Minggu, 17 Mei 2020

Terbaru 2020 - Mencatat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di 17 Mei 2020

Blog Pendidikan







Rektor didampingi jajaran pimpinan berfoto bersama dengan para CPNS

             Untuk menguatkan sistem akademik di masing-masing fakultas dalam rangka mencapai target menjadi World Class University, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di tahun 2020 ini, menerima sebanyak 136 CPNS. Berdasarkan informasi yang didapat dari Kabag. Organisasi, Kepegawaian dan Hukum, Dra. Kenya Budiani, M.Si menyampaikan bahwa jatah yang diberikan oleh Kementerian Agama ditahun 2020 ini meningkat tajam dibandingkan jumlah tahun-tahun sebelumnya. Adapun penyerahan SK CPNS kali ini akan dilakukan bertahap, tahap I akan diserahkan sebanyak 76 SK dan tahap II sebanyak 60 SK CPNS yang masih diproses oleh BKN.
Pada kesempatan ini Sebanyak 76 SK CPNS diserahkan oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, MA., Ph.D., di gedung Prof. KH. Saifuddin Zuhri, Jum’at (17/5).

Sebelum penyerahan SK, Prof. Yudian Wahyudi menyampaikan pidato pembinaan yang antara lain menuturkan bahwa, pegawai negeri sipil dalam sumpahnya sudah menerima janji politik pada level kenegaraan. Menurut Prof. Yudian, para dosen baru ini harus menerima Islam yang mendukung Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dilarang mengikuti organisasi yang dilarang oleh pemerintah. “Jangan sampai ada dosen yang melakukan aktivitas yang mengarah melemahkan NKRI. UIN Sunan Kalijaga adalah Perguruan Tinggi berstatus negeri dengan demikian UIN adalah representatif dari pemerintahan yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia. Indonesia adalah negara berdasarkan pada pancasila, dengan demikian kalian juga harus menjunjung tinggi negara NKRI” ungkap Prof . Yudian.
Selain itu Rektor berpesan, untuk menghilangkan tirani ilmiah pada proses belajar mengajar di kampus. Para dosen hendaknya tidak menyiksa mahasiswanya secara akademik dengan memberikan nilai jelek pada penilaian di setiap matakuliah. Jangan mengukur mahasiswa dengan kepintaran dosen, tapi ukur dengan ilmu yang diberikan pada mereka.
“Status CPNS itu merupakan Lailatul Qadar kalian. Sehingga kesuksesan kalian harus direncanakan dan diukur. Target kedepannya sebagai dosen anda harus sampai ke jenjang tertinggi yaitu professor, jangan sampai menjadi dosen yang mungkar ”, imbuh Prof . Yudian.
Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Umum dan Keuangan Drs. Handarlin H.Umar mengharapkan agar para dosen CPNS juga belajar memahami berbagai peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah perihal kedisiplinan kerja Aparatur Sipil Negara (ASN), seperti; Keputusan Menteri Agama no.43 tahun 2016 terkait jam kerja, Peraturan Pemerintah nomer. 53 tahun 2010 tentang hak dan kewajiban dosen, dan lain lain. “Disiplin adalah kunci utama bagi seorang Pegawai Negeri Sipil yang mana ini bisa tercermin dari kehadiran melalu rekam Finger Print”, pungkas Handarlin. (Doni)

Galeri:


