Kamis, 09 Juni 2016

Terbaru 2020 - Buku Kumpulan Cerpen Terbaru : Fira .....

Blog Pendidikan




1. Tulisan Bersama 30 Kompasianer 1 : Pancasila Rumah Kita Bersama
2. Tulisan Bersama 30 Kompasianer 2 : Refleksi 70 Th Indonesia
3. Karya Pribadi 2014 : Novel Kyai Keramat (Stok habis, jika membutuhkan bisa memperoleh di penerbit www.heryamedia.com nomor telepon Telp/ HP: 021-8762566/ 0877-80538726)
4. Karya Pribadi 2015 : Kumpulan Cerpen Pelarian Gang Dolly (Stok tinggal 3 eks)
5. Karya Pribadi 2016 : Kumpulan Cerpen Fira, Haruskah Kutunggu Kau di Sorga? (stok masih 98 eks). Update , tanggal 18 September 2016 masih 13 eks. (Tersedia di toko Koperasi Siswa)

Buku Terbaru 

Buku ini berisi 14 Cerpen request dari murid-muridku. Intinya mereka minta dijadikan artis (dengan nama asli di cerpen). Kisah-kisah yang saya tuliskan dalam bentuk cerpen tentu sudah saya dramatisir sehingga menjadi sebuah cerita yang hidup. 
Lumayan lah, cukup menghibur. Paling tidak kata istri saya gitu hehehee,,,,




Jenis      : Fiksi Kumpulan Cerpen (14 Cerpen Request Anak SMAN 1 Majalengka + 4 Cerpen Keluarga)
Judul         : Fira, Haruskah Kutunggu Kau di Sorga?
Penulis      : Didik Sedyadi​
Penerbit    : Peniti Media - Pondok Gede
Terbit        :  Mei 2016
Tebal        : 220 halaman
ISBN        : 978-602-73374-7-3 dan barcode
Harga       :  Jika diambil di SMAN 1 Majalengka Rp 30.000
                  Jika dikirim lewat pos Rp 50.000 (sudah + ongkir)












Terbaru 2020 - UMTK, Belum Dilaksanakan Sudah Dibatalkan

Blog Pendidikan


HAK SEKOLAH PENGANUT KURIKULUM 2013
DILUPAKAN PEMERINTAH
Menurut data kemendikbud, saat ini sebanyak 6000 lebih sekolah ditunjuk sebagai percontohan pelaksana Kurikulum 2013 (K-13). Jumlah tersebut meliputi SD, SLTP dan SLTA (SMA/MA/SMK). Di tengah berjalannya roda pendidikan dan pengajaran dalam dua rel (rel ke-1 Kurikulum 2006, rel ke-2 K-13) tampaknya sekolah-sekolah penganut K-13 semakin dilupakan oleh pemerintah.
Hak 1 : Kesesuaian Aplikasi Verval Padamu Negeri. Kenapa?
Indikator ketidak seriusan pemerintah meneruskan pelaksanaan K-13, tampak dari sisi sinergitas antara upaya sekolah melakukan entri data online pada verval padamu negeri. Sinergitas yang diharapkan ternyata tidak muncul dalam salah satu komponen isian, di mana aplikasi ini tidak mengakomodir adanya “jam pelajaran pada lintas minat”. Tatap muka jam pelajaran guru pengajar lintas minat tidak diakui sebagai jam mengajar (karena memang aplikasi vervalnya tidak lengkap: atau belum lengkap). Di tingkat SMA yang mengakomodir pilihan siswa untuk lintas peminatan memungkinkan sekali bahwa banyaknya rombongan belajar akan melebihi banyaknya rombongan belajar kelas regular. Inilah salah satu indikator yang cukup merepotkan pihak operator untuk memvalidasi data sekolah, yang muaranya adalah pencetakan kartu Nomor Registrasi Guru (NRG). Jika data masih belum sinkron, jangan harap urusan NRG beres.
Hak 2 : Memperoleh Layanan Ujian Mutu Tingkat Kompetensi (UMTK). Kapan?
Layanan terhadap siswa sebagai costumer pendidikan di antaranya adalah mendapatkan penilaian hasil belajar. Penilaian yang diamanatkan dalam K-13 adalah : Penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, Ujian Tingkat Kompetensi (UTK), Ujian Mutu Tingkat Kompetensi (UMTK), Ujian Sekolah (US) dan Ujian Nasional (UN).
Di antara jenis penilaian yang dilakukan oleh pemerintah adalah UMTK dan UN. Untuk UN semua orang sudah paham (dalam arti paham banyak kontroversi di dalamnya). Sementara UMTK adalah barang baru. Menurut teori yang pernah saya dapatkan di berbagai workshop, UMTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh pemerintah. Tujuannya adalah untuk mengetahui pencapaian tingat kompetensi. Cakupan UMTK adalah seluruh Kompetensi Dasar (KD) yang mempresentasikan Kompetensi Inti (KI) pada tingkat kompetensi tersebut.
UMTK ini dulu dipolakan : Kisi-kisi soal ujian dari pemerintah, diterjemahkan ke dalam butir-butir soal ujian oleh pihak satuan pendidikan. Namun kenyataan sekarang sudah menginajk awal bulan Mei. Rentang hingga saat umum musim ulangan kenaikan kelas tinggal sekitar satu bulan. Mestinya kisi-kisi UMTK telah ada sekarang. Pekerjaan menerjemahkan kisi-kisi ke bentuk soal bukanlah perkara mudah. Butuh waktu pengkonsepan, Chek & recheck, editing, penggandaan. Jika sampai saat ini belum ada ujud kisi-kisi (bahkan kabarpun belum ada), maka bagaimana mungkin UMTK akan dilaksanakan? Padahal sejak awal semester umumnya sekolah-sekolah percontohan ini telah menyampaikan rancangan rangkaian kegiatan penilaian kepada para siswa, termasuk UMTK di dalamnya.

Jika ada yang berfikir bahwa konsentrasi pemerintah (dalam hal ini kemendikbud) tak lagi terfokus kepada upaya pembinaan terhadap sekolah percontohan K-13, wajar-wajar saja. Kredibilitas dan kekonsekuenan kemendikbud menjadi taruhan dalam konteks UMTK ini. Kita tunggu saja perkembangan. Ada berita UMTK, syukur, jika tak ada, tak usah berkecil hati. Rasanya kita cukup kebal terhadap terpaan masalah dalam dunia pendidikan yang tak henti-henti. Optimis. ***
Majalengka, Mei 2015


Penulis adalah Wakasek Urusan Kurikulum SMAN 1 Majalengka
(Catatan Jejak Kaki Sejarah Kurikulum 2013)

Minggu, 05 Juni 2016

Terbaru 2020 - Cerpen: Mawar Ini Bukan Untukmu

Blog Pendidikan

Sumber Cerpen : http://fiksiana.kompasiana.com/didik_sedyadi/cerpen-mawar-ini-bukan-untukmu_5754aa8d2023bd0d0db2af4c
=====================================================================

