Sabtu, 01 Desember 2018

Terbaru 2020 - Reward Buku even PAS - Desember 2018

Blog Pendidikan


Foto: SMA Negeri 1 Majalengka 2018

* Keinginan memberikan hal yang tak seberapa namun (diprediksi) bakal bermanfaat, selalu muncul pada akhir sebuah even penilaian di sekolah. Kali ini evennya adalah Penilaian Akhir Semester (PAS) Ganjil Tahun Pelajaran 2018/2020.

* Apa rewardnya? Buku. Dan memang seringnya ya buku. Alasannya begini : Jika reward yang saya berikan berupa quota internet 3 atau 4 GB mungkin hanya dipakai beberapa hari atau beberapa minggu akan habis. Jika rewardnya buku, maka itu akan awet. Bisa-bisa sampai tua belum habis. Belum lagi isinya. Asalkan bukunya tidak hilang.



* Isi buku adalah nasehat. Setiap orang pasti butuh nasehat. Sayang sekali kadang-kadang ada manusia yang butuh nasehat, tetapi tidak mau dinasehati. Maka hal yang tepat untuk menengahi hal ini adalah : MEMBACA BUKU. Buku apa saja, buku motivasi, buku agama dan sebagainya, Buku fiksi boleh juga. Tetapi tergantung pengarangnya juga sih. Buku fiksi secara umum juga mengandung nasehat, atau saran, tetapi kadang-kadang berisi sebuah doktrin yang tak terasa kita serap perlahan. Terlalu dalam ah ....
Dalam buku fiksi tulisan saya di bawah inim ada juga nasehat.



Isinya fiktif, bikin baper. Nasehatnya apa? Cinta mah alamiah, dan memang sunatullah.
Tapi dalam buku ini masalah memanage-nya yang beda. Buku request anak-anak SMA (dan satu guru SMA) berisi tentang kisah cinta. Tapi tidak vulgar seperti kebanyakan "action cinta" ala anak sekarang. 
Dalam buku ini, si tokoh dipisah dengan "pasangannya" sewaktu SMA, dan dipertemukan kembali pas dewasa (lulus S2, atau sudah bekerja). Langsung lamar, nikah. Halal. Jadi, memang dalam buku ini tidak mengajari pacaran model umum yang dikenal anak-anak muda kebanyakan.
Nikah. Gitu. Keren!

BUKU REWARD PAS :

Bagi siswa yang memperoleh PAS dengan nilai murninya masuk 10 (sepuluh) besar dari 254 (dua ratus lima puluh empat) siswa, bersyukurlah kalian bapak ajak untuk merenungi hal lain yang bukan matematika. Semoga bermanfaat. 
Bagi yang di luar 10 besar, ada banyak cara untuk memotivasi diri. Sisihkan uang jajan / uang quota untuk membeli buku sebagai teman di kala sendiri. Teman yang memberi motivasi ketika orang lain tidak tahu bahwa kita sedang menyusun peningkatan mutu karakter diri.

Khusus untuk peringkat 1 (satu) yang memperoleh nilai PAS murni sebesar 100 (seratus)  , satu orang, akan memperoleh reward 2 (dua) buku di bawah ini :


Untuk siswa yang peringkat 4 karena  karena telah memiliki 2 buku di atas (ketika quiz Gnetum Gnemon dan Juara Olimpiade Biologi di UIN Bandung ), maka rewardnya adalah buku di bawah ini:




PERINGKAT 10 BESAR PAS - MURNI
MATEMATIKA PEMINATAN 
XII MIPA 3 s.d 8  (sebanyak 254 siswa) adalah:




PIC PARA PERAIH PERINGKAT 10 BESAR
DARI 256 SISWA  KELAS XII MIPA 3,4,5,6,7,8




Peringkat 1 : Melati - XII MIPA 4
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di IPB Bogor - Prodi Statistika



Peringkat 2 : Ira Novianty Lestari, XII MIPA 6
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di Unpad Bandung Prodi Farmasi
*Total Nilai UNBK 2020 : 351,5 (peringkat ke-4 sekolah)
4 mata pelajaran