 
Sumber galeri : @uinsuka


Instagram: @uinsk



Jumat, 01 Mei 2020

Terbaru 2020 - Cerpen: KEMBALILAH KEPADAKU TOPAZ

Blog Pendidikan

Lanjutan Cerpen Kau Terlambat Hilal 

Tanggal 01 Mei 2020.
Hilal menunduk. Hatinya gelisah. Lelaki muda itu mencoba untuk melihat berkeliling ke arah tetamu yang hadir. Wajah mereka ceria. Irama degung yang mengalun sejak pukul 07.00 pagi tadi benar-benar menyayat hatinya. Tenggorokannya berkali-kali terasa kering. Air mineral bening di botol tinggal seperempatnya.
Hari ini adalah hari pernikahan Topaz Aini Tri Astuti, rekan sekerja di SMPIT Nurul Aini. Sekitar tiga tahunan Hilal dan Topaz bersama. Hilal memendam rasa cinta yang dalam namun yang hampir tak terucap. Barulah seminggu yang lalu, dalam suasana yang terdesak laki-laki muda itu memaksakan diri untuk menyatakan cinta kepada gadis itu. Hilal tidak mungkin mengatakan cinta ketika Topaz telah menjadi istri orang. Maka dengan logika yang dipilihnya sendiri, ia beranikan diri menyatakan semuanya kepada Topaz.
Aku tidak bersalah. Topaz masih lajang, siapapun masih boleh untuk mengatakan apapun kepada Topaz. Demikian pembelaan diri Hilal.
Hilal sangat kecewa.
Kadang ia mengutuki dirinya sendiri yang tidak punya keberanian untuk menyatakan cintanya dulu-dulu. Hingga akhirnya ia memberi nama yayasan Nurul Aini. Ia mencoba menyatakan cintanya kepada Aini, Topaz Aini dengan caranya sendiri. Namun semua sia-sia. Topaz tak mengerti, Topaz tidak memahami kode ini. Mungkin bagi Topaz, nama Aini begitu banyak. Rahma Aini, Aini Nurbaina, Qurotul Aini, Aini Nurul Fajri, serta sederet Aini-Aini yang lain.
Terlambat!
Kembali Hilal bergumam. Harusnya ia tak berfikir tentang Safira, adik Topaz. Toh dirinya tak pernah menyatakan apapun kepada Safira. Terlambat….., Hilal mengulangi gumamnya. Nafasnya ia hela dalam-dalam. Beberapa jenak kemudian ia hembuskan perlahan. Secara tak sadar tiba-tiba lelaki muda itu menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal. Hilal kaget sendiri. Beberapa orang yang duduk di dekatnya melihat ke arahnya. Milihat hal itu, Hilal mencoba menata duduknya lebih tenang.
Pengantin berdua dipersilakan menempati tempat yang telah disediakan! Akad nikah akan segera dimulai.
 Terdengar suara dari pengeras suara. Hilal semakin gelisah. Dari kejauhan  tampak kedua calon mempelai memasuki tempat perhelatan sakral yang diidamkan banyak orang. Calon mempelai laki-laki berjalan begitu gagah. Sementara mempelai perempuan dengan make-up yang tebal menyamarkan wajah aslinya. Dari arah Hilal duduk, mempelai datang memunggungi dirinya. Ia sama sekali tak bisa melihat wajah Topaz.
Tata…. Topaz Aini … Topaz Aini Tri Astuti ….., dalam suasana yang mulai mencekam menjelang akad nikah Hilal mengeja nama gadis yang dicintainya itu. Inilah saat-saat yang akan menjadi sangat bersejarah dalam hidupnya. Sejarah yang sangat menyakitkan. Sejarah yang akan membuat dirinya sangat kecewa, dan mungkin kekecewaan yang tak akan terobati dalam waktu yang lama.
Hilal menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering tersekat.
Mohon perhatian, dan disaksikan semua hadirin yang terhormat. Hari ini, keluarga bapak Radite Harjasentika berkenan untuk menikahkan putrinya. Mudah-mudahan sebuah keluarga baru yang beberapa detik lagi akan terbentuk, akan selalu mendapatkan perlindungan Allah saat ini, dan di masa-masa yang akan datang.”
Ketika pembawa acara membacakan pengumuman itu, hati Hilal sudah hancur. Saat itu dirinya sudah merasa tak diperhatikan oleh siapapun. Tak ada yang peduli dan mengerti bahwa gadis yang siap dinikahkan seharusnya menikah dengan dirinya.
Beberapa jenak ketika semuanya telah siap, mempelai perempuan diminta untuk meminta ayahnya menikahkan dirinya.
Ayahanda, hari ini, ananda mohon keridhoan ayah … untuk…. un …. Untuk menikahkan saya dengan calon suami saya ….. demi men….men…. mencari keriii…keridhoan Allah ….. hhh…hhhh…. “ calon mempelai perempuan tak sanggup untuk meneruskan kalimat permintaan kepada ayahnya untuk dinikahkan. Gadis itu menangis. Beberapa tetamu ikut terharu, bahkan ada yang berlinang air mata.
Mata Hilal terasa panas. Sebagai laki-laki ia berusaha keras untuk menahan lelehan air mata. Bibirnya dikatubkannya lekat-lekat.
Perlahan ia bangkit di antara kerumunan. Karena terhalang pandangannya, ia mengangkat kameranya ke atas tinggi-tinggi untuk merekam apa yang terjadi.



           Hilal menanti.
Karena inti permintaan anaknya telah tersirat, maka ayah Topaz bersiap  menikahkan putrinya: “Hari ini ayah akan menikahkanmu wahai putriku yang cantik….” kata ayah Topaz seraya mengulurkan tangan untuk menjabat tangan calon menantunya itu. Ketika keduanya telah berjabatan tangan, suasana hening.