Wike bergegas sambil terus menggenggam lengan April menuju balandongan tempat peringatan Rojabandi sekolahnya. Namun apa mau dikata, acara Rojabantelah dimulai beberapa saat lalu. Kedua gadis itu terlambat. Agak menyesal juga, tapi keduanya tak mungkin menyalahkan tamu yang datang menemuinya di lobby sekolah. Wajah April tampak biasa, namun tidak demikian dengan Wike.
“Aku kehilangan momen penting.... “ bisik Wike, yang biasa pula dipanggil Keke,  sambil memperlihatkan kamera Canon Eos-nya.
“Momen apaan?”
“Ya mulai pembukaan laah, harusnya sejak awal aku sudah duduk di sini. Dengan optical zoom 60X , aku bakal memilik karya artistik.”
“Nggak ngerti!” kata April tampak kesal.
“Ya ampun Pril!”
“Judulnya apa si?”
“Qori kaseep ... yang ganteng!” bisik Wike meyakinkan sahabatnya.
“Oalaaahhhh... Keke! Norak kamu! Ternyata sulit jadi wanita sholihah ya hihihi....”
“Apaan sih?”
“Ini pengajian Ke, masa kamu malah mikirin cowok!”
“Sambil menyelam minum air.”
“Ah, kamu maah! Modus! Ntar, bubar pengajian kita cari tuh si qori, mau diajak selfie kek! Mau diajak salto! Hayu baee!”
“Iya... iya ....”
“Lagian panitia juga nyiapin foto, tuuuh bagian dokumentasi! Ntar minta gambarnya!”
“Waaah... bagus idemu Pril! Aku malah nggak kepikiran.”
***
Ba’da dzuhur.
Pengajian tadi pagi sudah usai, tetapi balandongan masih ada. Tikar juga masih tergelar. Banyak anak-anak yang duduk-duduk di bawah balandongan sambil melakukan aktivitas apa saja. Sementara itu usai shalat dzuhur, Wike melihat Rafiq, seksi dokumentasi yang tadi pagi mengabadikan momen kegiatan Rojaban. Gadis itu mengajak sahabatnya menemui pengurus OSIS itu.
“Fiq, maaf nih sibuk nggak?” tanya Wike ketika telah berdekatan.
“Sedikit sibuk sih. Ada apa memangnya?” tanya Rafiq balas bertanya.
“Aaa.... anu ..... anuu... aa... “ ditanya begitu Wike malah tergagap.
“Gini Fiq, si Wike ini mau minta foto kegiatan.” kini April yang mewakili bicara.
“Yang tadi pagi?”
“Iya, ceritanya mau minta foto pas pembacaan ayat suci itu.”
“Waduuuh gimana ya?”
“Gimana kenapa? Nggak boleh?”
“Bukan begitu, kameranya tadi dibawa pembina OSIS. Dibawa Pak Imam, nanti malam ada undangan acara di pendopo. Paling besok siang kamera itu aku pakai lagi.”
“Ooooo..... ya sudah... tuh Ke, kameranya dibawa Pak Imam.”
“Yaaa... sudah.... terima kasih.” kata Wike kecewa.
“Sebenarnya ada apa sih?” tanya Rafiq seraya melihat Wike.
“Engg... titip salam saja buat qori yang tadi ya?”
“Oooooooo..........”
“Bilangin dari Wike, IPA 6.”
“Iya, iya hahaaa! Paham! Pahaaamm....!”
“Sampai-in ya?”
“Iyaaaa.... “
***
Pukul 05.00 pagi.
Wike telah bersiap-siap membenahi segala peralatan sekolah, ketika tiba-tiba datang SMS. Tangan gadis itu segera melihat SMS dari siapa.
“Wike, terima kasih titipan salamnya yang lewat Rafiq. Salam kembali ya ...”
Jemari gadis itu bergetar. Dadanya berdetak kencang. Qori itu membalas salam? Bayangan Irfandi, si qori ganteng berkelebat. Bibirnya tersenyum. Ia lihat nomor baru yang masuk: 089622x20xxx . Segera ia save nomor tersebut dengan nama Qori Ganteng.
 Sebenarnya gadis itu mengirim salam itu hanya modal nekad. Memang Wike suka dengan Irfandi, tetangga kelas sejak X itu. Hanya sebagai anak perempuan tak mungkin ia memulai untuk menyatakan rasa sukanya. Lagi pula bagaimana mungkin? Melihat Irfandi dari jauh saja gadis itu sudah gemetar.
Pagi itu diawali dengan rasa bahagia. Wike sudah menyapu kelas. Ia mendahulukan menyapu teras kelas, dengan harapan Irfandi lewat. Ia ingin melihat si ganteng itu mengirim salam secara langsung, mengulang SMS. Dan tadi malam, ia sudah membayangkan akan terjadi dialog antara dirinya dengan Irfandi. Dialog yang mesra, dialog yang membahagiakan dirinya.
Sesekali gadis itu melihat ke gerbang masuk. Pukul 06.4x dada Wike berdetak cepat. Ia melihat motor Irfandi masuk gerbang langsung ke tempat parkir. Sebentar lagi tentu akan ada yang lewat. Ia merasa hari itu seperti berkuasa mengatur jalan hidup manusia, kelebat Irfandi seperti apa yang diharapkan. Ketika pemuda itu semakin dekat, Wike pura-pura tidak melihat dan tetap menyapu.
“Wike ..... “ ada suara memanggil. Mendengar itu tangan gadis itu gemetar.
“Aa...aaa.... apaa... “ ia menoleh. Sapu yang dipegangnya jatuh.
“Tuuuh sapu jatuh!”
Dialog sesingkat itu. Wike sama sekali tak menyangka Irfandi berlalu begitu saja. Tak ada kiriman salam balik. Semua yang direncanakan buyar sudah. Beberapa teman yang lewat masuk kelas seperti tak dilihatnya. Ia masih tertegun tak percaya apa yang baru saja dialaminya.
“Wike.....”
“Aaahh... apa? Apa?” mendengar ada yang memanggil Wike targagap.
“Ini sapunya jatuh. Melamun ya?” kata anak laki-laki yang baru datang seraya mengulurkan sapu. Gadis itu menerimanya.
“Ooooh.... aahhh kamu Noval. Iya, iya terima kasih.”
“Pagi-pagi jangan melamun Ke.”
“Enggaaak, siapa yang melamun.”
“Syukurlah kalau nggak melamun. Btw, terima kasih salamnya ya Ke....”
“Terima kasih apaan?”
“Ya kiriman salamnya.”
“Salam siapa?”
“Astaghfirullaaah.... ya salam Keke lah! Bukannya kemarin kamu nitip salam lewat Rafiq?”
“Nitip salam ke Rafiq? Salah kali Val!”
“Nggak laah... tadi pagi juga aku kirim SMS Ke, cuma kamunya nggak ngebales!”
“Jaa.... jaadi.... kamu yang tadi kirim... ki...kirim SMS?”
“Iya. Aku dapat nomormu dari Rafiq.”
“Ooooh.....”
“Terima kasih salamnya Ke .... “
“Aaaa ... au kan titip salam ke qori yang kemarin Rojaban.”
“Itu aku yang baca Qur’an Ke.”
“Bukannya Irfandi?”
“Bukan, kan kemarin Irfan kehilangan suaranya. Serak. Tidak sehat dia....”
Lemas tangan Wike. Sapu yang dipegang jatuh kembali. Ia sama sekali tak menyangka jika yang tampil adalah qori pengganti. Gadis itu mengutuki dirinya sendiri, mengapa kemarin sampai terlambat dan tidak bertanya tentang siapa qorinya.
Hingga beberapa kata dari Noval terlontar, Wike tidak bereaksi. Gadis itu diam, hingga akhirnya Noval memilih pergi meninggalkan Wike sendirian.
Ketika April datang, Wike menggandeng tangannya untuk menepi ke pojok taman depan kelas.
“Gawat Priiilll.... aku harus gimana?” kata Wike dengan wajah cemas.
“Ada apa to?”
“Kemarin salah kirim salam! Itu yang kemarin tampil bukan Irfan, tapi Noval! Gawaaat!”
“Astaghfirullaaaaah Kekeee..... kok bisa?”
“Irfannya serak, sakit, jadi qorinya diganti!”
“Hhhhh... ya sudah laah. Ngirim salam kan perbuatan baik.”
“Iya sih, tapi kalau Noval suka sama aku gimana? Tadi pagi shubuh dia ngirim aku SMS, katanya terima kasih salamnya. Trus, barusan ini, dia juga ngomong gituuuu....”
“Nggak usah bingung, kalau dia suka ya sudah habis perkara! Terima saja yang sudah pasti!”
“Aaaah kamu Priiil, aku nggak suka. Tolong aku Priiil!”
“Kenapa minta tolong sama aku?”
“Nggak tahu, kan Aprilnya supel, mak-comblangin aku ke Irfan!”
“Ha?! Ntar kalau Irfan suka sama aku bagaimana?” tanya April menakut-nakuti.
“Jangan Priiill ..... jangaaan!”
“Ya sudah .... coba lihat kubah masjid sekolah kita! Paham maksudku?”
Beberapa saat Wike menatap kubah masjid sekolah yang tampak dari kejauhan. Perlahan gadis itu mencerna apa yang dikatakan sahabatnya. Kubah? Masjid? Sebersit harapan melintas ketika melihat tempat itu. Ia biasa melakukan shalat dhuha. Di sujud terakhir, ia akan mencoba memulai menghiasi doanya dengan apa yang ia inginkan.
Memulai dengan keyakinan tampaknya belum bisa dijalankan. Namun ia mencoba, biarpun masih diawali dengan setengah hati.
“Satu itu tentu butuh setengah Ke, yakin, selalulah yakin akan peluang bernilai satu!”
“Tapi aku memang masih ragu.”
“Pilihan memang ada dalam dirimu kok! Jika ragu ya sudah, mending jangan dilanjutkan.”
“Tapi peluang bernilai satu itu?”
“Harus diperjuangkan!”
Nasehat April yang cukup dalam mencoba dicerna Wike. Gadis itu menggeleng perlahan. Sepagi ini telah datang masalah-masalah rumit. Tapi ia juga sadar, masalah itu muncul karena dibuat sendiri.
***
Festifal Band antar kelas, Februari tahun ini.
Sejak pagi suasana halaman tengah sekolah hingar bingar. Parade penampilan perwakilan 33 kelas dalam festival band sangat meriah. Para pemandu sorak, juga para pendukung kelas langsung berjoged dan jingkrak-jingkrak ketika band kelasnya tampil.
Wike mendesah. Ia gelisah menunggu penampilan band Jabal-band XII MIPA 7.  Justru bukan bukan wakil kelasnya XII IPA 6 dengan biduan Taofik. Ya, sosok qori ganteng yang kini bukan lagi Noval, yang ia tunggu. Irfandi. Urusan suara memang menjadi karunia pemuda itu. Mengaji oke, qiroah oke, mata pelajaran oke, menyanyi juga oke.
Bagi Wike, Irfandi sosok yang allround, serba bisa. Gadis ini memang suka, tetapi ia sama sekali tak punya keberanian untuk memberikan sinyal sukanya itu. Sekalinya nekad mengirim salam, ternyata malah salah orang. Inilah pengalaman yang membuat dirinya semakin tak berani mengungkapkan apapun. Takut salah. Namun di sisi lain pikirannya, ia tak ingin hal ini menjadi mitos pelemah usahanya mendekati Irfandi.
Pagi ini juga, dari rumah ia telah menyiapkan sekuntum bunga mawar. Ya bunga mawar merah natural yang ia petik dari pot yang ditanam sendiri. Ia telah siapkan itu untuk diberika kepada Irfan usai tampil menyanyi di festival.
Mendekati giliran Jabal-band tampil, gadis itu semakin gelisah. Ia telah menyiapkan bunga. Ia pandangi sejenak bunga itu. Ia membayangkan, usai penampilan Irfandi ia akan berlari ke bawah panggung, naik panggung kemudian memberikan bunga kepada Irfandi. Ia membayangkan betapa gemuruhnya aplaus penonton melihat adegan itu. Ia membayangkan tersenyum bangga bisa menunjukkan kepada semua orang bahwa ia suka kepada Irfandi.
“Saatnya tampilan Jabal-band perwakilan MIPA 7 dengan penyanyi Irfandiiiiiiiiiiiii!!!!”

