Kamis, 08 Oktober 2015

Terbaru 2020 - Cerbung: Serpihan Edelweiss (4)

Blog Pendidikan


4. JEMARI ITU KEMBALI BERTAUT

S
ejak tadi pagi pak Rahmat , ayah Fauzi , sudah berada di rumah ayah Nurjanah. Semula laki-laki itu bingung harus ngapain di Banjarnegara. Di kota itu sudah tak ada siapa-siapa lagi. Hanya ada satu wanita, Bu rahmat, ibunya Fauzi. tapi wanita itu sekarang bukan mukhrim lagi. Keduanya bercerai setahun yang lalu. Tetapi yang lucu, orang-orang tetap memanggil ibu Fauzi dengan Bu Rahmat. Nama aslinya adalah Muniroh. Lucunya lagi, ibu Muniroh ini tetap merasa enak saja dipanggil dengan sebutan Bu Rahmat.
Sebenarnya waktu itu Fauzi sudah mencoba menghalang-halangi kedua bercerai, namun sebagai anak merasa kurang memiliki kemampuan untuk itu. Hingga akhirnya masa-masa yang menakutkan, yang mengecewakan dan menyakitkan harus ditanggung olehnya. Semenjak kedua orang tuanya berpisah, ia memilih tinggal bersama ibunya. Ayahnya kembali ke rumah orang tuanya – kakek Fauzi -  di Purwojati, Banyumas .
Selama ini pula sebenarnya Fauzi masih tetap merasakan campur tangan ayahnya. Ia amsih tetap menerima kiriman uang dari ayahnya. Baik itu untuk membayar uang sekolah atau untuk jajan. Bahkan kadang-kadang berlebih. Jika ia rasakan terlau banyak, biasanya diserahkan kepada ibunya. Ibunya kadang-kadang tidak mau menerimanya, tetapi lebih sering mau menerimanya. Tetapi lebih uang itu ditabungnya.
Kini cerita itu telah berlangsung satu tahun. Ketika mendengar kabar Fauzi hilang pasa saat melakukan pendakian gunung Sumbing, pak Rahmat datang. Namun laki-laki itu nampak ragu.
“Aku harus datang ke mana?” Tanya Pak Rahmat kepada pak Dahlan, ayah Nurjanah.
“Aduuuh bapak ini bagaimana? Ya ke orang yang selama ini tinggal bersama Fauzi!”
“Ke rumah mantan istriku?”
“Ya iyalah! Ke mana lagi kalau bukan ke situ?”
“Tapi… waaaah malu …. Nanti dikira mau ngapa-ngapain!”
“Hahahaaa! Pak Rahmat, Pak rahmat …. Kalau mau ngapa-ngapainya nggak papa kok! Ayo dong, bapak jangan seperti anak kecil.”
Hari itu benar-benar merupakan hari yang membingungkan bagi Pak Rahmat. Hatinya gundah. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap bekas istrinya. Kalau tidak dipaksa oleh Pak Dahlan, mungkin laki-laki ini memilih pulang kembali.
Assalaamu’alaikum!
Pak Dahlan memberi salam seraya mengetuk pintu. Laki-laki itu manggut-manggut lucu. Pak Rahmat yang di belakangnya semakin gerah tidak keruan. Tak lama kemudian pintu dibuka.
“Ooohhh ayahnya Nur… mari masuk!” Sambut Bu Rahmat ramah mempersilakan.
“Terimakasih Bu. Tapi saya tidak sendirian, ada teman saya…. “ Kata pak Dahlan sambil menggamit lengan Pak Rahmat.
Demi melihat bekas suaminya di hadapannya, Bu Rahmat terhenyak kaget. Wajah perempuan  itu nampak kebingungan.
Hingga beberapa jenak ketiganya berdiri tanpa ada berkata sepatah katapun.
“Oh.. mari silakan masuk.” Bu Rahmat menguasai diri, kemudian mempersilakan.
Ketika ketiganya sudah duduk, suasana sangat kaku. Pak rahmat kelihatan gelisah. Namun akhirnya laki-laki itu memulai berbicara.
“Putri Pak Dahlan, Nurjanah, memberiku kabar bahwa Fauzi hilang…. “ Inilah kalimat pertama laki-laki itu sejak perceraiannya.
“Aku… aku …. sendiri tidak menyangka Mas.” Kata Muniroh atau Bu Rahmat hampir tak terdengar. Seperti diingatkan akan nasib anaknya, perempuan itu menunduk. Kemudian terdengar isak tangisnya.
“Kalau aku tahu dari awal, mungkin aku akan ikut mencari anakku. Ia harapanku satu-satunya.”
“Maaf Mas, pikiranku kalut. Aku tidak sempat berfikir bahwa Mas adalah ayahnya. Benar-benar pikiranku buntu. Aku tidak tahu apa yang arus aku perbuat. Tetangga-tetangga yang menyarankan kita tahlilan belum aku jawab. Aku pusing Mas…… “
Sementara itu Pak Dahlan yang melihat seperti ada suasana pencairan ketegangan, merasa gembira. Laki-laki itu menyela pembicaraan.
“Maaf, saya permisi dulu … mau beli rokok!” Kata Pak Dahlan seraya berdiri kemudian tanpa menunggu dijawab, ia telah melangkah keluar meninggalkan Pak dan Bu Rahmat berdua.
“Saya minta maaf Jeng .. . aku menelantarkan anakku.” Kata Pak Rahmat hampir tak terdengar.
“Aku yang minta maaf, aku terlalu egois. Mestinya aku beri Mas kebebasan untuk bergaul dengan siapapun. Belum lama ini Fauzi cerita kalau perempuan yang dulu aku benci ternyata orang gila. Aku terlalu percaya ketika ada yang melaporkan foto Mas dipeluk wanita gila itu.”
“Sudahlah…. semua sudah lewat. Sekarang tinggal bagaimana upaya kita mencari Fauzi. Aku ingin banyak informasi tentang Fauzi….”
“Mungkin sudah takdir Mas. Kata petugas SAR, seluruh ngarai sebelah timur, sekitar jalur pendakian sudah disisir semua. Tak ada tanda-tanda. Pihak berwajib telah mengklaim anak kita hilang, seperti Gagah Pribadi yang hilang di kelebatan hutan gunung Slamet waktu itu.”
“Tapi aku tidak yakin kalau Fauzi meninggal, hilang hingga meninggal. Rasanya Fauzi masih selamat. Tapi tidak tahu yaaaahhh. Aku harus bagaimana dulu.” Kata Pak Rahmat dengan wajah nampak kebingungan.
“Aku buatkan minum Mas.”
“Oh ya terimakasih.”
Bu Rahmat ke belakang. Mata Pak Rahmat mengikuti dari belakang. Laki-laki itu tak menyangka perempuan yang ia cintai pernah galak tak terkendali hingga terjadi perceraian yang sangat di luar dugaan laki-laki. Tapi ia memilih mengalah.
“Ini diminum ….” Kata Bu Rahmat sambil meletakkan kopi di gelas gambar ayam hutan. Gelas khusus dirinya ketika dulu masih bersama. Pak Rahmat mengambil gelas itu, kemudian diseruputnya kopi yang masih mengepul.
“Hmmh…. Kamu masih hafal kesukaanku Jeng.”
“Seingatku Mas. Mestinya sekarang istri Mas juga sudah mengerti kesukaan Mas.”
“Kamu salah duga Jeng, kalau aku mau kawin lagi, tentu kau kukabari. Seberat apapun pasti kukabari…… “
Ketika menjelang dzuhur, Pak Dahlan kembali ke rumah Bu Rahmat. Di tangannya nampak bungkusan kantong keresek.
“Bapak lama sekali, ke mana saja?” Tanya Pak Rahmat.
“Mampir ke kakak di Madukara. Rencananya malah belum mau pulang, tapi ingat Pak Rahmat di sini. Oh ya, Bu, maaf ini ada dawet ayu! Kata Pak Dahlan seraya meletakkan kantong keresek di hadapan Bu Rahmat.
“Untuk bapak saja. Untuk Nur di rumah , di sini tak ada yang makan. Saya sendiri masih tidak enak makan. Kalau tidak karena takut sakit, malah inginnya tidak makan terus….”
“Jangan begitu Buu… ibu harus jaga kesehatan.”
“Insya Allah.”
“Sambil terus berdoa agar Fauzi dilindungi Allah, diselamatkan, dipertemukan kembali dengan  ibu, dengan Pak Rahmat. Biar bisa main ke sana kemari bersama anak saya…”
“Insya Alloh Pak…. Semoga saja.”
Siang itu kedua laki-laki itu meninggalkan rumah Bu Rahmat. Namun ketika sampai di halaman, Pak Rahmat berbalik lagi menemui Bu Rahmat. Pak Dahlan berhenti, kemudian memandangi Pak Rahmat, kemudian menggelengkan kepala.
“Sekali lagi kalau ada apa-apa, informasi tentang Fauzi, cepat kabari aku!” Kata Pak rahmat berbisik.
“Iya.”
“Biarpun aku sedang memasok barang ke Jakarta atau Cirebon, aku pasti akan datang.” Kata pak Rahmat meyakinkan.
“Iya.”
“Besok aku telpon kamu jam delapanan Jeng.”
“Iya.”
“Kok iya, iya melulu! Apa tidak ada kalimat lain?”
“Iya.”
“Astaghfirullah…… aku pamit. Assalaamu’alaikum !”
Perempuan itu dengan segera masuk ketika kedua lelaki itu tidak nampak di halaman. Ketika kembali matanya melihat pada amplop yang tadi ditinggalkan oleh bekas suaminya. Pak Rahmat mengamanatkan kalau memang tetangga-tetangga mendesak memintanya tahlilan untuk mendoakan Fauzi, ikuti saja. Hanya saja sebelum ada kejelasan nasib Fauzi, acaranya jangan tahlilan, tetapi doa bersama agar Allah melindungi anaknya itu.