Wahai Ahmad Abdul Fatah, saya nikahkan engkau dengan anakku Safira Cahyaning Pertiwi dengan maskawin sehelai
kerudung sutera berwarna biru…..”
“Aku terima, nikahnya Safira ….. aku ter… aku terima nikahnya Safira Cahyaning Pertiwi  dengan maskawin sehelai kerudung sutera berwarna biru….. dibayar tunai!”
Sah! Sah! Saaaahhh!
Safira?!
Gemuruh hati Hilal. Apa aku tidak salah dengar? Gumamnya dengan bibir bergetar.
Yang menikah adalah Safira. Benarkah Safira? Bukan Topaz? Hilal menoleh ke samping, kemudian menyentuh pundakorang di dekatnya.
“Bapak maaf, tadi siapa yang menikah Pak?” tanya Hilal dengan gemetar.
“Ahmad … Ahmad Abdul Fatah…..”
“Yang perempuan?”
“Safira. Putri Pak Radite.”
“Bapak tidak salah dengar?”
“Maksudnya?”
Hilal tak menjawab.
Dada Hilal semakin gemuruh. Detak jantungnya tak teratur. Mata pemuda itu jelalatan ke sana ke mari mencari-cari seseorang. Tak ada. Dengan bergegas Hilal menyibak kerumunan orang banyak, ia berlari ke luar gedung menjauh dari kerumunan orang.
Ia menelpon  Topaz.
Topaz….. Aini … Ainiii…… angkat! Ayo angkat HPmu! Gumam Hilal dengan bibir bergetar. Jemarinya juga tampak bergetar. Tak ada respon. Laki-laki itu mencoba menghungi sekali lagi.
“Assalamu’alaikum …..” terdengar suara lembut. Aini! Hilal berbinar.
“Topaz …. Topaaaz.... Topaaaz..... di mana kau? Dimana?”
“Kakak di Majalengka?”
“Iya laahhh ini di Majalengka! Di pernikahanmu, tapi ini seperti mimpi! Apa…. apa yang terjadi Topaz? Kau di mana Topaz? Di mana?”
“Saya di Talaga kakak….. “
“Jadi benar yang menikah Safira?”
“Hkkk…hhh…..”
“Jangan menangis Topaz … Topaz, aku segera ke Talaga, tunggu aku, jangan ke mana-mana? Kau ada di rumah bi Maya kan?”
“Hhhh…. iya Kak, aku di bibi ..”
Saat itu  Hilal tak peduli dengan pernikahan Safira. Sama sekali tak peduli dengan apa yang terjadi dengan keheranan para tetamu melihat ketergesaan menyeruak ke arah menjauh dari perhelatan sacral. Pemuda itu berlari ke mobilnya. Beberapa saat kemudian ia memacukan mobilnya ke arah Talaga bagai kesetanan. Wajah Topaz berkelebat. Wajah Hilal tegang. Ini adalah mimpi baginya.
Ting-ting-tong! Telepon. Hilal melihat layar HP. Topaz menghubungi.
“Kakak….”
“Iya… iya Topaz ada… ada apa?”
“Kakak sudah sampai mana?”
“Sangraja, hampir Kawunghilir!”
“Subhanallah Kaaak …. jangan Kak. Kakak  jangan ngebut. Kakakngebut kan?”
“Oooh… iii… iya…”
“Kakak santai saja, sabar Kak Hilaaal....tenang, Topaz tidak ke mana-mana. Topaz tunggu kakak. Sabar ya Kak, jangan ngebut.
“Iii iya …”
“Kak Hilal…”
“Ya…”
“Jangan ngebut ya….”
“Iya Topaz …. terima kasih sudah diiingatkan …”
Kata-kata Topaz benar-benar sangat berarti bagi Hilal.  Baginya seperti setetes air di padang gersang. Ada sebersit rasa bahagia mendengar nasehat Topaz.
Hilal menghela nafas dalam. Kini ia menyetir dengan perasaan sangat tenang.
***
Setengah jam perjalanan Hilal sampai di Talaga. Masuk ke arah selatan dari alun-alun kecamatan, ia menuju rumah bibi Maya, adik ibu Topaz. Rumah itu tampak sepi. Namun Hilal melihat bibi Topaz ada di teras.
“Assalaamu’alaikum ibu….”
“Wa’alaikumussalaaaam … oooh … ini Pak Hilal temannya Topaz kan?”
“Ahhh syukurlah, ibu masih mengenali saya. Benar Bu, saya Hilal, teman Topaz di SMPIT Nurul Aini.”
“Iya … iya … Topaz juga suka cerita tentang Pak Hilal,  putra Pak Alim pemilik yayasan.”
“Aaah bisa saja Topaz …. maaf Bu , ibu tidak menghadiri pernikahan?”
