Selasa, 26 Desember 2017

Terbaru 2020 - Cerpen: Kak Arkan, Lindungi Aku dan Teduhi Hatiku

Blog Pendidikan

Juli. Tahun Pelajaran baru 2017/2018.
Di depan papan pengumuman kurikulum, Elva mencari-cari pulpen yang dibawanya. Sedianya gadis itu akan mencatat jadwal pelajaran yang ditempel, namun ada kendala. Ia mencoba mencari kembali sambil meraba saku dan membuka dompet yang dipegangnya. Tak ada.

"Elvaaa.... cari apa?" ada suara bertanya di dekatnya. Gadis menoleh. Haryo. Demi melihat yang datang, gadis itu mendesah sambil menggeleng.
"Nggak nyari apa-apa."
"Ini aku kasih pinjam ballpoint. Butuh ballpoint kan? Bagus lho El." Kata Haryo seraya menyorongkan ballpoint Parker.
"Hmh ... enggak terima kasih."
"Ini ballpoint mahal El, harganya lima ratus ribu. Aku beli di Gramedia Cirebon."
"Iya, percaya...."
"Beneran El, aku ingin kasih ballpoint ini buat kamu. Buat kenang-kenangan, sebab sebentar lagi nanti kita lulus."
"Terima kasih, enggak."
"El, sekali iniiiii saja.... please! Terima ya El ...."

"Eng-gaaaak! Maaf ya Har, mungkin juga ballpoint mahal juga itu beli pakai uang ayahmu."
"Oh! Artinya kalau beli pakai uangku, kamu mau terima?"
"Uuuhhh ketang! Nggak, aku ralat. Nggak ada syarat!"
"Aduuh Elvaaaaa .... Jadi cewek kamu kok kokoh banget kaya benteng Vrederburg!"
"Bukan begitu masalahnya, masalahnya aku lari ke kopgur atau kopsis, beli ballpoint yang dua ribuan beres. Hilang nggak sayang kok!"
"Lah yang ini juga kalau sudah jadi milik Elva, hilang juga ga apa-apa kok, ntar aku beliin lagi!"
"Uuuuuhhh.. Haryooooo..... maksa banget kamu sih?"
"Habisnya kamu juga aneh El, jaman sekarang nyatet jadwal? Apa nggak keliru? Difoto saja napa sih? Beres kan?"
"Nggak bisa. Aku pengen jadi seperti orang tuaku jaman dulu, berjuang menulis jadwal atau yang lain. Kalau dulu orang tuaku bisa, kenapa sekarang aku tidak bisa? Kayanya indah Har, hidup di jaman sekarang tapi antimainstream."
"Waduuuuh! Mantan pengurus OSIS yang cantik ini benar-benar kokoh pendiriannya. Ini yang aku suka, bahkan sejak dulu di kelas X sebelum jadi pengurus OSIS!"
"Haryoooo.... jangan bawel!"
"Parker El ...." kata Haryo mengalihkan konsen pembicaraan dengana kembali menyodorkan ballpoint.
"Terimakasih atas niatnya Haryo, tapi .... simpan saja ya?"
"Hmmh .... ada ya di dunia gadis kaya kamu El, hebat, tapi aneh. Jangan-jangan kamu nggak punya HP, biar antimanistream!"
"Ya nggak total laaah...."
Sambil berkata demikian Elva berlalu menuju koperasi guru untuk membeli pulpen.
Gadis ini memang agak aneh. Sejak klas XII ia mencoba memulai prinsip hidup yang baru, yakni memperbanyak menulis untuk segala hal yang bisa ditulis. Ia ingin merasakan bagaimana orang-orang dulu juga bisa sukses dengan cara seperti itu. Yang lain, sejak kelas XII ia paling tidak mau meminjam pulpen, pinsil, ballpoint atau sejenisnya kepada temannya. Karena ketika ikrarmya pinjam, maka itu harus dikembalikan. Bagaimana mungkin tinta yang sudah dipergunakan menulis akan dikembalikan? Makanya untuk menjaga diri, ia lebih suka memiliki barang sendiri.
"Elva tungguuuu!" Haryo berteriak.
"Ssst .... Haryo! Jangan berisik!" tiba-tiba dari belakang ada suara. Haryo menoleh.
"Aaah Fera, tuh si Elva norak! Dia mau beli ballpoint, padahal aku mau minjemin."
"Kamu nggak ngerti sikap barunya sih!"
"Baru? Perasaan sejak kelas X dia begitu, sulit ditembus, sulit diajak bercanda. Apalagi diajak serius! Aku serius mau ngasih ballpoint, eh dia ngak mau terima!"
"Mana ballpoint-nya sih?"
"Niiih!" kata Haryo seraya menyorongkan ballpoint di depan Fera.
"Parker? Wiiiihhhhh.... mahal neh!" kata Fera sambil mengambil ballpoint dari tangan Haryo.
"Parker ya mahal! Dua kali bulanan SPP kita!"
"Mheheee..... be-te-we terima aksih Har!" kata Fera sambil memasukan ballpoint ke dalam saku bajunya.
"Eh Fer! Jangan ... sini.... sini!"
"Ya buat apa da Elva-nya nggak mau, ya buat yang mau saja!"
"Itu mahal Fer! Nggak cocok buat kamu!"
"Ngece ya?! Kalau mahal buat Elva cocok ya?"
"Eh bukan begitu maksudku, ayo kembalikan!"
"Sudah laah ikhlaskan, sekali-kali buat aku yang mahal! Eh Har, nanti aku bantu kamu buat ngajuin privat ke Pak Danar. Ma-me-ma-ti-ka! Kita bareng-bareng."
"Haduuuh ..... pelajaran horror!"
"Tuh kan, kamu kuwalat sih! Belum juga Pak Danar mengajar kita, kita masih gress di kelas XII, eh kamunya sudah pesimis gitu. Mana mungkin kamu berhasil Har!"
"Kan katanya nggak boleh les ke Pak Danar."
"Siapa yang bilang?"
"Wawan."
"Apa katanya?"
"Ini les hanya untuk anak pinter saja, untuk anak di bawah standar nggak boleh ikut! Nanti kaseseret, gitu katanya ......"
"Ampuuun Haryo! Itu Wawan bercanda!"
"Tapi kayaknya aku bakal kaseseret lho!"
"Tuuh... kamunya masih pelihara pesimistis sih!"
"Iya sih!"
"Nah buang jauh-jauh! Ganti rasa pesimis dengan optimism yang tinggi bahwa aku mampu!"
"Iya, aku harus mampu Fer! Terima kasih nasehatnya ya!"
"Iya, nah sudah kalau begitu ini ballpoint resmi jadi milikku, karena aku sudah menasehatimu! Okeee?!"
"Hareuuuuhhhh Fer! Feeer! Kamu ngulik banget cari kesempatan! Ntar udah gede nggak kebayang kamu bakal dapat suami kayak apa!"
"His! Masih kecil! Jangan ngomong yang bukan-bukan!"