Sore itu pak Rahmat langsung pulang ke Purwojati. Laki-laki itu hanya titip salam untuk Nurjanah dan istri Pak Dahlan sambil mengucapkan terimakasih atas bantuannya ditemani hingga bertemu bekas istrinya.
“Terimakasih sekali lagi…..”  Kata Pak Rahmat yang sudah siap di bus Kurnia yang akan membawanya langsung ke Purwokerto.
“Sama-sama Pak Rahmat…. Jangan lupa, sering-sering saja hubungi Bu rahmat. Kasihan… benar kasihan. Sudah ditingal suaminya, kini ditinggal anaknya. Bu Rahmat perlu dihibur lhoooo…..”
“Aaah Pak Dahlan memancing-mancing saja!”
“Lhoooo…. Saya serius Pak rahmat. Serius seratus persen!”
“Iya, iya ! Terimakasih atas dukungannya.”
“Benar lho ya?”
“Hahahaa!”
Ketika bus Kurnia yang membawa Pak Rahmat menuju Purwokerto mulai meninggalkan terminal Banjarnegara, pak Dahlan melambaikan tangan. Dari dalam nampak pula Pak Rahmat membalas lambaian tangan. Ketika bis semakin menjauh, Pak Dahlan masih mematung. Hatinya berdoa semoga laki-laki itu kembali kepada bekas istrinya.
Menjelang Ashar, Pak dahlan tiba di rumahnya. Kedatangannya telah dinanti oleh Nurjanah yang kemudian menghambur. Kantong keresek di tangan ayahnya  direbutnya.
“Wuuihhhh! Segar! Dawet Ayu Pak Munarjo!” Teriak Nurjanah ketika tahu isi kantong itu. Gadis itu memang sangat suka dengan dawet ayu Banjarnegara. Biarpun ia orang daerah Banjarnegara asli, tapi rasanya tak bosan-bosan minum dawet ayu. Bisa dibayangkan, tentu orang yang tidak atau belum mengenal dawet ini akan ketagihan ketika mencobanya. Dawet ini adalah dawet tepung beras khas daerah Banjarnegara yang telah tersohor ke mana-mana. Hampir semua kota besar seperti Semarang, Jogja, Cirebon, Bandung dan Jakarta , ada penjual dawet ayu Banjarnegara. Mungkin setenar Soto Kudus, Soto Lamongan , Ayam Goreng Kalasan dan sebagainya.
“Kamu tidak menanyakan Pak Rahmat?”
“Aiih! Lupa yah… gara-gara dawet ini! Mhm…. Benar, bagaimana pertemuan Pak rahmat dengan bekas istrinya yah? Lucu ya? Seperti orang mau PDKT!” Tanya Nurjanah sambil masih meminum dawet ayu.
“Apa itu PDKT?” Pak Dahlan mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti.
“Pendekatan! Pendekataan itu lho…. kalau seorang laki-laki mau mendekati perempuan. Tahap-tahap awal hihihi!”
“Ih dasar kamu Nur! Ini tadi sih bukannya lucu, tetapi serius!”
“Serius? Maksudnya apa?”
“Sepertinya mereka sudah berbaikan.”
“Yang benar Yah?”
“Benar.”
“Nggak bohong nih!”
“Begini, tadinya pembicaraan Pak Rahmat dengan bekas istrinya sepertinya lancar-lancar saja. Makanya, ayahmu ini memilih mengungsi.”
“Mengungsi?”
“Iya, mengungsi. Tadi ayah ke uwakmu di Madukara.”
“Wah! Berarti mereka ditinggal hanya berdua?”
“Iya
“Kan mereka bukan mukhrim. Tidak boleh ditinggal berdua-duaan begitu. Nanti yang ketiganya setan datang lho pak!”
“Tidak, ayah yakin tidak akan datang seruan setan. Kalau ABG iya, gawat! Darahnya masih muda, mudah bergelora! Pengaruh setan mudah menempel! “
 “Ayah pengalaman ya ?”
“Hus! Yang ABG itu kamu Nuur! Kok malah ayah! Kamu ini kan sedang jadi ABG! Ya kamu lah yang sekarang hati-hati, kalau bergaul harus dipertimbangkan baik buruknya. Tempat bertemu dipertimbangkan, memberi peluang setan untuk masuk apa tidak…… paham?”
“Huuuu kok jadi ke saya.’”
“Ah enggak! Kamu kan putri ayah yang shalihah! Benteng keimanan kamu kuat kok!”
“Uh ayah bisa saja!”
“Eh, bener Nur, ayah bangga. Biarpun kamu seorang wanita, tetapi jiwa kepemimpinanmu nampak.” Ayahnya melanjutkan memuji anaknya.
“Hmh”
“Menjadi ketua Muhipala!”
“Dan gagal!”
“Kau tidak gagal Nur…”
“Andai saja Bu Rahmat tidak pasrah, maka buntut peristiwa ini akan panjang. Aku sebagai ketua Muhipala pasti akan dimintai keterangan polisi. Mungkin dengan tuduhan membunuh dan sebagainya.”
“Aaah sudahlah Nur jangan ngaco kamu!”
“Akan menyeret Pak Jumantoro selaku pembina Muhipala. Sekolah terbawa-bawa….”
“Sudahlah Nuur, yang penting Bu Rahmat sudah mau menerima takdir ini. Pak Rahmat juga. Mudah-mudahan atas kesabarannya menerima kenyataan ini, beliau berdua mendapatkan rahmat dari Allah.”
Nurjanah mengamini. Gadis itu mengamini dengan sepenuh hati. Ia tidak mau memungkiri, setiap doa yang ia panjatkan menyangkut keluarga Fauzi, ia selalu sungguh-sungguh dan sangat khusyu. Bagaimanapun juga, gadis itu tidak dapat begitu saja membuang perasaan bersalah dalam waktu yang singkat, walaupun nasehat sudah datang dari banyak orang agar jangan menyalahkan diri.
* * *
Suatu siang, ketika Nurjanah pulang sekolah, mendapat kiriman SMS dari Pak rahmat :
Tolong sampaikan ke ayahmu, Pak Rahmat mau numpang menginap besok. Kali ini boleh tidak harus boleh. Hahaha! Dan tolong katakan kepada ayahmu, agar jangan ke mana-mana. Trimakasih”
Nurjanah tak habis pikir. Ayah Fauzi seperti mengancam. Tetapi ketika ingat bahwa Pak rahmat orangnya suka bercanda, maka iapun menduga bahwa semuanya adalah canda. Ketika SMS diperlihatkan kepada ayahnya, ayahnya malah tertawa terbahak-bahak.
“Kok ayah tertawa?”
“Ya tertawa …. Permintaan Pak Rahmat serius, tapi dalam SMS ada hahahanya!”
“Ada keperluan apa Yah? Bukankah urusan tahlil atau mendoakan Fauzi sudah ditangani Bu Rahmat. Apa urusannya dengan kita?”
“Kita ini orang penting! Hahahaaa!”
Benar juga, hari berikutnya menjelang maghrib Pak Rahmat benar-benar datang. Malamnya laki-lai itu ngobrol panjang lebar dengan ayah Nurjanah. Nurjanah sebenarnya sangat ingin ikut dalam obrolan itu, tetapi karena tidak dipanggil, maka ia tak bisa berbuat apa-apa. Namun di luar sepengetahuan kedua orang tua dan tamunya, gadis itu ikut menguping pembicaraan.
Di balik gordyn Nurjanah duduk di kursi plastik tak terlalu jauh dari ruang tamu. Setiap kali pembicaraan sampai ke hal-hal lucu, ketiganya tertawa, namun Nurnajah menjadi kesal. Namun rasa penasaran itu menjadi ketegangan yang sungguh-sungguh ketika Pak Rahmat memperkecil suaranya dan berbicara serius. Jantung Nurjanah berdegup cepat.
“Begini …. Pak dan Bu Dahlan sudah saya anggap saudara sendiri. Jadi, kepada siapa lagi saya harus minta tolong, mohon bantuan kepada bapak dan ibu.”
“Ah sudahlah Pak…. Jangan diungkapkan masalah itu. Kalau memang kami bisa membantu Pak Rahmat, kenapa tidak.”
“Terimakasih sebelumnya Pak, dan juga Ibu. Emm saya mau minta tolong, besok menemani saya ke rumah Bu Muniroh.”
“Bilang saja ke rumah Bu Rahmat ….. hihihi…”
“Ya, ke rumah Bu Rahmat … tapi kok jadi lucu. Pak Rahmat mau ke rumah Bu rahmat minta ditemani….. tapi sudahlah…..  Pak Dahlan sekalian, saya sudah memutuskan untuk kembali, rujuk dengan bekas istri sayaaa.” Kata Pak Rahmat hampir tak terdengar.
“Alhamdulillaaaahhhh……..” Pak Dahlan dan istrinya mengucap syukur bersamaan. Nampak Bu Dahlan menyeka air matanya yang menitik karena terharu.
Sementara itu di balik gordyn, jantung Nurjanah serasa berhenti. Tak terasa ada air mata bening menyusuri pipinya. Gadis itu berlari ke kamar. Ia mengambil dan memakai mukena. Sejurus kemudian gadis itu telah bersujud syukur di hamparan sajadah. Air matanya semakin deras menyambut kebahagiaan hatinya.
“Andai saja kau masih ada Fauzi , andai  saja  masih ada …. occhh…. Fauziii……. Be..beta…betapa bahagianya kamu Fauzi….. “ Gumam Nurjanah dalam tangisnya.***


