaian, ia sibuk sendiri dengan gadget. Dalam kelas seorang siswa sibuk sendiri dengan gadget. Dalam rapat penting seseorang sibuk sendiri dengan gadget. Bahkan di gedung tempat para anggota yang terhormat, dalam rapat vital urusan negarapun mereka sibuk sendiri dengan gadget.
Sikap apriori dengan gadget ini gejalanya sangat tampak di lingkungan sekolah. Pada saat istirahat, jaman dulu mereka bergerombol sambil memegang dan membaca buku. Sekarang tidak lagi, mereka duduk berjejer di bangku teras kelas sambil asyik dengan gadget masing-masing.
Di lingkungan kampus juga demikian, taman-taman kampus jika terdapat mahasiswa sendirian, peluang kebih besarnya adalah bermain gadget dibanding membaca buku.
Jika hendak dikorek lebih dalam lagi, masih banyak dampak-dampak penggunaan gadget yang tidak terkontrol dari sisi negatif.

Peran Orang Tua dalam Mengendalikan Anak

Anak bagi orang tua adalah mutiara. Sesuatu yang sangat mahal dan layak dijaga keamanan serta kualitasnya. Cara mendidik anak dari orang tua beragam. Namun cara mendidik orang tua adalah mendidik dengan mencontohkan, bahkan mungkin mengindoktrinasikan tentang apa yang ada dirinya. Anak-anak diharapkan menjadi diri orang tua mereka, watak, kebiasaan, kesukaan atau perilaku anak-anak akan diarahkan agar seperti dirinya.
Dalam teori tabula rasa mengarahkan bahwa guratan orang tua terhadap anaknya adalah dirinya. Keinginan-keinginan yang ada dalam dirinya, ditransfer agar anak-anaknya memiliki keinginan-keinginan yang sama. Bahkan acapkali anak-anak diperkosa hak-haknya agar anak bisa menjadi semacam mercusuar tentang orang tuanya.
Di era digital seperti sekarang ini, perlahan, namun bisa juga tiba-tiba menjadi cepat, respon para orang tua terhadap perkembangan teknologi gadget amatlah signifikan. Gadget bagi sebagian orang tua, bagi anak-anaknya adalah mainan. Dalam mainan ini terkandung banyak motivasi orang tua. Ada yang ingin agar anak-anaknya segera menguasai aplikasi dalam gadget sehingga “tidak ketinggalan jaman” . Sekaligus motivasi ini menjadi mercusuar (telah saya sebut di atas) , bahwa dengan anak-anaknya memegang gadget yang paling mutakhir, maka akan ada nilai plus dalam diri anak tersebut, dan juga orang tuanya.
Tengoklah di sekitar PAUD atau TK. Betapa para pengantar anak-anak balita itu dengan bangganya (tentu sebagian) menggandeng anak-anaknya yang sambil asyik memainkan gadgetnya. Ketika anak-anak ini mengikuti kegiatan, para pengantar, mungkin ibunya atau pembantunya bermain gadget. Respon sosial yang jaman dahulu terjalin, kini telah terebut oleh keakraban mereka dengan gadget.

Upaya Mandiri atau Secara Bersama dalam Sebuah Gerakan

Sebenarnya banyak usaha yang bisa dilakukan oleh pribadi, kelompok, komunitas, lembaga swadaya masyarakat dan sejenisnya untuk menekan laju ketergantungan dan ketercanduan terhadap gadget bagi anak-anak. Misalnya :