***
Fera membuka tas. Ia mengambil ballpoint parker.
Gadis itu gembira sebab baru kali ini ia memiliki ballpoint semahal itu. Dulu mungkin hanya mimpi. Mimpi yang sebenarnya dihitung secara logis, uang sebesar lima ratus ribu rupiah akan lebih bermanfaat jika dibelanjakan untuk yang lain.
"Waduuuh ...... yang punya ballpoint Parker!"
"Aduuuh kamu Har! Ngagetin saja, jangan bahas lagi ah! Ini barang sudah jadi milikku."
"Iya, iyaaa ....."
"Naah gitu!"
"Eh Fer, sekarang kita jadi les di rumah Pak Danar?"
"Jadi laah ... mumpung masih agak jauh waktu ke UN dan SBMPTN, kita leluasa. Kalau dientar-entar tahu-tahu tinggal beberapa hari, kita bakal klabakan!"
"Fer...."
"Apa?"
"Kok Elva nggak diajak privat ke Pak Danar."
"Sudah aku ajak, tapi katanya agak bingung dikit. Ya sudah lah nggak apa-apa, kita berempat juga kayaknya seru."
"Tapi kalau ada Elva lebih seru."
"Kamu naksir Elva ya?"
"Nggak naksir sih, cuma kadang-kadang suka kepikiran. Dulu waktu satu kelas di kelas X aku suka diajarin matematika. Sukaaa banget cara menerangkan dia, enak, langsung ngerti."
"Laah kata siapa? Bilang saja langsung ngerti, tapi diher terus."
"Ahaha! Tahu nggak Fer, itu taktik."
"Taktik apa?"
"Biar diajarin lagi! Ntar deket lagi kan? Kadang-kadang aku mencuri pandang, heheeee...."
"Uuuuh dasar modus!"
"Pernah juga tanganku digetok pakai penggaris hehe!"
"Kenapa?"
"Ketahuan aku nggak merhatiiin apa yang dia terangkan, aku malah terbengong-bengong ngliatin dia, langsung dia marah aku digetok ... niiih.... tak! Tak! Gituuu.... di jari, sakit sih, tapi kalau yang nggetok Elva, malah pengen lagi!"
"Dasar sudah gelap akal kamu Har, Haaar!"
"Fer, comblangin dong!"
"Ih kamu mah! Yang lain ngurus belajar untuk persiapan UN kamu malah mikir yang kaya gituan!"
"Justru itu Fer, mumpung masih di SMA! Ntar kalau sudah lepas dari sini, susah cari yang kayak Elva."
"Ah kamu mah! Sudah lah!"
Fera sebenarnya kasihan pada Haryo. Memang Haryo terlalu lugu. Fera sebagai sahabat Elva juga tahu bahwa Haryo suka sama sahabatnya, tetapi bagaimanapun semua tergantung Elva. Fera melihat gadis sahabatnya itu memang orangnya kokoh punya prinsip. Ia tak mau berhubungan melebihi sahabatan biasa selama sekolah. Sebuah prinsip yang bagus, tetapi mungkin tidak bagi yang lain.
***
Di rumah Pak Danar.
Rumah Pak Danar cukup luas. Di sisi kiri terdapat garasi dan gazebo. Di gazebo inilah murid-murid Pak Danar belajar secara privat. Sebenarnya guru ini tak ingin membuka les privat, namun kadang ada orag tua siswa yang datang ke rumah, memohon agar anaknya diberi tambahan waktu belajar. Karena bagi guru matematika kedatangan orang tua ke rumah merupakan sesuatu yang serius, maka biasanya diiyakan.
"Ini les pertama kalian, mudah-mudahan bukan yang terakhir." kata Pak Danar ketika mengawali pertemuan.
"Maaf Pak, jangan nakut-nakutin dong Pak." kata Haryo sambil tertawa. Yang lain tertawa pula demi mendengar komentar Haryo.
"Kalau takut mending nggak usah mulai saja. Les ini hanya untuk anak-anak pemberani, yang mau menyisihkan waktu untuk membuat dirinya memiliki pengetahuan yang lebih dari yang lain."
"Siap kalau begitu Pak!"
Belum lama Pak Danar memberikan pengantar, dari luar ada motor memasuki garasi.
Yang ada di gazebo menengok melihat yang baru datang. Pak Danar tersenyum melihat murid-muridnya saling pandang dan saling sikut. Usai menytandar motornya, yang baru datang memberi salam, kemudian mencium tangan Pak Danar.
"O ya anak-anak, ini anak Bapak yang kedua. Namanya Arkan Arshaq Ramadhan, panggilannya Arkan."
"Oooo..."
"Matematika ITB."
"Ooooo....."
"Alumnus Smansa."
"Oooooo...."
"Kakak kelas kalian dua tingkat."
"Ooooooo...."
"Waktu dia kelas XII, kalian kelas X."
"Ooooooooo..."
"Memang nggak ada kata lain selain O yang semakin panjang ya heheee....." Pak Danar tertawa melihat respon empat orang anak yang hampir seragam dengan menucap huruf O berulang-ulang. Kini keempat anak itu baget, baru tersadar bahwa jawaban mereka tadi tergolong langka.
"Liburnya lama Ar?"
"Ya lumayan lama Yah, sekarang baru Juli, masuk lagi awal September."
"Dua bulan libur tuh anak-anak." kata Pak Danar sambil tertawa.
"Pengen Pak." celutuk Haryo.
"Lulus dulu, baru kuliah, ntar punya libur panjang kayak mahasiswa. Tapi harus tembus dulu. Nah nembus PTN itu yang susah, makanya belajar mulai sekarang!"
Akhirnya sore itu kegiatan belajar les privat, namun rombongan, dimulai. Empat orang yang belajar, Haryo, Fera, Anik dan Ning. Tiga yang lain konsentrasi penuh, hanya Fera yang dari tadi tampak belum bisa membangun konsentrasi. Beberapa kali matanya mencoba menoleh ke arah dalam. Yang menarik perhatiannya adalah Arkan.
***
Pagi hari di parkiran kendaraan guru.
Elva dan Salsa terhenyak gembira ketika mobil Pak Danar memasuki gerbang sekolah, kemudian berbelok ke tempat parkir. Kedua  anak itu menanti gurunya selesai memarkir mobilnya. Ketika Pak Danar sudah turun, kedua anak itu menjemput memberi salam dengan mencium tangan.
"Pak boleh tasnya Elva bawain?" Elva menawarkan jasa. Pak Danar terkekeh.
"Hehee... kayak murid jaman dahulu. Terima kasih, nggak usah laaah....! Ini ada apa ya tumben, mantan pengurus OSIS pagi-pagi sudah menjemput Bapak?"
"Emm maaf mengganggu ya Pak. Soalnya malu kalau mau bicara sama Bapak di ruang guru."
"Ooo iya, ada apa?"
"Emmm begini Pak, saya dan Salsa mau ikut les di rumah Bapak, boleh nggak?"
"Waduuuh Va, kirain mau ngomong rahasia. Mau belajar di rumah?"
"Iya, boleh kan Pak?"
"Iya nggak apa-apa. Silakan."
"Tapi ada request Pak?"
"Apa?"
"Bapak jangan ceritakan ke kelompok Fera kalau saya ikut belajar di Bapak. Tolong ya Pak?"
"Iya..."
"Bapak baik banget deh Pak .... kata teman-teman juga gitu ..." kata Salsa menyela.
"Iya, eh haha! Bukan iya, kenapa?"
"Biasanya kalau ada siswa minta bantuan ke bapak, tak ada kata lain yang bapak berikan kecuali iyaaa...."
"Kalau harinya Kamis siang bisa ya Pak?"
"Iya."
"Soalnya Jumat sore kami mau pulang kampung rutin."
"Ke mana pulangnya?"
"Lemahsugih Pak, di Kalapa Dua."
"Alhamdulillah ... itu berarti kalian adalah anak-anak yang dibesarkan oleh alam yang masih bersih. Sebuah kelebihan dari Allah menempatkan kalian di sana, diberi kebahagiaan masa kecil di daerah pegunungan."
"Aaah Bapak mah selalu memotivasi gitu. Kemarin juga yang anak-anak kota, juga Bapak motivasi tapi dengan kekotaanya. Jadi mana yang benar Pak?"
"Yang benar? Setiap tempat tinggal kita, setiap kondisi apapun yang kita miliki, hendaknya selalu bisa dijadikan motivasi diri. Tak boleh mengeluh dengan keadaan....."
"Bener Pak setuju banget .... wah Pak, jadi pengen jadi anak Bapak aaaaah!" kata Elva sambil tertawa.
"Bapak aminin ya?" tanya Pak Danar menantang.
"Anak angkat? Hihihi..."
"Anak menantu .... hehee.... sudahlah. Deal ya belajar Selasa sore? Ntar tinggal datang saja."
"Siap Pak, terima kasih."
***
Hari Selasa pertama les di rumah Pak Danar terlewati.
Cukup menguras energi, Mereka belajar di sisa waktu sepulang sekolah pukul empat sore. Akan tetapi bagi Elva dan Salsa tak dipedulikan. Mumpung masih muda dengan tenaga dan semangat yang besar, siapa tahu akan berbuah bagus. Ujar mereka berdua memberi semangat kepada diri sendiri.
Sore itu Selasa kedua.
Dua buah motor memasuki halaman rumah Pak Danar, kemudian berbelok ke arah gazebo di mana mulai minggu kemarin Elva dan Salsa belajar. Usai menyimpan motor, keduanya memasuki gazebo seraya memberi salam.
Assalaamu'alaikum!
Dari dalam pintu terbuka. Bukan Pak Danar yang tampak keluar. Sejenak Elva tertegun melihat seorang pemuda yang tampan menjawab salamnya.
"Wa'alaikumussalam. Mau ke Pak Danar kan?"
"Iya, Pak Danar ada."
"Silakan duduk dulu....."
Setelah kedua gadis itu duduk, pemuda itu melanjutkan bicara.
"Ayah ... eh, Pak Danar tadi pergi dulu ada perlu. Nanti setengah jam lagi katanya beliau pulang. Ini ade berdua katanya suruh nunggu dulu."
"Oh iya, nggak apa-apa. Terima kasih."
"Oh iya, Pak Danar itu ayahku."
"Ooo ....."
"Biasanya Ayah suka cerita tentang dirinya di kelas. Ya, di kelas baru tentunya. Kemarin di kelas cerita tentang keluarga kami nya nggak?"
"Ah benar ... beliau bercerita, sudah punya cucu satu, yang nomor dua masih kuliah di ITB, yang ketiga katanya belum punya hehee.... iya begitu kata beliau bercanda."
"Ayah memang suka bercanda."
"Ayah bilang katanya ade berdua suruh belajar matemnya sama saya dulu."
"Och! Berarti Kakak yang di ITB itu?
"Hehe .... Iya"
"Kak Arkaan ....." tiba-tiba tanpa sadar Elva bergumam.
"Apa De?"
"Apa? Apanya?"
"Tadi nama Kakak disebut."
"Och! Enggak ... enggak kan Sal?" kata Elva dengan muka merah menahan malu. Salsa menggeleng.
"Kamu memang bilang Kak Arkan gituuu....!"
"Aduuuhh nggak sadar!"
"Tahu namaku dari siapa De?"
"Emmmm .... Sal, kamu yang cerita." kata Elva sambil menyikut lengan Salsa.
"Gini Kak, kan selain saya dan teman saya ini, kalau nggak salah ada rombongan lain yang hari Sabtu, itu ada teman saya namanya Fera, dari kemarin pertama les di sini, katanya sudah kenalan sama Kakak, kata Fera memang namanya ya Kak Arkan."
"Heheee.... kok aku jadi terkenal ya?"
"Iya, Kakak sudah kenal Fera?"
"Nggak lah. Mungkin maksudnya dia tahu namaku, sebab waktu baru datang, ayah mengenalkan namaku."
"Ooo ..."
Bip! Bip! Bip!
HP Salsa berbunyi. Gadis itu menjauh keluar dari gazebo, kemudian menelpon. Beberapa saat setelah menelpon Salsa kembali lagi.
"Aduuuh El, Kak Arkan, ini ada ayah tadi ke sekolah. Ada keperluan mendadak, sore ini harus ke Cirebon. Gimana ya? Aku nggak bisa ikut les..."
"Oooo iya silakan.... silakan...." kata Arkan mempersilakan.
"Aku ikut Sal ..." kata Elva sambil bangkit dari duduknya.
"Eh sebentar ... ini tadi ada WA dari ayah." kata Arkan sambil menyodorkan WA dari Pak Danar.
"Anak-anak yang les suruh nunggu ayah Ar, ni ayah sebentar lagi ...."
"Terus gimana Kak?"
"Wakili saja, Salsa ...eh siapa tadi De Salsa lanjutkan acara dengan keluarga, yang satu tunggu ayahku di sini."
Elva tak bisa berkutik.
Ditinggal Salsa, kini hanya dirinya bersama Arkan. Wajah Elva tegang. Ia sama sekali tak merasakan kenyamanan. Kalau saja tadi tak ada WA dari Pak Danar, ia memilih pulang duluan.
"Rumahnya jauh De?" tanya Arkan memecah suasana.
"Oooh dekat, di belakang masjid Majalengka Kulon, dekat SMP tiga."
"Oooo, asli Majalengka."
"Enggak, saya kos di sana Kak."
"Elva aslinya mana? Eh maaf, namanya Elva kan?"
"Iya."
"Minggu kemarin ayah memberi tahu. Walaupun aku juga sudah tahu juga sih."
"Tahu dari mana?"
"Adik teman saya adalah pengurus OSIS."
"Siapa?"
"Astri, dia itu kakanya anak ITB, anak perminyakanl"
"Ooo.... ntar, kapan-kapan aku ceritakan."
"Ooo..
"De Elva pengurus OSIS kan? Barangkali ada anak lain yang namanya sama."
"Iya betul, tapi sudah purna . Sudah lengser Kak, sudah kelas XII."
"O iya... aslinya mana? Jatitujuh? Atau?"
"Lemahsugih."
"Oooo.... saya kira anak hilir, anak tonggoh ya."
"Hehee... iya ..."
Belum lama mereka ngobrol, Pak Danar masuk membelokkan mobilnya masuk ke garasi. Kedua orang yang duduk di gazebo mengamati yang baru datang.
Ketika Pak Danar mendekat, Elva bangkit dari duduknya kemudian menyalami sambil mencium tangan Pak Danar.
"Sehat Vi?"
"Alhamdulillah Pak, bapak sehat juga?"
"Alhamdulillah wal afiat hehe..."
"Syukurlah."
"Ini satunya mana? Salsa? Salsa ke mana?" tanya Pak Danar setelah masuk keGazebo.
"Ada panggilan mendadak."
"Oooo.... gitu. O iya, ini materi belajarnya sudah sampai mana?"
"Baru sampai ..... sampai Lemahsugih.." kata Arkan sambil tertawa.
"Matematikanya?"
"Ya belum Yah, masa sama orang baru langsung belajar."
"Kan tadi adik-adiknya itu Ayah minta dibantu belajar matem."
"Kan nggak enak langsung begitu Yah, Ini juga baru sebentar."
"Iya ... iyaaaa.... nggak apa-apa. Ini Elva mau belajar sama Bapak atau sama Arkan?"
"Terserah Bapak ....."
"Sama Arkan saja ya, Bapak ada perlu lagi nih. Nooh di rumah depan, di Pak RW tadi pas Bapak lewat ditoel suruh ke sana sekarang."
"Iya nggak apa-apa Pak."
Sore itu pengalaman baru bagi Elva, les yang seharusnya oleh Pak Danar, kali itu malah ditekel oleh anaknya. Tetapi bagi Elva sama saja, tingkat kesulitan pemahaman untuk soal-soal antar ruang lingkup. Setelah satu jam belajar, Elva keduanya istirahat.
"Terima kasih bimbingannya Kak."
"Hehe iya .... sama-sama. Minggu depan masih mau sama aku lagi?"
"Boleh hehe..., eh terserah Pak Danar."
"Target belajar kali ini apa si De?"
"SBMPTN kak."
"SNMPTN?"
"Itu sih hampir gambling Kak. Memang ada harapan juga, tapi kan tak ada jaminan. Jadi kalau harapan untuk SNMPTN ada, dan SBMPTN dipersiapkan, akan lebih nyaman, karena siap semuanya."
"Hebaaat! Mudah-mudahan harapannya terkabul. Hasil tidak akan menghianati usaha De."
"Iya betul Kak."
"Hidup itu ibarat layar polos, kita yang memberi lukisan. Tentu lukisan yang ingin kita wujudkan adalah lukisan yang indah. Guratan hidup yang indah. Hidup kita itu akan indah, jika kita selalu berikhtiar. Di sana ada semacam taste yang berbeda. Ada kenikmatan dalam ikhtiar. Dan dilengkapi dengan doa sebagai makhluk yang punya superset Allah. Hidup akan indah dengan ikhtiar dan doa. Jangan lupakan itu De."
"Aduuh terima kasih motivasinya Kak."
"Heheee iya. Mungkin indahnya sama seperti kalau kita bisa menikmati indahnya cahaya bintang."
"Apa Kak?"
"Nggak ...nggak ah! Nggak apa-apa hehe...."
"Pak Danar nggak pernah membuat penasaran siswanya lho...."
"Ehehe... iya.... cahaya bintang."
"Maksudnya?"
"Cahyaning Kartika."
"Och..."
"Elva Cahyaning Kartika...." kata Arkan menyebut nama lengkap dirinya.
Wajah Elva memerah menahan malu. Gadis itu menggeleng. Namun tak urung Arkan tahu bahwa Elva sedang mencoba menahan senyumnya.
"Pulang dulu Kak.... Assalaamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam Elvaaa...."
Hmh.......!
Elva mendesah dalam.
Kenangan pertama bertemu dengan Arka begitu indah. Dulu ia juga tak habis pikir, mengapa Arkan mengenal dirinya. Tapi mengingat katanya ada sahabatnya yang punya adik pengurus OSIS juga , ia maklum. Tetapi mengapa  Arkan begitu mendadak memberikan kejutan ketika baru pertama bertemu?
Pertemuan awal dengan Arkan saat ini gadis itu telah duduk di taman Fakultas MIPA. Suatu taman yang telah lama menjadi impiannya sejak kelas X SMA. Sementara tahun ini Arka telah duduk  tingkat akhir S2 nya di ITB.
Ting!
Elva terhenyak. Ada WA masuk. Siapa ini? Elva tidak mengenal nomor dan DP-nya.
"Hallo Elva, kami mau berkunjung ke Unpad. Kita ketemuan yok!"
"Siapa ya?"
"Tuh DP aku ganti ....."

Demi melihat wajah di DP yang baru masuk, Elva berbinar-binar.
"Fera ..... uuuh kangen banget Fera!"