(Bersambung)





























Sabtu, 03 Oktober 2015

Terbaru 2020 -

Blog Pendidikan



3. SENDAINYA FAUZI MASIH ADA ,  NUR !

N
urjanah semakin cemas . Sudah dua hari penyisiran dilakukan oleh Tim SAR  dan para relawan, baik yang datang atas nama pribadi atau atas nama LSM. Hasilnya masih nol. Kecemasan hati gadis itu semakin dalam ketika pihak yang berwajib menyatakan akan membuat menentukan deadline. Jika dua hari lagi Fauzi tidak ditemukan, maka Fauzi dinyatakan hilang dan pencarian aka dihentikan.
Dua hari merupakan hari yang sangat menyiksa Nurjanah. Kadang-kadang air matanya tak bisa dibendung ketika ia baca berita-berita di media massa tentang hilangnya Fauzi. Ia benar-benar merasa menyesal. Dialah yang terakhir bertemu Fauzi ketika akan kembali dari pendakian. Gadis itu menjambak-jambak rambutnya sendiri.
Hhhhh! Tololnya aku! Sering ia menyembunyikan wajahnya di bawah bantal ketika  ingat kejadian terakhir di puncak Sumbing. 
Ya Allah !….. kenapa aku memaki-maki diriku sendiri. Memang aku ini ketua Muhipala, tapi apakah tanggung jawabku harus seberat ini jika memang Fauzi tidak kembali ? Toh seandainya Fauzi benar-benar hilang, maka bukankah itu sudah taqdir-Mu Ya Allah. Gumam hatinya menghibur diri. Jika sudah demikian barulah kegelisahan Nurjanah berangsur hilang.
Dua hari telah berlalu. Penyisiran benar-benar dihentikan. Fauzi dinyatakan hilang.
Nurjanah menangis sejadi-jadinya di kamarnya. Ibunya yang selama ini memperhatikan tingkah putrinya masuk. Rambut putri kesayangannya itu dibelainya.
“Nur …. sudahlah. Bu Rahmat saja telah mengikhlaskan Fauzi, mengapa kamu seperti ini. Bukankah ini tidak adil. Bu Rahmat ibu kandungnya. Cobalah kau belajar dari sikap beliau, kebesaran dan ketawakkalan beliau. Beliau menyadari, bahwa Fauzi adalah milik-Nya. Maka jika Allah menghendaki, ya sudah …. cobalah kau banyak belajar dari kisah Nabi Ibrohim. Seberapa sayangnya Nabi Ibrohim kepada Nabi Ismail? Toh ketika yang punya hak atas manusia, yaitu Allah, mengambil yang kita cintai … bukankah kita tidak bisa berbuat apa-apa?”
“Tapi kenapa semua harus lantaran Nur bu? Kenapa Nur yang harus dipertemukan dan berdialog terakhir dengan Fauzi? Kenapa waktu
itu Nur tidak mau memaksa Fauzi untuk turun bersama-sama. Nur tahu, Fauzi sedang sakit waktu itu … “
Ibu Nurjanah tak bisa berkomentar lebih banyak , sebab dari luar ayah Nurjanah memanggilnya. Ketika ibunya akn ke luar kamar, Nurjanah menggamit tangan ibunya.
“Ada apa?” tanya ibunya sambil mengernyitkan dahi.
“Salahkah Nur jika Nur menghubungi ayah Fauzi?”
“Hmh….. “ Ibu Nurjanah tidak segera menjawab.
“Mungkin ibunya sudah menghubungi.”
“Tapi mungkin juga tidak kan Bu, beliau berdua sudah bercerai. Mungkin Bu Rahmat tak mau lagi berhubungan dengan bekas suaminya itu.”
“Yah.. mungkin saja…. tapi, cobalah saja kau hubungi. Kau punya nomor teleponnya?”
“Ada Bu….”
Sepeninggal ibunya, Nurjanah mengambil diary . Di bagian depan terdapat catatan nomor-nomor telepon siapa saja yang ia kenal dan merasa suatu saat dibutuhkan. Ketika nomor Pak Rahmat, ayah Fauzi, telah diperoleh, gadis itu mengirim SMS. Itupun untung-untungan. Siapa tahu setelah satu tahun keluarga Fauzi pecah, nomornya telah diganti. Tapi mungkin juga tidak. Gadis itu segera menulis SMS :
Bapak, saya Nurjanah, teman Fauzi di SMA Muhiba. Saya mengabarkan bahwa sudah seminggu ini Fauzi hilang pada saat pendakian gunung Sumbing. Pihak berwajib telah menghentikan pencarian. Mohon maaf jika pemberitahuan ini mengganggu Bapak. Nurjanah, Bawang-Banjarnegara.”
SMS telah terkirim. Hati Nurjanah berdebar-debar. Semoga nomor Pak Rahmat belum berubah. Semoga Pak Rahmat mau membalas SMS-nya.
Ring! Lala! Lala!
Nada dering SMS HP-Nurjanah berbunyi. Dengan serta merta ia angkat HP. Hatinya kecewa ketika SMS itu datang dari Lestari, bukan dari Pak Rahmat.
“Nur, nanti malam jam 7 kamu datang ke rumahku. Harus datang. Teman-temanmu yang lain , Darto, Mayang Cs juga kuundang.”
Seperti diingatkan, sudah seharian ini nama Lestari tidak diingatnya. Nurjanah teringat ketika Lestari histeris mendengar hilangnya Fauzi. Sejak saat itu Lestari hampir tidak pernah berbicara kepada siapapun. Nurjanah tahu, Lestari menaruh hati terhadap Fauzi. Kedekatan Fauzi dengan Lestari memang belum terlalu lama, ibaratnya sedang semangat-semangatnya kini harus berpisah dengan paksa. Ketika kasus hilangnya Fauzi sebagai  anggota Muhipala, tentu saja gadis itu menyalahkan Nurjanah sebagai ketua Muhipala. Bahkan dua hari yang lalu Lestari sempat memaki-maki Nurjanah dengan mengatakan sebagai ketua yang tidak bertanggung jawab. Nurjanah mencoba tidak menanggapi makian Lestari. Ia maklum. Dan memang ia sendiri memang merasa bersalah.
Jadi, Nurjanah bertanya-tanya ketika Lestari mengundangnya nanti malam. Dan mengapa pula yang disebut Darto dan Mayang Cs, itu artinya anggota Muhipala. Ada apa dengan Muhipala?
Ring! Lala! Lala!
Nurjanah kaget. Nada dering SMS-nya berbunyi. Dengan segera ia buka kiriman pesan itu. Pak Rahmat! Alhamdulillaaaah! Gumam Nurjanah dengan mata berbinar-binar.
“Terima kasih atas pemberitahuannya. Semoga anakku dalam lindungan Allah. Bapak akan ke Banjar besok. Kamu tahu sendiri keadaan Bapak dan ibunya Fauzi kan? Jadi, tolong , bapak akan singgah ke rumahmu, ke  rumah bapakmu. Bukankah kau putrinya Pak Dahlan ?”
Nurjanah berlari keluar kamar mencari orang tuanya.
“Yah! Ayah kenal dengan Pak Rahmat?”
“Bapaknya Fauzi? Kenal.. tapi tidak terlalu. Dulu, kebetulan ketika ada undangan orang tua siswa, bapak duduk bersebelahan dengan Pak Rahmat. Memang beberapa kali ketemu juga di jalan. Bapak justru lebih mengenal Fauzi , sebab dia sering main ke sini. Enggg…sepertinya Fauzi simpati padamu Nur… hahahaaa!” Ayah Nurjanah tertawa terbahak-bahak. Ibunya ikut tertawa. Hanya Nurjanah yang cemberut.
“Simpati apaan! Ayah bisa saja mengarang!”
“Hahaaa.. ya… ya…. sudah, sudah! Ada apa dengan Pak Rahmat? Kata ibumu kamu sudah menghubungi Pak Rahmat?”
“Sudah! Nur kirim SMS. Nih…. Pak Rahmat sudah membalas, hanya karena beliau sudah bercerai dengan Bu Rahmat, maka mungkin agak malu. Makanya besok katanya mau ke Banjar, tapi singgahnya di sini. Boleh kan Yah?” kata Nurjanah seraya menyorongkan HP agar ayahnya ikut membacanya.
“Boleh.. boleh. Besok ayah ada. Biar kakakmu yang latihan jaga barang di pasar.”
“Terimaksih Yah!” kata Nurjanah sambil berlari kembali ke kamar dengan wajah riang. Kedua orang tua Nurjanah hanya saling pandang. Kemudian keduanya tersenyum.
Malam hari sekitar pukul 19.00 malam.
Nurjanah dan teman-temannya gelisah. Sudah lima menit Lestari belum muncul. Kata pembantunya sedang ganti baju. Jari-jari Nurjanah mengais-ngais karpet merah yang terhampar. Semua temannya tegang. Tak ada canda seperti biasanya ketika anggota Muhipala berkumpul. Penuh tawa.
“Kenapa sepi?” tiba-tiba terdengar suara kecil. Namun sanggup mengagetkan Nurjanah dan teman-temannya.
“Oooo Tari….. kamu sehat?” tanya Nurjanah seraya bangkit kemudian memeluk Lestari. Lestari membalas pelukan Nurjanah. Keduanya berpelukan erat.
“Saya sehat Nur… maafkan saya tempo hari.” kata Lestari dekat telinga Nurjanah.
“Tidak apa-apa Tari… saya paham, pikiranmu sedang kalut.” kata Nurjanah seraya melepaskan pelukan. Nurjanah memegangi kedua pundak Lestari. Kedua gadis itu berpandangan. Lestari menitikkan air mata, entah kenapa. Demi melihat air mata bening mengalir di pipi Lestari, mata Nurjanah terasa panas. Gadis itupun menitikkan air mata. Keduanya berpelukan. Teman-teman Nurjanah yang lain hanya bisa diam. Ketika suasana sudah agak mencair, Lestari mendekati Mayang. Gadis itupun dipeluknya sebentar. Kemudian teman-teman laki-laki disalaminya. Ketika Lestari hampir selesai menyalami teman-temannya, kedua orang tua Lestari muncul. Serentak mereka berebutan untuk menyalami sambil mencium tangan kedua orang tua Lestari.
“Malam ini, saya akan pergi ke rumah Pak Murad. Atasan Bapak. Nanti anak-anak semua makan kue-kue yang ada sesukanya, kalau suka. Hahahaha! Sekenyangnya, Tari akan menemani.”