1. Perpustakaan bagi Para Pengantar Anak

Sebenarnya ini bukan perpustakaan sebagaimana layaknya perpustakaan dalam pengertian di pikiran kita. Ini hanyalah sebuah tempat kecil, berupa rak-rak buku yang ditempatkan di halaman-halaman PAUD atau TK dekat tempat para pengantar anak-anak berkumpul. Apa isinya? Isinya bisa berupa buku-buku informasi, bulletin atau buku-buku motivasi yang ringan tetapi mengena untuk dibaca oleh para pengantar anak di PAUD atau TK.
Judul-judul yang mungkin disediakan misalnya : a. Anak Kita Mutiara Kita, b. Salahkah Kita Mendidik Anak? c. Mengapa Anakku Suka Berbohong? d. Perlukan Gadget bagi Anak PAUD dan TK? e. Jenis-jenis Game Yang Membahayakan Anak. f. Awas, Pornografi ana di Gadget Buah Hati Kita! g. Lindungi Mata si Kecil dari Radiasi Gadget
Untuk pengadaan buku dengan tema-tema di atas, sebenarnya gampang-gampang susah. Layanan jual-beli buku online telah ratusan. Kita tinggal memilih. Tentunya ada konsekuensi nominal biaya yang harus dikeluarkan oleh penyelenggara PAUD atau TK.

2. Membuat Buletin Sendiri

Jika masalah biaya menjadi kendala, maka penyelenggara PAUD atau TK dapat meminimalisir dengan mengisi tempat bacaan tersebut dengan bulletin tulisan para pengasuhnya. Tulisan bisa berisi tulisan pure para pengasuh, atau dapat pula dengan menyadur dari berbagai sumber, baik internet maupun sumber buku-buku referensi. Perbanyaklah dengan cara difotokopi. Lakukan setiap hari dengan tema-tema yang beragam, sesuikan dengan tingkat pendidikan para pengantar anak-anak.
Jika lembaga penyelenggara PAUD atau TK telah mapan, cara seperti ini bahkan secara tidak langsung bahkan dapat meningkatkan kompetensi pada pengasuh / pengajar di PAUD atau TK tersebut. Terlebih lagi jika pengurus yayasan mau berbagi sedikit rizki untuk memberikan sekedar reward kepada mereka yang mau menyumbangkan tulisan secara bergilir.

3. Aturan Ketat di Rumah atasi Sifat Peniru Anak 

Kesadaran orang tua memang sangat diharapkan. Kedasaran ini bisa karena memang telah menjadi miliknya, atau mungkin baru menyadari dampak-dampak negatif penggunaan gadget setelah mendapatkan pencerahan dari berbagai sumber. Hanya aturan ketat di rumahlah yang sebenarnya bisa mendidik secara perlahan kepada anak-anak kita untuk tidak buru-buru tergantung dan mengakrabi gadget. Anak-anak hingga usia SD, aturlah dan beri pengertian tentang hal tersebut. Untuk anak-anak yang lebih tua usianya semisal usia SLTP, berilah pemahaman tentang baik buruknya dampak gadget bagi anak-anak. Di usia SLTP saya yakin logika pikiran mereka telah mampu untuk mencerna apa yang diinginkan oleh orang tuanya.
Tak kalah pentingnya adalah penanaman landasan agama yang kuat terhadap anak-anak kita. Tentu dimulai dari teladan orang tua, tanamkanlah kenapa anak-anak akan hal-hal yang menjadi larangan dalam takaran agama masing-masing. Mengapa demikian? Anak-anak adalah peniru yang cepat terhadap perilaku orangtuanya. Jika kita tidak menginginkan anak-anak lebih -konsen kepada gadget, janganlah orang tua bermain gadget untuk hal-hal yang tidak perlu di hadapan anak-anaknya.

4. Sentuhan Lembut dan Ajakan Bermain Sangat Berkesan

Melarang orang lain biasanya akan lebih sedikit diikuti daripada mengajak orang lain mengalihkan perlakuan yang di larang ke bentuk lain yang dinilai lebih baik. Pun demikian terhadap anak-anak di rumah, alihkan anak-anak kita yang keranjingan bermain gadget dengan mengajak mereka bermain di luar rumah. Berjalan-jalan di taman kota, atau sekedar bermain di pinggir jalan melihat lalu lalang kendaraan sambil orang tua memberikan beberapa keterangan tentang apa yang dilihat anak. Dengan pendekatan halus semacam ini, anak akan merasa dihargai.

