Minggu, 05 Juni 2016

Terbaru 2020 - Cerpen: Mawar Ini Bukan Untukmu

Blog Pendidikan

Sumber Cerpen : http://fiksiana.kompasiana.com/didik_sedyadi/cerpen-mawar-ini-bukan-untukmu_5754aa8d2023bd0d0db2af4c
=====================================================================

Wike bergegas sambil terus menggenggam lengan April menuju balandongan tempat peringatan Rojabandi sekolahnya. Namun apa mau dikata, acara Rojabantelah dimulai beberapa saat lalu. Kedua gadis itu terlambat. Agak menyesal juga, tapi keduanya tak mungkin menyalahkan tamu yang datang menemuinya di lobby sekolah. Wajah April tampak biasa, namun tidak demikian dengan Wike.
“Aku kehilangan momen penting.... “ bisik Wike, yang biasa pula dipanggil Keke,  sambil memperlihatkan kamera Canon Eos-nya.
“Momen apaan?”
“Ya mulai pembukaan laah, harusnya sejak awal aku sudah duduk di sini. Dengan optical zoom 60X , aku bakal memilik karya artistik.”
“Nggak ngerti!” kata April tampak kesal.
“Ya ampun Pril!”
“Judulnya apa si?”
“Qori kaseep ... yang ganteng!” bisik Wike meyakinkan sahabatnya.
“Oalaaahhhh... Keke! Norak kamu! Ternyata sulit jadi wanita sholihah ya hihihi....”
“Apaan sih?”
“Ini pengajian Ke, masa kamu malah mikirin cowok!”
“Sambil menyelam minum air.”
“Ah, kamu maah! Modus! Ntar, bubar pengajian kita cari tuh si qori, mau diajak selfie kek! Mau diajak salto! Hayu baee!”
“Iya... iya ....”
“Lagian panitia juga nyiapin foto, tuuuh bagian dokumentasi! Ntar minta gambarnya!”
“Waaah... bagus idemu Pril! Aku malah nggak kepikiran.”
***
Ba’da dzuhur.
Pengajian tadi pagi sudah usai, tetapi balandongan masih ada. Tikar juga masih tergelar. Banyak anak-anak yang duduk-duduk di bawah balandongan sambil melakukan aktivitas apa saja. Sementara itu usai shalat dzuhur, Wike melihat Rafiq, seksi dokumentasi yang tadi pagi mengabadikan momen kegiatan Rojaban. Gadis itu mengajak sahabatnya menemui pengurus OSIS itu.
“Fiq, maaf nih sibuk nggak?” tanya Wike ketika telah berdekatan.
“Sedikit sibuk sih. Ada apa memangnya?” tanya Rafiq balas bertanya.
“Aaa.... anu ..... anuu... aa... “ ditanya begitu Wike malah tergagap.
“Gini Fiq, si Wike ini mau minta foto kegiatan.” kini April yang mewakili bicara.
“Yang tadi pagi?”
“Iya, ceritanya mau minta foto pas pembacaan ayat suci itu.”
“Waduuuh gimana ya?”
“Gimana kenapa? Nggak boleh?”
“Bukan begitu, kameranya tadi dibawa pembina OSIS. Dibawa Pak Imam, nanti malam ada undangan acara di pendopo. Paling besok siang kamera itu aku pakai lagi.”
“Ooooo..... ya sudah... tuh Ke, kameranya dibawa Pak Imam.”
“Yaaa... sudah.... terima kasih.” kata Wike kecewa.
“Sebenarnya ada apa sih?” tanya Rafiq seraya melihat Wike.
“Engg... titip salam saja buat qori yang tadi ya?”
“Oooooooo..........”
“Bilangin dari Wike, IPA 6.”
“Iya, iya hahaaa! Paham! Pahaaamm....!”
“Sampai-in ya?”
“Iyaaaa.... “
***
Pukul 05.00 pagi.
Wike telah bersiap-siap membenahi segala peralatan sekolah, ketika tiba-tiba datang SMS. Tangan gadis itu segera melihat SMS dari siapa.
“Wike, terima kasih titipan salamnya yang lewat Rafiq. Salam kembali ya ...”
Jemari gadis itu bergetar. Dadanya berdetak kencang. Qori itu membalas salam? Bayangan Irfandi, si qori ganteng berkelebat. Bibirnya tersenyum. Ia lihat nomor baru yang masuk: 089622x20xxx . Segera ia save nomor tersebut dengan nama Qori Ganteng.
 Sebenarnya gadis itu mengirim salam itu hanya modal nekad. Memang Wike suka dengan Irfandi, tetangga kelas sejak X itu. Hanya sebagai anak perempuan tak mungkin ia memulai untuk menyatakan rasa sukanya. Lagi pula bagaimana mungkin? Melihat Irfandi dari jauh saja gadis itu sudah gemetar.
Pagi itu diawali dengan rasa bahagia. Wike sudah menyapu kelas. Ia mendahulukan menyapu teras kelas, dengan harapan Irfandi lewat. Ia ingin melihat si ganteng itu mengirim salam secara langsung, mengulang SMS. Dan tadi malam, ia sudah membayangkan akan terjadi dialog antara dirinya dengan Irfandi. Dialog yang mesra, dialog yang membahagiakan dirinya.
Sesekali gadis itu melihat ke gerbang masuk. Pukul 06.4x dada Wike berdetak cepat. Ia melihat motor Irfandi masuk gerbang langsung ke tempat parkir. Sebentar lagi tentu akan ada yang lewat. Ia merasa hari itu seperti berkuasa mengatur jalan hidup manusia, kelebat Irfandi seperti apa yang diharapkan. Ketika pemuda itu semakin dekat, Wike pura-pura tidak melihat dan tetap menyapu.
“Wike ..... “ ada suara memanggil. Mendengar itu tangan gadis itu gemetar.
“Aa...aaa.... apaa... “ ia menoleh. Sapu yang dipegangnya jatuh.
“Tuuuh sapu jatuh!”
Dialog sesingkat itu. Wike sama sekali tak menyangka Irfandi berlalu begitu saja. Tak ada kiriman salam balik. Semua yang direncanakan buyar sudah. Beberapa teman yang lewat masuk kelas seperti tak dilihatnya. Ia masih tertegun tak percaya apa yang baru saja dialaminya.
“Wike.....”
“Aaahh... apa? Apa?” mendengar ada yang memanggil Wike targagap.
“Ini sapunya jatuh. Melamun ya?” kata anak laki-laki yang baru datang seraya mengulurkan sapu. Gadis itu menerimanya.
“Ooooh.... aahhh kamu Noval. Iya, iya terima kasih.”
“Pagi-pagi jangan melamun Ke.”
“Enggaaak, siapa yang melamun.”
“Syukurlah kalau nggak melamun. Btw, terima kasih salamnya ya Ke....”
“Terima kasih apaan?”
“Ya kiriman salamnya.”
“Salam siapa?”
“Astaghfirullaaah.... ya salam Keke lah! Bukannya kemarin kamu nitip salam lewat Rafiq?”
“Nitip salam ke Rafiq? Salah kali Val!”
“Nggak laah... tadi pagi juga aku kirim SMS Ke, cuma kamunya nggak ngebales!”
“Jaa.... jaadi.... kamu yang tadi kirim... ki...kirim SMS?”
“Iya. Aku dapat nomormu dari Rafiq.”
“Ooooh.....”
“Terima kasih salamnya Ke .... “
“Aaaa ... au kan titip salam ke qori yang kemarin Rojaban.”
“Itu aku yang baca Qur’an Ke.”
“Bukannya Irfandi?”
“Bukan, kan kemarin Irfan kehilangan suaranya. Serak. Tidak sehat dia....”
Lemas tangan Wike. Sapu yang dipegang jatuh kembali. Ia sama sekali tak menyangka jika yang tampil adalah qori pengganti. Gadis itu mengutuki dirinya sendiri, mengapa kemarin sampai terlambat dan tidak bertanya tentang siapa qorinya.
Hingga beberapa kata dari Noval terlontar, Wike tidak bereaksi. Gadis itu diam, hingga akhirnya Noval memilih pergi meninggalkan Wike sendirian.
Ketika April datang, Wike menggandeng tangannya untuk menepi ke pojok taman depan kelas.
“Gawat Priiilll.... aku harus gimana?” kata Wike dengan wajah cemas.
“Ada apa to?”
“Kemarin salah kirim salam! Itu yang kemarin tampil bukan Irfan, tapi Noval! Gawaaat!”
“Astaghfirullaaaaah Kekeee..... kok bisa?”
“Irfannya serak, sakit, jadi qorinya diganti!”
“Hhhhh... ya sudah laah. Ngirim salam kan perbuatan baik.”
“Iya sih, tapi kalau Noval suka sama aku gimana? Tadi pagi shubuh dia ngirim aku SMS, katanya terima kasih salamnya. Trus, barusan ini, dia juga ngomong gituuuu....”
“Nggak usah bingung, kalau dia suka ya sudah habis perkara! Terima saja yang sudah pasti!”
“Aaaah kamu Priiil, aku nggak suka. Tolong aku Priiil!”
“Kenapa minta tolong sama aku?”
“Nggak tahu, kan Aprilnya supel, mak-comblangin aku ke Irfan!”
“Ha?! Ntar kalau Irfan suka sama aku bagaimana?” tanya April menakut-nakuti.
“Jangan Priiill ..... jangaaan!”
“Ya sudah .... coba lihat kubah masjid sekolah kita! Paham maksudku?”
Beberapa saat Wike menatap kubah masjid sekolah yang tampak dari kejauhan. Perlahan gadis itu mencerna apa yang dikatakan sahabatnya. Kubah? Masjid? Sebersit harapan melintas ketika melihat tempat itu. Ia biasa melakukan shalat dhuha. Di sujud terakhir, ia akan mencoba memulai menghiasi doanya dengan apa yang ia inginkan.
Memulai dengan keyakinan tampaknya belum bisa dijalankan. Namun ia mencoba, biarpun masih diawali dengan setengah hati.
“Satu itu tentu butuh setengah Ke, yakin, selalulah yakin akan peluang bernilai satu!”
“Tapi aku memang masih ragu.”
“Pilihan memang ada dalam dirimu kok! Jika ragu ya sudah, mending jangan dilanjutkan.”
“Tapi peluang bernilai satu itu?”
“Harus diperjuangkan!”
Nasehat April yang cukup dalam mencoba dicerna Wike. Gadis itu menggeleng perlahan. Sepagi ini telah datang masalah-masalah rumit. Tapi ia juga sadar, masalah itu muncul karena dibuat sendiri.
***
Festifal Band antar kelas, Februari tahun ini.
Sejak pagi suasana halaman tengah sekolah hingar bingar. Parade penampilan perwakilan 33 kelas dalam festival band sangat meriah. Para pemandu sorak, juga para pendukung kelas langsung berjoged dan jingkrak-jingkrak ketika band kelasnya tampil.
Wike mendesah. Ia gelisah menunggu penampilan band Jabal-band XII MIPA 7.  Justru bukan bukan wakil kelasnya XII IPA 6 dengan biduan Taofik. Ya, sosok qori ganteng yang kini bukan lagi Noval, yang ia tunggu. Irfandi. Urusan suara memang menjadi karunia pemuda itu. Mengaji oke, qiroah oke, mata pelajaran oke, menyanyi juga oke.
Bagi Wike, Irfandi sosok yang allround, serba bisa. Gadis ini memang suka, tetapi ia sama sekali tak punya keberanian untuk memberikan sinyal sukanya itu. Sekalinya nekad mengirim salam, ternyata malah salah orang. Inilah pengalaman yang membuat dirinya semakin tak berani mengungkapkan apapun. Takut salah. Namun di sisi lain pikirannya, ia tak ingin hal ini menjadi mitos pelemah usahanya mendekati Irfandi.
Pagi ini juga, dari rumah ia telah menyiapkan sekuntum bunga mawar. Ya bunga mawar merah natural yang ia petik dari pot yang ditanam sendiri. Ia telah siapkan itu untuk diberika kepada Irfan usai tampil menyanyi di festival.
Mendekati giliran Jabal-band tampil, gadis itu semakin gelisah. Ia telah menyiapkan bunga. Ia pandangi sejenak bunga itu. Ia membayangkan, usai penampilan Irfandi ia akan berlari ke bawah panggung, naik panggung kemudian memberikan bunga kepada Irfandi. Ia membayangkan betapa gemuruhnya aplaus penonton melihat adegan itu. Ia membayangkan tersenyum bangga bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa ia suka kepada Irfandi.
“Saatnya tampilan Jabal-band perwakilan MIPA 7 dengan penyanyi Irfandiiiiiiiiiiiii!!!!”