Wike terhenyak ketika mendengar kalimat pembawa acara. Dada gadis itu berdetak keras. Waktunya semakin dekat. Dada gadis itu semakin tak teratur detaknya ketika muncul Irfandi memberikan salam kepada penonton dijawab dengan aplaus dan teriakan histeris gadis-gadis lain.

Lagu pertama usai. Lagu kedua, pilihan, membuat penonton semakin riuh. Lagunya Camelia dari Irwansyah.

Hati Wike menjadi tak keruan. Mendengar intro lagu itu, benar-benar jiwanya melayang. Bagaimana tidak? Di laptopnya ia simpan lagu itu. Tentu tak bakalan demikian jika yang ada di laptop adalah nyanyian Irwansyah. Ini bukan. Ya, gadis itu menyimpan rekaman lagu Camelia yang dinyanyikan oleh Irfandi, si qori ganteng itu. Iringannyapun asli iringan gitar Fandi pula.
Wike tertahan. Sementara yang lain menggerakkan tangan secara bersama-sama ke atas ke kanan ke kiri mengikuti irama sendi Camelia, gadis itu tertegun. Bunga mawar yang telah ia siapkan  ia sembunyikan di belakang punggungnya. Pikirannya mendadak kalut. Pergulatan antara berani dan tidak. Ia berfikir betapa malunya jika tiba-tiba ia naik ke panggung, sementara ia mengenal banyak juga tidak. Tetapi? Ini adalah momen yang tepat. Ya, momen yang tepat di mana siapapun tampaknya begitu mudah naik ke panggung  dan memberikan bunga kepada idolanya.
Lamunan Wike terlalu lama.
Ia tidak sadar ketika lagu Camelia telah usai ditingkah suara gemuruh aplaus. Bersamaan dengan itu tampak tiga orang gadis berebutan naik ke panggung untuk memberikan bunga kepada Irfandi. Ia sakit sekali melihat tiga gadis itu tampak ceria dengan tawanya, bahkan kemudian berfoto bersama. Ia cemburu yang amat sangat.
Wike menyesal. Dari tadi ia tidak beranjak merangsek ke dekat panggung. Jarak terlalu jauh. Namun sebenarnya bukan jarak yang jadi soal, ini masalah keberanian. Keberanian untuk naik ke panggung memang tiba-tiba hilang sama sekali. Gadis itu berbalik. Ia bergegas meninggalkan lapangan pagelaran festival dengan membawa perasaan tidak menentu. Ia ingin segera jauh-jauh dari arena itu.
***
Selang seminggu setelah kelulusan tanggal 07 Mei 2016.
Anak-anak kelas XII sudah jarang yang datang. Namun pagi itu Wike dan April sudah duduk berdua di bangku taman depan Graha OSIS. Keduanya usai melaksanakan shalat dhuha, seperti kebiasaan ketika pembelajaran masih normal sebelum UN.
“Ke , maaf nih aku ada perlu dulu ya .... mau cari camilan di kopgur. Tunggu jangan ke mana-mana.” kata April sambil berdiri.
“Jangan lama-lama.”
“Yaaah, nggak lama laah! Paling juga satu jam! Hihihi.....” kata April sambil beranjak meninggalkan Wike sendirian.
“Satu jam waduuuuhhh! Ngasal kamu Priiil!”
“Serius!” kata April dari kejauhan.
Sepeninggal April, Wike mengeluarkan  smartphone. Perhalan ia mencari sesuatu dari folder kesukaanya. Tak lama kemudian terdengar alunan lagu. Ia mendesah. Lagu itu ia ikuti sambil tersenyum. Ia sampai tak sadar jika dari tadi ana seseorang yang telah duduk di bangku batu, agak ke belakang.
“Lagunya enak sekaliii....... “ ada suara mengagetkan Wike. Gadis itu menoleh. Mukanya memerah demi melihat siapa yang bersuara.
“Ir... Irfaaannn... kau.. kau?”
“Iya ini aku.”
“Sudah lama?”
“Selama lagu itu kamu putar Ke.”
“Ooo... aa... aanuuu....”
“Kenapa Ke? Lagu itu bagus banget kok!”
“Anu... lagu.... ini.... ini.... “
“Suaranya bagus.”
Beberapa saat Wike mati kutu. Ia sama sekali tak menyangka kedatangan Irfandi sudah agak lama. Selama lagu Camelia diputar. Dan itu adalah suara nyanyian dan gitar Irfandi.
“Maaf Irfan ... aku ... “
“Nggak apa-apa, kalau memang kamu suka, simpanlah.”
“Irfaaaan... aku malu. Aku... aku ... , tapi ... tapi... “
“Nggak apa-apa kok. Siapa yang nyanyi Ke?”
“Nggg... Irfan.”
“Hmmhhh..... baguslah .... aku nggak nyangka punya fans kaya kamu. Segitunya sampai menyimpan laguku dalam HP-mu.”
“Mmm... maaf Irfan, aku mau ketemu April dulu ya!” kata Wike yang sudah sangat gerah menghadapi Irfandi.
“Duduklah Ke.... kenapa? Ayo sini, duduk.”
“Iya... iya.” kata Wike seraya kembali duduk.
“Tadi aku ketemu April di gerbang sekolah.”
“Lah? Katanya mau cari camilan di kantin.”
“Sudah dapat sih, katanya mau dibawa pulang. Tapi April titip pesan ke aku, katanya ia pulang duluan.”
“Astaghfirullaaah.... Apriiilll.....” Wike mendesah sambil geleng-geleng kepala.
“Sudahlah Ke, kan ada aku. Ngobrol sebentar ya? Mau nglanjutin yang tadi.”
“Yang mana?”
“Itu Keke dapat lagu dari mana?”
“Maaf ya Fan, aku... aku.... dapat lagu itu dari .... dari....”
“Dari April ya?”
“Iya sih.”
“Hmh.... ya sudahlah, memang dulu pas ada acara apa aku sempat titip file pada April.”
“Kalau nggak boleh aku dengarin lagi, biar aku hapus ya Fan.”
“Eh jangan.... biar sajalaaah, jelek-jelek juga!”
“Emh jelek apaan, bagus kok Fan, buktinya aku suka....”
Entah dapat keberanian dari mana tiba-tiba Wike mengucapkan kalimat itu. Dia sendiri sampai terhenyak kaget atas apa yang ia ucapkan. Ia rasakan mukanya panas. Seperempat sekon ia mencoba melirik ke arah Irfan, ternyata yang dilirik tersenyum. Gadis itu semakin salah tingkah.
Beberapa saat Irfandi membiarkan Wike sibuk dengan perasaannya. Setelah beberapa saat keduanya hening, Irfandi mendeham.
“Ehem ..Ke...”
“Ya.”
“Keke masih ingat kapan di sekolah kita ada festival band?”
“Ngg.... iya sudah lama, jauh sebelum kita lulus sih. Kalau nggak salah bulan Maret.”
“Februari Ke.”
“Ah iya Februari... iya... bener, Februari. Kamu yang ikut tampil pasti ingat laah.”
“Menurut Keke, acaranya meriah nggak?”
“Meriah laaah.... kenangan terakhir melihat teman-teman pada lepas berjoged dan jingkrak-jingkrak.”
“Kamu ikut jingkrak-jingkrak nggak?”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Nggak suka.”
“Kenapa?”
“Aneh kalau aku jingkrak-jingkrak kayaknya.”
“Malu ya?”
“Iya, malu.”
“Keke masih ingat ingat lagu yang dibawakan Taofik, wakil dari kelasmu itu?” tanya Irfandi dengan serius. Tapak wajah Wike tegang. Ia sama sekali lupa apa lagu yang dibawakan teman sekelasnya itu.
“Aduuuh ... lupa. Emm apa ya?”
“Ya sudahlah... lupa nggak apa-apa. Tapiiiii... emmm, Keke nonton pas aku tampil nggak?”
“Iii.. iya, nonton, nontoon.”
“Masih ingat lagunya?”
“Camelia.”
“Alhamdulillaaaah... kamu masih ingat laguku Ke, terima kasih.”
“Apa sih? Lah memang masih ingat kok!”
Kali ini Irfandi diam. Pemuda itu manggut-mangut sambil tersenyum. Wike penasaran .
“Ke...”
“Apa Fan.”
“Aku mau nagih janji niatmu.” kata Irfandi sambil tersenyum.
“Janji apa? Kapan aku pernah berjanji kepadamu?”
“Ingat-ingatlah laah Ke.”
“Mmmm..... apaaan ya? Ntar... aku malah bingung.”
Kali ini Wike benar-benar bingung. Namun melihat wajah Irfandi yang serius, ia justru ragu bahwa dirinya memang pernah berjanji kepada Irfan.
“Sudah ingat?”
“Belum. Apa sih Fan, tolong katakan saja....”
“Ke, mana bunga mawar yang pernah mau diberikan kepada penyanyi festival band?” kata Irfandi sambil menyorongkan telapak tangan. Wike terhenyak.
“Bunga mawar?”
“Iya. Bukankah Keke pernah berniat memberiku mawar?”
“Aaah kata siapa?”
“Tapi keduluan anak lain yang pada naik panggung, jadi batal ya? Sekarang bunga itu aku minta.”
“Oooooohh.... aduuuuhhh.... itu... aaah maluuu.....”
Wike menutup mukanya. Kini ia benar-benar diingatkan. Ia ingat benar dulu memang pernah berniat memberikan bunga mawar kepada Irfandi. Ia ingat itu. Ketika gadis itu membuka telapak tangan yang menutupi muka Irfandi masih menyorongkan telapak tangan.
“Mana?”
“Kata siapa bunga itu untuk kamu?”
“Kalau aku sebutkan orang, mungkin kamu nggak percaya. Ku juga baru pas kelulusan kemarin aku baru tahu kalau kamu akan memberiku bunga. Hitung-hitung hadiah kelulusan!”
“Iiiih... nggak lucu ah! Bohong itu.”
Irfandi tersenyum sambil mengutak-atik HP-nya. Beberapa saat kemudian ia menyorongkan HP kepada Wike. Ia menunjukkan sebuah gambar.
“Mawar yang ini Ke....” 