“Hmh…. nggak Pak Hilal. Bibi di sini saja, kebagian tugas menjaga Topaz.”
“Jadi benar Topaz di sini?”
“Ya benar, ada. Silakan masuk … sepertinya dia sudah menunggu Pak Hilal dari tadi. Tuh di ruang tamu …”
Perlahan kaki Hilal melangkah. Dadanya gemuruh. Jantungnya berdetak tak beraturan. Laki-laki muda itu berdeham.
Assalamu’alaikum!
Hilal memberi salam. Dari dalam terdengar jawaban salam dan mempersilakan masuk. Hilal melangkah perlahan. Dilihatnya Topaz berdiri dengan wajah kuyu.
“Topaz ……”
“Silakan duduk ….”
“Tidak Topaz, kamu kenapa Topaz?”
“Tak apa-apa….” katanya melemah. Walaupun mengatakan tak apa-apa, namun ada dua titik air mata di sudut matanya.
“Topaz …. jangan menangis…..” kata Hilal seraya mendekat kemudian memeluk gadis itu.
“Jangaan kak!” kata Topaz secara reflek mendorong tubuh Hilal.
“Astaghfirullaaahh…… astaghfirullah  … maaaaf….. maaaafff… Topaz, aku hilaf…..” kata Hilal dengan serta merta melepas pelukannya. Wajah Topaz memerah.
Hilal duduk. Keduanya diam. Topaz menunduk.
“Apa yang terjadi Topaz? Jelaskan?”
“Seperti yang kakak lihat, semua rencana berantakan. Lima ratus undangan yang telah ayah sebar akan menjadi sia-sia dan akan ada rasa malu yang harus ditanggung keluarga.”
“Kenapa?”
“Keluarga Kang Misbah membatalkan pernikahan. Kang Misbah sendiri juga berkata begitu.”
“Iya, kenapa? Mengapa bisa semudah itu?”
“Kang Misbah lebih memilih karir. Sepertinya mentalnya belum siap. Setelah lulus magister, lamaran kerjanya di perusahaan minyak di Dubai diterima. Itu intinya.”
“Hanya masalah sepele seperti itu?”
“Bagi kakak itu masalah sepele, mungkin bagi Kang Misbah itu masalah besar. Masalah itu akan menjadi semakin besar jika ia harus menikahiku.”
Kenapa?
“Ada klausul yang mengharuskan sanggup tidak menikah selama tiga tahun ke depan. Inilah keputusannya. Keluarga Kang Misbah membatalkan pernikahan. Dengan permohonan maaf, mereka mencabut kembali ucapannya.”
“Subhanallah …. tak menyangka ada kejadian semacam ini.”
“Begitulah sifaf manusia Kak. Ada bermacam-macam dalam memandang sebuah persoalan.”
“Akhirnya Safira yang jadi korban?”
“Kakak tidak boleh katakan Fira korban. Justru itu baik. Daripada pacaran kelamaan, ntar banyak maksiat.”
“Iya betul begitu.”
“Ketika Fira dinikahkan, ayah tertolong. Artinya tetap ada acara hajatan. Bahkan, justru Firalah yang sebenarnya ingin menikah lebih dulu, setengah tahun yang lalu. Hanya saja ayah melarang, katanya kasihan aku.”
“Ooo jadi waktu itu Safira sudah punya calon?”
“Ya begitulah … sebenarnya dia juga dulu katanya ragu, kalau-kalau kak Hilal akan menyatakan suka…. tapi dia ancang-ancang ….”
“Ancang-ancang? Apa maksudnya?”
“Katanya, kalau kak Hilal menyatakan cinta, Fira akan menolak.”
“Hah? Begitukah? Alhamdulillaaah ya Allah ya Rabb!”
“Kenapa bersyukur?”
“Karena aku ingat nama yayasanku. Topaz, apa nama yayasan kita?”
“Nurul Aini.”
“Ya, itulah, aku bersyukur karena Insya Allah yayasan kita, sekolah kita akan menjadi benar-benar bermakna.”
“Nggak tahu  … apa maksudnya?”
“Topaz ….. aku yakin Topaz juga bersyukur kan?”
“Maksudnya?”
Hari itu adalah hari yang membahagiakan Hilal. Kegagalan pernikahan Topaz dengan Misbahudin sepertinya menjadi sebuah syari’at baginya. Topaz sendiri tampaknya juga tak terlalu menyesali kejadian itu. Atau memang malah seperti kata-kata Hilal, Topaz bersyukur.