Wike terhenyak ketika mendengar kalimat pembawa acara. Dada gadis itu berdetak keras. Waktunya semakin dekat. Dada gadis itu semakin tak teratur detaknya ketika muncul Irfandi memberikan salam kepada penonton dijawab dengan aplaus dan teriakan histeris gadis-gadis lain.

Lagu pertama usai. Lagu kedua, pilihan, membuat penonton semakin riuh. Lagunya Camelia dari Irwansyah.

Hati Wike menjadi tak keruan. Mendengar intro lagu itu, benar-benar jiwanya melayang. Bagaimana tidak? Di laptopnya ia simpan lagu itu. Tentu tak bakalan demikian jika yang ada di laptop adalah nyanyian Irwansyah. Ini bukan. Ya, gadis itu menyimpan rekaman lagu Camelia yang dinyanyikan oleh Irfandi, si qori ganteng itu. Iringannyapun asli iringan gitar Fandi pula.
Wike tertahan. Sementara yang lain menggerakkan tangan secara bersama-sama ke atas ke kanan ke kiri mengikuti irama sendi Camelia, gadis itu tertegun. Bunga mawar yang telah ia siapkan  ia sembunyikan di belakang punggungnya. Pikirannya mendadak kalut. Pergulatan antara berani dan tidak. Ia berfikir betapa malunya jika tiba-tiba ia naik ke panggung, sementara ia mengenal banyak juga tidak. Tetapi? Ini adalah momen yang tepat. Ya, momen yang tepat di mana siapapun tampaknya begitu mudah naik ke panggung  dan memberikan bunga kepada idolanya.
Lamunan Wike terlalu lama.
Ia tidak sadar ketika lagu Camelia telah usai ditingkah suara gemuruh aplaus. Bersamaan dengan itu tampak tiga orang gadis berebutan naik ke panggung untuk memberikan bunga kepada Irfandi. Ia sakit sekali melihat tiga gadis itu tampak ceria dengan tawanya, bahkan kemudian berfoto bersama. Ia cemburu yang amat sangat.
Wike menyesal. Dari tadi ia tidak beranjak merangsek ke dekat panggung. Jarak terlalu jauh. Namun sebenarnya bukan jarak yang jadi soal, ini masalah keberanian. Keberanian untuk naik ke panggung memang tiba-tiba hilang sama sekali. Gadis itu berbalik. Ia bergegas meninggalkan lapangan pagelaran festival dengan membawa perasaan tidak menentu. Ia ingin segera jauh-jauh dari arena itu.
***
Selang seminggu setelah kelulusan tanggal 07 Mei 2016.
Anak-anak kelas XII sudah jarang yang datang. Namun pagi itu Wike dan April sudah duduk berdua di bangku taman depan Graha OSIS. Keduanya usai melaksanakan shalat dhuha, seperti kebiasaan ketika pembelajaran masih normal sebelum UN.
“Ke , maaf nih aku ada perlu dulu ya .... mau cari camilan di kopgur. Tunggu jangan ke mana-mana.” kata April sambil berdiri.
“Jangan lama-lama.”
“Yaaah, nggak lama laah! Paling juga satu jam! Hihihi.....” kata April sambil beranjak meninggalkan Wike sendirian.
“Satu jam waduuuuhhh! Ngasal kamu Priiil!”
“Serius!” kata April dari kejauhan.
Sepeninggal April, Wike mengeluarkan  smartphone. Perhalan ia mencari sesuatu dari folder kesukaanya. Tak lama kemudian terdengar alunan lagu. Ia mendesah. Lagu itu ia ikuti sambil tersenyum. Ia sampai tak sadar jika dari tadi ana seseorang yang telah duduk di bangku batu, agak ke belakang.
“Lagunya enak sekaliii....... “ ada suara mengagetkan Wike. Gadis itu menoleh. Mukanya memerah demi melihat siapa yang bersuara.
“Ir... Irfaaannn... kau.. kau?”
“Iya ini aku.”
“Sudah lama?”
“Selama lagu itu kamu putar Ke.”
“Ooo... aa... aanuuu....”
“Kenapa Ke? Lagu itu bagus banget kok!”
“Anu... lagu.... ini.... ini.... “
“Suaranya bagus.”
Beberapa saat Wike mati kutu. Ia sama sekali tak menyangka kedatangan Irfandi sudah agak lama. Selama lagu Camelia diputar. Dan itu adalah suara nyanyian dan gitar Irfandi.
“Maaf Irfan ... aku ... “
“Nggak apa-apa, kalau memang kamu suka, simpanlah.”
“Irfaaaan... aku malu. Aku... aku ... , tapi ... tapi... “
“Nggak apa-apa kok. Siapa yang nyanyi Ke?”
“Nggg... Irfan.”
“Hmmhhh..... baguslah .... aku nggak nyangka punya fans kaya kamu. Segitunya sampai menyimpan laguku dalam HP-mu.”
“Mmm... maaf Irfan, aku mau ketemu April dulu ya!” kata Wike yang sudah sangat gerah menghadapi Irfandi.
“Duduklah Ke.... kenapa? Ayo sini, duduk.”
“Iya... iya.” kata Wike seraya kembali duduk.
“Tadi aku ketemu April di gerbang sekolah.”
“Lah? Katanya mau cari camilan di kantin.”
“Sudah dapat sih, katanya mau dibawa pulang. Tapi April titip pesan ke aku, katanya ia pulang duluan.”
“Astaghfirullaaah.... Apriiilll.....” Wike mendesah sambil geleng-geleng kepala.
“Sudahlah Ke, kan ada aku. Ngobrol sebentar ya? Mau nglanjutin yang tadi.”
“Yang mana?”
“Itu Keke dapat lagu dari mana?”
“Maaf ya Fan, aku... aku.... dapat lagu itu dari .... dari....”
“Dari April ya?”
“Iya sih.”
“Hmh.... ya sudahlah, memang dulu pas ada acara apa aku sempat titip file pada April.”
“Kalau nggak boleh aku dengarin lagi, biar aku hapus ya Fan.”
“Eh jangan.... biar sajalaaah, jelek-jelek juga!”
“Emh jelek apaan, bagus kok Fan, buktinya aku suka....”
Entah dapat keberanian dari mana tiba-tiba Wike mengucapkan kalimat itu. Dia sendiri sampai terhenyak kaget atas apa yang ia ucapkan. Ia rasakan mukanya panas. Seperempat sekon ia mencoba melirik ke arah Irfan, ternyata yang dilirik tersenyum. Gadis itu semakin salah tingkah.
Beberapa saat Irfandi membiarkan Wike sibuk dengan perasaannya. Setelah beberapa saat keduanya hening, Irfandi mendeham.
“Ehem ..Ke...”
“Ya.”
“Keke masih ingat kapan di sekolah kita ada festival band?”
“Ngg.... iya sudah lama, jauh sebelum kita lulus sih. Kalau nggak salah bulan Maret.”
“Februari Ke.”
“Ah iya Februari... iya... bener, Februari. Kamu yang ikut tampil pasti ingat laah.”
“Menurut Keke, acaranya meriah nggak?”
“Meriah laaah.... kenangan terakhir melihat teman-teman pada lepas berjoged dan jingkrak-jingkrak.”
“Kamu ikut jingkrak-jingkrak nggak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Nggak suka.”
“Kenapa?”
“Aneh kalau aku jingkrak-jingkrak kayaknya.”
“Malu ya?”
“Iya, malu.”
“Keke masih ingat ingat lagu yang dibawakan Taofik, wakil dari kelasmu itu?” tanya Irfandi dengan serius. Tapak wajah Wike tegang. Ia sama sekali lupa apa lagu yang dibawakan teman sekelasnya itu.
“Aduuuh ... lupa. Emm apa ya?”
“Ya sudahlah... lupa nggak apa-apa. Tapiiiii... emmm, Keke nonton pas aku tampil nggak?”
“Iii.. iya, nonton, nontoon.”
“Masih ingat lagunya?”
“Camelia.”
“Alhamdulillaaaah... kamu masih ingat laguku Ke, terima kasih.”
“Apa sih? Lah memang masih ingat kok!”
Kali ini Irfandi diam. Pemuda itu manggut-mangut sambil tersenyum. Wike penasaran .
“Ke...”
“Apa Fan.”
“Aku mau nagih janji niatmu.” kata Irfandi sambil tersenyum.
“Janji apa? Kapan aku pernah berjanji kepadamu?”
“Ingat-ingatlah laah Ke.”
“Mmmm..... apaaan ya? Ntar... aku malah bingung.”
Kali ini Wike benar-benar bingung. Namun melihat wajah Irfandi yang serius, ia justru ragu bahwa dirinya memang pernah berjanji kepada Irfan.
“Sudah ingat?”
“Belum. Apa sih Fan, tolong katakan saja....”
“Ke, mana bunga mawar yang pernah mau diberikan kepada penyanyi festival band?” kata Irfandi sambil menyorongkan telapak tangan. Wike terhenyak.
“Bunga mawar?”
“Iya. Bukankah Keke pernah berniat memberiku mawar?”
“Aaah kata siapa?”
“Tapi keduluan anak lain yang pada naik panggung, jadi batal ya? Sekarang bunga itu aku minta.”
“Oooooohh.... aduuuuhhh.... itu... aaah maluuu.....”
Wike menutup mukanya. Kini ia benar-benar diingatkan. Ia ingat benar dulu memang pernah berniat memberikan bunga mawar kepada Irfandi. Ia ingat itu. Ketika gadis itu membuka telapak tangan yang menutupi muka Irfandi masih menyorongkan telapak tangan.
“Mana?”
“Kata siapa bunga itu untuk kamu?”
“Kalau aku sebutkan orang, mungkin kamu nggak percaya. Ku juga baru pas kelulusan kemarin aku baru tahu kalau kamu akan memberiku bunga. Hitung-hitung hadiah kelulusan!”
“Iiiih... nggak lucu ah! Bohong itu.”
Irfandi tersenyum sambil mengutak-atik HP-nya. Beberapa saat kemudian ia menyorongkan HP kepada Wike. Ia menunjukkan sebuah gambar.
“Mawar yang ini Ke....” 