5. Tak Seharusnya Anak “Dislimur” atau “Dibebenjokeun”dengan Gadget

Ada sedikit hilang “rasa” ketika kata dalam bahasa daerah Jawa “dislimur” dan dalam bahasa Sunda “dibebenjokeun” di-Indonesiakan. Tapi penjelasannya kira-kira demikian, misalnya orang tua sibuk dan anak-anaknya mengganggu pekerjaan orang tuanya. Orang kemudian memberikan anaknya gadget, agar anaknya bisa diam dan asyik sendiri bermain gadget, entah bermain game atau apa sehingga anak tidak mengganggu orang tuanya.
Tak seharusnya orang tua memberlakukan cara seperti ini. Memang untuk urusan tidak mengganggu kegiatan cukup efektif, namun dampaknya akan cukup besar bagi psikis si anak tersebut.

6. Gerakan Nasional Anak Tanpa Gadget

Jika sebuah kekhawatiran tentang bahaya gadget bagi anak-anak telah menjadi sebuah kekhawatiran dalam skala nasional (tentunya harus diadakan penelitian terlebih dahulu), maka seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk turun tangan. Masalahnya berkaitan dengan karakter anak-anak sebagai calon penerus pengelola negara ini, anak-anak harus dipersiapkan format mentalnya sebaik mungkin.
Gerakan-gerakan intensif oleh siapapun , atau kelompok manapun yang berisi tentang bahaya gadget bagi anak-anaknya hendaknya dikemas menjadi sebuah gerakan nasional. Ada sebuah analogi yang dapat kita ambil, yakni Program Keluarga Berencana (KB). Dulu, ketika jaman orde baru doktrin KB hampir-hampir menjadi sebuah kondisi budaya. Di mana pada saat itu sebuah keluarga (terutama keluarga muda) akan merasa malu jika memiliki anak lebih dari 2 (dua).
Jika memang pendekatan doktrin harus dilakukan, kenapa tidak? Harus ada kemauan yang dimotori oleh kekuatan besar (baiknya pemerintah) untuk membuat semacam “doktrin rasa malu” bagi para orang tua. Cara yang dapat ditempuh adalah dengan memasyarakatkan slogan-slogan secara intensif melalui media massa, baik cetak, spanduk , audio maupu audio visual. Slogan-slogan yang mungkin bisa menjadi pilihan di antaranya:
a. “KASIHAN GADGETMU BUTUH ISTIRAHAT !”
b. “GADGET BAGI ANAK TK? NANTI SAJA KALAU SMA!”
c. “ANAK MAIN GADGET MELULU? BU, MATANYA PERIH DONG!”
d. “JANGAN PERCAYAKAN ANAKMU BELAJAR DARI GADGET!”
e. “GAME YANG PALING BERMANFAAT ADALAH MENGERJAKAN PR!”
f. “GADGET MILIKMU TAK DITANYAKAN DI UJIAN!”
g. “AKU SAYANG ANAKKU, SENTUHAN TANGANKU LEBIH HANGAT DIBANDING HANGATNYA SUHU GADGET!”
Slogan-slogan semacam ini dapat ditulis pula dan atau di tempel di lingkungan sekolah. Memang akan muncul pula ekses, semacam perlawanan dari produsen terhadap kampanye semacam ini. Namun jika pertaruhannya untuk keberlangsungan generasi muda yang berkualitas, apapun harus dipilih walaupun pahit tantaangannya.
Kesimpulan
Terbentuknya bibit-bibit karakter yang dimulai sejak dini akan tetap terjaga jika memang terdapat kemauan yang tulus dari orang tua atas dasar kasih sayang terhadap anak-anaknya. Tak perlu dikenalkan gadget sejak dini, lambat laun seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak kita juga akan mampu menggunakan dan memanfaatkan gadget. Penjelasan dan penanaman pengertian terhadap anak-anak, apalagi yang sedang beranjak remaja akan semakin berat tantangannya. Akan terdapat kompleksitas permasalahan dampak negatif gadget bagi anak-anak kita. Apalagi jika bukan hal-hal yang berkaitan dengan etika dan agama. Kekerasan, pornografi yang mungkin akan bergeser ke pornoaksi banyak yang dimulai dari muara penggunaan gadget.
Dalam tinjauan agama, doa orang tua adalah doa yang tak terhalang terhadap Tuhan. Maka, hanya dengan iringan doa orang tuanyalah kekhawatiran-kekhawatiran itu akan dapat diminimalisir secara spiritual.
Wassalam.***
Majalengka, Februari 2016

dialihkan dari kompasiana.com (pernah dimuat di kompasiana.com  13 Februari 2016)

