Selasa, 02 Januari 2018

Terbaru 2020 - Cerpen: Kucium Cincin Pemberianmu

Blog Pendidikan


Pagi di Stasiun Tugu. Yogyakarta.
Citra mengantri di peron. Lima menit lagi kereta Argo Lawu akan masuk dari arah Solo. Petugas mulai membuka pintu peron. Gadis itu bergegas masuk sambil membetulkan tas bawaanya. Ketika dari timur mulai tampak gemuruh suara kereta, gadis itu melihat tiket yang dipegangnya. Gerbong 5 tempat duduk 8 D. Gadis itu meloncat ke dalam gerbong. Hawa dingin AC cukup lumayan ia rasakan untuk menggantikan rasa gerah di badan yang ia rasakan selama menanti di stasiun ini. Gadis itu kemudian menata tas bawaanya. Ia melirik sepintas kursi 8C di sebelahnya masih kosong.
Pukul 09.20 kereta mulai bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Tugu.
Mata gadis itu melihat ke luar. Tiba-tiba matanya melihat di sebelah gerbongnya seorang pemuda berlari-lari mengejar kereta. Ketika ia ingin melihat wajah si pelari itu, ternyata ia telah meloncat memasuki pintu belakang.
Bruk! Huuuhhh......
Citra kaget ketika kursi disebelahnya, 8C sekarang telah berisi. Ia menoleh.
"Oh maaf ... saya mengagetkan Mbak."
"Oh nggak apa-apa, silakan, silakan."
"Mbak Citra ya?"
"Lho, kok tahu?"

"Maaf nggak usah kaget, Mbak Citra temannya Nawang?"
"Nawangwulan? Yang KKN di Kretek bulan lalu?"
"Iya betul. Saya sempat lihat-lihat foto pas KKN, sempat lihat tag teman-temannya juga. Sempat melacak ke IG dan FB-nya juga."
"Mhhh...."
"Kepo ya?"
"Hampir."
"Ah Nawang mah!"
"Mbak dari Cirebon kan?"
"Dikit lagi, ke barat lagi, Majalengka."
"Oooo .... yang ada bandara itu."
"Bandara Kertajati?"
"Iya."
"Waaah .... kapan-kapan pengen nyoba ke Kertajati ah!"
"Mau apa?"
"Main saja. Pengen main ke rumah Teh Citra, boleh ya?"
"Eh...emmm......"
Baru ketemu beberapa menit Citra sama sekali tak merasa canggung dengan teman sebelahnya itu. Mengalir begitu saja. Ia sendiri juga tak habis pikir, kenapa bisa demikian. Mungkin dia pakai hipnotis? Mungkin saja. Tapi gadis itu merasa tak ada gestur hipnotis. Dan ia pernah sedikit belajar tentang ilmu psykologi. Namun memang, obrolan yang dilakukannya seolah menampakkan mereka adalah teman lama.
"Tiga hari lagi saya mau main ke rumah Nawang. Di Sokanegara."
"Oooo ..... mau ke Purwokerto? Mbak Nawang nggak pernah cerita."
"Heheee... cerita apa?"
"Ah enggak.... nggak apa-apa."
"Dikira mau apel ya? Enggak laah Mbak.. Nawang itu masih saudara kok."
"Saudara?"
"Iya, bahkan saudara dekat."
"Oooo...."
"Ibu kami kakak beradik."
"Oooo..."
"Tiga hari mendatang, kata Nawang akan ada acara di rumahnya. Termasuk reuni alumni KKN Kretek. Aku pengen kenalan sama alumni KKN itu."
"Ooooo .... bukannya acara itu sudah dibatalkan Nawang?"
"Dibatalkan?"
"Yang acara di rumah Nawang, terus dilanjut ke Kebun Raya Baturaden?"
"Iya bener itu!"
"Ya Allah.... kan sudah dibatalkan Mas."
"Apa?"
"Mbak Nawang nggak peenah cerita?"
"Dia memang aneh kok, suka bikin kejutan."
Bagi Citra , perjalanan kali ini benar-benar tak terbayang sebelumnya. Semula ia membayangkan bahwa perjalanan Yogya Cirebon akan banyak diam, terpekur, melihat persawahan yang dilewati, atau kawasan-kawasan di belakang perkotaan yang dilewati rel kereta api. Namun tidak, sekarang ada sesuatu yang ia rasakan beda.
Kali ini kereta telah melewati Patikraja.
Beberapa menit kemudian kereta memasuki stasiun Raya Purwokerto. Citra melirik sekilas. Teman seperjalanan yang ada di sampingnya ternyata juga mahasiswa UAD Yogyakarta. Hanya saja pemuda di kampus 5 , dirinya di kampus 3 untuk jurusan Ilmu Hukum.
"Aku turun di sini Mbak Citra ..." kata pemuda itu setelah kereta berhenti di stasiun.
"O iya silakan."
"Nggak nanya namaku ya?" kata pemuda itu tersenyum.
"Ooo hehe enggak ... terima kasih."
"Aku Fauzan!" kata pemuda itu sambil mengulurkan tangan.
"Fauzi?"
"O bukan Fauzi, aku Fauzan."
"Oooo ... iya ..ya."
"Suatu saat aku bakal sampai Majalengka! Ke rumah Teh Citra!"
"Oh."
Pemuda bernama Fauzan bergegas turun. Citra mengikuti kepergiannya sekilas. Ketika pemuda itu sudah turun dari gerbong, kemudian melambaikan tangan ke arah Citra. Gadis itu hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
Ketika kereta mulai berjalan kembali melanjutkan perjalanan, Citra mendesah. Ia duduk menyandarkan punggungnya dengan nyaman. Tak seperti sepanjang perjalanan dari Yogyakarta tadi. Fauzan banyak sekali bercerita tentang apa saja. Tentang kuliahnya, tentang hubungannya dengan Nawangwulan dan sebagainya. Hanya ada satu hal yang tak ia katakan sepanjang perjalanan tadi. Yakni mengenalkan namanya. Makanya ketika turun, pemuda itu mengenalkan namanya. Mungkin pemuda itu ingin ditanya namanya terlebih dahulu oleh Citra, namun tidak.
Citra mengambil HP. Ia membuka WA mencari nama sahabatnya. Nawangwulan.
"Mbak, hari ini perjalananku ke Cirebon terganggu selama dari JK ke Pwt!"
"O lha Teh, si Teteh pasti ketemu pemuda ganteng ya?"
"Lah kok? Mbak tahu ya?"
"Tahu lah, dia duduknya di kursi 8C kan?"
"What?"
"Sudah Teh Citra yang cantiiik, yang cueeek. Nggak usah banyak cerita, aku tahu yang duduk di sebelahmu itu Fauzan, itu saudaraku, saudara dekat."
"Iya, dia juga bilang begitu."
"Kalian sudah kenalan?"
"Kenalan enggak, malah ngerumpi-in Mbak Nawang."
"Apa?"
"Nggak usah kaget laaah Mbak, kayaknya Mbak Nawang menjual berita tentang aku ke saudara Mbak itu ya?"
"Ya nggak sih, cuma pas dia nanya kabarku waktu KKN, dia minta foto-fotoku. Kan di situ ada kita yang samaan. Terusss.... heheee..... dia nanya."
"Nanyain apa?"
"Nanyain teh Citra."
"Apa katanya?"
"Ya lengkap lah, anak mana, namanya siapa, jurusan apa, sudah punya pacar apa belum, lengkap dah pokoknya."
"Astagaaa! Mbak .... kenapa biodataku dibeberkan semua?"
"Aku salah ya? Kan dia cuma lihat foto, terus tanya, ya langsung aku jawab."
"Ada yang gawat Mbak...."
"Apa?"
"Mbak Nawang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi."
"Lho?"
"Jangan-jangan yang ngasih info aku pulang hari ini, dan aku duduk di kursi 8D Mbak Nawang ya?"
"Emmm....."
"Katakan iya Mbak."
"Iya..."
"Sehingga Mas Fauzan bisa beli tiket untuk kursi nomor 8C."
"Iya."
"Itukah mengapa kemarin-kemarin Mbak nanya-nanya tentang nomor kursiku?"
"Iii....iya..."
"Aku off!"

Citra menghela nafas dalam.
Gadis itu mematikan HP-nya. Ia tak ingin lagi melihat seperti apa respon sahabatnya se-KKN-an itu.
Informasi dari Nawangwulan sangat tidak mengenakkan. Ia merasa privacy-nya dilanggar. Untuk urusan berbaikan lagi bisa saja, tapi untuk liburan kali ini tidak. Ia ingin liburan harus fresh.

***
Ada tiga bersahabat. Citra, Alifia dan Arul. Ketiganya memiliki sebuah komitmen yang cukup unik. Selepas SMA, setiap hari minggu di minggu terakhir akhir tahun harus bertemu  almamater SMA Negeri 1 Majalengka. Waktunya sekitar pukul sepuluh pagi.
Ini adalah pertemuan akhir tahun keempat, di mana ketiganya telah menduduki tahun terakhir di jenjang sarjananya. Alifia dan Fahrul kuliah di Bandung, sedangkan Citra di Yogyakarta, cukup jauh dari Majalengka.
Dari pukul setengah sepuluh pagi Citra telah duduk di bangku taman sekolah. Kehadirannya sebagai salah seorang alumnus hampir tak bisa dibedakan dengan orang lain. Setiap hari Minggu almamaternya itu digunakan untuk tempat belajar mahasiswa UT.
"Hallo mahasiswa UT!"
Tiba-tiba terdengar suara menyapa di belakangnya. Citra kaget. Gadis itu berdiri dan membalikkan badannya.
"Fiaaaa!!"
"Citraaaa!!"
Kedua gadis itu berpelukan hingga beberapa lama. Setelah puas berpelukan, Citra mengguncang-guncang kedua pundak Alifia.
"Mana Arul?" tanyanya antusias.
"Biasa, hunting!"
"Astaghfirullah ..... si kasep itu ya, bener-bener pengen jadi fotografer. Hunting kemana dia? Panyaweuyan? Para-land? Atau?"
"Nggak jauh, dia hunting di Smansa kok!"
"Hah? Di Smansa? Smansa sini?"
"Iya!"
"Di mana?"
"Tuuuuhhhh!" kata Alifia sambil menunjuk ke arah seorang pemuda yang duduk di bangku taman yang lain dengan jarak sekitar dua puluh meteran.
Citra kaget. Kepalanya digeleng-gelengkan.
Ia melihat Arul masih tetap mengarahkan kamera DSLR-nya ke arahnya. Gadis itu kesal. Citra berlari ke arah Arul. Setelah dekat lengan pemuda itu dicubitnya berulang-ulang.
"Aduuuh.... ampun Citraaa.... ampuuun!"
"Ampun apa?"
"Ampun nasuha!"
"Huih! Nasuha mah taubatan! Tadi hunting apa sih? Aku dijadikan obyek ya?"
"Mumpung menemukan momen yang alamiah. Lucu. Dramatis, dua sahabat pelukan. Dan ada gambar kamu yang lucu! Ketika menoleh ke sini, wuiiih ....."
"Wuih apanya?"
"Keur olohok."
"Fahruuuul! Jahat!"
Siang itu ketiga sahabat saling bercerita tentang pengalaman masing-masing. Banyak sekali informasi yang saling mereka peroleh. Maklum, komitmen memang sangat teguh dijalankan.
"Citra ..... sebentar lagi aku lulus S1, Insya Allah lulus lah."
"Iya, aku doakan semoga lancar."
"Ni yang di sebelahku Insaya Allah juga lulus."
"Iya, aku doakan semoga lancar Rul."
"Dan yang paling penting, doakan nanti Rayagung akan menjadi catatan sejarah kami." kata Alifia sambil tersenyum. Citra terbelalak. Ditatapnya Alifia dan Arul berganti-ganti.
"Kalian nikah?"
"Insya Allah ...."
"Alhamdulillaaaaah .... Fia, ikut seneng..... Fiaaa...." kata Citra seraya memeluk sahabatnya.
Citra mengamati Fia hampir tak percaya. Matanya berkaca-kaca. Ia mencoba tersenyum. Bibirnya dikatubkan untuk menahan rasa yang bergejolak.
"Kamu kenapa Cit?"
"Nggak .... nggak kenapa-kenapa."
"Citra, maafkan kami. Aku dan Arul duluan ...."
"Kalian nikah muda?"
"Insya Allah mental kami siap. Menikah lebih terhormat dibanding  ha-te-es."
"Iyalah pasti. Dulu memang kalian ha-te-es?"
"Nggak juga, cuma jauh-jauhan saja. Eh lama-lama kepikiran juga kenapa nggak nikah saja. Begitu lulus langsung nikah. Rejeki ada yang mengatur Cit...."
"Iya ya ...."
"Mmmm... Citra, maaf ya, maaaf banget. Boleh aku nanya sesuatu?" kata Alifia ragu.
"Prive ya?"
"Ya sih. Tapi nggak apa-apa kalau kamu tidak berkenan."
"Hmh ...."
"Arul pergi dulu gitu Cit?"
"Nggak usah lah .... Nggak ada gunanya."
"Maksudmu?"
"Arul menjauh. Ntar bubaran ini, kamu pasti crita sama Arul. Eh, ini mau tanya apa sih?"
"Aaah benar juga Cit, pasti aku bakal cerita ke Arul. Ya sudah, Arul di sini saja. Emmmm....."
"Ayolah jangan ragu!" kata Citra. Kini wajahnya ceria.
"Mmm oke! Citra, apakah akhir-akhir ini Fauzi menghubungimu lagi?"
"Ooooo dia ...."
"Ya, Fauzi."
"Mungkin dia sudah patah arang. Sejak kita lulus, ya sudah. Prinsip dia dengan prinsipku berbeda. Seperti pertemuan kita tahun-tahun kemarin juga, nggak ada kabar."
"Intinya kalian putus beneran?" tanya Alifia meyakinkan.
"Iiih putus apaan. Nyambung juga belum."
"Emmm Citra, maaf ya. Ini sekali lagi bukan kami memasuki wilayah privacy-mu terlalu dalam, tapi ini menyangkut kami juga."
"Fia, Arul.... bebaslah dengan aku. Kalian sudah hafal watakku kan?"
"Iya."
"Ayolah, mau tanya apa, aku ladenin! Heheee!"
"Ah kamu mah, dari jaman SMA begitu. Kepedean banget."
"Bukan kepedean kali! Ini sumber motivasi. Kalau nggak ngomong kayak gini, ntar jadi mlempem!"
"Oke? Emmm gini Cit, kamu di Yogya punya pacar nggak?"
Citra tertawa terkekeh mendengar pertanyaan sahabatnya. Alifia penasaran.
"Kalau punya gimana?"
"Berarti punya?" tanya Alifia berbalik.
"Kalau tidak punya?" tanya Citra.
"Astaghfirullah ...... kamu ya Cit, gitu deh! Nyerah ah!"
"Fia, aku masih ingin konsen belajar. Aku ingin punya ilmu dulu. Punya pengetahuan, punya kompetensi di bidang hukum. Mumpung aku masih muda, pikiranku masih satu, belum bercabang-cabang,"
"Itu artinya kamu masih sendirian."
"Yaaah .... memang begitu adanya."
"Jangan-jangan .... mmm... jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa?"
"Jangan-jangan kamu masih mengharapkan Fauzi."
"Hmh..... biarkan saja Fia, mengharapkan atau tidak, kalau memang ditakdirkan bertemu dan berjodoh, ya pasti akan bareng lagi."
"Artinya kamu mau bertemu?"
"Saat ini nggak!"
"Lho?"
"Aku sedang menikmati kuliah dulu. Setelah lulus S1 ini, aku mau lanjut S2 dulu!"
"Citra! Kamu bakal tua di perkuliahan!"
"Ya enggak laaah! Berapa sih paling bedanya dengan yang lulus S1? Hanya empat semester kok!"
"Kamu nekad Cit!"
"Bukan nekad Fia, tapi ekspetatif. Siapa tahu setelah lulus S2 malah aku berfikir jadi dosen!"
"Aduuuh Citraaaaa......"
"Maafkan aku Citra, mudah-mudahan keinginanmu itu terkabul. Tapi maaf, mudah-mudahan niatmu itu bukan karena kamu frustasi, karena pelarian ....."
"Fia, kalau yang ngomong bukan kamu, aku marah!"
"Marahlah Cit, kalau memang itu perlu. Dan kalau memang kamu bercita-cita tinggi itu karena pelarian."
"Kamu salah besar Fia, juga Arul, kamu jadi saksi. Aku bercita-cita tinggi bukan karena orang lain. Dan mungkin yang kau maksud orang itu adalah Fauzi. Iya kan?"
Wajah Alifia memerah.
Apa yang dikatakan Citra benar. Gadis itu melihat ke arah Arul. Pemuda itu hanya menggeleng.
"Citra .... maafkan Fia, dulu aku lah yang mengatakan bahwa Fauzi ingin kenalan sama kamu, padahal dia tidak ngomong apa-apa."
"Oh... ya, fakta itu."
"Citra, maafkan juga Arul. Dulu akulah yang mengatakan ke Fauzi bahwa kamu ingin dekat dengan dia, padahal kamu tidak ngomong apa-apa."
"Hmhhh.... itu sejarah Aruuul, Fiaaaa..... jalan orang jadi kenal itu bermacam-macam. Kalau akhirnya awalnya sedikit diboongin, ya nggak apa-apa laah. Toh akhirnya aku dulu juga pernah suka sama Fauzi. Dan dia juga kayaknya suka sama aku. Hanya beda prinsip, kalau akhirnya harus bubar jalan ya sudah! Tapi kalau memang takdir berkata lain, ya tinggal diikuti."
"Jadi kamu nggak marah ke kami?"
"Ya nggak lah."
Hari itu banyak yang yanag didapatkan Citra.
Dua sahabat yang dulu telah mempertemukan dirinya dengan Fauzi, kini hampir menikah. Gadis itu mendesah. Ia pandangi sekeliling. Aula sekolah. Kantin. Ruang kelas. Masjid. Taman. Lapangan basket. Lapangan upacara. Semua tempat itu begitu indah. Dirinya pernah berjalan di semua tempat itu, dan Fauzi juga.
Sayang sekali mereka tak sejalan dalam prinsip, persahabatan mereka berdua tak berlangsung lancar. Ketika lulus SMA, masing-masing jalan dengan cita-cita sendiri. Citra kuliah di Yogyakarta, Fauzi kuliah di Bandung.
***