***

Seminggu setelah pernikahan Safira, usai acara kegiatan di sekolah Hilal memanggil Topaz ke ruang yayasan.
“Ada apa Pak?”
“Ssst … ini bukan panggilan dinas… ini panggilan pribadi!”
“Oooo… maaf, iya ada apa Kak?”
“Ada hal penting yang akan aku sampaikan.”
“Apa itu kak?”
“Minggu depan, kepengurusan yayasan akan dirombak, tentu semua atas hasil evaluasi. Aku akan diangkat menjadi ketua yayasan.”
“Ooouuww… selamat Pak Hilal!”
“Pak lagi, Pak lagi! Jangan panggil Pak atuuuh!”
“Kan ini urusan yayasan, ini urusan dinas.”
“Ini calon rencanaku nanti, bagaimana kalau Topaz jadi pengurus yayasan juga?”
“Ah nggak mau! Malu dengan teman-teman!”
“Topaz… saya masih ingat kata-kata Topaz tentang prinsip keluargamu. Iya nggak?”
“Yang mana kak?”
“Yang mana yang mana! Itu lhooo … nama yayasan Nurul Aini.”
“Bingung saya kak….”
“Astaghfirullah ….. nama Nurul Aini adalah simbol perhatianku pada Topaz…”
“Hmh ….”
“Bulan depan Topaz harus jadi ibu ketua yayasan!”
“Maksudnya kak?”
“Astaghfirullah … kau ini pura-pura nggak ngerti ya?”
“Hihihi… kan bulan depan ketuanya kak Hilal!”
“Lah iya itu, ituuu …. aku ketua yayasan, Topaz jadi ibu ketua yayasan…. “
“Kakak bercanda?”
“Aku hampir terlambat Topaz. Aku tak ingin kali ini terlambat sungguhan. Aku mencintai Topaz sudah lama ….”
Gadis itu menunduk.
Ia sangat paham apa yang diharapkan Hilal. Misteri Safira yang semula diduga menjadi penghambat keduanya untuk saling menyatakan sikapnya, kini terkuak sudah. Safira sudah menikah. Apa lagi?
“Bulan depan, aku serius. Aku tak ingin mengagumi Aini hanya dalam simbol. Tak ingin menyanjung Topaz hanya dalam mimpi. Tak ingin bercanda dengan Tri Astuti hanya dalam angan-angan ….. aku serius Topaz……. umurku sudah dua puluh tujuh tahun. Sudah layak untuk memiliki seorang istri, apalagi istrinya …. Masya Allah …… makhluk yang sangat indah dan mengagumkan.”
“Rayuan gombal ….”
“Serius Topaz, bulan depan Topaz akan tahu bagaimana kekagumanku pada gadis yang satu ini memenuhi buku harianku.”
“Maksudnya?”
“Aku selalu mencatat setiap kegumanku pada Topaz.”
Iiih Kakaaak..... jadi ge-er niih. Kakak mencatatnya?”
“Aku sudah yakin, bahwa Allah akan mengirimkan Topaz untuk aku ….. bukan untuk yang lain. Makanya nanti bisa kita baca bersama. Iya, kita, aku dan kamu. Hilal dan Topaz Aini…..”
“Iiih…..”
“Topaz.”
“Ya?”
“Besok juga, aku tak peduli ayah baru hajatan. Aku mau melamar Topaz.”
Gadis itu menunduk dalam. Terdiam lama. Hilal menghela nafas dalam. Di hadapannya adalah gadis harapannya. Ia yakin apa jawaban gadis itu bakal sesuai dengan harapannya.
Halaman SMPIT Nurul Aini dirasakan Topaz menjadi sebuah lingkungan yang indah. Bahkan ia sendiri malah sering mengeja Nurul Aini berulang-ulang. Setiap mengulang kata itu, ia ingat bahwa laki-laki bernama Hilal-lah yang mencipkatakannya. Sebuah awal cinta yang diungkapkan secara simbolik, yang semula tak banyak orang yang tahu.
Hari berikutnya, Hilal mengingatkan sekali lagi :
“Pelaminan akan berdiri sebentar lagi, bulan depan …..”
“Tapi harus mencari hari baik ….” kata Topaz pelan.
“Bersama Topaz Aini, semua hari menjadi baik. Semua hari akan membahagiakan. Aku sudah sudah merasakannya, cinta terpendam sekian lama saja aku sudah bahagia … apalagi nanti Topaz …. The Real Story”
“Aaah ….”
“Senyum dong cantiiik….. dikiiiiit saja buat kakak!”
Topaz tersenyum.
Hilal gemas. Pemuda itu membalikan badannya membelakangi Topas. Topaz menggelengkan kepala melihat Hilal menutup wajahnya hingga lama.
Di hati kecil Hilal, ada rasa terima kasih kepada laki-laki bernama Misbahul Ulum yang telah melepas Topaz kembali dalam harapannya.***
TAMAT