Kamis, 01 Juni 2017

Terbaru 2020 - "Kita hidup di jaman brandal...." katanya

Blog Pendidikan




Ini naskah saya yang ada di dalam buku tersebut di atas :
PANCASILA UNTUK ORANG DEWASA
Tahun 1980-an saya ingat Pak Lik Tarjo yang guru SD menanyakan ke 4 siswanya, anak-anak SD Bruderan Purwokerto ketika les di rumah kami (waktu itu aku numpang di rumah Pak Lik-ku).
“Pancasila ada berapa anak-anak?” tanya Pak Lik.

 “Ada limaaaa!”, serempak anak-anak menjawab.

“Pancasila apa saja?”

“Ketuhanan Yang Maha Esa ……, Kemanusiaan yang adil dan …..!” jawab anak-anak ini.
Kontan saja Pak Lik-ku tertawa. Yang keluar dari mulut mungil tanpa dosa adalah sebuah kejujuran dan kereflekan terhadap sebuah kebiasaan yang dilatihkan sebelumnya. Hanya saja dalam ukuran otak mungil, memori untuk mengingat batas-batas definisi, tentu belum mampu. Anak-anak mungil tampak kaget ketika Pak Lik-ku tertawa. Namun mereka baru menyadari ketika Pak Lik-ku menyatakan bahwa Pancasila itu hanya ada satu. Yang lima kita maklum bersama adalah sila-sila dalam Pancasila.
Pancasila bagi anak kecil adalah hafalan. Bagi anak-anak usia di atasnya – menurut ahli psikologi perkembangan, Piaget , ini merupakan tahap pra operasional formal – adalah definisi. Bagi anak-anak mahasiswa adalah bahan perdebatan, sedangkan gong-nya adalah Pancasila bagi orang dewasa, harus bermakna implementasi.
Dalam pengelolaan orang dewasa, di negeri kita ini Pancasila  pernah nyaris menjadi agama baru. Masanya adalah masa orde baru. Doktrin-doktrin  Pancasila begitu gencar. Orang akan sangat
bangga ketika temannya mengatakan “kamu adalah Pancasilais sejati”. Butir-butir P4 dihafal seluruh kalangan pelajar, calon-calon pegawai yang mengikuti testing perekrutan pegawai baru. Sayangnya dulu banyak bernuansa verbal.
Dalam pengurusan orang dewasa pula, ternyata terjadi perubahan dahsyat di tahun 1998, Jangan lupakan bahwa para pemuda, mahasiswa, yang tampak menjadi motor pergerakan sejarah , semua ada di bawah kendali orang dewasa. Sejak saat itu kata-kata “reformasi” menjadi populer menggantikan kepopuleran Pancasila. Oleh sebagian pihak, Pancasila justru dipandang identik dengan orba. Padahal menurut telaah pikiran yang bening, sama sekali tidak. Jika melihat isi Pancasila, tentu kita akan menyatakan setuju bahwa dia adalah sebuah ajaran universal yang baik. Bukan milik orla, orba atau orde-orde yang lain.
Jika kita menimang reformasi sebagai seorang bayi ajaib, maka kita seolah dihadapkan kepada sebuah harapan manis tentang kehidupan di negeri ini. Tahun-tahun pertama jargon-jargon tentang reformasi menjadi begitu membahana. Tahun-tahun berikutnya jargon reformasi menjadi beranak-kembang melahirkan blok-blok daerah dengan tatanan yang boleh menata dirinya sendiri. Otonomi daerah lahir dari bayi reformasi.
Sejalan dengan bergulirnya waktu, muncul jargon-jargon baru yakni reformasi kebablasan. Otonomi daerah menjadikan dinasti-dinasti baru bermunculan. ­Istilah klise raja-raja kecil bermunculan. Bupati / kepala daerah kabupaten/kota menjadi tidak tunduk kepada gubernur. Rakyat kecil yang berada di lingkungan yang sempit di wilayah sang raja tentu akan sangat dengan mudah digiring dan ditekan secara sistematis oleh raja-raja kecil.
Selang sepuluh tahun dari tahun 1998, suasana hati mahasiswa tidak semenggejolak dulu. Yang ada di kampus-kampus hanyalah obrolan-obrolan ringan.