Di tahu keenam setelah SMA, Citra masih bertahan di Yogyakarta.
Program S2-nya telah dijalaninya selama tiga semester dengan IP yang memuaskan. Di saat-saat senggang, usai mengerjakan tugas yang selalu banyak, pikirannya kadang melambung, melayang, kemudian jauh kembali ke SMA.
Fauzi. Ya Fauzi.
Dulu, Citra mengenalnya karena "dijebak" oleh kedua temannya, Fia dan Arul. Fia mengatakan ke Fauzi bahwa Citra ingin kenalan. Padahal dirinya sama sekali tak memiliki keinginan apa-apa. Tapi ia juga maklum, Fia orangnya suka bercanda. Sementara itu Arul mengatakan kepada Citra, bahwa Fauzi ingin berkenalan.
Hari Jumat pagi.
"Citra ... kalau semester ini nilai kamu bagus, aku akan traktir kamu."
"Iiih kayak nadzar saja!"
"Hehe!"
"Mau aku beritahu nggak Zi?"
"Apa?"
"Mau nraktir saja pakai syarat, itu namanya peee-liiiit!"
"Hahaha! Ya nggak lah .. itu namanya memotivasi!"
"Emmm ... tapi beneran nih?"
"Iya."
"Traktir apa coba?"
"Ayam cobek, goreng ati ayam pedas ala Mang Edi!"
"Apa?"
"Apa kenapa?"
"Kenapa harus ati ayam?"
"Ini hasil studi yang cukup panjang."
"Maksudnya?"
"Aku yakin, kesukaan Citra adalah goreng ati ayam cobek di kantin Mang Edi."
"Ah nggak lucu ah!"
"Masih nggak percaya .... coba tanyakan saja pada Bu Edi."
"Bener nih?" tanya Citra menantang.
"Yaah!"
"Awas ya ntar istirahat kedua aku tanyakan...."
"Sekarang juga boleh."
"Kamu nggak bohong?"
Karena penasaran, akhirnya Citra benar-benar menanyakan kepada istri Mang Edi. Sementara dari jauh Fauzi tersenyum melihat sahabatnya itu menuju ke kantin Mang Edi.
"Punten Bu ....."
"Eh Neng Citra, mau makan ya?"
"Enggak kok Bu, nanti saja."
"Oooo..."
"Sekarang mau nanya dulu. Boleh nggak?"
"Nanya apa Neng?"
"Bu mau tanya nih, sepengamatan Ibu, adakah orang yang sering menanyakan aku suka makan apa di sini?"
"Oooo .... ada ... "
"Ada?"
"Iya ada, anak laki-laki. Hmh namanya siapa ya? Lupa-lupa ingat."
"Uzi ya Bu?"
"Lupa, padahal kadang-kadang pakai baju OSIS ada namanya. Tadi kalau gak salah jalan bareng Neng Citra kok!"
"Tadi Bu?"
"Iya, tadi .... waktu di depan ini. Dari kopgur atau dari kantor!"
"Yakin tadi ya Bu?"
"Iya, iya...."
"Yaudah Bu... terima kasih ya...."
Usai menanyakan Citra kembali ke tempat semula. Namun ia kecewa ketika Fauzi sudah nggak ada di tempat semula. Akhirnya dengan menghela nafas dalam gadis itu bergegas ke kelas. Namun hati gadis itu merasa senang sebab ia berkesimpulan bahwa yang sering menanyakan kesukaan makannya di kantin Mang Edi memang Fauzi. Dan yang paling ia rasakan senang sekali adalah sebab pernyataan Fauzi benar. Ia paling suka jika makan nasi, dengan goreng ati ayamnya Mang Edi.
Pukul dua siang usai sekolah.
Citra mencari-cari Fauzi. Namun yang ia cari tak ia temukan. Kelasnya sudah kosong. Di tempat parkiranpun tak tampak.
Ting! Ada notifikasi WA. Fauziii...., gumam Citra ketika melihat siapa yang men-japrinya.
"Citra sudah puas kan? Gak penasaran lagi? Itulah warung Mang Edi, tempat aku belajar mencari fakta dan data."
"Ih kamunya kemana tadi."
"Maaf, aku buru-buru. Ini juga sudah nyampai di rumah. Persiapan besok."
"Mau ke mana?"
"Touring!"
"Ya ampun Fauzi .... ini sudah semester lima. Sesekali cobalah buat alasan dengan komunitasmu itu, sesekali nggak usah ikut."
"Tapi asyik Citra... ya kaya kamu punya hobby lah!"
"Ya tapi hobbyku kan nggak seekstrim hobbymu, makan tenaga, makan pikiran, konsentrasi, bensin, siaa tahu tiba-tiba hujan lebat di jalan. Sakit dan lain-lain ....."
"Nantilah kalau sudah lulus SMA."
"Huh!"
"Eh Cit, btw, tadi bu Edi ngomong apa?"
"Iya... kamunya yang suka nanyain aku suka apa ke bu Edi. Ngapain sih?"
"Ya ingin tahu saja .... siapa tahu nanti, suatu saat Citra nanya, Pah kita makan di luar yok! Makan ati ayam goreng, naah nanti kan aku bisa bawa Mamah ke restoran manaaaa gituuuh!"
"Mengkhayaaal!"
"Citra, cita-cita itu semua berawal dari khayalan lho! Aminin dong!"

Teh Citraaaa! Melamun ya!
Mendadak gadis itu terhenyak kaget. Semua lamunannya tentang Fauzi buyar. Ia melihat Nawangwulan telah duduk di sampingnya.
"Aaa .. ada apa Mbak?" tanya Citra sambil masih belum hilang kagetnya.
"Teteh melamun ya? Lagi terkenang ya?"
"Terkenang apaan sih."
"Heheee... barangkali saja."
"Aaah bisa saja ngarang cerita."
"Sejak S1 Teteh kok kayaknya lempeng-lempeng saja."
"Maksudnya?"
"Biasanya yang lain kan berdua."
"Hihihiii..! Apaan si Mbak mah!"
"Kalau ada yang mau ngajakin berdua mau nggak?"
"Hehee...."
"Kalau jadi saudaraku mau nggak?"
"Heheee...."
"Apaan sih kok hihi sama hehe saja!"
"Hihihii... eh salah! Saudara Mbak Nawang maksudnya?"
"Ya, saudaraku. Saudara sepupu."
"Mas Fauzan?"
"Iya laaah!"
"Nggak tahu Mbak."
"Tunggu kejutannya ya?"
Citra mendesah dalam. Ia ingat, Fauzan, saudara sepupu Nawang yang selalu berusaha dengan segala upaya mendekati dirinya. Gadis itu ingat, kira-kira mulai tahun terakhir ketika menempuh S1. Namun untuk urusan yang satu ini, tampaknya memang hati yang berbicara.
Kuliah hampir enam tahun di Yogyakarta membawa dirinya banyak teman dan sahabat dari kota pelajar ini. Banyak pula sahabat yang lumayan karib. Teman satu kelompok, teman satu grup penelitian, teman satu grup pengabdian masyarakat dan sebagainya. Kedekatan dia dengan teman laki-laki juga banyak. Namun tak ada satupun yang memberikan daya tarik bagi hatinya.
"Witing tresna jalaran saka kulina!"
Demikian suatu kali Nawang pernah memberikan gambarang tentang salah satu isi budaya yang dikemas dalam unen-unen basa Jawa
"Artinya apa Mbak?"
"Cinta itu akan tumbuh karena terbiasa. Terbiasa bareng misalnya ...."
"Ooooo...."
"Kalau witing tresna jalaran saka kepeksa apa artinya Mbak?"
"Haha itu mah Teh Citra yang ngarang sendiri ya? Itu artinya, cinta itu akan tumbuh karena terpaksa. Siapa yang ngomong begitu?"
"Teman sekamar kosan."
"Ooo kenapa rupanya?"
"Dia nikah karena tidak disengaja. Katanya karena kepeksa-nya itu."
"Naudzubillah! Ih ngeri! Jangan sampai laaaah....."
"Oke, bener setuju itu Mbak!"
***