“Ouchh! Mawar ini ..... ini..... ini aku, ini mawarku.”
“Iya yang ini. Ingat kan?”
“Ini siapa yang memotret aku?”
“Nggak penting. Bagiku yang penting adalah, kalau bunga itu masih ada, aku tunggu....”
“Itu mawar natural Fan. Aku tak tahu di mana, tentu sudah kering. Sudah lama banget Fan.”
“Oooh, kau menanam sendiri?”
“Iya.”
“Bunga yang digambar mungkin bukan untukku, karena memang sudah hilang. Tapi generasinya mudah-mudahan masih ada Ke, peliharalah. Hari ini mungkin aku bercanda meminta bunga itu, tapi ingin suatu saat kau kabari aku kalau-kalau bunga di rumahmu sudah mekar lagi.....”
“Mmm.... aaa.....”
“Boleh gambar ini aku simpan?”
“Ya nggak apa-apa. Tapi kirimi aku lewat bluetooth.”
Siap.”
“Maafkan aku Fan.”
“Aku juga minta maaf, aku juga baru tahu. Ke, coba saja aku tahu Keke akan memberikan bunga dari dulu....”
“Kalau tahu kenapa?”
“Hehehe ... nggak apa-apa .....” kata Irfandi sambil terkekeh.
Siang itu hati Wike benar-benar bahagia. Ia ingat pesan April beberapa waktu lalu. Lihat kubah. Inilah petunjuk itu? Ia benar-benar hanya menyebut nama pemuda itu di setiap sujudnya. Mungkin salah, mungkin tidak. Rahasia Allah akan makhluknya akan tetap menjadi rahasia abadi. Namun sesekali manusia seperti mendapatkan tanda-tanda.Gadis itu benar-benar tak mengira Irfandi menyimpan foto lucu dirinya yang menyembunyikan bunga di punggung.
Sore itu Wike menelpon April. Gadis itu menuduh April yang mengambil gambar dirinya dari belakang.
“Kamu makcomblangin aku ya Pril? Itu taktik kamu kan? Tapi aku seneng juga sih.”
“Nggak Ke, bukan aku. Swear, aku nggak lakukan itu. Bukannya ketika festival berlangsung aku ikut maju di bawah panggung? Jadi mana mungkin aku mengambil gambarmu ketika Irfan tampil?”
“Jadi siapa yang memotret Pril?”
“Siapapun dia, dia makcomblang misteriusmu. Dia berjasa kepadamu. Dia dikirim Tuhan untuk menjawab doamu. Tapi, jangan lupa. Ada peluang sebesar satu, tapi jalan menuju peluang satu itu masih mutlak rahasia Allah. Paham maksudku?”
***
Hari itu mungkin saat-saat terakhir para alumnus menyambangi sekolah secara resmi. Pembagian ijazah dan SKHUN dibagikan secara serentak oleh para mantan wali kelas. Wike gelisah menunggu April yang belum datang. Sama, di tempat dulu ia bertemu Irfandi.
“Keke.....”
“Aaahh.... Irfan.”
“Kenapa kita ketemu lagi di sini, sama seperti dulu, tanpa April shohibmu.”
“Ya ngak tahu kenapa.”
“Eh Ke, aku mau tanya sedikit ya.”
“Tanya apa?”
“Ke, tadi malam kamu bangun jam dua ya?”
“Emm... aa.... kamu tahu dari mana?”
“Maafkan ya Ke, benarkah kamu membangunkan aku agar shalat malam?”
“Ah kamu mimpi kali Fan.”
“Tapi kayaknya sungguhan kok!”
Wike tak segera menjawab. Memang di waktu yang disebut Irfan, ia sempat menyebut nama itu beberapa detik dalam shalat hajatnya. Benar, ia memang mengharapkan bertemu dalam doa yang sama. Bukan apa-apa. Karena ia yakin yang seperti akan lebih baik bagi dirinya, dan mungkin bagi Irfandi, makhluk Allah yang sekarang bukan siapa-siapa.
“Aah sudahlah Fan ... nggak usah dipikir dalam, tapi kamu bangun nggak?”
“Bangun.”
“Terus ngapain?”
“Justru memikirkan, mengapa tiba-tiba jadi Keke yang membangunkan aku ....”
“Aaaah kamu mah! Harusnya shalat atuuh! Em gini Fan, kamu lihat tuh yang aku simpan di pinggir graha OSIS.....” kata Wike sambil menunjuk sesuatu.
“Bunga mawar?”
“Iya, itu dalam pot kecil ada empat kuntum. Karena aku janji dulu pernah akan memberimu bunga, ya sudah yang ini saja.”
“Kenapa pakai pot?”
“Biar awet, Kalau aku petik, sehari juga layu. Ya nggak?”
“Iya sih.”
“Bunga itu sebenarnya bukan buatmu, tapi buat ibumu. Ibumu suka bunga kan?”
“Eeeh siapa yang bilang?”
“April. Kan waktu kapan itu dia sempat main rumahmu bareng teman-tema MIPA 7.”
“Ya ampun April ..... mbocorin rahasia saja itu anak.”
Siang itu keduanya berpisah. Di gerbang Irfandi menghentikan motornya sebentar. Ada kantong keresek berisi pot kecil bunga mawar kuntum empat. Bebarapa langkah di belakangnya menyusul Wike.
“Mau aku antar?” Irfandi menawarkan. Wike tersenyum sambil menggeleng.
“Tidak, terima kasih.”
“O ya sudah. Terima kasih bunganya ya Ke, semoga dipelihara ibu bisa abadi....”
“Iya aamiin.”
“Ke ... aku punya satu permintaan, boleh nggak?”
“Apaan?”
“Bangunin aku nanti malam untuk shalat tahajud ya....”
Wike tersenyum tertahan. Irfandi juga tersenyum. Di gerbang sekolah keduanya berpisah. Wike bahagia, telah menitipkan bunga untuk ibu Irfandi. Dan yang paling membahagiakan adalah permintaan Irfandi yang terakhir: Bangunin aku nanti malam untuk shalat tahajud ya...... Wike mengeja ulang kata itu lagi. ***

 Majalengka, 06-06-2016
*Edisi Request Wike Nurani XII MIPA 6









Jumat, 03 Juni 2016

Terbaru 2020 - Ojo Adigang, Adigung, Aduguno

Blog Pendidikan

Tulisan ini salinan dari kompasiana :
http://www.kompasiana.com/didik_sedyadi/ojo-adigang-adigung-adiguno_574ebd5bd07a615007611dc7
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kalimat di atas sebenarnya adalah bahasa Jawa lisan. Sumber bahasa tulisannya adalah Aja Adigang, Adigung, Adiguna, tidak menggunakan huruf “o” tetapi “a”.
Kalimat tersebut merupakan petuah dari leluhur kepada anak keturunannya. Sebuah petuah (yang umumnya) baik bagi generasi berikutnya. Karena kearifan orang tua adalah berfikir apa yang terbaik bagi keturunannya. Hanya orang-orang yang telah sesatlah yang berfikir agar keturunannya menjadi orang jahat secara terprogram.
Dalam kamus Bahasa Jawa “Bausastra Jawa-Indonesia” susunan S.Prawiroatmojo (1980) dijelaskan bahwa:
1.       Adigang : Membanggakan kekuatannya
2.       Adigung : Membanggakan kebesarannya
3.       Adiguna : Membanggakan kepandaiannya
Kata “Aja” berarti jangan. Rangkaian kata petuah menjadi semakin dalam ketika kita mau merenungkannya.
Aja Adigang , jangan membanggakan kekuatan
Kekuatan bisa berbentuk kekuatan fisik, bisa berbentuk kekuatan secara bersama-sama, atau koalisi. Kekuatan fisik pada jaman dimunculkannya petuah ini ketika jaman kerajaan jaman dulu. Hukum rimba menentukan siapa yang punya fisik yang kuat, dialah yang akan menjadi pemenang, menduduki jabatan tertentu di kerajaan. Siapa yang punya persatuan besar, maka ia yang akan menjadi pemenang.
Kekuatan fisik di jaman sekarang tampaknya bukanlah sesuatu yang populer. Tapi mungkin pula di kantong-kantong masyarakat tertentu masih ada segelintir orang yang mengandalkan kekuatan fisik. Gambaran mudahnya misalnya preman, dan geliat premanismenya.
Kekuatan koalisi lebih kepada arti yang abstrak. Model nyatanya semacam koalisi rakyat yang turun ke jalan di jaman gegeran 1998. Jika demikian maka secara perhitungan angka akan memperoleh hasil yang diinginkan. Jika model turun ke jalan hanya dikerjakan oleh perwakilan, ya tentu tan akan menghasilkan apa-apa.
Jangan membanggakan kekuatan. Energi “membanggakan” bagi sebagian orang justru akan menjadi energi negatif. Orang-orang tua jaman dulu telah belajar, telah merenung dan menyimpulkan dari berbagai macam kasus pembanggaan terhadap kekuatan ini justru menjadi sebuah kontraproduktif.
Aja Adigung, jangan membanggakan kebesaran
Kebesaran memiliki berbagai macam jenis. Terutama sekali kebesaran seseorang dengan indikator jabatan. Jabatan bisa dalam lingkup pemerintahan, maupun non pemerintahan. Kebesaran ini melekat dalam diri pemimpin, yang mempunyai bawahan. Presiden, gubernur, bupati, camat, lurah / kepala desa, ketua RT, kepala bagian, kepala seksi, boss, mandor dan sejenisnya.
Jika tidak didasari niat baik, maka dalam diri mereka ada perasaan bangga (dan sombong) terhadap apa yang telah mereka capai. Kesombongan (umumnya) akan menghilangkan kewaspadaan terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka. Jika kewaspadaan hilang, maka konsekueunsi minus yang seharusnya tidak terjadi, malah akan datang.
Sayangnya sudah menjadi semacam kebiasaan (dan mungkin budaya) bagi mereka yang mempunyai kebesaran. Melihat orang lain menjadi kecil. Bahkan dalam taraf yang lebih mengembang, kadang-kadang anak dan istrinya ikut-ikutan membanggakan kebesaran ayah dan suaminya. Dalam satu contoh kecil ada ucapan : “Awas, jangan main-main, dia anak pejabat”.
Jangan membanggakan kebesaran. Kebesaran itu nisbi. Kebesaran itu hanya sementara. Dibatasi waktu. Betapa hidup ini bagi sebagian orang akan menjadi semacam neraka dini, bagi yang mengalami “post power syndrome”. Sekarang disanjung (walaupun sebagian semu), suatu saat akan ditinggalkan.
Aja Adiguna, jangan membanggakan kepandaian
Tolok ukur kepandaian sebenarnya tidaklah tunggal. Orang yang sukses dalam bisnis, ia dianggap pandai dalam terapan bisnis. Belum tentu itu diperoleh oleh orang-orang yang punya gelar sarjana dalam ilmu ekonomi. Tetapi masyarakat saat ini masih tetap melihat kepandaian seseorang dari apa yang diterakan dalam rapor, nilai rapor, transkrip nilai dan sejenisnya.
Gelar akademik demikian pula, orang akan jeri ketika melihat gelar seseorang demikian mentereng. Jika kompetensi asli seperti apa yang tertera dalam ijazah, memang itu yang diharapkan. Kompetensi yang dimiliki diamalkan untuk kemaslahatan orang banyak, itu memang yang seharusnya.
Membanggakan kepandaian, menurut petuah tersebut, tidaklah perlu. Kepandaian seseorang tak harus dibanggakan dan diomongkan. Biarlah orang lain yang menilai. Yang memiliki ilmu tinggi, luas dan dalam (mana yang benar ini?) akan lebih bermakna jika ia mendapatkan pujian orang lain karena manfaatnya, tanpa terdengar oleh dirinya.
Anda tidak setuju? Seharusnya memang demikian. Ini adalah sekedar tafsiran. Saat ini, hampir seluruh warga negara ini memiliki keberanian untuk menafsirkan segala sesuatu dengan kepentingan sesuatu. Dan ini sangat potensial untuk dijadikan ajang diskusi.
Jangan bangga dengan kekuatan. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.
Jangan bangga dengan kebesaran. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.
Jangan bangga dengan kepandaian. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.
Yang penting, bangga tidak menggiring kita menjadi sombong. Tetapi bangga untuk bersyukur. ***