“Bapak, biar bapak sampaikan sekarang saja maksud kita mengundang mereka. Biar nanti enak…. .” pinta Lestari. Ayah Lestari tertegun sejenak. Namun kemudian menyetujui permintaan putrinya.
“Begini anak-anak. Bapak tahu, kalian semua adalah sahabat Lestari yang bapak kenal. Termasuk Fauzi yang saat ini masih hilang…” semua terdiam. Suasana terasa mencekam ketika ayah Lestari menyebut nama Fauzi.
“Barangkali ini kesempatan terakhir bagi Lestari, anak Bapak, juga kami, orang tua Lestari, untuk minta maaf barangkali ada kesalahan pada anak-anak sekalian.”
“Sssst ada apa nih?” Mayang berbisik seraya menyikut pinggang Nurjanah .
“Tak tahu…. “
“Sebentar lagi kami, akan meninggalkan kota Banjarnegara.”
“Och!” Nurjanah kaget. Gadis itu menutup mulutnya dengan tangannya.
“Selaku anggota TNI, Bapak tak dapat menolak tugas. Keluarga juga harus ikut. Bapak ditugaskan di tempat baru di Kalimantan Barat, tepatnya di kota Sintang.”
Suasana mencekam. Nurjanah tertunduk. Gadis itu menitikkan air mata. Lestari juga demikian. Di tengah-tengah keheningan terdengar tangis terisak-isak. Ya , Lestari tak kuasa menahan tangisnya. Ayah Lestari diam. Diliriknya putrinya yang menangis terisak-isak.
“Begini anak-anak, maukah kalian memaafkan Lestari?”
“Ya pak, kami mau. Tetapi sebenarnya Lestari tak pernah berbuat kesalahan apa-apa dengan kami.”
“Kadang manusia berkuat kesalahan yang tidak disadari Nak.”
Setelah beberapa saat semua larut dalam suasana haru, kedua orang tua Lestari berpamitan hendak menghadap atasannya. Keduanya berpesan agar mereka segera menikmati hidangan ala kadarnya. Mereka mengiyakan.
Beberapa jenak kemudian anak laki-laki telah berebut kue-kue yang dihidangkan. Sementara itu Lestari memberi isyarat agar Nurjanah mendekat. Gadis itu mendekat.
“Nur, kau ikut ke kamarku ya …. ada yang ingin aku obrolkan denganmu.” kata Lestari memohon. Nurjanah menoleh ke arah Mayang.
“Mayang?”
“Mayang tak usah diajak. Ini hanya obrolan kita berdua.” kata Lestari berbisik. Nurjanah mengangguk. Kemudian ia mendekati Mayang.
“Tari memintaku ke kamarnya sebentar. Kamu tidak ikut ya?”
“Oh, silakan! Aku tidak apa-apa kok! Aku juga tahu, pasti itu masalah kalian berdua, jadi silakan selesaikan. Jangankan sebentar, lama juga tidak apa-apa…”
Setelah minta ijin pada Mayang, Nurjanah mengikuti Lestari ke kamarnya. Keduanya duduk bersila di atas tempat tidur berhadapan.
“Nur… ini saat terakhir kita bicara serius.”
“Ah Tari! Kau bisa membuat aku deg-degan seperti ini!”
“Ini masalah Fauzi.”
“Oooo…. “
“Terus terang saja Nur, aku yakin Fauzi orangnya terbuka. Aku yakin pula jika ada masalah ia akan bercerita kepada siapa saja yang ia percayai. Kamu, Nur, adalah termasuk salah orang yang dipercayai oleh Fauzi.” kata Lestari mantap sambil menatap mata Nurjanah dalam-dalam.
“Ah bisa saja!” Nurjanah tersipu disanjung seperti itu.
“Aku yakin Fauzi bercerita tentang bunga edelweis kepadamu … “ kata Lestari mantap. Nurjanah mendesah. Bibirnya terkatub rapat.
“Iya.”
“Nur, sebelum Fauzi berangkat mendaki, aku sempat ribut dengannya.”
“Hmh.”
“Aku minta diambilkan bunga edelweis … bunga lambang keabadian.”
“Hmh.”
“Kau tahu apa yang dikatakan Fauzi padaku?” tanya Lestari seraya mendekap bantal.
“Fauzi menolak.” kata Nurjanah datar.
“Persis. Ya seperti itulah. Ia malah tawarkan anggrek atau apa kemarin dulu itu, emm ya, bunga melati katanya. Tapi aku tidak mau. Aku inginkan edelweis.”
“Terus?”
“Ia belum sempat berkomentar, aku keburu ngambek dan pergi . Aku kesal Nur. Aku sebenarnya hanya ingin menguji kesungguhan persahabatannya denganku. Terus terang aku menyukai Fauzi. Mungkin bahkan lebih dari sekedar suka. Cinta atau apalah, aku tak tahu. Tapi memang aku suka Fauzi.”
“Tapi kau menempatkan ujian yang sangat sulit baginya. Ia bingung. Fauzi , setahuku, juga menyukaimu Tari…. tapi sebagai anggota Muhipala, ia terdidik nuraninya untuk mencintai alama secara hakiki. Bukan mencintai hanya dengan simbol lembaga atau organisasi pecinta alam. Menurut penilaianku, Fauzi merupakan kader pecinta alam sejati. Aku tahu selama ini ia termasuk katagori itu. Kini aku tidak tahu apa yang diputuskan Fauzi.” kata Nurjanah panjang lebar. Kemudian terhenti. Gadis itu berpikir sesuatu.
“Sempatkah di puncak ia memetik edelweis Nur?”
“Seingatku tidak. Saya hanya melihat ketegangan di wajahnya ketika di hadapannya tersebar batang-batang edelweis. Yah, seingatku ia tidak memetik edelweis.”
“Mungkin ia lebih mencintai edelweis , dengan cara tidak menyakiti edelweis itu.”
“Ya, benar! Begitulah, kalau kita mencintai sesuatu, kita memang tidak boleh menyakiti apa yang kita cintai. Tetapi untuk Fauzi sendiri, aku tidak tahu sepeninggalku apa yang Fauzi lakukan. Fauzi adalah orang terakhir yang turun gunung. Mungkin di tengah kesendirian, ia memutuskan untuk memetik edelweis untukmu. ” kata Nurjanah semangat. Lestari tersenyum.
“Kamu hanya berandai-andai kan Nur?”
“Aku bahkan sempat memaksanya untuk memetik demi kau Tari.”
“Tidak Nur , biarkan Fauzi melakukan keputusannya sendiri  . Sehingga aku bisa menyimpulkan sikap Fauzi kepadaku. Aku kadang meragukan kesungguhan perhatian  Fauzi kepadaku . Apa memang dia tidak sungguh-sungguh ya?” tanya Lestari sambil memainkan jemarinya ke bantal yang didekapnya.
“Aku tidak tahu Tari.”
“Nur, kamu jangan marah ya… aku mau bertanya sesuatu….” kali ini kata-kata membuat jantung Nurjanah berdebar.
“Tentang apa?”
“Fauzi suka sama kamu Nur… kau tahu itu bukan ?” tanya Lestari pelan tetapi membuat wajah Nurjanah memerah.
“Ngaco kamu Tari!”
“Aku kadang-kadang cemburu Nur, sering dalam pembicaraan apa saja, ia mengambil contoh tindakan, atau perkataanmu. Kamu bagi Fauzi seperti panutan. Fauzi adalah pengagummu.” kata Lestari sambil tersenyum. Nurjanah menghela nafas.
“Tari… , Fauzi seperti itu karena aku adalah ketua Muhipala. Kalau bukan ketua mana mungkin apa yang aku omongkan akan diturutnya. Fauzi itu orangnya agak-agak tinggi hati. Ia merasa tidak terlalu perlu untuk mendengar teman yang satu level. Tapi untuk para senior, katakanlah atasan hahaha! Ia sangat patuh.”
“Sampai sejauh itu perhatianmu terhadap sifat Fauzi Nur.”
“Ah tidak juga kok! Karena sering bersama-sama, jadi mungkin lebih sedikt tahu. Tari, di Muhipala itu, selain kegiatannya bersifat rekreatif, juga kami memupuk ketajaman pikiran kami di dalam mengamati perilaku lingkungan. Tanggap ing sasmita. Teruji intuisinya untuk merespon tanda-tanda segala hal, atau sasmita itu!”
“Omonganmu dalam sekali Nur. Saya salut!”
“Ah jangan berlebihan Tari. Jadi malu aku…..”
Untuk beberapa saat keduanya diam. Keduanya tertunduk. Namun pikirannya berkecamuk. Nurjanah tidak mau mendahului Lestari. Ia menunggu hingga Lestari berkata atau mengajak apa lagi.
“Sejak peristiwa hilangnya Fauzi, aku tidak sempat datang ke rumah Bu Rahmat.”
“Ya tidak apa-apa.”
“Aku sebenarnya malu Nur . Jika aku datang, mau ngomong apa. Aku tidak terbiasa ngobrol dengan orang tua. “
“Tari, saya pikir kedatangan orang tuamu ke rumah Bu Rahmat waktu itu cukup mewakili. Bu Rahmat tahu kau masih shock. Bahkan secara bercanda, Bu Rahmat berterima kasih atas ungkapan perhatianmu itu.”
“Perhatian yang mana?”
“Ya shock itu hahahaa! Shock kan berarti kau kehilangan Fauzi kan?” kata Nurjanah sambil tertawa. Lestari tersipu-sipu.
“Ih! Dasar kamu!”
“Sudahlah Tari…. “
“Tapi Fauzi sekarang sudah tidak ada. Nur, seandainya Fauzi adapun, rasanya aku tetap tidak bisa melanjutkan hubungan dengannya. Kau tahu, aku harus ikut keluargaku ke Kalimantan. Iya kan? Kita masih terlalu kecil untuk menjalin hubungan yang lebih jauh, menikah misalnya .  Kita masih duduk di SMA. Kita bukan mahasiswa Nur….” kata Lestari lirih.
“Sudahlah Tari ….  “
“Seandainya Fauzi ada, aku lebih senang Fauzi menyukaimu Nur, simpati kepadamu, mencintaimu ….. terus… terus…. hubungan kalian dilanjutkan ke …. “
“Sssst! Sudah! Sudah! Katanya kita masih terlalu kecil, jangan bicara seperti itu ah!”
Lestari menggelengkan kepala. Tak ada suara lagi. Nurjanah mendesah ***