Peringkat 3 : Zalfa Ayu Sofianisa , XII MIPA 4
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di UNPAD BANDUNG Prodi Psikologi


Peringkat 4 : Ginta Wulan Norisma, XII MIPA 4
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di UNPAD BANDUNG Prodi Kedokteran Gigi
*Total nilai UNBK 2020:  334,0 (peringkat ke-10 sekolah)
4 mata pelajaran


Peringkat 5 (1) : Ryan Perjiana, XII MIPA 3
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di UPI BANDUNG Prodi Pendidikan Matematika
Nilai UNBK 2020 Matematika : 90,0


Peringkat 5 (2) : Putri Tatya Bulan Siregar, XII MIPA 7


Peringkat 6 (1) : Ayu Sri Rahayu, XII MIPA 3


Peringkat 6 (2) : Alvaz Adnan Naufal, XII MIPA 8
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB) - Prodi FITB
Nilai UNBK 2020 Matematika : 95,0 (tertinggi)
*Total nilai UNBK 2020:  350,0 (peringkat ke-6 sekolah)
4 mata pelajaran


Peringkat 7 (1)  : Luthfan Hakim Sanusi, XII MIPA 4
Nilai UNBK 2020 Matematika : 87,5
*Total Nilai UNBK 2020 351,5 (peringkat ke-4 Sekolah)
4 mata pelajaran




                                         Peringkat 7 (2) : Bagus Herlambang, XII MIPA 4
Peringkat 7 (3) : Alex Setiabudi, XII MIPA 8
Nilai UNBK 2020 Matematika : 85,0
*Total nilai UNBK 2020:  344,0 (peringkat ke-7 sekolah)
4 mata pelajaran


Peringkat 8 (1) : Widia Ayu Sugandi, XII MIPA 4
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di UPI BANDUNG Prodi MATEMATIKA

               

 Peringkat 8 (2) : Alif Aryan Kh, XII MIPA 7
diterima jalur undangan tanpa tes SNMPTN - 22 Maret 2020
di IPB Bogor Prodi KIMIA


                                         

Peringkat 9 : Muhamad Dwi Anggi, XII MIPA 6
Nilai UNBK 2020 Matematika : 92,5
*Total Nilai UNBK 2020 : 365 Tertinggi  sekolah
(4 mata pelajaran) 




Peringkat 10 : Salma Nurfadilah Azzahra, XII MIPA 3



                       
Selamat untuk semuanya semoga semakin sukses!
KALIAN HARUS PUNYA TARGET 
NILAI UNBK MATEMATIKA DI ATAS 80 . 
BISA!

Majalengka, 01 Desember 2018 
* Telah ditambah informasi terakhir tentang keberhasilan sebagian dari mereka
pada penerimaan mahasiswa baru melalui jalur undangan tanpa tes
SNMPTN  yang diumumkan tanggal 22 Maret 2020 
dan perolehan Nilai UNBK matematika dan total nilai UNBK.









Minggu, 25 November 2018

Terbaru 2020 - Aplikasi Grafik Fungsi Trigonometri basis Excel GRAFEX 22

Blog Pendidikan




Menggambar (paling tidak membuat sketsa) grafik fungsi trigonometri bagi siswa SMA kadang membuat sedikit diam merenung. Tidak buru-buru membuatnya. Apalagi jika disodori kertas kosong. Urusan yang berikutnya adalah bagaimana dia menguasai  membuat skala dan sejenisnya.
Aplikasi ini diharapkan dapat sedikit membantu pemahaman tentang bentuk grafik fungsi trigonometri. Gampang, download terus colokin di laptop/komputermu. Tanpa proses install, crak, dan sejenisnya. Yang penting ada Ms Office, langsung jalan. Mudah-mudahan hasil utak-utikku dapat sedikit membantu pencerahan bagi (khususnya) siswa SMA peminatan MIPA .

Contoh 1 : 
Grafik fungsi y = 10 cos 4x



Contoh 2 :
Grafik fungsi y = 3 - 2 sin 4x



Contoh 3 :
Grafik Fungsi y = - 2 cos (x - 40) ---- nggak ada fasilitas nulis derajat.