***

Siang itu Elva masih menanti kedatangan Fera dan Haryo.
Gadis itu melihat beberapa spanduk yang berisi informasi tentang Sinergi BEM Peternakan Unsoed - Unpad. Gadis itu bersyukur jika kedua sahabatnya di SMA menjadi aktivis kegiatan kemahasiswaan. Elva sendiri menjadi aktivis di BEM Statistika bukan hal baru. Berorganisasi merupakan sesuatu yang terbiasa dilalui. Ia merasakan melalui organisasi, jiwanya menjadi dewasa. Bisa mengatasi persoalan antar teman, menghargai perbedaan pendapat, memberikan alternatif untuk penyelesaian masalah. Itu telah dimulai sejak SMP. Artinya lengkap, SMP, SMA dan kini di perguruan tinggi.
Ting!
Elva melihat ada notifikasi WA masuk. Arkan.
"Ini ada acara mendadak De, aku dipanggil pembimbing tesis. Ntar kalau bisa cepat, aku ke situ, kalau tidak sempat ya titip salam saja sama teman-teman dari Purwokerto ya."
"Iya Kak, semoga lancar."
Hampir sekitar satu jam setelah dzuhur, barulah yang ditunggu datang. Ketika melihat keduanya datang, Elva segera menghambur ke arah Fera. Keduanya berpelukan lama.
"Ke mana saja El?" tanya Fera sambil memegang pundak serta memandang Elva lekat-lekat.
"Ah kamu norak! Dari dulu juga di Unpad sini."
"Kenalkan El, Haryooooo!" kata Fera sambil menunjuk Haryo yang tersenyum di sisi Fera.
"Aaaah kamu Haryo.... apa kabar?" tanya Elva sambil mengulurkan tangan.
"Makin cantik saja Elva.... " kata Haryo sambil menerima uluran tangan Elva.
"Iiih .... Haryo yang selalu menggoda!" kata Elva terkekeh.
"Dan godaanya tak ada yang berhasil." kata Haryo sambil tertawa,
"Ah sudahlah, jangan bicara masalah itu!" sela Fera.
"Emmm perasaan saya, Haryo sama Fera jurusannya beda kan?"
"Emang  beda. Napa El?"
"Hari ini kan acara sineri BEM Peternakan, lalu Haryo?"
"Kamu lupa ya El, Haryo kan jurusannya Farmasi, nanti kan ada ramuan obat-obatan untuk memperbaiki pertumbuhan kelinci. Nah di situlah perannya hehee..... " Fera terkekeh.
"Bilang saja Haryo supiiiiir!" kata Haryo terbahak. Elva kaget.
"Bener Fer?"
"Hehee.. nggak tahu tuh. Dia yang nawarin, mau diantar ke Bandung nggak?"
"Berdua?"
"Iya berdua, padahal yang lain pakai travel minibus. Tapi Haryo nggak mau, bilangnya nanti mau mampir dulu ke saudara. Ya gitu deh, akhirnya diijinin."
"Fer, nebak ya?"
"Apa?"
"Jangan-jangan kalian sudah jadian ya?"
"Hihihi..."
"Atau malah sudah suami istri?"
"Ngaco kamu El, masih kuliah, nggak banget. Entah setahun lagi kalau sudah lulus."
"Oooo ... aku doakan ah! Semoga lancar!"
"Amiiinn!" celutuk Haryo sambil terkekeh.
"Iiihhh... apaa Haryo!" kata Fera sambil mencubit lengan Haryo. Haryo meringis.
"Aduuu...duuuh ssakit Fer!"
"Ngomong lagi Har, ntar aku cubit lagi."
"Amiiin!"
Tapi bersamaan itu Haryo memberi isyarat menyerah. Fera tak jadi mencubit. Elva tertawa melihat perilaku keduanya. Setelah suasana reda, Haryo mengambil sesuatu dari tas yang dicangklongnya.
"Ada sesuatu yang berbeda Elva, sesuatu yang berbeda dengan yang dulu. Ini lebih super."
"Nggak ngerti..." kata Elva sambil mengernyitkan dahi.
"Ballpoint parker baru .... untuk Elva!" kata Haryo sambil menyodorkan ballpoint ke depan Elva.
"Apa ini?"
"Aku ingin mengulang ketika dulu Elva menolak pemberianku, sekarang Elva nggak boleh menolak pemberianku."
"Haryo!"
"Dulu Elva pernah katakana, kalau ballpoint uangnya bukan pemberian ortu, mau menerima kan?"
"Engghaak! Hehehe.... kan sudah aku ralat." kata Elva sambil menahan tawa.
"Nggak ada ralat. Usahaku sambil kuliah sudah jalan. Mobil juga aku beli sendiri, walau nyicil."
"Nggak mau!"
"Fera saksi ya?" tanya Haryo seraya menoleh ke arah Fera.
"Oke! Aku saksi!"
"Elva ... dengar baik-baik, aku ingin banget pemberianku diterima oleh Elva sahabat kecilku di kelas X."
"Enggaaak..."
"Kalau Elva mau terima ini, maka lulus S2 nanti Fera akan aku lamar."
"Hah? Serius?!" tanya Elva tak percaya sambil memandang Fera lekat-lekat.
"Iya, dia suka gitu El."
"Serius El." kata Haryo.
"Saksi semuanya ya, dengan bismillahirrahmanirrahim semoga kalian berdua kelak dijodohkan, maka ballpoint ini sebagai syarat, aku ambil!" kata Elva sambil menerima ballpoint Parker yang ada di tangan Haryo.
Sah! Sah! Kata Haryo sambil tertawa terbahak.
"Iyalah Fer, selamat ya, dari tanda-tanda saja kayaknya sudah ketahuan Haryo serius, buktinya dia sudah nawarin nganter pakai mobil pribadi sampai Bandung."
"Iya mudah-mudahan saja El. Eh, ngomong-ngomong kapan kamu nikah? Sudah punya calon apa belum?"
"Hehee.. ntar nunggu waktu yang tepat. Nggak punya pacar sih!"
"Ah kamu mah El, dari dulu tuh ibaratnya lawakan, kamu garing mulu!"
"Hehehe... biarkan saja Fer, masing-masing punya cara untuk memaknai hidup. Termasuk dalam kisah pemuda - pemudi, dalam urusan cinta ... masing-masing cara mengemasnya berbeda-beda."
"Uuuuuhhh Elvaaaa.... bicaramu sekarang dalam banget, bikin dahi mengkerut!"
Ketiganya asyik berbincang tentang apa saja. Tak mereka rasakan cukup lama mereka berbincang, hingga Fera dan Haryo merasa cukup untuk berpamitan.
"Kalian mau langsung ke Purwokerto?" tanya Elva.
"Nggak dong, kita mau ke Majalengka Kota Bandara."
"Ya kami pamit El, kami pulang ke rumah masing-masing. Mungkin besok baru kita lanjut ke Purwokerto lagi."
Ketiganya berjalan menuju parkiran di mana mobil Haryo telah siap. Namun belum beberapa lama mereka melangkah, dari belakang ada yang memberi salam.
Assalaamu'alaikum!
Ketiganya serempak menjawab. Elva berbinar matanya. Arkan datang. Di sampingnya, Fera demi melihat yang datang merasa keheranan. Ia merasa pernah mengenal pemuda itu.
"Kalian dari Purwokerto ya?" kata Arkan sambil mengajak salaman.
"Iii ..... iya."
"Kalian lupa ya? Kita bertemu pertama sekali di rumah Pak Danar, waktu itu kalian pertama kali les di kelas XII."
"Kkkk... kak Arkan?!" Fera terpekik. Sementara Haryo hanya menggeleng.
"Naah masih ingat ..."
"Astaghfirullah Kakak.... kata Pak Danar, dulu bukannya kuliah di ITB Kak?"
"Sekarang juga masih."
"Ooo S1-nya itu? Lama amat ya Kak."
"Ya nggak laah, sekarang S2-nya De."
Sambil berbincang sejenak, Arkan menoleh ke arah Elva. Arkan yang baru konsultasi masalah tesis membawa buku lumayan banyak. Tas punggungnya penuh. Di tangannya ada tiga buah buku.
"Tasnya masih kosong?" tanya Arkan ke Elva.
"Iya masih .."
"Ni yang dua masukin dulu ya." kata Arkan sambil memberikan dua buku. Elva menerimanya kemudian memasukkannya ke dalam tasnya tanpa banyak bicara.
"Tuh yang satu nggak sekalian?" tanya Elva.
"Nggak, biar dipegang saja."
Fera dan Haryo yang di depannya bengong. Mereka melihat keduanya sudah sangat akrab dan saling memahami. Mereka berdialog dengan cara yang sangat wajar. Melihat itu, Fera memberikan isyarat kepada Elva untuk menjauh. Setelah sekira sepuluh meter meninggalkan Haryo dan Arkan, Fera menatap tajam Elva.
"Elva, katakan, apa hubunganmu dengan Kak Arkan?"
"Hubungan yang mana?"
"Kamu terlihat akrab banget dengan dia. Kamu memasukkan bukunya dengan enak, santai, seperti suami istri."
"Sssttt Fera .... istighfar Fera."
"Kenapa?"
"Nggak boleh bicara yang bukan-bukan Fera, aku dan Kak Arkan bukan suami istri. Dan kami juga tidak pacaran. Nggak ada yang pernah mengatakan sesuatu, nembak misalnya, seperti anak-anak SMA. Nggak... "
"Tapi kok akrab sekali?"
"Ya nggak apa-apa kan?"
"Aku tetep nggak percaya. Dulu El, di SMA aku sering ember ke teman-teman sendiri, putra Pak Danar itu ganteng, pinter .... aku naksir, aku caper. Masih inget nggak?"
"Ingat."
"Tapi kenapa waktu itu kamu diam saja?"
"Memang aku suruh komentar apa?"
"Bilang kek dia itu pacarmu."
"Mana bisa. Fer, kamu kan tahu, aku paling punya prinsip mau seriusan itu nanti setelah lulus kuliah."
"Memang kamu kenal dengan Kak Arkan kapan?"
"Seminggu setelah kamu les."
"Seminggu? Di mana?"
"Di Pak Danar."
"Hah?! Di Pak Danar?"
"Iya, aku juga les di beliau."
"Les juga? Kapan waktunya?"
"Setiap Kamis sore."
"Kok kamu nggak pernah cerita?"
"Kan kamunya juga nggak tanya sih. Fera, bagi saya, asal yang saya lakukan itu tidak merugikan orang lain ya saya lakukan. Aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun bahwa aku les ke Pak Danar, itu hak-ku. Tak ada yang aku rugikan."
"Kamu les sendirian?"
"Berdua, bareng Salsa. Sekarang dia di Yogya, di jalur UM."
Hingga beberapa saat Fera terdiam. Ia benar-benar tak percaya dengan semua yang ia dengar apa yang baru terjadi di depan matanya. Elva yang sangat akrab dengan Arkan, pemuda yang dulu langsung mencuri simpatinya. Namun sekarang semuanya ia rasakan telah terhalang oleh sebuah tembok kokoh yang tak tertembus.
"Aku pulang El...." kata Fera melemah.
"Maafkan Elva, Fera ....."
Fera memeluk Elva hingga lama. Ia sama sekali tak menyangka bahwa akan ada cerita seperti hari ini.
"Elva, aku masih suka sama Kak Arkan." kata Fera seraya melepas pelukannya.
"Silakan saja... dia orang merdeka kok. Masih boleh untuk dipilih, juga boleh untuk didoakan oleh siapa saja."
"Hatimu lembut sekali Elva ....."
"Pak Danar yang banyak memberiku masukan tentang hidup. Fera, tak usah risau, mari kita belajar baik kepada diri, juga baik terhadap apa yang telah dikaitkan dengan orang lain."
"Maksudnya El?"
"Haryo Fer ....."
"Hmhhh..... iya El, tapi dulu waktu kelas X dia sukanya sama kamu El."
"Kan sudah aku beri isyarat, bahwa aku selama sekolah belum mau berfikir tentang pacar atau apapun namanya itu. Makanya aku tolak pemberian Haryo. Agar pikirannya jernih kembali, dan memulai dari nol lagi untuk menyukai orang selain aku. Fera sahabatku .... hati manusia berubah. Sebelum berangkat ke Bandung, Haryo pasti tahu kamu akan ketemu aku kan?"
"Iya, dia tahu. Mungkin kangen sama kamu El, dia pernah suka sama kamu...."
"Heheee..... kangen ya wajar lah, sama seperti kita yanag suka pengen kangen-kangenan dengan teman SMP, teman SD. Iya kan? Tapi Fer, aku lebih melihat kepada niat Haryo yang menawarimu bareng pakai mobil dia."
"Iya El. Dia serius, bahkan dia sudah berani menyampaikan niatnya yang serius untuk nanti setelah aku lulus, emm setelah kami lulus."
"Bagus laah... aku support Fer."
"El, tapi aku masih boleh kan mengenang Kak Arkan?"
"Ya boleh laah.. boleh. Tapi ketika suatu saat Haryo sudah resmi menjadi suamimu, lupakan Kak Arkan, lupakan juga semua orang yang pernah hadir dalam urusan hati denganmu. Konsenmu hanya untuk Haryo."
"Elva ...."
"Ya Fer?"
"Betapa bahagianya Kak Arkan jika ia menjadikan dirimu menjadi pendampingnya .... pendamping selama hidup. Kamu gadis yang cerdas, yang lembut hati, dan dewasa."
Mendengar itu Elva terharu. Ia bisa merasakan betapa dalam diri Fera kini sedang merasakan kekecewaan yang dalam. Ia tak ingin gadis itu berlama-lama bersedih. Ia berniat akan selalu support semangatnya untuk bisa berbahagia bersama Haryo.
Elva menglurkan kedua belah tangannya ke hadapan Fera. Bibir Fera terkatub. Gadis itu menahan air mata yang hampir jatuh. Fera menyambut tangan Elva. Keduanya kembali berpelukan.
***

Di gazebo. Suatu pagi.
Arkan tengah menyelesaikan revisi tesis. Sidang telah dilalui. Pemuda itu sukses dengan nilai yang memuaskan. Maka, kali ini berada kampung halaman benar-benar menjadi pelengkap kebahagiaan atas kesuksesan dirinya.
Ting! Notifikasi WA masuk. Arkan membuka HP-nya. Wajahnya berseri.
"Assalaamu'alaikum Kak Arkan. Maaf mengganggu istirahatnya..."
"Wa'alaikumussalam. Gimana kabarnya De, masih di Kalapa Dua, eh di KD?"
"Mau ke KD, ini bareng rombongan baru pulang dari Jakarta. Ada keluarga yang mantu."
"Oooo..... sampai mana? Cikampek? Cikedung?"
"Sudah dekat Panyingkiran kok!"
"Wah? Nyampai mana?"
"Sudah di Kadipaten."
"Wuah! De, mampir atuuh ... asli, bilangin sama Bapak, De Elva diminta mampir di Pak Danar gitu."
"Mau telpon sendiri?"
" Kalau titip pesan diijinkan ya syukur, tapi kalau hanya titip pesan nggak diijinkan, baru aku langsung telepon Bapak."

Beberapa saat kemudian.
"Bapak mengijinkan, tapi beliau tanya, nanti mau dijemput jam berapa?"
"Bilangin ke Bapak, terima kasih gitu. Ntar ajak adikmu itu, De Elsa ya? Bilangin juga, nanti biar aku yang ngantar ke KD. Bilangin juga, di Pak Danar cuma sekitar satu jam kok."

Gazebo semarak.
Arkan, Elva, Elsa dan Ibu Arkan. Yang tidak tampak adalah Pak Danar, laki-laki masih di Majalengka. Biasanya dalam kumpulan seperti ini Pak Danar paling bisa membangun kesemarakan. Tapi ini ada Arkan, bakat supelnya masih sedikit menurun ke dia, walaupun tak sebagus Pak Danar.
Setelah beberapa lama berbincang, Bu Danar mengajak Elsa menemaninya untuk belanja ke Alfamart. Elsa mengiyakan. Keduanya berjalan bareng. Arkan dan Elva mengamati dari belakang sambil tersenyum.
"Kaya anaknya ya De?"
"Iya banget."
"Mau nggak suasananya kaya gitu terus De?"
"Hehee ....."
"Ibuku akrab dengan De Elsa, juga akrab dengan De Elva ...."
"Ya kalau silaturahim apa salahnya."
"Pas. Berarti mau ya?"
"Nggak tahu aaah!"
"De Elva, ini gazebo ruang santai, ruang les atau yang lain. Di depan itu ruang tamu. Yang nyambung gazebo, pintu ini niih ... ini ruang keluarga. Di dekatnya ada musholla keluarga, di dalam."
"Oooo..... "
"Pernah masuk nggak?"
"Ya belum lah, ke rumah ini juga baru beberapa kali."
"Perasaan sering. Dulu waktu les sama Ayah,"
"Iya kan di luar."
"Memang nggak pernah ada yang pengen ke air gitu? Terus minta ijin ke Ayah ... ikut ke air."
"Kalau pengen si ya pengen, tapi ditahan."
"Aaaah... itu nggak lucu! Padahal bilang saja numpang gitu ..."
"Malu."
"Bagus, itu menunjukkan kualitas manusia yang baik. Rasa malu, ewuh pekewuh ...."
"Ah sudahlah jangan dibahas..."
Arkan berdiri. Kemudian berjalan ke arah pintu ruang keluarga yang membuka sedikit. Kini pintu itu terbuka penuh. Sebagian perabotan tampak dari luar. Gadis itu melirik sejanak, namun kemudian kembali melihat ke luar. Pemuda itu hanya menggeleng melihat gadis itu menatap ke luar. Kini di tangan Arkan ada album foto.
"De.." kata Arkan sambil duduk.
"Ya?"
"Aku punya sesuatu. Umurnya sudah sekitar lima tahun."
"Apa?"
"Lihatlah ini ..... tapi jangan kaget ya...."
Perlahan tangan Arkan membuka album foto. Satu, dua, tiga. Pada lembaran ke empat pemuda itu menyodorkan album kepada Elva. Demi melihat gambar itu Elva kaget.
"Kaak... ini ..... ini .. kok Kakak punya foto ini?" Elva benar-benar kaget. Sama sekali tak pernah terbayang bakal ada kejadian seperti ini
"Apapun harus diusahakan. Ikhtiar dan doa."
"Kakak dapat dari siapa?"
"Hunting sendiri."
"Oooh ... bukannya ini waktu fesband? Waktu aku kelas XI?"
"Iya benar. Waktu itu kebetulan aku sedang tidak ada kuliah, nyempetin pulang kampung. Terus sedikit nakal main ke Smansa."
"Nakal bagaimana?"
"Fesband kan nggak boleh ditonton orang luar. Waktu itu aku bilang mau ketemu Ayah, dan memang aku ketemu Ayah dulu, jadi nggak berbohong. Setelah itu ya sudah, nonton sambil menunggu penampilan anak-anak kelas MIPA 3."
"Dan disitu Kakak mengambil foto?"
"Hehe iya ... ini foto yang paling aku suka. Gayanya, mmh .... lihat, gestur, terutama gerakan tangannya berbicara banget."
"Aaah Kakak mah!"
"De Elva, masih ingat nggak, waktu ada kejadian di kopgur?"
"Kejadian apa?"
"Waktu ada anak putri, mau bayar jajan dan pulpen, tapi ternyata kehilangan uang."
"Ooohhh iya... iya."
"Ingat ada yang mbayarin nggak?"
"Ah iya .... iya ... betul itu , aku tidak terlalu perhatian, tahu-tahu kata ibu kopgur, sudah ada yang mbayarin. Tapi dia terus lari."
"Dia lari sambil membawa memori. Ada bayangan, gadis kecil, masih imut, kelas X, alisnya bagus. Aku jadi ingat ketika dia hampir nangis .... lucu, tapi jadi tambah cantik."
"Kaak ... jangan.... jangan .... dia adalah .... dia? Dia?"
"Hehe...."
"Dia Kak Arkan?"
"Maafkan Arkan ya De ..... sejak kejadian itu memori aku sulit untuk menghilangkan bayangan wajah De Elva. Yaaah walaupun waktu itu belum tahu nama ......."
Speechless. Elva kehilangan kata-kata.
Gadis itu diam tak mampu berkata apa-apa hingga beberapa saat. Elva tertunduk, namun tangannya masih memegang album foto itu. Arkan yang duduk di depannya diam.
"Kak...." kali ini Elva yang memulai.
"Ya?"
"Berarti keluarga di sini tahu ada foto ini di album?"
"Ya, semua tahu."
"Och ...."
"Maafkan De, kalau tidak berkenan, biarkan gambar ini aku ambil saja ...." kata Arkan sambil meminta album. Elva tak memberikannya.
"Jika keluarga sudah tahu .... maka ....."
Elva berhenti bicara. Kalimatnya terhenti. Arkan bangkit dari duduknya. Pemuda itu mengangguk ke arah Elva. Gadis itu mengernyitkan dahi.
"Apa Kak?"
"Ada sesuatu juga di ruang keluarga, ayo lah, sesekali masuk ke rumahku."
Ketika Elva melangkah melintasi pintu, Arkan menunjuk sesuatu di ruang keluarga. Mata Elva mengikuti. Gadis itu kembali kaget.
Ia melihat gambar berpigura di belakang rak buku. Gambar yang sama seperti yang ada di album.
"Kak Arkaan...."
"Maafkan aku ya De ."
"Sejak kapan foto ini dipajang Kak?"
"Sejak kita ketemu De Fera dan Haryo, waktu di Unpad itu. Belum lama sih..."
"Oh ...."
"Keinginan aku, foto ini akan aku pajang selamanya. Tentu jika ada ijin, dan ada yang mau memberi kesempatan."
Siang itu bagi Elva benar-benar merupakan siang yang penuh makna. Sangat berarti baginya. Arkan yang bisa membuat dirinya tak berdaya. Ia juga heran, dari dulu Arkan selalu begitu. Perhatian yang sangat bermakna. Cinta? Mungkin saja. Tetapi tak pernah ada kata cinta terucap. Atau belum terucap. Atau mungkin dia itu type laki-laki penganut "kata cinta setelah menikah"? Pikirnya. Mungkin saja.
Elva merasakan beberapa kalimat yang sangat menyentuh kesensitifan hatinya. Pertama ketika Arkan menyebut namanya "Elva Cahyaning Kartika, cahaya bintang". Kedua ketika Arkan mengatakan  ".... sejak kejadian itu memori aku sulit untuk menghilangkan bayangan wajah De Elva." Ketiga ketika Arkan mengatakan "Ada bayangan, gadis kecil, masih imut, kelas X, alisnya bagus". Keempat, baru saja ia dengar "Keinginan aku, foto ini akan aku pajang selamanya. Tentu jika ada ijin, dan ada yang mau memberi kesempatan".
Sekitar pukul dua siang.
Arkan menghentikan mobilnya di Kalapa Dua. Elva dan Elsa turun. Pemuda itu mengikuti keduanya. Hanya sekira dua puluh menit pemuda itu bertemu keluarganya. Ia langsung berpamitan. Beberapa jenak kemudian mobil Arkan bergerak perlahan.
Arkan melihat dari kaca spion, ayah, ibu dan Elsa sudah meninggalkan pinggir jalan. Pemuda itu menarik nafas dalam. Ia menekan pedal kopling, kemudian memindahkan gigi ke posisi R. Perlahan mobil mundur lagi.
Elva terhenyak melihat mobil Arkan mundur lagi. Gadis itu kini berdiri di samping mobil. Arkan menurunkan kaca jendela.
"Ada apa Kak?"
"Ada yang ketinggalan."
"Och! Apa ya? Di meja atau di mana? Biar saya ambil."
"Ah enggak kok."
"Lho? Lalu? Apa ketinggalan Kak?"
"Gadis yang ada di dekatku ...."
"Aaah Kakak.."
"De Elva Cahyaning Kartika .... hati Kakak yang ketinggalan di sini, di Kalapa Dua..."
"Aaaa Kakak mah!" kata Elva tersipu. Arkan tersenyum,
"Boleh Kakak request?"
"Apa Kak?"
"Tolong dijaga ya .... "
"Apanya Kak?"
"Yang ketinggalan di sini , jaga hati Kakak di sini."
"Mmmhh ....."
"Dijaga ya ...."
"Mmmhh.... "
"Elva yang cantik, yang alisnya indah ... tolong dijaga hati Kakak ya ...."
Begitu mendengar sanjungan Arkan, gadis itu bahkan semakin tak bisa berkata-kata. Arkan tersenyum. Ia sangat suka melihat Elva tersipu.
"Usai wisuda, aku, Ayah dan Ibu mau ke sini. Atau mungkin kita ketemuan di wisuda. Tunggu ya...."
"Iya, iya Kak. Salam untuk Pak Danar dan Ibu.""
"Insya Allah salam dari anaknya aku sampaikan, assalaamu'alaikum!"
Elva mendesah panjang sambil melihat mobil Arkan yang semakin menjauh. Hatinya bahagia. Ia mengatubkan bibirnya. Arkan. Ya, hari ini telah mampu membuat dirinya menangis.
"Kak Arkan .... Elva mencintai Kakak ....." gumamnya sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.