Pagi pukul 09.09. Pantai Jatimalang, Purworejo.
Citra sendirian di dangau pinggir pantai Jatimalang. Sebuah spot wisata yang menyajikan deburan ombak yang cukup besar. Memang sangat disayangkan, jika wisata demikian, maka tak ada pengunjung yang main simbur-simburan air. Paling hanya sekedar berdiri di pantai, selfi, kemudian lari ketika ombak datang menghantam hamparan pasir ke pinggir. Tapi, inilah tempat yang diminta Citra.
Citra membuka WA dari orang tuanya.
"Apakah usahanya yang tak kenal lelah akan tetap terabaikan?Ia datang seminggu lalu, hanya sepuluh menit. Sama seperti tahun-tahun dulu, ia selalu mencegatmu di akhir tahun. Kosong. Tapi ia tampak tak pernah jemu. "
Gadis itu mendesah. WA dari ayahnya bernada sastra. Ia tersenyum.
Matanya menerawang ke lautan lepas yang masih diliputi kabut tipis hingga menyamarkan kaki langit bersentuhan dengan garis laut. Gelombang besar berulangkali menghempas pantai. Cukup besar dengan awalan gulungan alun yang tinggi.
Oh! Tiba-tiba Citra terhenyak.
Ia melihat sebuah perahu nelayan terombang-ambing ketika berusaha mendekati daratan. Berkali-kali sang nelayan berusaha menaklukkan gelombang yang tinggi, namun sering sekali gagal. Bahkan dari kejauhan perahu itu tampak seperti ditelan ombak, kemudian muncul lagi, berbalik arah, diarahkan lagi ke pantai.
Yess!!!
Tiba-tiba gadis itu berteriak sambil mengepalkan tangan ketika ia kemudian melihat perjuangan sang nelayan berhasil mengatasi alun dan ombak kemudian menyusur pasir pantai.
Citra memandangi perahu yang kemudian menepi dengan dibantu oleh beberapa orang untuk menambatkan perahu agak jauh ke daratan.
"Itu seperti perjuanganku ....."
Tiba-tiba gadis itu kaget mendengar ada suara di belakangnya. Ia menoleh.
Ia melihat seorang pemuda sedang berdiri mengamati laut dengan satu tangannya berpegangan pada tiang dangau. Demi melihat lebih seksama lagi, jantungnya berdetak cepat.
"Ffff....fff......" bibir Citra bergetar kesulitan hendak mengeja kata.
"Fa-u-zi." kata pemuda itu pelan sambil tersenyum
"Fauzi?" mata Citra terbelalak melihat siapa yang berdiri di depannya.
"Citra .... kamu masih mengenali aku?"
"Mmm...mmm.."
"Ma-sih."
"Iii.. iya  masih, masih."
"Minum dulu ...... Citra... biar tenang." kata Fauzi seraya mengeluarkan dua botol air mineral. Yang satu diberikan kepada Citra, yang satu dibukanya sendiri.
Gadis itu menurut saja meminum pemberian Fauzi. Namun memang benar, kini ia merasa benar-benar tenang.
"Terima kasih.."
"Citra ...." kata Fauzi seraya mengulurkan telapak tangan mengajak salaman. Gadis itu menerima uluran tangan Fauzi. Ia mersaakan tangan pemuda itu bergetar.
"Aku nggak nyangka."
"Apa?"
"Tempat sejauh ini bakal nyampai."
"Aku suka tantangan. Aku ke sini juga memenuhi tantanganmu Citra. WA-mu galak sekali." kata Fauzi sambil tertawa,
"Galak gimana?"
"Kamu hanya sebutkan aku suruh temui kamu di pantai Jatimalang. Paling bilang dikit lokasi, kulon Yogya gitu. Yogyakarta itu luas banget Citraa..."
"Tapi sampai ke sini kan?"
"Hehehe... itu berarti aku serius. Ada yang nggak terbendung."
"Apa?"
"Kangen."
"Iiih!"
"Apalagi juga pengen lihat senyum kamu kayak sekarang ini, sudah dewasa, sudah S2."
"Hehee... lupakan itu lah! Terus nyampai ke sini tanya-tanya?" kata Citra mengalhkan pembicaraan,
"Google Maps."
"Pasti menyusuri jalan Daendeles?"
"Ya."
"Langsung dari Bandung?"
"Nggak. Semalam aku tidur di rumah temanku, di kosan temanku yang kuliah di Unsoed. Tadi pagi barulah lanjut perjalanan."
"Ooo ...Fauzi... emmmm... sehat?"tanya Citra sambil tersenyum.
Gadis itu sebenarnya sangat heran dengan dirinya sendiri untuk tidak menahan senyum. Mungkin karena bahagia. Atau mungkin yang lain.
"Alhamdulillah sehat. Citra sehat juga kan?"
"Alhamdulillah."
"Kok senyum terus?"
"Iiiih apaan sih! Memang nggak boleh."
"Ada yang nggak berubah."
"Apanya?"
"Senyumnya."
"Ada juga yang lain yang juga nggak berubah."
"Apanya?"
"Ngangeninya..."
"Aah ngaco ah!"
"Citra, kalau bukan karena kangen, buat apa aku jauh-jauh dari Bandung, nginep di Purwokerto, menyusuri tempat yang tidak aku kenal. Jalan Daendeles? Jatimalang? Untung beneran aku menemukan anak yang hilang, yang melarikan diri ke Yogyakarta."
"Aaah ..."
"Memangnya ayah bilang apa ketika aku datang minggu lalu?"
"Ooohh.. itu, sederhana sih. Apakah usahanya yang tak kenal lelah akan tetap terabaikan?"
"Bener. Ayah bener. Usahaku tak mengenal lelah. Juga caraku, yang itung-itung bernostalgia hobby lama."
"Cara yang mana?"
"Touring."
"Jadi? Kamu ke sini ..... mmmm...."
"Motor."
"Ya Allah ... capek atuuh! Vespa?"
"Bukan. CBR sih."
"Vespanya?"
"Kesibukan kuliahku di S2 kayaknya lebih memaksaku memilih off dari komunitas. Syukur mereka maklum dengan keputusanku sih. Tapi persahabatan dengan anak-anak tetap jalan. Aku ketemu mereka ya jarang sih, paling kalau pulang ke Majalengka. Barulah berbagi cerita."
Inilah yang dulu diharapkan Citra.
Gadis ini sebenarnya tidak antipati kepada komunitasnya, tapi justru kepada model kegiatan semacam touring. Kadang-kadang karena merasa gagah dan kuat, karena kemudaan, mereka menantang lengah dengan turing tanpa jaket. Jika sakit? Itulah yang ditakuti Citra.
Juga sementara ini penilaian masyarakat minor terhadap komunitas yang diikuti Fauzi. Orang tuanya sendiri mengijinkan. Artinya ada pengawasan juga. Tentu, tidak selamanya komunitas itu jelek. Itu kadang pandangan sekilas dari mereka yang belum atau tidak memahami apa yang ada di dalamnya.
"Aku harap kamu off bukan karena aku." kata Citra sambil memandang lautan lepas.
"Enggak. Jangan merasa aku memutuskan mengurangi kesenanganku karena kamu Citra. Tapi, paling tidak kalau kamu ngomong ... dulu tapi ngomongnya, Fauzi ... jaga kesehatan. Pakai jaket. Jangan sakit ya ... heheee... aku suka juga."
"Memang aku suka gitu ya? Protected banget ya?."
"Dikit sih hehe. Tapi suka kok. Iya, suka dinasehatin."
"Masih suka nge-game?"
"Alhamdulillah sudah sadar kok Cit. Baru diberi kesadaran bahwa ngegame itu hanya berintiraksi dengan dunia maya. Apalagi aku punya teman di S2, jagoan waktu di S1-nya, sekarang dia ketagihan. Kuliahnya berantakan. Sepele kan? Hanya karena sesuatu yang maya."
"Syukurlah kalau kamu sudah sadar Zi."
"Dulu aku kuliah di S1 dengan susah payah Cit, mengatasi rasa nggak pe-de, pesimistis dan sebagainya. Nggak kaya kamu Citra."
"Kaya aku? Apanya?"
"Cling!"
"Aaahh norak ah!"
"Iya bener, ada satu hal kecil yang bisa membuatku berubah besar."
"Apa?"
"Gambar yang kamu berikan ke aku, dulu waktu kamu dapet hadiah buku karena nilai PAS matematikamu bagus. Niih .... tunggu ..... "
Beberapa saat kemudian Fauzi mengaktifkan tabulet-nya. Citra tersenyum. Ia memastikan gambar yang dulu pernah diminta Fauzi, kini mau diperlihatkan lagi.
"Naaahhhh........ ini."
"Iya, syukurlah. Apa sih motivasinya?" tanya Citra yang sudah menduga gambar itulah yang dulu digunakan dirinya untuk memanas-manasi Fauzi agar berprestasi.
"Hehe iya, aku ingat kata-kata gadis di tabulet ini, gini ... tetep semangat mengejar cita-cita. Jangan pernah nyerah,  jangan pernah ngerasa rendah diri atau minder. Yakinlah, karena setiap orang pasti punya bakat."
"Terima kasih nasehatku masih dipakai. Ada buktinya nggak?"
"Heheee ya ada laah! Buktinya sekarang aku S2 Ekonomi."
"Apa lagi?"
"Aku punya mimpi jadi pengusaha. Tapi entah di bidang apa nanti, tergantung peluang."
"Apa lagi?"
"Tetap semangat mengejar cita-cita."
"Yang tadi itu bukan cita-cita?"
"Iya, itu cita-cita dalam penghidupan. Ini cita-cita yang lain."
"Terus cita-cita yang lain apa?"
"Citra ....."
"Ya."
"Aku bercita-cita ..... emmmh.... mmm..."
"Apa?"
"Memiliki senyum Citra untuk selamanya ...."
Wajah gadis itu memerah. Bibirnya terkatub.
Ia arahkan pandangannya ke laut lepas. Angin yang kencang masih bertiup keras. Sesekali ujung kerudungnya terkibas menutupi wajahnya. Beberapa kali pula ia memperbaikinya.
Fauzi memandang laut lepas juga. Keduanya diam.
"Laut yang luas ...... aku tahu, selama kita di SMA banyak hal yang membuat kita tak sepaham. Citra ...."
"Ya...." Kata gadis itu tanpa menoleh.
"Fauzi yakin hati kamu seluas lautan untuk menerima permintaan maafku."
"Nggak ada yang perlu dimaafkan."
"Dulu kamu seperti marah, aku memang banyak tak menuruti keinginanmu. Nasehatmu. Aku ingin ishlah, beberapa kali pas liburan aku tunggu, kamu selalu menghindar. Nomor HP diganti, kaya ayah, kamu nggak mau nomor itu diberikan ke aku. Selalu kamu katakan kita beda prinsip. Juga ketika acara Graduation Smansa 2018. Aku pengen perpisahan sekolah kita itu indah ...."
"Ya biarlah ... itu dulu....."
"Sekarang sudah berbeda Citra?"
"Hmhh... mungkin."
Citra menoleh. Fauzi menatapnya sejenak. Gadis itu mengulurkan tangannya meminta tabulet yang ada di tangan Fauzi. Fauzi menyerahkannya.
"Kita itu lucu, kadang-kadang sok-sokan saling beri nasehat."
"Ya nggak sok-sokan lah Cit, nyatanya? Semua terbukti."
"Aku terima kasih nasehatmu juga Zi."
"Oooo iya."
"Kamu pernah bilang, sekolah itu, nilai ngga harus dikejar. Tapi perlu sih. Yang harus dikejar itu ilmu , ilmu yang menjadi milik kita. Ilmu yang memang bermakna. Peringkat nggak terlalu penting, kalau sekelas terkecil rata-rata 89? Bagus nggak? Bagus. Walaupun peringkat terakhir dia."
"Kamu masih ingat Citra?"
"Ya masih laaah. Itulah mengapa aku tak pedulu peringkat. Dan nyatanya di perguruan tinggi nggak ada yang membahas peringkat. Inilah yang mendorongku mantap ikut S2 setelah S1 dulu itu."
"Aahahaa..... nggak nyangka Citra.. Citra..."
"Memang begitulah aku Zi, kalau yang nasehatin orang yang aku cintai .. aku selalu ingat."
"Iyaa terima kasih Citra... kamu mencintai aku. Aku juga mencintai Citra..."
"Heh? Apaan sih?"
"Apaan apanya?"
"Siapa bilang aku mencintai kamu?"
"Lho? Kan kamu yang ngomong sendiri. Baru saja!"
"Enak saja!"
"Citraaaa..... kamu nggak sadar apa yang kamu omongkan?"
"Zi?"
Citra seperti orang bingung. Fauzi meminta tabuletnya. Gadis itu lebih kaget lagi ketika tiba-tiba Fauzi memintanya diam dulu, karena ia akan memperdengarkan rekanman dari tabulet-nya. Ia tidak sadar ketika tabulet itu sudah sejak tadi diaktifkan mode rekam-nya.
"Memang begitulah aku Zi, kalau yang nasehatin orang yang aku cintai .. aku selalu ingat."
"Memang begitulah aku Zi, kalau yang nasehatin orang yang aku cintai .. aku selalu ingat."
"Memang begitulah aku Zi, kalau yang nasehatin orang yang aku cintai .. aku selalu ingat."