Majalengka, 01 Juni 2016

Rabu, 25 Mei 2016

Terbaru 2020 - Pandangan Minor Terhadap Dunia Pendidikan Kita

Blog Pendidikan

1.    Judul di atas sebenarnya mengantarkan tulisan saya yang terdapat dalam buku Refleksi 70 Th Indonesia mulai halaman 166 :
2.    Hitung-hitung saya ikut membacakan dengan bisik-bisik kepada teman-teman semua yang belum sempat membaca buku yang tersebut .
3.    Sekaligus untuk meramaikan tulisan Kang Rifki Feriandi dalam kompasiana :
http://www.kompasiana.com/rifkidikompas/berhamba-pada-sang-anak-di-era-generasi-z_57456676707e61cd0612bcdf
​---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

MALPRAKTEK DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Pengantar :
Seorang anak sekira kelas IV SD kecil ikut nimbrung menonton berita tentang korupsi di depan kedua orang tuanya. Baju orange baru yang mencolok dengan tulisan “Tahanan KPK” ia eja dengan jelas. Ayahnya buru-buru memindah chanel TV. Anaknya teriak, minta jangan dipindah.
“Siaran jelek Nak, tidak baik untuk anak kecil!”
“Dia lulus sekolah nggak Yah?”
Sang ayah diam, sebenarnya ia telah menyesal dengan mengatakan “tidak baik untuk anak kecil”. Apakah memang kasus di televisi itu baik untuk orang dewasa? ***

Wejangan Guru SD : Makan Untuk Hidup
Masih terngiang-ngiang wejangan 1)  guru SD saya “Manusia itu sebaiknya makan untuk hidup. Kalau kerbau boleh, hidup untuk makan.” Sebagai anak kecil yang lugu tentu tak mengerti apa makna dalam yang tersirat dalam nasehat tersebut. Jangankan nasehat itu diberikan itu kepada anak kecil, diberikan kepada orang dewasapun mungkin juga tidak bisa mengartikan.
Dalam posisi lebih menang secara umur, tentu orang dewasa lebih bisa mengembangkan lanjutan dari wejangan tersebut. Setelah makan untuk hidup, maka selanjutnya hidup untuk apa? Untuk berkarya, untuk mengabdi (kepada apa saja), untuk berinovasi, untuk menyombongkan diri dan sejenisnya. Termasuk dalam takaran yang sombongnya lebih halus, yakni aktualisasi diri. Misalnya (bukan contohnya lho) seorang profesor, kaya sudah, purna tugas sudah, eh masih aktif mengajar di berbagai perguruan dengan dalih aktualisasi diri. Sebenarnya ada rasa ingin dipuji yang sudah akut. Jika ada yang mendebat, ia katakan : Untuk memberi contoh kepada yang lebih muda, bahwa yang sudah tua masih semangat untuk belajar, belajar, dan sedikit sombong. Padahal yang bagus mestinya gantian generasi yang lebih muda. Kata kyai ndeso2), iku ora nguman-uman 3).  Jika di Jawa Barat, ceuk Ajengan lembur,  teu mere ngagehan kanu ngora!   4) .Tidak memberi jatah yang semestinya diberikan kepada generasi sesudahnya.
Ada pula yang menterjemahkan, kalau sudah punya uang terlalu banyak, ya buat apa lagi kalau tidak untuk membeli yang tidak butuh. Yang pokok itu, makan tiga kali sehari. Anak istrinya juga dicatu segitu. Jika mblegedhu5)? Semblegedhu-mblegedhunnya orang, tak masuk akal jika sehari semalam makannya sampai dua puluh kali. Kecuali di dalam perutnya ada tuyul6) yang dipiaranya yang ikut makan.
Hidup untuk makan? Pengembangan dari “makan” itu sendiri implikasinya juga dapat sesukanya dibuat. Yang uangnya banyak, bebas untuk berlaku dalam menterjemahkan apa saja. Bahkan kalau ia menterjemahkan Time is Money menjadi “Selesaikan Segala Sesuatu itu Dengan Uang!” ya sah-sah saja.
Malpraktek Seorang Dokter 
Tak perlu banyak berdebat, image seorang praktisi di dunia kesehatan yang disebut dokter adalah “orang kaya”. Jarang yang berfikir langsung dokter-mengobati, tetapi yang terfikir : dokter-kaya. Image semacam ini tampaknya telah membudaya (atau memang telah diiming-imingkan oleh guru sejak SD, atau bahkan TK). Cita-cita anak SD itu kebanyakan dokter, insinyur, tentara, pilot. Jarang yang ngomong: guru!
Ketika seorang dokter melakukan malpraktek, maka korbannya  umumnya 1 (satu) orang. Sebutlah semacam korban eksperimen, paling parah adalah mati. Paling sengsara adalah cacat seumur hidup.

Yang menderita kerugian langsung adalah si pasien, keluarga pasien. Kalaupun ada masyarakat atau LSM, atau ormas-ormas lain yang menghujat pelaku malpraktek, itu sebenarnya sebagian dalam rangka menunjukkan eksistensinya sendiri. Tak banyak korban sebenarnya. Tapi bukan berarti saya menyatakan setuju dengan pernyataan ini. Bagaimanapun, malpraktek seyogyanya dihindari. Kalau melakukan malpraktek karena tidak sengaja, tinggal konformasi saja. Bertanggungjawab. Mungkin berdamai dengan korban atau keluarganya. Apa yang ada di balik “berdamai”. Apalagi kalau bukan uang. Bukankah ada yang mengatakan time is money? Itulah terjemahan kontekstualnya.
Pendidikan, Disain Membangun Karakter Berbiaya Tinggi 
Sejak saya SD,  jarang sekali murid yang ditanya apa cita-citanya lantas jawabannya : Guru! Beda jaman sekarang, kalau ditanya apa cita-citanya kepada anak SMA, mulai yang banyak menjawab: Guru. Indikasinya, sekarang yang mendaftarkan ke UNY, UNJ, Unessa, atau UPI semakin banyak. Entah karena ingin pahlawan tanpa tanda jasa-nya atau tunjangan profesinya. Biarlah professor yang mengambil profesi aktualisasi diri yang melakukan penelitian tentang hal ini.
Dulu, tampaknya guru SD sudah bisa mengarahkan siswa agar para muridnya tidak sembarangan ngomong cita-citanya guru. “Nek niyatmu ora tenanan, ojo dadi guru le! 7) ” Nasihat ini rupanya telah direnungi dan dimaknai sangat dalam. Guru itu super. Guru itu master. Guru itu bukan sekedar mengajar. Yang paling pokok, guru adalah mendidik. Makanya sebagian guru ada yang malu jika dipanggil Pak atau Ibu Guru. Belum layak jadi guru. Kalau pengajar boleh. Kalau mengajar, semua orang bisa. Contohnya, di bimbingan belajar (bimbel), semuanya mengajar, tak ada yang mendidik. Apakah adalah tentor yang menasehati peserta dengan akhlak? Jangan harap! Lah kalau guru itu di kelas, kadang-kadang menasehati murid-muridnya (bisa dengan pidato, bisa dengan dongeng) selama dua jam pelajaran. Materi pelajaran malah lupa disampaikan. Cara mengatasinya adalah dengan mengatakan: “Menurut Piaget, usia kalian ini telah mencapai tahap operasional formal. Salah satu taraf perkembangan ini adalah, kalian sudah mampu menyerap atau berkomunikasi dengan buku. Jadi, pelajarilah sendiri di rumah ya?”
Indonesia sejak dulu butuh departemen pendidikan, bukan departemen pengajaran (walaupun pernah pula kita memiliki departemen pengajaran semacam di jaman Ki Hajar Dewantara dan jaman Soewandi). Pendidikan diyakini oleh para pakar mampu untuk membawa bangsa ini bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pendidikan harus didisain dengan cermat, penuh perhitungan. Termasuk perhitungan biaya tentunya. Jer Basuki Mawa Beya8). Mengharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang maju melalui disain pendidikan, pasti membutuhkan biaya yang besar, bahkan teramat besar. Sayangnya biaya yang sangat besar ini belum menampakkan hasil disain pendidikan yang mantap untuk membangun karakter bangsa. Justru disain yang telah menjadi sejarah (dan kita memang melihatnya demikian), menjadi disain parsial . Disain yang terpotong-potong, beruas-ruas bagaikan batang bambu. Tiap bagian ruas itu mampat, tak ada lubang atau celah penghubung antara ruas yang satu dengan ruas yang lain.
Bisa kita lihat kebijakan pemangku jabatan di berbagai jaman dengan menterinya. Para menteri pendidikan atau pengajaran ingin memberikan tapak tilas9) yang berbeda-beda. Ada yang menambah panjang masa belajar, aja yang fokus ke Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), ada yang menerapkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), ada yang mengangkat konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), ada yang mengangkat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang tinggal sejarah rintisannya saja, ada yang memberikan porsi keleluasaan sekolah dengan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), ada yang memperbaharui konsep dalam menyongsong abad ke-21 dengan model Kurikulum 2013-nya, sehingga ada double-bonus kurikulum di tahun ini.
Semua bagus. Tapi dampak yang munculpun beragam. Ada rumor ganti menteri, ganti kebijakan. Kebijakannya mungkin tidak berganti : mencerdaskan anak bangsa, hanya caranya berbeda. 