Contoh 4 :
Grafik Fungsi y = 6 cos (2x - 80) 


Selamat Belajar ............

Terbaru 2020 - Guru Nulis Guru di Hari Guru : GURU TERSABAR DI DUNIA

Blog Pendidikan


Kelas IV B - SD Bobotsari 3 - Tahun 1975
yang dilingkari: Aku

Tahun 1976.
Saya bersekolah di SD Bobotsari III, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Di tahun 1976 saya duduk di kelas V, guru kelas saya adalah Ibu Suparti (tetapi bukan yang ada dalam foto di atas). Ibu Suparti inilah tokoh legendaris bagi saya yang akan saya ungkap kisahnya.
Di tahun itu SD saya cukup memprihatinkan. Sekolah yang dikelilingi sawah di bagian belakangnya, dindingnya dari bilik (lihat gambar di belakang kanan kami). Bolong di sana-sini. Jika sedang pembelajaran, kami (eh saya) suka iseng mengintip ke luar, karena tempat duduk saya memang dekat dengan dinding yang bolong-bolong. Apa yang diintip? Biasanya siapa saja yang lewat di belakang kelas saya, karena di situlah jalan orang-orang yang mau ke 

sawah, mau mencuci di kali dan sebagainya. Saya penasaran karena mereka yang lewat kadang ngobrolnya sangat keras hingga masuk ke kelas kami.Kadang-kadang Ibu Suparti mengingatkan, tetapi kadang tidak karena beliau lebih fokus ke pelajaran yang diberikan.
Tahun 1976 merupakan awal-awal mulai maraknya hama wereng. Hama yang cukup merepotkan para petani itu mendapat perhatian khusus untuk ditanggulangi. Di samping disemprot dengan semprotan gendong, yang paling ditunggu-tunggu rakyat adalah program yang akan menyemprotkan obat serangga wereng dengan menggunakan pesawat kecil.
Suatu hari Ibu Suparti sedang memberikan pelajaran. Tiba-tiba seluruh murid mendengarkan dengan seksama sebuah suara asing yang datang dari luar. Suara menderu-deru. Saya yang duduk di pinggir, dan beberapa teman yang juga di pinggir langsung mengintip ke luar melalui dinding yang bolong. Deru suara itu semakin nyata.
“Montor mabur!”
Tiba-tiba teman saya yang mengintip berteriak keras. Montor mabur dalam bahasa Jawa artinya pesawat terbang. Bayangkan saja, di tahun 1976 bagaimana kondisi angkutan. Satu kecamatan yang punya motor mungkin hanya satu atau dua orang. Yang punya televisi (hitam putih) juga baru satu dua. Biasanya ada TV umum di halaman kantor kecamatan yang tiap malam selalu penuh untuk menonton siaran TVRI.Pesawat terbang adalah sesuatu yang sangat aneh dan langka. Apalagi ini terbang rendah di atas area persawahan di sebelah selatan dan barat sekolah kami. Ya itu tadi, menyemprot area persawahan penduduk dengan obat hama wereng.
Sontak teriakan montor mabur membuat teman-teman lain tersentak. Kelas menjadi riuh. Siswa sebanyak yang ada dalam foto (17 anak) di atas langsung berhamburan ke luar. Teman-teman tidak peduli pada posisi Ibu Suparti yang meja dan kursinya dekat dengan pintu keluar. Akhirnya kursi Ibu Suparti terlanggar oleh kami yang berebutan keluar karena hendak menonton montor mabur. Sang Ibu guru terjatuh bersamaan dengan kursinya.
Akhirnya kami tanpa ijin berlarian ke arah belakang sekolah ,dan disusul oleh anak-anak kelas lain yang juga berlarian ke arah yang sama untuk melihat montor mabur .