Rabu, 29 April 2020

Terbaru 2020 - Cerpen: Kau Terlambat Hilal

Blog Pendidikan


Hilal tak jadi melangkah ke luar. Di meja tamu tergeletak surat undangan. Coraknya aneh, ornament di pinggirnya bergambar kepingan-lepingan batu warna biru dengan intensitas yang berbeda-beda. Di pojok kiri bawah terdapat gambar dua cincin permata cutting biru gemerlap. Topaz!
“Tata….. “ bibir Hilal bergumam perlahan.
Diambilnya satu buah surat undangan tersebut. Benar, di kertas tempel tertulis namanya : Kepada Kakanda Hilal Ramadhan. Bibir Hilal terkatub rapat. Perlahan ia ambil undangan itu, kemudian dua lainnya. Satu untuk Fauzi Natiq,satunya lagi untuk Yusuf Kamal. Keduanya adalah sahabatnya, yang dua-duanya juga mengelola yayasan Nurul Aini milik ayah Hilal.
Sekali waktu, di salah waktu yang disenggangkan oleh Allah, Hilal menemukan bibit-bibit rasa suka kepada seorang gadis bernama Safira Cahyaning Pertiwi. Ia seorang gadis yang ceria, supel, mudah bergaul dengan siapa saja. Termasuk pada suatu waktu, Hilal mengenalnya sebagai salah satu gadis yang mulai masuk dalam nominasi kriteria calon istri. Usia yang ditargetkan Hilal adalah 27 tahun untuk menikah. Saat itu baik Hilal maupun Safira masih berada dalam satu kampus basic Islam di kota Cirebon, Safira adik angkatan Hilal selang dua tahun.
Keduanya akrab. Keduanya sama-sama menjadi pengurus kegiatan kerohanian di masjid kampus. Maka, keakraban keduanya tak seperti layaknya orang-orang sedang berpacaran atau sejenis dengan istilah itu. Keduanya hanya bedialog dalam hati. Hilal hanya berkata dalam hati. Dan mungkin, Safira pun akan menjawabnya dalam hati.
Namun dari waktu ke waktu, Hilal merasakan bahwa tak ada peningkatan kualitas persahabatan. Pemuda itu juga tak bisa menterjemahkan, apa yang dimaksud kualitas persahabatan. Pembicaraan menuju ke arah rumah tangga? Menyatakan cinta? Atau apa yang seharusnya Hilal katakan kepada Safira. Hilal tidak mengerti, mengapa sudah sekitar satu tahun bersama-sama, tak ada yang mulai ke pembicaraan yang lebih serius. Bahkan, di luar sepengetahuan Hilal, banyak pemuda lain yang sebenarnya ingin mendekati Safira, namun merasa jeri dengan Hilal, karena Hilal telah dipandang sebagai kekasih Safira.
          “Boleh kapan-kapan kakak main ke Majalengka?” tanya Hilal tanpa sadar, hingga ia kaget sendiri.
          “Aih … boleh dong Kak. Kapan?”
          “Selesai sidang skripsiku ya?”
          “Iya boleh.”
          “Tapi aku hanya mampir ya…. karena kakak sebenarnya ada perlu ke paman di Tomo sana.”
           Ketika waktunya tiba, Hilal benar-benar mampir ke rumah Safira. Kedatangannya disambut oleh ayah dan ibu Safira dengan suka hati. Itu terpancar dari wajahnya yang ceria, hingga Hilal sendiri malah menjadi canggung. Kedatangan dirinya ke rumah itu, oleh orang tuanya tentu dianggap sebagai sebuah hal yang serius. Berfikir yang demikian, Hilal justru menjadi ragu. Apakah sebenarnya ia simpati saja kepada Safira, atau mencintainya? Kadang-kadang ada rasa hambar berkelebat hinggap di hatinya.
           “Ini si Safira anak bungsu bapak, Nak Hilal!” kata ayah Safira.
           “Ooo….”
          “Kakaknya ada dua, yang pertama Berlianto Kusuma. Yang kedua perempuan, Topaz Aini.  dan yang ketiga ya ini, Safira.”
          “Oooo….”
          “Ada yang aneh ya dengan nama anak-anak bapak?”
          “Ah enggak Pak. Cuma seperti nama-nama batu permata ya Pak?”
          “Hehe... benar Nak Hilal, bapak memang suka kepada keindahan batu permata. Ya beginilah akhirnya, anak pertama Berlian, kedua Topaz, yang ketiga Safira. Ketiganya bapak nisbatkan ke nama-nama batu mulia! Lihat hiasan dinding, ada hiasan dari batu-batu dan permata. Bapak memang suka dengan batu mulia, maka sejak puluhan tahun lalu bapak abadikan di nama anak-anak bapak.”
          “Ooooo….”
          “Berlian sudah bekerja di Jakarta, nah kalau Topaz Aini kebetulan ada. Fira, panggil kakakmu ke sini.”
          “Oke yaaah…..”
          Hilal yang sedari tadi bersama dengan ayah Safira justru banyak diam dan sesekali menimpali kata-kata ayah gadis itu. Beberapa jenak kemudian Safira keluar. Ia diikuti seorang gadis. Melihat sosok kakak Safira, mendadak dada Hilal gemuruh. Pemuda itu merasakan jari tangannya bergetar tak menentu. Masya Allaaah….. kata hatinya. Matanya melihat sosok gadis yang cantik, pembawaan tenang. Dengan senyum yang tertahan, gadis itu

mengangguk. Hilal terpesona.
          “Nak Hilal!” kata ayah Safira mengagetkan pemuda itu.
          “Oh iiii…. Iya … iya bapak….”
          “Saya dengan ibunya anak-anak mau ada perlu ke Jatiwangi dulu. Kalian ngobrol bertiga.”
          “Iya Pak, terima kasih… terima kasih….”
          Di saat-saat ketika kakak beradik itu berada di hadapan Hilal, justru perhatian Hilal lebih banyak ke Topaz. Ia melihat kakak Safira begitu anggun, keibuan, dengan gaya bicara yang teratur. Beda dengan adiknya, Safira style-nya ceria, bicara blak-blakan, sering tertawa terkekeh-kekeh. Sangat jauh dengan Topaz Aini, yang menimpali pembicaraa seperlunya, dan juga senyum yang pelit seperlunya.
          Hilal!
          Pemuda itu kaget. Lamunannya tentang Topaz buyar. 

  Ia tak menyadari ibunya sudah berdiri di belakangnya. Hilal menghela nafas dalam. Hatinya gundah. Ibunya melihat kegundahan di wajah anaknya.
          “Ada masalah apa Lal?”
          “Tidak ibu, nggak adaapa-apa. Hilal hanya pusing sedikit. Sepertinya hari saya tidak ke yayasan.”
          “Sakit?”
          “Capek saja Bu.”
          “O iya, tadi pagi-pagi sekali ada yang mengantar undangan ke sini. Sepertinya siapa itu yang menikah? Bu Topaz mau menikah.”
         “Iya Bu.”
          “Syukurlah, berarti di sekolahmu itu tinggal kamu saja yang masih lajang. Kemarin-kemarin yang lajang dua, kamu dan Bu Topaz. Eh sekarang tinggal kamu sendirian. Siapa sih calonmu Lal?”
          “Aaah… entahlah Bu, bu maaf, Hilal masuk kamar dulu. Nanti saya telpon pak kepala untuk ijin.” kata Hilal perlahan seraya bangkit meninggalkan ibunya.