Wajah Citra memerah.
Ia baru sadar bahwa tadi ia mengatakan kalimat itu tidak dalam keadaan sadar. Refleks saja. Gadis itu menelungkupkan wajahnya. Ia benar-benar telah membuka isi hatinya tanpa terasa. Sementara itu Fauzi yang berdiri di dekatnya tak bisa menahan senyum bahagianya.
Hingga lama Citra tertelungkup.
"Citra ..... ayo sini, lihat sini...."
"Nggak mauuu....."
"Kenapa?"
"Maluuu..... maafkan Citra Zi."
"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Justru saat inilah aku yakin apa yang Citra ucapkan tanpa kebohongan. Tidak dengan logika .... tapi dengan naluri. Forever ya Citra ....."
Cukup lama Fauzi menunggu Citra yang masih menelungkupkan wajahnya. Ia maklum. Tentu gadis itu sangat malu. Namun setelah beberapa saat Citra bisa menguasai diri, Fauzi mengajaknya pergi.
Keduanya berjalan meninggalkan pantai. Sa,pai di perempatan parkiran, Fauzi mengajak ke arah sebuah rumah makan. 
Siang itu keduanya makan siang bersama di Warung Yu Yem. Sebuah rumah makan yang berada di dekat pasar pelelangan ikan laut. Pemuda itu ingin memberi kejutan kepada Citra.
"Makanlah, semuanya sudah kupesan ... semua aku hadiahkan untuk Citra yang telah mengundangku ke pantai Jatimalang." kata Fauzi sambil meminta Citra membuka tudung saji.
Terbayang dalam benak Citra, bawal balado, tenggiri geprek, kepiting seuhah, cakalang bakar, dan segala jenis seafood lainnya. Perlahan gadis itu membuka tudung saji. Namun ketika tudung saji terbuka, ia merenung sejenak, kemudian terbelalak.
"Uzi? Apa ini?" tanya Citra heran.
"Ayam cobek, dengan sajian khusus ati ayam pedas."
"Oooooh ....."
"Semua adalah kesukaan gadis di depanku ini.."
"Fauziiii....."
Bibir Citra terkatub. Mata gadis itu terasa panas. Fauzi melihat air mata mengembang. Citra menggeleng. Ia mengelap air mata yang  mengembang dengan punggung tangannya.
"Citra suka?"
"Ya, ini makanan favoritku. Tapi juga aku tak habis pikir."
"Kenapa?"
"Ini warung seafood."
"Memang nggak boleh menjual ayam cobek dengan sajian utama ati goreng pedas?"
"Fauziiii..... aah, jadi ingat di kantin sekolah lah!"
Fauzi berbinar wajahnya melihat Citra begitu terbawa perasaanya.
Sejurus kemudian ia memanggil Mbak pramusaji warung.
"Iya Mas? Ada apa?" tanya pramusaji tersebut sambil mendekat.
"Ini yang butuh penjelasan." kata Fauzi smabil menunjuk Citra.
"Oooohh... iya...iya......" Mbak pramusaji itu tersenyum memahami apa yang diharapkan Fauzi. Citra mengernyitkan dahi menunjukkan ketidakmengertiannya.
"Ada apa sih Mbak?" tanya Citra kepada pramusaji.
"Ini... Mas ini ceritanya tadi pagi-pagi sekali datang ke warung ini. Si Mas-nya ini menanyakan masakan ayam. Terus terang ayam nggak akan ditemukan menunya  itu di sini. Akhirnya si Mas-nya memesan kepada kami secara khusus untuk disiapkan menu yang ini niiih...."
"Fauzi...."
"Ini ayamnya khusus Mbak, ayam kemanggang, ayam kampung. Mas-nya itu pesen kami menyembelih lima ekor sekaligus. Kenapa lima ekor? Yang penting bagi si Mas-nya adalah hati ayamnya. Karena butuh lima, ya kami harus menyembelih lima ekor. Naah inilah....... ini sesuai pesanan. Katanya ada sahabatnya yang sukaaaaa banget dengan masakan ayam cobek ati pedas. Jadi Mbak ini orangnya ya?"
"Ooh iya ... iya saya memang suka."
"Selamat menikmati ya Mbak .... permisi.... "
Sepeninggal pramusaji. Citra terdiam.
Gadis itu sama sekali tak menyangka Fauzi bakal memberinya kejutan semacam itu. Ia melihat Fauzi yang terus menerus tak bisa menahan senyumnya.
"Terim kasih sajian khususnya Zi."
"Makanan kesukaan Citra yang tak pernah aku lupakan."
"Ziiii...."
"Ya?"
"Dengan Jadi kamu datang ke sini sejak tadi pagi?"
"Ya. Jam enam pagi aku sebenarnya sudah sampai sini. Aku nyubuh dari Purwokerto. Tadi pagi, aku juga sebenarnya lihat Citra pas turun dari taxi Yogya itu."
"Uziiiiii....."
"Untuk Citra, Fauzi tak ingin terlambat sedikitpun."
Hari itu benar-benar telah terjadi ishlah. Dulu keduanya berpisah di akhir SMA dengan emosi anak-anak tanggung. Kini tak lagi. Hari itu Citra benar-benar telah diingatkan banyak hal kecil oleh Fauzi, tetapi bermakna besar baginya.
***

Suatu kali di rumah Citra.
Pagi itu tampaknya merupakan hari yang ceria. Seluruh anggota keluarga sedang berkumpul. Tampak di antara keluarga itu Fauzi yang duduk di kursi teras. Dari dalam keluar Citra dengan membawa minuman dan makanan kecil.
"Acara jam berapa?"
"Tergantung yang ulang tahun. Kalau mamah maunya sekarang ya kita mulai..."
"Oh iya... iya.."
Biim! Biiim!
Keduanya kaget ketika dari jalan depan gerbang ada suara klakson mobil. Citra berdiri untuk melihat siapa yanag kelar dari mobil.
"Mbak Nawaaang!" gadis itu itu tiba-tiba berteriak demi melihat siapa yang keluar dari mobil.
Citra menghambur. Nawang yang baru datang juga bergegas. Keduanya berpelukan hingga beberapa saat.
"Sehat Mbak? Makin cantik saja Mbak Nawaang..... aduuuh ......"
"Teh Citra juga, semakin cantik. Setelah lulus dari Yogya mempercantik diri ya?"
"Aaahhhh canda Mbak Nawang kaya waktu kita KKN saja. Mempercantik diri. Ikut masak bu Lurah di dapur, belepotan jelaga kayu bakar,  katanya juga mempercantik diri!"
"Hehehe......"
"Janjinya ditepati. Nyampai juga ke Majalengka."
"Aku kalau sudah janji, sulit mengingkari."
"Toooppp! Itu yang aku suka dari Mbak!"
"Hehee...."
"Siapa yang nyetir? Calonnya ya?"
"Calon apa? Lihat sendiri tuuuuuh.....!"
Nawangwulan menunjuk ke arah pemuda yang baru turun dari arah pintu sopir. Demi melihat siapa yang turun, Citra terhenyak.
"Mas Fauzan?"
"Iya. Dia sepupu yang seprinsip dengan aku, kalau sudah janji sulit diingkari."
"Oooo....."
"Katanya dia pernah mengatakan mau main ke Majalengka ya? Ke rumah Teh Citra? Benar?"
"Iii... iya .. tapi dulu banget, waktu satu kereta. Memang Mas Uzan pernah bilang begitu."
"Hari ini dia tunaikan janjinya."
"Oooh..... jadi dia beneran ...."
Hari itu teras semakin semarak.
Nawangwulan, Fauzan, Citra dan Fauzi terlibat pembicaraan ringan penuh canda. Apalagi ketika Nawangwulan menceritakan segala sesuatu yang berkaitan dengan KKN. Banyak cerita lucu di sana. Juga ketika Fauzan melihat foto-foto KKN, kata Nawangwulan ingin ada yang kenalan dengan Citra.
Saat kedatangan Nawang dan Fauzan, Citra mengenalkan Fauzi sebagai kakak. Makanya mereka berbicara tak canggung-canggung.
"Emmm ini ... Mas eh apa manggilnya? Kakak?" tanya Fauzan bingung.
"Kakak boleh, kalau di Sunda disebutnya Aa."
"Oh iya, kakak saja. Namanya hampir sama! Fauzan, Fauzi!"
"Nggak kreatif haha!" kata Citra sambil tertawa,
"Kak Fauzi sudah berkeluarga?"
"Belum, nanti sebentar lagi. Insya Allah usai lebaran tahun ini."
"Ooo syukurlah ..... berarti hampir ya?"
"Iya, hampir."
"Kalau Teh Citra? Tentu masih lama, nunggu kakaknya dulu ya?"
"Hehe... malu ah!" kata Citra menahan senyum memerah wajahnya.
"Malu kenapa? Teteh hampir menikah juga?" tanya Nawang serius.
"Ya."
Mendengar jawaban seperti Fauzan dan Nawang kaget. Fauzi mengatubkan bibir. Citra salah tingkah.
"Kapan?" tanya Nawang lagi.
"Insya Allah usai lebaran juga."
"Lebaran tahun ini?"
"Iya?"
"Berarti di sini dong?"
"Ya  iya laah, rumahku kan di sini Mbak."
"Kalau kakaknya tentu di rumah pengantin putri ya?"
"Iya pasti lah."
"Mengapa kakak beradik begitu dekat menikahnya?"
"Bahkan harinya sama Mbak." kata Citra hampir tak terdengar.
"Hah? Harinya sama?"
"Jamnya juga sama."
"Apa? Apa maksudnya?"
"Kami menikah Mbak, aku, ya Citra ini, Citra Pertiwi ..... akan  menikah dengan Kak Fauzi ...."
"Mbak Citra?"
"Kenapa?"
" Katanya Kak Fauzi itu kakak?"
"Kakak ketemu besar Mbak......"
"Oooooohh ....."
"Kami sudah mengawalinya dengan tunangan, bulan lalu ....."
Citra menjulurkan tangannya ke atas meja. Gadis itu mengkode Fauzi yang duduk di depannya. Pemuda itupun akhirnya meletakkan tangannya di atas meja. Kedua tangan didekatkan. Di jari manis keduanya telah melingkar cincin kembar.
Hari itu merupakan waktu yang sangat membuat jengah Fauzan. Begitu pula dengan Nawang, saudara sepupunya, duduk dengan gelisah. Ketika Citra mengatakan sudah bertunangan, pembicaraan terhenti. 
Teras sepi. 
Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
"Oh ya Teh Citra , dan Kak Fauzi .... maaf kami tak bisa berlama-lama di sini." kata Fauzan sambil berdiri, diikuti Nawang.
"Lho? Kan baru sebentar?"
"Kami harus buru-buru ke Bandung."
"Oooo......"
Citra dan Fauzi mengantar Nawang dan Fauzan sampai di pagar. Keduanya mendesah dalam. 
Sementara mobil yang membawa Nawang dan Fauzan semakin jauh. Kini keduanya kembali ke teras,
"Citraaa...."
"Yah?"
"Sebuah berkah besar aku datang ke Jatimalang....."
"Kenapa?"
"Kalau tidak...... "
"Kalau tidak, kenapa?"
"Aku bakal kalah cepat dengan anak Yogya itu."
"Ah enggak juga Kak... eh kok pakai Kak, terbawa panggila kedua teman saya tadi."
"Ya nggak apa-apa kan? Malah bagus, enak kedengarannya di telinga."
"Kak Fauzi? Iih aneh! Tapi nggak apa-apa deh..."
"Ya iyalah, biar afdhol. Eh tadi enggak kenapa dengan anak Yogya itu?"
"Selama aku dari lulus dari SMA, Alhamdulillah nggak ada pemuda yang menarik hati Citra kok... kecuali..."
"Kecuali apa?"
"Kecuali pemuda yang menyiapkan ayam cobek ati ayam pedas di pantai Jatimalang."
"Citra ..."
"Ya Kak?"
"Semoga nanti kita bisa menikmati masakan itu setiap saat ya ..... di rumah yang satu .... di perjuangan hidup yang satu .... di cinta yang satu ......"
Citra menunduk.
Ia pandangi cincin pemberian Fauzi sebagai tanda cinta yang akan menjadi catatan sejarah hidupnya sebentar lagi. Perlahan gadis itu mencium cincin yang melingkar di jari manisnya. Fauzi tersenyum bahagia. ***
                                                                                                                  
                                                                                                                     Majalengka, 01 Januari 2018
 
* Request : R. Citra Pertiwi 18
                       SMAN 1 Majalengka

*Cerpen ini diposting pertama di kompasiana.com/didik_sedyadi

Selasa, 26 Desember 2017

Terbaru 2020 - Cerpen: Kak Arkan, Lindungi Aku dan Teduhi Hatiku

Blog Pendidikan

Juli. Tahun Pelajaran baru 2017/2018.
Di depan papan pengumuman kurikulum, Elva mencari-cari pulpen yang dibawanya. Sedianya gadis itu akan mencatat jadwal pelajaran yang ditempel, namun ada kendala. Ia mencoba mencari kembali sambil meraba saku dan membuka dompet yang dipegangnya. Tak ada.

"Elvaaa.... cari apa?" ada suara bertanya di dekatnya. Gadis menoleh. Haryo. Demi melihat yang datang, gadis itu mendesah sambil menggeleng.
"Nggak nyari apa-apa."
"Ini aku kasih pinjam ballpoint. Butuh ballpoint kan? Bagus lho El." Kata Haryo seraya menyorongkan ballpoint Parker.
"Hmh ... enggak terima kasih."
"Ini ballpoint mahal El, harganya lima ratus ribu. Aku beli di Gramedia Cirebon."
"Iya, percaya...."
"Beneran El, aku ingin kasih ballpoint ini buat kamu. Buat kenang-kenangan, sebab sebentar lagi nanti kita lulus."
"Terima kasih, enggak."
"El, sekali iniiiii saja.... please! Terima ya El ...."