(Bersambung)




Kamis, 01 Oktober 2015

Terbaru 2020 -

Blog Pendidikan


.

   2. TERDAMPAR DI SEMANDING                                   
Jam sembilan pagi . Kecemasan menggelayut di wajah  
2. TERDAMPAR DI SEMANDING                                           Jam sembilan pagi . Kecemasan menggelayut di wajah Nurjanah beserta seluruh anggota Muhipala yang lain. Saatini mereka berada di Polsek Parakan melaporkan bahwa salah seorang anggota pendakian belum juga muncul.
“Salah kamu Nur ! Kamu sudah tahu Fauzi sakit, kamu malah meninggalkannya!” Hujat Darto seraya memandang tajam ke arah ketua Muhipala itu.
“Memang aku salah, tapi Fauzi sendiri yang menyuruhku meninggalkan, alasannya ia tak mau diremehkan kemampuannya. Aku tadinya yakin Fauzi punya motivasi , aku tidak sempat berhitung sampai ke hal-hal yang paling pahit…. apalagi dia laki-laki To, Fauzi sebenarnya merasa bahwa secara psikologis ia berada di atas diriku. Aku sadari itu, makanya ketika ia menyuruhku duluan, aku tak berani memaksanya.”
“Kamu kan bisa memaksanya dengan penuh kasih sayang….” celutuk  Mayang.
“Kamu ini ngomong apa sih?” Nurjanah ketus. Dipandanginya Mayang dengan sinar mata tidak senang.
“Hanya bercanda Nur.” Mayang tersenyum kecut sambil membuang muka ke arah lain.
“Sudahlah, kita tunggu sampai jam dua belas siang. Kalau sampai jam dua belas siang belum ada, polisi dan aparat desa sekitar akan mencoba menyisir jalur pendakian mencari
Fauzi. Darto, Farid pulang ke Banjar, beritahu ibu Fauzi. Aku , Mayang dan yang lain  di sini dulu.” Nurjanah membagi tugas.
“Kata Fauzi, kemarin ibunya ke Bandung.”
“Kau hubungi lewat telpon, atau HP ibu Fauzi.”
“Telpon ke HP ibu Fauzi ? Memangnya nomor berapa sih?”
“Huuuh! Kamu itu lulus SD nggak sih? Pakai akal dong! Kamu bisa hubungi Lestari, dia punya HP keluarganya Fauzi, paham?” Nurjanah kesal .
“Ngomong dari tadi kek !”
“Kak-kek, kak-kek, ini masalah gawat , cepat berangkat. Sampai di Banjar tunggu aku sampai jam dua belas siang, nanti kukabari. Kalau kabar yang paling pahit, kau langsung hubungi ibunya , syukur kalau nanti Fauzi muncul. Paham ?”
“Paham Nur, aku sudah lulus SD !”
“Aaah.. sudahlah, dasar ! Sudah , sana berangkat!”
Sepeninggal Darto dan Farid anggota yang lain lebih banyak diam. Wajah-wajah mereka yang kotor nampak semakin kuyu. Sementara itu nampaknya aparat kepolisian mulai sibuk mempersiapkan diri termasuk menghubungi markas Team SAR di Temanggung.
***
Deadline jam dua belas siang.
Darto dan Farid belum pulang ke rumah. Kedua anak tersebut kini berada di sekolah. Karena suasana memang masih liburan maka di sana tak ada siapa-siapa kecuali Pak Daman penjaga sekolah. Kedua anak itu sengaja tak memberi tahu perihal Fauzi, sebab tidak ingin suasana kalang kabut, padahal belum tentu keadaan Fauzi.
Darto menimang-nimang HP-nya menunggu kabar dari Nurjanah. Hati keduanya kaget ketika HP berdering. Panggilan dari Nurjanah.
“Gimana Nur? Fauzi pulang?” tanya Darto penuh harap. Ketika terdengar jawaban dari Nurjanah wajah Darto kelihatan cemas.
“Fauzi pulang To?” sela Farid.
“Enggak! Kita harus segera ke rumah Tari !”
Keduanya bergegas ke tempat Lestari meminjam sepeda motor Pak Daman. Beberapa menit keduanya sampai di halaman rumah Lestari . Kebetulan Lestari sedang membaca di teras. Kedatangan keduanya membuat gadis itu menoleh kemudian menghambur ke arah Darto dan Farid.
“Waaaaahhhh.. para pendaki sudah pulang nih?” sambut Lestari dengan wajah ceria.
“Tari….  kamu punya nomor HP ibunya Fauzi kan?”
“Heh? Nomor HP ibu Fauzi? Memangnya ada apa?” wajah Lestari berubah cemas. Hatinya menangkap ada gelagat buruk atas kedatangan kedua temannya itu.
“Iya, ibunya Fauzi kan pergi ke Bandung, makanya aku tanya nomor HP ibunya Fauzi, Nurjanah bilang kamu punya nomornya?” kata Darto.
“Iya punya tapi ada apa ini? Fauzi? Fauzi kenapa?” wajah Lestari semakin menampakkan kepanikan.
“Tariii…. nanti kujelaskan, sekarang aku minta nomor ibu Fauzi, syukur kau telpon pakai telpon rumah saja.”
“Tooo ! Fauzi kenapa?” tanya Lestari sambil mengguncang-guncang pundak Darto. Darto diam sambil menghela nafas dalam. Sementara dari kedua mata Lestari mulai nampak berlinang air mata.
“Fauzi belum pulang……” kata Darto hampir tak terdengar.
“Apa?!” Lestari berteriak.
“Iya, Fauzi belum pulang. Sekarang polisi Polsek Parakan dan Tim SAR sedang melakukan penyisiran kembali.”
“Oooocchhhh……Uzii….” wajah Lestari pucat. Lutut gadis itu tak kuasa menahan berat tubuhnya.
“Kenapa kau Tari ? Tari?“ dari dalam muncul kedua orang tua Lestari. Gadis itu dipapahnya masuk. Kemudian dibaringkan di atas sofa.
“Kamu …emmm .. siapa ya ? Darman? Eh Darman!”
“Darto Pak! Ini teman saya, juga teman Lestari. Farid.”
“Kamu habis mendaki Sumbing kan ?”
“Benar Pak.”
“Ooooo…. terus apa hubungannya dengan Lestari?”
“Maaf pak, sebenarnya kedatangan kami ke sini hanya mau minta nomor telpon HP ibunya Fauzi, karena beliau sedang bepergian ke Bandung.”
“Ooooo… ibunya Fauzi? Bu Rahmat?”
“Tapi tadi malah Tari yang mendahului menanyai kami berdua, ya akhirnya saya katakan yang sebenarnya.” Darto menjelaskan.
“Sebenarnya ada berita apa?”
“Fauzi belum pulang, maksud saya, Fauzi belum turun dari pendakian.”
“Waaah…. Kenapa bisa begitu?”
“Tidak tahu pak, mestinya rombongan harus sudah sampai di pos pertama jam 7 pagi, tetapi sampai sekarang saya dikabari belum juga datang. Sekarang polisi dan aparat desa terdekat pos pertama tengah melakukan penyisiran ke jalur pendakian. Tetapi harapan kami mudah-mudahan Fauzi tidak hilang.”
“Waah…. gawat, Bu Rahmat harus segera tahu.” ayah Lestari bergegas ke dalam untuk menghubungi ibu Fauzi. Hingga setelah beberapa jenak lama ayah Lestari kembali ke ruang tamu.
“Tari biar istirahat di ruang tengah Bu … “
“Iya.”
“Em begini Nak Darto, Nak Farid. Ibu Fauzi sudah saya hubungi. Katanya akan segera kembali.”
“Terus bagaimana urusan Lestari , Yah?” tanya ibunya Lestari cemas.
“Tidak apa-apa, hanya kaget . Maklum, Fauzi kan teman dekat anak kita Bu . Biar Tari istirahat saja dulu, sekarang juga saya akan hubungi Kepala Sekolah dan yang lain.”
Siang itu juga berita belum pulangnya Fauzi segera menyebar ke seluruh Banjarnegara. Para tetangga berkumpul di rumah Fauzi menanti kedatangan Bu Rahmat. Sementara itu Mbok Mirwan, pembantu di rumah Fauzi dari tadi menangis tersedu-sedu.
*  *  *
            Di tempat lain.
Waktu menjelang dzuhur, tetapi suasana teduh. Kabut tebal menyelimuti pepohonan. Angin bertiup semilir . Di belahan sebelah barat gunung Sumbing, sebuah lembah yang cukup dalam memanjang ke arah barat. Di sebelah utara lembah terdapat desa Bowongso. Di sebelah selatan terdapat desa Lamuk. Lembah inilah yang oleh penduduk disebut Jurang Grawah .
Di lembah jurang grawah yang nampak lebih temaram . Suasana temaran ditambah dengan semak belukar liar, menambah pemandangan yang menakutkan. Binatang-binatang kecil atau ular berbisa mungkin masih banyak bersembunyi di situ. Sementara itu di tengah cekungan lembah terdapat sungai yang airnya sangat jernih . Bebatuan kecil dan sedang terdapat di situ. Suara gemericik aliran airnya terdengar berirama.
Aaagghh….! Terdengar sebuah desahan kecil dari mulut yang menyeringai. Mukanya penuh carut marut goresan duri dan belukar. Tak lama kemudian mata yang kuyu itu berkedip-kedip. Yang terlihat olehnya pertama-tama adalah semak belukar. Kemudian ia melihat aliran sungai kecil yang mengalir gemericik. Fauzi tengadah . Ia dapat melihat langit, tetapi itu berada di antara dua buah tebing yang tinggi.
“Aku? Aku ? Bukankah ini puncak Sumbing?” tanyanya pada diri sendiri. Ia melihat jemari tangannya yang terbungkus kaos tangan tebal. Kini ia raba bagian wajah yang terasa perih. Goresan-goresan belukar dan duri meninggalkan darah-darah kering . Bibirnya meringis.
“Bukankah aku Fauzi? Ya, aku ingat …. aku ingat ,  Ya Allah… atas nama kebesaran kuasaMu, aku masih hidup ya Allah! Alhamdulillaaah….. aku masih kau sempatkan hidup . ” gumam Fauzi. Air matanya meleleh membasahi pipi. Bersamaan dengan itu  ingatannya pulih kembali . Fauzi ingat ketika mulai mendaki. Ketika sampai di puncak, ketika turun. Ketika muntah-muntah. Benar, ia hanya ingat sampai itu. Selebihnya tidak.