Sekitar dua puluh menit, peswat terbang menjauh, hingga akhirnya hilang dari pandangan. Kami dengan puas kembali ke kelas. Kami masuk satu persatu, tanpa sedikitpun berfikir tentang apa yang baru saja kami lakukan. Kami kembali duduk di bangku masing-masing.
Bebera jenak kami duduk, beliau melihat kami berkeliling. Kami sama sekali tidak merasa bersalah.
“Anak-anak …. Kalian sudah puas melihat pesawat terbang?” Tanya beliau sambil duduk.
“Ya Buuu…..”
“Kalau begitu, mari kita lanjutkan pelajaran kita yang tadi ……. “
“Baik Buuu…..”
Akhirnya pelajaran kembali berjalan, tanpa Ibu Suparti mempermasalahkan apa yang baru saja terjadi.
Kesabaran Sejati Seorang Guru
Hampir tak pernah saya bayangkan, di dunia pendidikan ada guru sesabar Ibu Suparti. Kita bisa membayangkan, seorang guru yang dilanggar murid-muridnya, kemudian jatuh bersama kursinya. Ketika murid-murid berada di luar kelas menonton pesawat terbang, mungkin yang dilakukan oleh Ibu Suparti adalah menyeringai menahan sakit, tertatih bangkit dari jatuhnya, mengembalikan kursi, menata nafas, beristighfar, menarik nafas dalam, membayangkan kami adalah makhluk-makhluk yang belum punya pikiran, kemudian memaafkan.
Kata maaf sama sekali tak terucap, karena memang dari kami tak ada permintaan maaf. Karena waktu itu kami juga merasa tidak berbuat salah (bodohnya kami!). Bagi Ibu Suparti itu bukan masalah. Pikiran beliau sangat jernih, hatinya bening. Justru kami (atau mungkin saya) yang mempunyai keterlambatan untuk sadar meminta maaf. Setelah kejadian itupun kami tak pernah membahasnya (dasar anak-anak).
Sebuah Cermin Hakiki
Dalam ketuaan usia saya sekarang ini (dan kebetulan saya juga guru seperti beliau) saya selalu menceritakan kisah Ibu Suparti di semua kelas yang saya ampu. Selepas SD, kemudian SMP, SMA atau di perguruan tinggi, tak pernah saya temui lagi guru sesabar beliau. Ibu Suparti bagi saya adalah guru nomor satu, guru paling sabar di seluruh dunia. Sebuah cermin hakiki, beginilah seharusnya kesabaran seorang guru.
Jazakumullah Ibu Suparti, telah 35 tahun saya meninggalkan desa Bobotsari. Hanya beberapa kali sempat lewat di desa itu, dan sesekali itu pula saya menegok ke arah bekas SD saya (sekolah SD-ku sudah dipindah sejauh sekitar 3 km ke utara dekat SMP-ku ; curhat). Tak ada lagi jejak. Hanya ada catatan di dalam ingatan, bahwa dulu di  SD tempatku belajar, telah menemukan orang sesabar Ibu. ***
Jawa Barat 2018
Catatan kecil:
Jika ada sahabat-sahabat saya yang ada dalam foto membaca tulisan ini, atau ada yang membaca tulisan ini, kemudian kenal.
Depan dari kiri-kanan: Ibu Fatimah , Didik Sedyadi, Aris Winarto, Liswoyo, Untung Subarto, Didin Fajar, Suyitno.
Tengah kiri-kanan: Suwatno, Kusyono, Kuswato.
Belakang kiri-kanan : Suyatmi, Go Lan Hiok, Rutiyati, Kwok Mio Yen, Wihamdiah, Sri Pamuji Wahyuningsih ,
Sri Endang Suhartati,Yang Yang.



Ibu Suparti yang paling tengah (memakai kebaya)
Foto: Koleksi Wasis Pratjojo (keponakan beliau)


Ini nitip sisan foto-foto guru SD Negeri 3 Bobostasi (1977)



==================================================================================
Plus : Ibu Guru Matematika-ku di SMAN 2 Purwokerto
Ibu SUDJIJATI

Merekalah itu semua, bp/ibu guru SD, SMP & SMA
adalah guru-guru yang menginspirasiku.