"Eng-gaaaak! Maaf ya Har, mungkin juga ballpoint mahal juga itu beli pakai uang ayahmu."
"Oh! Artinya kalau beli pakai uangku, kamu mau terima?"
"Uuuhhh ketang! Nggak, aku ralat. Nggak ada syarat!"
"Aduuh Elvaaaaa .... Jadi cewek kamu kok kokoh banget kaya benteng Vrederburg!"
"Bukan begitu masalahnya, masalahnya aku lari ke kopgur atau kopsis, beli ballpoint yang dua ribuan beres. Hilang nggak sayang kok!"
"Lah yang ini juga kalau sudah jadi milik Elva, hilang juga ga apa-apa kok, ntar aku beliin lagi!"
"Uuuuuhhh.. Haryooooo..... maksa banget kamu sih?"
"Habisnya kamu juga aneh El, jaman sekarang nyatet jadwal? Apa nggak keliru? Difoto saja napa sih? Beres kan?"
"Nggak bisa. Aku pengen jadi seperti orang tuaku jaman dulu, berjuang menulis jadwal atau yang lain. Kalau dulu orang tuaku bisa, kenapa sekarang aku tidak bisa? Kayanya indah Har, hidup di jaman sekarang tapi antimainstream."
"Waduuuuh! Mantan pengurus OSIS yang cantik ini benar-benar kokoh pendiriannya. Ini yang aku suka, bahkan sejak dulu di kelas X sebelum jadi pengurus OSIS!"
"Haryoooo.... jangan bawel!"
"Parker El ...." kata Haryo mengalihkan konsen pembicaraan dengana kembali menyodorkan ballpoint.
"Terimakasih atas niatnya Haryo, tapi .... simpan saja ya?"
"Hmmh .... ada ya di dunia gadis kaya kamu El, hebat, tapi aneh. Jangan-jangan kamu nggak punya HP, biar antimanistream!"
"Ya nggak total laaah...."
Sambil berkata demikian Elva berlalu menuju koperasi guru untuk membeli pulpen.
Gadis ini memang agak aneh. Sejak klas XII ia mencoba memulai prinsip hidup yang baru, yakni memperbanyak menulis untuk segala hal yang bisa ditulis. Ia ingin merasakan bagaimana orang-orang dulu juga bisa sukses dengan cara seperti itu. Yang lain, sejak kelas XII ia paling tidak mau meminjam pulpen, pinsil, ballpoint atau sejenisnya kepada temannya. Karena ketika ikrarmya pinjam, maka itu harus dikembalikan. Bagaimana mungkin tinta yang sudah dipergunakan menulis akan dikembalikan? Makanya untuk menjaga diri, ia lebih suka memiliki barang sendiri.
"Elva tungguuuu!" Haryo berteriak.
"Ssst .... Haryo! Jangan berisik!" tiba-tiba dari belakang ada suara. Haryo menoleh.
"Aaah Fera, tuh si Elva norak! Dia mau beli ballpoint, padahal aku mau minjemin."
"Kamu nggak ngerti sikap barunya sih!"
"Baru? Perasaan sejak kelas X dia begitu, sulit ditembus, sulit diajak bercanda. Apalagi diajak serius! Aku serius mau ngasih ballpoint, eh dia ngak mau terima!"
"Mana ballpoint-nya sih?"
"Niiih!" kata Haryo seraya menyorongkan ballpoint di depan Fera.
"Parker? Wiiiihhhhh.... mahal neh!" kata Fera sambil mengambil ballpoint dari tangan Haryo.
"Parker ya mahal! Dua kali bulanan SPP kita!"
"Mheheee..... be-te-we terima aksih Har!" kata Fera sambil memasukan ballpoint ke dalam saku bajunya.
"Eh Fer! Jangan ... sini.... sini!"
"Ya buat apa da Elva-nya nggak mau, ya buat yang mau saja!"
"Itu mahal Fer! Nggak cocok buat kamu!"
"Ngece ya?! Kalau mahal buat Elva cocok ya?"
"Eh bukan begitu maksudku, ayo kembalikan!"
"Sudah laah ikhlaskan, sekali-kali buat aku yang mahal! Eh Har, nanti aku bantu kamu buat ngajuin privat ke Pak Danar. Ma-me-ma-ti-ka! Kita bareng-bareng."
"Haduuuh ..... pelajaran horror!"
"Tuh kan, kamu kuwalat sih! Belum juga Pak Danar mengajar kita, kita masih gress di kelas XII, eh kamunya sudah pesimis gitu. Mana mungkin kamu berhasil Har!"
"Kan katanya nggak boleh les ke Pak Danar."
"Siapa yang bilang?"
"Wawan."
"Apa katanya?"
"Ini les hanya untuk anak pinter saja, untuk anak di bawah standar nggak boleh ikut! Nanti kaseseret, gitu katanya ......"
"Ampuuun Haryo! Itu Wawan bercanda!"
"Tapi kayaknya aku bakal kaseseret lho!"
"Tuuh... kamunya masih pelihara pesimistis sih!"
"Iya sih!"
"Nah buang jauh-jauh! Ganti rasa pesimis dengan optimism yang tinggi bahwa aku mampu!"
"Iya, aku harus mampu Fer! Terima kasih nasehatnya ya!"
"Iya, nah sudah kalau begitu ini ballpoint resmi jadi milikku, karena aku sudah menasehatimu! Okeee?!"
"Hareuuuuhhhh Fer! Feeer! Kamu ngulik banget cari kesempatan! Ntar udah gede nggak kebayang kamu bakal dapat suami kayak apa!"
"His! Masih kecil! Jangan ngomong yang bukan-bukan!"