***
Wisuda usai.
Arkan telah memperoleh gelar magister. Sesuatu yang membahagiakan. Bagi Arkan sendiri yang lebih membahagiakan dirinya adalah bahwa keluarga Elva  hadir. Semua atas undangan Ayahnya. Ini agak tidak lazim, namun dalam rangka menjalin silaturahim semua bisa dilakukan.
Siang itu Pak Danar telah memboking ruangan di salah rumah makan untuk waktu tiga jam. Usai menikmati makan siang, Pak Danar mengucapkan terima kasih atas hadirnya keluarga orang tua Elva memenuhi undangan.
"Acara ini sebenarnya merupakan acara kembang dari acara yang sesungguhnya nanti .... Ini atas permintaan Arkan anak kami."
"O iya ya..."
"Arkan ingin meminang putri Bapak ..."
Dada Elva gemuruh demi mendengar pernyataan Pak Danar sangat jelas. Gadis itu tertunduk dalam di depan keluarga Arkan dan keluarga sendiri.
"Semua saya serahkan kepada Elva .... Nanti bisa kita bicarakan lagi."
"Iya, iya pasti."
Beberapa saat kemudian Pak Danar meminta Arkan dan Elva untuk mendengarkan kata-katanya.
"Arkan, anak Ayah ..."
"Iya Ayah.."
"Sebenarnya kumpulnya kita sekarang ini, Ayah nilai sebagai sebuah terbuktinya tanda-tanda yang telah diberikan oleh Allah kepada Ayah."
"Tanda-tanda apa Yah?"
"Dulu, di awal kelas XII .... Elva pernah datang ke Ayah, Ayah kasih beberapa nasehat. Akhirnya secara refleks, si Neng ini mengatakan .... wah Pak, jadi pengen jadi anak Bapak aaaaah! "
"Betul begitu De?" kata Arkan sambil memadang tajam.
Elva tidak menjawab. Lehernya teras tersekat. Sejurus kemudian gadis itu menutup wajahnya. Beberapa sat kemudian Elva terisak. Hingga beberapa lama akhirnya gadis itu membuka tangannya, kemudian mengusap air matanya.
"Betul begitu De? De Elva pengen jadi anak Ayah?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Nggak tahu juga sih, tapi nggak tahu kayaknya sudah merasa dekat. Merasa bukan jadi orang asing. Pak Danar adalah sosok yang baik, yang bisa menjadi teladan, sumber motivasi bagi murid-muridnya, nyaman kalau dekat Pak Danar. Elva pernah diajar Pak Danar ketika masih kelas XI, ketika belau mewakili Bu Fatimah yang naik haji. Di saat belajar bersama Pak Danar, ada sesuatu yang berbeda, tak bisa terlukis dengan kata-kata..." kata Elva sambil kembali menitikkan air mata.
"Elva .... itu firasat. Itu tanda-tanda dari Allah, kebaikan Ayah kepada anaknya."
"Iya mungkin saja Pak."
"Banyak tanda-tanda yang Ayah rasakan... salah satunya dulu ketika dia sudah lulus, Arkan pengen nonton festival band di sekolah. Besok paginya dia malah tunjukin foto, katanya ini bintang baru yang namanya cahaya bintang. Cahyaning Kartika. Fotonya  malah dibingkai, dipasang di ruang keluarga itu."
"Benar .... Elva juga pernah cerita tentang foto itu." kata ayah Elva.
"Hari ini Elva sudah menjadi anak Ayah ....... " kata Pak Danar sambil tersenyum memandang Elva.
"Iya terima kasih Ayaah ..... " kata Elva yang kemudian menyalami dan mencium tangan Pak Danar.
"Memang bagusnya begini, anak-anak kita nggak usah pacaran. Kalau mau jadi ya ksatrialah, langsung bilang, seperti nak Arkan ini."
"Benar sekali."
***
Beberapa saat ketika dua keluarga melanjutkan perbincangan, Arkan mengajak Elva ke luar sebentar.
"Ingat De Elva, hidup ini akan indah dengan sinergi antara ikhtiar dan doa. Semua ikhtiarku sudah. Hari ini adalah ihktiar terbesarku. Doa Insya Allah juga sudah. Kebahagianku hari ini, ya wisuda, ya kedatangan keluarga De Elva semuanya menjadi penyempurna ikhtiarku. Indah ya De?"
"Iya ..."
"De Elva ada permintaan? Rasanya aku tak pernah memberikan sesuatu yang berharga..."
"Emmh ..... nasehat Kakak tentang ikhtiar dan doa sangat berharga."
"Ada yang lain De?"
"Mmmhh..."
"Ayo dong..."
"Permintaan untuk nanti ya Kak."
"Kapan?"
"Jika acara hari ini sudah berlanjut ke acara resmi berikutnya ."
"Oooooh .... iya.... tentu."
"Kak Arkan ......."
"Ya De?"
"Lindungi Elva Kak..., selalu lindungi .... agar Elva merasa aman."
"Iya De Elva.... mudah-mudahan.... Insya Allah Kakak diberikan kekuatan ..."
"Aamiin Kak, selain itu ... semoga Kak Arkan, Arkan Arshaq Ramadhan ... bisa menjadi... "
"Menjadi....."
"Menjadi  tempat berteduh hati Elva ..... teduhi hati Elva ya Kak ..."
Kali ini Arkanlah yang terharu dengan permintaan Elva. Bahkan matanya tiba-tiba terasa panas. Namun sebagai laki-laki ia mencoba menahannya.
Ia lihat di depannya, gadis cantik dengan alis yang indah, Elva Cahyaning Kartika. Arkan bahagia.
Elva tersenyum. Arkan tertegun melihat senyum gadis itu yang sangat manis.
"Masya Allah senyummu De Elva .....  De Elva adalah masa depan indahku. Mudah-mudahan masa depan yang diridloi-Nya..." kata pemuda hampir tak terdengar.
Elva menitik air matanya. ***

                                                    Majalengka, 10 Desember 2017

    *Request : Evi Fazriati  Kelas XII MIPA 3
                      SMA Negeri 1 Majalengka Tahun 2017/2018.
                   
    *Note : Ayo mantan pengurus OSIS 44, berjuang terus!

Cerpen ini diambil dari akun pribadi di kompasiana.com/didik_sedyadi

Terbaru 2020 - Cerpen : Takluknya Sang Penakluk

Blog Pendidikan




Pukul 06.32. Tempat parkir motor SMA Negeri 1 Majalengka. Tempat hampir penuh. 
Helga memasuki gerbang parkiran motor. Gadis itu melihat Lestari, teman sekelasnya  telah lebih dahulu di situ.
Usai menyimpan motor, gadis itu mengernyitkan dahi melihat Lestari tengah mencari-cari sesuatu di tasnya.
“Tari! Cari apa?” tanya Helga sambil ikut melihat isi tas.
“Tugas.”
“Matem?”
“Biologi.”
“Ooooo… padahal kita sudah sepakat dengan Bu Ema, kalau tidak mengerjakan atau lalai mengumpulkan tugas, kita wajib merawat dan menjaga kebun hidroponik selama satu minggu, sepulang sekolah, sampai pukul setengah enam!” kata Helga menakut-nakuti.
“Itulah! Itulah yang aku takuti. Aku trauma dengan ulat hijau yang ada di punggungku, kalau aku piket, nanti teman-teman ulat datang lagi!”
“Terus?”
“Ya ginama ya duuuhhhh!” kata Lestari sambil menjejak-jejak lantai parkiran, wajahnya tampak ketakutan.
“Ambil, seperempat jam cukup!”
“Ngawur kamu Hel! Kalau terburu-buru, ada apa-apa gimana?”
“Iya sih, tapi gimana lagi, Biologi jam pertama!”
Keduanya belum sempat menemukan solusi, ketika tiba-tiba ada anak laki-laki  datang kemudian memarkir motor di antara motor Helga dan motor Lestari. Akhri, sang ketua kelas.
“Ada apa nih? Kok Tari kayak mau nangis? Dijahatin ya Hel?”

“Iiiih datang-datang main fitnah! Tanya sendiri ke Tari tuuuh!” kata Helga kesal.
“Kenapa Tari?”
“Tugas Biologi ketinggalan.”
“Gawat! Bu Ema!”
“Akhriiiii! Jangan nakut-nakuti!” wajah Lestari tampak semakin tegang.
“Ambil, pulang lagi!”
“Nggak mau!”
“Kolokan! Aku ambilkan! Nih tasku bawa masuk …..” kata Akhri sambil melepas tas punggung diserahkan kepada Lestari. 
Gadis itu menerima tas Akhri. Setelah itu dengan sigap Akhri mengeluarkan motornya dari jajaran parkir, kemudian melesat ke arah luar.
“Astaghfirullaaah tuh anak!” gumam Helga.
“Akhriiiiii! Sini duluuuuu …..” teriak Lestari seraya meloncat-loncat. Namun suara gadis itu tak didengar oleh Akhri yang kemudian hilang dari pandangan. Kedua gadis itu saling pandang, kemudian keduanya sama-sama menggeleng.
Lestari dan Helga berjalan perlahan ke arah gerbang parkiran. Kelas mereka X MIPA 6 tak terlalu jauh dari tempat itu. Namun belum lagi keduanya keluar parkiran, keduanya terkejut. Mereka melihat Akhri masuk ke gerbang sekolah lagi, kemudian berhenti di depan keduanya.
“Tari! Memang rumahmu di mana? Aku tadi sudah sampai alun-alun!” kata Akhri bertanya dengan nafas terengah-engah.
“Kan tadi juga aku memanggilmu, kamu malah kaya kesetanan!”
“Soalnya buru-buru!”
“Rumahku di Kadipaten.”
“Ya Alloooh ya Rabb! Saya pikir rumahmu di Sukahaji!”
“Yang Sukahaji itu Helga!”
“Ooo….”
“Kenapa mikir Sukahaji?” tanya Helga.
“Firasat saja … feeling.”
“Uuuh …. makanya jangan sok tahu.”
“Ya maklum, kita anak baru kan baru tujuh bulan, mana hafal!” kata Akhri membela diri.
“Tujuh bulan itu lama lho Ri! Kamu saja yang cuek orangnya…”
“Iya Bu Helga, terima kasih diingatkan.”
“Nggak lucu!”
“Memang aku tidak sedang melucu. Aaah ….. sudahlah…. Emmm Tari, Kadipatennya sebelah mana, anak siapa, rumahnya ngadep mana?”
“Lapangan Sedar, tanya saja rumah Lestari anak Smansa! Aku cukup terkenal kok!”
Tanpa menunggu jawaban lagi dari Lestari, Akhri kembali menaiki motornya meninggalkan keduanya. Helga dan Lestari maklum, waktu tinggal dua puluh menit. Untuk menempuh jarak sembilan kilometer dari Sekolah ke Kadipaten, jika jalan lengang sekitar tujuh menit. Namun saat ini sudah mendekati pukul tujuh, jalan tentu ramai.
Masuk jam pelajaran kedua Akhri belum tampak.
Lestari heran. Tadi ada petugas piket memberikan titipan tugas, tetapi bukan Akhri yang mengantar. Namun kemudian rasa penasaran terjawab sudah ketika pemuda itu bersama yang lain membagikan slip absen ke setiap kelas di sekolah.
“Berarti Akhri terlambat …. “bisik Helga sambil menyikut lengan Lestari.
“Iya. Kasihan dia, padahal tugasku sudah dibawakan!”
“Wah, kamu harus minta maaf kepada dia.”
“Haduuuh … salah dia sendiri sih, aku kan nggak nyuruh!”
Setelah kejadian itu Helga melihat Akhri dan Lestari semakin akrab. Gadis itu sendiri merasa senang melihat sahabatnya demikian.
Helgaaa…!
Helga kaget ketika tiba-tiba di dekatnya terdengar ada yang memangggil. Cukup pelan, tetapi membuat gadis itu terperanjat. Demi melihat Akhri yang datang, Helga menyembunyikan HP di belakang punggungnya. Gadis itu menarik nafas dalam. Kedatangan pemuda itu benar-benar telah memotong lamunannya tentang pertemuan Akhri dengan Lestari yang cukup seru dulu di awal kelas X.
“Kok kaget Hel?”
“Enggaak… siapa yang kaget.”
“Hel … rupanya kamu tadi sedang ngelitain fotoku bareng Tari ya?”
“Enggak ….”
“Helga, sejak kapan sahabatku yang satu ini memutuskan untuk berbohong?”
“Apasih nggak ngerti?”
“Aku tadi ikut lihat foto di HP-mu sejak lama lho!”
“Hah?!”
“Maaf Helga, maaaf banget….. rupanya kamu sedang mengingat-ingat kisahku dengan Lestari ya?”
“Iiihhhh apa urusanku?”
“Helga, mbok ya-o bersahabat sedikit gitu.”
“Maksudnya?”
“Senyum gitu …. jangan ketus. Toh aku salah juga cuma sedikit, cuma nebeng dikit ngeliatin HP-mu.”
“Tapi ya ngomong dulu Akhriiiii!”
“Tapi sedang ngeliatin foto aku sama Lestari kan?”
“Iya, iyaaa!”
“Nah gitu kan enak.”
“Enak di kamu!”
“Eh Helga, enak kan jadi jujur?”
“Iya tapi aku nggak rela kamu curi-curi kesempatan kaya tadi, nimbrung nonton HP orang nggak bilang-bilang.”
“Memang kamu nggak krasa aku tadi datang di belakangmu?”
“Enggak.”
“Kalau begitu aku cocok jadi intel!”
“Intel apaan?”
“Ya polisi laah ….”
“Nggak cocok!”
“Hmh ngak cocok? Tari saja setuju!” kata Akhri sambil terkekeh. Helga melengos.
Dengan terburu-buru gadis itu meninggalkan Akhri yang masih tak habis pikir ketika tiba-tiba ditinggal sendirian. Sambil tergesa-gesa menjauh, gadis itu sendiri juga merasa kaget, kenapa tiba-tiba ia meninggalkan Akhri tanpa alasan.