Jumat, 16 November 2018

Terbaru 2020 - Cerpen: Cinta Sang Photografer

Blog Pendidikan




Kartika mengatubkan bibir. Dipandanginya wajah Syamsu yang pucat. Air matanya tampak mengembang.
“Akang sehat?”
“Tenang saja De, semuanya akan baik-baik saja.”
“Mudah-mudahan saja.”
“Jangan sampai semua keluarga tahu hal ini. Mau kuantar pulang?”
“Akang yang seharusnya kuantar.”
“Temui ayah …..”
Sambil meninggalkan Syamsu, gadis itu sempat menoleh. Gadis itu menyeka air mata yang semakin menderas dengan ujung bajunya. Pemuda itu hanya menggeleng.
*

Ruang kerja Studio Foto Sinar Kartika.
Menjelang shubuh Syamsu belum beranjak dari depan laptop. Usai mengedit foto-foto ia memantau WA Grup SMAN-100 Alumni 2008 yang diakses melalui laptop. Ia baca chat teman-teman di hari kemarin hingga malam tadi. Topiknya satu, dirinya.
Kasihan Syamsu…… jerooo…..”
“Merpati itu telah terbang untuk selamanya!”

“Nya naha kudu kitu?”
“Jodoh bro, jodoh!”
“Semangat Syamsu, Atin juga masih menantimu..”
“Jomblo terprogram, wkwkwk.
Puluhan komentar teman-temannya kadang membuatnya ingin tersenyum, tapi kebanyakan membuat hatinya perih.
Semua tahu, selama dua tahun di SMA semua teman-teman tahu, Syamsu dan Kartika adalah sepasang kekasih. Demikian paling tidak teman-teman mereka menyebutnya. Dan itu memang disadari oleh mereka berdua, bahkan kadang dengan seloroh mereka berkata :
Titisan Romeo dan Juliet!”
“Titisan Romi dan Yuli!”
“Titisan Bangsacara dan Ragapadmi!”
“Titisan Kamajaya dan Kamaratih!”
“Titisan Rama dan Sinta!”
Atau apa lagi ungkapan yang mereka munculkan di hadapan teman-temannya yang menganalogikan cinta mereka dengan legenda-legenda cinta yang disebutkannya.
“….. sekarang adalah legenda Syamsu dan Kartika” kata Syamsu waktu dulu kepada teman-temannya.
Syamsu adalah Matahari, Kartika adalah Bintang. Sebuah perpaduan yang indah, yang diyakini oleh kedua anak manusia.
Syamsu – Kartika, Matahari – Bintang, ini adalah pertanda bahwa kita akan abadi …”
Syamsu ingat benar kalimat itu pernah terucap ketika hari perpisahan kelulusan. Dan ia melihat, Kartika menganggukkan kepala perlahan.
Brak!
Syamsu menggebrak meja. Kemudian ia tengadah sambil menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Sebuah peristiwa klasik yang kadang Syamsu sendiri melihatnya, bahkan menertawakannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya harus dipaksa menertawakan dirinya sendiri.
“Syamsuuu, kamu jangan bunuh diri!”
Begitu komentar lain di WA, dan masih banyak komentar teman-teman yang teramat menyakitkan. Namun baginya yang menyakitkan adalah bagaimana ia teringat waktu itu orang tua Kartika memutuskan dirinya dengan anaknya. Alasan orang tua gadis itu cukup sepele : “Kamu berani tanpa ijin membawa anakku bermalam minggu hingga malam!”
Bagi Syamsu tak habis pikir, hanya sekedar menghabiskan malam minggu bersama, apa salahnya? Namun di luar perhitungan pemuda itu, bagi sebagian orang tua, anaknya dibawa pergi tanpa ijin adalah sebuah pelanggaran harga diri yang tak termaafkan. Masih banyak orang tua yang tetap berpegang teguh kepada hal demikian.
***
Semula Syamsu tidak tahu tentang order untuk acara pernikahan kali ini. Kebetulan ketika negosiasi yang lalu ia masih berada di Surabaya untuk beberapa urusan. Barulah ketika ia pulang ke Sumedang, ia baru tahu jika yang harus ditangani adalah pernikahan Kartika di Majalengka. Ditambah lagi dengan beberapa teman yang tahu informasi, kemudian meramaikannya di grup WA.
Syamsu sendiri akhirnya sempat juga dengan berat hati mengirim japri kepada Kartika. Cukup singkat. 
Tak ada lagi Matahari dan Bintang yang akan bersanding ….. yang ada hanyalah Matahari yang terpana melihat Bintang bersanding dengan Awan. Ya, Awan Laksono.”
“Maafkan Tika Akang, maafkan ayah…”
Hari Minggu, 23 November 2017.
Usai akad nikah pernikahan Wuryani, beberapa crew  tim Video Shooting & Photography Sinar Kartika, mulai menata gaya untuk berbagai pose foto keluarga bersama pengantin. Saat-saat yang paling menyiksa bagi Syamsu adalah ketika ia harus menapa gaya Kartika sendirian. Ia sempat melirik ke arah ayah Kartika yang mengamatinya dengan pandangan tidak senang. Laki-laki itu juga baru tahu jika sang photographer itu adalah Syamsu.