***
Fera membuka tas. Ia mengambil ballpoint parker.
Gadis itu gembira sebab baru kali ini ia memiliki ballpoint semahal itu. Dulu mungkin hanya mimpi. Mimpi yang sebenarnya dihitung secara logis, uang sebesar lima ratus ribu rupiah akan lebih bermanfaat jika dibelanjakan untuk yang lain.
"Waduuuh ...... yang punya ballpoint Parker!"
"Aduuuh kamu Har! Ngagetin saja, jangan bahas lagi ah! Ini barang sudah jadi milikku."
"Iya, iyaaa ....."
"Naah gitu!"
"Eh Fer, sekarang kita jadi les di rumah Pak Danar?"
"Jadi laah ... mumpung masih agak jauh waktu ke UN dan SBMPTN, kita leluasa. Kalau dientar-entar tahu-tahu tinggal beberapa hari, kita bakal klabakan!"
"Fer...."
"Apa?"
"Kok Elva nggak diajak privat ke Pak Danar."
"Sudah aku ajak, tapi katanya agak bingung dikit. Ya sudah lah nggak apa-apa, kita berempat juga kayaknya seru."
"Tapi kalau ada Elva lebih seru."
"Kamu naksir Elva ya?"
"Nggak naksir sih, cuma kadang-kadang suka kepikiran. Dulu waktu satu kelas di kelas X aku suka diajarin matematika. Sukaaa banget cara menerangkan dia, enak, langsung ngerti."
"Laah kata siapa? Bilang saja langsung ngerti, tapi diher terus."
"Ahaha! Tahu nggak Fer, itu taktik."
"Taktik apa?"
"Biar diajarin lagi! Ntar deket lagi kan? Kadang-kadang aku mencuri pandang, heheeee...."
"Uuuuh dasar modus!"
"Pernah juga tanganku digetok pakai penggaris hehe!"
"Kenapa?"
"Ketahuan aku nggak merhatiiin apa yang dia terangkan, aku malah terbengong-bengong ngliatin dia, langsung dia marah aku digetok ... niiih.... tak! Tak! Gituuu.... di jari, sakit sih, tapi kalau yang nggetok Elva, malah pengen lagi!"
"Dasar sudah gelap akal kamu Har, Haaar!"
"Fer, comblangin dong!"
"Ih kamu mah! Yang lain ngurus belajar untuk persiapan UN kamu malah mikir yang kaya gituan!"
"Justru itu Fer, mumpung masih di SMA! Ntar kalau sudah lepas dari sini, susah cari yang kayak Elva."
"Ah kamu mah! Sudah lah!"
Fera sebenarnya kasihan pada Haryo. Memang Haryo terlalu lugu. Fera sebagai sahabat Elva juga tahu bahwa Haryo suka sama sahabatnya, tetapi bagaimanapun semua tergantung Elva. Fera melihat gadis sahabatnya itu memang orangnya kokoh punya prinsip. Ia tak mau berhubungan melebihi sahabatan biasa selama sekolah. Sebuah prinsip yang bagus, tetapi mungkin tidak bagi yang lain.
***
Di rumah Pak Danar.
Rumah Pak Danar cukup luas. Di sisi kiri terdapat garasi dan gazebo. Di gazebo inilah murid-murid Pak Danar belajar secara privat. Sebenarnya guru ini tak ingin membuka les privat, namun kadang ada orag tua siswa yang datang ke rumah, memohon agar anaknya diberi tambahan waktu belajar. Karena bagi guru matematika kedatangan orang tua ke rumah merupakan sesuatu yang serius, maka biasanya diiyakan.
"Ini les pertama kalian, mudah-mudahan bukan yang terakhir." kata Pak Danar ketika mengawali pertemuan.
"Maaf Pak, jangan nakut-nakutin dong Pak." kata Haryo sambil tertawa. Yang lain tertawa pula demi mendengar komentar Haryo.
"Kalau takut mending nggak usah mulai saja. Les ini hanya untuk anak-anak pemberani, yang mau menyisihkan waktu untuk membuat dirinya memiliki pengetahuan yang lebih dari yang lain."
"Siap kalau begitu Pak!"
Belum lama Pak Danar memberikan pengantar, dari luar ada motor memasuki garasi.
Yang ada di gazebo menengok melihat yang baru datang. Pak Danar tersenyum melihat murid-muridnya saling pandang dan saling sikut. Usai menytandar motornya, yang baru datang memberi salam, kemudian mencium tangan Pak Danar.
"O ya anak-anak, ini anak Bapak yang kedua. Namanya Arkan Arshaq Ramadhan, panggilannya Arkan."
"Oooo..."
"Matematika ITB."
"Ooooo....."
"Alumnus Smansa."
"Oooooo...."
"Kakak kelas kalian dua tingkat."
"Ooooooo...."
"Waktu dia kelas XII, kalian kelas X."
"Ooooooooo..."
"Memang nggak ada kata lain selain O yang semakin panjang ya heheee....." Pak Danar tertawa melihat respon empat orang anak yang hampir seragam dengan menucap huruf O berulang-ulang. Kini keempat anak itu baget, baru tersadar bahwa jawaban mereka tadi tergolong langka.
"Liburnya lama Ar?"
"Ya lumayan lama Yah, sekarang baru Juli, masuk lagi awal September."
"Dua bulan libur tuh anak-anak." kata Pak Danar sambil tertawa.
"Pengen Pak." celutuk Haryo.
"Lulus dulu, baru kuliah, ntar punya libur panjang kayak mahasiswa. Tapi harus tembus dulu. Nah nembus PTN itu yang susah, makanya belajar mulai sekarang!"
Akhirnya sore itu kegiatan belajar les privat, namun rombongan, dimulai. Empat orang yang belajar, Haryo, Fera, Anik dan Ning. Tiga yang lain konsentrasi penuh, hanya Fera yang dari tadi tampak belum bisa membangun konsentrasi. Beberapa kali matanya mencoba menoleh ke arah dalam. Yang menarik perhatiannya adalah Arkan.
***
Pagi hari di parkiran kendaraan guru.
Elva dan Salsa terhenyak gembira ketika mobil Pak Danar memasuki gerbang sekolah, kemudian berbelok ke tempat parkir. Kedua  anak itu menanti gurunya selesai memarkir mobilnya. Ketika Pak Danar sudah turun, kedua anak itu menjemput memberi salam dengan mencium tangan.
"Pak boleh tasnya Elva bawain?" Elva menawarkan jasa. Pak Danar terkekeh.
"Hehee... kayak murid jaman dahulu. Terima kasih, nggak usah laaah....! Ini ada apa ya tumben, mantan pengurus OSIS pagi-pagi sudah menjemput Bapak?"
"Emm maaf mengganggu ya Pak. Soalnya malu kalau mau bicara sama Bapak di ruang guru."
"Ooo iya, ada apa?"
"Emmm begini Pak, saya dan Salsa mau ikut les di rumah Bapak, boleh nggak?"
"Waduuuh Va, kirain mau ngomong rahasia. Mau belajar di rumah?"
"Iya, boleh kan Pak?"
"Iya nggak apa-apa. Silakan."
"Tapi ada request Pak?"
"Apa?"
"Bapak jangan ceritakan ke kelompok Fera kalau saya ikut belajar di Bapak. Tolong ya Pak?"
"Iya..."
"Bapak baik banget deh Pak .... kata teman-teman juga gitu ..." kata Salsa menyela.
"Iya, eh haha! Bukan iya, kenapa?"
"Biasanya kalau ada siswa minta bantuan ke bapak, tak ada kata lain yang bapak berikan kecuali iyaaa...."
"Kalau harinya Kamis siang bisa ya Pak?"
"Iya."
"Soalnya Jumat sore kami mau pulang kampung rutin."
"Ke mana pulangnya?"
"Lemahsugih Pak, di Kalapa Dua."
"Alhamdulillah ... itu berarti kalian adalah anak-anak yang dibesarkan oleh alam yang masih bersih. Sebuah kelebihan dari Allah menempatkan kalian di sana, diberi kebahagiaan masa kecil di daerah pegunungan."
"Aaah Bapak mah selalu memotivasi gitu. Kemarin juga yang anak-anak kota, juga Bapak motivasi tapi dengan kekotaanya. Jadi mana yang benar Pak?"
"Yang benar? Setiap tempat tinggal kita, setiap kondisi apapun yang kita miliki, hendaknya selalu bisa dijadikan motivasi diri. Tak boleh mengeluh dengan keadaan....."
"Bener Pak setuju banget .... wah Pak, jadi pengen jadi anak Bapak aaaaah!" kata Elva sambil tertawa.
"Bapak aminin ya?" tanya Pak Danar menantang.
"Anak angkat? Hihihi..."
"Anak menantu .... hehee.... sudahlah. Deal ya belajar Selasa sore? Ntar tinggal datang saja."
"Siap Pak, terima kasih."
***
Hari Selasa pertama les di rumah Pak Danar terlewati.
Cukup menguras energi, Mereka belajar di sisa waktu sepulang sekolah pukul empat sore. Akan tetapi bagi Elva dan Salsa tak dipedulikan. Mumpung masih muda dengan tenaga dan semangat yang besar, siapa tahu akan berbuah bagus. Ujar mereka berdua memberi semangat kepada diri sendiri.
Sore itu Selasa kedua.
Dua buah motor memasuki halaman rumah Pak Danar, kemudian berbelok ke arah gazebo di mana mulai minggu kemarin Elva dan Salsa belajar. Usai menyimpan motor, keduanya memasuki gazebo seraya memberi salam.
Assalaamu'alaikum!
Dari dalam pintu terbuka. Bukan Pak Danar yang tampak keluar. Sejenak Elva tertegun melihat seorang pemuda yang tampan menjawab salamnya.
"Wa'alaikumussalam. Mau ke Pak Danar kan?"
"Iya, Pak Danar ada."
"Silakan duduk dulu....."
Setelah kedua gadis itu duduk, pemuda itu melanjutkan bicara.
"Ayah ... eh, Pak Danar tadi pergi dulu ada perlu. Nanti setengah jam lagi katanya beliau pulang. Ini ade berdua katanya suruh nunggu dulu."
"Oh iya, nggak apa-apa. Terima kasih."
"Oh iya, Pak Danar itu ayahku."
"Ooo ....."
"Biasanya Ayah suka cerita tentang dirinya di kelas. Ya, di kelas baru tentunya. Kemarin di kelas cerita tentang keluarga kami nya nggak?"
"Ah benar ... beliau bercerita, sudah punya cucu satu, yang nomor dua masih kuliah di ITB, yang ketiga katanya belum punya hehee.... iya begitu kata beliau bercanda."
"Ayah memang suka bercanda."
"Ayah bilang katanya ade berdua suruh belajar matemnya sama saya dulu."
"Och! Berarti Kakak yang di ITB itu?
"Hehe .... Iya"
"Kak Arkaan ....." tiba-tiba tanpa sadar Elva bergumam.
"Apa De?"
"Apa? Apanya?"
"Tadi nama Kakak disebut."
"Och! Enggak ... enggak kan Sal?" kata Elva dengan muka merah menahan malu. Salsa menggeleng.
"Kamu memang bilang Kak Arkan gituuu....!"
"Aduuuhh nggak sadar!"
"Tahu namaku dari siapa De?"
"Emmmm .... Sal, kamu yang cerita." kata Elva sambil menyikut lengan Salsa.
"Gini Kak, kan selain saya dan teman saya ini, kalau nggak salah ada rombongan lain yang hari Sabtu, itu ada teman saya namanya Fera, dari kemarin pertama les di sini, katanya sudah kenalan sama Kakak, kata Fera memang namanya ya Kak Arkan."
"Heheee.... kok aku jadi terkenal ya?"
"Iya, Kakak sudah kenal Fera?"
"Nggak lah. Mungkin maksudnya dia tahu namaku, sebab waktu baru datang, ayah mengenalkan namaku."
"Ooo ..."
Bip! Bip! Bip!
HP Salsa berbunyi. Gadis itu menjauh keluar dari gazebo, kemudian menelpon. Beberapa saat setelah menelpon Salsa kembali lagi.
"Aduuuh El, Kak Arkan, ini ada ayah tadi ke sekolah. Ada keperluan mendadak, sore ini harus ke Cirebon. Gimana ya? Aku nggak bisa ikut les..."
"Oooo iya silakan.... silakan...." kata Arkan mempersilakan.
"Aku ikut Sal ..." kata Elva sambil bangkit dari duduknya.
"Eh sebentar ... ini tadi ada WA dari ayah." kata Arkan sambil menyodorkan WA dari Pak Danar.
"Anak-anak yang les suruh nunggu ayah Ar, ni ayah sebentar lagi ...."
"Terus gimana Kak?"
"Wakili saja, Salsa ...eh siapa tadi De Salsa lanjutkan acara dengan keluarga, yang satu tunggu ayahku di sini."
Elva tak bisa berkutik.
Ditinggal Salsa, kini hanya dirinya bersama Arkan. Wajah Elva tegang. Ia sama sekali tak merasakan kenyamanan. Kalau saja tadi tak ada WA dari Pak Danar, ia memilih pulang duluan.
"Rumahnya jauh De?" tanya Arkan memecah suasana.
"Oooh dekat, di belakang masjid Majalengka Kulon, dekat SMP tiga."
"Oooo, asli Majalengka."
"Enggak, saya kos di sana Kak."
"Elva aslinya mana? Eh maaf, namanya Elva kan?"
"Iya."
"Minggu kemarin ayah memberi tahu. Walaupun aku juga sudah tahu juga sih."
"Tahu dari mana?"
"Adik teman saya adalah pengurus OSIS."
"Siapa?"
"Astri, dia itu kakanya anak ITB, anak perminyakanl"
"Ooo.... ntar, kapan-kapan aku ceritakan."
"Ooo..
"De Elva pengurus OSIS kan? Barangkali ada anak lain yang namanya sama."
"Iya betul, tapi sudah purna . Sudah lengser Kak, sudah kelas XII."
"O iya... aslinya mana? Jatitujuh? Atau?"
"Lemahsugih."
"Oooo.... saya kira anak hilir, anak tonggoh ya."
"Hehee... iya ..."
Belum lama mereka ngobrol, Pak Danar masuk membelokkan mobilnya masuk ke garasi. Kedua orang yang duduk di gazebo mengamati yang baru datang.
Ketika Pak Danar mendekat, Elva bangkit dari duduknya kemudian menyalami sambil mencium tangan Pak Danar.
"Sehat Vi?"
"Alhamdulillah Pak, bapak sehat juga?"
"Alhamdulillah wal afiat hehe..."
"Syukurlah."
"Ini satunya mana? Salsa? Salsa ke mana?" tanya Pak Danar setelah masuk keGazebo.
"Ada panggilan mendadak."
"Oooo.... gitu. O iya, ini materi belajarnya sudah sampai mana?"
"Baru sampai ..... sampai Lemahsugih.." kata Arkan sambil tertawa.
"Matematikanya?"
"Ya belum Yah, masa sama orang baru langsung belajar."
"Kan tadi adik-adiknya itu Ayah minta dibantu belajar matem."
"Kan nggak enak langsung begitu Yah, Ini juga baru sebentar."
"Iya ... iyaaaa.... nggak apa-apa. Ini Elva mau belajar sama Bapak atau sama Arkan?"
"Terserah Bapak ....."
"Sama Arkan saja ya, Bapak ada perlu lagi nih. Nooh di rumah depan, di Pak RW tadi pas Bapak lewat ditoel suruh ke sana sekarang."
"Iya nggak apa-apa Pak."
Sore itu pengalaman baru bagi Elva, les yang seharusnya oleh Pak Danar, kali itu malah ditekel oleh anaknya. Tetapi bagi Elva sama saja, tingkat kesulitan pemahaman untuk soal-soal antar ruang lingkup. Setelah satu jam belajar, Elva keduanya istirahat.
"Terima kasih bimbingannya Kak."
"Hehe iya .... sama-sama. Minggu depan masih mau sama aku lagi?"
"Boleh hehe..., eh terserah Pak Danar."
"Target belajar kali ini apa si De?"
"SBMPTN kak."
"SNMPTN?"
"Itu sih hampir gambling Kak. Memang ada harapan juga, tapi kan tak ada jaminan. Jadi kalau harapan untuk SNMPTN ada, dan SBMPTN dipersiapkan, akan lebih nyaman, karena siap semuanya."
"Hebaaat! Mudah-mudahan harapannya terkabul. Hasil tidak akan menghianati usaha De."
"Iya betul Kak."
"Hidup itu ibarat layar polos, kita yang memberi lukisan. Tentu lukisan yang ingin kita wujudkan adalah lukisan yang indah. Guratan hidup yang indah. Hidup kita itu akan indah, jika kita selalu berikhtiar. Di sana ada semacam taste yang berbeda. Ada kenikmatan dalam ikhtiar. Dan dilengkapi dengan doa sebagai makhluk yang punya superset Allah. Hidup akan indah dengan ikhtiar dan doa. Jangan lupakan itu De."
"Aduuh terima kasih motivasinya Kak."
"Heheee iya. Mungkin indahnya sama seperti kalau kita bisa menikmati indahnya cahaya bintang."
"Apa Kak?"
"Nggak ...nggak ah! Nggak apa-apa hehe...."
"Pak Danar nggak pernah membuat penasaran siswanya lho...."
"Ehehe... iya.... cahaya bintang."
"Maksudnya?"
"Cahyaning Kartika."
"Och..."
"Elva Cahyaning Kartika...." kata Arkan menyebut nama lengkap dirinya.
Wajah Elva memerah menahan malu. Gadis itu menggeleng. Namun tak urung Arkan tahu bahwa Elva sedang mencoba menahan senyumnya.
"Pulang dulu Kak.... Assalaamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam Elvaaa...."
Hmh.......!
Elva mendesah dalam.
Kenangan pertama bertemu dengan Arka begitu indah. Dulu ia juga tak habis pikir, mengapa Arkan mengenal dirinya. Tapi mengingat katanya ada sahabatnya yang punya adik pengurus OSIS juga , ia maklum. Tetapi mengapa  Arkan begitu mendadak memberikan kejutan ketika baru pertama bertemu?
Pertemuan awal dengan Arkan saat ini gadis itu telah duduk di taman Fakultas MIPA. Suatu taman yang telah lama menjadi impiannya sejak kelas X SMA. Sementara tahun ini Arka telah duduk  tingkat akhir S2 nya di ITB.
Ting!
Elva terhenyak. Ada WA masuk. Siapa ini? Elva tidak mengenal nomor dan DP-nya.
"Hallo Elva, kami mau berkunjung ke Unpad. Kita ketemuan yok!"
"Siapa ya?"
"Tuh DP aku ganti ....."

Demi melihat wajah di DP yang baru masuk, Elva berbinar-binar.
"Fera ..... uuuh kangen banget Fera!"