“Ouchh! Mawar ini ..... ini..... ini aku, ini mawarku.”
“Iya yang ini. Ingat kan?”
“Ini siapa yang memotret aku?”
“Nggak penting. Bagiku yang penting adalah, kalau bunga itu masih ada, aku tunggu....”
“Itu mawar natural Fan. Aku tak tahu di mana, tentu sudah kering. Sudah lama banget Fan.”
“Oooh, kau menanam sendiri?”
“Iya.”
“Bunga yang digambar mungkin bukan untukku, karena memang sudah hilang. Tapi generasinya mudah-mudahan masih ada Ke, peliharalah. Hari ini mungkin aku bercanda meminta bunga itu, tapi ingin suatu saat kau kabari aku kalau-kalau bunga di rumahmu sudah mekar lagi.....”
“Mmm.... aaa.....”
“Boleh gambar ini aku simpan?”
“Ya nggak apa-apa. Tapi kirimi aku lewat bluetooth.”
Siap.”
“Maafkan aku Fan.”
“Aku juga minta maaf, aku juga baru tahu. Ke, coba saja aku tahu Keke akan memberikan bunga dari dulu....”
“Kalau tahu kenapa?”
“Hehehe ... nggak apa-apa .....” kata Irfandi sambil terkekeh.
Siang itu hati Wike benar-benar bahagia. Ia ingat pesan April beberapa waktu lalu. Lihat kubah. Inilah petunjuk itu? Ia benar-benar hanya menyebut nama pemuda itu di setiap sujudnya. Mungkin salah, mungkin tidak. Rahasia Allah akan makhluknya akan tetap menjadi rahasia abadi. Namun sesekali manusia seperti mendapatkan tanda-tanda.Gadis itu benar-benar tak mengira Irfandi menyimpan foto lucu dirinya yang menyembunyikan bunga di punggung.
Sore itu Wike menelpon April. Gadis itu menuduh April yang mengambil gambar dirinya dari belakang.
“Kamu makcomblangin aku ya Pril? Itu taktik kamu kan? Tapi aku seneng juga sih.”
“Nggak Ke, bukan aku. Swear, aku nggak lakukan itu. Bukannya ketika festival berlangsung aku ikut maju di bawah panggung? Jadi mana mungkin aku mengambil gambarmu ketika Irfan tampil?”
“Jadi siapa yang memotret Pril?”
“Siapapun dia, dia makcomblang misteriusmu. Dia berjasa kepadamu. Dia dikirim Tuhan untuk menjawab doamu. Tapi, jangan lupa. Ada peluang sebesar satu, tapi jalan menuju peluang satu itu masih mutlak rahasia Allah. Paham maksudku?”
***
Hari itu mungkin saat-saat terakhir para alumnus menyambangi sekolah secara resmi. Pembagian ijazah dan SKHUN dibagikan secara serentak oleh para mantan wali kelas. Wike gelisah menunggu April yang belum datang. Sama, di tempat dulu ia bertemu Irfandi.
“Keke.....”
“Aaahh.... Irfan.”
“Kenapa kita ketemu lagi di sini, sama seperti dulu, tanpa April shohibmu.”
“Ya ngak tahu kenapa.”
“Eh Ke, aku mau tanya sedikit ya.”
“Tanya apa?”
“Ke, tadi malam kamu bangun jam dua ya?”
“Emm... aa.... kamu tahu dari mana?”
“Maafkan ya Ke, benarkah kamu membangunkan aku agar shalat malam?”
“Ah kamu mimpi kali Fan.”
“Tapi kayaknya sungguhan kok!”
Wike tak segera menjawab. Memang di waktu yang disebut Irfan, ia sempat menyebut nama itu beberapa detik dalam shalat hajatnya. Benar, ia memang mengharapkan bertemu dalam doa yang sama. Bukan apa-apa. Karena ia yakin yang seperti akan lebih baik bagi dirinya, dan mungkin bagi Irfandi, makhluk Allah yang sekarang bukan siapa-siapa.
“Aah sudahlah Fan ... nggak usah dipikir dalam, tapi kamu bangun nggak?”
“Bangun.”
“Terus ngapain?”
“Justru memikirkan, mengapa tiba-tiba jadi Keke yang membangunkan aku ....”
“Aaaah kamu mah! Harusnya shalat atuuh! Em gini Fan, kamu lihat tuh yang aku simpan di pinggir graha OSIS.....” kata Wike sambil menunjuk sesuatu.
“Bunga mawar?”
“Iya, itu dalam pot kecil ada empat kuntum. Karena aku janji dulu pernah akan memberimu bunga, ya sudah yang ini saja.”
“Kenapa pakai pot?”
“Biar awet, Kalau aku petik, sehari juga layu. Ya nggak?”
“Iya sih.”
“Bunga itu sebenarnya bukan buatmu, tapi buat ibumu. Ibumu suka bunga kan?”
“Eeeh siapa yang bilang?”
“April. Kan waktu kapan itu dia sempat main rumahmu bareng teman-tema MIPA 7.”
“Ya ampun April ..... mbocorin rahasia saja itu anak.”
Siang itu keduanya berpisah. Di gerbang Irfandi menghentikan motornya sebentar. Ada kantong keresek berisi pot kecil bunga mawar kuntum empat. Bebarapa langkah di belakangnya menyusul Wike.
“Mau aku antar?” Irfandi menawarkan. Wike tersenyum sambil menggeleng.
“Tidak, terima kasih.”
“O ya sudah. Terima kasih bunganya ya Ke, semoga dipelihara ibu bisa abadi....”
“Iya aamiin.”
“Ke ... aku punya satu permintaan, boleh nggak?”
“Apaan?”
“Bangunin aku nanti malam untuk shalat tahajud ya....”
Wike tersenyum tertahan. Irfandi juga tersenyum. Di gerbang sekolah keduanya berpisah. Wike bahagia, telah menitipkan bunga untuk ibu Irfandi. Dan yang paling membahagiakan adalah permintaan Irfandi yang terakhir: Bangunin aku nanti malam untuk shalat tahajud ya...... Wike mengeja ulang kata itu lagi. ***

 Majalengka, 06-06-2016
*Edisi Request Wike Nurani XII MIPA 6









Jumat, 03 Juni 2016

Terbaru 2020 - Ojo Adigang, Adigung, Aduguno

Blog Pendidikan

Tulisan ini salinan dari kompasiana :
http://www.kompasiana.com/didik_sedyadi/ojo-adigang-adigung-adiguno_574ebd5bd07a615007611dc7
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Kalimat di atas sebenarnya adalah bahasa Jawa lisan. Sumber bahasa tulisannya adalah Aja Adigang, Adigung, Adiguna, tidak menggunakan huruf “o” tetapi “a”.