***


Minggu siang. Cirebon. Grage Mall.

Usai makan Baso Malang Karapitan di lantai II Helga menuju toko peralatan pendakian. Beberapa keperluan harus dibelinya. Mengisi liburan kenaikan kelas kali ini, Helga bersama grupnya berencana menaklukkan ketinggian Ciremay untuk yang kedua kalinya. Hanya untuk kali ini tampaknya tidak bisa kompak, biasanya mereka selalu bersama.
Memasuki counter Eiger ori, gadis itu mulai melihat-lihat.
“Cari apa Teh?” sambut seorang pelayan dengan ramah.
“Lihat-lihat dulu.”
“Ooo silakan. Mmm mau muncak rupanya?”
“Kok tahu?”
“Heheee… itu logo di jaket, Ganapala. Pecinta alam.”
“Oooo… memang harus muncak ya?”
“Bukan masalah itu, biasanya bulan-bulan begini, musim kemarau habis kenaikan kelas banyak yang cari perlengkapan di sini.”
“Ooo… tapi kebetulan memang mau ke Ciremay sih.”
“Kayaknya banyak yang mau ke sana ya…”
“Biasanya begitu. Emmm … ini kaos tangan, cover bag. Samaaa…. mmm deker tungkai.”
Beberapa saat setelah barang dimasukkan kantong keresek, Helga membuka dompet.
“Nggak usah Teh, tadi sudah ada yang nitip uang buat apa yang Teteh beli.”
“Hmh? Apa maksudnya?” Helga kaget.
“Tadi ada yang sudah nitip uang, katanya suruh bayarin apa saja yang dibeli gadis berbaju coklat.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Tadi dia lihat dari sini, ke arah Baso Malang Karapitan. Dia nunjuk si Teteh, dan memang si teteh ke sini. Ya sudah, ini kaos tangan, deker sama coverbag sudah lunas.”
“Astaghfirullaahal adhiiim… siapa dia? Emm Mbak, anaknya cowok ya?”
“Cewek Teh.”
“Cewek? Bukan cowok?”
“Iya cewek.”
“Oooo….. sendiri atau berempat?” tanya Helga teringat nama-nama Zahra, Zihma, Sunny dan Tiwi anggota grupnya.
“Sendirian.”
“Oooo…. siapa ya?”
Siang itu Helga mendapatkan perlengkapan pendakian secara gratis. Namun ia tetap penasaran akan siapa yang telah membayar benda-benda itu. Ketika ditanyakan kepada Zahra melalui telephon, Helga tak mendapat keterangan apa-apa.
Memangnya ada apa Hel?”
“Aku belanja di Eiger Grage, ada yang mbayarin. Tapi orangnya misterius.”
“Terus nanya sama aku maksudnya apa?”
“Yang mbayarin anak perempuan. Aki  kira kamu orangnya, atau yang lain grup kita.”
“Nggak tahu Hel, kami seharian di rumah Tiwi kok.”
“Terus kira-kira siapa?”
“Kalau anggota regu lain? Yang cowok misalnya?”
“Bakti?”
“Nggak mungkin.”
“Akhri?”
“Cewek Ra!”
“Ah nggak tahu lah, nyerah!”

Siang itu nihil.
Mengingat-ingat anak perempuan yang suka muncak atau kegiatan pecinta alam, tampaknya tak banyak yang intens dalam bersahabat. Senior di ganapala juga tidak mungkin, karena untuk tahun ini katanya tidak akan terlibat dengan kegiatan.
Ting!
Notifikasi WA masuk. Helga membuka HP. Ada japri dari Akhri.
“Hel, kita besok ketemuan di markas bisa nggak? Ada sesuatu yang penting.”
“Membahas apa? Bukannya sudah dilimpahkan kepada tiap kelompok.”
“Tapi ini penting.”
“Kenapa harus aku? Ada hubungannya dengan aku-kah?”
“Nggak sih, tapi aku suka kalau curhatnya sama kamu Hel. Swear!”
“Iiih apaan sih!”
“Bener Hel, kamu itu kalau nasehatin teman-teman kaya ibu-ibu. Pantes banget.”
“Ngece kamu Akhri!”
“Eh bener, kayak ibu-ibu maksudnya pola pikirmu dewasa.”
“Ah modus!”
“Ah kamu mah kalau sudah bilang gitu, ibu-ibunya hilang, tinggal….”
“Tinggal apanya?”
“Nggemesinnya!”
“Mo-duuus!”
“Ah terserah kami lah Hel. Tapi mau ya Hel, please deh! Cuma sebentar kok, paling cuma satu jam!”
“Wuih enak saja satu jam dibilang sebentar.”

Ya sudah seselesainya…..”
“Naaah begitu…”
“Selesainya tiga jam!”

Pagi hari di taman sekolah.
Biarpun hari libur, SMAN 1 Majalengka hampir tak pernah ada kata libur. Selalu saja ada anak-anak yang datang untuk mengisi kegiatan apa saja. Para guru hanya berpesan, agar semua kegiatan yang dilakukan harus dilaporkan.
Pagi itu Akhri sudah duduk di bumper depan ruang guru. Keduanya menghadap lapangan olah raga. Ketika Akhri memulai pembicaraan, Helga hanya mendengarkan dengan seksama.
“Aku kangen ketinggian puncak Ciremai. Dingin. Tancapkan bendera Ganapala . Dan yang satu ini, edelweis. Aku ingin melihatnya kembali.” kata Akhri sambil pendangan lurus ke depan.
“Semua juga begitu.”
“Helga, namun ada satu hal yang membuatku gelisah. Tak nyaman.”
“Hmh? Tak nyaman? Apa itu Ri?”
“Lestari.”
“Ooooh … Lestari. Akhri, maaf, kalau aku ke sini hanya untuk diajak bicara masalah Tari, aku pulang saja.” kata Helga seraya berdiri.
“Em Helga… tunggu … Helga, Helga ...tunggu dulu, aku belum selesai bicara. Helga , tolong duduklah lagi.”
“Hmh….” Helga menghela nafas dalam sambil menggeleng. Namun tak urung gadis itu duduk juga.
“Helga sahabatku, dengar. Ini yang penting."
"Apa?"
" Lestari minta dibawakan bunga edelweiss.”
“Apa?!”
“Edelweiss. Ya, itulah masalahnya. Dia minta aku membawa bunga edelweiss untuknya.”
“Kamu iyakan?”
“Aku nggak tahu Helga…”
“Apa alasan Tari?”
“Untuk… untuuuk ….”
“Untuk simbol keabadian? Gitu kan?”
“Hmhh… iya… itulah alasan Tari.”
“Klasik! Kenapa mesti harus dengan simbol bunga edelweiss? Sudah Akhriii … abadikan saja hubungan kalian, nggak usah pakai simbol!”
“Aku memberitahukan alasan …. eh dia malah ngambek. Sampai sekarang aku didiamkan.”
“Kontak dia, ajak dia muncak, nanti sambil berjalan di sekitar edelweiss aku akan memberinya nasehat, bukan cuma nasehat mungkin malah aku doktrin!”
“Nggak bisa Hel. Dia fisiknya lemah, nggak kaya kamu, sehat, fisiknya hebat. Pikiranmu luas, cerdas, dewasa, suka nasehatin orang.”
“Aaah Akhriii … jadi besar kepala nih!”
“Dan lagi …. emmmm"
“Apa lagi?”
“Cantik.”
“Iiiiiih Akhriiiiii! Dasar cowok nggak setia, kasihan pacarmu itu.”
"Ya memang kamu cantik, malah pakai banget."
"Tuuh watak cowok!"
“Haha! Memangnya Helga tahu aku dan Lestari pacaran?”
“Ya kayaknya.”
“Hueh! Kayaknya! Pokonamah sejak perjuangan bahis-habisan di parkiran dulu, kamu kelihatan dekat sama dia.”
“Perjuangan yang mana?”
“Waktu ngambil tugas ketinggalan. Waktu kamu disetrap.”
“Ooooo …. Itu kelihatan aku usaha banget ya?”
“Ya iyalah. Tahu nggak Ri, hati Lestari langsung meleleh diberi pengorbanan kayak gitu.”
“Iya ya?”
“Ya iyalah!”
“Mmmmm …. sudahlah ….. Hel….”
Sebagai anggota pecinta alam, Akhri sangat menjunjung komitmen mencintai alam. Mengambil edelweiss dari puncak gunung adalah sebuah penyimpangan komitmen. Berkali-kali Akhri bersama kelompoknya menaklukkan puncak gunung tanpa edelweiss. Ketinggian Ciremay, Papandayan, Salak, pernah ditaklukkan, bahkan gunung Slamet yang tertinggi di Jawa Tengah  pernah dikangkanginya pula.
Akhri ingat sekali kata-kata Lestari.
“Aku pesan beberapa tangkai edelweiss Ri.”
“Edelweis ?” Akhri terhenyak mendengar permintaan gadis teman sekelasnya itu.
“Iya. Edelweis adalah bunga abadi….. aku berharap persahabatan kita akan abadi seperti edelweiss.” kata Tari sambil merengut.
“Ooooh….”
Hati Akhri membantah. Permintaan Lestari sangat berat untuk dipenuhi. Sejenak nafas panjang dihela. Namun gadis yang duduk di sampingnya itu seperti tak menangkap arti desahan nafas Akhri.
“Kamu keberatan?”
“Edelweiss adalah simbol keabadian Tari , sebuah simbol keabadian tak layak untuk dipetik atau dirusak . Kami anggota pecinta alam telah sepakat untuk tidak menyakiti alam. ”
“Artinya kamu keberatan bukan?” desak Lestari.
“Aaah Tari, Tariiii , sudahlah….. nanti kuganti dengan anggrek yang indah, atau melati yang wangi… edelweiss tak terlalu bagus, warnanya seperti rumput kering.”
Fauzi tak banyak komentar ketika Lestari merajuk. Ia biarkan gadis itu pulang tanpa meninggalkan pesan apapun.

“Begitulah Lestari Hel….. “ Akhri mengakhiri cerita tentang Lestari.
“Wajar.”
“Bagaimana pendapatmu Hel?”
“Noooo comment!”
‘Hmh… ya sudahlah, derita ini aku tanggung sendiri.” kata Akhri sambil menggaruk-garuk kepala sendiri yang tidak gatal.
“Tabah ya Ri.”
“Iya, ya. Kamu sehat ya Hel.”
“Insya Allah.”
"Hel ... ada satu hal lagi yang terkait Lestari."
"Apa lagi?"
"Dia pernah bilang mau ngasih hadiah ke kamu, tapi nggak mau ngomong. Tapi katanya boleh aku yang nyampai-in."
"Ih aneh itu anak. Masalah apa Ri?"
"Lestari pengen nraktir kamu."
"Oooo ..."
"Dan dia sudah melakukannya."
"Apa?"
"Counter Eiger Cirebon. Pernah belanja gratis nggak?"
"Belanja gatis? Hai? Jaa... jadi ketika itu yang nggratisin di Eiger itu?'
"Ya, dia Hel."
"Kenapa?"
"Dia bilang nggak tahu juga. Katanya mungkin itu yang terakhir...."
"Yang terakhir? Ooooh ... Akhrii.... sampaikan terima kasihku kalau begitu."
Akhri hanya menggeleng, Ia tak menjawab.