***

Siang itu Elva masih menanti kedatangan Fera dan Haryo.
Gadis itu melihat beberapa spanduk yang berisi informasi tentang Sinergi BEM Peternakan Unsoed - Unpad. Gadis itu bersyukur jika kedua sahabatnya di SMA menjadi aktivis kegiatan kemahasiswaan. Elva sendiri menjadi aktivis di BEM Statistika bukan hal baru. Berorganisasi merupakan sesuatu yang terbiasa dilalui. Ia merasakan melalui organisasi, jiwanya menjadi dewasa. Bisa mengatasi persoalan antar teman, menghargai perbedaan pendapat, memberikan alternatif untuk penyelesaian masalah. Itu telah dimulai sejak SMP. Artinya lengkap, SMP, SMA dan kini di perguruan tinggi.
Ting!
Elva melihat ada notifikasi WA masuk. Arkan.
"Ini ada acara mendadak De, aku dipanggil pembimbing tesis. Ntar kalau bisa cepat, aku ke situ, kalau tidak sempat ya titip salam saja sama teman-teman dari Purwokerto ya."
"Iya Kak, semoga lancar."
Hampir sekitar satu jam setelah dzuhur, barulah yang ditunggu datang. Ketika melihat keduanya datang, Elva segera menghambur ke arah Fera. Keduanya berpelukan lama.
"Ke mana saja El?" tanya Fera sambil memegang pundak serta memandang Elva lekat-lekat.
"Ah kamu norak! Dari dulu juga di Unpad sini."
"Kenalkan El, Haryooooo!" kata Fera sambil menunjuk Haryo yang tersenyum di sisi Fera.
"Aaaah kamu Haryo.... apa kabar?" tanya Elva sambil mengulurkan tangan.
"Makin cantik saja Elva.... " kata Haryo sambil menerima uluran tangan Elva.
"Iiih .... Haryo yang selalu menggoda!" kata Elva terkekeh.
"Dan godaanya tak ada yang berhasil." kata Haryo sambil tertawa,
"Ah sudahlah, jangan bicara masalah itu!" sela Fera.
"Emmm perasaan saya, Haryo sama Fera jurusannya beda kan?"
"Emang  beda. Napa El?"
"Hari ini kan acara sineri BEM Peternakan, lalu Haryo?"
"Kamu lupa ya El, Haryo kan jurusannya Farmasi, nanti kan ada ramuan obat-obatan untuk memperbaiki pertumbuhan kelinci. Nah di situlah perannya hehee..... " Fera terkekeh.
"Bilang saja Haryo supiiiiir!" kata Haryo terbahak. Elva kaget.
"Bener Fer?"
"Hehee.. nggak tahu tuh. Dia yang nawarin, mau diantar ke Bandung nggak?"
"Berdua?"
"Iya berdua, padahal yang lain pakai travel minibus. Tapi Haryo nggak mau, bilangnya nanti mau mampir dulu ke saudara. Ya gitu deh, akhirnya diijinin."
"Fer, nebak ya?"
"Apa?"
"Jangan-jangan kalian sudah jadian ya?"
"Hihihi..."
"Atau malah sudah suami istri?"
"Ngaco kamu El, masih kuliah, nggak banget. Entah setahun lagi kalau sudah lulus."
"Oooo ... aku doakan ah! Semoga lancar!"
"Amiiinn!" celutuk Haryo sambil terkekeh.
"Iiihhh... apaa Haryo!" kata Fera sambil mencubit lengan Haryo. Haryo meringis.
"Aduuu...duuuh ssakit Fer!"
"Ngomong lagi Har, ntar aku cubit lagi."
"Amiiin!"
Tapi bersamaan itu Haryo memberi isyarat menyerah. Fera tak jadi mencubit. Elva tertawa melihat perilaku keduanya. Setelah suasana reda, Haryo mengambil sesuatu dari tas yang dicangklongnya.
"Ada sesuatu yang berbeda Elva, sesuatu yang berbeda dengan yang dulu. Ini lebih super."
"Nggak ngerti..." kata Elva sambil mengernyitkan dahi.
"Ballpoint parker baru .... untuk Elva!" kata Haryo sambil menyodorkan ballpoint ke depan Elva.
"Apa ini?"
"Aku ingin mengulang ketika dulu Elva menolak pemberianku, sekarang Elva nggak boleh menolak pemberianku."
"Haryo!"
"Dulu Elva pernah katakana, kalau ballpoint uangnya bukan pemberian ortu, mau menerima kan?"
"Engghaak! Hehehe.... kan sudah aku ralat." kata Elva sambil menahan tawa.
"Nggak ada ralat. Usahaku sambil kuliah sudah jalan. Mobil juga aku beli sendiri, walau nyicil."
"Nggak mau!"
"Fera saksi ya?" tanya Haryo seraya menoleh ke arah Fera.
"Oke! Aku saksi!"
"Elva ... dengar baik-baik, aku ingin banget pemberianku diterima oleh Elva sahabat kecilku di kelas X."
"Enggaaak..."
"Kalau Elva mau terima ini, maka lulus S2 nanti Fera akan aku lamar."
"Hah? Serius?!" tanya Elva tak percaya sambil memandang Fera lekat-lekat.
"Iya, dia suka gitu El."
"Serius El." kata Haryo.
"Saksi semuanya ya, dengan bismillahirrahmanirrahim semoga kalian berdua kelak dijodohkan, maka ballpoint ini sebagai syarat, aku ambil!" kata Elva sambil menerima ballpoint Parker yang ada di tangan Haryo.
Sah! Sah! Kata Haryo sambil tertawa terbahak.
"Iyalah Fer, selamat ya, dari tanda-tanda saja kayaknya sudah ketahuan Haryo serius, buktinya dia sudah nawarin nganter pakai mobil pribadi sampai Bandung."
"Iya mudah-mudahan saja El. Eh, ngomong-ngomong kapan kamu nikah? Sudah punya calon apa belum?"
"Hehee.. ntar nunggu waktu yang tepat. Nggak punya pacar sih!"
"Ah kamu mah El, dari dulu tuh ibaratnya lawakan, kamu garing mulu!"
"Hehehe... biarkan saja Fer, masing-masing punya cara untuk memaknai hidup. Termasuk dalam kisah pemuda - pemudi, dalam urusan cinta ... masing-masing cara mengemasnya berbeda-beda."
"Uuuuuhhh Elvaaaa.... bicaramu sekarang dalam banget, bikin dahi mengkerut!"
Ketiganya asyik berbincang tentang apa saja. Tak mereka rasakan cukup lama mereka berbincang, hingga Fera dan Haryo merasa cukup untuk berpamitan.
"Kalian mau langsung ke Purwokerto?" tanya Elva.
"Nggak dong, kita mau ke Majalengka Kota Bandara."
"Ya kami pamit El, kami pulang ke rumah masing-masing. Mungkin besok baru kita lanjut ke Purwokerto lagi."
Ketiganya berjalan menuju parkiran di mana mobil Haryo telah siap. Namun belum beberapa lama mereka melangkah, dari belakang ada yang memberi salam.
Assalaamu'alaikum!
Ketiganya serempak menjawab. Elva berbinar matanya. Arkan datang. Di sampingnya, Fera demi melihat yang datang merasa keheranan. Ia merasa pernah mengenal pemuda itu.
"Kalian dari Purwokerto ya?" kata Arkan sambil mengajak salaman.
"Iii ..... iya."
"Kalian lupa ya? Kita bertemu pertama sekali di rumah Pak Danar, waktu itu kalian pertama kali les di kelas XII."
"Kkkk... kak Arkan?!" Fera terpekik. Sementara Haryo hanya menggeleng.
"Naah masih ingat ..."
"Astaghfirullah Kakak.... kata Pak Danar, dulu bukannya kuliah di ITB Kak?"
"Sekarang juga masih."
"Ooo S1-nya itu? Lama amat ya Kak."
"Ya nggak laah, sekarang S2-nya De."
Sambil berbincang sejenak, Arkan menoleh ke arah Elva. Arkan yang baru konsultasi masalah tesis membawa buku lumayan banyak. Tas punggungnya penuh. Di tangannya ada tiga buah buku.
"Tasnya masih kosong?" tanya Arkan ke Elva.
"Iya masih .."
"Ni yang dua masukin dulu ya." kata Arkan sambil memberikan dua buku. Elva menerimanya kemudian memasukkannya ke dalam tasnya tanpa banyak bicara.
"Tuh yang satu nggak sekalian?" tanya Elva.
"Nggak, biar dipegang saja."
Fera dan Haryo yang di depannya bengong. Mereka melihat keduanya sudah sangat akrab dan saling memahami. Mereka berdialog dengan cara yang sangat wajar. Melihat itu, Fera memberikan isyarat kepada Elva untuk menjauh. Setelah sekira sepuluh meter meninggalkan Haryo dan Arkan, Fera menatap tajam Elva.
"Elva, katakan, apa hubunganmu dengan Kak Arkan?"
"Hubungan yang mana?"
"Kamu terlihat akrab banget dengan dia. Kamu memasukkan bukunya dengan enak, santai, seperti suami istri."
"Sssttt Fera .... istighfar Fera."
"Kenapa?"
"Nggak boleh bicara yang bukan-bukan Fera, aku dan Kak Arkan bukan suami istri. Dan kami juga tidak pacaran. Nggak ada yang pernah mengatakan sesuatu, nembak misalnya, seperti anak-anak SMA. Nggak... "
"Tapi kok akrab sekali?"
"Ya nggak apa-apa kan?"
"Aku tetep nggak percaya. Dulu El, di SMA aku sering ember ke teman-teman sendiri, putra Pak Danar itu ganteng, pinter .... aku naksir, aku caper. Masih inget nggak?"
"Ingat."
"Tapi kenapa waktu itu kamu diam saja?"
"Memang aku suruh komentar apa?"
"Bilang kek dia itu pacarmu."
"Mana bisa. Fer, kamu kan tahu, aku paling punya prinsip mau seriusan itu nanti setelah lulus kuliah."
"Memang kamu kenal dengan Kak Arkan kapan?"
"Seminggu setelah kamu les."
"Seminggu? Di mana?"
"Di Pak Danar."
"Hah?! Di Pak Danar?"
"Iya, aku juga les di beliau."
"Les juga? Kapan waktunya?"
"Setiap Kamis sore."
"Kok kamu nggak pernah cerita?"
"Kan kamunya juga nggak tanya sih. Fera, bagi saya, asal yang saya lakukan itu tidak merugikan orang lain ya saya lakukan. Aku tidak pernah menceritakan kepada siapapun bahwa aku les ke Pak Danar, itu hak-ku. Tak ada yang aku rugikan."
"Kamu les sendirian?"
"Berdua, bareng Salsa. Sekarang dia di Yogya, di jalur UM."
Hingga beberapa saat Fera terdiam. Ia benar-benar tak percaya dengan semua yang ia dengar apa yang baru terjadi di depan matanya. Elva yang sangat akrab dengan Arkan, pemuda yang dulu langsung mencuri simpatinya. Namun sekarang semuanya ia rasakan telah terhalang oleh sebuah tembok kokoh yang tak tertembus.
"Aku pulang El...." kata Fera melemah.
"Maafkan Elva, Fera ....."
Fera memeluk Elva hingga lama. Ia sama sekali tak menyangka bahwa akan ada cerita seperti hari ini.
"Elva, aku masih suka sama Kak Arkan." kata Fera seraya melepas pelukannya.
"Silakan saja... dia orang merdeka kok. Masih boleh untuk dipilih, juga boleh untuk didoakan oleh siapa saja."
"Hatimu lembut sekali Elva ....."
"Pak Danar yang banyak memberiku masukan tentang hidup. Fera, tak usah risau, mari kita belajar baik kepada diri, juga baik terhadap apa yang telah dikaitkan dengan orang lain."
"Maksudnya El?"
"Haryo Fer ....."
"Hmhhh..... iya El, tapi dulu waktu kelas X dia sukanya sama kamu El."
"Kan sudah aku beri isyarat, bahwa aku selama sekolah belum mau berfikir tentang pacar atau apapun namanya itu. Makanya aku tolak pemberian Haryo. Agar pikirannya jernih kembali, dan memulai dari nol lagi untuk menyukai orang selain aku. Fera sahabatku .... hati manusia berubah. Sebelum berangkat ke Bandung, Haryo pasti tahu kamu akan ketemu aku kan?"
"Iya, dia tahu. Mungkin kangen sama kamu El, dia pernah suka sama kamu...."
"Heheee..... kangen ya wajar lah, sama seperti kita yanag suka pengen kangen-kangenan dengan teman SMP, teman SD. Iya kan? Tapi Fer, aku lebih melihat kepada niat Haryo yang menawarimu bareng pakai mobil dia."
"Iya El. Dia serius, bahkan dia sudah berani menyampaikan niatnya yang serius untuk nanti setelah aku lulus, emm setelah kami lulus."
"Bagus laah... aku support Fer."
"El, tapi aku masih boleh kan mengenang Kak Arkan?"
"Ya boleh laah.. boleh. Tapi ketika suatu saat Haryo sudah resmi menjadi suamimu, lupakan Kak Arkan, lupakan juga semua orang yang pernah hadir dalam urusan hati denganmu. Konsenmu hanya untuk Haryo."
"Elva ...."
"Ya Fer?"
"Betapa bahagianya Kak Arkan jika ia menjadikan dirimu menjadi pendampingnya .... pendamping selama hidup. Kamu gadis yang cerdas, yang lembut hati, dan dewasa."
Mendengar itu Elva terharu. Ia bisa merasakan betapa dalam diri Fera kini sedang merasakan kekecewaan yang dalam. Ia tak ingin gadis itu berlama-lama bersedih. Ia berniat akan selalu support semangatnya untuk bisa berbahagia bersama Haryo.
Elva menglurkan kedua belah tangannya ke hadapan Fera. Bibir Fera terkatub. Gadis itu menahan air mata yang hampir jatuh. Fera menyambut tangan Elva. Keduanya kembali berpelukan.
***

Di gazebo. Suatu pagi.
Arkan tengah menyelesaikan revisi tesis. Sidang telah dilalui. Pemuda itu sukses dengan nilai yang memuaskan. Maka, kali ini berada kampung halaman benar-benar menjadi pelengkap kebahagiaan atas kesuksesan dirinya.
Ting! Notifikasi WA masuk. Arkan membuka HP-nya. Wajahnya berseri.
"Assalaamu'alaikum Kak Arkan. Maaf mengganggu istirahatnya..."
"Wa'alaikumussalam. Gimana kabarnya De, masih di Kalapa Dua, eh di KD?"
"Mau ke KD, ini bareng rombongan baru pulang dari Jakarta. Ada keluarga yang mantu."
"Oooo..... sampai mana? Cikampek? Cikedung?"
"Sudah dekat Panyingkiran kok!"
"Wah? Nyampai mana?"
"Sudah di Kadipaten."
"Wuah! De, mampir atuuh ... asli, bilangin sama Bapak, De Elva diminta mampir di Pak Danar gitu."
"Mau telpon sendiri?"
" Kalau titip pesan diijinkan ya syukur, tapi kalau hanya titip pesan nggak diijinkan, baru aku langsung telepon Bapak."

Beberapa saat kemudian.
"Bapak mengijinkan, tapi beliau tanya, nanti mau dijemput jam berapa?"
"Bilangin ke Bapak, terima kasih gitu. Ntar ajak adikmu itu, De Elsa ya? Bilangin juga, nanti biar aku yang ngantar ke KD. Bilangin juga, di Pak Danar cuma sekitar satu jam kok."