***

Yayasan Nurul Aini adalah yayasan pemilik SMP Islam Terpadu Nurul Aini. Sekolah yang didirikan oleh ayah Hilal ini telah merekrut banyak guru non PNS. Namun begitu, kinerja mereka luar biasa. Perkembangan SMP yang pesat dengan banyak prestasi ini dimotori oleh Hilal, selaku pengurus yayasan sekaligus guru di situ. Demikian pula Topaz Aini Tri Astuti, dulu direkrut oleh Hilal untuk bergabung mengamalkan ilmu selepas lulus dari UPI Bandung. Bersama dengan Topaz, Hilal sering berbagi dan bertukar pikiran tentang banyak hal. Namun ada satu hal yang tak pernah terungkap, karena suatu keadaan hingga Hilal menyimpan masalah ini begitu lama.
   Tadi malam Hilal menelpon Topaz, pemuda ingin bicara di hari minggu di sekolah. Sebagai guru di situ, ajakan dari Hilal sebagai rekan sekaligus juga atasan di yayasan, Topaz menerima ajakan pemuda itu.
           Ada yang tidak diketahui banyak orang. Hanya di sekolahlah Topaz memanggil Hilal dengan sebutan Pak Hilal, juga dalam hal Hilal memanggil Topaz, selalu dengan sebutan Bu Topaz. Sedangkan tanpa diketahui orang lain, Hilal juga suka memanggil Topaz dengan sebutan TATA, singkatan nama Topaz Aini Tri Astuti. Sedangkan Topaz memanggil Hilal dengan sebutan Kak Hilal, walaupun kadang-kadang gadis itu mengolok-olok dengan memanggil Dik Hilal, karena pemuda itu akrab dengan Safira, adiknya.
          “Selamat Tata, aku tak menyangka mendapat undangan yang indah … berhiasan kepingan topaz natural dan cincin permatanya.”
           “Kenapa tak menyangka Kak?”
           “Tata tak pernah cerita.”
           “Kenapa? Tata pikir ini adalah urusan pribadi aku Kak.”
           “Oh maaf, kakak tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Tata. Tapi. Mungkin hari ini saya minta ijin untuk masuk ke ranah yang sebenarnya tidak boleh aku lakukan.”
          “Maksud kakak?”
          “Tata sebut nama yayasan kita ini, coba …. “
          “Yayasan Nurul Aini.”
          “Tata tidak pernah berfikir jauh tentang nama itu?”
          “Tidak.”
          “Astaghfirullaaah…” desah Hilal seraya bersandar di punggung kursi sofa.
          “Mengapa istighfar Kak?”
          “Dulu di rapat-rapat awal pendirian yayasan, ayahku pernah berkata, bahwa nama Yayasan Nurul Aini adalah nama yang dipilih oleh anakku, Hilal Ramadhan. Tata juga hadir waktu itu kan?”
          “Iya, iya aku ingat.”
          “Apakah waktu itu Tata tidak merasa bahwa nama Aini yang aku pilih adalah bagian dari nama Tata? Nama Topaz?”
          “Oooochh…. Emmmm ….. emmm….”
          “Topaz Aini, Aini ….”
          “Kak…”
          “Tidakkah Tata merasakan bahwa sejak awal aku selalu membawa nama Aini, Topaz Aini dalam pikiranku?”
          Topaz terdiam.
         Wajah gadis itu tertunduk dalam. Hilal mengatubkan bibir. Beberapa kali pemuda itu mendesah. Hingga sekitar beberapa menit keduanya diam. Yang terdengar hanya detak jam dinding di ruangan lobby sekolah.
           “Tata...”
    “Ya Kak...”        
    “Tata, Hilal membuat sebuah monumen dengan nama Aini. Ini adalah cara Hilal menikmati keindahan Topaz, seperti batu permata yang ada di undangan itu. Kalau saja dulu aku mendirikan yayasan dengan nama Nurul Topaz, semua orang tahu. Terlalu mencolok. Itu tidak baik.”
          “Kakak terlalu jauh …”
          “Kenapa?”
          “Justru itu yang sekarang aku tanyakan Kak, mengapa ini kakak lakukan? Bukankah kak Hilal itu suka ke Safira, sejak masih kuliah dulu.”
          “Aku dan Safira bersahabat. Aku tak pernah mengatakan apapun.”
          “Ochh….. aku tak menyangka kak. Kasihan adikku….. “
          “Apa aku salah jika bersahabat dengan Safira? Apa aku salah sebagai seorang sahabat mengunjungi rumahnya? Apakah ketika seorang pemuda datang ke rumah seorang gadis itu berarti menunjukkan bahwa dia itu berpacaran atau apalah namanya?”
         “Memang tidak….”
         “Justru ketika aku dulu datang ke rumah, Safira membawa kakaknya, sepertinya aku merasa bahwa ….. bahwa ….. kakak Safira, Topaz….. ter.. ternyata lll...membuat hati Hilal masygul, tertegun, tanpa kompromi ...”
   “Kak....”
   “Meruntuhkan hati Hilal.” kata Hilal hampir tak terdengar.
          “Kenapa kakak nggak pernah bilang?”
          “Aku bingung dengan posisiku…. Aku takut menyakiti Safira.”
          “Kakak sudah tahu kalau Safira suka kepada kak Hilal?”
         “Mungkin.”
         “Kenapa mungkin?”
         “Karena Safira tak pernah mengatakannya.”