***

Pagi menjelang siang, di Basecamp Apuy, kaki gunung Ciremai Majalengka.
Beberapa meter dari pintu masuk, grup Fi-Ve tampak bersiap-siap membeli tiket pendakian. Grup yang merupakan kelompok remaja putri terdiri dari Helga, Zahra, Zihma, Sunny dan Tiwi. Kelompok lain sebagai tim pendamping yang terdiri dari pemuda, tapi kelompok yang biasa berpasangan masih belum sampai.
Kelompok Fi-Ve akhirnya memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu. Jalan setapak khas perbukitan, dengan alam sekitar yang masih belum terusik oleh tangan jahil manusia, benar-benar menjadi sahabat bagi mereka para pecinta alam, para pendaki gunung. Grup ini sebenarnya sudah satu kali melakukan pendakian ke puncak Ciremai, dulu ketika kelima  gadis ini baru diterima di SMA. Sekarang tampaknya mereka akan kembali mengingat kenangan-kenangan menyasyikkan selama perjalanan.
Hampir tengah hari Pos 1 Berod terlewati. Memulai meninggalkan Pos 2 Arban, suasana hutan mulai terasa. Tanaman pinus dan lainnya bercampur menampakkan keaslian hutan. Di sekitar jalan tampak pula pakis-pakisan beraneka jenis. Jalanan yang berbeda tekstur dengan perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 sangat terasa. Perlahan, catu energi dalam tubuh mulai keluar dengan serius.
“Masih lama Wi?” tanya Helga yang berjalan paling belakang sambil berhenti. Tangannya memegang tongkat kayu. Yang ditanya, menoleh. Tak hanya menoleh, ia melihat wajah Helga tak seperti biasanya. Gadis itu menunggu sejenak.
“Kamu tanya apa Hel?”
“Masih jauhkah puncak?”
“Ya Allaaaah Hel…. ini kan baru meninggalkan Pos 2. Nanti harus lewat Pos 3, Pos 4, Pos 5 dan terakhir sebelum Puncak di Goa Walet. Bisa ngitung nggak Yu? 3-4-5-6!”
“Uuuuuhhh…..”
“Jangan menyerah, baru saja mulai!” kata Tiwi sambil berbalik melanjutkan melangkah ke jalan yang semakin menanjak.
“Andai saja ada penyemangat lain.”gumam Helga. Rupanya Tiwi mendengarnya.
“Apa Yu?”
“Andai saja ada penyemangat lain.“
“Kelompok cowok?”
“Tidak harus.”
“Kalau begitu makhluk halus!”
“Tiwiiiiiii!”
Sebenarnya yang dirasakan Helga adalah tumit yang nyeri. Kemarin sebelum berangkat, ia mencari deker tetapi tak ketemu. Hingga akhirnya gadis itu memutuskan untuk melupakan barang itu. Rupanya barang sepele itu kini terasa manfaatnya. Andai saja deker tumit dan telapak kaki dipakai, mungkin tidak seperti ini.
Sebagai pecinta alam ia sering meneriakkan semboyan untuk melawan tantangan dan hambatan. Rasa sakit sedikit di tumitnya dianggap sebagai sebuah tantangan kecil. Maka dengan menghilangkan konsentrasi pada tumit yang nyeri, ia berusaka melupakan itu. Ia fokus pada jalan yang akan dilewati. Nyatanya hingga lepas dari Pos 4, gadis itu masih bertahan. Namun ketika pertengahan menjelang Pos 5 Sanghyang Rangkah, Helga tampak semakin kepayahan. Beberapa temannya sesekali menoleh, tapi Helga  mengisyaratkan agar teman-teman terus berjalan jangan mempedulikan.
Hari menjelang pukul empat sore.
Tiwi yang sampai paling dulu di Pos 5, menunggu teman-temannya datang. Gadis itu minum beberapa teguk air bening. Ketika Zihma, Sunny dan  Zahra datang, mereka sempat berfoto.
“Helga mana?” tanya Zahra setelah beberapa saat teman yang terakhir belum datang juga.
“Masih di bawah… biar saja… da dia yang nyuruh kita terus jalan kok!“
“Kalau nyasar?”
“Hus! Ngaco kamu Ra!”
“Yaudaaah … ditunggu saja. Mudah-mudahan tak apa-apa.”
***
Ketika teman-temannya semakin jauh, sebenarnya kondisi Helga semakin payah. Kakinya dirasa semakin sakit. Maka jalannya semakin perlahan. Bahkan kadang-kadang ia bersedeku. Sesekali pula ia duduk di pinggir jalur pendakian itu. Beberapa pendaki dari kelompok lain yang lewat kadang ada yang menyapa sekedar basa-basi. Tak ada yang tahu kondisi yang sebenarnya.
Hampir lima menit gadis itu duduk. Setelah dirasa berkurang sakitnya, gadis itu bangkit. Dengan tertatih-tatih Helga berjalan dengan kondisi medan yang menanjak.
“Ayooo jalan!” tiba-tiba dari belakang ada suara keras, dan ada dorongan pada ransel hingga mendorong Helga maju. Dalam kondisi tak siap, didorong semacam itu justru gadis itu terjerembab ke depan.
“Aaaaahhhckk!” gadis itu hampir terpelanting.
“Helgaaa!” dengan sigap ada tangan menahan cover bag mencengkeram dengan kencang.
Nafas gadis itu tersengal-sengal. Tubuhnya tak jadi jatuh. Perlahan ia memperbaiki berdirinya dengan memegang paha depan. Perlahan mengangkat tubuh.
“Ooohh….. ooohhh….. aduuuh….. aaa… “ Helga meringis menahan sakit.
“Hel…. kamu tidak apa-apa?”
“Oh kamu Akhri… seharusnya kamu bareng Lestari.”
“Hoooi bangun….. ngomong apa kamu Hel?”
“Aneh ……”
“Nggak ada Tari di sini ..”
“Katanya mau ambil Edelweiss.”
“Kamu hilang konsen Hel….. minum dulu niih.” kata Akhri sambil menyodorkan botol air bening. Gadis itu menerima botol, lalu menuangkan ke gelas plastik. Ia minum beberapa teguk.
Ketika wajah Helga mulai tampak pulih, Akhri mengajaknya duduk. Keduanya duduk. Helga mengambil handuk kecil. Wajahnya yang berkeringat dilapnya hingga kering.
“Mana teman-temanmu Hel?”
“Sudah duluan. Memang aku suruh duluan.”
“Kamu terlalu, Kalau merasa tidak fit, seharusnya justru minta ditemanin salah satu.”
“Kasihan mereka.”
“Apa yang terasa sih?”
“Tumit sakit. Aku nggak bawa deker.”
“Katanya sudah lengkap.”
“Terselip nggak tahu di mana.”
“Ooo … yaudah, kalau begitu sekarang pulang saja?”
“IIiihhhh ngejek! Nggak lah. Kuat, aku masih kuat kok!”
“Ukur kesehatanmu sendiri Hel. Hanya kamu yang tahu.”
“Aku kuat. Pos lima sebentar lagi. Sayang. Rencana ntar di Pos lima mau menginap.”
“Benar kuat?” tanya Akhri meyakinkan. Helga mengangguk.
Beberapa saat ini Helga merasakan ada energi lain. Ketika ditinggal teman-temannya, rasa putus asanya sebenarnya sudah hampir muncul, dan hampir mencapai klimaks ketika dirinya hampir jatuh. Kedatangan Akhri di sampingnya kini seolah menambah energi baru. Beberapa kalimat sederhana yang datang dari pemuda itu, entah kenapa tiba-tiba menyuntikkan sebuah motivasi untuk tegar.
“Kita istirahat sebentar lagi, nanti aku temani ke Sanghyang Rangkah.”
“Iya.”
Keduanya duduk berdampingan menghadap jalan yang dilalui para pendaki. Akhri mengeluarkan roti kering kemudian diulurkan ke Helga.
“Sudah. Aku juga ada. Makasih.”
“Kamu bawa trekking-pole  nggak?” tanya Akhri sambil mencari-cari trekking-pole milik Helga.
“Tadinya bawa, tapi nggak tahu tadi ketinggalan di mana. Kayanya terbawa orang atau entah di mana.”
“Jadi kamu nggak pakai apa-apa?”
“Enggak.”
“Kalau begitu pakai trekking pole ini.” kata Akhri sambil menyodorkan trekking pole.
“Nggak mau.”
“Pakailah. Nanti aku cari dahan untuk tongkat.”
Dengan terpaksa Helga menerima trekking-pole Eiger milik Akhri. Setelah memberikan barang itu ke Helga, pemuda itu mengeluarkan belati, kemudian menghilang di rerimbunan hutan. Kira-kira sepuluh menit kemudian pemuda itu membawa tongkat kayu.
“Aku yang kayu itu saja…..” kata Helga seraya menyodorkan trekking pole.
“Helga saja yang pakai. Santai saja Hel…”
“Malu aaah ….”
Setengah jam berselang setelah keduanya istirahat , keduanya sampai di Pos 5 Sanghyang Rangkah. Begitu melihat Helga datang bersama Akhri mereka berjingkrak-jingkrak. Secara spontan mereka melantunkan lagu jenaka Cintaku Merangkak di Gunung Ciremai. Helga yang merasa dikerjai teman-temannya memerah wajahnya. Rasa malunya ditahan. Ia pasrah.
Malam itu dua rombongan laki-laki dan perempuan menginap di Pos 5. Di sana banyak tenda, ada sekitar dua puluh tenda pendaki dari berbagai komunitas. Tenda perempuan agak berjauhan tempatnya dari tenda laki-laki. Malam di punggung Ciremai hanya dihiasi beberapa berkas cahaya dari lampu emergensi.
Zahra! Tiwiii!
Ada panggilan di depan tenda grup Helga. Mereka mengenalinya itu suara Dadan, yang satu grup dengan Akhri.
“Ada apa?” tanya Zahra keluar tenda.
“Ada yang punya kopi nggak?”
“Nggak. Siapa yang kenapa?”
“Akhri. Katanya tengkuknya kaku, dan agak pusing.”
“Obat sakit kepala mau?”
“Dia nggak mau. Kalau itu aku juga punya.”
“Akhri kenapa?” tiba-tiba Helga datang.
“Akhri, kasus! Dia butuh kopi panas.” kata Dadan.
“Kamu aneh Dan, nanya kopi ke tenda cewek! Mana ada!” sela Tiwi sambil berbalik lagi ke tenda.
“Aku mau lihat Akhri …” kata Helga setelah kembali membawa ransel.
“Maksudnya?”
“Siapa tahu Akhri sembuh setelah aku datang heheee….!” kata Helga tak menunggu lagi komentar teman-temannya.
“Helgaaa! Norak!” celutuk Tiwi. Namun Helga benar tak menggubris yang lain.
Gadis itu mendekati tenda Akhri. Di sana anak itu sedang berbaring. Di dekatnya duduk Ajat yang sedang menjambak-jambak rambut Akhri untuk mengurangi rasa pening.
“Akhri, bukannya tadi siang kamu sehat-sehat saja? Malahan kamu yang nolong aku sakit kaki!”
“Mendadak Hel….”
Helga tak menimpali. Gadis itu lantas membuka ranselnya, kemudian mengeluarkan termos dan gelas plastik. Ajat dan Akhri hanya melihat pari polah gadis itu.
“Mau sembuh?” tanya Helga sambil memegang sachet Teh Tarik.
“Aku nggak mau teh.” kata Akhri.
“Sudah nurut saja ….” kata Helga sambil membelakangi Akhri menyeduh minum dengan air panas.
“Dibilangin aku nggak suka teh ….”
“Kalau yang ini mau?” tanya Helga sambil berbalik mengangkat gelas berisi minuman hitam.
“Kopi? Helga? Kopi?” tiba-tiba Akhri bangkit. Matanya berbinar demi melihat kopi di tangan Helga.
Tenda yang berukuran sempit itu mendadak beraroma harum kopi.
“Mudah-mudahan lekas sehat Akang ogoan!” kata Helga seraya menyodorkan kopi panas. Akhri menerima langsung menyeruput perlahan.
“Aamiin doanya Helga, ayi Helga.”
Melihat Akhri penuh semangat minum kopi, Helga menyelinap ke luar. Sebelumnya ia sempat melempar pandang pada pemuda itu. Akhri pun sedang melihat dirinya. Helga menaham senyumnya. Ia kemudian bergabung kembali ke tenda grupnya.

***

Usai shubuh. Saat sunset.
Puncak Ciremai ramai. Para pendaki tak bakal melewatkan momen paling ditunggu. Hampir sepertiga  memori HP mereka penuh untuk mengabadikan saat sunset. Sisanya biasa digunakan ketika matahari telah agak tinggi.
“Helga ….”
“Ya?”
“Terima kasih kopinya.”
“Hehe iya.”
“Kangen.”
“Kangen apa maksudnya?”
“Kangen dibuatin kopi lagi.”
“Iiiih …. apaan sih! Buat sendiri laah.”
“Nggak enak mbuat sendiri mah!”
“Iiih ngaco!”
“Setelah minum kopi, sugestiku muncul. Aku tidurkan, sekitar pukul tiga tadi ternyata badanku ringan. Sehat wal afiat. Yaaah …. sekarang di puncak tak kurang suatu apa.”
“Syukurlah.”
“Terima kasih ya, beneran, Helga jangan jauh-jauh dari aku.”
“Iiih apaan sih!”
“Aku tahu kamu bawa kopi banyak kan?”
“Aaaah Akhri, aku kira apa! Bikin ge-er saja! Hehe iya…. aku bawa kopi. Nggak  banyak sih. Cuma empat sachet kok.“
“Kenapa? Memang kamu suka ngopi?”
“Nggak suka. Tapi nggak tahu sih, pengen mbawa  saja gitu. Pengen banget bawa kopi.”
“Firasat ya Hel?”
“Firasat apa?”
“Firasat bakal ada yang tumbang, namun bakal bangkit kembali.”
“Ah sudahlah …. sebenarnya bukan firasat sih, tapi maaf ya Ri."
"Maaf apa?"
"Dulu, ketika kita diklat ganapala, suatu malam, aku pernah lihat kamu ngopi. Nikmat banget kayaknya!"
"Aiii.. Hel? Benarkah? Jadi kamu tahu aku suka ngopi?" mata Akhri berbinar-binar.
"Nggak tahu juga, cuma kalau lihat kamu ngopi waktu itu, kok kaya apa gituuu.... "
"Aduuuuh Helga ... terima kasih atas perhatiannya ya."
"Nggak apa-apa kok, cuma pengen bawa kopi saja."
"Helga .... mengangguk dong, makasih Helgaaa..."
"Iya, iyaaa! Ini aku juga terima kasih, dipinjamin trekking-pole.” tak urung Helga mengangguk sambil tertawa.
“Lupakan Helga.”
Langit cerah.
Helga berdiri memandang berkeliling. Sejauh mata memandang ke bawah, tampak gradasi biru maya bersaput putih awan dan kabut. Memandang ke bawah agak jauh, perdu semak belukar. Batang-batang Edelweiss juga menghiasi punggung gunung. Gadis itu tak menyadari jika beberapa kali Akhri memotret dirinya. Candid.
“Helga, ayo!”
“Iya Akhri!”
“Sebentar lagi kita turun.”
“Oke, oke!”
Ketika Helga sudah mendekat, Akhri mengeluarkan belati merk Krisbow. Trek! Dia menekan tombol pengunci. Kini belati terhunus. Helga menggeleng. Beberapa sekon selanjutnya Akhri melempar banting belati itu menancap di tanah.
Zebb!
“Ini saat-saat sabil yang harus aku hadapi sekarang Helga.”
“Kenapa Ri?”
“Belati ini akan menjadi saksi, tingkat ketebalan komitmenku sebagai pecinta alam.”
“Maksudnya?”
“Lestari …. Lestari Helga.”
“Edelweiss?”
“Ya, itulah. Lestari, Edelweiss …..”
Keduanya kini menuruni puncak. Hingga beberapa saat kemudian mereka telah sampai di perdu semak belukar di kawasan tumbuh edelweiss. Di situ banyak sekali bunga edelweiss yang tumbuh.
Akhri jongkok. Dibelainya bunga-bunga edelweiss yang dingin itu.
Sementara itu Helga berjalan menjauh. Ia paham apa yang sedang berkecamuk di benak sahabatnya itu. Ya benar, dalam benak Akhri berkelebat wajah Lestari . Gadis itu tersenyum. Akhri tak terasa tersenyum juga . Ia ingat betapa Lestari semakin nampak manis ketika tersenyum dengan bulu mata yang lentiknya. Ia meraba syal yang kini menghangatkan lehernya. Syal rajutan tangan Lestari benar-benar membuat dirinya dekat dengan gadis itu.
Namun kali ini bayangan Lestari yang menyenangkan hilang. Ia ada di persimpangan. Tangan Akhri menimang-nimang belati Krisbow di tangannya. Benda itu kini ia genggam  erat. Bibirnya terkatup. Nafas panjang dihelanya. Hatinya berontak ingin membuang belati itu. Tapi kini di hadapannya bunga-bunga edelweiss dan Lestari tengah menantinya.
“ Sumpahku guguuuur! Aku bukan pecinta alaaaam!”
Cras! Cras! Cras!
Tajamnya mata belati krisbow membabat memotong tangkai-tangkai edelweiss.
Akhri terdiam. Matanya sembab. Selama hidup barangkali baru kali ini ia memangis. 
dokumentasi Helga Puspanegara
Akhri kesal.
Wajahnya memerah. Beberapa saat kemudian wajah itu basah oleh keringat dingin. Komitmennya sebagai pecinta alam putus sudah. Ia tak mampu memberikan pilihan yang terbaik bagi dirinya. Komitmennya telah hancur oleh desakan Lestari. Bunga-bunga edelweiss yang ada di genggamannya kini ia masukkan ke katong keresek, kemudian ia masukkan ke dalam tas punggungnya.
Dengan gontai ia mengejar Helga yang perlahan mulai menuruni punggung gunung.