Kalimat tersebut merupakan petuah dari leluhur kepada anak keturunannya. Sebuah petuah (yang umumnya) baik bagi generasi berikutnya. Karena kearifan orang tua adalah berfikir apa yang terbaik bagi keturunannya. Hanya orang-orang yang telah sesatlah yang berfikir agar keturunannya menjadi orang jahat secara terprogram.
Dalam kamus Bahasa Jawa “Bausastra Jawa-Indonesia” susunan S.Prawiroatmojo (1980) dijelaskan bahwa:
1.       Adigang : Membanggakan kekuatannya
2.       Adigung : Membanggakan kebesarannya
3.       Adiguna : Membanggakan kepandaiannya
Kata “Aja” berarti jangan. Rangkaian kata petuah menjadi semakin dalam ketika kita mau merenungkannya.
Aja Adigang , jangan membanggakan kekuatan
Kekuatan bisa berbentuk kekuatan fisik, bisa berbentuk kekuatan secara bersama-sama, atau koalisi. Kekuatan fisik pada jaman dimunculkannya petuah ini ketika jaman kerajaan jaman dulu. Hukum rimba menentukan siapa yang punya fisik yang kuat, dialah yang akan menjadi pemenang, menduduki jabatan tertentu di kerajaan. Siapa yang punya persatuan besar, maka ia yang akan menjadi pemenang.
Kekuatan fisik di jaman sekarang tampaknya bukanlah sesuatu yang populer. Tapi mungkin pula di kantong-kantong masyarakat tertentu masih ada segelintir orang yang mengandalkan kekuatan fisik. Gambaran mudahnya misalnya preman, dan geliat premanismenya.
Kekuatan koalisi lebih kepada arti yang abstrak. Model nyatanya semacam koalisi rakyat yang turun ke jalan di jaman gegeran 1998. Jika demikian maka secara perhitungan angka akan memperoleh hasil yang diinginkan. Jika model turun ke jalan hanya dikerjakan oleh perwakilan, ya tentu tan akan menghasilkan apa-apa.
Jangan membanggakan kekuatan. Energi “membanggakan” bagi sebagian orang justru akan menjadi energi negatif. Orang-orang tua jaman dulu telah belajar, telah merenung dan menyimpulkan dari berbagai macam kasus pembanggaan terhadap kekuatan ini justru menjadi sebuah kontraproduktif.
Aja Adigung, jangan membanggakan kebesaran
Kebesaran memiliki berbagai macam jenis. Terutama sekali kebesaran seseorang dengan indikator jabatan. Jabatan bisa dalam lingkup pemerintahan, maupun non pemerintahan. Kebesaran ini melekat dalam diri pemimpin, yang mempunyai bawahan. Presiden, gubernur, bupati, camat, lurah / kepala desa, ketua RT, kepala bagian, kepala seksi, boss, mandor dan sejenisnya.
Jika tidak didasari niat baik, maka dalam diri mereka ada perasaan bangga (dan sombong) terhadap apa yang telah mereka capai. Kesombongan (umumnya) akan menghilangkan kewaspadaan terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggungjawab mereka. Jika kewaspadaan hilang, maka konsekueunsi minus yang seharusnya tidak terjadi, malah akan datang.
Sayangnya sudah menjadi semacam kebiasaan (dan mungkin budaya) bagi mereka yang mempunyai kebesaran. Melihat orang lain menjadi kecil. Bahkan dalam taraf yang lebih mengembang, kadang-kadang anak dan istrinya ikut-ikutan membanggakan kebesaran ayah dan suaminya. Dalam satu contoh kecil ada ucapan : “Awas, jangan main-main, dia anak pejabat”.
Jangan membanggakan kebesaran. Kebesaran itu nisbi. Kebesaran itu hanya sementara. Dibatasi waktu. Betapa hidup ini bagi sebagian orang akan menjadi semacam neraka dini, bagi yang mengalami “post power syndrome”. Sekarang disanjung (walaupun sebagian semu), suatu saat akan ditinggalkan.
Aja Adiguna, jangan membanggakan kepandaian
Tolok ukur kepandaian sebenarnya tidaklah tunggal. Orang yang sukses dalam bisnis, ia dianggap pandai dalam terapan bisnis. Belum tentu itu diperoleh oleh orang-orang yang punya gelar sarjana dalam ilmu ekonomi. Tetapi masyarakat saat ini masih tetap melihat kepandaian seseorang dari apa yang diterakan dalam rapor, nilai rapor, transkrip nilai dan sejenisnya.
Gelar akademik demikian pula, orang akan jeri ketika melihat gelar seseorang demikian mentereng. Jika kompetensi asli seperti apa yang tertera dalam ijazah, memang itu yang diharapkan. Kompetensi yang dimiliki diamalkan untuk kemaslahatan orang banyak, itu memang yang seharusnya.
Membanggakan kepandaian, menurut petuah tersebut, tidaklah perlu. Kepandaian seseorang tak harus dibanggakan dan diomongkan. Biarlah orang lain yang menilai. Yang memiliki ilmu tinggi, luas dan dalam (mana yang benar ini?) akan lebih bermakna jika ia mendapatkan pujian orang lain karena manfaatnya, tanpa terdengar oleh dirinya.
Anda tidak setuju? Seharusnya memang demikian. Ini adalah sekedar tafsiran. Saat ini, hampir seluruh warga negara ini memiliki keberanian untuk menafsirkan segala sesuatu dengan kepentingan sesuatu. Dan ini sangat potensial untuk dijadikan ajang diskusi.
Jangan bangga dengan kekuatan. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.
Jangan bangga dengan kebesaran. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.
Jangan bangga dengan kepandaian. Itu nasehat leluhur. Ternyata anda bangga! Ya tidak apa-apa.
Yang penting, bangga tidak menggiring kita menjadi sombong. Tetapi bangga untuk bersyukur. ***