“Coba… mmm wajah miringkan sedikit, badan …. nah ….. tangan, yang kanan di depan, Jangan terbalik. Naah …. bagus siap…..” kata Syamsu sambil mundur menyiapkan tustelnya.
Namun hingga beberapa saat, tampak pemuda itu seperti belum menemukan posisi yang pas. Tustel ia turunkan. Kepalanya menggeleng. Ia maju lagi, kemudian mendekati Kartika, memegang pundak seolah tampak sedang mengatur gaya. Namun ternyata ia membisikkan sesuatu.
Kartika, bintangku. Ini pelaminan yang Akang impikan dulu. Cinta Akang tetap abadi …..” kata Syamsu membisikkan kata-kata di dekat Kartika.
Gadis itu gelisah.
Syamsu mundur lagi. Kini ia berkali-kali mengabadikan semua kegiatan.
Kilatan-kilatan lampu blitz, bagi Kartika adalah siksaan. Kata-kata Syamsu yang baru saja ia dengar adalah kalimat indah yang menyayat kebahagiaan yang seharusnya ia temui hari ini. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Syamsulah yang akan mengabadikan semua perhelatan ini.
Usai mengambil even ini, sebelum ia turun dari panggung pelaminan, Syamsu menyalami mempelai laki-laki.
“Selamat Kang Awan ….. titip Kartika menjadi istri yang baik!” kata Syamsu tercetus begitu saja. Mendengar kalimat tersebut, suami Kartika tak jadi menerima uluran tangan Syamsu.
“Apa?! Apa kata Anda tadi? Titip? Anda siapa?!” bahkan kemudian ia bertanya agak keras ke arah Syamsu.
“Mmm …. mm… maaf… maaf tidak apa-apa.”
‘Anda kenal dengan istriku?”
“Ini ada apa?” tiba-tiba ayah Kartika menghampiri yang sedang berdialog.
“Oh Bapak, tidak apa-apa, hanya salah paham sedikit.”
“Kamu itu dari dulu selalu bikin ribut!” kata ayah Kartika sambil menunjuk muka Syamsu.
“Maafkan saya Pak.”
“Pergi! Pergiiiii!” teriak ayah Kartika sambil mendorong Syamsu ke bawah.
Semua tetamu kaget melihat telah terjadi keributan di panggung pelaminan. Mereka melihat sang Fotografer limbung didorong dengan kuat, hingga terpelanting terjerembab ke bawah. Tustel Syamsu terlempar jauh. Tubuhnya terkapar dekat taman pelaminan.
“Kang Syamsuuuuuu!” tiba-tiba Kartika menjerit dan berlari menghampiri Syamsu yang masih tergeletak.
“Kartika! Kembali!” kata ayahnya seraya menarik tangan anaknya.
“Ayah jahat! Jahaaaat!”
“Biarkan saja anak nggak tahu diuntung itu!”
Orang tua itu meraih anaknya dibawa kembali ke pelaminan.
“Tika, anak tak tahu diuntung itu telah merusak acara sakral ini.”
“Ayah, jangan sebut Kang Syamsu anak tak tahu diuntung.”
“Pengacau dia!”
“Ayah …. Ayah tidak tahu pengorbanan Kang Syamsu terhadap keluarga kita….”
“Pengorbanan? Pengorbanan apa? Sejak ia kenal kamu di SMA, dia membuat ayah selalu gelisah, khawatir.”
“Ayah salah, Kang Syamsu yang Tika kenal sejak SMA adalah anak baik.”
“Baik apaan?”
“Dia telah menjadi jalan agar keluarga kita tetap eksis seperti sekarang ini.”
“Apa maksudmu?”
“Ayah masih ingat ketika Tika kelas tiga SMA ayah sakit?”
“Ya.”
“Ketika dirawat di rumah sakit?”
“Ya, ayah ingat.”
“Ayah, sebenarnya … sebenarnya darah Kang Syamsul-lah yang mengalir di tubuh ayah hingga ayah sehat kembali hingga saat ini.”
“Apa?!”
“Golongan darah ayah adalah AB, golongan darah yang paling langka di dunia. Hanya empat persen manusia di dunia yang memilikinya. Ayah memiliki itu, juga Kang Syamsul. Hanya dengan cara transfusi waktu itulah, menjadi syari’at bagi ayah hingga seperti sekarang ini. Bisa berkumpul bareng keluarga, bareng kami.”
“Syamsu?”
“Iya ….. iya ayah, Kang Syamsu.”
Perlahan ia melihat ke arah Syamsu yang telah ditolong bangkit oleh beberapa orang. Bibir laki-laki itu bergetar.
“Tika … Tika, kenapa kamu tidak cerita dari dulu?”
“Itulah kemuliaan hati Kang Syamsu ayah, dia tidak mau anggota keluarga kita ada yang tahu dialah yang menolong menyelamatkan nyawa ayah.”
“Tikaaa!”
“Karena Kang Syamsu tidak ingin ayah merasa berhutang budi padanya…..”
Tersekat leher laki-laki. Matanya melihat nanar ke arah Syamsu yang perlahan berjalan tertatih menjauhi pelaminan. Ia merasakan seluruh permukaan kulitnya tiba-tiba dingin. Lututnya bergetar. Perlahan tubuhnya melorot, lemas.
Perhelatan pernikahan menjadi tak menentu. ***
                                  