***
Tahun ajaran baru.
Kelas baru  XI MIPA 5. Helga dan Akhri berpandangan ketika guru mengabsen peserta didik. Tak ada nama Lestari Putri. Dari keterangan guru, gadis itu telah pindah ke Pontianak mengikuti orang tuanya. Administrasi kepindahan telah diurus selama liburan.
Pulang sekolah Akhri dan Helga tak buru-buru pulang. Mereka masih penasaran dengan berita yang mengejutkan ini.
“Apa dia nggak pernah ngasih tahu ke kamu Akhri?”
“Nggak pernah. Dulu dia ngambek.”
“Ke mana kamu harus melacak Tari?”
“Nggak tahu. Tadi pagi teman lain pada menghubungi, nomornya tidak aktif.”
“Aku sakit hati Helga.”
“Tentu Akhri, aku paham.”
“Paham apa?”
“Lestari adalah kekasihmu.”
“Kekasih apaan? Kita juga masih kecil, baru naik kelas XI. Kami hanya bersahabat.”
“Lalu masalah apa?”
“Edelweiss.”
“Oooh…”
“Atas keinginan Tari lah akhirnya aku menggugurkan komitmenku sebagai pecinta alam. Aku malu Helga. Maluuu…. malu sama teman-teman sesama pecinta alam. Makanya Akhri memohon padamu ya Hel, untuk menjaga rahasia ini. Demi aku.”
“Edelweiss?”
“Ya, hanya Helga kamu yang tahu aku telah memetik bunga-bunga itu. Jangan katakan pada siapapun. Semua bunga ada di rumahku. Tari… sahabat yang memang pernah aku harapkan lestari, ternyata kini malah pergi tak tentu rimbanya.”
“Akhri.”
“Aku telah berkorban untuk orang yang salah!”
“Akhri jangan begitu … sabar.”
“Aku jadi ingat betapa lugu dan lucunya dulu ketika aku caper di kelas X. Ingat kan Hel? Kamu adalah saksi hidup.”
“Iya, iyaaa….. tapi sudahlah lupakanlah semuanya. Maafkan Tari, Mudah-mudahan suatu saat dia kangen kita, dia kangen aku, dia kontak aku, japri atau apa. Ntar kalau dia sudah pulih, aku beritahu kalau ada kabar tentang Tari.”
Helga begitu lancar menghibur Akhri. Pemuda tanggung itu hanya terdiam. Kepalanya menunduk. Kehadiran gadis bernama Lestari bagi dia sepertinya tak akan bisa dilupakan sepanjang hidupnya.
“Helga.”
“Terima kasih atas nasehatnya.”
“Nasehat apaan laah!”
“Helga, hari Minggu depan aku undang kamu main ke rumah. Emh.. enggak ke rumahku, ke rumah kakekku.”
“Ada apa?”
“Jangan khawatir, nanti kamu ditemani adikku kok. Kita nggak berdua saja. Kita bertiga.”
“Acara apa sih?”
“Ini ada kaitannya dengan edelweiss….”
“Oooo…..”
Hari minggu yang dijanjikan.
Pagi itu Helga sudah berada di rumah kakek Akhri. Ia di bawa ke belakang rumah. Helga senang melihat sebuah kolam dengan air bening, di pinggirnya ada saung tempat bersantai. Helga melirik sekilas.
“Mana adikmu?”
“Ada, sebentar lagi. Helga, kita ke atas kolam. Tuh dekat tanah yang datar.”
“Kamu aneh banget Akhriii .. ada apa sih?”
Pemuda itu tak menjawab.
Ketika telah sampai di tempat yang ditunjuk, Akhri membuka tas gunung yang telah ada di situ. Tangan pemuda itu membuka tas, kemudian mengeluarkan bunga.
“Edelweiss….”
“Hari ini aku ingin melupakan trauma, sebutlah itu trauma. Atas kecerobohan saya memetik edelweiss dari Ciremai.”
“Ooo inikah .......”
“Ya Helga, mudah-mudahan Ciremai masih mengijinkan Akhri mendakinya lagi suatu saat ….”
Akhri menyodorkan bunga itu kepada Helga. Ada sekira dua puluh tangkai bunga edelweiss yang digenggamnya. Helga membayangkan benda ini ada di genggaman Lestari, kemudian dengan suka cita gadis itu menciumnya dan mengucapkan terima kasih Akhrii… !
Tapi itu semua telah berlalu.
“Hari ini aku akan menguburkan bunga ini, bunga yang tumbuh dari bumi, akan kembali ke bumi, diantar oleh pecinta alam sejati dan pecinta alam yang tersesat.”
“Sudahlah Akhriii….. aku jadi saksi, kau menguburnya dengan penyesalan.”
“Iya …. Helga, dengan bismillah aku kubur bunga ini. Aku juga akan mengubur semua kenanganku dengan Lestari …..”
Siang itu usai ritual ala Akhri, mereka berdua menikmati makan siang di saung pinggir kolam. Sesekali Akhri mencandai ikan-ikan di kolam dengan melemparkan remah ke dalam kolam.
“Adikmu tak datang-datang?” tanya Helga ketika sudah beberapa saat mereka hanya berdua.
“Ada …. Ada…..”
***

Pagi hari jam istirahat di perpustakaan sekolah.
Usai makan bakso Helga mampir di perpustakaan. Masuk ke perpustakaan pukul sepuluh, hanya beda sedikit dengan jam-jam lainnya. Artinya pengunjung sedikit. Minat baca turun. Baca buku kalah dengan mainan gadget. Hanya orang-orang tertentu saja lah yang dengan kesadaran sendiri mau berkunjung ke perpustakaan untuk mencari tambahan pengetahuan dengan referensi tambahan. Dulu istilahnya kutu buku. Sekarang jarang sekali siswa yang menyandang gelar itu.
Helga Puspanegara, mungkin gadis inilah yang layak disebut kutu buku. Kesukannya kepada membaca tampak sejak ketika mulai masuk ke SMA.
“Kusumaaa.......” ada suara berbisik di sampingnya ketika Helga sedang memilih buku bacaan.
“Aaaa... aduuuh.... Akhri ….. kamu panggil siapa? Kusuma?”
“Ssst... bicara nggak boleh keras-keras.” kata Akhri seraya memberi isyarat telunjuk di bibirnya.
“Iya, iya … siapa Kusuma?”
“Helga.”
“Aku?” kata Helga sambil duduk.
“Helga Kusuma Pertiwi.”
“Aaaaahhh …. Ngaco ah!”
“Hel, kamu kan kutubuku.”
“Hehe!”
“Kutubuku biasanya pinter bahasa Indonesia. Puspa padanannya apa?”
“Kusuma, atau bunga.”
“Negara?”
“Nagri, nagari, pertiwi, negara atau tanah air.”
“Jadi namamu kalau diganti yang sepadan? Bolehkan diartikan Helga Kusuma Pertiwi?”
“Ya boleh terserah yang mau manggil.”
“Aku juga pengen menjadi sesuatu yang berkaitan dengan pertiwi. Dengan negara, dengan tanah air.”
“Maksudnya?”
“Bhayangkara negara. Penjaga ketertiban negara, juga masyarakat.”
“Hmh?”
“Yang pernah disetujui Lestari, tapi tidak disukai Helga.”
“Apa itu ya?” Helga berfikir keras.
“Kutubuku biasanya hanya butuh waktu sekian detik untuk menggugah memori!”
“Intel?”
“Naah kan?”
“Kamu pengen jadi intel?”
“Ya, polisi.”
“Jadi selama ini kamu ngomong masalah polisi itu serius?”
“Kapan aku tidak serius Hel?”
“Gawat! Riskan!”
“Apanya?”
“Hidupmu terancam, keluargamu terancam … semua terancam!”
“Kenapa?”
“Polisi itu musuhnya penjahat. Penjahat itu culas, tak ada halal haram untuk mencapai maksud. Dan kau tahu Akhri setiap kali kau keluar rumah akan selalu terancam jiwamu!”
“Polisi!”
“Tidak! Aku tidak ingin keluarga kita nanti selalu diliputi perasaan cemas!”
“Amiiiiin …..” Akhri mengamini sambil tertawa terkekeh. Bahkan kemudian ia mengangkat kedua telapak tangan, kemudian ia sapukan di wajahnya.
“Apa maksudnya?” tanya Helga heran melihat paripolah Akhri.
“Helga dengarkan ……”
Akhri mengutak-atik HP nya, kemudia terdengar sebuah suara :
.................... Tidak! Aku tidak ingin keluarga kita nanti selalu diliputi perasaan cemas!
.................... Tidak! Aku tidak ingin keluarga kita nanti selalu diliputi perasaan cemas!
.................... Tidak! Aku tidak ingin keluarga kita nanti selalu diliputi perasaan cemas!

Helga terhenyak kaget. Wajahnya memerah.
Rupanya dari tadi Akhri merekam pembicaraan dengan Helga. Tampaknya pemuda itu memang menginginkan respon Helga terhadap apa yang ia cita-citakan sebagai kelanjutan pendidikan setamat SMA nanti.
“Akhriiiiiiii……… siapa yang ngomong begituuuu?” wajah Helga memerah.
“Ini tadi  suara siapa Hel? Itu suaramu Helgaaaa....”
“Akhriiiii…… itu bukan suaraku!”
“Helga …. terima kasih, ini adalah kalimat terindah dalam hidup Akhri yang pernah aku dengar. Kalimat yang akan aku amini hingga menembus ‘Arsy-Nya.”
“Aaaahhhh … aku maluuuuu….”
“Keluarga kita Helga?”
“Akhriii….”
“Indahnya Helga …. coba ulangi dong …..”
“Maluuuu…..”
Akhirnya Helga menelungkupkan wajah di meja. Gadis itu benar-benar malu telah secara refleks mengeluarkan kata-kata di bawah alam sadarnya. Dan itulah yang sangat membahagiakan Akhri. Sebuah kata-kata yang yang tak dilandasi kebohongan.
“Helga, maafkan Akhri …..”
“Nggak apa-apa, saya maaf juga telah salah ucap.”
“Nggak peduli Hel apa katamu, tapi aku yakin itu adalah kata-katamu yang paling tulus…. ingat ya, kali ini sekalian Akhri mau pesan.”
“Pesan apa?”
“Tunggu aku sukses masuk akpol jadi polisi dan kamu juga harus gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika kamu jatuh, kamu akan jatuh di antara bintang-bintang Hel."
Helga serasa tersekat tenggorokannya.
Karena sudah tak tahan dengan apa yang dirasakan, Helga bangkit dari duduknya, kemudian berlari kecil keluar meninggalkan perpustakaan.
Akhri hanya bisa menggeleng.
“Helga …..”
Akhri memanggil. Namun Helga telah jauh tak memperdulikan dirinya. Pemuda itu tersenyum. Kepalanya digeleng-gelengkan.
“Kabulkan doaku ya Allaaaah …..”
Meninggalkan perpustakaan Akhri menuju masjid. Ia ingin shalat dhuha, kemudian meyakinkan diri untuk memohon kepada Allah agar kata-kata Helga akan menjadi milik dirinya setiap saat.
***
Satu tahun lewat.
Kenaikan ke kelas XII. Bagi Helga masa ini adalah masa-masa yang sulit. Bersama Akhri selama satu di kelas XI tak membuatnya nyaman. Ada saja masalah yang dikaitkan dengan prinsip hidup. Secara manusiawi, sebenarnya Helga suka ke Akhri, dan Helga tahu Akhri, sepeninggal Lestari suka kepada dirinya. Tapi satu hal jedi penghalang. Akpol. Polisi. Sebuah kata yang paling tidak masuk secara nyaman dalam hatinya.
Yang kedua, di saat keduanya masih berbeda prinsip Akhri pindah ke Semarang mengikuti orang tua. Sebagai remaja yang masih labil, baru menginjak tingkat terakhir di SMA ini merupakan ujian yang sangat berat. Ia selalu ingat bagaimana ia berselisih prinsip dengan Akhri.
“Aku tetap mau jadi polisi. Akpol Semarang .”
“Akpol?”
“Itulah mengapa aku nanti nggak masuk ikut SNMPTN di kelas XII. Nggak mau ke SBMPTN, bukan pula antimainstream, saat ini yang ramai dibicarakan teman-teman yang itu, tapi aku tidak. Yang aku bayangkan aku menjadi bhayangkara negara, menjadi polisi, menjaga kestabilan masyarakat. Mungkin sebagai patner mereka yang menjaga kedaulatan negara. Sama seperti tentara.”
“Kali ini kami tampak lebih serius Akhri?”
“Serius. Doakan saja cita-citaku tercapai.....”
Helga diam. Bibirnya terkatub rapat. Matanya terasa panas. Ia menahan air matanya yang merembes keluar. Gadis itu membalikkan badannya. Membelakangi Akhri, ia mengusap matanya dengan punggung tangan. Beberapa saat Akhri juga diam, menunggu keadaan Helga mereda.
Beberapa saat kemudian gadis itu kembali berbalik. Kepalanya tetunduk.
“Kamu nangis? Kenapa?”
“Nggak tahu.”
“Apa respon yang kamu rasakan ketika aku bilang mau jadi polisi?”
“Menderita.”
“Kenapa?”
“Susah hidupnya, mungkin nanti berlama-lama hidup di mess. Berat sekali tugasnya, banyak musuh para penjahat, demonstrasi ….. balas dendam … “
“Kamu berfikir tentang kematian?”
“Nggak juga. Justru tentang penderitaan. Kalau kematian, mungkin tak ada penderitaan. Biarpun kalau dari akpol itu pangkat dah lumayan, tapi kayaknya harus tetep merasakan pahit getirnya polisi baru. Disimpan di daerah-daerah rawan, dikonfrontasi dengan orang-orang yang liar, preman dan sejenisnya.”
“Hmh...”
“Kenapa nggak kuliah saja ke Bandung ? Kita bareng ke Bandung, aku ke Unpad, atau ITB. Kamu juga. ”
“Semarang, Akpol. Tekadku sudah bulat.“
“Ntar kamu lupa Majalengka? Lupa Jabar, lupa tanah kelahiran?”
“Tanah kelahiranku Indonesia.”
Sampai kalimat itu Helga benar-benar tak bisa berkomentar. Ia masih belum mampu menyelami isi hati Akhri. Kecintaannya kepada profesi yang menjadi mimpinya, sepertinya masih lebih besar dibanding dengan tanah kelahiran, dengan kampung kelahiran sendiri.
“Sudah ah Ri! Kita pulang saja!” kata Helga bangkit dari duduk.
“Tunggu sebentar, aku di SMA ini tinggal menghitung hari.”
“Kenapa?”
“Yakinkan aku dengan doamu ....”
“Jadi polisi?”
“Jadi manusia yang berguna, manusia yang benar.”
“Polisi nggak jadi?”
“Jadi laaah, polisi yang jujur, yang dirahmati, polisi yang berguna. Polisi yang benar.”
“Aku nggak mau Akhri jadi polisi.”
“Mengapa benci ke profesi? Ke orangnya dong. Riskan gitu?”
“Nggak tahu juga, aku masih kecil Akhri ... Mungkin jalan pikiranmu lebih dewasa dibanding aku Akhri . Pikiranku belum menjangkau sejauh itu.”
“Haiyayaaa.... iyaaa.... kalau begitu aku ajak kamu berfikir yang ringan saja ya?”
“Apa itu?”
“Mimpikan aku nanti malam!”
“Nggaak!”
“Mimpilah jadi Bhayangkari , istri polisi.”
“Nggaaaak..... nggaaakkkkk!”
Gadis itu berlari dengan terburu-buru meninggalkan Akhri yang masih tertawa terkekeh-kekeh.
Helga sama tak menyadari, bahwa pembicaraan itu dengan Akhri adalah pertemuan terakhir. Akhri benar-benar ke Semarang. Helga kini merenungi hari-hari di kelas XII tanpa Akhri, pemuda yang pernah diharapkan menjadi sosok yang mengayomi dirinya. Itu, itu adalah harapan yang belum pernah terucap. Ya, hanya terbersit di hati kecil.
Sepeninggal Akhri ke Semarang, ia sengaja menutup semua kontak dengan pemuda itu. Kepada teman-teman semua, ia rajin mendatangi agar jika suatu saat ada Akhri mengontak, tak perlu diberitahukan.
Selepas SMA, semua penghilangan jejak semakin sempurna. Sahabat-sahabat yang semula begitu intens di SMA, satu persatu mulai berpisah. Masing-masing mengejar mimpinya sendiri. Kuliah di kota-kota yang berbeda.

***
Ini adalah tahun keempat perpisahan dengan Akhri.
Unpad kini menjadi tempat fokus kegiatannya. Jurusan Ekonomi dan Bisnis telah menjadi pilihannya. Itu sesuai dengan apa yang telah ia lakukan sehari-hari. Manajemen bisnis baginya hal biasa. Ia termasuk orang yang intens menjadi ujung tombak marketing di usaha catering yang digeluti orang tuanya.
Siang itu Helga sendirian di rumah menikmati liburan semesteran. Kedua orang tuanya sedang ke luar kota.
Helga duduk santai di ruang tengah. Matanya melihat benda yang tergantung di dinding. Pigura berukir dengan di dalamnya sebuah trekking-pole.
Gadis itu tersenyum
Masih sangat jelas dalam ingatannya ketika terakhir naik gunung Ciremai, Akhri memberikan benda itu untuk dirinya. Tumitnya sakit. Betapa Akhri berlari ke dalam hutan kecil, pulangnya membawa tongkat kayu. Akhri yang mengalah memakai tongkat kayu. Dan trekking-pole itu kini menjadi miliknya.
Perlahan Helga bangkit dari kursi. Didekatinya trekking-pole berpigura. Perlahan tangannya meraba benda itu. Bibir Helga terkatub, namun kemudian ia tersenyum.
Akhriii……! Gumamnya.
Seperti apa sekarang kau Akhri? Sepertinya kau sekarang semakin ganteng. Semakin dewasa. Pikirnya.
“Aa Akhri … ah, seandainya aku sempat memanggilnya Aa. Aa Akhri …”
Ting! Ting!
Helga tersentak. Ada notifikasi WA masuk.Ia duduk. Ada rasa aneh ketika tiba-tiba merasa ada sesuatu yang ghaib masuk dalam HP-nya. WA ia buka.
“Helga?”  
“Ya? Dg siapa ya?”
“Kusuma Pertiwi….”
“Aa? Aa Akhri?”
“Helga masih mengenaliku?”
“Hanya Aa yang memanggilku begitu.”
“Aku bahagia Helga, ketika ada sebutan Aa…”
“Oh … barangkali saja cocok dan mau dipanggil Aa..”
“Mau banget Helga. Bulan-bulan begini Unpad sedang libur kan? Aku mau main ke Sukahaji boleh? Sabtu kalau bisa. Aku ada libur. Minggu harus kembali ke Semarang.”
“Sabtu?”
“Kenapa Helga?”
“Gpp tapi …. Maaf, aku tidak sendiri.”
“Oooohhh tak sendiri? Mmm…… gitu ya?”
“Mau main silakan.”
“Mmmm…… Helga, maafkan ya aku ada urusan dulu, lain kali kita sambung.”