Majalengka, 01 Juni 2016

Rabu, 25 Mei 2016

Terbaru 2020 - Pandangan Minor Terhadap Dunia Pendidikan Kita

Blog Pendidikan

1.    Judul di atas sebenarnya mengantarkan tulisan saya yang terdapat dalam buku Refleksi 70 Th Indonesia mulai halaman 166 :
2.    Hitung-hitung saya ikut membacakan dengan bisik-bisik kepada teman-teman semua yang belum sempat membaca buku yang tersebut .
3.    Sekaligus untuk meramaikan tulisan Kang Rifki Feriandi dalam kompasiana :
http://www.kompasiana.com/rifkidikompas/berhamba-pada-sang-anak-di-era-generasi-z_57456676707e61cd0612bcdf
​---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

MALPRAKTEK DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN

Pengantar :
Seorang anak sekira kelas IV SD kecil ikut nimbrung menonton berita tentang korupsi di depan kedua orang tuanya. Baju orange baru yang mencolok dengan tulisan “Tahanan KPK” ia eja dengan jelas. Ayahnya buru-buru memindah chanel TV. Anaknya teriak, minta jangan dipindah.
“Siaran jelek Nak, tidak baik untuk anak kecil!”
“Dia lulus sekolah nggak Yah?”
Sang ayah diam, sebenarnya ia telah menyesal dengan mengatakan “tidak baik untuk anak kecil”. Apakah memang kasus di televisi itu baik untuk orang dewasa? ***

Wejangan Guru SD : Makan Untuk Hidup
Masih terngiang-ngiang wejangan 1)  guru SD saya “Manusia itu sebaiknya makan untuk hidup. Kalau kerbau boleh, hidup untuk makan.” Sebagai anak kecil yang lugu tentu tak mengerti apa makna dalam yang tersirat dalam nasehat tersebut. Jangankan nasehat itu diberikan itu kepada anak kecil, diberikan kepada orang dewasapun mungkin juga tidak bisa mengartikan.
Dalam posisi lebih menang secara umur, tentu orang dewasa lebih bisa mengembangkan lanjutan dari wejangan tersebut. Setelah makan untuk hidup, maka selanjutnya hidup untuk apa? Untuk berkarya, untuk mengabdi (kepada apa saja), untuk berinovasi, untuk menyombongkan diri dan sejenisnya. Termasuk dalam takaran yang sombongnya lebih halus, yakni aktualisasi diri. Misalnya (bukan contohnya lho) seorang profesor, kaya sudah, purna tugas sudah, eh masih aktif mengajar di berbagai perguruan dengan dalih aktualisasi diri. Sebenarnya ada rasa ingin dipuji yang sudah akut. Jika ada yang mendebat, ia katakan : Untuk memberi contoh kepada yang lebih muda, bahwa yang sudah tua masih semangat untuk belajar, belajar, dan sedikit sombong. Padahal yang bagus mestinya gantian generasi yang lebih muda. Kata kyai ndeso2), iku ora nguman-uman 3).  Jika di Jawa Barat, ceuk Ajengan lembur,  teu mere ngagehan kanu ngora!   4) .Tidak memberi jatah yang semestinya diberikan kepada generasi sesudahnya.
Ada pula yang menterjemahkan, kalau sudah punya uang terlalu banyak, ya buat apa lagi kalau tidak untuk membeli yang tidak butuh. Yang pokok itu, makan tiga kali sehari. Anak istrinya juga dicatu segitu. Jika mblegedhu5)? Semblegedhu-mblegedhunnya orang, tak masuk akal jika sehari semalam makannya sampai dua puluh kali. Kecuali di dalam perutnya ada tuyul6) yang dipiaranya yang ikut makan.
Hidup untuk makan? Pengembangan dari “makan” itu sendiri implikasinya juga dapat sesukanya dibuat. Yang uangnya banyak, bebas untuk berlaku dalam menterjemahkan apa saja. Bahkan kalau ia menterjemahkan Time is Money menjadi “Selesaikan Segala Sesuatu itu Dengan Uang!” ya sah-sah saja.
Malpraktek Seorang Dokter 
Tak perlu banyak berdebat, image seorang praktisi di dunia kesehatan yang disebut dokter adalah “orang kaya”. Jarang yang berfikir langsung dokter-mengobati, tetapi yang terfikir : dokter-kaya. Image semacam ini tampaknya telah membudaya (atau memang telah diiming-imingkan oleh guru sejak SD, atau bahkan TK). Cita-cita anak SD itu kebanyakan dokter, insinyur, tentara, pilot. Jarang yang ngomong: guru!
Ketika seorang dokter melakukan malpraktek, maka korbannya  umumnya 1 (satu) orang. Sebutlah semacam korban eksperimen, paling parah adalah mati. Paling sengsara adalah cacat seumur hidup.