Ketika ia sulit untuk menghubungkan keadaan sekarang dengan saat pendakian, ia bingung. Dihelanya nafas dalam-dalam. Badannya terasa remuk. Fauzi memandangi gemericik air . Kerongkongan terasa kering. Ia berusaha menjangkau aliran air itu.
Aucchhhh…..!
Bibirnya meringis. Fauzi memegangi bagian tumit kanannya dekat mata kaki. Rupanya kakinya terkilir. Namun ia tetap berusaha menggapai aliran air yang bening itu. Dengan susah payah akhirnya Fauzi dapat menggapai air itu. Dengan menunduk ia sorongkan mukanya ke air yang bening. Semula ia kaget dengan rasa air yang teramat dingin. Namun ia paksakan minum lumayan banyak hingga perutnya merasa kenyang.
Setelah minum badannya terasa segar. Pikirannya terus berputar mencari tahu posisi dirinya dibandingkan ketika dirinya menuruni puncak Sumbing. Beberapa jenak ia mencoba mengira-ngira, tetapi tidak berhasil. Tapi ada juga pikiran bahwa ia tersesat atau terperosok ke jurang . Ia raba ransel yang masih menempel di punggungnya. Benda itu diturunkan. Tangannya meraba ke dalam ransel, kemudian ia keluarkan kantong  keresek. Benda berbunyi gemerisik itu dibukanya. Isinya diambil.
Edelweis…..!
Gumamnya ketika matanya melihat bunga-bunga edelweis. Mulut Fauzi terkatup. Kepalanya digeleng-gelengkan. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa benci kepada dirinya sendiri. Ia geram. Ia merasa sangat bodoh, bahkan mungkin sangat bodoh dengan mengambil bunga-bunga edelweis. Tetapi ketika ia ingat Lestari yang meminta, hatinya sedikit terhibur. Namun hati kecilnya mengatakan, justru permintaan Lestari adalah ujian bagi seorang anggota pecinta alam.
“Aku gagal! Gagaaaal!” tanpa sadar Fauzi berteriak. Kantong keresek berisi edelweis pesanan Lestari ia lempar. Namun ketika beberapa jenak ia tertegun, ia merangkak mengambil barang itu kembali. Keresek berisi edelweis kembali ia masukkan ke dalam ransel.
Allahu Akbar! Allaaahu Akbar!
Fauzi terhenyak. Di ketemaraman kabut dan kesendirian di semak belukar, telinganya menangkap sayup-sayup suara adzan. Ia heran. Ia berfikir bahwa itu hanya halusinasinya. Tetapi ketika kumandang itu berlanjut, ia yakin bahwa itu bukan halusinasi.
“Berarti tempat ini tidak terlalu jauh dari pemukiman….. “ pikirnya .
Berhitung seperti itu, dengan susah payah ia beranjak dari tempatnya. Kakinya yang sakit terkilir ia lawan dengan semangat keinginan sampai ke pemukiman penduduk. Sejenak ia basuh mukanya. Ia mengambil air wudhu sedapatnya. Hanya membasuh muka dan telapak tangan. Ketika selesai keyakinannya berwudhu, ia berniat shalat. Namun Fauzi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia melihat arloji di tangannya telah pecah, jarumnya terhenti menunjuk angka 04.35.
“Dzuhur atau Ashar? Aaaahhh… tapi rasanya masih siang! Ya Allah…. Hamba shalat tak mengenal waktu ya Allah, ampunilah aku….” gumam Fauzi seraya berbaring terlentang. Tangannya bersedekap. Ia yakini bahwa waktu itu adalah waktu Ashar, maka iapun memastikan niatnya shalat Ashar.
Dengan menghitung bahwa masa maghrib segera tiba, berarti ia harus bergelut dengan kegelapan, maka ia kembali bersemangat untuk segera menuju ke pemukiman. Hingga beberapa lama ia menyusuri aliran sungai kecil. Beruntung ia tak menjumpai tempat terjal seperti layaknya sungai-sungai di pegunungan.
Ketika perjalanan cukup lama, hatinya berdetak begitu melihat lahan lapang.
“Tembakau……” Gumamnya.
Di hadapannya terbentang ladang tembakau. Di beberapa tempat tumbuh batang-batang kaliandra yang sedang berbunga merah. Bibir Fauzi bergumam. Ada semangat baru yang nampak di sinar matanya. Ia semakin cepat melangkahkan kakinya, walaupun tertatih-tatih menahan sakit. Kadang langkahnya tak terkontrol. Batang-batang tembakau yang tumbuh subur ia injak hingga berantakan. Fauzi menelan ludah. Hatinya merasa bersalah telah merusak tanaman orang lain, tetapi iapun tak dapat berbuat apa-apa ketika ia rasakan bahwa itu bukan kesengajaan. Langkah Fauzi kini semakin gontai terseok-seok. Rerimbunan perdu dan pepohonan di tengah lembah yang baru saja ia tinggalkan memang telah cukup jauh, namun iapun belum melihat adanya pemukiman.
Suasana semakin temaran. Kabut mendadak turun. Pandangan matanya hanya mampu menembus sejauh sekitar sepuluh meter ke depan, sementara posisi tanah semakin tidak keruan. Terasering yang ada membuat berkali-kali ia harus menuruni hamparan ladang tembakau dengan menggelindingkan diri.  Entah pada gelindingan yang ke berapa, tenaganya benar-benar hampir habis. Ia terjerembab. Wajahnya menyusur tanah yang kering dingin.
Aaaaggghhhh!
Kaaak! Kaaaaak! Cekekeeeerrrrr! Ciak-ciak!
Jantung Fauzi berdegup keras ketika dua meter di hadapannya melintas ayam hutan yang ketakutan. Hati Fauzi masygul. Inilah pertama kali melihat ayam hutan asli di habitatnya. Biasanya ia melihat ayam hutan di pasar burung, atau di tempat ayah Nanto sahabatnya di Banjarnegara. Belum hilang kekagetan hatinya, kini jantungnya kaget bercampur girang ketika telinganya mendengar suara kayu dipotong-potong.
Crak! Crak! Crak!
“Tolooooong! Tolooooongggg!” Fauzi berteriak keras. Suara tebasan golok atau mungkin juga kapak berhenti. Hingga beberapa jenak suasana sepi. Fauzi menelan ludah.
“Tolooooooong! Tolong sayaa Paaaaaaaaaaak!” Fauzi kembali berteriak.
Teriakan Fauzi membawa hasil. Tak berapa lama nampak dua orang lelaki muda  umur dan seorang laki-laki tua  mendatangi tempatnya. Keduanya menggenggam golok di tangannya. Namun demi melihat Fauzi yang terkapar, keduanya saling pandang, kemudian menurunkan golok masing-masing.
“Anak ini siapa?” tanyanya menyelidik.
“Aduh pak… tolong saya … kaki saya sakit. Saya minta air Pak…. saya sudah jauh dari… dari kali tadi….haus Pak”
“Anak ini siapa?” Lelaki setengah baya itu kembali bertanya.
“Saya … pendaki gunung. Saya tersesat pak…… saya…saya Fauzi…… air pak.” kata Fauzi .
Mendengar keterangan Fauzi keduanya kembali berpandangan. Namun keduanya tidak bereaksi. Keduanya menggelengkan kepala.
“Tidak ada air …. “
“Tooo……tooo…. “
Kalimat Fauzi terhenti. Mata pemuda itu nanar. Kemudian tubuhnya ambruk menindih batang-batang tembakau. Pingsan. Kedua lelaki itu kaget.
Ditulungi apa ora iki? Mengko gek-gek memedi! Aku takut ia makhluk jadi-jadian Jurang Grawah.” Kata lelaki tua ragu-ragu.
“Hantu itu tidak menyentuh tanah! Biarlah ia hantu, paling pol kita itu hanya mati kan? Sudahlah pak… ayo kita tolong…. kasihan kalau dia manusia beneran, bukan hantu!”
Sore itu padukuhan Semanding ramai. Besar kecil tua muda memenuhi rumah Pak Sipon – lelaki tua yang menolong Fauzi -  untuk melihat temuan orang tersesat. Fauzi yang dibaringkan di ruang tamu masih belum siuman. Kepala padukuhan, Pak Mahmud , dan para tetua padukuhan telah berkumpul di situ. Semua menantikan sadarnya Fauzi. Ruangan yang sempit itu terasa pengap. Asap rokok kemenyan memenuhi ruangan yang menjadi hingar-bingar. Asap rokok itu ternyata bukan hanya berasal dari orang tua saja, tetapi anak-anak kecilpun nampak dengan lihai memainkan rokok tingwe. Rata-rata dari mereka berselempangkan kain sarung kumal. Sebagian memakai ponco, karena hawa di daerah itu teramat dingin. Sebagian lagi memaki syal. Demikian pula kaum wanitanya, mereka ada memakai baju rangkap dua, bahkan ada yang rangkap tiga. Sebagian memakai jaket kulit kumal.
Aaaagghhhhh! Fauzi menggeliat.
Sontak kegaduhan di ruangan itu terhenti demi melihat Fauzi menggeliat. Pak Mahmud memberi isyarat kepada yang lain agar diam.
“Di mana aku?” Fauzi terhenyak, kemudian duduk memandang heran kepada kerumunan orang yang mengelilingi.
“Kamu ditemukan pingsan di buntas ladang dekat jurang Grawah. Sekarang kamu berada di padukuhan Semanding.”
“Semanding? Aaaagggh…. Apa pula ini ? Aduuuuh, kepalaku pusing!
Mereka sadar Fauzi masih belum sepenuhnya pulih. Satu dari mereka menyorongkan teh hangat ke bibirnya. Fauzi menyeruputnya. Rasa hangat dengan cepat menjalar di seluruh tubuhnya. Sementara itu di luar, anak-anak kecil beramai-rama berteriak kegirangan sambil berjingkrak-jingkrak.
Medine uwis tangi! Medine uwis tangi! Medine uwis tangiiiiiiii!
Hati Fauzi dongkol mendengar anak-anak mengatakan dirinya medi – hantu . Namun kemudian ia membaca istighfar. ***