Reformasi itu sebetulnya apa to Mas?” tanya Dayun , si mahasiswa baru kepada Bodronoyo , si mahasiswa senior di halaman kampus Universitas Kembang Pancasila.
Kembali ke tatanan semula. Re = kembali, formasi = tatanan. Gampang to?
Itukah yang dulu dituntut para mahasiswa?” Tanya Dayun serius.
Iya, mahasiswa yang dikendalikan orang dewasa. Dulu jaman orba katanya sarat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme. Tapi sekarang yang namanya korupsi seperti menjadi tujuan mereka yang menduduki jabatan, kolusi masih dijadikan jalan untuk membeli jabatan atau pemenangan tender, sementara nepotisme dianggap sebagai bentuk kasih sayang terhadap keluarga.” jelas Bodronoyo dengan mantap. Di mata mahasiswa baru, mahasiswa senior harus tampak punya kelebihan. Kalau perlu punya kekuasaan.
Awas Mas, sampeyan ngomong korupsi menjadi tujuan mereka yang menduduki jabatan, itu fitnah lho, bisa-bisa sampeyan dituduh subversif.”
Oooo nggak takut. Korupsi milyaran saja orang nggak takut, kenapa cuma ngomong saja harus takut? Toh tidak ada yang dirugikan. Lagi pula istilah subversif  juga telah menjadi istilah jejak sejarah penyelenggaraan negara kita . Sama seperti istilah-istilah jejak sejarah semacam orba, reformasi, reformasi kebablasan, otonomi daerah, korupsi, kolusi, nepotisme, dewan terhormat, koalisi, poros tengah dan sebagainya .”
Lho? Kenapa istilah korupsi, kolusi, nepotisme dimasukkan ke dalam jejak sejarah?
Bagi yang menganggap baik dan bermanfaat, jejak itu akan ditelusuri lagi. Itulah makna sebenarnya reformasi, kembali kepada tatanan semula. Tatanan semula penuh korupsi, sekarang penuh korupsi. Tatanan semula penuh kolusi, sekarang penuh kolusi. Tatanan semula penuh nepotisme, sekarang juga penuh nepotisme. Inilah implementasi reformasi yang sebenarnya.”
Mas Bodro, tapi ada lho yang menganggap nepotisme itu sebagai salah satu bentuk implementasi ayat al Qur-an dalam kehudupan sehari-hari.” kata si Dayun ngglayem.
Busyeeeet! Ajaran sesat itu.” mahasiswa senior itu kaget.
Bukan ajaran sesat Mas Bodro, tapi ijtihad. Jika ijtihadnya salah, dia dapat satu pahala, jika ijtihadnya benar, maka ia dapat dua pahala.” kini secara tidak disadari, posisi Dayun berada di atas Bodronoyo.
Genahe priye to?
Ada kyai mengatakan kuu amfusakum wa ahlikum naaroon. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Jadi sebelum mengurus nasib orang lain, uruslah nasib keluargamu, nasib kerabatmu. Selamatkan keluargamu, kerabatmu, dan kalau masih ada jatah, baru selamatkan orang lain! Bayangkan, kalau keluarga mereka miskin kemudian menjadi brandal, kan sosok yang punya jabatan dan punya kekuasaan akan ikut berdosa to? Kenapa tidak ditolong, direkrut itu si keluarga ? Agar dia tidak jadi brandal, misalnya menodong, merampok, maling, mbegal dan sejenisnya.”
“Oalaaaaaah ….. kalau ada penafsiran semacam itu, yang ngasih fatwa itu kyai goblog! Memang dikira nepotisme itu bukan pekerjaan brandal? Kolusi itu bukan pekerjaan brandal? Korupsi itu bukan perbuatan brandal? Eling, eliiiing…..”
“O iya yaaaa…. jadi sebenarnya kita hidup di antara brandal. Ngenes temen negri kita ini ya?” ternyata si mahasiswa baru itu kembali tampak luruh wajahnya, menjadi yunior lagi.