Yang menderita kerugian langsung adalah si pasien, keluarga pasien. Kalaupun ada masyarakat atau LSM, atau ormas-ormas lain yang menghujat pelaku malpraktek, itu sebenarnya sebagian dalam rangka menunjukkan eksistensinya sendiri. Tak banyak korban sebenarnya. Tapi bukan berarti saya menyatakan setuju dengan pernyataan ini. Bagaimanapun, malpraktek seyogyanya dihindari. Kalau melakukan malpraktek karena tidak sengaja, tinggal konformasi saja. Bertanggungjawab. Mungkin berdamai dengan korban atau keluarganya. Apa yang ada di balik “berdamai”. Apalagi kalau bukan uang. Bukankah ada yang mengatakan time is money? Itulah terjemahan kontekstualnya.
Pendidikan, Disain Membangun Karakter Berbiaya Tinggi 
Sejak saya SD,  jarang sekali murid yang ditanya apa cita-citanya lantas jawabannya : Guru! Beda jaman sekarang, kalau ditanya apa cita-citanya kepada anak SMA, mulai yang banyak menjawab: Guru. Indikasinya, sekarang yang mendaftarkan ke UNY, UNJ, Unessa, atau UPI semakin banyak. Entah karena ingin pahlawan tanpa tanda jasa-nya atau tunjangan profesinya. Biarlah professor yang mengambil profesi aktualisasi diri yang melakukan penelitian tentang hal ini.
Dulu, tampaknya guru SD sudah bisa mengarahkan siswa agar para muridnya tidak sembarangan ngomong cita-citanya guru. “Nek niyatmu ora tenanan, ojo dadi guru le! 7) ” Nasihat ini rupanya telah direnungi dan dimaknai sangat dalam. Guru itu super. Guru itu master. Guru itu bukan sekedar mengajar. Yang paling pokok, guru adalah mendidik. Makanya sebagian guru ada yang malu jika dipanggil Pak atau Ibu Guru. Belum layak jadi guru. Kalau pengajar boleh. Kalau mengajar, semua orang bisa. Contohnya, di bimbingan belajar (bimbel), semuanya mengajar, tak ada yang mendidik. Apakah adalah tentor yang menasehati peserta dengan akhlak? Jangan harap! Lah kalau guru itu di kelas, kadang-kadang menasehati murid-muridnya (bisa dengan pidato, bisa dengan dongeng) selama dua jam pelajaran. Materi pelajaran malah lupa disampaikan. Cara mengatasinya adalah dengan mengatakan: “Menurut Piaget, usia kalian ini telah mencapai tahap operasional formal. Salah satu taraf perkembangan ini adalah, kalian sudah mampu menyerap atau berkomunikasi dengan buku. Jadi, pelajarilah sendiri di rumah ya?”
Indonesia sejak dulu butuh departemen pendidikan, bukan departemen pengajaran (walaupun pernah pula kita memiliki departemen pengajaran semacam di jaman Ki Hajar Dewantara dan jaman Soewandi). Pendidikan diyakini oleh para pakar mampu untuk membawa bangsa ini bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Pendidikan harus didisain dengan cermat, penuh perhitungan. Termasuk perhitungan biaya tentunya. Jer Basuki Mawa Beya8). Mengharapkan bangsa ini menjadi bangsa yang maju melalui disain pendidikan, pasti membutuhkan biaya yang besar, bahkan teramat besar. Sayangnya biaya yang sangat besar ini belum menampakkan hasil disain pendidikan yang mantap untuk membangun karakter bangsa. Justru disain yang telah menjadi sejarah (dan kita memang melihatnya demikian), menjadi disain parsial . Disain yang terpotong-potong, beruas-ruas bagaikan batang bambu. Tiap bagian ruas itu mampat, tak ada lubang atau celah penghubung antara ruas yang satu dengan ruas yang lain.
Bisa kita lihat kebijakan pemangku jabatan di berbagai jaman dengan menterinya. Para menteri pendidikan atau pengajaran ingin memberikan tapak tilas9) yang berbeda-beda. Ada yang menambah panjang masa belajar, aja yang fokus ke Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK), ada yang menerapkan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), ada yang mengangkat konsep Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), ada yang mengangkat Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang tinggal sejarah rintisannya saja, ada yang memberikan porsi keleluasaan sekolah dengan menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), ada yang memperbaharui konsep dalam menyongsong abad ke-21 dengan model Kurikulum 2013-nya, sehingga ada double-bonus kurikulum di tahun ini.
Semua bagus. Tapi dampak yang munculpun beragam. Ada rumor ganti menteri, ganti kebijakan. Kebijakannya mungkin tidak berganti : mencerdaskan anak bangsa, hanya caranya berbeda. 