(Bersambung)

Keterangan Bahasa Jawa :
1. Ditulungi apa ora iki? Mengko gek memedi!  = Ditolong apa tidak ini ? Jangan-jangan hantu !
2.  rokok tingwe = Rokok Nglinting Dhewe ( Menggulung Sendiri – bukan buatan pabrik )

3. Medine uwis tangi! Medine uwis tangi! Medine uwis tangiiiiiiii! = Hantunya sudah bangun! Hantunya sudah bangun! Hantunya sudah banguuun!

Selasa, 29 September 2015

Terbaru 2020 - Cerbung: Serpihan Edelweis (1)

Blog Pendidikan


1. DITELAN LERENG SUMBING

Libur panjang dimulai setelah pembagian rapor.
Ketinggian Puncak Sumbing menjadi pikiran Fauzi. Kabut. Dingin. Tancapkan bendera Muhapala, perkumpulan pecinta alam SMU Muhammadiyah 1 Banjarnegara . Dan yang satu ini, Edelweis. Ia ingin melihatnya kembali.
Sebagai anggota Muhapala ia sangat menjunjung komitmen mencintai alam. Mengambil edelweiss dari puncak gunung adalah sebuah penyimpangan komitmen. Berkali-kali Fauzi bersama kelompoknya menaklukkan puncak gunung tanpa edelweiss. Ketinggian gunung Slamet, Lawu, Ungaran, Merapi dan Merbabu pernah ditaklukkan, bahkan gunung Ciremay di Kuningan Jawa Barat pernah dikangkanginya pula.


“Aku pesan beberapa tangkai edelweiss Zi.” Kata Lestari , sahabatnya yang biasa dipanggil “Tari”, ketika usai pembagian rapor.
“Edelweis ?” Fauzi terhenyak mendengar permintaan gadis teman sekelasnya itu.
“Iya. Edelweis adalah bunga abadi….. aku berharap persahabatan kita akan abadi seperti edelweiss.” Kata Tari sambil merengut.
“Ooooh….”
Hati Fauzi membantah. Permintaan Lestari sangat berat untuk dipenuhi. Sejenak nafas panjang dihela. Namun gadis yang duduk di sampingnya itu seperti menangkap arti desahan nafas Fauzi.
“Kamu keberatan?”
“Edelweiss adalah simbol keabadian Tari , sebuah simbol keabadian tak layak untuk dipetik atau dirusak . Kami anggota
pecinta alam telah sepakat untuk tidak menyakiti alam. ”
“Artinya kamu keberatan bukan?” Desak Lestari.
“Aaah Tari, Tariiii , sudahlah….. nanti kuganti dengan anggrek yang indah, atau melati yang wangi… edelweiss tak terlalu bagus, warnanya seperti rumput kering.”
Fauzi tak banyak komentar ketika Lestari merajuk. Ia biarkan gadis itu pulang tanpa meninggalkan pesan apapun. Ketika gadis itu hilang dari pandangan, diambilnya HP dari sakunya. Ia kirim SMS untuk Nurjanah, ketua Muhapala.
“…. Nur, ada dua masalah, ibuku mengajakku berkunjung ke rumah Pak Lik Narto di Bandung , kedua, tari memaksaku ambilkan edelweiss !”
Hingga beberapa lama tak ada jawaban dari Nurjanah. Fauzi kesal. Dengan gontai ditemui ibunya di ruang tengah.
“Ke Lik Narto-nya apa tak bisa diundur Bu?” Tanya Fauzi sambil meraih pisang di meja.
“Maksudnya kamu minta Ibu mengundur rencana ini?”
“Ih ! Ibu malah balik bertanya !”
“Kamu minta Ibu mengundurkan rencana ini kan?”
“Kalau bisa Bu…”
“Kau telpon Pak Likmu itu, besok suruh jemput Ibu di Stasiun Kiaracondong.”
“Maksud Ibu?”
“Ibu berangkat sendiri…… berangkat sendiri……. karena anaknya jadi pejabat yang punya acara tak bisa diganggu gugat!”
“Ibu jangan ngambek seperti itu….. jadi tidak enak nih!”
“Sudaaah… telepon sana!”
Fauzi merasa keputusan ibunya seperti memasabodohkan dirinya. Tapi ijin sangat diperlukan. Ini adalah kesempatan. Sebenarnya hati Fauzi tak tega melepas ibunya berangkat ke Bandung sendirian , tapi godaan pendakian gunung Sumbing kali ini tak bisa ditolak. Makanya ketika ibunya menyuruh menelpon Pak Liknya, ia segera mengangkat gagang telpon menyampaikan pesan ibunya. Setelah beberapa jenak menelepon ia kembali duduk dekat ibunya.
“Pak Lik siap jemput ibu !” Kata Fauzi lega.
“Pak  Likmu tak pernah menawar apa yang kuminta.”
“Ibu menyindir ya…..”
“Hmh!”
“Besok ibu kuantar sampai Purwokerto , sampai Stasiun Raya, sekalian aku beli perbekalan.”
“Sudahlaaah… Purwokerto itu tak terlalu jauh, kau pikirkan persiapanmu saja. Matangkan rancangan, jangan sampai ada yang ketinggalan.”
“Benar nggak mau diantar?”
“Kapan Ibu pernah berbohong padamu?”
Fauzi tak menolak lagi. Memang rasanya tak pernah dirinya dibohongi ibunya. Apalagi sejak ibunya berpisah dengan ayahnya, ibunya nampak semakin sayang terhadap dirinya. Curahan kasih sayang ibunya yang dirasa semakin hangat, justru selalu mengingatkan Fauzi kepada ayahnya . Ia sering berangan-angan dalam suasana penuh kasih sayang ini kedua orang tuanya ada di sisinya. Apalagi sebagai anak tunggal, ia merasa semakin kesepian hidup berdua dengan ibunya. Ayahnya kini tinggal di Purwojati Banyumas, tempat kelahiran ayahnya. Ia sendiri bersama ibunya di kota Banjarnegara, tempat kelahiran ibunya.
“Kamu melamun ya?” Ibunya menegur ketika menapati dirinya tengah tertegun dalam lamunannya.
“Ah…ibu ini ! Uzi hanya ingat ayah…. seandainya sekarang ada ayah di sini Bu…”
“Aaah.. sudahlah Zi, itu urusan orang tua.”
Sebenarnya Fauzi ingin membantah bahwa itu bukan hanya urusan orang tua, tetapi lebih pasti itu merupakan urusan anak-anak yang terkena akibat dari perceraian. Memang, walaupun kedua orang tuanya telah bercerai, akan tetapi ibunya tak pernah melarang Fauzi mengunjungi ayahnya . Satu hal yang menyenangkan hati Fauzi, ayahnya selalu menanyakan keadaan ibunya. Tak satupun perkataan ayahnya yang menjelek-jelekkan ibunya, sehingga ia tak habis pikir mengapa keduanya bercerai.
* * *
Sore tadi Lestari mengantar Fauzi hingga kota Parakan. Malamnya dari Parakan Fauzi bersama rombongan Muhipala menuju gerbang timur Sumbing. Ketika lepas waktu ‘Isya rombongan telah mulai merayap punggung gunung, menyusuri jalan setapak dari arah timur gunung Sumbing. Sesekali ia kencangkan syal pemberian Lestari  yang melilit lehernya untuk mengurangi hawa dingin yang menerpa bagian lehernya.
“Zi ! Aku lihat Lestari memberimu syal ?” Tanya Nurjanah di belakangnya.
“Memangnya kenapa? Cemburu?”
“Aaah… bisa saja kamu ini ! Aku duluan ya !“ Kata Nurjanah seraya mempercepat langkah melewati Fauzi. Fauzi hanya menggelengkan kepala melihat gadis itu begitu gesit pada jalan yang menanjak.
“Hati-hati !” Kata Fauzi sambil menyorotkan lampu senter ke arah ketua Muhipala itu. Nurjanah tak menjawab, hanya membalas menyorotkan senter ke arah Fauzi.
Ketika tengah malam lewat, suasana alam begitu angker. Ketinggian telah membawa rombongan Muhipala ke tempat yang jauh dari keramaian seperti kerlip lampu di kota Parakan yang nampak jauh di bawah. Bayangan pohon pinus telah berkurang. Mendekati puncak berhawa dingin menusuk tulang, kini tinggal semak belukar. Ketika rombongan mulai renggang jaraknya, masing-masing seperti harus mengadu nasibnya sendiri. Desiran angin yang menerpa wajah mampu meremangkan bulu kuduk.
“Muhipalaaaaaa…!” Fauzi mendengar teriakan dari atas membelah kesunyian punggung Sumbing. Fauzi hapal, itu suara Darto. Suara teriakan itu artinya untuk membangkitkan semangat anggota yang lain . Dari tempat-tempat lain kemudian muncul suara sahutan.
“Siaaaaap!”
“Maju teruuuuss !”
“Muhipalaaaaaa……..!”