“Itulah ……yang paling gawat, siaga satu, adalah bagaimana ndandani negri ini. Harus ada orang-orang yang kembali menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila di dalam diri kita dan di lingkungan kita.
“Kenapa harus sekedar ada? Bukankah semua dari kita mari bersama-sama menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila yang telah terkubur dan terinjak-injak gak jelas alang ujure?”
“Nah itu, ituuuu maksudnya, kita semua. Dari pemimpin dulu yang bagus, baru anak buah. Dari presiden dulu bagus, baru menyusur ke bawah sampai rakyat. Oh indahnya….”
“Pelajari saja agama!”
“Kan Pancasila mengingatkan kita begitu, beribadah dan berperilakukah sesuai ajaran agama masing-masing. Karena kita prular. Iya to? Berperikemanusiaanlah, bersatulah, bermusyawarahlah, bagilah keadilan untuk seluruh rakyat negri ini.”
Pembicaraan di atas merupakan sebuah legitimasi terhadap kebebasan berpendapat. Artinya, karena secara personal si pendialog itu tidak bisa bertindak ndandani negara, ya sudah lewat diskusi tadi. Mereka menganalogikan bahwa diskusi itu niat baik, di dalamnya ada harapan, ada doa. Kata kyai yang di kampung (tapi dalilnya benar-benar tak terkontaminasi politik) mendoakan adalah sebagai indikator selemah-lemahnya iman. Mending dikatakan begitu bukan? Daripada dikatakan tidak beriman kepada Tuhan, malah nanti dicap tidak Pancasilais.
Kalau dirunut-runut lebih teliti sebenarnya akar masalah di negeri ini ada pada uang. Artinya ini nyrempet-nyrempet sila kelima, tentang keadilan sosial. Banyak kasus yang lucu-lucu menggemaskan, misalnya para pengguna mobil plat merah ingin keadilan dengan menggunakan bahan bakar premium. Upayanya plat merah dituakan menjadi coklat hati biar kalau ngisi premium malam warnanya hitam, atau dilapis dengan plastic mika biru. Itu sopir pejabat yang punya mobil dinas dengan korupsi yang mencolok mata. Korupsi yang dipamer-pamerake. Ini lho, aku bisa korupsi, walaupun hanya beberapa liter premium.
Banyak contoh pejabat yang dikira temuwa, mibawani, nuladha, eh nggak tahunya kesamber KPK dan menjadi tokoh negatif. Apa mereka tidak kasihan terhadap anak cucu mereka yang pasti kebagian rasa malu? Semua karena uang. Penggelapan uang dengan cara apapun adalah pekerjaan orang dewasa. Ini kaitannya dengan karakter personal. Tetapi karena pelakunya banyak, maka orang banyak menyimpulkan bahwa ini menjadi karakternya bangsa kita. Kasihan dong yang orang baik-baik digebyah uyah padha asine, dianggap sama bahwa setiap orang Indonesia karakternya seperti tokoh kasus-kasus negatif.
Mengingat kata para pakar, karakter bangsa kita sudah hampir terjerembab tak bisa dibanggakan, maka muncul langkah-langkah preventif (sebenarnya kuratif) berupa menggali kembali pendidikan karakter di sekolah. Yang paling enak adalah menyalahkan guru. Sekitar tiga tahun lalu Pak SBY pada peringatan Hardiknas pernah menyatakan : “Oleh karena itu, saya ingatkan kepada para pendidik, baik formal maupun nonformal, bahwa sasaran pendidikan bukan hanya kepintaran dan kecerdasan, tetapi juga moral dan budi pekerti, watak, nilai, serta kepribadian yang tangguh, unggul dan mulia!”