         “Kak, keluarga kami, ayah dan ibu, mendidik kami anak-anak perempuannya untuk tidak pernah mendahului menyatakan suka kepada laki-laki, walaupun sesungguhnya kami menyukai atau mungkin mencintai laki-laki itu. Saya dan Fira, memahami dan meyakini kalau nasehat ayah ibu itu benar. Kami hanya akan menerima laki-laki yang pemberani, yang terus terang menyatakan suka dan langsung menghadap ayah dan ibu.”
         Telak.
  Kalimat Topaz benar-benar telak menghujam ujung kesadaran Hilal yang merasakan bahwa kalimat itu sebenarnya ditujukan kepada dirinya. Kami hanya menerima laki-laki pemberani! Kalimat ini menempel lekat di gendang telinganya.
           “Tata, mungkin ini saatnya semua rahasia hati terbuka. Ini aku katakan sebelum Tata menjadi milik orang lain, bukan pula bermaksud untuk mengganggu ketenangan hati Tata.”
          “Hmhhh…. “
          “Pertama Ta, ijinkanlah yayasan ini tetap bernama Nurul Aini. Biarlah hanya Hilal dan Topaz Aini yang tahu. Boleh ya?”
          “Hmhhh…..”
          “Yang kedua, Tata tetap mengajar di sini ya?”
          “Terserah suamiku nanti.”
          “Yang ketiga, aku minta tolong, katakan dengan baik-baik kepada Safira, katakan bahwa aku, Hilal, Hilal sudah mencintai orang lain…. tapi jangan sebut namanya.”
          “Kakak mau meninggalkan adikku?”
          “Adikmulah yang telah mengenalkanku pada perasaan yang sesungguhnya.”
         “Hmh…”
         “Begitu melihat Topaz, dulu, detak jantungku tak keruan. Hati gundah. Suatu perasaan yang dulu tak pernah aku rasakan terhadap Safira…. ”
          Topaz Aini kembali diam.
   Beberapa saat kemudian terdengar suara telepon. Wajah Topaz berubah. Pikiran yang semula mulai menjurus ke suasana melankolis dibuangnya jauh-jauh. Ia mendapat telepon dari orang tuanya, bahwa di rumahnya kedatangan tamu dari pihak calon suaminya.
          “Saya harus pergi Kak ….” kata Topaz beranjak bediri. Hilal demikian pula.
          “Tata, biarlah kakak eja namamu di hadapan pemiliknya Topaz Aini Tri Astuti … nama yang pernah aku harapkan menjadi ibu dari anak-anakku, namun terlambat …..”
          “Jangan katakan itu … jangan … kak Hilal….”
          “Aku mencintai Topaz ….” kata Hilal seraya menatap mata Topaz. Gadis itu tertegun sejenak. Beberapa saat ia terdiam sambil mengatubkan bibirnya. Beberapa jenak kemudian, Tata mendesah. Matanya sembab. Gadis itu mengusap air mata di sudut matanya dengan punggung tangannya.
         “Terlambat … kakak ..ka… kakak terlambat ….” kata Topaz hampir tak terdengar.
         “Takdir , sudah takdir Topaz … kakak tidak tahu berapa tahun lagi atau mungkin puluhan tahun kakak akan berhasil mengobati kekecewaan ini …..”
          “Jangan begitu kaak……”
          “Topaz, ijinkan kakak mengatakan kalimat ini yang selama ini kakak pendam; Topaz yang keibuan, Topaz yang anggun …., Topaz yang cantiiikk…..”
          “Kaa…kakaaak…. Topaz minta ijin …..minta ijin melangsungkan pernikahan ini ...  mohon maaf ….. semoga Kak Hilal ikhlash” kata Topaz seraya menyalami telapak tangan Hilal.
          Mata Hilal terasa panas. Punggung tangan pemuda itu merasakan lelehan air mata Topaz. Perlahan ia genggam beberapa sekon telapak tangan Topaz yang lembut. Ya, hanya beberapa sekon. Hilal melepasnya perlahan.
          Gadis itu itu mengucap salam, kemudian berbalik. Bergegas meninggalkan Hilal. Namun belum begitu jauh, Hilal memanggil.
         “Topaz…. tunggu sebentar….” teriak Hilal. Gadis itu berhenti. Hilal mendekat.
         “Ini adalah mimpiku ….” kata Hilal seraya menyodorkan kertas undangan untuk dirinya.

          Topaz menerimanya perlahan.
          Topaz tertegun.
          Dalam undangan itu, Hilal telah mencoret nama Misbahul Ulum, mengganti nama dirinya. Hilal menggeleng. Undangan itu tidak mungkin akan dibawa Topaz. Perlahan Hilal mengulurkan tangan meminta kembali undangan itu. Setelah itu Topaz dengan begegas meninggalkan Hilal.
          Kali ini benar-benar Hilal sendirian. Ia memandangi Topaz yang semakin jauh meninggalkan halaman sekolah.
          Hilal tidak pernah tahu, ketika telah menjauh, bibir  Topaz bergumam 
          “ ….. kak Hilal, seandainya Kakak tahu bahwa Topaz juga mencintai Kakak …..…… “
          Siang itu halaman SMP IT Nurul Aini sepi. 
          Sesepi hati Hilal. ***
                                                                                                                                       (BERSAMBUNG)