Malpratek dalam Dunia Pendidikan
Di atas saya menyebutkan jika malprakter seorang dokter akan berakibat pada korban yang sedikit. Bagaimana jika malpraktek dilakukan dalam dunia pendidikan? Dunia pendidikan adalah dunia yang luas. Dunia yang didisain. Dunia yang sistemik. Jika berhasil, maka dampak baiknya akan membawa kepada peningkatan peradaban bangsa kita. Jika gagal, maka hancurlah sistem kita. Hancurlah bangsa ini.
Banyak hal-hal yang cukup mengkhawatirkan terjadi di lingkungan pendidikan, yang oleh sebagian orang dinilai sebagai sebuah malpraktek dalam dunia pendidikan. Di mana saja biasanya terdapat malpratek pendidikan?
1.Kebocoran kisi-kisi dan soal-soal Ujian Nasional (UN).
Tak henti-hentinya kasus kebocoran dalam UN terjadi. Tak pernah diusut tuntas kausa primanya. Keterlibatan kebocoran-kebocoran semacam guru, dinas pendidikan, bimbingan belajar, percetakan, pembuat kisi-kisi dan soal. Hingga saat ini tak terdengar kasus tentang kebocoran soal / kunci jawaban UN yang berlanjut hingga meja hijau. 
2.Klaim Bimbingan Belajar (Bimbel)
Beberapa Bimbel telah dengan gegabah berani mengklaim semisal : Selamat kepada siswa-siswa Bimbel X , kami yang telah mengantarkan siswa kami lolos SNMPTN dan SBMPTN. Secara resmi sebenarnya tak ada siswa yang boleh diklaim semacam itu. Klaim semacam itu telah dengan telak menohok kredibilitas sekolah.
3.Program Paket A,B,C
Jika mau jujur, program-program kesetaraan tak dikelola dengan baik. Pemantauan tentang kehadiran dalam kegiatan belajar mengajar menjadi omong kosong. Hampir tak ada pertemuan untuk program-program ini. Kelulusan pada pengelolaan program paket yang 100% sebuah hal yang tidak pernah membuat bangga.
4.Kelas Jauh
Kelas jauh merupakan pemanfaatan oleh penyelenggaran pendidikan (misalnya perguruan tinggi ternama) yang memberikan label dengan cara yang sangat mudah untuk mengadakan pembelajaran di daerah/wilayah lain. Kualitas pembelajaran tentu sangat berbeda dengan kelas yang asli. Hal ini berkait dengan perijinan penyelenggaraan yang ujung-ujungnya dengan biaya kerjasama antara penyelenggara dengan penguasa wilayah atau daerah.
5.Jual Beli Ijazah.
Perkuliahan yang dipadatkan dapat memberikan efek menyingkat waktu belajar. Sebuah ketidakwajaran yang bertolak belakang dengan kewajaran penyerapan ilmu pengetahuan oleh peserta, dengan iming-iming ijazah yang sangat mudah diperoleh. Bahkan, mereka yang tidak kuliah, dibuatkan data fiktif untuk memperoleh ijazah. Dari berbagai pemberitaan di media massa, banyak bermunculan ijazah-ijazah baru menjelang Pilkada atau Pileg.
6.Penipuan Calon Pegawai Negeri Sipil.
Utamanya untuk perekrutan PNS tenaga guru, jika diawali dengan suap menyuap, lalu pendidikan karakter macam apa yang akan diajarkan kepada murid-muridnya kelak? Ketika tahu ia dibohongi, maka terungkaplah drama yang menyedihkan sekaligus memalukan. 
7.Kuliah Online
Beruntung kuliah online telah dinyatakan tidak resmi dan menyimpang.
8.Menahan Ijazah Karena Nunggak Bayaran
Mengapa beberapa sekolah masih tega menahan ijazah anak-anak yang orang tuanya memang tidak mampu membayar kewajibannya?
9.Kasus Tabungan Siswa SD
Tabungan murid SD yang dipinjam para guru dan sulit dikembalikan lagi ketika kenaikan kelas, merupakan sebuah pembelajaran yang sulit untuk dipahami. Artinya, kejadian itu selalu berulang. Kesan yang timbul akan sedikit demi sedikit merendahkan harkat dan martabat guru di mata masyarakat.
10.Promosi Sekolah
Di tahun pelajaran baru, banyak sekolah-sekolah yang melakukan promosi door to door  dengan memberikan bonus kepada guru-guru sekolah tingkat di bawahnya. Misalnya guru-guru SMP melakukan promosi langsung ke SD dengan memberikan bonus kepada guru SD yang bisa membawa sekian murid dengan bonus uang atau bahkan laptop, atau barang-barang lain.
11.Pengadaan Buku
Tender buku sumber belajar, atau paling tidak dalam skala kerjasama antara kepala sekolah dengan penerbit selalu bernuansa profit bagi kepala sekolah. 
12.Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan wacana sekolah gratis
Wacana sekolah gratis diserukan oleh sebagian pemegang kepentingan di daerah-daerah tertentu untuk kepentingan politik. Yang tepat seharusnya adalah subsidi silang, para orang tua yang mampu secara ekonomi untuk membantu orang tua lain yang tidak mampu. Biarkan bantuan pemerintah semacam BOS tetap ada. Sifatnya hanya bantuan, bukan untuk memikul biaya yang direncanakan dikeluarkan oleh sekolah.
13.Jasa pembuatan Skripsi / Tesis / Disertasi memunculkan Sarjana, Magister dan Doktor Semu
Masih maraknya jasa pembuatan karya tulis, menunjukkan antara yang membuka jasa dan memakai jasa sama-sama kualitasnya. Sayangnya penyedia jasa ini masih berasal dari kalangan guru / dosen juga yang berada di lingkungan pendidikan.
14.Tunjangan Serifikasi
Sebagian guru tidak menampakkan peningkatan kinerja meskipun telah memperoleh peningkatan pendapat dengan adanya tunjangan profesi yang dikenal dengan “sertifikasi”. Mengubah karakter dalam waktu singkat, merupakan hal yang mustahil. Kinerja bahkan akan semakin buruk ketika uang tunjangan tersebut telah diagunkan ke lembaga keuangan tertentu.
15.Posisi Pengawas Pembina
Peran pengawas Pembina yang tidak efisien sebagai sebuah jabatan fungsional. Jika pengawas Pembina dapat membantu mengatasi permasalahan di sekolah, dapatlah dilanjutkan. Bahkan seloroh yang berkembang di dunia sekolah, pengawas sekolah adalah jabatan pelarian bagi guru-guru yang sudah bosan mengajar. Dalam kenyataan memang para pengawas ini sebagian bukan berasal dari guru-guru yang berprestasi (guru teladan), atau bukan dari guru-guru yang patut untuk diteladani.
16.Kurikulum
Berbagai macam versi kurikulum yang tersekat bersama tersekatnya masa kerja kabinet. Semua menteri ingin mencantumkan nama dirinya dalam perjalanan kabinet setiap periodenya. Berbagai macam ciri khas yang terbaca sebagai sejarah, sudah saya paparkan di bagian atas. Campur tangan berbagai kepentingan, termasuk politik dan strategi penguasa negeri dalam dunia pendidikan tentu akan menambah carut marut dunia pendidikan kita.
Dan (mungkin) masih banyak lagi kasus-kasus yang tidak sempat ditulis di sini.


Dunia Pendidikan Harus Bersih
Dunia pendidikan harus bersih. Ini mutlak. Jika banyak yang telah bermain-main di dunia pendidikan dengan permainan yang berorientasi profit, maka di sana akan banyak dibangun kerapuhan-kerapuhan dan kegamangan dalam pembinaan generasi muda yang tidak disadari.
Para pelaku korupsi dan para penyeleweng (yang setiap hari kita tonton di televisi) hendaknya menjadi pembelajaran bagi yang belum terlanjur terjerumus ke arah itu. Sayangnya filter bagi anak-anak kita akan kasus-kasus penyelewengan atau penyalahgunaan wewenang hampir tak ada. Anak-anak kecil boleh menonton TV acara apa saja. Para remaja juga boleh membaca berita tentang penyelewengan apa saja. Sebuah pekerjaan sulit yang seharusnya ditanggung oleh siapa? Fakta para penyeleweng yang ditonton demikian jelas adalah orang-orang dengan ijazah tinggi. Kita mencoba menahan diri untuk mengatakan mereka berpendidikan tinggi.
Ironisnya , di lingkungan pendidikan sendiri masih dikotori oleh perilaku-perilaku sebagian oknum (baik yang memegang posisi strategis maupun oknum awam) yang belum memahami arti pendidikan. Jika dunia atau lingkungan pendidikan dijadikan ladang mencari rizki, memang itu salah satu tempatnya. Tetapi jika di lingkungan pendidikan terdapat kasus-kasus yang tidak layak dengan label “pendidikan”, maka dampak negatifnya akan menjadi sangat dahsyat jika dibandingkan kasus yang sama tetapi bukan di lingkungan pendidikan.
Siapa sih yang tidak butuh uang? Semua masih butuh uang. Siapa sih yang tidak butuh pendidikan? Mungkin tidak semua orang butuh pendidikan. Mengapa? Mungkin ini akibat dari lingkungan pendidikan yang tidak memberi berkah karena masih banyak terdapat malpraktek yang berorientasi profit. 
Jika konsep pendidikan terkini adalah membangun karakter bangsa, apa ini tidak terlalu berat? ***
Majalengka, Agustus 2015

Keterangan Bahasa Asing / Daerah :
1.Wejangan (Bahasa Jawa) : Nasihat
2.Kyai ndeso (Bahasa Jawa) : Kyai desa
3.iku ora nguman-umani (Bahasa Jawa): Iku = itu, Ora = tidak, Uman = kebagian, Ora nguman-umani = berlaku serakah tidak menyisakan (apapun) untuk orang lain, dia mbil semuanya.
4.Ceuk Ajengan lembur mah, teu mere agehan kanu ngora!   (Bahasa Sunda) : Kata Kyai Desa, tidak memberi jatah untuk yang muda.
5.Mblegedhu (Bahasa Jawa) : Sangat kaya, kaya raya.
6.Tuyul (Ndak tahu bahasa mana) : terjemahkan sendiri artinya.
7.Nek niyatmu ora tenanan, ojo dadi guru le! (Bahasa Jawa) : Kalau niatmu tidak beneran, jangan jadi guru Nak! (Le = Thole = Sebutan untuk anak laki-laki, Dhuk = Gendhuk = Sebutan untuk anak perempuan).
8.Jer Basuki Mawa Beya (Bahasa Jawa) : Memang, Keselamatan (Kesuksesan) Membutuhkan Biaya.
9.tapak tilas (Bahasa Jawa) : Tapak = pijakan, tilas = bekas


* Sebagian materi dibandingkan dengan isi buku Pendidikan Rusak-rusakan tulisan Sdr. Darmaningtyas