Malpratek dalam Dunia Pendidikan
Di atas saya menyebutkan jika malprakter seorang dokter akan berakibat pada korban yang sedikit. Bagaimana jika malpraktek dilakukan dalam dunia pendidikan? Dunia pendidikan adalah dunia yang luas. Dunia yang didisain. Dunia yang sistemik. Jika berhasil, maka dampak baiknya akan membawa kepada peningkatan peradaban bangsa kita. Jika gagal, maka hancurlah sistem kita. Hancurlah bangsa ini.
Banyak hal-hal yang cukup mengkhawatirkan terjadi di lingkungan pendidikan, yang oleh sebagian orang dinilai sebagai sebuah malpraktek dalam dunia pendidikan. Di mana saja biasanya terdapat malpratek pendidikan?
1.Kebocoran kisi-kisi dan soal-soal Ujian Nasional (UN).
Tak henti-hentinya kasus kebocoran dalam UN terjadi. Tak pernah diusut tuntas kausa primanya. Keterlibatan kebocoran-kebocoran semacam guru, dinas pendidikan, bimbingan belajar, percetakan, pembuat kisi-kisi dan soal. Hingga saat ini tak terdengar kasus tentang kebocoran soal / kunci jawaban UN yang berlanjut hingga meja hijau. 
2.Klaim Bimbingan Belajar (Bimbel)
Beberapa Bimbel telah dengan gegabah berani mengklaim semisal : Selamat kepada siswa-siswa Bimbel X , kami yang telah mengantarkan siswa kami lolos SNMPTN dan SBMPTN. Secara resmi sebenarnya tak ada siswa yang boleh diklaim semacam itu. Klaim semacam itu telah dengan telak menohok kredibilitas sekolah.
3.Program Paket A,B,C
Jika mau jujur, program-program kesetaraan tak dikelola dengan baik. Pemantauan tentang kehadiran dalam kegiatan belajar mengajar menjadi omong kosong. Hampir tak ada pertemuan untuk program-program ini. Kelulusan pada pengelolaan program paket yang 100% sebuah hal yang tidak pernah membuat bangga.
4.Kelas Jauh
Kelas jauh merupakan pemanfaatan oleh penyelenggaran pendidikan (misalnya perguruan tinggi ternama) yang memberikan label dengan cara yang sangat mudah untuk mengadakan pembelajaran di daerah/wilayah lain. Kualitas pembelajaran tentu sangat berbeda dengan kelas yang asli. Hal ini berkait dengan perijinan penyelenggaraan yang ujung-ujungnya dengan biaya kerjasama antara penyelenggara dengan penguasa wilayah atau daerah.
5.Jual Beli Ijazah.
Perkuliahan yang dipadatkan dapat memberikan efek menyingkat waktu belajar. Sebuah ketidakwajaran yang bertolak belakang dengan kewajaran penyerapan ilmu pengetahuan oleh peserta, dengan iming-iming ijazah yang sangat mudah diperoleh. Bahkan, mereka yang tidak kuliah, dibuatkan data fiktif untuk memperoleh ijazah. Dari berbagai pemberitaan di media massa, banyak bermunculan ijazah-ijazah baru menjelang Pilkada atau Pileg.
6.Penipuan Calon Pegawai Negeri Sipil.
Utamanya untuk perekrutan PNS tenaga guru, jika diawali dengan suap menyuap, lalu pendidikan karakter macam apa yang akan diajarkan kepada murid-muridnya kelak? Ketika tahu ia dibohongi, maka terungkaplah drama yang menyedihkan sekaligus memalukan. 
7.Kuliah Online
Beruntung kuliah online telah dinyatakan tidak resmi dan menyimpang.
8.Menahan Ijazah Karena Nunggak Bayaran
Mengapa beberapa sekolah masih tega menahan ijazah anak-anak yang orang tuanya memang tidak mampu membayar kewajibannya?
9.Kasus Tabungan Siswa SD
Tabungan murid SD yang dipinjam para guru dan sulit dikembalikan lagi ketika kenaikan kelas, merupakan sebuah pembelajaran yang sulit untuk dipahami. Artinya, kejadian itu selalu berulang. Kesan yang timbul akan sedikit demi sedikit merendahkan harkat dan martabat guru di mata masyarakat.
10.Promosi Sekolah
Di tahun pelajaran baru, banyak sekolah-sekolah yang melakukan promosi door to door  dengan memberikan bonus kepada guru-guru sekolah tingkat di bawahnya. Misalnya guru-guru SMP melakukan promosi langsung ke SD dengan memberikan bonus kepada guru SD yang bisa membawa sekian murid dengan bonus uang atau bahkan laptop, atau barang-barang lain.
11.Pengadaan Buku
Tender buku sumber belajar, atau paling tidak dalam skala kerjasama antara kepala sekolah dengan penerbit selalu bernuansa profit bagi kepala sekolah. 
12.Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan wacana sekolah gratis
Wacana sekolah gratis diserukan oleh sebagian pemegang kepentingan di daerah-daerah tertentu untuk kepentingan politik. Yang tepat seharusnya adalah subsidi silang, para orang tua yang mampu secara ekonomi untuk membantu orang tua lain yang tidak mampu. Biarkan bantuan pemerintah semacam BOS tetap ada. Sifatnya hanya bantuan, bukan untuk memikul biaya yang direncanakan dikeluarkan oleh sekolah.
13.Jasa pembuatan Skripsi / Tesis / Disertasi memunculkan Sarjana, Magister dan Doktor Semu
Masih maraknya jasa pembuatan karya tulis, menunjukkan antara yang membuka jasa dan memakai jasa sama-sama kualitasnya. Sayangnya penyedia jasa ini masih berasal dari kalangan guru / dosen juga yang berada di lingkungan pendidikan.
14.Tunjangan Serifikasi
Sebagian guru tidak menampakkan peningkatan kinerja meskipun telah memperoleh peningkatan pendapat dengan adanya tunjangan profesi yang dikenal dengan “sertifikasi”. Mengubah karakter dalam waktu singkat, merupakan hal yang mustahil. Kinerja bahkan akan semakin buruk ketika uang tunjangan tersebut telah diagunkan ke lembaga keuangan tertentu.
15.Posisi Pengawas Pembina
Peran pengawas Pembina yang tidak efisien sebagai sebuah jabatan fungsional. Jika pengawas Pembina dapat membantu mengatasi permasalahan di sekolah, dapatlah dilanjutkan. Bahkan seloroh yang berkembang di dunia sekolah, pengawas sekolah adalah jabatan pelarian bagi guru-guru yang sudah bosan mengajar. Dalam kenyataan memang para pengawas ini sebagian bukan berasal dari guru-guru yang berprestasi (guru teladan), atau bukan dari guru-guru yang patut untuk diteladani.
16.Kurikulum
Berbagai macam versi kurikulum yang tersekat bersama tersekatnya masa kerja kabinet. Semua menteri ingin mencantumkan nama dirinya dalam perjalanan kabinet setiap periodenya. Berbagai macam ciri khas yang terbaca sebagai sejarah, sudah saya paparkan di bagian atas. Campur tangan berbagai kepentingan, termasuk politik dan strategi penguasa negeri dalam dunia pendidikan tentu akan menambah carut marut dunia pendidikan kita.
Dan (mungkin) masih banyak lagi kasus-kasus yang tidak sempat ditulis di sini.


Dunia Pendidikan Harus Bersih
Dunia pendidikan harus bersih. Ini mutlak. Jika banyak yang telah bermain-main di dunia pendidikan dengan permainan yang berorientasi profit, maka di sana akan banyak dibangun kerapuhan-kerapuhan dan kegamangan dalam pembinaan generasi muda yang tidak disadari.
Para pelaku korupsi dan para penyeleweng (yang setiap hari kita tonton di televisi) hendaknya menjadi pembelajaran bagi yang belum terlanjur terjerumus ke arah itu. Sayangnya filter bagi anak-anak kita akan kasus-kasus penyelewengan atau penyalahgunaan wewenang hampir tak ada. Anak-anak kecil boleh menonton TV acara apa saja. Para remaja juga boleh membaca berita tentang penyelewengan apa saja. Sebuah pekerjaan sulit yang seharusnya ditanggung oleh siapa? Fakta para penyeleweng yang ditonton demikian jelas adalah orang-orang dengan ijazah tinggi. Kita mencoba menahan diri untuk mengatakan mereka berpendidikan tinggi.
Ironisnya , di lingkungan pendidikan sendiri masih dikotori oleh perilaku-perilaku sebagian oknum (baik yang memegang posisi strategis maupun oknum awam) yang belum memahami arti pendidikan. Jika dunia atau lingkungan pendidikan dijadikan ladang mencari rizki, memang itu salah satu tempatnya. Tetapi jika di lingkungan pendidikan terdapat kasus-kasus yang tidak layak dengan label “pendidikan”, maka dampak negatifnya akan menjadi sangat dahsyat jika dibandingkan kasus yang sama tetapi bukan di lingkungan pendidikan.
Siapa sih yang tidak butuh uang? Semua masih butuh uang. Siapa sih yang tidak butuh pendidikan? Mungkin tidak semua orang butuh pendidikan. Mengapa? Mungkin ini akibat dari lingkungan pendidikan yang tidak memberi berkah karena masih banyak terdapat malpraktek yang berorientasi profit. 
Jika konsep pendidikan terkini adalah membangun karakter bangsa, apa ini tidak terlalu berat? ***
Majalengka, Agustus 2015

Keterangan Bahasa Asing / Daerah :
1.Wejangan (Bahasa Jawa) : Nasihat
2.Kyai ndeso (Bahasa Jawa) : Kyai desa
3.iku ora nguman-umani (Bahasa Jawa): Iku = itu, Ora = tidak, Uman = kebagian, Ora nguman-umani = berlaku serakah tidak menyisakan (apapun) untuk orang lain, dia mbil semuanya.
4.Ceuk Ajengan lembur mah, teu mere agehan kanu ngora!   (Bahasa Sunda) : Kata Kyai Desa, tidak memberi jatah untuk yang muda.
5.Mblegedhu (Bahasa Jawa) : Sangat kaya, kaya raya.
6.Tuyul (Ndak tahu bahasa mana) : terjemahkan sendiri artinya.
7.Nek niyatmu ora tenanan, ojo dadi guru le! (Bahasa Jawa) : Kalau niatmu tidak beneran, jangan jadi guru Nak! (Le = Thole = Sebutan untuk anak laki-laki, Dhuk = Gendhuk = Sebutan untuk anak perempuan).
8.Jer Basuki Mawa Beya (Bahasa Jawa) : Memang, Keselamatan (Kesuksesan) Membutuhkan Biaya.
9.tapak tilas (Bahasa Jawa) : Tapak = pijakan, tilas = bekas


* Sebagian materi dibandingkan dengan isi buku Pendidikan Rusak-rusakan tulisan Sdr. Darmaningtyas

Kamis, 12 Mei 2016

Terbaru 2020 - Berllian, Aku Masih Kangen

Blog Pendidikan

Cerpen Request - copas dari kompasiana.com/didik_sedyadi :

Foto dokumnetasi Citra Lestari

Pukul 06.10 Berllian sudah di kelas.
Hari piket bagi gadis Cikijing itu memang menjadi sebuah poin plus tersendiri. Bagaimana tidak? Jarak yang cukup jauh dari sekolah justru mengalahkan anak-anak kota Majalengka dari segi kedatangan.
“Sssst.....!” ada suara di belakang Berllian. Gadis itu kaget dan menoleh.
“Aduuuh Triooo, ngagetin saja!” kata Berllian demi melihat siapa yang bersuara.
“Kan aku sudah bersuara pelan.” kata Satrio, anak muda temannya itu.
“Justru suara pelan itu yang ngagetin! Lain kali yang wajar saja.”
“Dengar suara pelan kaget ya Li?” kata Satrio dengan panggilan Li, dari Llian.
“Iya sih. Tapi sudahlah .... mau bantu piket nggak? Nyapu tuh.”
“Mau nyemangatin saja!”
“Uh enaknya saja!”
“Berlliii .... berhenti dulu nyapunya.”
“Apaan sih?”
“Pernah dengan orang marah teriak-teriak di hadapan yang dimarahi nggak?”
“Ya kudu gitu laaah!”
“Padahal nggak tuli ya? Tahu kenapa?”
“Nggak!”
“Itu karena orang yang marah itu fisiknya dekat, tapi jiwanya jauh dengan orang yang dimarahi.”
“Terus apa hubungannya dengan aku piket?”
“Nggak ada!”
“Iiiih nganggu saja! Sana! Sanaaa!”
“Ntar dulu Li  belum selesai.”
“Apalagi sih?”
“Pernah lihat orang yang saling suka nggak? Saling suka, atau saling mencintai?”
“Nggak.”
“Ah kamu Li, susah diajak nyambung. Niiih, kalau orang saling suka, pernah nggak kalau ngomong teriak-teriak di depan orang yang disukainya?”
“Kayaknya sih nggak mungkin. Kayaknya bicaranya pelan, berbisik ... atau dari isyarat.”
“Nah itulah. Karena orang yang saling suka itu jiwanya dekat, jadi nggak perlu berteriak.”