Pernyataan di atas tentu mengandung makna bahwa gurulah yang harus mengajarkan pendidikan karakter. Jika sekarang sistem menjadi kacau karena karakter manusianya jauh dari harapan , layakkah guru dipersalahkan? Disebut oleh Pak SBY, “formal dan nonformal”. Ketika kesadaran kita berlanjut, kita masih ingat ada satu sisi lagi yakni pendidikan informal. Ambil contoh misalnya rumah, masjid dan tempat ibadah pada umumnya. Rumah sebagai tempat pertama pendidikan karakter. Kualitas rumah dan seluruh isinya inilah yang sebenarnya akan membangun watak yang sesungguhnya dari seorang generasi.
Rumah berisi anggota keluarga , perabot, dan perlengkapan. Perlengkapan yang memberi daya magic kepada generasi muda adalah televisi dan internet. Banyak berita tentang kasus-kasus korupsi, pencucian uang, pedofilia, korban oplosan, tawuran antar kampung, tawuran antar pelajar menjadi suguhan sehari-hari.  Banyak acara-acara televisi yang jauh dari nilai pendidikan, tetapi tidak pernah mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia. Acara dagelan murahan, banyolan saling ejek dengan bahan ejekan fisik, kuis-kuis yang tidak ada makna pendidikannya, ghibah tentang permasalah kekacuan keluarga para selebriti, acara takhyul, acara clemongan live yang nabrak waktu sholat maghrib. Ini adalah sebuah anti positif yang lambat laun akan menjadi kebudayaan bagi generasi muda. Inilah teladan yang sesungguhnya. Kata guru di kelas : contoh lebih mujarab dibandingkan nasehat. Seberapapun guru ngotot menasehati di kelas jika fakta kehidupan masyarakat yang sesungguhnya tidak baik, maka lebih potensial ketidakbaikan itu akan meracuni jiwa para siswa. Jika di sekolah, upaya pengembalian pendidikan karakter sasarannya adalah siswa. Siswa menerima informasi dan motivasi dari guru. Seberapa persenkah tingkat efektivitasnya? Sementara ada pengaruh lain (yang umumnya lebih besar) di lingungan keluarganya, dari layar TV. Belum lagi jika berurusan dengan HP pintar , game online . akses internet dan lain-lain yang sangat akrab bahkan layaknya sebagai makanan wajib anak-anak jaman sekarang.
Masygul. Kita masih masygul bahwa Pancasila hingga detik ini masih belum dijadikan sebagai obor di tengah kegelapan pikir agar tidak salah jalan. Di atas saya sebutkan, untuk orang dewasa, Pancasila adalah implementasi. Anak cucu kita di rumah butuh teladan dan nasehat kita selaku orang dewasa. Tak ada sekolah untuk orang dewasa yang isinya nasehat-nasehat seperti dialami anak cucunya. Maka jika ada i’tikad untuk memperbaiki diri,  para orang dewasa harus mau membaca. Membaca dalam arti yang sesungguhnya. Dengan membaca buku-buku tuntutan akhlak yang baik, harga diri tetap terjaga karena tidak dinasehati orang secara langsung. Di sisi manfaat, hidup yang baik adalah sebuah tujuan. Maksudnya bagi orang dewasa, maknai kembali Pancasila. Pancasila adalah tuntunan jalan beragama, tuntunan akhlak agar berperikemanusiaan, tuntunan akhlak dalam bersatu mengurus negara, tuntunan akhlak dalam bermusyawarah, serta akhlak tentang kemudahan akses untuk memperoleh keadilan sosial. Tak perlu hafal butir-butir penjabarannya, karena Pancasila bagi orang dewasa adalah implementasi. ***
Keterangan Bahasa Jawa :
1.      Ngglayem = ngomong sekenanya sambil tidak serius.
2.      Genahe priye to? = Jelasnya bagaimana?
3.  Ngenes temen = Merana benar
4.  Ndandani = memperbaiki
5.  Gak jelas alang ujure = Tidak jelas posisinya
6.  Dipamer-pamerake = dipamer-pamerkan
7.  Temuwa, mibawani, nuladha = Tampak dewasa, berwibawa, bisa diteladani
8.  Digebyah uyah padha asine = Dianggap sama sebagaimana garam berasa asin