Helga tersenyum tak berhenti.
Baru beberapa detik yang lewat Akhri mengontaknya. Pemuda itu mengatakan bahwa mau main ke Sukahaji hari Sabtu. Sekarang Kamis. Berarti dua hari lagi. Perlahan ia menoleh ke arah trekking-pole. Bayangan Akhri berkelebat.
Hari Sabtu pagi.
Dari ruang tengah ibunya memanggil. Helga yang masih menyelesaikan masak di dapur bergegas ke ruang tengah.
“Ada apa Bu?”
“Ada tamu di depan.”
“Siapa?”
“Tengok sendiri.”
“Masakan sebentar lagi Bu.”
“Biar ibu yang lanjutin!”
Perlahan Helga menuju ruang tamu. Hatinya berdebar. Perlahan Helga membuka gordyn. Ia melihat sosok yang duduk di kursi dengan pakaian taruna Akpol. Helga terkesima.
“Aaa… Aa Akhri?” tanya Helga hampir tak percaya.
“Iya. Aku Akhri.”
Keduanya bersalaman.
Helga merasakan tangan Akhri bergetar. Ia sendiri merasakan bahwa bulu-bulu halus di lengannya meremang. Sentuhan telapak tangan Akhri yang sekilas, mampu menggetarkan hatinya.
“Helga apa kabar? Helga sehat?”
“Mmm….. Alhamdulillah sehat  … Aa …. aku…. aku pangling.”
“Karena seragam ini?”
“Enggak juga…. tapi ini benar Aa Akhri kan?”
“Iya, Insya Allah belum ada yang berubah dalam diri Akhri sejak aku pindah meninggalkan Smansa.”
“Ooo …”
“Setelah pergi dari Smansa, rasanya semuanya berhenti. Aku sengaja memutus semua hubungan dengan sesuatu yanag terkait Smansa.”
“Aku juga.”
“Helga, aku ke sini mungkin tak akan lama-lama. Aku hanya mampir sejenak. Aku tidak enak jika mengganggu ketenangan Helga.”
“Aa mau ke mana?”
“Melanjutkan perjalanan. Kemarin Helga di WA mengatakan Aku tak sendiri….”
“Oh itu?”
“Maafkan aku Hel …. tapi aku sudah puas ketemu Helga, walau hanya sebentar.”
“Aku nggak paham.”
“Kenalkan aku dengan suamimu, setelah itu aku akan pergi.”
Helga terhenyak kaget. Dipandanginya Akhri hingga lama. Namun kemudian gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Kenapa tertawa?” tanya Akhri heran.
“Aa, aku tak sendiri. Ada ibu, ada ayah … ada adik saya.”
“Mmmm ….mmm…. maksudnya?”
“Aku tahu apa yang Aa pikirkan.”
“Jadi?”
“Ya.”
"Benarkah?"
"Ya."
“Ooooh..... Alhamdulillaaah ….. “ gumam Akhri sambil tersenyum menatap gadis di depannya. Helga menunduk.
Hingga beberapa lama bahkan keduanya justru diam.
“Helga…. saai ini aku perlu laptop. Boleh pinjam laptop nggak?” tanya Akhri memecah keheningan.
“Iya… “ Helga mengangkat muka. Ia mengangguk.
Helga masuk ke dalam. Ketika itu hilang dari pandangan Akhri terhalang gordyn, Helga mengepalkan telapak tangannya. Bibirnya mengucap syukur. Ia sama sekali hampir tak percaya bahwa yang duduk di ruang tamu adalah Akhri.  Tiba-tiba ada dua titik air mata di sudut matanya. Gadis itu mengusapnya dengan punggung tangannya.
Helga ke dapur. Beberapa kueh yang telah dipersiapkan ia rapikan dalam mampan.
“Ibu bantu?” tanya ibunya.
“Biar dulu Bu, nanti saja kalau kita mau makan siang.”
“Ooo ya sudah.”
Helga keluar membawa kueh dan minuman.
“Helga ……” kata Akhri sambil menggeleng. Senyumnya mengembang.
“Ya?” tanya Helga sambil menahan senyumnya.
“Rupanya Helga masih ingat kata-kataku di puncak Ciremai dulu?”
“Hehe.. iya … ada yang kangen dibuatin kopi.”
“Alhamdulillah … Helga…. Helga ….. forever ya?”
“Oh ya aku lupa, mau ambil laptop, silakan diminum kopinya.” kata Helga tidak menggubris pertanyaan Akhri. Pemuda itu menggelengkan kepala. Namun senyumnya mengembang.
Ketika kembali Helga membuka laptopnya. Beberapa jenak ketika laptop sudah dinayalakan, Akhri mengambil flasdisk. Ia mengcopykan file ke sana. Akhri menoleh ke arah Helga.
“Ini video hasil karya adikku Helga ….”
Beberapa saat kemudian ketika video mulai distel, Helga terpekik. Itu adah kejadian ketika dirinya berada di rumah kakek Akhri. Ketika ia datang, ketika mengubur edelweiss permintaan Lestari. Semua lengkap.
“Setelah ini ada action Helga yang sangat aku suka ….. ntar…ntar… naaah!”
Video itu menayangkan ketika Akhri menyiapkan nasi ke piring, di situ tampak sekali Helga menatap lekat wajah Akhri hampir tak berkedip. Jelas sekali.
Helga menutup wajahnya.
“Aa maluuuuuu…….”
“Aku menyadari semuanya. Akhri tahu arti tatapan Helga waktu itu.”
“Maluuu…. maafkan Helga…”
" Akhri bahagia Helga. Hanya sayang …. sayang sekali di penghujung SMA aku pindah, Helga sangat membenci polisi. Dan hari ini si calon polisi itu datang lagi, nekad, karena tak bisa menahan gejolak setiap aku melihat tatapan Helga di video ini. Aku tak peduli Helga benci polisi.”
“Itukah mengapa dulu adik A Akhri tidak datang di saung?”
“Iya. Adikku ada … dia mengambil semua kegiatan kita tanpa setahu Helga.”
“Aa yang menyuruh?”
“Ya, aku.”
“Kenapa?”
“Ada feeling bahwa momen seindah itu tak akan terulang lagi. Nyatanya, aku pindah ke Semarang. Kita terpisah. Namun aku tetap membawa tatapan Helga ke Semarang.”
“Aa … maafkan Helga.”
“Prinsip orang beda-beda. Tak apa, terima kasih aku pernah mengenal Helga. Gadis yang cantik, yang pendiriannya kuat …. sekuat fisiknya yang mampu menaklukkan gunung Ciremai.”
“Aa … setahun lalu aku baru sadar, melalui sebuah kontemplasi yang lumayan lama, aku sadar bahwa ketakutan terhadap profesi tak beralasan. Maafkan Helga Aa, dulu aku ingin mengontak, tapi tak punya nomor HP.”
“Apa maksudnya Helga?”
Helga bangkit. Ia berjalan menuju bupet, membuka pintunya kemudian mengambil sesuatu.
“Benda ini sudah aku siapkan setahun yang lalu. Khusus untuk Aa yang tak pernah ada kabar.”
“Untuk apa?”
“Inginnya pas ulang tahun Aa … tapi ya beginilah akhirnya. Hingga hari ini, mudah-mudahan masih bisa berguna…” kata Helga sambil menyerahkan bungkusan yang cukup besar kepada Akhri.
Pemuda itu menerimanya dengan mata berbinar.
“Bukalah jika Aa mau ….”
“Boleh aku buka?’
“Ya Aa …”
Ketika bungkusan dibuka, Akhri terhenyak. Bibirnya terkatub. Ditatapnya Helga lekat-lekat. Ia melihat Helga dengan tegang menunggu reaksi Akhri.
Delta Blackhawk!
Akhri mengeja merk sepatu lars hitam pemberian Helga.
“Tak semestinya aku khawatir profesi polisi. Mudah-mudahan sepatu ini suatu saat berguna untuk Aa. Untuk tugas sebagai polisi, untuk menjaga ketenteraman masyarakat.”
“Helga terima kasih … terima kasiiih ….. " kata Akhri dengan mata berbinar sambil mengulurkan telapak tangan mengajak bersalaman.
"Nggak usah salaman laah...."
"Helga... aaah .... terima kasih sekali lagi, tapi sepatu ini tak akan kupakai untuk dinas.”
“Kenapa?”
“Ini adalah sepatu terindah ….. akan aku simpan, aku pajang sebagai pengingat Helga.”
Ehem! Ehem!
Kedua orang itu terkejut ketika dari dalam ibu Helga berdeham. Helga menoleh.
“Ada apa Bu?”
“Ajak si Aa makan siang. Mau berdua boleh, mau bertiga boleh. Ayah pulangnya sore.”
“Oh , ah ibu ngerepotin.”
“Enggak, itu Helga yang masak semua kok! Ayo Helga, masuk. Mau berdua apa bertiga dengan ibu?”
“Bertiga dengan Ibu.” kata Akhri.
Ibu Helga mendahului berjalan. Helga dan Akhri mengikuti dari belakang. Sampai di ruang tengah langkah Akhri terhenti. Helga juga ikut berhenti.
“Ada apa?”
“Itu di pigura … itu ….. Helgaaa.... sstt....” Akhri tertegun melihat hiasan dinding trekking-pole dalam pigura.
"Kenapa?"
"Helgaaa...... bukankah itu ... itu...."
“Ya benar A, itu adalah trekking-pole terindah yang pernah Helga miliki ….”
“Helga ….. Helga …….”
Sepanjang makan bersama beberapa kali Akhri melirik ke arah Helga. Ia merasakan bahwa yang dihadapannya bukanlah Helga sahabatnya. Ia memandang wanita di samping Helga adalah ibu mertuanya.
***
Usai makan siang Akhri berpamitan kepada ibu Helga.
Akhri perlahan berjalan keluar ruang tamu diikuti Helga. Berdiri sejenak di teras, kemudian ia merapikan jaketnya. Helga yang di dekatnya diam. Hingga pemuda itu memegang stang CBR-nya, kemudian duduk di jok, Helga masih mengikutinya.
Akhri mengambil sapu tangan dari kantung saku belakang, kemudian mengelap wajahnya beberapa saat. Kemudian ia memegang stang gas. Ia gerakkan perlahan, namun tak ada kunci kontak yang tergantung di tempatnya. Hingga Helga mengernyitkan dahi.
“Kok nggak jalan-jalan?”
“Helgaa.... aku betah di sini….”
“Aaah Aa mah.”
"Duduk lagi yok, di teras sebentar." kata Akhri sambil turun lagi dari motornya. Helga menggeleng sambil tersenyum. 
Keduanya duduk di teras. Akhri melepas helm-nya kemudian meletakkan di atas meja. Ia memandang gadis di sebelahnya.
"Ada yang ketinggalan rupanya?" tanya Helga mendahului.
"Hehehe ... iya, ada."
"Apa?"
"Hati ..hehe.... hati Aa ketinggalan di sini .."
"Aaah bisa saja." kata Helga  tersipu.
"Juga kangen."
"Apalagi?"
“Kangen kopinya. Pengen suatu saat dibuatin lagi ya Hel, lagi, lagii...."
"Iiiiihh....."
"Benar, aku serius. Aku pengen dibuatin kopi lagi .... dibuatiiiin terus."
"Ah apa sih?"
"Terima kasih Blackhawk-nya, tanda mendukung aku jadi polisi. Kangen juga masakannya. Lezat."
"Iya, iya ... dulu juga waktu SMA yang ngahereuyan nyuruh aku latihan masak siapa?"
"Aku ya?"
"Ya iyalaaah... "
"Pantes masakannya lezat. Kayaknya  masaknya dengan hati ya Hel?"
"Nggak tahu laaah!"
"Terima kasih juga sudah menyimpan  trekking-pole di tempat yang terhormat.”
“Hmh…”
“Helga … aku nggak mau pulang ah.”
“Kenapa?”
“Aku mau nunggu ayah pulang, terus bilang ke ayah sekarang juga …….. “
“Bilang apa?”
“Aku sudah takluk kepada sang penakluk gunung Ciremai.”
“Aaah bisa saja!”
Forever Helga?”
“Ngg….”
“Tunggu aku lulus dengan mendapatkan IPDA-ku, ini penting. Tapi ada yang lebih penting, bahkan sangat, bahkan paliiiing penting dalam hidup Akhri."
"Apa?"
"Helga....... " kata Akhri perlahan.
"Ya?" Helga menatap Akhri.
"Lama dari perantauan di Semarang, hari ini Akhri yakin .... yakin .... bahwa cinta Akhri hanya untuk Helga....., Helga Puspanegara.” kata Akhri hampir tak terdengar.
Speechless. 
Helga terdiam. Bibirnya serasa terkunci tak mampu mengucapkan apa-apa. Hingga beberapa lama keduanya terdiam. Helga tertunduk dalam salah tingkah. Ia baru saja mendengar kata-kata yang bermakna dari pemuda yang sebenarnya dari dulu memang disukai, hanya terhalang beda prinsip tentang profesi.
Ting! Sebuah notifikasi WA terdengar. Buru-buru gadis itu membuka HP-nya. Helga terhenyak. Akhriiii, gumamnya.
"Kenapa mengirim WA?" tanya Helga heran.
"Bukalah .... agar Helga punya kenang-kenangan."
Perlahan gadis itu membuka WA dari pemuda yang di dekatnya.
"Helga, jika tak ada yang menghalangi, setelah lulus dari Akpol, Akhri ingin melamarmu. Aku tidak mau berpacaran. Tak ada pacaran di agama kita. Mau ya Helga....."
Wajah Helga memerah. Gadis itu menahan gejolak di dalam dadanya. Ia merasakan bahwa yang dihadapinya detik ini bukan permainan. Ini hal serius yang pernah ia dengar selama hidupnya. Pertaruhan yang sebenarnya, ujian yang sebenarnya atas rasa yang dimilikinya terhadap Akhri.
Sebenarnya ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tak terucap. Sejak kesadarannya muncul tentang profesi polisi, sebenarnya ia ingin mengatakan kepada pemuda itu : “Semoga terkabul  semua keinginanmu, fokus dengan pilihanmu dan aku senantiasa menunggu kamu.
 Ya benar, Helga ingin sekali menyambut pernyataan Akhri, namun ia tak sanggup mengucapkannya. Hari ini merupakan hari yang membahagiakan dirinya. Ia mendengar sendiri taruna Akpol itu menyatakan cintanya dan ingin melamarnya di rumahnya sendiri. ***

                                                   Majalengka 20 Desember 2017

* Request Helga Puspanegara
    Kelas XII MIPA 5 Tahun 2017/2018
    SMA Negeri 1 Majalengka
* Ngaheureuyan = Menggoda

Cerpen ini dikutip dari akun pribadi di kompasiana.com/didik_seyadi