“Lah terus hubungannya apa dengan piket?”
“Kan aku sudah memanggil Berllian dengan pelan..... pelan saja kaget. Lain kali aku memanggilnya dari batin saja ya Li?”
“Apa maksudnya?”
“Hmh..... sudah ah! Sini aku yang nyapu!” kata Satrio merebut sapu yang dipegang Berllian. Gadis itu hanya menggeleng, namun kemudian bergegas keluar.
“Hei kamu ke mana Li?”
“Sarapan ke kantin!”
“Kan aku nggak piket?!”
“Lah tadi yang minta sapu siapa? Awas ya sapu sampai bersih ...”
“Berlliii.... aduuuuuuuhhh.....”
Gadis itu tak mempedulikan Satrio yang garuk-garuk kepala. Berllian meninggalkan kelas menuju ke kantin. Namun tak urung ia memikirkan juga kata-kata Satrio. Apa maksudnya?
Memesan minuman hangat dan gorengan Berllian duduk sendirian. Ia menikmatinya sambil membuka HP-nya untuk menghapus SMS yang tidak penting.
“Sssst.....!” ada suara berbisik di sebelahnya.
“Hah? Aduuuh... kaget .... Triaaa sudah bilang jangan ngagetin.”
“Ampuun Berlliaaann..... mmm tapi aku salah ya? Harusnya aku tadi memanggilmu dari hati. Kalau bebisik kamu malah kaget.”
“Apaan sih?”
“Kan pagi ini kamu sudah dua kali kaget oleh bisikanku!” kata Satrio sambil menarik kursi lalu duduk di sisi gadis itu.
“Nyapunya sudah selesai?”
“Sudah cantik! Sesuai titah paduka tuan putri Berllian!”
“Uuuh norak!”
“Hahaaa!” Satrio tertawa seraya tangannya menyambar gorengan.
“Heii ... gorengan siapa itu?”
“Punyamu! Enak Li!”
“Kamu yang enak saja!”
“Kamu jauh sana ah Tri! Malu tahu!”
“Malu apa?”
“Nooh lihat di belakang, siapa yang duduk di dekat kios Cilok Goang!”
Perlahan Satrio menoleh ke tempat yang ditunjukan Berllian. Pemuda itu menghela nafas dalam. Satrio mengangguk-angguk lucu. Tangannya kembali mengambil gorengan.
“Gorengan ini enak!”
“Gagal fokus! Jauh sana!”
“Nggak!”
“Itu pacarmu marah ntaaar ....”
“Nggaak.”
“Ketahuan diputusin ya! Hihihi kasihan kamu Trioooo....”
“Diputusin apa? Nyambung juga belum.”
“Jiaaah.... sejak kelas X ngapain saja, ke mana-mana bareng.”
“Hehee....”
“Hehe apa?”
“Gorenganya enak Li ....satu lagi ya?!” kata Satrio sambil mengambil gorengan lagi, kemudian lari ke kelas.
Berllian tak sempat menjawab. Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya. Pesan gorengan empat biji, tiga dimakan Satrio. Bagi Berllian persoalannya bukan itu. Sudah sekitar satu bulan ini Satrio seperti intens mencari perhatian darinya. Sebenarnya sebagai gadis yang belum memiliki perhatian khusus kepada lawan jenis, Berllian sering merenung. Satrio. Ya, pemuda itu. Tampan ya, suka bercanda ya. Kadang-kadang norak, wajar.
Berllian tahu, sejak kelas X Satrio dekat dengan gadis teman lain kelasnya. Tetapi ia melihat bahwa sudah lama Satrio tak lagi intens dengan gadis itu.
“Ini hanya pelarian ...... “ gumam Berllian mengakhiri lamunannya.

***
Usai menempuh Ujian Nasional 2016.
Bukit Panyaweuyan menjadi pilihan destinasi terakhir bersama warga kelas. Berikutnya adalah kebun teh. Dua-duanya menjadi pilihan sebagai tempat kebersamaan di luar sekolah. Bagi warga kelas. Sayang hanya sepertiga warga kelas yang menyempatkan  hadir. Sebenarnya hal ini sangat disayangkan. Tapi Berllian tak jadi soal, ada Satrio hadir.
Berllian sendiri sebenarnya bingung, kehadiran Satrio baginya sangat bermakna. Di sisi lain ada hal yang tak bisa ia mengerti tentang keterusterangan pemuda itu.
“Berllian jadi ke Bandung?” tanya Satrio ketika keduanya duduk di pematang jauh dari teman lainnya di perkebunan teh.
“Jika SNMPTN menjadi jalanku, Bandung aku jalani.”
“Aku doakan mau Li?”
“Nggak perlu.”
“Kenapa?”
“Kenapa harus ngomong ke aku? Kalau mau berdoa, ya berdoalah ... untuk siapapun yang ingin kau doakan.”
“Kalau begitu aku doakan. Semoga lulus SNMPN.”
“Berapa orang yang kau doakan seperti itu?”
“Emmm .... ada sih, tiga orang.”
“Siapa saja?”
“Diriku .... Berllian dan .... dan ...... “
“Mantanmu Tri?”
“Hahaaa!”
“Kenapa tertawa?”
“Karena lucu! Aku juga nggak tahu kenapa tebakanmu tepat Li ..... “
“Kamu jadi arkeolog saja Tri. Atau sejarawan boleh!”
“Arkeolog? Kenapa?”
“Kau tak bisa melupakan fosil cintamu!”
“Hahaa! Terima kasih saranmu Li!”
“Iiih siapa yang ngasih saran! Ini nyindir kamu Tri, kamu saja yang nggak peka!”
“Berlli.... mau minta saranmu bisa boleh nggak?”
“Tentang apa?”
“Bagaimana cara melupakan mantan?”
“Kacau! Memangnya aku punya pengalaman apa? Tanya saja ke orang tuamu!”
“Aaah kamu Berlliiiii...... aku mau tanya terus sampai kamu ngasih saran!”
“Ngaco kamu Tri!”
“Sampai kapanpun akan aku tunggu Li.”
“Membuang waktu Satriooo ...... tanyakan saja pada mantanmu. Itu lebih tepat.”
Satrio tertawa terbahak. Berllian tersenyum kecut. Gadis itu melihat ke arah lain. Berllian tak tahu kalau Satrio mengambil gambarnya. Crek! Gadis itu menoleh.
“Kamu memotretku?”
“Satu saja!”
“Iiiiihh... hapus! Hapuuus Triiii”
“Nggak. Sebelum kamu ngasih saran, fotomu nggak akan aku hapus dari HP keramatku ini!”
“Jahat kamu!”
“Kasih saran Li!”
“Nggak.”
“Kalau begitu terima kasih .... “
“Kan aku nggak ngasih saran!”
“Terima kasih fotonya ..... hahaaaa!” kata Satrio sambil beranjak dari duduk kemudian berlari. Berllian mengejar sambil berteriak-teriak. Satrio semakin tertawa terbahak-bahak. Keduanya berkejaran di sela-sela tanaman teh.
Sampai di dekat teman-temannya Berllian kaget. Teman-temannya bertepuk tangan riuh. Gadis itu bingung.
“Ada apa sih?” tanya Berllian bingung.
“Bagus Liiii..... kaya film beneran.”
“Apa?”
“Waktu kamu berkejar-kejaran Dita merekamnya hahaaa!”
“Ya ampuuun kalian! Jahat banget!”
“Hahaaaa.... siapa tahu bisa untuk kenangan anak cucu kalian hahaa!”
Malam hari mereka menginap di rumah Dita, tak jauh dari kawasan perkebunan teh.
Acara paling asyik ketika makan malam. Dita yang punya ide, makan bakar ayam bersama. Bagi Berllian ini sangat menyenangkan. Di keremangan malam, wajah teman-temannya kadang tampak diterangi sinar api , kadang-kadang padam. Beberapa Berllian mencoba melirik ke arah Satrio. Tanpa sengaja sesekali Satrio juga sedang melayangkan pandang.
“Enak ayam bakarnya?” tanya Satrio ketika duduk di teras berdampingan dengan Berllian.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Gosong! Hihihii.....” kata Berllian sambil tertawa.
“Kamu sih, bakar ayam tapi mata kamu ke mana-mana.”
“Kemana-mana kemana maksudmu?”
“Kamu ngliatin aku terus!” kata Satrio berbisik.
“Iiiiiihh..... kamu saja yang ngliatin aku.”
“Hehee... iya sih! Habisnya Berlli lucu sih.”
“Lucu apanya?”
“Tadi aku sudah lihat rekaman kamu yang ngejar-ngejar aku hahaaa!”
“Iiiih jahat. Mana, aku minta filenya.” kata Berllian menyorongkan tangan.
“Buat kenangan anak cucu ya?”
“Iiiiihhh.........” kali Berllian benar-benar gemas.  Ia refleks menjubit keras lengan Satrio.
“Sssss... sakit Berlliii..... Liiiiii....... sss....” kata Satrio menyeringai tapi dengan suara pelan.
“Habisnya kamu sih jahat.”
“Jahat apa sih Li? Tingal mengamini saja kok!”
“Iiiiihhhhh  ......... “ untuk kedua kali jari Berllian mencubit keras lengan Satrio.
“Kapoook ..... ... aaahhh Liii... ampun....”
“Sakit kan?”
“Iya!”
“Nih untuk obat! Makan .....” kata Berllian sambil menyorongkan ayam bakar gosong yang masih ditusuk bambu.
“Apaan? Ayam gosong! Itu mah arang!”
“Trioooooo!!!! Mau aku cubit lagi?”
“Ssst..... jangan galak-galak Li. Gini Li, kamu latihan masak ya, masak apa lah yang enak, rendang atau opor atau apa saja. Tapi dari tanganmu. Janji deh, aku mau disuapin!”
“Apa? Ngomong apa? Ulang?”
“Kamu, Berllian, masak sendiri, yang enak. Aku janji mau disuapin!”
“Wuuuih bakal tahunan aku bisa masak, apalagi kalau ada yang ngarep disuapin!”
“Tahunan nggak apa-apa!”
Besok hari di rumah, Berllian melendot ke ibunya. Tak biasanya gadis itu bermanja-manja di dapur. Ibunya melihat anaknya penuh selidik.
“Ada apa Li?”
“Mamah mau masak?”
“Iya.”
“Kamu sudah belajar persiapan SBMPTN?”
“Belum sih Mah, tapi kayaknya aku optimis yang SNMPTN itu. Lagian masih ingin santai dulu Mah.”
“Ooo ya sudah... mau apa Li? Mau bantu mamah masak?”
“Iya. Pingin latihan masak opor .... dari mengerat bawang merah, bawang putih, kunyit, membuat santan hingga  jadi opor yang enak.”
“Aduuuh.... anak mamah yang cantiiik. Naaah gitu, wanita harus bisa masak. Syukur laaah selama ini kamu selalu cari alasan kalau mamah suruh bantu masak!”
Berllian tersenyum simpul. Inilah hari pertama terjun di dapur membantu ibunya memasak.