                                                           Majalengka, 01 Desember 2017


Senin, 05 November 2018

Terbaru 2020 - Cerpen: LEGENDA CINTA

Blog Pendidikan


I. Episode Cinta Monyet

Bagi Bintang, bumi ini adalah bumi baru. 
Dulu bumi hanyalah hamparan tanah, sawah, gunung dengan latar belakang langit biru. Dulu semua diam. Sekarang bumi telah berubah menjadi indah sejak mengenal Kartika.
“Aku boleh pinjam pulpenmu?” tanya Bintang serius.
“Boleh ….. mau yang mana?” kata Kartika sambil tersenyum.
“Bener boleh ya?” kata Bintang sambil mengambil ballpoint Pilot.
Dengan sengaja ia menyentuhkan jarinya ke jari Kartika. Jantung Bintang berdetak keras. Bulu-bulu halus di kedua tangannya meremang memberi isyarat rasa aneh yang berdesir dalam hatinya.
Pulang sekolah Kartika tidak tahu betapa Bintang berjingkrak-jingkrak dengan bahagia. Kartika tidak tahu pula jika pulpennya dipeluk Bintang selama tidur.
Pagi hari.
Kartika, pulpenmu hilang … gimana nih?”
“Emmm, gimana tuh? Ganti dong!”
Hari itu Bintang berteriak kegirangan sambil berjingkrak-jingkrak. Pulpen Kartika akhirnya menjadi miliknya. Ia merasa tak banyak akal untuk memiliki kenang-kenangan dari Kartika, kecuali dengan akal bulus.

II. Episode Putih Abu-abu

Kantin Sekolah .