Gazebo semarak.
Arkan, Elva, Elsa dan Ibu Arkan. Yang tidak tampak adalah Pak Danar, laki-laki masih di Majalengka. Biasanya dalam kumpulan seperti ini Pak Danar paling bisa membangun kesemarakan. Tapi ini ada Arkan, bakat supelnya masih sedikit menurun ke dia, walaupun tak sebagus Pak Danar.
Setelah beberapa lama berbincang, Bu Danar mengajak Elsa menemaninya untuk belanja ke Alfamart. Elsa mengiyakan. Keduanya berjalan bareng. Arkan dan Elva mengamati dari belakang sambil tersenyum.
"Kaya anaknya ya De?"
"Iya banget."
"Mau nggak suasananya kaya gitu terus De?"
"Hehee ....."
"Ibuku akrab dengan De Elsa, juga akrab dengan De Elva ...."
"Ya kalau silaturahim apa salahnya."
"Pas. Berarti mau ya?"
"Nggak tahu aaah!"
"De Elva, ini gazebo ruang santai, ruang les atau yang lain. Di depan itu ruang tamu. Yang nyambung gazebo, pintu ini niih ... ini ruang keluarga. Di dekatnya ada musholla keluarga, di dalam."
"Oooo..... "
"Pernah masuk nggak?"
"Ya belum lah, ke rumah ini juga baru beberapa kali."
"Perasaan sering. Dulu waktu les sama Ayah,"
"Iya kan di luar."
"Memang nggak pernah ada yang pengen ke air gitu? Terus minta ijin ke Ayah ... ikut ke air."
"Kalau pengen si ya pengen, tapi ditahan."
"Aaaah... itu nggak lucu! Padahal bilang saja numpang gitu ..."
"Malu."
"Bagus, itu menunjukkan kualitas manusia yang baik. Rasa malu, ewuh pekewuh ...."
"Ah sudahlah jangan dibahas..."
Arkan berdiri. Kemudian berjalan ke arah pintu ruang keluarga yang membuka sedikit. Kini pintu itu terbuka penuh. Sebagian perabotan tampak dari luar. Gadis itu melirik sejanak, namun kemudian kembali melihat ke luar. Pemuda itu hanya menggeleng melihat gadis itu menatap ke luar. Kini di tangan Arkan ada album foto.
"De.." kata Arkan sambil duduk.
"Ya?"
"Aku punya sesuatu. Umurnya sudah sekitar lima tahun."
"Apa?"
"Lihatlah ini ..... tapi jangan kaget ya...."
Perlahan tangan Arkan membuka album foto. Satu, dua, tiga. Pada lembaran ke empat pemuda itu menyodorkan album kepada Elva. Demi melihat gambar itu Elva kaget.
"Kaak... ini ..... ini .. kok Kakak punya foto ini?" Elva benar-benar kaget. Sama sekali tak pernah terbayang bakal ada kejadian seperti ini
"Apapun harus diusahakan. Ikhtiar dan doa."
"Kakak dapat dari siapa?"
"Hunting sendiri."
"Oooh ... bukannya ini waktu fesband? Waktu aku kelas XI?"
"Iya benar. Waktu itu kebetulan aku sedang tidak ada kuliah, nyempetin pulang kampung. Terus sedikit nakal main ke Smansa."
"Nakal bagaimana?"
"Fesband kan nggak boleh ditonton orang luar. Waktu itu aku bilang mau ketemu Ayah, dan memang aku ketemu Ayah dulu, jadi nggak berbohong. Setelah itu ya sudah, nonton sambil menunggu penampilan anak-anak kelas MIPA 3."
"Dan disitu Kakak mengambil foto?"
"Hehe iya ... ini foto yang paling aku suka. Gayanya, mmh .... lihat, gestur, terutama gerakan tangannya berbicara banget."
"Aaah Kakak mah!"
"De Elva, masih ingat nggak, waktu ada kejadian di kopgur?"
"Kejadian apa?"
"Waktu ada anak putri, mau bayar jajan dan pulpen, tapi ternyata kehilangan uang."
"Ooohhh iya... iya."
"Ingat ada yang mbayarin nggak?"
"Ah iya .... iya ... betul itu , aku tidak terlalu perhatian, tahu-tahu kata ibu kopgur, sudah ada yang mbayarin. Tapi dia terus lari."
"Dia lari sambil membawa memori. Ada bayangan, gadis kecil, masih imut, kelas X, alisnya bagus. Aku jadi ingat ketika dia hampir nangis .... lucu, tapi jadi tambah cantik."
"Kaak ... jangan.... jangan .... dia adalah .... dia? Dia?"
"Hehe...."
"Dia Kak Arkan?"
"Maafkan Arkan ya De ..... sejak kejadian itu memori aku sulit untuk menghilangkan bayangan wajah De Elva. Yaaah walaupun waktu itu belum tahu nama ......."
Speechless. Elva kehilangan kata-kata.
Gadis itu diam tak mampu berkata apa-apa hingga beberapa saat. Elva tertunduk, namun tangannya masih memegang album foto itu. Arkan yang duduk di depannya diam.
"Kak...." kali ini Elva yang memulai.
"Ya?"
"Berarti keluarga di sini tahu ada foto ini di album?"
"Ya, semua tahu."
"Och ...."
"Maafkan De, kalau tidak berkenan, biarkan gambar ini aku ambil saja ...." kata Arkan sambil meminta album. Elva tak memberikannya.
"Jika keluarga sudah tahu .... maka ....."
Elva berhenti bicara. Kalimatnya terhenti. Arkan bangkit dari duduknya. Pemuda itu mengangguk ke arah Elva. Gadis itu mengernyitkan dahi.
"Apa Kak?"
"Ada sesuatu juga di ruang keluarga, ayo lah, sesekali masuk ke rumahku."
Ketika Elva melangkah melintasi pintu, Arkan menunjuk sesuatu di ruang keluarga. Mata Elva mengikuti. Gadis itu kembali kaget.
Ia melihat gambar berpigura di belakang rak buku. Gambar yang sama seperti yang ada di album.
"Kak Arkaan...."
"Maafkan aku ya De ."
"Sejak kapan foto ini dipajang Kak?"
"Sejak kita ketemu De Fera dan Haryo, waktu di Unpad itu. Belum lama sih..."
"Oh ...."
"Keinginan aku, foto ini akan aku pajang selamanya. Tentu jika ada ijin, dan ada yang mau memberi kesempatan."
Siang itu bagi Elva benar-benar merupakan siang yang penuh makna. Sangat berarti baginya. Arkan yang bisa membuat dirinya tak berdaya. Ia juga heran, dari dulu Arkan selalu begitu. Perhatian yang sangat bermakna. Cinta? Mungkin saja. Tetapi tak pernah ada kata cinta terucap. Atau belum terucap. Atau mungkin dia itu type laki-laki penganut "kata cinta setelah menikah"? Pikirnya. Mungkin saja.
Elva merasakan beberapa kalimat yang sangat menyentuh kesensitifan hatinya. Pertama ketika Arkan menyebut namanya "Elva Cahyaning Kartika, cahaya bintang". Kedua ketika Arkan mengatakan  ".... sejak kejadian itu memori aku sulit untuk menghilangkan bayangan wajah De Elva." Ketiga ketika Arkan mengatakan "Ada bayangan, gadis kecil, masih imut, kelas X, alisnya bagus". Keempat, baru saja ia dengar "Keinginan aku, foto ini akan aku pajang selamanya. Tentu jika ada ijin, dan ada yang mau memberi kesempatan".
Sekitar pukul dua siang.
Arkan menghentikan mobilnya di Kalapa Dua. Elva dan Elsa turun. Pemuda itu mengikuti keduanya. Hanya sekira dua puluh menit pemuda itu bertemu keluarganya. Ia langsung berpamitan. Beberapa jenak kemudian mobil Arkan bergerak perlahan.
Arkan melihat dari kaca spion, ayah, ibu dan Elsa sudah meninggalkan pinggir jalan. Pemuda itu menarik nafas dalam. Ia menekan pedal kopling, kemudian memindahkan gigi ke posisi R. Perlahan mobil mundur lagi.
Elva terhenyak melihat mobil Arkan mundur lagi. Gadis itu kini berdiri di samping mobil. Arkan menurunkan kaca jendela.
"Ada apa Kak?"
"Ada yang ketinggalan."
"Och! Apa ya? Di meja atau di mana? Biar saya ambil."
"Ah enggak kok."
"Lho? Lalu? Apa ketinggalan Kak?"
"Gadis yang ada di dekatku ...."
"Aaah Kakak.."
"De Elva Cahyaning Kartika .... hati Kakak yang ketinggalan di sini, di Kalapa Dua..."
"Aaaa Kakak mah!" kata Elva tersipu. Arkan tersenyum,
"Boleh Kakak request?"
"Apa Kak?"
"Tolong dijaga ya .... "
"Apanya Kak?"
"Yang ketinggalan di sini , jaga hati Kakak di sini."
"Mmmhh ....."
"Dijaga ya ...."
"Mmmhh.... "
"Elva yang cantik, yang alisnya indah ... tolong dijaga hati Kakak ya ...."
Begitu mendengar sanjungan Arkan, gadis itu bahkan semakin tak bisa berkata-kata. Arkan tersenyum. Ia sangat suka melihat Elva tersipu.
"Usai wisuda, aku, Ayah dan Ibu mau ke sini. Atau mungkin kita ketemuan di wisuda. Tunggu ya...."
"Iya, iya Kak. Salam untuk Pak Danar dan Ibu.""
"Insya Allah salam dari anaknya aku sampaikan, assalaamu'alaikum!"
Elva mendesah panjang sambil melihat mobil Arkan yang semakin menjauh. Hatinya bahagia. Ia mengatubkan bibirnya. Arkan. Ya, hari ini telah mampu membuat dirinya menangis.
"Kak Arkan .... Elva mencintai Kakak ....." gumamnya sambil menyeka air mata dengan punggung tangannya.

***
Wisuda usai.
Arkan telah memperoleh gelar magister. Sesuatu yang membahagiakan. Bagi Arkan sendiri yang lebih membahagiakan dirinya adalah bahwa keluarga Elva  hadir. Semua atas undangan Ayahnya. Ini agak tidak lazim, namun dalam rangka menjalin silaturahim semua bisa dilakukan.
Siang itu Pak Danar telah memboking ruangan di salah rumah makan untuk waktu tiga jam. Usai menikmati makan siang, Pak Danar mengucapkan terima kasih atas hadirnya keluarga orang tua Elva memenuhi undangan.
"Acara ini sebenarnya merupakan acara kembang dari acara yang sesungguhnya nanti .... Ini atas permintaan Arkan anak kami."
"O iya ya..."
"Arkan ingin meminang putri Bapak ..."
Dada Elva gemuruh demi mendengar pernyataan Pak Danar sangat jelas. Gadis itu tertunduk dalam di depan keluarga Arkan dan keluarga sendiri.
"Semua saya serahkan kepada Elva .... Nanti bisa kita bicarakan lagi."
"Iya, iya pasti."
Beberapa saat kemudian Pak Danar meminta Arkan dan Elva untuk mendengarkan kata-katanya.
"Arkan, anak Ayah ..."
"Iya Ayah.."
"Sebenarnya kumpulnya kita sekarang ini, Ayah nilai sebagai sebuah terbuktinya tanda-tanda yang telah diberikan oleh Allah kepada Ayah."
"Tanda-tanda apa Yah?"
"Dulu, di awal kelas XII .... Elva pernah datang ke Ayah, Ayah kasih beberapa nasehat. Akhirnya secara refleks, si Neng ini mengatakan .... wah Pak, jadi pengen jadi anak Bapak aaaaah! "
"Betul begitu De?" kata Arkan sambil memadang tajam.
Elva tidak menjawab. Lehernya teras tersekat. Sejurus kemudian gadis itu menutup wajahnya. Beberapa sat kemudian Elva terisak. Hingga beberapa lama akhirnya gadis itu membuka tangannya, kemudian mengusap air matanya.
"Betul begitu De? De Elva pengen jadi anak Ayah?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Nggak tahu juga sih, tapi nggak tahu kayaknya sudah merasa dekat. Merasa bukan jadi orang asing. Pak Danar adalah sosok yang baik, yang bisa menjadi teladan, sumber motivasi bagi murid-muridnya, nyaman kalau dekat Pak Danar. Elva pernah diajar Pak Danar ketika masih kelas XI, ketika belau mewakili Bu Fatimah yang naik haji. Di saat belajar bersama Pak Danar, ada sesuatu yang berbeda, tak bisa terlukis dengan kata-kata..." kata Elva sambil kembali menitikkan air mata.
"Elva .... itu firasat. Itu tanda-tanda dari Allah, kebaikan Ayah kepada anaknya."
"Iya mungkin saja Pak."
"Banyak tanda-tanda yang Ayah rasakan... salah satunya dulu ketika dia sudah lulus, Arkan pengen nonton festival band di sekolah. Besok paginya dia malah tunjukin foto, katanya ini bintang baru yang namanya cahaya bintang. Cahyaning Kartika. Fotonya  malah dibingkai, dipasang di ruang keluarga itu."
"Benar .... Elva juga pernah cerita tentang foto itu." kata ayah Elva.
"Hari ini Elva sudah menjadi anak Ayah ....... " kata Pak Danar sambil tersenyum memandang Elva.
"Iya terima kasih Ayaah ..... " kata Elva yang kemudian menyalami dan mencium tangan Pak Danar.
"Memang bagusnya begini, anak-anak kita nggak usah pacaran. Kalau mau jadi ya ksatrialah, langsung bilang, seperti nak Arkan ini."
"Benar sekali."
***
Beberapa saat ketika dua keluarga melanjutkan perbincangan, Arkan mengajak Elva ke luar sebentar.
"Ingat De Elva, hidup ini akan indah dengan sinergi antara ikhtiar dan doa. Semua ikhtiarku sudah. Hari ini adalah ihktiar terbesarku. Doa Insya Allah juga sudah. Kebahagianku hari ini, ya wisuda, ya kedatangan keluarga De Elva semuanya menjadi penyempurna ikhtiarku. Indah ya De?"
"Iya ..."
"De Elva ada permintaan? Rasanya aku tak pernah memberikan sesuatu yang berharga..."
"Emmh ..... nasehat Kakak tentang ikhtiar dan doa sangat berharga."
"Ada yang lain De?"
"Mmmhh..."
"Ayo dong..."
"Permintaan untuk nanti ya Kak."
"Kapan?"
"Jika acara hari ini sudah berlanjut ke acara resmi berikutnya ."
"Oooooh .... iya.... tentu."
"Kak Arkan ......."
"Ya De?"
"Lindungi Elva Kak..., selalu lindungi .... agar Elva merasa aman."
"Iya De Elva.... mudah-mudahan.... Insya Allah Kakak diberikan kekuatan ..."
"Aamiin Kak, selain itu ... semoga Kak Arkan, Arkan Arshaq Ramadhan ... bisa menjadi... "
"Menjadi....."
"Menjadi  tempat berteduh hati Elva ..... teduhi hati Elva ya Kak ..."
Kali ini Arkanlah yang terharu dengan permintaan Elva. Bahkan matanya tiba-tiba terasa panas. Namun sebagai laki-laki ia mencoba menahannya.
Ia lihat di depannya, gadis cantik dengan alis yang indah, Elva Cahyaning Kartika. Arkan bahagia.
Elva tersenyum. Arkan tertegun melihat senyum gadis itu yang sangat manis.
"Masya Allah senyummu De Elva .....  De Elva adalah masa depan indahku. Mudah-mudahan masa depan yang diridloi-Nya..." kata pemuda hampir tak terdengar.
Elva menitik air matanya. ***

                                                    Majalengka, 10 Desember 2017

    *Request : Evi Fazriati  Kelas XII MIPA 3
                      SMA Negeri 1 Majalengka Tahun 2017/2018.
                   
    *Note : Ayo mantan pengurus OSIS 44, berjuang terus!

Cerpen ini diambil dari akun pribadi di kompasiana.com/didik_sedyadi