***
Enam tahun berlalu.
Sedang asyik mengoreksi pekerjaan siswanya, tiba-tiba ada telepon masuk. Berllian mengangkat HP-nya.
Vinie tumben, ada apa?”
“Masih ingat Satrio nggak?”
“Huuuh... orang itu lagi. Kan dulu balikan sama mantannya, kuliah bareng di Jogja. Kenapa dengan dia?”
“Mau ketemu kamu!”
“Ooo.... “
“Katanya mau menghubungi kamu, tapi nggak punya nomermu. Tadinya mau minta nomermu, tapi tidak aku kasih.”
“Iya jangan Vin.... jangan..... “
“Hati-hati .... kemarin dia bilang otw ke Majalengka. Dia sudah bekerja di Surabaya Li!”
Malam itu Berllian gelisah. Wajah Satrio berkelebat. Dulu, ketika hampir lulus SMA gadis itu memang memendam harapan, namun tampaknya tipis. Satrio dan mantannya justru diterima SBMPTN di Jogjakarta, sementara ia sendiri diterima SNMPTN di Bandung. Tentulah antara Satrio dan mantannya akan bersama-sama lagi. Kenapa ia berfikir seperti itu? Satrio begitu lugunya, sering menceritakan tentang mantannya kepada dirinya. Makanya dalam kekecewaan, Berllian membuang nomor HP lama miliknya, untuk menghindari kontak dengan Satrio.
Malam itu Berllian membuka laptop. Ia mencari file-file lama. Wajahnya berubah gembira ketika file yang dicarinya ketemu. File video di kebun teh. Ia stel kembali file itu. Ia tersenyum sendiri melihat dirinya berusaha mengejar Satrio.
“Satriooo....... “ gadis itu bergumam. Bibirnya tersenyum.
***
Pukul 11.00 pagi.
Berllian terhenyak ketika mendengar deru mesin mobil berhenti di gang depan rumahnya. Gadis itu mengintip dari balik gordyn. Jantung Berllian berdetak cepat. Satrioooo.... gumamnya. Ia hampir tak mengenali teman lamanya itu. Cambangnya lebat. Kumisnya juga lebat. Tapi ia tak lupa melihat gidig-nya.
“Berlliaaaan ....... aduuuh.... apa kabar ibu guru?” tanya Satrio ketika diterima di teras sambil mengulurkan tangan.
“Baik.” kata Berllian singkat sambil menerima uluran tangan Satrio.
“Kenapa Berlli? Li? Masih dipanggil Li? Atau yang lain?”
“Masih laaah.... nggak ada yang berubah.”
“Syukur. Aku kangen Li....”
“Aku enggak.”
“Ah Berlli ... rupanya kamu sangat terencana memprotekku ya?”
“Apa?”
“Kau buat semua temanmu tidak memberikan nomor barumu ya?”
“Hmh. Mana istrimu Tri? Nggak dibawa?”
“Istri yang mana?”
“Yang dulu bareng kuliah di Jogja.”
“Aaaahhh Li... Berlliiiiii..... si mantan itu? Cintanya sudah jadi fosil kali ya? Heheee.....”
“Ah kamu mah!”
“Hei, Li, tolong yaaa tolong banget, ntar kalau ada ayah ibu aku panggil kamu De Berllian ya? Dan Berlli panggil aku Kak Satrio....”
“Tapi.....”
“Ssssst..... nggak boleh protes De Berlli...”
“Huuuuh... iya...iya Kak Satrio!”
Kedatangan Satrio siang itu disambut kedua orang tua Berllian. Karena jam makan siang tampaknya sudah datang, maka tamu Berllian diajaknya makan bareng. Sambil berbincang-bincang suasana nyaman sangat dirasakan Berllian. Beberapa kali ia mencoba melirik ke arah Satrio. Pemuda itu benar-benar telah mengungkit perasaanya yang sudah lama terlelap.
“Ayo makan yang banyak Nak Satrio ..... mudah-mudahan opornya enak.” kata ibu Berllian mengingatkan Satrio.
“Iya Bu, terima kasih. Ini lezat sekali.” puji Satrio.
“Iya..... syukur, syukur. Itu Berlli yang masak lhoooo!”
“Bbbb.... Berllian yang masak?” tanya Satrio terbengong-bengong sambil menghentikan makannya. Berllian tertunduk dengan muka merah. Kedua orang tua Berllian heran.
“Mmmm .... ada apa ini?” tanya ayah Berllian.
“Aaa... anu..... Berlli ... Lii..... itu ayah nanya....”
“Nggak Kak Trio saja yang njelasin.” kata Berllian sambil memainkan sendok.
“Ada rahasia ya? Rahasia anak muda ya hahaa!”
“Iiii... iya... Pak, Bu ... tapi malu.”
“Ya sudah, ayah sama Ibu masuk dulu.” kata ayah Berllian seraya bangkit dari duduk.
“Oh jangan. Bapak di sini saja nggak apa-apa. Nggak apa-apa ya De Li?”
“Nggak tahu!” kata Berllian sambil menahan tawa.
“Begini bapak ibu, dulu waktu SMA, Satrio pernah berjanji. Bercanda sih, tapi kayaknya serius.”
“Janji apa?”
“Kalau De Berllian masak sendiri, aku mau disuapin!”
“Oooooo..... oooo..... baru tahu .... ibu baru ngeh.”
“Dulu .... dulu .... waktu SMA pulang dari Lemahsugih , pagi harinya minta diajarin masak. Rupanya Berllian dipanas-panasin Nak Trio ya? Hayooooo kalian bikin janji di Lemahsugih ya!”
“Iiiiih mamaaah.... buka rahasia saja! Malu Maaaahh!”
Akhirnya di hadapan kedua orang tuanya Berllian menyuapi Satrio. Tunai sudah janji Satrio kepada Berllian. Ruang makan benar-benar menjadi ceria dengan acara pemenuhan janji Berllian dengan Satrio.
Siang itu Satrio berpamitan.
Berllian mengantar hingga dekat pintu mobil. Satrio tersenyum.
“De Berlli.... ayah ibu setuju kan?”
“Apaan ah?”
“Aku ingin Berllian masak untukku, untuk waktu yang lama.”
“Ihhh Satrioo, nakal ah!”
“Kak! Pakai Kakak, Kak Satrio.” kata pemuda itu mengingatkan.
“Iya Kakaaak..... “
Satrio membuka pintu mobil. Pemuda itu membuka loker dashboard. Sejurus kemudian ia memegang  telapak tangan Berllian menengadah, tangan satunya meletakkan kotak kecil, kemudian menggenggamkannya.
“Apa ini Kak?”
“Tanda harapanku pada De Berllian..... bukalah.”
Ketika tangan Berllian membuka kotak, ia telah menduga. Benar. Sebentuk cincin dari emas putih dengan maka rubby. Berllian tersenyum tertahan.
“Pakai ya cantiik....” bisik Satrio perlahan. Berllian tak segera menjawab. Namun akhirnya terdengar juga jawaban singkat.
“Ya Kak....”
“De Berlli .... aku mencintaimu dari dulu. Memang saat itu Li selalu mengingatkan aku akan mantanku, jadinya aku selalu tertahan untuk menyatakan cinta.”
“Hmh....”
“Aku ingin suatu saat punya istri yang pintar masak opor, dan dijarinya ana cincin rubby emas putih. Dan di hatinya ada Satrio yang seutuhnya .....”
“Hmh....”
“Kenapa dari tadi hmh saja? Aku mencintaimu cantiiik.... “ kata Satrio berbisik.
“Iya.... Berllian juga. Cincin kakak aku terima ....” kata gadis itu sambil mencium cincin pemberian Satrio.
"Cintanya bagaimana?"
"Ah malu ah, masa bicara cinta di pinggir jalan."
"Oke! Nanti kita ulangi lagi ya Li? Di dangau, di pematang perkebuna teh."
"Iiihh....."
Perlahan mobil Satro bergerak meninggalkan Berllian yang berdiri sambil perlahan melambaikan tangannya. Sekira dua puluh meter meningalkan Berllian, gadis itu kaget kaget ketika mobil Satrio mundur lagi.
“Ada apa lagi Kak?”
“Aku masih kangen.....”
“Aaaah......” Berllian terperangah.
“De Berllian .... aku mencintaimu. Aku ingin katakan ini seribu kali lagi.......”
Berlian tersenyum manis. Satrio mengatubkan bibirnya. Ia melihat Berllian begitu cantik dalam senyumnya. ***

Majalengka, 12 Mei 2016
Request Citra Lestari – Alumnus XII MIPA 6

Minggu, 01 Mei 2016

Terbaru 2020 - Novel : Zaniar dan Ahmad Hong (12)