“Bintang, sebentar lagi kita lulus."
"Insya Allah..."
" Bintang jadi ke Yogya?”
“Jadi laah. Aku harap tempat kuliah bukan penghalang cinta kita. Biarkan aku ke Yogyakarta, Kartika ke Bandung. Suatu saat akan ada sebuah keluarga, dimana anak-anak dapat dongeng tentang Yogya, Bandung dan Majalengka."
"Iya"
"Bandung? Mantap ke kota itu kan? Bukankah orang tua Kartika asli Bandung?”
“Iya, aku sekalian pulang kampung. Pulang kota.”
Kartika.
“Apa?"
"Bagi Bintang, kantin ini mungkin kantin yang paling indah sedunia, karena ada Kartika yang selalu menemani aku …..”
“Aaaahhh…. bisa saja kamu! Bilang saja aku yang selalu nraktir!” kata Kartika sambil tertawa.
Bintang cemberut, namun sebenarnya ia suka digoda seperti itu.
“Kartika, kita UNBK Maret .
“Ya sebentar lagi.”
“Usai UNBK kita akan jarang bermain lagi di SMA ini….”
“Aaaahhh Bintaaaang …… jadi pengen nangis niiih!” kata Kartika sambil menjentik jari Bintang.

III. Episode Tak Pernah Ingkar Janji


Hari itu alunan gamelan degung berhenti.
Prosesi pernikahan antara Bintang dan Kartika akan segera berlangsung.
“Wahai Bintang, engkau nikahkan dengan putriku, Kartika Aruming Pertiwi, dengan maskawin seperangkat alat sholat dan sebuah ballpoint Pilot, dibayar tunai!”
“Aku terima nikahnya Kartika ………………….”
Mendengar ballpoint pilot disebut, Kartika terhenyak. Pikirannya jauh melayang ke masa-masa SMP.
Usai perhelatan di sore hari.
Di tangan Kartika ada ballpoint Pilot maskawin. Kartika mencium ballpoint itu.
“Aa, aku sama sekali tak berfikir A Bintang masih menyimpan ballpoint ini. Walaupun dulu bilang pura-pura hilang.”
“De Tika sayang, benda inilah yang menemani cintaku padamu selama ini. Sebelas  tahun sejak kita kelas II SMP hingga lulus S2, Kartika. Ini waktu yang sangat lama sayang. Benda inilah yang memberiku semangat dan keyakinan untuk berprestasi.”
“Och ….”
“Prestasi tertinggiku bukanlah gelar magister, tetapi prestasi tertinggiku karena Allah mengabulkan Kartika menjadi bidadariku yang bukan lagi berbentuk ballpoint, tetapi Kartika yang nyata ……. yang sejak dulu aku kagumi.”

IV. Episode Kuburan

Tanpa berpamitan kepada anak cucunya, Bintang dan Kartika menuju ke sebuah pekuburan.
Keduanya memandang berkeliling di area pekuburan.

“Kakek ……. enggg …. umur kita sudah berapa ya?”
“Seratus tahun lewat sedikit.”
“Kenapa kita nggak mati-mati ya?”
“Nenek ingin tahu?”
 “Ya sayang….”
     “Karena cinta, sayang. Kita menjadi panjang umur karena cinta. Cinta yang membahagiakan membuat tubuh kita sehat. Optimis menjalani hidup. Pikiran tenang dengan cinta yang murni, bukan cinta palsu. Saat ini tubuh kita memang sudah tak keruan lagi, peot keriput. Tapi cinta kita tak pernah tua …..”
Lelaki tua itu memegang pundak istrinya. Istrinya memandang wajah suaminya. Dibenamkannya kepala wanita yang dicintai ke dadanya.
“Kartika….. aku mencintaimu sampai mati….”
“Cintaku juga abadi Bintaaang …..”
Siang itu angin pekuburan semilir.
Beberapa kelopak daun kamboja jatuh di tanah.
Sepasang legenda cinta itu berbahagia. Keduanya menatap deretan batu-batu nisan. Mereka sedang berfikir untuk mencari posisi istirahat lama di alam barzah secara berdampingan.
Dalam cinta. ***

Majalengka 2016