Fauzi mendesah. Ia berhenti sejenak. Tak menyahut teriakan teman-temannya. Entah kenapa tiba-tiba ia rasakan perutnya mual. Untuk melangkah lutut rasanya menjadi gemetar. Keringat dingin membasahi wajahnya. Fauzi menyeka dengan lengannya.
Untuk memulihkan kondisi, ia duduk. Fauzi minum beberapa teguk. Ada perasaan lega dalam perutnya ketika lambungnya kemasukan air. Kini pikirannya mulai tenang .Tangannya meraba saku celananya. Diambilnya HP karena ingin melapor keadaannya kepada Nurjanah.
“Hmmmh….. tak ada sinyal !” Ia bergumam. Baru sadar bahwa ketinggian gunung Sumbing merupakan daerah blank.
Hampir seperempat jam Fauzi duduk. Tak ada siapa-siapa di sekitarnya. Hanya angin yang mendesahkan daun-daun semak belukar. Dengan tertatih-tatih ia mencoba bangkit meneruskan pendakian. Rasa mual itu telah mereda .
Setengah jam dengan susah payah akhirnya Fauzi mulai memasuki kawasan puncak. Tak ada lagi semak belukar. Yang ada rerumputan khas puncak gunung.
“Fauziiii….!” Terdengar suara teriakan memanggil namanya.
“Hooooiiiiiii……..!” Fauzi membalas teriakan itu.
Jam setengah empat pagi Fauzi sampai di puncak. Teman-teman lain sudah menunggu. Darto dan Mayang tengah kegirangan memainkan bendera Muhipala yang ditancapkan. Beberapa teman yang lain duduk beradu punggung untuk menghangatkan badan. Bambang telah beberapa kali mengambil gambar rekan-rekannya yang kedinginan.
“Aku kira kau tak akan sampai…” Sambut Nurjanah .
“Aku istirahat hampir setengah jam . Aku mual Nur, aku akan beritahu kamu tapi tak ada sinyal !”
“Kamu pikir ini kota?” Kata Nurjanah seraya tertawa.
Keduanya berjalan menghadap arah timur. Langit mulai nampak semburat. Mereka menunggu matahari terbit. Keduanya duduk berdampingan.
“Di sekitar kita banyak edelweiss Zi…… kamu bisa petik beberapa tangkai untuk Lestari.” Kata Nurjanah mengingatkan. Fauzi diam. Senter di tangannya disorotkan ke arah edelweiss yang tumbuh tak jauh dari bebatuan tempat duduknya.
“Saat ini tentu Lestari sedang nyenyak tidur. Mungkin ia tengah bermimpi menimang edelweiss , sementara aku harus bingung mempertaruhkan sumpahku sebagai pecinta alam.” Fauzi kesal.
“Zi, biar aku bantu. Biar aku yang petik edelweiss itu, aku sembunyikan dalam ranselku, biar orang lain tidak tahu. Kau tidak salah melanggar sumpah, biar aku yang berkorban. Bunga itu nanti kau berikan pada Lestari. Karena Lestari ingin edelweiss dari tanganmu, itu harapannya bukan?”
“Tapi itu kesalahan besar Nur, apalagi kamu sebagai ketua. Ah, sudahlah ! jangan lakukan itu, jangan berkorban demi orang lain, demi aku, demi Lestari. Kita akan malu kepada diri kita sendiri. “ Kata Fauzi seraya menghela nafas panjang.
“Yaaah terserah kamulah!”
Ketika garis merah mulai nampak di langit timur, rombongan Muhipala bersiap-siap mengambil tayammum. Seperti waktu-waktu yang lewat, shalat shubuh di puncak gunung terasa sangat syahdu. Rasa bahwa jiwanya berada di puncak dunia terasa sangat kental. Hati para anggota Muhipala semakin terasa tintrim teriris ketika Mahmud melantunkan adzan dengan lengkingan tinggi. Suara yang melengking itu menyebar ke udara gelap. Hilang . Kadang muncul gema entah darimana datangnya. Sesekali suara desah pinus di hutan lereng Sumbing terdengar.
Kali itu Nurjanah memutuskan untuk turun gunung usai shalat shubuh, tak menunggu matahari terbit. Katanya sudah terlalu sering mengabadikan suasana seperti itu, Yang dipikirkan Nurjanah adalah beberapa anggota Muhipala yang mulai menggigil susah diajak bicara.
Ketika semua telah siap berangkat, tiba-tiba Fauzi merasakan perutnya kembali mual. Ia duduk sejenak.
“Kau sakit lagi?” Tanya Nurnajah menghampiri.
“Sedikit mual. Kalian jalan duluan sajalah…..!”
“Tidak, saya khawatir mualmu semakin parah .”
“Jangan sepelekan aku Nur?”
“Lho? Aaah…. ! Ya sudah, aku tak mau menyinggungmu lagi ! Sehat-sehat saja Zi, awas jangan terlalu lama…. tubuhmu bisa membeku!” Kata Nurjanah meninggalkan Fauzi menyusul anggota lain yang telah turun terlebih dulu.
Ketika telah sendirian, Fauzi mengambil senter. Ia berjalan ke bibir puncak. Di situ banyak sekali bunga edelweiss yang tumbuh. Fauzi jongkok. Dibelainya bunga-bunga yang terasa dingin itu. Dalam benaknya berkelebat wajah Lestari . Gadis itu tersenyum. Fauzi tak terasa tersenyum juga . Ia ingat betapa Lestari semakin nampak manis ketika tersenyum dengan bulu mata yang lentiknya. Fauzi meraba syal yang kini menghangatkan lehernya. Syal rajutan tangan Lestari benar-benar membuat dirinya dekat dengan gadis itu.
Tangan Fauzi meraba-raba ransel. Ketika cutter yang dicarinya ketemu, ia genggam erat. Bibirnya terkatup. Nafas panjang dihelanya. Hatinya berontak ingin membuang cutter itu jauh-jauh. Tapi kini di hadapannya bunga-bunga edelweiss dan Lestari tengah menantinya.
“ Sumpahku gugur ! Bodohnya akuuu….!” Ia mulai memotong tangkai-tangkai edelweiss . Ada sekitar dua puluh tangkai. Fauzi merasa bersalah. Berdosa, telah melanggar sumpah sebagai pecinta alam. Tak terasa matanya terasa hangat. Kemudian air matanya menitik.
“Aaahhh! Sudahlah ! Terlanjur! Aku bukan pecinta alam !” Gumam Fauzi kesal. Edelweiss itu kemudian dimasukkan ke dalam kantong keresek , lantas disimpan ke dalam ransel.
Sejenak kemudian Fauzi bergegas menuruni puncak Sumbing yang masih gelap. Karena agak terburu-buru kakinya terpeleset bongkahan batu. Tubuhnya bergulung-gulung beberapa kali. Ketika badannya telah tergeletak di tanah yang agak datar, ia pegangi perutnya. Rasa mual itu datang lagi. Kini hawa dingin terasa lebih menjalar ke tulang-tulang. Fauzi meringis. Selain perutnya yang mual ternyata kepalanya juga pusing, seperti melayang-layang.
Ia berhenti sejenak. Sepintas di bagian bawah nampak bayangan pohon-pohon pinus. Tapi tempat itu masih agak jauh. Sementara itu udara terasa semakin dingin. Teman-temannya sudah jauh tak terdengar suaranya lagi. Fauzi meraba-raba senternya. Barang itu tak ditemui. Yang ada hanya rumput dan tanah dingin. Rupanya barang itu terlempar ketika ia jatuh begulung-gulung.
Akhirnya dengan menahan rasa mual, kepala melayang Fauzi mencoba menuruni lereng Sumbing. Menanti waktu siang rasanya tidak mungkin. Terlalu lama. Akhirnya di tengah kegelapan ia mencoba berjalan sepenuh kemampuannya.
Auch! Aaaaah ! Fauzi kembali terpelanting ketika kakinya tersangkut batang perdu. Beberapa kali tubuhnya kembali terguling. Kali ini akibatnya cukup fatal. Ia kehilangan jejak jalan menurun. Dahinya membentur gundukan tanah keras.
Houeek !
Ia muntah. Keadaannya semakin payah. Mulutnya terasa asam. Ia mencoba mencari botol air mineral, tetapi ternyata barang itu tak ditemui. Sementara mulut dan lehernya terasa sangat tidak enak karena kotoran muntahan itu sebagian masih tersangkut di mulut dan leher.
Ya Allaaah…….. mungkinkah aku akan mati di sini ! Keluhnya. Ia raba dahinya. Basah. Keringat dingin yang memenuhi dahinya ia seka dengan lengat jaketnya.
Fauzi tak sempat menghitung waktu. Keadaannya semakin payah. Sekilas ia ingat membawa HP, akan tetapi barang itu juga tak ketahuan lagi ada di mana. Beberapa kali terjatuh kembali. Bangkit. Merangkak. Berhenti sejenak. Kini Fauzi telah sampai di kawasan hutan pinus. Tapi ia tak tahu hutan pinus di bagian mana. Seingatnya jika sampai hutan pinus kerlip lampu di kota Parakan , bahkan kawasan kota Temanggung, mulai nampak. Tapi kali ini tidak. Di bawah gelap.
Mungkinkah aku tersesat ? Pikir Fauzi seraya duduk mengatur nafas yang terengah-engah. Tangannya meraba ransel . Tapi ia mengeluh ketika ingat bahwa air dan senter yang dibawanya sudah tak ditemui lagi.
Fauzi meremang bulu romanya ketika bayangan kematian melintas di benaknya. Mati dalam keadaan sendirian di punggung gunung Sumbing. Ia masih cerita tentang para pendaki yang hilang di kelebatan hutan punggung gunung. Ia ingat Gagah Pribadi, mahasiswa asal Purwokerto yang hilang di gunung Slamet, ingat Jonathan yang hilang di gunung Salak. Tiba-tiba air matanya meleleh. bahkan semakin deras. Wajah ibunya, wajah ayahnya silih berganti datang, juga wajah Lestari . Mungkinkah wajah-wajah itu tak akan dijumpai lagi. Ia meraba ransel ketika ingat akan Lestari. Keresek berisi bunga edelweiss masih ada.
Lestari….. , Tari….. ! Gumamnya lirih.
Aku belum mau mati ya Allaaaah ! Fauzi berteriak. Suaranya bergema di kegelapan. Tetapi hanya sejenak, kemudian kembali sepi. Rasa takut itu benar-benar menggumpal dalam dadanya. Maka ketika rasa itu memuncak, Fauzi bergegas kembali merayap dalam gelap. Seolah di belakangnya malaikat maut sedang menguntitnya. Sesekali ia menengok ke belakang, tetapi tetap saja hanya kegelapan yang nampak. Tak ia rasakan telah berapa lama ia merayap, tertatih-tatih, muntah, terguling. Yang ada hanya berusaha bergerak. Entah ke mana .
Aaaaaa…………! Aaaa…kh….aaa… !
Fauzi tidak dapat berpikir ketika tiba-tiba kakinya seperti tak berpijak pada tanah lagi. Tubuhnya serasa terbating ke sana kemari tak terkendali.
Gusraaaak ! Suara gemerisik perdu tertimpa sebuah tubuh yang jatuh. Kemudian kembali sepi. ***

(Bersambung)