Blog Pendidikan



12. Ibu Tak Kenal Pak Layang?

Sepanjang maghrib hingga saat shalat ‘Isya , Zaniar dan ibunya berada di surau yang tak berapa jauh dari rumahnya. Usai shalat maghrib dan shalat sunah Zaniar menggeser duduknya bercampur dengan anak-anak perempuan yang telah siap diajari membaca huruf hijaiyah. Sama sekali tak satupun teman di sekolahnya mengetahui jika kebiasaan Zaniar adalah mengajari anak-anak kecil untuk bisa membaca Al Quran. Sementara itu Winarti, ibunya, melakukan tadarus bersama-sama ibu-ibu lain. Di bagian depan anak-anak laki-laki belajar hafalan surat-surat juzz ‘amma dibimbing oleh imam surau.   
Anak-anak belajar dengan waktu terbatas. Usai maghrib hingga shalat ‘Isya. Tetapi bagi anak-anak pelajaran di waktu yang singkat sangat bermakna. Buktinya surat-surat pendek banyak yang sudah hafal, kini bahkan ada yang sudah lancar membaca Al Quran. Kadang dalam mengajari Zaniar suka menyelipkan canda. Jika sebelum ‘Isya yang belajar sudah dapat giliran semua, gadis itu menyempatkan mendongeng, kadang dongeng umum, kadang tentang kisah nabi dan para sahabat. Anak-anak sangat senang dengan dongeng-dongeng yang Zaniar sampaikan.
Usai shalat ‘Isya Zaniar dan ibunya tidak langsung pulang. Keduanya duduk dengan salah satu ibu hingga sekitar setengah jam. Setelah itu barulah ketiganya beranjak meninggalkan surau. Berjalan beberapa saat, keduanya sampai di gang yang menuju rumahnya. Namun keduanya kaget ketika melihat di tempat tadi sore ada sepeda motor diparkir.
“Bukankah itu motor Ustadz Hong Zan?” tanya ibunya berbisik.
“Benar. Itu orangnya …. tuh, di depan rumah Wak Jamin…sedang ngobrol…”
“Ooo iya. Ada apa lagi Ustadz kembali ya?”
“Tidak tahulah Bu….”
Rupanya Ustadz Hong merasa ada yang datang. Laki-laki itu membalikkan badan. Wajahnya ceria melihat Zaniar dan ibunya sudah pulang. Ustadz Hong berpamitan ke orang yang ngobrol bersama di situ. Sejenak kemudia laki-laki itu bergegas ke rumah Zaniar.
Assalaamu’alaikum! Sapanya. Zanar dan ibunyapun segera menjawab salam.
“Maaf, maaaaaf sekali! Saya harus kembali ke sini.” kata Ustadz Hong merasa bersalah.
“Oooo tidak apa-apa. Silakan masuk Ustadz….”
“Emmm tidak, sudah malam. Tidak enak dengan tetangga. Lihat, mereka masih ada di teras rumah, mereka melihat kita.”
“Ooo lalu ada apa ya?”
“HP saya ketinggalan di meja Bu. Maaf sekali….”
“Ooooo HP? Zan, ambilkan HP pak Ustadz.”
“Ya Bu…” kata Zaniar bergegas menuju rumah. Beberapa saat kemudian Zaniar keluar lagi sambil membawa HP yang dimaksud.
“Ini HP-nya Ustadz….” kata Zaniar sambil mengulurkan tangan.
“Iya, terima kasih….”
Ketika HP itu diserahkan ke Ustadz Hong, tidak sengaja jemari Zaniar menyentuh telapak tangan Ustadz Hong. Bulu kuduk Zaniar merinding. Ia merasakan getaran aneh dalam waktu yang sangat singkat. Zaniarpun sebenarnya melihat sekilas sinar mata Ustadz Hong juga aneh.
“Maaf Niar ….. Niar habis mengajar mengaji anak-anak ya?” tanya Ustadz Hong menyelidik.
“Ustadz tahu dari mana?”
“Dari bapak-bapak yang tadi ngobrol itu….”
“Ooooo Wak Jamin.”
“Iya, Pak Jamin. Memangnya berapa banyak yang mengajari ngaji anak-anak?”
“Yaah, untuk anak-anak perempuan saya sendirian. Itupun kalau waktu tidak bentrok dengan kepulangan saya. Sabtu minggu jelas tidak, saya ke Babusslam. Kalau anak laki-laki Pak Kyai, imam surau itu. Jadi hanya berdua saja.”
“Yang lain pada ke mana?”
“Sulit jaman sekarang mencari relawan. Kebanyakan dari anak-anak yang besar tidak melihat tanggung jawab itu. Mereka lebih asyik main facebook dan twiter …. sistem pamong seperti di pesantren tidak ada. Padahal yang tua mengajari yang muda itu indah sekali Ustadz.”
“Oooo… ya sudah. Saya dukung kamu sepenuhnya. Lanjutkan kebiasaanmu, mudah-mudahan dapat berkah.”
“Amiiin.”
“Oh ya ntar ngobrolnya kita sambung di Babussalam ya…”
“Emmm….. iya Ustadz.”
Pukul setengah sembilan malam Ustadz Ahmad Hong  pulang. Keduanya perempuan itu saling pandang, kemudian keduanya mengelengkan kepala. Sejenak kemudian keduanya masuk rumah. Pintu dikunci. Tak ada keperluan apa-apa lagi dengan luar rumah.
“Kamu makan dulu Zan.” kata ibunya setelah menyimpan mukena.
“Ibu juga.”
“Iya. Kita makan bersama.”
“Makan besar ya Bu ….”
“Iya, merayakan kedatangan Ustad Hong ke sini hihihi…..”
“Ih ibu apaan sih?”
“Begini Zan, ibu tadi curiga ke Ustadz itu.” kata Winarti sambil mengambil nasi.
“Curiga? Curiga bagaimana?” Tanya Zaniar seraya menerima piring dari ibunya.
“Itu tadi cuma taktik. Taktiknya Pak Ustad, taktiknya laki-laki ….”
“Apaan sih, Niar tidak mengerti ah!”
“HP-nya sengaja ditinggal, biar bisa mbalik lagi.”
“Maksudnya? Kenapa HP-nya ditinggal?”
“Ya ampun anak ibuuuuu……, tidak mengerti juga?”
“Memang tidak mengerti Bu.”
“Kalau tidak paham ya sudahlah , nanti kamu juga tahu sendiri. Sekarang makan. Ayo makan yang banyak.”
“Nggak ah! Takut gemuk.”
“Iiiiiiih kamu, yang namanya gemuk itu juga karunia Allah Zan. Jangan diejek semacam itu, nggak boleh.”
“Bukan begitu Bu, nanti kalau aku gemuk, bagaimana gerakanku kalau ikut pertandingan silat. Bisa-bisa harus naik kelas di pertandingan nanti. Nggak mau Bu.”
Usai makan malam kedua anak beranak itu mencuci piring kotor. Keduanya selalu bercakap-cakap tentang apa saja. Tentang pengalaman tadi siang, atau tentang hal-hal baru Zaniar dapatkan di sekolah diceritakan kepada ibunya.
Sekitar jam sembilan malam Zaniar belajar sedikit. Besok pelajaran seni budaya, olah raga dan matematika. Komposisi pelajaran seperti itu bagi Zaniar termasuk ringan. Seni budaya hampir tidak ada masalah, olah raga apalagi. Matematika dia jagoan di sekolahnya. Usai mempersiapkan  beberapa barang kecil, Zaniar mengambil si Bunga, buku catatan kecil tentang hal-hal yang menurutnya besar:
……hari ini banyak masalah. Memang hari-hariku selalu saja ada masalah. Tongki – Deden, Aku malah akhirnya tahu kalau Pak Bimo teman Ustadz Hong.
…… malam ini ada yang aneh. Ketika tidak sengaja jariku menyentuh tangan Ustad, hatiku menjadi berdebar-debar. Terus terang perasaan seperti ini tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Bahkan pada Pak Nanto yang saya rasakan selalu memberikan perhatian lebih. Apalagi Asep, yang terus terang menyatakan cinta beberapa waktu yang lalu, sama sekali tak ada yang membekas.
………….. huuuuuuuhhhh! Tak tahulah!
Aaaaah, aku baru ingat tadi pagi di sekolah Pak Layang marah-marah. Kenapa ya?Kenapa tadi Pak Layang ingin memberikan HP untuk ibu? Dan tadi sore juga Ustadz Hong juga ingin memberiku HP. Kenapa ya?
…………………………………………………….. uh! Astaghfirullahal’adziiiiim!!!!
Zaniar berbaring terlentang. Matanya memandang langit-langit yang terbuat dari anyaman bambu. Pikirannya menerawang, loncat ke sana, loncat ke sini. Ia sangat ingin pikirannya menemukan sesuatu yang membahagiakan, yang membuatnya bisa tenang ketika banyak masalah yang datang.  Gadis meletakkan buku kecil kesayangannya di atas dadanya. Matanya perlahan terpejam. Hingga beberapa menit kemudian, ibunya melongok ke kamarnya , Zaniar sudah tertidur. Perempuan itu mengambil buku kecil yang terletak di atas dada anaknya, kemudian meletakan di atas meja kecil di samping dipan.
Setelah itu perempuan setengah baya itu melangkah perlahan.
“Ibuuu…..” tiba-tiba terdengar suara pelan. Winarti berhenti, kemudian menoleh.
“Haaai…. belum tidur rupanya?”
“Belum Bu, sulit tidur.” Kata Zaniar sambil bangun dari rebahan, kemudian duduk. Ibunya mendekat, kemudian duduk di sampingnya.
“Kenapa? Ada masalah lagi?” Tanya ibunya seraya menyibak rambut yang menutupi dahi anaknya.
“Hmh….tak tahulah Bu, sepertinya memang banyak masalah yang harus Niar hadapi.”
“Masalah apa lagi sih? Zan, bukan ibu tidak mau dengar ceritamu, tetapi sekarang bagusnya istirahat dulu. Kita bisa bicarakan besok.”
“Besok?”
“Iya besok. Sore, sepulang kamu dari sekolah.”
“Lama sekali Bu.”
“Aaah lama seberapa? Tidak lama kok.”
“Kalau masalahnya berat, apakah ibu tidak tertarik jika dibahas sekarang?” tanya Zaniar memancing.
“Berat?”
“Iya , berat. Bahkan mungkin berat sekali.”
“Masalah apa sih?” akhirnya Winarti mengalah juga ke anaknya.  Melihat ibunya terpancing kata-katanya, Zaniar tersenyum. Ibunya dipeluk.
“Masalah pacar ya?” Ibunya berbisik.
“Iiih… ibu, ngawur saja.” Kata Zaniar sambil melepaskan pelukannya.
“Masalah Pak Nanto ya?”
“Ah ibu, kenapa ibu selalu mengingatkan Niar pada Pak Nanto sih….”
“Bagi ibu, masalah Pak Nanto dekat kamu, itu bagi ibu masalah berat. Kamu murid, dia guru. Hubungan persahabatan guru dengan murid tidak boleh terlalu jauh.”
“Ibu ngomong apa sih?”
“Masyarakat akan menilai jelek. Bisa-bisa ini malah megarah ke aib. Aib bagi Pak Nanto sebagai guru, kasihan beliau. Kehormatannya akan hilang.”
“Iiiih… ibu nggak lucu ah!”
“Siapa bilang lucu? Ini serius.”
“Iya serius. Tapi bukan masalah Pak Nanto.”
“Wah? Jadi masalah apa rupanya?”
Zaniar terdiam sejenak. Hatinya ragu untuk mengajukan pertanyaan kepada ibunya. Ada dua hal yang dikhawatirkan, pertama ibunya marah. Kedua, ibunya bersedih. Ia mencoba melirik ibunya. Kebetulan ibunya juga sedang mengamati dirinya. Zaniar mendesah.
“Kenapa diam?” Tanya Winarti.
“Benar ibu tidak marah?”
“Kamu pernah melihat ibu marah?” Winarti gentian bertanya kepada anaknya. Yang ditanya tersenyum.
“Belum pernah.” Jawab Zaniar senang.
“Makanya cerita saja….”
“Tapi mungkin kali ini ibu marah.”
“Seberat apa masalahnya sih? Menyangkut ibu ya?”
“Yaaa… begitulah.”
“Katakan jangan ragu Zan.”
Zaniar mengangguk. Gadis itu mengambil Si Bunga di atas meja kecil. Buku kecil tempat Zaniar menumpahkan segala perasaannya itu dibuka perlahan. Sampai pada catatan terakhir yang belum lama ditulis, gadis itu menyodorkan kepada ibunya. Wanita setengah baya itu menerima.
“Ibu pernah membuka buku Niar?” Kata Zaniar sambil menyerahkan buku.
“Tidak. Biarpun ibu bisa gampang saja membuka, tetapi ibu tidak berani, dan memang tidak ingin mencampuri urusan anak ibu ini.”
“Terimakasih Bu, ibu adalah orang yang baik. Sekarang ibu boleh baca ……”
Wanita setangah baya itu sebenarnya ingin membaca buku milik anak semata wayangnya sejak lama, namun keinginan dirinya selalu dapat ditekan. Malam ini anaknya menyodorkan buku itu untuk dibaca. Ia benar-benar ingin tahu apa saja yang ditulis anaknya. Perlahan perempuan setengah baya itu membacanya,
…….Aaaaah, aku baru ingat tadi pagi di sekolah Pak Layang marah-marah. Kenapa ya?Kenapa tadi Pak Layang ingin memberikan HP untuk ibu?.....
Zaniar mengamati perubahan raut muka ibunya. Namun hati gadis itu menjadi masygul ketika tak ada perubahan air muka ibunya. Ibunya menoleh ke arahnya.
“Siapa Pak Layang?”
“Lho? Mestinya Niar yang tanya ke ibu, siapa Pak Layang itu? Apa hubungannya dengan ibu. Mengapa Pak Layang mengenal ibu?”
“Oooo …. Pak Layang itu siapa Zan?”
Melihat ekspresi wajah ibunya yang serius, Zaniar heran. ***

(Bersambung)
Catatan :
Novel ini tidak saya lanjutkan untuk sayembara di Fiksiana Community. Ide buntu disebabkan banyak pekerjaan lain yang harus diselesaikan.